Wednesday, March 23, 2022

KEKUATAN KEPEDULIAN SEBAGAI UPAYA UNTUK STOP PERDAGANGAN ORANG

 Human Trafficking (perdagangan orang/manusia) adalah salah satu luka terdalam kemanusiaan saat ini. Martabat manusia direndahkan dan manusia dianggap sebagai barang dagangan. Dari seluruh situasi itu, korban yang paling rentan adalah perempuan dan anak-anak. Menurut statistik PBB tentang perdagangan manusia (Laporan Global UNODC 2020 tentang Perdagangan Orang) sebesar 72 % korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak perempuan, dan persentase ini meningkat secara signifikan dalam konteks perdagangan untuk eksploitasi seksual.

               Menghadapi kegagalan model ekonomi berbasis eksploitasi seperti itu, perempuan terpanggil untuk mengambil peran sebagai agen perubahan untuk menciptakan sistem ekonomi yang berbasis pada kepedulian terhadap sesama dan masyarakat rumah, melibatkan semua orang.

Hal itulah yang diangkat dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Talitha Kum bekerjasama dengan Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, Selasa, 8 Februari 2022 bertempat di Matow Way Hurik, Tanjungseneng. Dengan tema: “Kekuatan Kepedulian: Perempuan, Ekonomi, Perdagangan Manusia”.

               Kegiatan dihadiri oleh komponen masyarakat lintas iman khususnya yang peduli terhadap korban perdagangan manusia, dengan pemantik diskusi Suzana Indriyati Caturiani, akademisi, dosen FISIP Universitas Lampung dan Tymu Irawan dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Lampung dengan moderator diskusi Yuli Nugrahani, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Dalam kegiatan ini seluruh peserta menjadi narasumber yang menambahkan data, masalah-masalah dan juga peluang-peluang aksi yang sudah dan bisa dikerjakan untuk menghentikan perdagangan orang. Peserta yang hadir antara lain dari LSM Damar, LAdA, Fatayat NU, Gusdurian Lampung, Wanita Katolik RI, orang muda Katolik, para biarawati dan sebagainya sejumlah 25 orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Selain itu, kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal youtube Komsos Keuskupan Tanjungkarang untuk menjangkau semua mitra jaringan di mana pun berada.

     Kegiatan dibuka oleh Sr. M. Tarsisia FSGM, Ketua Talitha Kum Tanjungkarang yang mengajak semua yang hadir untuk terlibat aktif dalam kegiatan ini. Puncak kegiatan, semua yang hadir berdoa menurut agama masing-masing, diwakili oleh peserta dari berbagai agama yang hadir dalam kegiatan ini. Pendeta Budiman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) mewakili Kristen Protestan, Luke Silalahi dari Paguyupan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) mewakili Budha, Tymu Irawan dari SBMI mewakili Islam, Desak Ketut Suastika dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) mewakili Hindu, dan Sr. M. Tarsisia FSGM mewakili Katolik. Doa dilambungkan dengan ujub untuk para korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), semoga tidak pernah lagi ada korban dan semua semakin banyak orang untuk peduli menghentikan TPPO.

               Pada bagian akhir, kesadaran tentang korban ingin didengungkan lewat berbagai aksi dan sosialisasi. Dengan adanya pandemi, masyarakat dan institusi telah menemukan kembali nilai kepedulian terhadap sesama sebagai pilar keamanan dan kohesi sosial, serta komitmen untuk menjaga ruang bersama dalam rangka mengurangi dampak buruk dari perubahan iklim dan degradasi lingkungan, yang terutama mengurangi kemiskinan. Kekuatan kepedulian adalah satu-satunya cara untuk mengatasi perdagangan manusia dan segala bentuk eksploitasi.***

“SADAR KOPERASI DALAM ERA BUDAYA BARU”

 


RAT KSP Kopdit Mekar Sai 27 Maret 2022

Pengurus terpilih periode 2022 - 2024

Pengawas terpilih periode 2022 - 2024

RAT KOPDIT MEKAR SAI

“SADAR KOPERASI DALAM ERA BUDAYA BARU”

 

Minggu, 27 Februari 2022, KSP Kopdit Mekar Sai menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) dengan agenda utama pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2019 -2021. RAT akan dirangkai dengan Rapat Anggota Khusus (RAK) untuk pemilihan pengurus dan pengawas masa bakti 2022 – 2024. Rapat dilakukan secara online dengan undangan sebanyak 400 peserta dari unit-unit, termasuk di dalamnya pengurus, pengawas dan manajemen. Rapat dibuka oleh A. Haryono Daud, Ketua Pengurus KSP Kopdit Mekar Sai dengan pimpinan rapat Ignatius Yoga Adi Nugroho dan sekretaris rapat Silvia Damayanti.

            RAT merupakan agenda rutin koperasi sebagai bentuk pertanggungjawaban kerja pengurus dan pengawas sepanjang tahun buku yang lalu. Yohanes Dwi Ady K., Ketua Panitia RAT bersama dengan seluruh kepanitiaan mempersiapkan agenda tahunan ini selama tiga bulan terakhir dengan fasilitas jaringan daring.

            “Kita belum selesai dari pandemi Covid-19 dengan berbagai varian baru dan dampaknya. Kondisi ini membuat kami tetap memilih menggunakan konsep daring dan luring terbatas bagi penyelenggara dalam pelaksanaan rangkaian acara RAT. Daring dilakukan menggunakan media zoom meeting yang diikuti oleh perwakilan anggota dari tempat masing-masing. Dipadu dengan cara luring bertempat di Kantor KSP Kopdit Mekar Sai diikuti oleh pengurus dan pengawas serta panitia penyelenggara,” ujar Dwi.

            Lebih lanjut Dwi mendorong keaktifan peserta RAT mulai dalam persiapan, pelaksanaan, maupun dalam kerja KSP Kopdit Mekar Sai selanjutnya. Media sosial Mekar Sai sudah diisi dengan berbagai materi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan RAT maupun RAK sehingga anggota bisa mengakses media tersebut untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan di samping materi yang sudah dibagikan dalam bentuk buku RA 2022.

            Tahun 2022 menjadi tahun suksesi pengurus pengawas KSP Kopdit Mekar Sai. Itulah yang menjadi agenda satu-satunya dalam RAK kali ini. Untuk pemilihan pengurus dan pengawas, KSP Kopdit Mekar Sai membentuk panitia nominasi yang sudah bekerja selama sekitar satu tahun untuk menyeleksi calon-calon pengurus dan pengawas usulan dari unit-unit yang ada. Ketua panitia nominasi, Agustinus Sarman menyatakan ada sebelas calon pengurus dan enam calon pengawas yang sudah terjaring. Pemilihan akan dilakukan secara virtual dengan memilih melalui link yang sudah dibuat.

            Tema yang diangkat dalam RAT kali ini merujuk pada perubahan yang akan dicapai oleh KSP Kopdit Mekar Sai dengan melihat dan mengikuti perkembangan zaman. Terkait dengan hal tersebut, A. Haryono Daud, ketua pengurus KSP Kopdit Mekar Sai menyatakan bahwa rencana strategi yang sudah disusun oleh pengurus KSP Kopdit Mekar Sai untuk masa tiga tahun, dengan target per tahun.

            “Perubahan yang utama yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang transformatif dan inklusi, sehingga tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Setiap perbedaan justru menjadi kontribusi yang berharga untuk perkembangan  koperasi.” Ujar Haryono.

            Untuk menuju perubahan tersebut ada beberapa point yang ditandaskan oleh Haryono. Yang pertama dan utama adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) demi kelanggengan KSP Kopdit Mekar Sai.

            “Kedua adalah mempersiapkan organisasi menuju budaya digital. Hal itu juga yang menjadi fokus dalam RAT kita kali ini, dalam isi maupun cara. Sedangkan yang ketiga, KSP Kopdit Mekar Sai mesti mengembangkan organisasi melalui kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku. Ini pun menuntut pemahaman dan keaktifan seluruh unsur yang ada dalam organisasi karena peraturan perundangan selalu bersifat dinamis.”

            Pada bagian akhir, Haryono mendorong anggota KSP Kopdit Mekar Sai untuk berpartisipasi aktif mengontrol jalannya organisasi koperasi salah satunya melalui aplikasi digital. Haryono mengingatkan bahwa anggota mempunyai hak yang mesti terjamin pemenuhannya. Dengan menggunakan aplikasi Sakti.link, anggota bisa melakukan pengecekan setiap waktu secara digital, bisa mendapatkan bermacam manfaat melalui transaksi yang dimungkinkan, dan yang tak kalah penting ikut dalam isu global ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan kertas.

 

HASIL PEMILIHAN

 

Ketua pengurus: Andreas Muhi Pukai

Wakil ketua     : Antonius Widi Asmoro

Sekretaris 1     : Yohanes De Deo Atmoko

Sekretaris 2     : Yustinus Kristiyono

Bendahara       : A. Suharyono Daud

 

Ketua Pengawas: Ch. Dwi Yuli Nugrahani

Sekretaris        : Andreas Toto Haryadi

Anggota          : Th. Agus Sutarna

 


Musrenbang Perempuan dan Anak Provinsi Lampung

 Hotel Emersia Selasa (22/3) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), diikuti oleh stakeholder terkait dari seluruh provinsi Lampung. Selain seluruh bagian dalam kantor dinas PPPA Provinsi, juga dihadiri oleh dinas PPPA seluruh kota dan kabupaten, dinas lain terkait, Forkom Puspa Provinsi Lampung dan Forum Anak Provinsi Lampung.


Penandatanganan berita acara musrenbang.

Aku hadir sebagai ketua Forkom Puspa Lampung, membawa beberapa gagasan. Beruntung sekali Forkom Puspa mendapatkan waktu untuk bicara, sehingga beberapa gagasan itu bisa kushare kepada audien khususnya bisa disampaikan kepada pihak terkait. 

1. Puspa membutuhkan dukungan fasilitasi dari Dinas PPPA. Bagian utama dari hal ini adalah fasilitasi untuk rakor dan juga untuk peningkatan kapasitas SDM dari LM-LM yang ada dalam PUSPA. Saat ini sudah ada 36 lembaga yang masuk dalam Puspa Provinsi Lampung.

2. Puspa membutuhkan akses untuk pemanfaatan APBD dalam rangka memperkuat gerak dan kinerja Puspa sebagai salah satu forum yang diinisiasi oleh pemerintah.

3. Puspa membutuhkan dukungan dari dinas-dinas PPPA di seluruh kabupaten dan kota untuk mendorong terbentuknya Puspa di daerah maupun gerak kerja lanjutnya. Bukan sekadar SK tapi terus bersinergi dalma kerja untuk perempuan dan anak.

Wednesday, March 09, 2022

Cerpen Yuli Nugrahani : PAGI PALING GILA

 Aku ingin bercerita tentang pagi ini karena aku tak mau melupakannya begitu saja. Ibu ingat semalam setelah aku pamit ibu untuk pergi menemani Bito?

"Tentu saja. Kau ndak menghabiskan makanmu. Padahal beras itu toh harus habis juga, Adun. Ndak mungkin ibu buang. Sayang." 

"Ya ndak papa bu. Masak saja. Tapi aku ndak mau makan."

Kepalaku kena jitak ibuku dengan keras. Entah mengapa beras dari penggilingan langganan ibu itu memproduksi beras seperti itu. Memang aku juga yang membelinya, hanya 85 ribu rupiah untuk satu karung seberat sepuluh kilogram. Menurut ibu, rasanya cukup enak, hanya banyak sekali kotoran gabahnya dan memiliki aroma yang langu, tidak aku suka. Ibu sudah mengakali dengan memasukkan rempah-rempah saat memasaknya. Tapi kadang-kadang tak ada waktu sehingga apa adanya dimasak.

Usai makan ala kadar tanpa niat, aku pamit ke warung Bito. Menemaninya bekerja artinya ya nongkrong, sesekali membantunya melakukan pekerjaan warung dan kalau ada sisa-sisa makanan aku bisa ikut bersantap makan di sana. 

Saat aku sampai di warung, Bito sedang duduk di depan warung.

"Kenapa warung tidak buka?" Tanyaku.

Mata Bito tidak lepas dari HP tapi menjawab cepat.

"Kunciku ketinggalan. Entah ada di mana."

"Gimana sih To."

"Aku juga tidak tahu."

Bito asyik dengan HPnya. Kukira awalnya dia sedang meminta seseorang untuk mengantarkan kunci warung, tapi sampai aku menyelesaikan satu permainan, dia masih asyik dengan HPnya dan tak ada tanda-tanda seseorang datang mengantarkan kunci.

"Jadi buka ndak nih warung?"

"Ndak." Jawaban polosnya membuatku merasa lapar.

"Aduh, To, aku lapar."

"Bentar lagi kita bergeser ke tempat Irpan."

"Oke."

Aku tak ada pilihan. Duduk saja di sampingnya, melirik-lirik chatingnya dengan pacar dan mantan pacarnya secara bergantian.

Kau pasti tanya katanya akan bercerita tentang pagi, kok ini malah bercerita tentag malam. Iya, aku pengin menceritakannya mulai dari situ tapi kupikir-pikir bakal terlalu panjang kalau kuceritakan dari malam. Aku potong saja ya.

Pukul 03.50, masih di teras warung Bito, ada beberapa orang lagi sudah bergabung dengan kami. Tapi itu belum cukup. Beberapa saat setelah pukul 04.00 terlewati, si Kuyi datang. Dari jauh motor bebeknya sudah dapat dikenali karena suaranya yang parah.

Sesampai teras warung, kami melihat dia membonceng dua orang. Satu orang aku mengenalnya, Iga, yang memang selalu ada bersama Kuyi. Yang satu lagi, seorang laki-laki yang langsung berjongkok di aspal, tidak di teras, tapi di aspal. Astaga, Kuyi, siapa ini? Laki-laki berumur sekitar 40 atau 50, tanpa baju, telanjang bulat di tengah udara menjelang subuh.

"Siapa dia, hoi?" Bito yang awalnya tak pernah lepas dari HP, langsung berdiri, memandang takjub pada laki-laki telanjang itu.

"Ndak tahu. Dia tadi ada di pinggir Raden Intan."

Astaga Kuyi. Aku terbengong memandang mereka. "Kau apain dia?"

"Dia sudah  begitu. Maka aku bonceng kemari. To,  kau nyimpan baju ndak di warung?"

"Ada. Tapi aku ndak bisa masuk. Kunci warung hilang."

"Aidah. Di kamar mandi ada ndak? Kain tah apa tah." Bito lari ke kamar mandi di samping warung. Saat kembali dia membawa kaos hitam lengan panjang.

"Nih, ada baju kotor. Celana tak ada."

"Siapa pakai celana dobel? Lepas." Kuyi memandang sekeliling.

Salah seorang melepas celana panjangnya dan segera disamber oleh Kuyi. Dia langsung memaki karena celana itu langsung dikenakan pada lelaki asing itu. "Bukan yang panjang yang mau kukasih, halah." Terpaksa si baik hati memakai celana boxer saja terduduk lemas.

"Kau orang gila atau pura-pura gila?" Teriak Kuyi ke orang asing itu. Orang itu mengenakan baju kotor Bito dan celana kedodoran hibah, nyengir sedikit lalu bersujud menghadap jalan.

"Fix, dia orang gila." Kata Bito.

"Bukan. Dia pasti pura-pura gila. Wong bersih kayak gitu."

Kuyi mencoba bertanya hal-hal tak masuk akal pada orang itu. Tentu saja jawaban-jawaban pun muncul tak masuk akal. 

"Di mana rumahmu, pak?"

Orang itu menggelengkan kepala. Diam dengan wajah mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Guru pertama, harus didatangi setiap hari Jumat." Usai bersuara begitu dia tiba-tiba berbalik seperti hendak lari, sehingga spontan aku dan teman-teman menghadangnya. Tapi dia tidak lari, dia terdiam di pinggir jalan aspal. Untung masih sepi jalan itu. Dengan gerakan mendadak lagi, dia menjatuhkan lutut, hingga berlutut takjim menghadap ke Timur. 

"Kenapa kau ini? Pak, duduklah di sana, jangan di jalanan begitu, bahaya pak."

Kami berusaha mengangkat pria itu ke trotoar. Walau dini hari seperti itu jalanan masih sepi, tapi mungkin saja ada mobil atau motor melintas dengan kecepatan tinggi.

"Guru pertama, harus didatangi setiap hari Jumat." Kembali pria itu bersuara, kali ini tidak lari ke jalan tapi dia berdiri membungkuk kemudian merentangkan tangan dengan kaku dan jari jemari tertekuk. Jika tadi kami mendekat saat dia bergerak, kali ini kami spontan menjauh. Posisi itu bertahan beberapa menit sehingga kami ketakutan.

"Pak, santai saja dulu. Mari duduk. Mau makan?" Kupelototi Kuyi, ingin bilang kalau tak ada makanan di antara kami.

Pria itu mengeluarkan suara aneh, awalnya sangat pelan, nyaris tak terdengar, lalu kemudian eraman muncul dengan kuat, sehingga kami semua berlari berhamburan ke segala arah. Hanya sebentar, saat aku berbalik, pria itu duduk ngelesot bersandar pintu warung. "Hoi, kenapa dia hoi?" Seseorang berteriak.

Kami pun mengerumuninya lagi. "Di mana rumahmu? Kami antar kau pulang, pak." Kuyi bertanya dengan berani. 

"Tolong buka facebook." Hah, facebook? Kami berpandangan tapi kemudian aku membuka handphoneku, membuka facebook. "Cari nama Kacanebengi. Profile menghadap laut." Walau kami semua heran, aku mencari nama akun itu. 

"Benar. Ini dia." Aku berbisik saat mendapatkan foto dia di akun Kacanebengi. Pada post paling akhir ada wajah seorang perempuan, berumur lebih tua dari pria itu, tampak cantik dengan baju warna putih longgar dengan kerudung hitamg.

"Guru kedua, datang setiap matahari bersinar." Dia merentangkan tangan tiba-tiba sehingga seseorang di sampingnya nyaris terjengkang, nyaris, tapi makiannya langsung berbunyi.

Aku mencoba mencari siapa yang biasa kuhubungi dari kontak-kontak dalam facebook itu. Tapi sampai beberapa saat tidak respon. Wajar, hari masih gelap pasti semua orang di rentang waktu Indonesia bagian barat ini pasti masih terlelap dalam pulas.

Pria itu bangkit. "Aku akan pulang."

"Kau tahu ke mana arah pulang?" Kuyi lagi yang bertanya. Pria itu mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih. Wajahnya yang tulus membuatku yakin bahwa dia orang gila yang tidak gila.

"Kami antar, pak."

"Tidak usah, aku bisa jalan."

"Kami antar saja. Bapak tinggal arahin kita kemana. Ayo teman-teman."

Kami geleng-geleng. Ini kayaknya memang Kuyi yang gila. Usai nekat mengambil orang telanjang di pinggir jalan, sekarang akan mengantar orang tanpa tahu kemana arahnya. Tapi kami ikut komandonya. Pria itu dibonceng Kuyi diapit teman, bukan teman yang tadi waktu datang, dia sudah kapok. Lalu kami yang lain memakai motor kami masing-masing mengikutinya.

Awalnya rombongan kami itu tidak jelas akan kemana, malah ketika sampai di sekitar Bukit Randu, rombongan kami berputar hingga tiga kali di jalan yang sama. Makian-makian berdengung mengikuti rombongan,sampai kemudian motor Kuyi yakin mantap menuju pasar Tugu, berbelok ke Antasari dan terus lurus ke arah Tirtayasa.

Mereka berhenti di sebuah area parkir mobil-mobil besar. Pria itu mengetok gerbang lebar. Seorang muda keluar dari gerbang itu langsung berteriak. "Dari mana? Kami mencari sepanjang malam. Haduhhh." Pria itu digandeng, nyaris diseret masuk. "Pakde, pakde. Ini Katrok sudah balik."

Seorang laki-laki bersarung tergopoh-gopoh keluar dari sebuah rumah. Dia memberi kode pada pria muda itu untuk masuk. "Mandiin."

Bapak tua, pakde itu, memandang kami, mengucapkan terimakasih. "Kami sudah mencarinya sepanjang malam, untunglah dia selamat. Padahal pintu gerbang sudah dikunci, entah bagaimana dia keluar. Terimakasih ya."

"Dia... " Kuyi yang biasa banyak bicara tak bisa melanjutkan kalimat.

"Ndak, dia tidak gila. Dia sopir truk. Kemarin juga masih nyetir dari Jawa kok. Dia itu ngelmu tapi ndak kuat. Kalau kumat yan seperti semalam itu."

Kami saling berpandangan. Tak tahu harus bicara apa lagi, karena pakde itu hanya mengucapkan terimakasih lagi beberapa kali, dengan gerak tubuh mengarahkan untuk keluar dari garasi mobil truk yang luas itu. 

"Kapan-kapan aku ke sini lagi untuk tanya-tanya. Temani ya guys." Usai berkata, Kuyi memakai helmnya dan langsung ngegas, ngacir. Teman yang awalnya dia bonceng teriak-teriak: "Aku sama siapa hoiiii...!!!!"

Kami semua memasang jari miring di dahi, sambil bersamaan menunjuk Kuyi. Salah satu dari kami membonceng teman yang ditinggal Kuyi itu, boncengan bertiga. Matahari sudah mengintip dari Timur.  Aku merasa sangat lapar, ingin segera pulang, dan sarapan apa pun yang dimasak oleh ibu. Tentu saja sambil menceritakan kisah gila pagi ini.*** (Ditulis secara bebas dari cerita Albert pada 9 Maret 2022)

KOPRI Bandarlampung: Islamic students led dialogue on challenges to women


On March 8, 2022, the Indonesian Women's Islamic Student Movement Corps (KOPRI) held a dialogue titled "Women and the Challenge of Civilization" to commemorate International Women's Day (IWD) in Bandar Lampung, Indonesia.

Students from various universities participated in the event. The three featured speakers came from diverse religious backgrounds - Chepry Chaeruman Hutabarat, the Founder of the Klasika, Ana Yunita Pratiwi, the Head of Damar Lampung Province, and Yuli Nugrahani, the Chairperson of Communication Forum for Community Participation in Women's Empowerment and Child Protection (Puspa).

Yuli Nugrahani, a Catholic figure who is also the Chair of the Puspa, said that environmental issues directly affect women.

“Therefore, women's organizations must be involved in preserving nature's balance,” said Nugrahani.

"Starting with simple things like planting trees around the house and switching to more environmentally friendly bags," she explained.

Diana Berliyani, the head of KOPRI, said that the discourse on women must continue to be encouraged.

According to her, women must have a space to express themselves.

“Despite the advancement and the dynamics of contemporary discourse, I believe that women's conversation should be fostered.

She added, “KOPRI, which focuses on the cadre of women in this case, either through discourse or through channels that foster cadre potential."


 Click this for more

https://www.rvasia.org/world-news/islamic-students-led-dialogue-challenges-women


Tulisan Paling Membosankan Sepanjang Masa

wefie bersama Bu Bintang dan 
teman-teman PUSPA
27 Nop 2021 Mahan Agung
 Cek dulu, post terakhir di blog ini sebelum tulisan ini adalah 26 Juli 2021, aku nulis singkat tentang buku Lampung Selatan Segala Musim. Kalau ndak bilang kebangetan mau bilang apa jal. Orang yang menyebut diri sebagai penulis kok produktifitas blog sendiri njeblok sejatuh-jatuhnya.

Nah, daripada beberapa moment terlewat tanpa dokumentasi, lebih baik aku salin dulu catetanku sepanjang bulan Juli setelah tanggal 26 sampai hari ini. Bakal jadi tulisan paling membosankan sepanjang masa, maka yang ndak butuh ya ndak usah baca.

27 Juli 2021 Rapat bersama SGPP KWI, persiapan acara hari Jumat.

29 Juli 2021 Menyelenggarakan acara kerjasama Forkom PUSPA Provinsi Lampung bersama RPA Lampung. Bagianku ya memberi sambutan pendek sebagai ketua Forkom Puspa.

30 Juli 2021 Kali ini jadi moderator acara SGPP KWI, bersama Regio Jawa. Acara asyik-asyikan bisa bertemu para sahabat.

3 Agustus 2021 Harus ke kantor untuk ngurus kedatangan 20 tabung oksigen yang akan dipakai dalam aksi peminjaman tabung oksigen gratis. 

8 Agustus 2021 Usai Lampung Hash, dandang cantik untuk pernikahan Vita dan Nizar.

10 Agustus 2021 Rapat SGPP KWI, termasuk evaluasi acara lalu dunk.

12 Agustus 2021 Zoom meet tentang TPPO bersama Damar dkk. Sorenya ke Pringsewu untuk antar tabung oksigen ke Ramones Art.

14 Agustus 2021 Sepanjang pagi sampai sore pengawasan Mekar Sai, melihat data-data keuangan, organisasi dan sebagainya. Malamnya pertemuan ortu kelasnya Bernard. 

17 Agustus 2021 Hari kemerdekaan RI, malamnya diisi dengan sharing lewat zoom bersama teman-teman muda dari Life.

18 Agustus 2021 Rapat tim kerja FPBN, siang, singkat.

19 Agustus 2021 Diskusi bersama KPPPA, dengan zoom dunk.

20 Agustus 2021 Diskusi bersama SGPP KWI, iyaa... pakai zoom.

21 Agustus 2021 Pengawasan Mekar Sai, seperti biasa dari pagi sampai sore.

22 Agustus 2021 Persiapan KPP online. Yoi, zoom lagi.

24 Agustus 2021 Dua agenda pakai zoom lagi dan lagi. Pertama dengan SGPP kedua dengan Dinas PPPA.

25 Agustus 2021 Diskusi bersama KPPPA.

27 Agustus 2021 Ngasih pelatihan nulis untuk para aktifis UKMKat Unila. Anak-anak muda dunkkkk

28 Agustus ...

Belum juga selesai bulan Agustus aku sudah bosan menuliskannya... Berikutnya kutulis ringkasan saja deh. 

September 2021 Ada beberapa acara, persiapan KPP online plus pelaksanaannya, acara PUSPA dengan KKGP, rapat FPBN, raperda PUG di DPRD, kurdas di Mekar Sai, workshop pelayanan korban TPPO. Yang paling menarik pada bulan ini ada uji kompetensi pengawas yang diadakan oleh LPJKPK. Ini butuh waktu beberapa hari mulai dari persiapannya sampai ujiannya. Lalu ngisi materi moderasi toleransi agama yang diadakan oleh AGPAII Lampung dan PGRI Lampung. Kegiatan ini diadakan beberapa kali dengan peserta para guru pengajar agama Islam di kabupaten dan kota Provinsi Lampung.

Oktober 2021 Nah, bulan ini asyik karena diawali dengan perjalanan ke Kediri pada 1 Oktober. Tapi karena tanggal 2 Oktober ada agenda bersama mahasiswa Atmajaya secara online, dan mesti ngampiri Albert di Bandung, pagi-pagi nyampe Bandung aku nyari hotel di dekat  Stasiun Bandung. Siang bersama para mahasiswa, siang santai sesantai santainya. Lalu sore baru disamperin Albert dkk untuk makan dan diantar ke stasiun untuk lanjut perjalanan ke Kediri dengan kereta api Kahuripan malam.

Di Kediri bukannya liburan ya, urusan kerja tetep lanjut. Ada agenda rapat, diskusi, dst. Balik Lampung tanggal 8 Oktober dan Lampung sudah menemui aktiftas lanjut di kantor, koperasi, ngehash beberapa kali Lubuk Helau, Bukit Granit.

Nopember 2021 Bulan ini dipenuhi hal-hal yang biasa, tapi ada yang istimewa. Aku bertemu lagi dengan para mahasiswa Atmajaya kali ini bicara tentang puisi dan gender. Lalu dari mereka terkumpul puisi-puisi untuk dijadiin buku. 

Ohya, yang paling spesial pada 27 Nop malam di Mahan Agung ada pertemuan dengan Bu Bintang Puspayoga, Menteri PPPA.  Kesempatan baik untuk bicara tentang beberapa hal yang ada di pikiran terkait perempuan dan anak.

Desember 2021 Dibuka dengan ultah perkawinan bapak dan ibu. Kali ini aku ditemani Bernard dari Lampung sedangkan Albert jalan sendiri ke Kediri setelah dia beberapa minggu di Yogyakarta. Waktu yang sangat berharga dan penuh makna bersama keluarga besar.