Thursday, October 31, 2013

Melihat aku, lagi.


Klik sini untuk melihat tulisan di bulan Agustus lalu tentang aku sebagai embun. Semalam aku mendapat cahaya baru tentangnya. Okey, rumusan singkatnya seperti ini :

Bukan masalah, kalau embun memang harus terjun mengikuti kepastian gaya gravitasi. Dia tidak harus ketakutan. Itu bukan urusannya lagi, entah dia akan langsung diserap tanah, atau masih mampir di daun-daun kemuning, atau kelopak-kelopaknya. Yang jelas, dia punya waktu! Menggayut di ujung daun adalah sesaat yang berarti, karena embun bisa menangkap cahaya, membiaskan, memantulkan, atau sekedar menikmati suhu yang mengubahnya menjadi beku, atau uap. Itulah waktu yang menggembirakannya, sebelum dia lenyap melalui misteri.

Saturday, October 26, 2013

Selamat ulang tahun, Bernard.

Sepuluh tahun lalu, kekuatanmu yang merobek rahimku.
Aku masih selalu heran dan kagum pada keperkasaan bayi,
dirimu, Bernard.
Hingga sepuluh tahun berlalu, keherananku terus bertambah,
kekagumanku semakin meruah.
Bukan hanya tubuhmu yang merobek rahimku,
tapi seluruh jiwa-raga, yang kau lontarkan
dalam gerak, dalam kata, dalam rupa.

"Ini aku, ibu. Seseorang yang mau numpang,
numpang makan, numpang tidur, numpang hidup."
Itu persis katamu saat mengetuk pintu rumah,
rumah kita, sore hari saat kau pulang sekolah.
Aku saling pandang dengan bapakmu, hanya, terpana,
ingat?
Mana mungkin kutolak orang yang akan numpang,
apalagi itu adalah Bernard yang pernah ada dalam tubuhku,
masih terus akan ada dalam hatiku, jiwaku?
"Tentu saja boleh. Tapi tidak bisa selamanya. Mungkin,
kami akan sediakan tumpangan hanya sampai umurmu
yang ke 21. Atau lebih beberapa tahun. Tapi tidak
seumur hidupmu. Masuklah!"

Dia masuk rumah dengan baju seragam merah putih, sepatu hitam,
tas sekolahnya yang super berat, dan senyum nyengirnya,
yang memang nakal.
Apa adamu, Bernard, kau boleh menumpang,
boleh merepotkanku,
boleh menuntutku.

Aku mencintaimu, Bernard.
Selamat ulang tahun.


Thursday, October 24, 2013

Nego

Langkahku semata penari,
dalam rancak musik calung,
bahkan hujan panas kuabai,
terserap dalam tepuk riung.

Itulah rayu yang ditolak katup mimpi,
terbelit geliat bangun tidur,
merupa jari telanjang tanpa taji,
seketika membebaskan aku dari lumur.

Kalau pagi seberuntung ini,
selongsong peluru akan kosong,
tidak ada ledakan lagi nanti,
di tengah siang merongrong.

Jadi, kupastikan artimu bisa kutawar,
rendah atau tinggi menjulang,
tergantung matahari mana bersinar,
dan hujan siapa mengalang.

Bukan pada tubuhmu,
yang menyusup dadaku,
tapi tunas di kepalaku,
akan menahanmu.

Wednesday, October 23, 2013

Empty

Pagi yang kosong
mendorongku ke ruang tamu
menandai sebagai orang asing,

hanya sebagai orang asing
duduk dengan malu
tanpa baju.

Siang tak perlu penyambutan.
Bisakah tinggalkan aku sejenak,
rindu? Biar kuselesaikan waktu.

Tuesday, October 22, 2013

Crying

Malam, biasanya menjadi teman
kini menggumpal dalam selongsong
peluru Charlos Hathcock di ladang perburuan.

Aku yang mengincarnya dengan teropong
senjataku, namun aku yang dibunuhnya.

Malam telah berkhianat.
Carlos Hathcock

Sumber: http://www.unikgaul.com/2012/04/10-penembak-jitu-paling-terbaik-di.html
Konten ini memiliki hak cipta

Sunday, October 20, 2013

Be a Mom

Dalam berbagai kesempatan, aku sering bertemu perempuan-perempuan 'ibu' yang luar biasa. Ya, kesempatan ini sangat sering karena aku sendiri juga seorang ibu. Mengantar anak dalam satu kegiatan akan ketemu ibu-ibu, ke pesta kondangan ketemu dengan ibu-ibu, ke sekolah ya ketemu ibu-ibu, keluar rumah di halaman rumah, di pasar dan sebagainya.
Sebagian dari ibu-ibu bisa menjadi teman ngobrol yang sungguh asyik. Sebagian dari mereka itu yang terlihat di foto. Mereka itu biasa aku sapa dengan Mbak Neni (tengah) dan Bu Pur (kanan). Aku tidak terlalu sering bertemu dengan mereka, tapi kalau ada kesempatan bertemu pasti menjadi perjumpaan yang asyik. Dan yang penting, nyambung (Soal nyambung ini memang agak susah ditemukan dengan sembarang ibu-ibu. Aku selalu merasa punya dunia yang berbeda sehingga ada banyak minatku yang tidak bisa mereka pahami, sedang minat mereka tidak aku pahami.)
Dua ini termasuk yang bisa kupahami, karena mungkin aku punya kesabaran mendengarkan mereka dan kami saling menaruh respek satu sama lain. Keduanya punya kesamaan. Mereka perempuan-perempuan yang mandiri. Punya keinginan dan mereka usahakan hal itu. Tapi mereka juga orang-orang yang larut dalam perannya yang kuat bersama anak-anak mereka. Bagian yang inilah yang sering aku gali dari mereka. Kebetulan bu Pur punya 4 anak yang usianya sudah di atas usia anak-anakku. Aku belajar darinya tentang masalah-masalah yang muncul dalam perkembangan anak-anak. Tentang mbak Neni aku belajar tentang komitmennya dan kerja kerasnya.
Hmmm, menjadi ibu bukan perkara sulit, tapi juga bukan perkara yang mudah. Hingga Albert usia 12 tahun dan Bernard 9 tahun, aku masih harus sering belajar untuk menjadi ibu, khususnya menjadi ibu yang baik. Dekat  dengan ibu-ibu hebat macam mereka membuatku belajar lebih cepat. Matur nuwun nggih...

Friday, October 18, 2013

Choice

Tapi, aku tidak bisa menghentikan,
ketika salah satu kakiku
menapak, dan yang lain
menggantung.

Sunday, October 13, 2013

Teman Tengah Malam

Malam tak pernah bisa berlari
kaki-kakinya adalah udara basah
yang menghablur di ujung daun.

Darinya aku mengambil kunci
dari kantung-kantung rahasia
yang tergantung di hening langut.

Aku tak bisa merasakan sepi
apalagi setelah menyentuh sisi nampan
yang disodorkan oleh beda waktu.

Ini hanya sisi lain letak matahari
kita berada di waktu yang sama
sedikit beda karena kau di siangmu

dan aku di malamku.


Saturday, October 12, 2013

Non Est Personarum Acceptor Deus



Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup baru untuk Keuskupan Tanjungkarang sudah dipilih dan diangkat oleh Paus Fransiskus. Pengumuman disampaikan secara resmi oleh Tahta Suci Kepausan Vatikan pada Jumat, 19 Juli 2013 pukul 17.00 WIB (12.00 waktu Roma). Uskup baru ini menggantikan Mgr. Andreas Henrisoesanta yang sudah disetujui pengunduran dirinya oleh Vatikan pada 7 Juli 2012.
Uskup Keuskupan Tanjungkarang ditahbiskan oleh Mgr. Aloysius Sudarso, Uskup Keuskupan Agung Palembang di Kompleks Sekolah Xaverius dan Fransiskus, Pahoman, Bandarlampung pada Kamis, 10 Oktober 2013, dimulai pada pukul 09.00 sampai selesai. Ekaristi pentahbisan ini dihadiri Duta Besar Vatikan Antonio Guido Filipazzi, para uskup dari 36 keuskupan di Indonesia, para pejabat pemerintahan Lampung, para undangan serta sekitar 7000 umat dari 21 paroki yang ada di Keuskupan Tanjungkarang. Dalam pentahbisan ini, para uskup yang hadir menumpangkan tangan pada uskup terpilih Keuskupan Tanjungkarang dan menerimanya sebagai rekan.
Motto uskup adalah “Non Est Personarum Acceptor Deus (Allah tidak membedakan orang.)  Kis, 10 : 34. Motto ini menjadi ajakan bagi umat Keuskupan Tanjungkarang untuk menyadari kehadirannya di “Sai Bumi Ruwa Jurai” Lampung sebagai orang beriman Katolik dan sekaligus sebagai bagian dari seluruh masyarakat. “Siapa pun mereka dan dari mana pun asalnya dibimbing, dituntun dan diajak untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian. Inilah persaudaraan sejati dalam perziarahan menuju keselamatan berdasarkan iman akan Allah yang menghendaki semua orang selamat.”

Tuesday, October 08, 2013

Kopi (Pagi) yang Terlalu (Tidak) Manis

Rencananya, pagi akan mengundang kita berdua
duduk berhadapan di meja bundar angkasanya
dengan secangkir kopi di masing-masing sisi
sebelum berbincang tentang angin salah musim,
kemarin.

Sayang, pagi salah menimbang gula beda takar
yang disadari saat lidahnya mengecap kelakar
iseng tanpa praduga tapi lalu rusak jadi marah
tak ada lagi yang sisa selain tangisan tumpah,
batal.

Jadi, jangan harap ada perjumpaan sekarang
sampai pagi mampu membenahi seluruh ruang
jangan tanya angin hujan atau kesalahan cuaca
karena kita tak akan berjumpa tanpa undangan,
pagi.

Atau, mari santai dulu menunggu seseorang lain
membakar kemenyan dan merangkai sesaji
dapat kita runut asapnya sampai di hulu bara
di situ pasti ada perjumpaan di arang terbakar,
mesra.

Saturday, October 05, 2013

Haruki Murakami : Norwegian Wood

Judul : Norwegian Wood (Noruwei no Mori)
Penulis : Haruki Murakami
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh : Jonjon Johana
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : 2013
Isi : i + 423
Ukuran : 13,5 cm X 20 cm
ISBN : 978-979-91-0563-9


Setelah beberapa lama hanya tersuruk di rak, aku bisa menyelesaikan buku ini hanya dalam 3 hari di sela-sela kegiatan-kegiatanku. Karena sebelum buku ini aku membaca Wally Lamb yang I Know This Much is True, spontan perbandingan muncul di otakku.

Okey, persamaannya dulu ya. Pertama, sama-sama memakai sudut pandang orang pertama. Aku-nya Wally adalah Dominick, sedang aku-nya Haruki adalah Wanatabe. Kedua, sama-sama menyodorkan tokoh utama, orang terdekat, yang menderita suatu 'gangguan kejiwaan'. Pasangan Dominick adalah Thomas, kembarannya, yang masuk Rumah Sakit Jiwa Hatch, sedang pasangan Watanabe adalah Naoko, yang masuk ke tempat rehabilitasi Asrama Ami. Ketiga, sama-sama menyajikan relasi manusia yang sangat jujur, kadang membuatku sebal karena kelewat vulgar. Ketiga, mereka sama-sama detail.

Perbedaannya jelas juga. Pertama, buku Wally sangat tebal, si Haruki hanya separonya. Waktu membacanya pun aku butuh waktu lebih dari dua kali lipat ketika aku membaca Haruki ini. Kedua, settingnya dan warnyanya jelas beda. Satu di Amerika, satunya di Jepang, walau Haruki sepertinya sangat terpengaruh Amerika juga. Ketiga, aku merasakan 'sesuatu' yang sangat kuat saat membaca Wally. Bahkan di bagian akhirnya, ketika dia mulai melembut untuk sebuah happy ending, aku menangis sampai terguguk pagi-pagi sendirian di kantor. Dengan Haruki, aku tidak merasakan perasaan yang kuat. Entah mengapa, rasanya terlalu biasa. Bahkan aku nyaris putus asa hingga 2 per tiga halaman aku belum mendapat sesuatu yang cukup kuat. Apa pengaruh terjemahannya ya? Entah. Keempat, endingnya Wally sangat jelas, sedang si Haruki membiarkannya menggantung, menawarkan beragam imajinasi.

Norwegian Wood ini kisah tentang seorang remaja beranjak dewasa di tahun 60-an. Ini semacam kilas balik di saat usianya 37 tahun, yang mengingat kembali seorang gadis masa lalunya karena lagu Norwegian Wood dari Beatles yang mengalun dari pesawat yang sedang mendarat. Naoko adalah seorang gadis mantan pacar temannya yang sangat dekat dengan si penutur, Watanabe, dalam relasi yang mendalam, tapi tak bisa berkembang dalam relasi yang normal karena gangguan kejiwaan yang diderita Naoko, yang juga kemudian membuat gadis itu bunuh diri. Novel ini begitu jelas mengungkap kehidupan seks bebas di Jepang pada tahun itu di kalangan remaja dan dewasa. Jika berharap ada warna tradisional atau Asia semacam film atau buku lain dari Jepang yang pernah kulihat atau kubaca, jangan harap hal itu muncul dalam novel ini. Kisah ini begitu modern dan ... hmmm, begitu Barat. ***