Saturday, December 30, 2017

Puisi Sabtu (8) : SABDA PETANI karya Arif Junaidi

SABDA PETANI

Pagi buta romo mengais rejeki
perlahan-lahan melangkah
menatap mungil di balik kain lawang
delapan mata terlelap tenang

oh....dewa dewa kecilku terlelap
oh ...dewi dewi kecilku terlelap

semangatku olehmu
menyingsing pagi buta
pada gembur subur tanah ladang
hingga simar kembali padam
peluk tak terbendung oleh gairah
kini menatap jaman

tak ada resah salah itu karna senyum cerdas
di sela duduk di bawah pohon mangga
engkaulah harapan tuaku
memberi pagi saku untuk dahagamu

dijeritkan harga-harga melambung tinggi tambah gila
apalah daya romomu ini petani totok
 pagi dan hingga sore bergelut pada mentari

tak cukup hari-hari
apa lagi buah hati
hanya kuasa alam kulepaskan
kerap penuh sabda
pada tengah malam buta
tepat indah mimpimu menari-nari
kelak penuh wangi masamu nanti

panjat tiada henti
tak ada peduli negri
tataplahlah...jaman penuh warna.

kembali badan sepi .



Lampung 27/01/2017

-----------

Arif Junaidi biasa dipanggil Inon, asal Temanggung sekarang tinggal di Lampung. Hobi menulis dan aktif  berteater. Beberapa kali menyutradarai pementasan di Jakarta dan Lampung. 

Friday, December 29, 2017

Tongseng Ayam D'Monang's Pahoman


Pengalaman beberapa kali makan di D'monang's cafe, Pahoman, Bandarlampung, yang paling menyenangkan hanyalah pada saat bulan puasa beberapa tahun lalu. Alasannya sepele, yaitu saat itu tak ada warung yang buka sedang perut sudah sangat lapar sehingga masuk ke D'monang's langsung mendapatkan oase yang menyegarkan. Hehehe.

Usai itu aku hanya beberapa kali mampir ke tempat makan di pojok Stadion Pahoman itu. Tapi susah nian memuji masakannya. Kelewat biasa atau malah bisa kubilang tidak enak.

Nah, hari terakhir di kantor sebelum libur akhir tahun, tanpa selera makan aku keluar mencari makan siang. Beberap deret warung tak ada yang menarik minat dan secara iseng aku masuk ke D'monang's.

"Aku pengin yang bersayur berkuah."

"Ada tongseng ayam. Ibu bisa pilih itu, panas cocok untuk udara sekarang." Seorang pelayan menyarankan.

Bersamaan dengan itu hujan mulai turun. Hmmm... okey deh. Tongseng ayam. Aku belum pernah makan tongseng ayam. Biasanya tongseng kambing dan itu pun sudah lama sekali tidak mengincipnya lagi. Maka aku pesan tongseng ayam, nasi putih dan segelas teh tawar hangat.

Teh tawar tersedia sekitar 1 atau 2 menit kemudian. Menu utama muncul sekitar 10 menit kemudian, atau mungkin agak lama. Aromanya langsung mengocok lidah. Enak. Potongan ayam lembut, ditambah irisan kubis dan tomat, cabe rawit hijau banyak dan bawang goreng di atasnya. Kuahnya gurih, kental bersantan. Wah, ini sekali-sekalinya masakan D'monang's cocok untuk lidahku.

Kukira ini porsi yang besar, nasi yang sebenarnya terlalu banyak dan semangkuk tongseng yang memuaskan. Tapi semua ludes kusantap pelan-pelan sambil menikmati hujan dan iseng scroll up down di fb dan ig. Wifi mereka lumayan banget.

Aku lupa persisnya harga masing-masing pesananku itu. Totalnya Rp. 29.000 untuk seluruh yang kumakan dan minum. Sangat kenyang. Pas selesai makan pas pula hujan reda, jadi aku berjalan kembali ke kantor dengan fullll, sampai-sampai susah untuk konsentrasi kerja lagi. Hehehehe....

Wednesday, December 27, 2017

Evaluasi Akhir Tahun dan Menguatkan Niat untuk 2018

Lihat dulu apa misiku di tahun 2017, klik sini.

Misi tahun ini tentang harmoni. Lengkapnya begini :

"Aku ingin mengawali tahun 2017 dengan membuat sebuah misi seperti biasanya. Misi tahun lalu belum selesai. Harmoni seorang Yuli dalam seluruh semesta masih sampai pada 'gempa-gempa', belum selesai. Jadi, aku ingin melanjutkan proses itu tahun ini.

Beberapa detail aku ingin tulis begini : Keluarga akan menjadi fokus utama. Cantik luar dalam akan menjadi cara menarik untuk hidup. Buku-buku harus diselesaikan. Ini akan menjadi catatan dokumentasi yang penting untuk banyak hal. Penanggungjawab untuk FPBN, JP, GATK, dan beberapa hal lain mesti kulanjutkan. Puisi dan cerpen akan kupakai sebagai refreshing, tapi sebuah novel harus diselesaikan."


Yang paling mudah mengecek :

1. Keluarga sebagai fokus utama; ini rupanya sangat berat dilakukan. Aku sudah mengupayakan seluruh daya untuk hal ini misalnya dengan melakukan kewajiban-kewajiban, menarik beberapa hal dalam kerangka keluarga dan sebagainya, tapi mungkin baru 60 % hal ini berhasil. Huft.

2. Cantik luar dalam; oh oh oh... ini gagal total. Secara fisik berat badanku bertambah, kesehatan sangat surut, dan mudah capek. Hati juga sangat pendendam, mudah tersinggung dan iri dengki. Oalah. Ini gagal total.

3. Pertanggungjawaban untuk FPBN sudah kuselesaikan sampai September 2017. Buku GATK akan selesai sebentar lagi. JP menjadi komisi dengan gerakan-gerakan yang pelan tapi ada.

4. Beberapa pencapaian seperti :
- Undangan ke Batangas bulan Februari
- Undangan ke Vatikan bulan April
- Buku Kumpulan Puisi Sampai Aku Lupa bulan Agustus
- Terlibat dalam forum PUSPA prop Lampung mulai bulan Nopember
- dll

5. Beberapa kegagalan seperti :
- Belum selesainya buku YPSK
- Tidak selesainya refleksi dan laporan akhir tahun
- Fisik yang tak terlalu ok karena kurang olah raga
- dll

Hmmm... beberapa perjalanan menarik kulalui tahun 2017, pencapaian dan kegagalan. Kegembiraan dan kesedihan. Apa yang sekarang menjadi tahapan selanjutnya? Aku masih ingin memakai kata kunci HARMONI. Ke dalam dan ke luar. Pengolahan dan pengendapan yang diperbanyak, termasuk ketika melakukan perjalanan-perjalanan dan kegiatan-kegiatan.

Yang konkret harus dikerjakan di tahun 2018 karena sudah ada rencana-rencana :

1. Melanjutkan kerja di Keuskupan Tanjungkarang dengan pembentukan tim yang solid untuk Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau.

2. Melanjutkan komitmen dalam Jaringan Perempuan Padmarini, Forum PUSPA Propinsi Lampung dan dalam KKPPMP KWI.

3. Memulai tugas baru di SGPP KWI yang akan mulai awal tahun 2018 dan memakainya sebagai sarana harmoni.

4. Menjadi ketua Panrat Kopdit Mekar Sai sampai hari H, Pebruari 2018.

5. Memperbaharui komitmen pengerjaan buku YPSK. Ini termasuk merombak mood.

6. Penerbitan buku kumpulan cerita panjang (setiap cerita 20 - 40 halaman, berisi 4 - 6 cerita panjang Yuli Nugrahani)

7. Merapikan puisi-puisi dalam beberapa manuskrip.

8. Menekuni media blog ini, secara serius, secara rutin dalam rubrik yang sudah direncanakan.

Sementara ini. Bungkus dan isi yang tak boleh aku lupa : HARMONI. Aku akan melihat kembali catatan ini pada awal tahun nanti. 

Saturday, December 23, 2017

Puisi Sabtu (7) : TANJUNGKARANG karya Edy Samudra Kertagama

TANJUNGKARANG

Tanjungkarang,
pesona tubuhmu
yang kujaga
ketika muda sekian lama
telah tertidur pulas
setelah semalaman
terjebak di hutan gigil,
saat ini, aku mengenalmu
hanya bau soda, dan
daun-daun luruh
yang selalu jatuh
di atas meja pesta pora,
serta kastil raksasa yang renta.
kini, rinduku telah menjadi kaku
membekas di rumput dan akar
lalu, menjelma ke arah tepian
yang belum pasti.
"sungaikah itu?"
Tanjungkarang,
Tanjungkarang
telah banyak kutemui
tempat-tempat yang hilang.
dalam dendang kampung halaman.

Lampung, 15/11/2016

------


Edy Samudra Kertagama lahir di Tanjungkarang, pada 12 Agustus 1961. Menyukai Sastra sejak duduk di Sekolah Dasar bersamaan dengan seni teater yang ditekuninya.  Menulis puisi sejak tahun 1979 menerbitkan kumpulan puisi tunggalnya berjudul  KERING (Rumah Sastra Mata Dunia pada tahun 1997), Nyanyian Sunyi (Lembaga Advokasi Perempuan Damar pada tahun 2002). Sajak-Sajak Pendek Embun Putih yang diterbitkan oleh Rumah Sastra Mata Dunia pada tahun 2004, dan Antologi ke empat Mantra Sang Nabi yang diterbitkan oleh Aura Publishing (2016). Selain menulis puisi, esai, pantun dan naskah panggung, Edy juga dikenal sebagai sutradara dan aktor teater, ia telah melakukan eksplorasi dan berbagai pementasan bersama Teater Kuman yang didirikan pada tahun 1979.  Tidak kurang dari 96 (sembilan puluh enam)  naskah teater telah ia sutradarai dan pentaskan. Puisi-puisi Edy yang lain, termuat diberbagai media lokal dan nasional, juga termuat dalam berbagai antologi bersama seperti Rumpun Kita, diterbitkan oleh Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA) tahun 2009, Kutaraja Banda Aceh – Dwi Bahasa Indonesia – Inggris diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh tahun 2008, Tanah Pilih diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jambi tahun 2008, Dari Sragen Memandang Indonesia  diterbitkan oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Sragen (DKDS) dan Forum Sastra Surakarta tahun 2012, Puisi Menolak Korupsi 4 diterbitkan oleh Forum Sastra Surakarta tahun 2015, Memo Untuk Wakil Rakyat diterbitkan oleh Forum sastra Surakarta tahun 2015, Memo Antikekerasan Terhadap Anak, diterbitkan oleh Forum Sastra Surakarta tahun 2016, Titik Temu diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami tahun 2014, Hilang Silsilah diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung tahun 2013, Gerimis ( dalam lain versi ) diterbitkan oleh Logung Pustaka dan Dewan Kesenian Lampung tahun 2005, Festival Januari diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung,  Cetik diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung, Jung diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung  Pertemuan Dua Arus diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung, Pusaka Dari Utara diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung Utara tahun 2006, Wajah diterbitkan oleh Rumah Sastra Mata Dunia tahun 1997. Selain terus aktif menulis saat ini Edy mengajar penulisan puisi dan baca puisi bagi siswa Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Perguruan Tinggi dan Umum, selain itu juga sebagai Direktur Artistik di Rumah Sastra Mata Dunia dan Pengurus Dewan Kesenian Lampung. e-mail   : edysamudrakertagama@yahoo.co.id

Thursday, December 21, 2017

Jurnalis Trip Rumah Kolaborasi (6-terakhir) : Nira Manis dari Ulubelu

Tulisan sebelumnya klik sini.

Bu Murniah, Pembuat gula aren di Air Abang
Dalam perjalanan pulang yang sudah merapat petang, kami mampir ke Air Abang, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus untuk mencicip nira aren. Wah, ini akan jadi penutup yang luar biasa bagiku. Walau harus jalan kaki sekitar setengah kilometer karena mobil tidak bisa nanjak, hampir-hampir tak keluar keluhan dari mulutku (kalau dari kakiku sih ada keluhan juga. hehehe.)

Yang kami kunjungi adalah rumah Bu Murniah. Sayangnya proses pembuatan gula aren sudah selesai untuk hari itu. Tak mengapa karena Bu Murniah masih menyimpan nira yang disimpan panas di atas tungku untuk ditambah dengan hasil sadap nira besok. Jadilah kami yang ikut mampir menggerombol di dekat tungku.

Air nira aren yang hangat.
"Ini enak, monggo kalau mau ngincip." Bu Murniah meletakkan beberapa gelas di meja dan menyidukkan nira aren yang panas dari tungku, menyodorkan pada kami masing-masing.

Wuah... manis, hangat, cocok untuk tubuh yang kedinginan dan butuh kalori tambahan karena bawaan yang lapeerrrr terus.

Selain itu Bu Murniah mendekatkan gula aren kriwilan sisa-sisa yang dia simpan di toples. Jadi, itulah cemilan kami sore itu. Air nira hangat dan gula aren kriwilan yang gurih manis.

Menurut Bu Murniah, dia bisa membuat gula aren tiap hari entah musim hujan atau kemarau. Sehari dia bisa menghasilkan 10an bongkah dengan cetakan mangkok plastik seberat sekitar 0,5 - 1 kg. Gula itu dijual dengan harga 14 ribu rupiah per kilogramnya.

"Ini sedang naik harganya walau sedikit. Kemarin-kemarin hanya 12 ribu per kilo." Di kota harga itu sudah pasti berlipat ganda.

Tungku untuk memasak nira menjadi gula aren
Selain Bu Murniah di daerah itu ada banyak ibu yang membuat gula aren. Pembuatan gula aren dengan memakai tungku memakan waktu sekitar 5 jam. Dari air nira yang encer bening sampai berwarna kemerahan, akan berkurang kadar airnya dan membeku sebagai gula aren yang berwarna kuning hingga kecoklatan. Tidak harus selalu diaduk selama pemanasan, tapi kalau sudah selesai harus segera dicetak karena air itu akan segera membeku.

Air nira bisa untuk obat demam dan batuk, katanya. Nah kalau sudah jadi gula ya buat kolak dong atau rujak. Hehehe... Untuk menutup perjalanan, Air Abang dengan gula aren dan nira hangatnya yang manis memang sangat tepat. Thanks to Andri, Rumah Kolaborasi dan teman-teman semua. Kalau ada perjalanan lain, undang aku lagi ya...

Wednesday, December 20, 2017

Jurnalis Trip Rumah Kolaborasi (5) : Terpeleset dan Terseret Keindahan Lembah Pelangi

Tulisan sebelumnya klik sini.

Air terjun Lembh Pelangi. Pelanginya di atas kepalaku tuh.
Kalau suatu ketika kalian sempat pergi ke Lembah Pelangi, Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pastikan bahwa kalian membawa kamera yang sudah siap untuk mengambil gambar-gambar alam nan indah termasuk gambar-gambar narsis di mana kita berbaur bersama dengan semesta. Bagiku sebenarnya agak riskan ikut dalam rombongan ini hingga menyusuri setapak menuju lembah mengingat vertigo masih mencengkeramku, membuatku berhati-hati melakukan gerakan menunduk menengadah dan sebagainya. Tapi herannya, aku tak ragu sama sekali untuk berjalan ke lembah usai memasuki gerbang Lembang Pelangi. Aku hanya memastikan dalam hati,"Asal aku bergerak pelan, berjalan pelan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, maka aku aman."

Dan itulah yang terjadi. Aku tidak tergantung pada orang-orang lain yang sudah berjalan duluan. Berjalan pelan melewati setapak di antara kebun kopi, udara dingin, pemandangan hijau, langit agak kelabu karena mendung, membuatku semakin segar dalam setiap tapak yang kulakukan.

Semakin turun, semakin jauh, aku semakin segar. Kukira benar apa kata Andri bahwa udara di kawasan Lembah Pelangi ini pekat dengan O2 yang segar, dan itulah obat utama bagi vertigo.

Sampai di persimpangan, aku memilih ke air terjun di atas. Kata pemandu, jalannya lebih landai dan di sanalah pelangi-pelangi terus menerus dikibaskan kalau ada percik air dan cahaya yang tepat. Sayangnya aku tak berani lebih jauh lagi melintasi bebatuan mendekat air terjun. Andri dan Eni yang sempat naik mengatakan,"Pelangi seperti bisa kita sentuh, Mak." Wah. Kalian sangat beruntung. Pun begitu aku menghibur diri dengan meyakini bahwa pelangi berkibaran di atas kepalaku saat aku diam beberapa lama di jembatan bambu menikmati percik dari air terjun.

Setelah kurasa cukup aku berjalan naik untuk kembali ke start. Tapi entah mengapa Pak Budi dari Antara sekilas bilang kalau ada jalan lain di seberang sungai yang konon lebih dekat untuk mencapai air terjun di bawah. Air terjun di bawah bercabang dua dan katanya ada sumber air panas. Wah, tergiur dengan informasi itu aku pun menyeberang jembatan bambu lagi dan mulai menyusuri jalan setapak di seberang sungai diikuti Pak Budi.

"Bisa lewat sini tapi jarang dilewati." Begitu kata seorang pemandu yang ada di seberang yang kemudian memastikan berjalan di depan kami, mendahului dan membuatkan jalan. Rizki, seorang relawan Kawan Tani yang membantu Rumah Kolaborasi mengikuti. "Biar aku di depan, mbak."

Huaa, untuk ada si Rizki ini. Karena ternyata jalan itu sangat curam, banyak yang licin, sebagian sudah mulai tertutup semak. Kalau Rizki tidak membantuku, juga kadang-kadang merelakan kakinya kuinjak, entahlah. Aku terpeleset beberapa kali, terperosok berulang-ulang... Huhuhu... Aku lupa kalau aku masih vertigo, tapi kukira aku memang ndak merasakannya. Ini agak mengherankan.

Bersama sepasang air terjun yang bersanding mesra. Hehehe...
Di bagian akhir saat air terjun sudah kelihatan aku terpeleset lagi, dan terjatuh dengan sukses. Tanpa Rizki dan si abang pemandu aku ndak yakin bisa bangun sendiri karena kepala  menggantung di atas semak sedangkan tubuhku terbaring di bebatuan. Hmmm...

Semua terbayar oleh keindahan Lembah Pelangi. Air panas yang katanya ada di situ rupanya sangat kecil sumbernya hingga nyaris tidak panas lagi. Dua cabang air terjun seperti sepasang mempelai yang bersanding abadi meneriakkan gairahnya terus menerus, menderu, menggebu. Huhuhu. Ini tempat yang romantis sekali. Hehehe... Diam beberapa saat di sisi dekat aku jatuh, lalu aku berpikir,"Bagaimana menyeberang nanti yo?"

Aku nih suka air, tapi aku juga takut pada air. Melihat arus yang deras, bebatuan yang besar, aku ingat pengalaman jatuh dari perahu karet di Kali Brantas dulu. Dan rupanya sungai ini cukup dalam. Terpaksa aku masuk air dituntun Rizki sampai seberang. Hmmm. Basah kuyup sampai sepinggul. Dalam hati aku bersyukur mengingat celana tidurku yang kering, yang masih bisa kupakai sebagai ganti selepas dari Lembah Pelangi.

Nah, aku tetap menerapkan : bergerak pelan, berjalan pelan. Karena untuk kembali ke lokasi parkir jalan akan menanjak cukup membuat nafas tersengal. Dan semuanya berjalan dengan aman. Aku rasa aku semakin sehat, dengan kepala full oksigen, dan hati full dengan keindahan alam.

Lihat saja foto-foto ini. Kurasa kalau suatu waktu nanti aku mulai mengeluh sebaiknya ada seseorang yang segera menyarankanku,"Piknik sana, ke gunung, ke air terjun, ke lembah..." Hehehe... Aku merasa jauh lebih sehat dari sebelumnya.

Jurnalis Trip Rumah Kolaborasi (4) : Pantun dalam Tari Selendang Rawas

Tulisan sebelumnya klik sini

Tari Selendang Rawas
Waktu kami akan masuk ke kawasan Lembah Pelangi di Pekon Sukamaju, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus kami mendapatkan surprise dengan sambutan tari-tarian Sumende(Sumendo?) dari masyarakat sekitar. Tari Kuntau dengan dua pisau oleh para bujang, lalu Tari Kuadai dengan piring-piring oleh para gadis, dan terakhir Tari Selendang Rawas oleh anak-anak.

Awalnya aku tak terlalu memperhatikan syair nyanyian mereka, juga musik mereka yang hanya memakai dua rebana ditabuh secara monoton. Tapi kemudian aku mulai mendengar bahasa yang familier, dan ketika kucermati ternyata itu adalah deretan pantun yang dilantunkan sebagai lagu. Wuahhhh, simak nih sebagian syairnya :

Ke kebun membeli minyak
singgahlah memetik kembang kertas
sembah sujud gak kamu banyak
Empat penari menunggu giliran
jejuit meniti apung selendang rawas.

Apa rasanya si gula pasir
dimakan dengan kacang panjang
berhadapan manislah di bibir
kalau di hati nulak belakang

Gikecik  pandan di kebun
lah besak pandan semarak
gikecik badan betepun
lah besak badan kepak layak

Kalau ade sapat di kebun
ambil kemuru penjuluk petai
kalau ada upat dan semu
acaklah tari berhenti kudai

Deretan pantun yang sempat kucatat ini kudengar saat Tari Selendang Rawas yang ditarikan oleh empat anak perempuan dengan selendang diikat di pinggang. Tarian sederhana namun indah.

Jurnalis Trip Rumah Kolaborasi (3) : Koperasi Simpan Usaha (KSU) Srikandi

Tulisan sebelumnya klik sini.

Sri Wahyuni, Ketua KSU Srikandi
Mendatangi Koperasi Simpan Usaha (KSU) Srikandi di Pekon Ngarip, Kecamatan Ngarip, Kabupaten Tanggamus, Lampung ini menurutku bagian utama yang menarik dalam Jurnalis Trip kali ini. Kebetulan sekali aku sedang bergelut belajar tentang koperasi akhir-akhir ini, sehingga mengunjungi KSU ini serasa mendapat tambahan pelajaran yang luar biasa.

Ada 160 perempuan yang tergabung dalam KSU Srikandi. Mereka mulai berkumpul sekitar tiga tahun yang lalu. Dana yang kecil, sedikit demi sedikit dikumpulkan sebagai kekayaan bersama hingga sekarang sudah memiliki aset kurang lebih 289 juta rupiah.

"Awalnya hanya ada 18 orang pada tahun 2015 yang bisa dianggap sebagai pendiri Srikandi," Jelas Sri Wahyuni (43 thn), Ketua KSU Srikandi yang menyambut kami di rumah Pak Setyo, tempat kami menginap. "Nanti pada Januari 2018 kami akan mengadakan rapat anggota tahunan (RAT) yang ketiga."

Para ibu ini membangun solidaritas dan juga saling percaya dalam setiap geraknya. Lihat saja cara mereka mengingatkan anggota yang nunggak angsuran. "Pengurus akan mengingatkan secara personal. Tapi kalau masih juga belum menyelesaikan tanggungjawabnya, tiga kali berturut-turut tidak ngangsur, kami akan menagih beramai-ramai."

Sanksi sosial yang disepakati bersama ini cukup manjur untuk menjaga keamanan dana yang berputar di KSU Srikandi. Belum pernah terjadi ada anggota yang harus ditagih dengan cara itu. Artinya angsuran pinjaman bisa berjalan dengan lancar dan kesepakatan tetap terus berjalan.

Saat ini Srikandi memiliki satu unit usaha yaitu pengolahan kopi. Unit usaha ini mencoba memenuhi kebutuhan kopi warga pekon yang diperkirakan membutuhkan kopi sekitar 5 kwintal setiap bulannya.

"Kami baru bisa memenuhi 20 persen saja dari konsumsi kopi itu. Hanya sekitar 1 kwintal yang sekarang ini bisa produksi setiap bulannya." Ungkap Sri. Namun, hal itu dianggap sebagai potensi yang besar untuk dikembangkan ke depan terlebih mereka memiliki impian bersama untuk diwujudkan sebagai kesejahteraan setiap anggota. Salah satu impian yang sekarang ini sedang dirintis adalah warung serba ada yang bisa menampung hasil kopi dari unit usaha Srikandi juga menampung hasil usaha anggota. Dengan meningkatnya potensi wisata di Ulubelu, Srikandi bisa menjadi salah satu pilihan tujuan wisata untuk membeli oleh-oleh dari Ulubelu dan juga tentu saja sebagai tempat nongkrong ngopi sambil menikmati kesejukan udara Ulubelu.

Impian itu sangat mungkin diwujudkan mengingat 80 % penduduk Pekon Ngarip yang berjumlah kurang lebih 8.000 orang menyandarkan hidupnya dari kopi. Sementara ini hasil kopi dari Srikandi masih berupa kopi asalan dengan beberapa tingkatan kualitas dan jenis pengemasan. Ada yang murni dan ada juga yang dicampur dengan beras. Ke depan, kualitas ini akan terus ditingkatkan sehingga konsumen mempunyai pilihan kopi sesuai selera.

Kopi Srikandi Ulubelu
"Yang utama sekarang memenuhi kebutuhan kopi warga pekon Ngarip sendiri. Masak punya kopi tapi membeli kopi dari luar." Ujar Sri. Iyalah, lagi pula kopi robusta dari Ulubelu ini nikmat lho. Kopi kampung yang josss....

Rio Setiajid, Kepala Pekon Ngarip mengakui kontribusi para ibu dalam Srikandi ini memberikan efek positif bagi masyarakat. Saat paceklik Srikandi bisa membantu permodalan anggota sehingga masih bisa terus menggerakkan ekonomi keluarga.

Tuesday, December 19, 2017

Jurnalis Trip Rumah Kolaborasi (2) : Danau Hijau Ulubelu

Tulisan sebelumnya klik sini.

Hari pertama, Sabtu 16 Desember 2017, tujuan pertama dari perjalanan Jurnalis Trip yang diadakan oleh Rumah Kolaborasi adalah 'mampir' ke Danau Hijau, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus. Untuk mencapai lokasi ini, diperlukan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Bandarlampung memakai mobil dengan kecepatan sedang. Lokasinya tidak jauh dari PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE). Kalau kita berhenti di Danau ini entah di bagian bawah atau rest area di atas, kita dapat melihat kepulan asap PGE dan bau belerang yang kadang tercium samar kadang tercium kuat. Joke dari beberapa teman,"Ini tempat yang tepat kalau mau kentut. Bau belerang akan menyamarkan bau kentut dengan sempurna." Hehehe...

Di beberapa sisi danau ini juga terdapat manifest panas bumi sehingga air danau terasa hangat. Malah di beberapa tempat sangat panas, cukup untuk mematangkan telur atau mi instant. Jika berminat, bawalah telur ke lokasi ini, menyusuri setengah danau untuk sampai ke lokasi yang cukup panas. Aku ndak tahu apakah cukup aman untuk masuk ke danau untuk mandi berendam atau berenang, karena tak ada keterangan jelas soal itu. Tapi kalau sekedar ingin merasakan kehangatan di tengah sejuknya Ulubelu, tak mengapa kita masukkan kaki atau tangan ke danau.

Warna air danau ini memang hijau, karena itulah disebut sebagai Danau Hijau. Sayangnya waktu kami sampai di sana warna hijaunya tak secerah yang diharapkan. Memang sih warnanya bisa berubah-ubah sesuai kandungan mineral dalam air, cuaca dan cahaya, dan tentu saja tergantung kamera yang kita punya. Hehehe....

Lokasinya sangat mudah dijangkau karena danau ini berada di jalan utama Ulubelu. Ada beberapa pondok yang sudah dipasang di sana walau tampaknya perlu perbaikan di sana sini. Di rest area atas bahkan sudah ada warung yang menyediakan beberapa jenis cemilan. Duduk menikmati alam yang indah dan dingin sembari nyemil... wuaahhhhh.... sedap. Apalagi kalau duduk mepet dekat tiang listrik eh mepet yang terkasih dung. Huhuhu...

Apa hal utama yang bisa dilakukan di sini selain nyemil atau duduk mepet tiang listik eh yang terkasih? Membuat foto sebanyak-banyaknya. Membuat video senarsis-narsisnya. Mengungkapkan rasa syukur telah diberi hidup. Dan sebagainya, dan sebagainya. Hehehe...

Yang selalu aku tak bisa berhenti ngoceh adalah sampah!!! Hoiii segala makluk yang patut disebut manusia, buanglah sampah di tempatnya. Bumi kita ini bukan tempat sampah. Sayang sekali ada makluk-makluk yang tak bertanggungjawab meninggalkan plastik dan sampah lain berserakan di sekitar danau. Semoga ke depan hal ini diperhatikan oleh semua pihak.

Selain itu, harusnya masyarakat, bersama pihak pemerintah setempat dan juga PGE mulai berpikir untuk mengelola lokasi ini secara serius. Dengan demikian Danau Hijau dapat diambil manfaatnya secara optimal sebagai tujuan wisata maupun sebagai potensi pengembangan ekonomi masyarakat. Dengan demikian kekayaan Ulubelu ini dapat mencuat dan memberi dampak bagi semua, khususnya terhadap masyarakat sekitar.

Monday, December 18, 2017

Jurnalis Trip Rumah Kolaborasi (1) : Perjalanan Akhir Tahun bersama Rumah Kolaborasi

Foto Saibumi.com
Kesempatan tak mungkin tersia-sia kalau segalanya serba tepat. Waktu yang tepat, tempat yang tempat, orang yang tepat dan semua tepat. Inilah yang terjadi dalam dua hari kemarin, Sabtu - Minggu, 16 - 17 Desember 2017 dalam kegiatan Jurnalis Trip yang diadakan oleh Rumah Kolaborasi (Ruko), ke Ulubelu, Tanggamus, Lampung.

Andri dari Ruko yang mesti kusebut sebagai peluang bagiku untuk ikut dalam perjalanan ini.

"Adakah teman-teman JPP yang mau ikut Jurnalis Trip ke Lembah Pelangi Ulubelu 16 - 17 Desember? Usai trip harus nulis di media masing-masing." Andri berkoar-koar di grup WA Jaringan Perempuan Padmarini (JPP).

Aku spontan menuliskan namaku untuk ikut padahal belum tahu apa kegiatannya, siapa yang ngadain dan bagaimana persiapan serta lain-lainnya. Hehehe. Nama Lembah Pelangi spontan menyentuh hati. Apalagi setelah aku browsing di internet apa dan di mana lokasinya. Tambah berminat. Agak ngeper ketika beberapa hari menjelang hari H aku diserang vertigo cukup parah. Aku harus ke dokter untuk menahan supaya serangannya tidak semakin parah. Dan percayalah, tempat indah Ulubelu bisa menyembuhkanku. Hehehe.

Nah, rupanya, Jurnalis Trip ini merupakan kegiatan rutin dari Ruko yang diadakan pada akhir tahun. Ini adalah cara Ruko mengajak teman-teman media untuk mengunjungi tempat-tempat menarik yang menjadi lokasi program kerja Ruko, yang bergerak untuk pemberdayaan masyarakat dan lingkungan hidup di beberapa daerah di Propinsi Lampung. Aku ndak terlalu ngeh orang-orang yang ada di sini, tapi Andri adalah salah satu pengurus inti dalam Ruko.

Yang diajak ikut serta dalam Jurnalis Trip ya para jurnalis dunkkk. Aku beruntung karena aku punya media : yulinugrahani.blogspot.com. Media yang membanggakan ini toh punya pembaca juga kan? Hehehe... jadi aku bukan hanya pensiunan jurnalis tapi juga bloger dan selalu : cerpenis. Hihihi... Keberuntunganku dalam perjalanan ini adalah belajar tentang koperasi simpan usaha (nanti kuceritakan dalam tulisan selanjutnya), belajar tentang semangat hidup dari perempuan-perempuan dampingan Ruko, mengunjungi tempat-tempat keren di Lampung yang belum pernah kukunjungi (termasuk Lembah Pelangi dan Danau Hijau, tulisan detail menyusul), mengenal beberapa jurnalis muda Lampung dari berbagai media dan dapat oleh-oleh dongg, berupa foto, kopi, gula aren dan pengalaman. Ohya, aku juga menemukan beberapa pantun dalam syair tarian penyambutan di Lembah Pelangi, pasti itu akan menarik bagi orang yang suka sastra macam aku. Aku akan coba menuliskannya dalam satu bagian nanti.

Tulisan awal ini sebagai pengantar sebelum masuk ke tulisan-tulisan selanjutnya yang akan kutulis secepatnya begitu ada kesempatan. Mungkin bisa 5 atau 6 bagian, tergantung bagaimana nanti aku punya waktu dan kreatifitas untuk mengolah data. Sabar yak. Hmmm, sebenarnya aku minim foto, jadi aku mengambil beberapa foto hasil jepretan teman-teman jurnalis yang ikut dalam perjalanan ini.

Saturday, December 16, 2017

Puisi Sabtu 6 : PANTAI CEMARA Karya Meisya Zahida

PANTAI CEMARA

Aku menyebutnya pantai cemara
Sebuah tepian kadang sesak dengan orang
Tapi seringkali ditinggalkan
Banyak perbincangan menjadi sebab 
antara kehadiran dan kepergian

Seperti sirine laut bagi pelayaran
Tak ada rambu-rambu yang menjadi pembatas
Hanya kompas di tangan juga sebuah dayung
Sesekali jangkar menahan keras arus gelombang

"Tak ada percakapan abadi," katamu suatu hari
Dalam lambai cemara yang mencatat riuh hujan
Deru angin, menerbangkan desah daun-daun

Di pantai cemara
Sumbang gemuruh ombak bagai merekam wajahmu
Sepintas diretas musim dan layu ranting-ranting
Tak tersentuh kenangan

Siang belum paham,
liuk cemara yang jatuh di karang.

Catatan, 080516

----------------


Meisya Zahida lahir di Sumenep, Jawa Timur, 29 Desember. Saat ini bekerja di Kantor UPK PNPM Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Baginya, menulis adalah cara paling indah untuk menuangkan isi hati, mengungkapkan perih juga emosi. "Jangan pernah ada kata berhenti, sebab berhenti adalah kekalahan, sebelum kau meraih mimpi." Begitu katanya.
Beberapa karyanya bisa dinikmati dalam beberapa buku, seperti Akar Rumput (Kampoeng Jerami 2016), Get Married (RosieBook 2016), Keteduhan Jiwa (2015), Sajak Embara (Rose Book 2016), Mata Cinta (Rose Book 2016), Akuarium Melankolia (Ruas 2015) dan sebagainya. Bisa disapa di akun Facebook Meisya Zahida atau email meisyazahida414 @gmail com. Saat ini sedang menunggu buku kumpulan puisinya berjudul Jendela Tanpa Kaca, diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami, 2017.

Friday, December 15, 2017

Sayur Mayur untuk Berbagi

Sudah beberapa minggu ini ndak berani mendekat ke sayuran di depan rumah. Panen terakhir hari Sabtu lalu mendapatkan segenggam bayam untuk sayur bening campur labu siam. Itu pun aku mengambil daun-daun nyaris tanpa memandang. Sengaja ndak pakai kaca mata supaya tidak menangkap penampakan si ulil.

Beberapa daun jelas banget ada penghuninya. Saat aku bersihin daun-daun bayam itu aku pake feeling saja, ndak sungguh-sungguh dilihat. Hehehe... Kalau ndak melihat kan ndak apa-apa. Jadi amannnn....

Daun yang tersisa seharusnya bisa untuk satu atau dua kali masak mi adalah sawi-sawi seperti yang ada di foto. Tapi, sebagian sawi sudah nyaris gundul karena ada pemangsa lain yang lebih cepat. Sebagian aku juga melihat ulet hijau kecil mungil yang lucu itu nangkring di antara daun, dengan rakus mengunyah-mengunyah-mengunyah dan ngeluarin kotoran-kotoran-kotoran yang bulet hijau di sekitar dia tinggal.

Hehehe... aku sudah ndak terlalu parno melihat-lihat mereka asal ndak menyentuh. Tapi sebisa mungkin aku menghindari kemungkinan untuk bertemu dengan mereka. Hohoho... ya jadi, panen terakhir ini untuk mereka saja deh.

Sementara waktu aku belum menyebarkan benih baru. Biasanya aku akan sebarkan di wadah-wadah yang mulai kosong. Dulu saat Denmas Hendro rajin, dia akan menumbuh bawang dan cabe, dicampur air lalu disemprotkan ke daun-daun yang mulai berlubang.

"Biar serangga-serangga berhenti memakannya karena kepedasan." Masa sih? Hihihi. Tapi ya sudahlah, tapk masalah juga ada satu dua di antara daun itu. Asal ndak kelihatan saja. Toh ini juga cara berbagi dengan alam semesta, supaya pada musimnya nanti kupu-kupu masih terlihat. Pokoke bayi-bayi itu jangan muncul terlalu nyata deh. Takut pengsan dengan sukses.

Karina Lin Terbitkan Buku Esai, Kumpulan Esainya, Kumpulan Cintanya

Karina Lin, kukenal beberapa tahun yang lalu. Entah di mana pertama kali ketemu, tapi yang yang jelas pasti urusan buku. Diskusi buku, bedah buku atau diskusi tema tertentu tentang Lampung. Yang kuingat aku bertemu dia di Fajar Agung, Lampung Post, Kampus Unila, hmmm... ya di tempat-tempat itu beberapa kali. Juga pernah bertemu di jalan. Sepertinya dia ini sering banget kulihat sedang berjalan kaki di seputaran Bandarlampung. Tubuhnya yang kerempeng mudah banget kukenali kalau sedang berjalan bahkan kalau aku dari arah belakangnya.

Apa yang menarik darinya dalam perjumpaan-perjumpaan awal? Dia ini ceplas-ceplos, tidak basa-basi. Bukan hanya saat mengemukakan pendapat, tapi juga ketika dia punya keinginan-keinginan. Beberapa tahun lalu saat bertemu di Fakultas Hukum Unila untuk sebuah buku, dia kulihat sedang mojok makan bekalnya. Saat aku sapa (mungkin dia lupa), dia mengatakan sekilas tentang... hmmm mungkin tentang mengapa dia bawa bekal? Atau mungkin tentang dirinya yang harus makan sesekali? Aku lupa persisnya.

Saat dia menunjukkan kumpulan esainya Lampungisme: Sosiokultur, Alam dan Infrastuktur Bumi Ruwa Jurai aku sangat girang. Aku sudah beberapa kali membaca tulisannya itu di media massa, jadi sebagian seperti mengulang pemikirannya. Membaca kumpulan ini, aku seperti ditarik kembali untuk melihat Lampung. Iya, sehari-hari aku memang tinggal di Lampung, tapi seberapa besar aku 'melihat' Lampung. Huhuhu... Lin, thank you ya. Ini buku yang indah untuk 'nggoteki' supaya Lampung menjadi lebih indah. Buku ini diterbitkan tahun 2017 oleh Pustaka Labrak dengan editor Udo Z. Karzi, berisi tulisan Lin tentang budaya, politik, sosial dan infrastruktur di Lampung.

Membaca buku Lampungisme: Sosiokultur, Alam dan Infrastuktur Bumi Ruwa Jurai yang ditulis oleh Karina Lin membuat saya seolah-olah duduk di samping Lin, mendengarkan suaranya yang ‘cerewet’ mengisahkan bagian-bagian dari Lampung yang pernah dia temui, pernah dia amati, pernah dia rasai. Sebenarnya bukan hanya berkisah, karena seringkali yang muncul bukan hanya fakta, tetapi juga kritikan, pertanyaan, protes, dan perlawanan. Pada beberapa tulisan, saya seperti terkena kibasan tangannya yang sedang menunjuk ke berbagai arah sehingga saya tidak mungkin tidur saat mencermati suaranya, tulisannya. Sepertinya Lin memang sengaja menampar saya atau siapapun yang membaca tulisannya agar sadar dan terus bergerak untuk menjadikan Lampung sebagai tempat yang indah dan manusiawi dengan perkembangan sosial budaya yang signifikan dari masa ke masa.

Karina Lin lahir dengan nama Karina Eka Dewi Salim, pada 17 April 1983 (kau muda banget, Lin) di Tanjungkarang, Lampung yang juga sekaligus merupakan tempat penulis berdomisili pada saat ini. Pada Maret 2009, lulus dari Universitas Lampung dengan spesialisasi Pendidikan Sejarah. Sangat menyukai dunia kepenulisan, di samping membaca, dan mendengarkan musik, travelling, fotografi dan yoga.

Selama masa kuliah hingga sekarang, cukup sering mengikuti lomba-lomba penulisan baik ilmiah maupun non ilmiah,juga menulis artikel lepas semacam (terutama) opini, cerpen dan resensi buku. Beberapa lomba tulis menulis yang pernah diikuti, misalnya Lomba Esai Japan (yang diadakan Japan Foundation Indonesia) pada 2006, Lomba Esai Korea (yang diadakan Kedutaan Besar Republik Korea) pada 2004 dan 2006, Lomba Cerpen Majalah Femina 2006, Lomba Cerpen Lip Ice-Selsun Awards 2006, serta kompetisi menulis sinopsis untuk Short Story Competition 2009 yang diadakan LA Indie Movie. 

Pernah bekerja sebagai wartawan Harian Radar Lampung yang tergabung dalam Jawa Pos Group (2010-2011). Bergabungnya penulis dengan media itu sendiri berawal dari opini yang pernah dipublikasikan oleh harian tersebut. Kemudian Juni 2013 menjadi wartawan di Harian Lampung Newspaper (Jawa Pos Group). Saat ini bekerja sebagai jurnalis di media online duajurai.co (sejak September 2015), penulis lepas (freelance writer) di surat kabar lokal dan nasional, dan tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung

Salah satu esainya dimuat dalam buku mengenai lembaga kesenian di Lampung yang berjudul Rumah BerwarnaKunyit: Polemik Kesenian, Kesenimanan dan Lembaga Seni (di) Lampung (2015) (2015)Dalam kaitannya dengan Kota Bandar Lampung, saat ini penulis sedang berusaha mendirikan Komunitas Greenmap Kota Bandar Lampung yang berfokus pada masalah perkotaan seperti kemacetan, sampah, polusi, dan lain-lain. Sedangkan dalam bidang kesejarahan, penulis mengkhususkan diri pada sejarah peranakan Tionghoa Indonesia (dan di Lampung), sejarah seni dan budaya dan sejarah politik. Alamat korespondensi, email: lin.karina@yahoo.com / lin.karina83@gmail.com, Facebook:  Sycarita Karina Lin, Twitter @KLin17. l

Thursday, December 14, 2017

Julid ki Opo?

Hari ini aku dapat olokan karena ndak tahu arti kata 'julid'. Bukan aku sih yang dikata-katain julid, tapi orang itu kayak mantap kali menyebut julid. Ya, ampun, julid ki opo?

"Ih. Mbak Yuli ndak gaul loh."

"Memang ora. Bahasa apa itu?"

"Bahasa gaul, mbak." Hmmm, aku garuk-garuk kupingku sendiri

"Opo artine?"

"Julid itu sebutan kalau ngomongnya pedes, kayak cabe jablak sekilo buat makan sesuap ayam goreng."

"Waduh. Sejak kapan lahirnya istilah kayak gitu tuh?"

"Kira-kira empat bulan belakangan deh, mbak. Seiring berjalannya waktu mbak Yuli akan tahu kata-kata yang lain. Asal gaul yeee..."

Oalah. Aku coba cek di kamus Bahasa Indonesia, kata itu memang tak ada. Dalam beberapa situs memunculkan muasal kata julid itu konon dari bahasa Sunda, binjulid yang artinya dengki atau iri hati, yang beberapa bulan lalu dipopulerkan oleh Syahrini. Hihihi... ada-ada aja. Jadi gitu deh, kata julid ini bisa dipakai sebagai sebutan untuk orang yang nyinyir karena dengki terus komentar pedas sepedas cabe sekilo untuk teman sesuap ayam goreng, hehehe.

Bergaya Seperti Model Majalah dalam Buku Tahunan Sekolah

Aku keliling rumah mencari buku-buku yang tersisa, kemudian menemukan buku tahunan SMP Fransita tahun 2016, buku album kenangan dari angkatan Albert. Buku yang keren menurutku. Tebal dengan kertas artpaper fullcolor. Aku sudah membaca dan melihat buku ini setahun yang lalu saat Albert lulus SMP. Melihatnya lagi ternyata masih asyik, apalagi kalau wajah anakmu ada di situ. Hehehe....

Albert mengakhiri sekolahnya di SMP ini di kelas 9C, dengan wali kelasnya yang gokil, Pak Toto Haryadi. Kukira di antara guru wali kelas Albert yang pernah ada, Pak Toto ini termasuk guru yang paling sering diceritakan oleh Albert. Nyambung kayaknya mereka. Atau mungkin kesamaan 'sesuatu' yang menyambungkan mereka ya? Entahlah.

Misal, suatu waktu aku ketemu dengan Pak Toto karena urusan tertentu di luar urusan pendidikan Albert. Dari tempat parkir dia sudah bersuara,"Anakmu kuwi jan..."

"Ada apa, pak?" Deg-degan kalau mbayangin Albert berulah. Dan dia nih memang sering bikin ulah. Huh.

"Mosok dia pakai cecak untuk menggoda temen-temennya. Kan ndak semua orang berani. Entah darimana lho dia itu bisa dapat cecak. Kok ya ndak jijik juga."

Wadauhh. Aku ya nyengir saja. Bingung mau koment apa. Waktu sampai rumah, aku mengingatkan Albert soal kejahilannya, dia juga cuma nyengir. "Lebay saja mereka itu. Sama cecak saja takut." Hadeh.

Nah, lihat di halaman 76. Terpampang gambar seperti di atas. Albert, Viola, Fito dan Theo. Dengan kostum model gangster kayak itu. Yaelah. Kelas mereka memakai nama Camp Militer 9 Crazy Army. Coba, dari mana ide nama seperti itu. Oalah. Mereka tulis,"9C_razy Army bisa diibaratkan sebagai sebuah camp militer. Tapi isinya bukan army yang waras melainkan setengah gila dipimpin oleh jenderal ganteng Toto Haryadi dengan Fito sebagai ketua tim pasukan gabungan yang hobi main ukulele." Nah lo.

Albert masuk dalam pasukan khusus "Pentol Korek". Ditulis,"...isinya orang idiot, usil, tapi kreatif dan asyik. Kelompok mereka yang terbaik sepanjang tahun ajaran." Ckckckck... Dulu Albert sering sekali cerita soap Pentol Korek ini. Karena masuk dalam kelompok ini juga dia jadi selalu berusaha tidak terlambat masuk sekolah dan mengerjakan tugas (walau kenyataannya tetep payah) karena kalau sampai terjadi dia harus membayar sekian ribu rupiah sebagai sanksi.

Di bagian bawah tulisan tentang kelas 9 C, mereka masih menambahkan : "Tidak ada pasukan lain yang bisa mengalahkan kami. Terbukti kami sering sekali memenangkan lomba di setiap kegiatan sekolah. Walaupun punya banyak prestasi, list kasus atau masalah gak kalah banyak. 9C itu selalu ribut, guru terganggu, bad mood, terutama Laoshi Henny, sorry Laoshi. Bahkan suster kepala sekolah datang dan menegur waktu kami teriak nyanyi Indinesia Raya, dimarahi Bu Ayu karena kasus Gelombang Cinta (kasus apaaan ini???). Semua itu proses mencari jati diri menuju kedewasaan untuk menjadi manusia yang lebih baik di masa depan. Selamat jalan kawan. Semoga kita bisa bertemu lagi di masa depan. Bukan lagi sbagai seorang bocah yang sama seperti masa SMP tapi sebagai orang dewasa sukses yang membanggakan." Oh.

Doaku untuk kalian, nak.


Merajuk, eh Merajut!

Sebenarnya pengin menulis sesuatu yang agak berat gitu lho seperti tentang Setnov yang tampaknya sedang sakit berat hingga tunduk membungkuk saat di pengadilan, tentang Sandi yang pakai lip balm karena bibirnya kering, tentang Ustadz Somad yang sedang di Lampung, atau tentang tanah Karanggupito yang bergetar, dan sebagainya. Tapi kok otakku ini ndak nutut yo. Huhuhu, lagi-lagi si vertigo yang dijadikan alasan malas mikir. Tapi yo gimana lagi, ini memang hari-hari harus tidur dan malas lebih banyak. Dokter klinik sudah memvonis begitu. Aku sendiri juga sudah memutuskan untuk tidak memakai alat-alat elektronik ini terlalu lama. Beberapa menit saja untuk mengerjakan sedikit yang perlu dikerjakan.

Sepanjang sore kemarin aku sudah bosan hanya tidur. Pun kalau bergerak di tempat tidur juga ndak bisa dengan terburu-buru atau mendadak. Duduk bengong mencari-cari buku ndak menemukan sama sekali. Buku-buku yang ada di rumah sudah dipack oleh Denmas Hendro dipindah ke rumah kosong di belakang. Yang tersisa hanya beberapa buku yang sudah kubolak-balik dari kemarin.

Untungnya kemudian aku menemukan gulungan benang wol dan stik rajut di atas lemari. Aku ingat mendapatkan benda-benda itu tak sengaja saat mampir di UKMBS Unila beberapa bulan lalu. Pulang dari memberi materi ke anak-anak UKMKat, aku lihat ada Warih, Gebe, Mutia dan beberapa orang di UKMBS. Jadilah mampir minum kopi (mereka selalu menawari kopi atau teh kalau ada yang datang, minimal kalau aku datang selalu mendapat tawaran itu). Nah saat itu Mutia tengah berjibaku dengan gulungan benang sampai jari jemarinya kemana-mana. Langkah pertama belum juga dia selesaikan. Membuat rantai. Huhuhu... Sepanjang aku menunggu hingga menghabiskan kopi, dia sampai berkeringat dipandu oleh senior rajutnya. Lalu dia menyerah :"Kayaknya aku harus ganti benang yang lebih padat."

Aku ambil benang abu-abu itu lalu aku mencobanya. Aku pernah mendapat pelajaran merajut dari nenek dan ibuku, dan sudah laammmaaaa sekali tidak memegangnya lagi. Ternyata aku masih bisa membuat bentuk-bentuk sederhana. Lalu ya gitu dah. Mutia membulatkan tekad untuk membeli benang jenis lain dan dua gulung benang abu-abu itu pindah ke tanganku.

Sampai di rumah hingga kemarin, dua gulung benang itu tak tersentuh, malah terlupakan begitu saja. Tapi karena ingat bu dokter klinik minta aku melakukan juga terapi gerakan-gerakan kepala untuk mengurangi vertigo, kegiatan merajut inilah yang kupilih. Duduk anteng, memegang stik dan benang. Setelah sekian lama aku tanya Albert :"Ibu sudah sejamkah di sini?"

"Belum lah, bu. Baru juga setengah jam palingan."

Kok kayaknya udah lama banget ya. Dan ini kenapa hasilnya baru segini?

"Memangnya untuk apa itu bu?"

"Entah. Bagusnya apa ya? Peci, kerudung, taplak, tas?"

Albert memegang hasil rajutanku dengan heran. Kayaknya dia mengira-ngira benda itu nanti akan berakhir seperti apa. "Yang penting jadi saja deh bu. Jadi the first hasil karya rajut ibu yang benar-benar jadi."

Huhuhuh, kayaknya itu saja deh kuncinya. Karena kuingat-ingat aku memang belum pernah membuat hasil rajutan yang jadi seumur hidupku. Huaaa... jadi ingat gambar-gambar. Nenek tua berkaca mata, duduk di kursi goyang, merajut dikelilingi beberapa gulung benang warna-warni dan seekor kucing di dekat kakinya. Kalau si kucing sedang iseng, gulungan benang akan jadi mainan, dan hasil rajutan si nenek akan terburai. Hehehe...

Wednesday, December 13, 2017

Klinik Bundaran Sehat

Bagian dalam klinik, ruang tunggu.
Pada kartu BPJS yang kupunya, fasilitas kesehatan pertama yang dipilih keluarga adalah Klinik Bunderan Sehat. Mengapa klinik ini? Alasan utama adalah tempatnya dekat, hanya sekitar satu kilometer dari rumah. Selain alasan kedekatan, tak ada alasan lain. Itu pun sebenarnya saat memilih juga belum tahu ada di mana klinik ini.

Aku baru tahu letak klinik ini setahun yang lalu saat jatuh dari motor dan memerlukan bantuan pengobatan yang serius. Aku browsing cara menggunakan kartu BPJS yang sebenarnya tak pernah kuharapkan dipakai, juga browsing letak klinik ini. Sebagai fasilitas kesehatan pertama yang dipilih keluargaku, maka klinik inilah yang pertama-tama harus kami tuju kalau kami membutuhkan bantuan kesehatan yang menggunakan BPJS. Kalau klinik ini tak sanggup, ya kami akan mendapat rujukan ke fasilitas yang lain sesuai dengan sarana dan prasarana yang diperlukan.
Penunjuk arah dekat gerbang. Foto dari internet.

Waktu itu, saat mampir fotokopi KTP dan kartu BPJS di samping klinik (hanya sepelemparan batu), aku tanya ke tukang fotokopi.

"Klinik Bundaran Sehat tuh di mana ya? Tahu ndak?"

Si abang geleng-geleng. Secara ngawur dia nunjuk arah seberang jalan yang dikatakan ada puskesmas. Untungnya ada mahasiswa Politeknik Kesehatan yang sedang fotokopi juga menunjukkan letak klinik yang bagian depannya kelihatan dari tempat fotokopi. Ealahhhh....

Itu menandakan kalau klinik ini memang tidak populer. Mungkin tempatnya yang ada dalam kompleks Politeknik Kesehatan Propinsi Lampung membuat masyarakat agak segan untuk masuk. Ada dua pintu yang bisa dipakai untuk masuk ke klinik. Pintu pertama dekat dengan tempat fotokopi tadi, di sisi jalan arah Natar. Sedang pintu yang lain adalah gerbang utama Poltekes di jalan Soekarno Hatta. Masuk saja samping warung Luwes, akan akan penanda yang bisa membantu kita sampai ke klinik. Peta lokasi bisa cek dulu biar tahu gambarannya.

Nah, tadi adalah pengalamanku kedua datang ke klinik ini. Aku yang sudah beberapa hari kelimpungan karena vertigo ingin memastikan diriku baik-baik saja. Huh. Padahal memang sedang ndak baik.

Mbak yang di tempat pendaftaran langsung meminta kartu BPJSku begitu aku datang. Tak ada pasien lain, sepi. Tapi di lantai atas di gedung yang sama rupanya perkuliahan sedang break sehingga suara berisik para mahasiswa ... minta ampun deh. Mungkin mereka lupa kalau di bawah mereka ada klinik yang walau seringnya sepi ada juga pasien sakit yang datang dengan berbagai keluhan.

"Ke dokter gigi atau dokter umum, bu?' Aku menjawab perlu ke dokter umum. Dia mencatat di selembar kertas setelah mengecek kartuku, memberikan kepadaku dan memintaku untuk mengetuk pintu ruang periksa.

Di dalam seorang dokter menyambutku, mendengar keluhan-keluhan dan langsung memeriksa tekanan darah. "Darah ibu 160."

Rasanya aku melotot karena dokter itu menanyakan apakah aku sering hipertensi dan setinggi itu, lalu bertanya apakah aku habis jalan atau berlari dan bla bla... "Ibu diam dulu sebentar di sini ya. Nanti saja akan periksa lagi tekanan darah ibu. Karena memang kadang bisa berubah-ubah. Juga untuk memastikan."

Usai itu ada pasien lain yang datang. Seorang ibu dan anak. Seorang perempuan muda. Lalu seorang muda lagi. Aku diperiksa lagi setelah itu. Beberapa pertanyaan, beberapa permintaan dariku, beberapa nasihat, dan kemudian obat diangsurkan. Histigo untuk obat vertigo, yang berisi Betahistine Mesilate 6 mg, diminum tiga kali sehari. Zevask untuk menurunkan tekanan darah, yang berisi Amlodipine besilate 5 mg, diminum satu kali sehari. Katanya ini dosis yang rendah, karena awalnya aku ngotot ndak mau dikasih obat.

Sebagai klinik fasilitas pertama, aku suka Klinik Bunderan Sehat ini. Mereka menyediakan tempat yang bersih dan ok, pelayanan yang ramah. Tidak banyak pasien sehingga antrian tidak banyak. Memang sih jam bukanya terbatas. Kayaknya jam 15.00 sudah tutup. Tapi aku berharap, selalu berharap, aku hanya iuran per bulan saja untuk fasilitas kesehatan ini. Jangan lagi menggunakannnya. Huaaa.... semangat untuk sehat.