Monday, September 15, 2014

DI BALIK HUJAN KAMPOENG JERAMI ADA DAUN-DAUN HITAM YANG BASAH



“Sebuah catatan proses agenda”
Peluncuran Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam
Oleh: Fendi Kachonk

“Semalam ada berapa hal yang tak aku nikmati, sembari ingin memejamkan mata, ingin terlena dibuai mimpi. Tapi, tak bisa aku kalahkan berapa pikiranku. Agenda yang aku susun hari ini, dan berapa halnya lagi aku tak mengerti datang, timbul lalu tenggelam."
“Hey, Fen!” sapa encing, seorang yang aku tak paham dari mana awalnya mengenali dan dekat sekali. Bekerja di Pos Lenteng, tempat aku ngutang duit, bahkan kadang kantor pos aku jadikan tempat aku singgah, istrihat, makan dan minum serta pernah aku jadikan kantor Pos Lenteng sebagai tempat pertemuan kecil dengan kawan-kawan kala tak menemukan tempat yang gratis saat ada acara ngumpul bareng semacam diskusi.
Jam, 6.23 WIB, aku sudah rapi, dengan berbagai daftar kegiatan hari ini. Tiba-tiba aku merasakan ada sedikit keharuan. Melihat tumpukan buku “ANTOLOGI HUJAN KAMPOENG JERAMI” lalu terbayang semua kejadian, seminggu yang lalu kami mengadakan tiga acara peluncuran buku,”Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-Daun Hitam” kumpulan cerpen seorang kawan dari Lampung.
Perempuan itu kadang aku panggil Yuli Nugrahani, Kadang juga aku panggil Kakak, tapi tak pernah aku panggil dia dengan sebutan mba’ karena aku selalu menganggap kakak, dan kurindukan kakak laki-laki dalam kehidupanku. Maklum kakak dan adikku perempuan. Oleh berapa ingatanku, aku sempat tertegun. Wajah Umirah Ramata, adikku yang ada di Taiwan, Lia Amalia Sulaksmi, Teteh, begitu biasa aku sebut dia. Tangan-tangan mereka yang mampu dan sabar selama ini berproses dengan kami, membangun Kampoeng Jerami dengan semangat, naik turun emosi dan semua luapan kejadian yang sama pernah kami alami.
Lebih kurang dari setengah bulan, aku, Yuli, Lia, dan Umirah memutar dengan cepat proses Buku “ Hujan Kampoeng Jerami” itu proses yang sebelumnya berapa bulan sempat terkendala. Tetapi, semangat yang luar biasa dari mereka membuat buku ini siap. Kemarin tepatnya seminggu yang lalu, aku mengulang kenangan, pada hari : Jum’at, 5 September 2014 kami meluncurkan bukan Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam. Di tiga tempat itu ada pos kerja yang sangat aku banggakan dengan kegigihan anak muda yang luar biasa semangatnya, aku biasa memanggilnya dengan sebutan “alek” dalam bahasa madura yang bisa diartikan ke Indonesia dengan “adik”. Ferli seorang adik yang mengawal pertemuan pembuka dan sangat takjub, agenda yang akan aku pikir akan sangat kecil tingkat kehadiran peserta malah sampai full dan tak kurang dari 50 orang jadi peserta. Tak kalah membanggakan fasilatator yang menyempatkan diri di mana kesibukannya sangat padat. K. Muhammad Muzammiel El-Muttaqien berkenan hadir dan membuat situasi hangat serta menyehatakan.
Oh, waktu begitu cepat, seminggu yang lalu itu telah berlalu, tinggal kenangan dan kumpulan semangat untuk merenda hari dengan berproses dan belajar terus masih kental di dalam ingatan. ingatan aku juga berputar pada suatu siang, setelah acara di laksamuda Sumenep kami evaluasi dengan sederhana bersama kawan-kawan, “Sukses acaramu, Fen”. Ujar kawan-kawan kepadaku. Dan pada saat itu, setelah berapa saat mengajak Yuli berputar di seputaran kota. Melihat keraton lebih dekat, dan lalu aku harus fokus pada waktu pertemuan kedua di Pondok Pesantren Putri “ Tarbiyatul Banat.” Di hape sudah ada berapa kali miskol, tepatnya telpon yang terangkat oleh K. Ali Faruq. Sesampai di rumah, aku masih mencuri pandang pada wajah Yuli yang masih kerap tersenyum dan siratan letih mulai ada. Tapi, aku memang sangat kejam ketika sudah fokus. “Yuk, Yul. Kamu boleh mandi atau cuci muka sebentar lagi kita berangkat.” Kataku pada Yuli dan Yuli tak ada komentar hanya menuruti. Ih. Maaf ya, Yul. Bisikku dalam hati.
Lalu teringat pada kawanku yang sangat luar biasa dalam membantu aku selama ini. “Sigit, kamu di mana?” Bathinku. Aku SMS Moh Ghufron Cholid. Lalu mereka berdua segera sampai di rumah, Sigit selama ini begitu sangat peka mengambil peran-peran penting yang tak bisa aku lakukan sendiri. Karena memang ketika dalam ruangan, aku tak bisa ada di dua keadaan, moderator dan mengambil dokumentasi. Maka Sigit sangat sigap mengambil peran itu dan memainkannya dengan mulus. Temanku yang satu ini memang luar biasa, dia bisa memahami gerak dan kebutuhanku tanpa aku harus ngomong. Jiwa senimannya yang seorang pelukis, pemusik dan penulis mengasah kepekaannya selama ini. Terima kasih banyak cuy.
Siang itu, dengan rasa yang mulai letih, oleh sebab sebelum masuk pada kegiatan di Sumenep, kami berlima, aku, Yuli, Gufron, Jailani, dan Ferli adikku ini masih juga berdiskusi di Asta Tinggi, membaca puisi dan cerpen dilanjutkan ke Taman Bunga Sumenep dan tentu kami ngopi bareng demi merayakan satu keindahan dengan cara sederhana, lesehan di Taman Bunga.
“ K. Faizi apa bisa rawuh, Fen?” Tanya K. Ali Faruq. Dan, aku mulai kebingungan ada yang lepas dari ingatan untuk mengkomfirmasi ulang ke K. Faizi. Beliau aku sms, aku telpon dan belum ada jawaban. Tapi, selang berapa menit kemudian. “saya sudah siap-siap mau berangkat.” Sms di hape jadul saya memberiku telaga yang bening oleh konfirmasi K. Faizi tersebut.
Aku berjudi dengan waktu, sesegera mungkin acara segera kami mulai, Nyai Ulfah sebagai MC mulai mengatur acara dan memperkenalkan Yuli Nugrahani, Ufron dan Sigit telah bertindak sebagai penyokong keberhasilan acara di sana. Sampai pada sesi acara diskusi dan bedah buku, “Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun hitam.” Aku memandu. Sambil menunggu kedatangan K. Faizi, aku dan Yuli memberi semangat kepada santri perempuan untuk menulis, menulis apapun, mulai dari sekarang dan jangan ditunda, itu inti dari yang kami sampaikan berdua.
Wow, mataku dan Yuli tak berkedip melihat K. Ali Faruq membacakan puisinya dan sangat luar biasa, aliran energi di ruangan itu jadi hangat sekali. Aku merasakan ada di tempat yang membakar seluruh badanku. Yah, oleh semangat yang buncah. Sekitar 15-20 menit K. Faizi sudah bergabung bersama kami. Beliau dengan lembut, serta humor yang manis memberikan suasana yang luar biasa jadi gurih dan renyah. Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah mau magrib. Akhirnya usai sudah agenda. Kami akhirnya berpamitan, terlebih dahulu aku berterima kasih kepada K. Faizi dan akhirnya beliau pamit undur diri lebih awal karena persoalan pesantren yang sudah menunggu beliau. Di Tarbiyatul Banat inilah, dulu aku mengenal K. Faizi,  sewaktu beliau jadi Juri baca Puisi Tingkat Madura dan kebetulan saya jadi di antara pemenangnya. Pada waktu itu, K. Mursyid begitu aktif dan hatiku kembali berbisik. Mari kita gairahkan kembali K. Mursyid. Serupa doa aku lepas dengan memandang langit.
Moncek sudah diselimuti malam, sampai juga di rumahku, Taman Baca Arena Pon Nyonar, taman baca sekaligus tempat aku menulis dan membaca. Yuli sudah aku lihat kuyu, hanya binar matanya masih berbicara, tepatnya, sok kuat dan masih bergairah. Sedang geraknya mulai lamban. Aku meminta Sigit menemaninya. Sedang aku pura-pura menemani Surga hanya untuk sebentar memberi lelap pada mataku. Ah, akhirnya kami dapat telpon dari adikku. Hasmidi Ustad ketua Sanggar Rakyat Merdeka dulu kami berproses bersama di sana. “Kak, Kawan-kawan KKN INSTIKA putri sudah ngumpul. Mariklah mohon dicepatkan rodanya.” Aku tersenyum dengan bujukan manis adikku yang kemari jadi lulusan terbaik di sebuah perguruan tinggi di kotaku ini. Dan, mereka paham, dalam keletihan mereka tak akan mendesakku, kecuali membujukku denganku lembut. Aih. Ah. Lebay kau, Ffen. Biarin. Hehe.
Bukan karena ada Yuli di motorku. Tapi, memang dalam setiap segala suasana, aku biasa menyanyi waktu naik motor, waktu apapun, apalagi saat letih dan capek. Aku biasa menghibur diriku. Inilah cara paling hemat untuk kembali melonggarkan syaraf-syaraf otakku. Dan memang luar biasa, berasa semangat, berasa muda dan lagi, dan yang paling hebat jarak tempuh tak terasakan sama sekali. Sedang yang aku bonceng mungkin telah hidup dengan dunianya. Melamun dan bisa jadi sedang bilang, “Neh, anak kok gila ya?.” Maka, sampai pada tempat itu, tepatnya acara ketiga kami sangat menarik dan sangat tak kalah unik dan menggemaskannya sama dengan dua acara sebelumnya. Yuli jadi magnit, dan pembicaraan mulai soal tulis menulis sama seperti jarum jam yang terus berputar. Bergantian. Hasmidi, Ufron dan Mahasiswi membacakan Kumpulan Puisi Hujan Kampoeng Jerami dan Yuli Membacakan satu cerpennya dari kumpulan cerpen Daun-daun Hitam. Sampai akhirnya Yuli menutupnya dengan pantun yang tak kalah legitnya.
Kami pulang, Jailani, Ufron, Sigit, aku dan Yuli sampai juga di rumahku. Yuli bertanya, “Fen, kita berangkat jam berapa ke Surabya? Yang pasti saya harus sampai di Kediri sekitar jam 8 atau paling telat jam 9 karena aku harus meminta sarapan kesukaanku pada ibu. “Jam 11.30 “. Jawabku. “Oke” kata yuli. “Kalau begitu aku aktifin alarmku ya?”. Tapi, setelah jam 11 malam ke setengah jam selanjutnya tak ada tanda Yuli bangun, dan aku paham pasti dia capek kataku.
Sampai jam 12 malam aku gugah. “Kak, Kak. Jadi pulang malam ini” suaranya parau. “Iya,” katanya. Dia pun keluar dari kamar dengan masih melipat wajah dengan bentuk persegi empat. Aku tersenyum. Di hatiku membantin, kau tak sempat makan nasi jagung, sate madura, dan legen. Tapi, aku juga merasakan keletihan, bagiku. Dan Yuli, mengingat masa muda jadi waktu masih disebut aktifis jalanan, kami akhirnya bergerak ke Prenduan. Yuli dan aku. Sigit dan Ufron melaju dan menerebas dingin desa-desa kami.
“Uiy, Fen!” encing mengagetkan aku. “Melamun saja dari tadi” lanjutnya dan ternyata aku melamun di kantor Pos Lenteng. "Eh, Cing, duitku tak cukup neh, aku hanya ada 150 ribu. Ngutang dulu boleh gak?” kataku pada encing si pegawai Pos itu.
“Boleh, apa yang tidak untukmu, Fen.” Aku tersenyum dan semua mengalir bersama dengan waktu, proses kami baru mulai dari buku Hujan Kampoeng Jerami membuat kami sadar. Bahwa hidup akan selalu terus berlalu, dan aku bagian orang yang tak mau diam tanpa melakukan sesuatu. Aku tak mau menunggu, bergerak dan belajar bersama, tersenyum dan bergembira. Inilah aku. Inilah kami yang sangat bahagia dengan proses sederhana kami. Mari terus menulis. Mari saling mendukung. Tak semudah membalikkan telapak tangan, semuanya butuh proses. Dan kuatlah wahai seluruh teman-temanku.
Demikian, terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung Kampoeng Jerami.

Sunday, September 14, 2014

Melayang di atas Daun-daun Hitam

Ini adalah cerita bagaimana sebuah buku bisa mencari pemenuhannya sendiri. Aku menganggapnya sebuah sebagai tahap lanjut usai meluncurkan sebuah buku. Daun-daun Hitam, kumpulan cerpen Yuli Nugrahani dan sketsa Dana E. Rachmat, membawaku sebagai penulisnya melakukan perjalanan-perjalanan tak terbayangkan sebelumnya. Satu etape sudah terlaksana bersama Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang Selatan pada bulan Agustus. Lalu awal September ini, aku terbawa buku ini pada banyak komunitas di beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. (Secara khusus aku mesti berterimakasih pada Pernas KKP-PMP KWI, Jogja 8 - 12 September yang memungkinkan aku melakukan perjalanan ini. Tanpa event ini mokal bagiku untuk mendapatkan pintu-pintu ini.)

1. 4 - 5 September yang padat.
Bersama pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami, aku dibawa pada persahabatan asyik. Membaca puisi dan cerpen di Asta Tinggi, lanjut diskusi hangat di Taman Bunga, Sumenep, hingga dini hari. Lalu paginya bersama Laksamuda hingga Jumatan, memutari Keraton Sumenep sebagai selingan, dan berlanjut ke Pondok Pesantren Kak Ali yang keren. Malam ditutup bersama mahasiswa KKN di Lenteng Sumenep sebelum perjalanan limbung ke Bungurasih.


2. 7 September yang hangat.
Ya, tentu saja hangat. Siang jam 2 bertemu beberapa sahabat lama di Kafe Tjangkir 13 plus sahabat-sahabat baru di Malang. Bicara tentang buku, siapa yang bisa menolaknya? Gara-gara Aji Prasetyo, seorang komikus dan pemilik kafe ini, kami semua tergiring memperbincangkan orang gila. Terus begitu sampai jam 5 sore. Aih, kami ini rupanya orang gila yang keren. Hehehe...


Lalu malam, masih di tanggal ini, ternyata urusannya dengan sahabat lama dan baru juga dalam pertemuan ke 40 Komunitas Pelangi Sastra Malang di Warung Kelir. Super keren. Aku, eh Daun-daun Hitam, mendapat kesempatan semacam itu. Bersama seorang komikus Aji Prasetyo, seorang penulis cerpen yang dosen Fak. Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, Yusri Fajar. Dan juga si keren owner Warung Kelir yang menawarkan warungnya bagi kegiatan-kegiatan seperti ini, Bachtiar, si teman lama.

 3. 12 September yang asyik.
Sebenarnya juga masih soal sahabat-sahabat. Kali ini warung di lantai 3 Mirota Malioboro yang kebagian kehangatannya. Aku begitu tersanjung. Apalagi yang lebih menyenangkan daripada ngobrol, nge-mob, bersama para sahabat dalam bungkus Daun-daun Hitam? Finish, Nugroho dan Emil, Rinda, Kiram dan temannya. Itu asyik banget.

Hmmm, aku menuliskannya sebagai pengingat. Suatu waktu aku akan menulis detail dari setiap pertemuan ini, karena aku tak mau melupakan barang sejengkal pun. Terimakasih, teman-teman. Terimakasih sudah memberi kesempatan pada Daun-daun Hitam untuk melayang di pintu persahabatan kalian. Salam.

Monday, September 01, 2014

Dua Wajah Manusia dalam Antologi Cerpen dan Sketsa Daun-daun Hitam



(Diambil dariKompasiana)

Ditulis oleh Alexander Aur Apelaby
 
“Aku rindu suara beruk dan burung rangkong di Gunung Betung. Aku benar-benar ingin pulang sekarang.” – Cerpen “Daun-daun Hitam”.
“Sikin telah memilih tanah-tanahnya sebagai simbol atas hak hidup. Kini simbol itu direnggut begitu saja oleh papan putih sepele yang menandai area itu sebagai milik negara. Dia tidak diakui sebagai pemilik padahal dia lahir dan besar dari tanah itu, dan mendapatkan harga diri dari tanah itu. Padahal, dari kecil dia biasa membaui tanah itu sebagai bagian hidupnya, sebagai haknya.” – Cerpen “Belum Kalah”.
1409403489113710896
Antologi cerpen dan sketsa yang mampu menyingkapkan dua wajah manusia.
Bila dibanding dengan bentuk-bentuk karya manusia yang lain, kesenian merupakan bentuk karya yang lebih memadai untuk mengungkapkan problem-problem yang berkaitan dengan kedirian manusia. Kesenian – yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah cerpen dan sketsa – merupakan jalan yang lentur yang ditempuh baik oleh pengarang maupun penikmat sastra untuk menelusuri lorong dan labirin diri manusia. Sudah barang tentu, bentuk, isi, dan bahasa dari kesenian dalam konteks menelusuri kedirian manusia ini, tetap menjadi hal-hal yang penting dalam karya sebuah sastra. Hal-hal itu tetap penting untuk diperhatikan baik oleh pengarang, perupa, pelukis dan penikmat kesenian karena kedirian yang terwahyukan sebuah karya seni dapat terwujud apabila terjadi kombinasi elegan antara bentuk, isi, dan bahasa. Boleh dikatakan bahwa ketiganya merupakan “trisula kesenian” yang mampu menyingkapkan atau mewahyukan problem-problem kedirian manusia.
Kiranya tidak berlebihan, apabila “trisula kesenian” itu mewujud dalam antologi cerpen dan sketsa Daun-daun Hitam karya Yuli Nugrahani dan Dana E. Rachmat, yang diterbitkan Idepth Publishing bekerja sama dengan Caritas Tanjung Karang tahun 2014. Dua pegiat kesenian (seni sastra dan seni rupa) ini mampu mewahyukan kedirian manusia melalui karya-karya mereka dalam antologi ini. Dalam testimoni tertulis ini, saya tidak akan mengupas mengenai “trisula kesenian”. Tulisan ini lebih berfokus pada “dua wajah manusia” yang terwahyukan dalam antologi ini.
Kupasan yang bersifat testimonik terhadap antologi ini menggunakan pisau kupas fenomenologi manusia. Tanpa mengabaikan pisau kupas-pisau kupas yang lain, pisau kupas fenomenologi merpakan salah satu pisau kupas yang mampu menjembatani jarak tegas antara pengupas dan apa yang dikupas. Kupasan ini bisa dilakukan oleh pengupas sejauh karya (yang dikupas) memberi kemungkinan untuk dikupas. Artinya, dalam proses pengupasan, terjadi “fusi horizon” antara horizon pengupas dan horizon dalam karya yang tersingkapkan oleh karya itu sendiri. Tentu, kupasan ini terbuka bagi kritik, baik dari kedua pegiat seni yang karyanya dikupas di sini, dan dari penikmat atau kritikus seni lainnya. Kritik merupakan bentuk dari apresiasi dan perluasan-penambahan wawasan dalam bidang kesenian. Kritik yang demikian bertumpu pada argumentasi-argumentasi rasional yang terbangun dalam kritik yang tersampaikan.
Wajah Eksistensial Manusia
Antologi cerpen dan sketsa Daun-daun Hitam dibuka dengan sketsa “Pak Lik Wagimin, Puncak Betung, 21 April 2007” dan cerpen “Daun-daun Hitam.” Pada sketsa, tampak sosok laki-laki mengenakan ikat kepala, berbaju lengan panjang, selembar kain terlilit di pinggangnya, bercelana panjang gombrong, bersepatu boot, kedua tangaanya bertumpu pada sebilah tongkat yang tertancap ke tanah. Kaki kiri sosok ini agak maju, layaknya orang yang sedang berdiri santai. Matanya menatap ke depan. Di bagian depan di dekat kaki, seonggok benda-benda berupa bilah-bilah papan dan kayu yang terbakar. Sketsa ini menyingkapkan kepada publik (penikmat atau kritikus) sosok orang desa (kampung) yang menjalani hidup sebagai petani. Sosok ini dikuatkan dengan keterangan yang menjadi judul sketsa. Sekurang-kurangnya dua ikon yang menandakan sosok orang desa yang bekerja sebagai petani, yakni “Pak Lik” dan “Puncak Betung.” Kata “Pak Lik” meskipun digunakan juga untuk orang-orang kota untuk memanggil seseorang yang menjadi kerabat (adik bapak), tetapi kata ini lebih sering digunakan dalam komunitas masyarakat pedesaan. Panggilan “Pak Lik” memancarkan rasa dekat dan rasa hormat. Rasa dekat dan rasa hormat ini dalam arti emosional dan bukan dalam arti jarak spasial dan karena jabatan.
Dari perspektif sosiologis, rasa dekat dan rasa hormat yang demikian memang menjadi ciri masyarakat pedesaan. Rasa dekat dan rasa hormat ini menjadi ciri dari keguyuban masyarakat desa. Api yang membakar bilah-bilah kayu dan papan juga merupakan ciri dari kehidupan masyarakat desa. Membakar kayu atau daun-daun adalah aktivitas rutin yang dilakukan petani-petani di desa. Kedesaan tersingkapkah melalui penggunaan kata yang menunjukkan tempat, yakni “Puncak Betung.” Sangat jarang kita mendapat “kekotaan” di daerah puncak gunung. Bahkan kedesaan yang terpancar melalui sketsa itu dari sosok laki-laki dalam sketsa. Di sini kita mendapatkan sebuah kepastian tentang apa yang pernah dikatakan oleh Romo V. Kirjito bahwa, “desa adalah ibu dari kota.” Kedesaan ibu yang melahirkan kekotaan. Kedesaan dari sebuah desa mengandung dua hal mendasar, yakni ruang geografis dan momen untuk kembali akar (kembali ke asal-usul).
Ruang geografis dan momen kembali ke akar ini termaktub pula dalam cerpen berjudul “Daun-daun Hitam.” Cerpen ini dibuka kalimat “Aku rindu suara beruk dan burung rangkok di Gunung Betung.” Kalimat ini diulangi lagi oleh narator setelah dialog antara suami dan istri (dua tokoh dalam cerpen ini). Pengulangan kalimat tersebut ditempatkan oleh narator sebagai sebuah interupsi sang istri terhadap suami. Kalimat itu sangat signifikan baik bagi narator dan suami, sehingga dalam teks kalimat itu dicetak miring.
Hal signifikan yang tersingkapkan dari kalimat itu adalah bahwa Gunung Betung adalah ruang geografis dan momen kembali ke akar. Signifiksi itu secara metaforis digambarkan oleh narator sebagai “daun-daun hitam.” Metafora ini merupakan ungkapan eksistensialistik tentang ruang geografis dan momen kembali ke akar. Kita bisa melihat hal ini dalam kalimat dialog para tokoh cerita dan narasi narator di bawah ini:
“Yang ini ringan.” Kataku tentang kotak keempat.
“Daun!” Istriku terpekik pelan begitu kotak besar itu terbuka. “Bapak masih menyimpannya.”
Segala jenis daun kering ada di situ. Sebagian telah membusuk berjamur karena kota itu bukan kotak penyimpanan yang aman.
“Aku bakar saja. Ini pasti sisa eksperimen bapak. Waktu ke Gunung Betung terakhir kali, bapak membawa daun-daun kakao sangat banyak. Di sini rupanya.”
Istriku menyeret kotak itu menjauh ke halaman samping rumah. Membolak-balik daun-daun itu dengan tangannya, dilakukan berulang kali, tak lagi memperhatikan aku membuka kotak-kotak berikutnya.
“Mas, apakah kita bisa pulang dalam waktu dekat?” Di tangannya ada selembar daun coklat berwarna kehitaman, berjamur. Wajahnya tidak berpindah dari tumpukan daun-daun itu.
“Kita lihat saja nanti. Semoga.”
“Aku berharap mendengar lagi bunyi beruk, burung-burung atau apa sajalah di sana. Semoga Gunung Betung masih dirawat oleh penduduk sekitar dan para pendaki. Tidak apa-apa jika ada banyak pacet, bahkan menempel di kakiku, tapi kita harus kembali ke sana lagi suatu ketika, secepatnya.”
Ruang geografis dan momen kembali ke akar merupakan dua hal yang signifikan bagi manusia. Dalam kedua hal itu, terletak gairah eksistensial manusia. Dalam dua hal itu, gairah eksistensial bisa merupakan sesuatu yang menggembirakan, bisa juga merupakan sesuatu yang mencemaskan. Kegembiraan dan kecemasan kental dalam dialog di atas. Kecemasan tersingkapkan melalui metafor daun-daun hitam yang terbakar. Kegembiraan tersingkapkan melalui harapan untuk mendengar lagi bunyi beruk dan burung rangkok atau burung-burung lainnya.
Orang sudah lama meninggalkan tanah asal-usulnya dan bermukim di tempat lain mengalami pengalaman “tercabut” dari akarnya. Ketercabutan itu mengental dalam diri manakala ia rindu kembali ke sana. Ketercabutan merupakan gerak menjauh dari tanah. Ada jarak tegas yang bersifat spasial-temporal dan emosional antara tanah asal dan tanah dan tanah perantauan. Kerinduan untuk kembali merupakan gerak mendekat ke tanah asal. Ketercabutan dari akar dan kerinduan kembali ke akar adalah wajah eksistensial manusia perantau. Manusia perantau adalah manusia melakukan gerak menjauh dan gerak mendekat. Inilah wajah eksistensial manusia perantau.
Dari perspektif fenomenologis, relasi gerak menjauh dan gerak mendekat bersifat korelatif. Keduanya merupakan hal-hal mendasar diri manusia. Sama seperti pergi dan pulang, demikian pula menjauh dan mendekat merupakan fenomen khas manusia. Ini yang dilakukan oleh manusia dalam hidupnya. Dalam perspektif religius, keberadaan kita di dunia adalah sebuah modus merantau dari tanah Tuhan dan akan kembali lagi ke tanah Tuhan. Dalam momen itulah kegembiraan dan kecemasan selalu menjadi hal eksistensial dan fundamental diri manusia.
Wajah eksistensial manusia seperti yang diuraikan di atas, tampak dalam sketsa-sketsa dan cerpen-cerpen lain dalam antologi ini. Kita bisa menangkap wajah eksistensial manusia itu, misalnya dalam sketsa-sketsa yang berjudul: “Secuil Asa di Malam Haji, 3 Maret 2009”, “Makam Ayah, 12 September 2007”, “Kasih Ayah, Selat Sunda, 29 Juli 2007”, “Pohon Mati yang Berkaki, 19 Agustus 2007”, dan “Terpetik di Tengah Arus Jaman, 17 Oktober 2006.” Wajah eksistensial juga terwahyukan dalam cerpen-cepen lain: “Pasien”, “Adenita”, “Pada Hari Pemakaman”, Sekandhi Gabah, Sebungkus Gula Kopi, Sekilo Telur”, dan “Hanya Penari.”
Wajah Politis Manusia
Beberapa cerpen yang ditulis Yuli Nugrahani dan sketsa-sketsa yang digurat Dana E. Rachmat menampilkan pula manusia sebagai makhluk politis. Wajah politis manusia termaktub dalam cerpen-cerpen Yuli, antara lain “Pasien”, “Penghakiman”, “Menuntut Bukti” “Belum Kalah”, “Mak Unti” dan “Namanya di Dunia Maya.” Sedangkan sketsa-sketsa wajah politis manusia tampak dalam judul-judul: “Senyum si Mbok Penjual Kain, Kintamani, 11 Juli 2007”, “Menunggu Kereta di Stasiun Turi, 28 Juli 2008”, dan “Tatap Pedagang Asongan di Pagar Bromo, 27 Juli 2008”.
Dalam cerpen “Pasien” wajah politis manusia hadir melalui simptom-simptom yang dialami oleh tokoh Adel. Kepergian Dandri melahirkan dalam diri Adel keinginan yang begitu kuat untuk bunuh diri. Perpisahan antara Adel dan Dandri adalah kesepakatan mereka berdua. Pemicu perpisahan – lebih tepat kepergian Dandri – itu diawali dari kesibukan Adel di dunia politik. Partai, pemilu, tim sukses, dan kampanye telah menyita banyak waktu Adel sehingga ia tak mempunyai waktu untuk memperhatikan atau melakukan hal-hal remeh yang menautkan dirinya dan Dandri. Kenyataan yang dihadapi Adel sekarang adalah Dandri sudah pergi dari dirinya.
Kepergian Dandri dan perpisahannya dengan Dandri lahirkan mimpi-mimpi buruk dalam tidur Adel. Mimpi-mimpi buruk Adel dalam “Pasien” mengingatkan kita pada apa yang disebut Freud sebagai konflik antara berbagai daya psikhis dalam diri manusia, yakni id, ego, dan superego. Id merupakan lapisan psikhis manusia yang paling dasariah. Dalam lapisan ini, eros (naluri kehidupan) dan thanatos (naluri kematian) bekerja. Ego merupakan hasil dari kontak antara id dan dunia luar. Ego adalah diri yang sadar. Ego terwujud melalui berbagai persepsi dan proses intelektual. Sedangkan superego merupakan hasil internalisasi atas berbagai nilai yang diterima seseorang dari lingkungan budaya tempat ia hidup dan berkembang.
Eros Adel tampil melalui aktivitas ego Adel dalam ranah politik. Partai dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengannya yang dilakukan Adel adalah representasi dari eros. Eroslah dasar dari kebudayaan yang selanjutnya dikonstruksikan secara rasional oleh ego. Politik dan aktivitas politik yang dilakukan Adel dan orang-orang lain merupakan suatu bentuk kebudayaan dan pembudayaan. Politik dan aktivitas politik adalah wujud konkrit dari ego dan eros. Seluruh praktik kebudayaan dan proses pembudayaan di ranah politik melibatkan pula superego, yakni nilai-nilai etis yang sering diudarkan oleh lingkungan masyarakat sebagai pedoman.
Tetapi rupanya Adel juga dibayang-bayangi oleh thanatos (naluri kematian) melalui dorongan untuk bunuh diri. Dalam diri Adel, thanatos berjibaku dengan eros, ego, dan superego. Jibaku itu tampak dalam wujud fisik yang diamali Adel ketika mengalami mimpi-mimpi buruk: Mimpi menempuh jalan tol buntu, jalan setapak, jalan berlumpur, naik turun sehingga saat ia bangun dari tidurnya, Adel mendapati badannya basah kurup oleh keringat; Mimpi berada dalam gua dan supaya bisa keluar dari gua itu dengan selamat ia harus membuat api ungguh dari uang tumbuh di dinding gua. Hal itu membuat Adel terbangun dengan napas tersengal-sengal; Mimpi menangis bersama dua anak laki-lakinya di hadapan sesosok mayat, padahal Adel tidak mempunyai anak. Adel sungguh-sungguh menangis dalam tidurnya sehingga basah ujung bantalnya.
Dalam “Pasien” wajah politik manusia bersifat psikologistik. Wajah politis manusia terepresentasi melalui tokoh Adel yang mengalami komplikasi psikologis. Kepergian Dandri dan perpisahannya dengan Dandri merupakan triger (pemicu) yang mampu mengangkat ke permukaan patologi-patologi psiko-politik yang tidak pernah disadari oleh Adel. Bahkan, tak jarang dalam hidup konkrit sehari-hari, khusus dalam ranah politik riil, praktik-praktik politik yang dijalankan oleh para politisi merupakan perwujudan dari patologi psiko-politik yang mereka alami.
Cerpen “Belum Kalah” menyodorkan kepada pembaca dua jenis antropologi, yakni antropologi politik dan antropologi budaya. Kedua jenis antropologi ini berciri politis. Kedua jenis antropologi itu bertemu dalam satu medan yang sama yakni: tanah. Atas nama mengembalikan tanah negara dan berdasarkan hukum yang berlaku, Kades yang masih muda belia memaksa lelaki tua yang bernama Sikin dan warga desa lainnya untuk mengembalikan tanah yang sudah puluhan tahun menjadi “rumah” mereka. Wujud konkrit pengembalian itu adalah pemerintah melalui Kades, memberikan uang lima juta kepada setiap warga. Uang itu juga sebagai bentuk kepedulian pemerintah kepada warga. Tokoh Sikin menolak patologi psiko-politik yang diidap Kades muda. Penolakan didasarkan pada keyainan bahwa tanah simbol atas hak hidup. Ia dan warga desa lain lahir dan besar di tanah itu, mendapat harga diri dari tanah itu. Bahkan semasa kecil, Sikin biasa membaui tanah itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai haknya.
Cerpen “Belum Kalah” mengangkat persoalan manusia dan tanah sebagai masalah politik. Dalam konfigurasi politik pembangunan, negara selalu menempatkan rencana dan proses pembangunan dalam tajuk “demi kepentingan umum.” Atas dasar tajuk itu, tanah-tanah yang sebelumnya menjadi bagian dari diri rakyat, sering kali diambil secara paksa “demi kepentingan umum.” Tanah yang semula adalah rumah kehidupan mereka, sering kali dikuasai secara paksa oleh negara.
Pertanyaan lanjutan yang muncul kemudian adalah apakah rakyat lebih dulu ada atau negara lebih dulu ada? Kades dan Sikin adalah dua tokoh yang saling mempertaruhkan jawaban melalui sikap yang mereka tunjukkan. Argumen Kades adalah bahwa tanah-tanah yang dipakai oleh Sikin dan orang-orang sekampungnya merupakan tanah yang dipinjamkan negara kepada mereka. Sudah saatnya negara mengambil kembali tanah itu. Sebagai bentuk perhatian negara terhadap warganya, maka Sikin dan orang-orang sekampungnya diberi uang. Argumen Kades menunjukkan bahwa Sikin dan orang-orang sekampungnya adalah warga negara. Oleh karenanya harus tunduk terhadap negara. “Warga negara” adalah sebuah konsep antropologi politik yang lahir bersamaan dengan adanya negara. Secara fenomenologis, hubungan antara negara dan warga negara adalah korelatif. Antropologi politik seperti ini terkandung dalam argumen Kades. Eksistensi warga negara (citizen) dan negara hadir bersamaan.
Sikin mempunyai pendirian yang berbeda dengan Kades. Bagi Sikin, tanah yang mereka tempati selama ini, merupakan bagian dari diri mereka, menjadi rumah mereka. Oleh karena itu, hubungan mereka dengan tanah adalah hubungan kebudayaan. Di atas tanah itu mereka mengembangkan diri mereka sebagai makhluk berbudaya. Oleh karena itu, mereka menolak bila tanah itu dikuasai oleh negara. Argumen Sikin menunjukkan sebuah antropologi budaya. Dalam kerangka antropologi yang demikian, eksistensi Sikin dan orang-orang sekampung adalah rakyat dan bukan warga negara. Eksistensi rakyat (populi/people) hadir lebih dulu.
Cerpen “Belum Kalah” mengeksplisitkan dua jenis antropologi, yakni antropologi politik dan antropologi budaya. Antropologi politik terepresentasi dalam tokoh Kades. Antropologi budaya terepresentasi dalam tokoh Sikin. Dalam konstelasi politik modern, dua jenis antropologi ini silih berganti bertarung dalam arena politik riil.
Antropologi politik dan antropologi budaya juga tampak dalam sketsa “Tatap Pedagang Asongan di Pagar Bromo.” Bromo adalah wilayah pariwisata yang ditetapkan melalui keputusan-keputusan politik. Yang dimaksudkan dengan keputusan politik di sini adalah keputusan pemerintah yang bertajuk “demi kepentingan umum.” Pedagang asongan adalah representasi manusia ekonomi. Praktik ekonomi pedagang asongan tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga sebagai strategi budaya. Tindakan ekonomi sebagai modus operandi keberbudayaan manusia.
Membaca cerpen-cerpen dan mencerna sketsa-sketsa dalam Daun-daun Hitam, pembaca akan menemukan sekurang-kuranganya dua wajah manusia, yakni wajah eksistensial dan wajah politis. Inilah kekuatan antologi ini.