Friday, January 31, 2014

Ke Hatimu

Bernard membuat gara-gara dalam beberapa saat terakhir ini. Kalau ditanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan letak, dia akan menjawab tanpa pikir panjang.
Kejadian terakhir saja yang kuceritakan ya. Kemarin saat dia mengikuti wisata kota bersama teman-teman di sekolah, pulangnya aku tanya,"Nard, jadi kemana saja hari ini?"
Dengan matanya yang nakal dia menjawab,"Ke hatimu."
"Nggak jadi ke musium? Ke PTPN?"
"Ndak. Ke hatimu."
Dia mendekatkan wajah hingga nyaris menyentuh hidungku, habis itu lari mengambil lap top dan sudahlah, walau kugelitik berkali-kali dia tak mau cerita. Dengan gondok aku berbaring di sebelahnya, diam-diam, dan dia asyik bermain GTA.
"Bu, tadi itu gak asyik jalan-jalannya. Tempatnya jelek."
"Hmmm..." Aku pura-pura cuek. Gak butuh.
"Gak enak. Ke musium transmigrasi, kayak gitu saja. Lalu ke PTPN 7. Sudah hanya dua tempat saja. Ndak bagus."
"Hmmm, rugi dong ibu. Sudah membayar 100 ribu. Lain kali gak usah ikut saja kalau ada wisata kota lagi."
"Ndak dong. Harus ikut. Siapa tahu nanti wisata kotanya ke tempat yang bagus. Rugi kalau gak ikut. Dan lagi dapat makan enak, ayam goreng tepung. Dua bis kami semua. Enak lah bisa jalan-jalan, gak belajar di kelas."
"Memang mau kemana lagi kalau wisata kota?"
"Ke hatimu!"
Dia memelukku dan membenamkan mukanya ke perut, sengaja membuat gerakan yang menggelitik hingga aku harus diem saja menahan geli supaya dia segera berhenti. Kalau aku menjerit-jerit dan minta ampun, dia pasti akan terus melakukannya. "Huh, ibu ini gak enak kalau dicium perutnya, gak geli." Dia pun kembali ke lap topnya.
Hehehe.... dia tidak tahu kalau aku menahan geli setengah mati. Bernard, ibu juga selalu berjalan... ke hatimu.

Sunday, January 26, 2014

Terompah Usang yang Tak Sudah Dijahit

Tiba-tiba ingat buku tua ini. Aku membacanya dulu waktu SD. Buku yang ditulis oleh A. Damhoeri ini aku baca berulang kali tak terhitung. Entah dimana sekarang, apakah masih ada di lemari di kamarku Kediri sana atau sudah raib, aku tak yakin.

Buku ini terbit tahun 1975 (cetakan ke sekian) oleh Balai Pustaka. Aku masih ingat persis cerita dalam novel ini. Berkisah tentang terompah dari lahir hingga tersuruk butuh jahitan tapi tak pernah selesai dijahit. Terompah itu seolah-olah hidup dan menceritakan kisahnya itu dari sudut pandang orang pertama, tentang perasaannya, tentang yang dilihat dan sebagainya. Bahkan aku ingat dia bercerita bagaimana pengalamannya saat pertama kali dipakai oleh pemiliknya, ketika dicuri dari masjid saat pemiliknya sholat dan sebagainya.

Aih, siapa yang punya buku ini ya? Pinjami aku untuk fotokopi sebentar. Please.

Saturday, January 25, 2014

Queen of Dream

Penulis              : Chitra Banerjee Divakaruni
Judul                : QUEEN OF DREAM, Ratu Mimpi
Alih bahasa       : Gita Yuliani K.
Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978-979-22-7395-3
Isi                    : 400 hlm

"Perjalanan itu maksudnya untuk menambah pendidikan kami. Calcutta  penuh mimpi. Bukan hanya yang diimpikan penduduknya yang sekarang, tetapi mimpi-mimpi lama, yang terputus, yang menggantung diam di atas Sungai Gangga yang coklat berlumpur, dan mewarnai malam hari dengan kebingungan. Kemampuan kami akan diuji, kami akan disuruh memetik mimpi-mimpi yang sudah tak bertubuh itu dari udara dan menafsirkannya." (Hal. 195)

Satu paragraf yang aku cuplik dari buku ini bisa memberi gambaran pada ide Divakaruni mengenai salah satu tokohnya yang disebut Ratu Mimpi. Dia adalah gadis yang mempunyai bakat untuk menafsirkan mimpi, lalu tergabung dalam kelompok para penafsir mimpi. Mereka tidak bisa begitu saja hidup, karena mereka unik, khas dan istimewa. Ada pendidikan-pendidikan yang harus mereka tempuh dalam gua, tersekat dari dunia luar, dimana mereka semakin meningkatkan kemampuan mereka menafsirkan mimpi.

Kehidupan dalam komunitas penafsir mimpi penuh dengan aturan. Mereka tidak bisa seenaknya menghirup udara bebas seperti orang-orang biasa. Maka perjalanan rekreasi, seperti digambarkan di paragraf itu, mereka 'rekreasi' ke Calcutta, hmmm sebenarnya juga untuk pendidikan, menjadi perjalanan yang asyik.

Tapi si ratu mimpi mendapatkan salah satu kenyataan yang menggairahkan dalam perjalanan itu. Dia jatuh cinta, pada seorang pemusik yang ditemuinya di jalan. Dan dia mau lari dengan laki-laki itu, bercinta, dan meninggalkan komunitas para penafsir mimpi.

Melalui sebuah pengadilan, dia boleh tetap memiliki bakatnya, dengan syarat dia tak pernah terikat pada cintanya itu. Dia harus tetap terpisah dengan cintanya walau dia hidup bersama. Maka, ratu mimpi tetap menafsir mimpi, tapi suaminya tidur di kamar menguasai pagi, siang dan sorenya, sedang malam, ratu mimpi di ruang jahit bekerja menafsir mimpi-mimpi. Membantu orang-orang yang gelisah dalam mimpinya, dan menemani mereka untuk sembuh.

Hmmm, Divakaruni menarik cerita 'khayal' ini dalam dunia modern lewat kehidupan anak dari si penafsir mimpi. Sebagai migran India yang tinggal di Amerika, -yang khas dari cerita Divakaruni selalu mengangkat dunia migrasi ini-, dalam kehidupan antara adat Hindi dan juga hidup gaya modern.

Divakaruni selalu berhasil membawaku dalam lingkungan kehidupan para Hindi modern yang lepas ratusan kilometer dari negeri asalnya itu. Mereka selalu asyik untuk dilihat. Tarik menarik antara tradisional dan modern... Ya, ini novel yang menarik.

Monday, January 20, 2014

Jagal/The Act of Killing

Sakit. Sakit banget nonton film dokumenter garapan sutradara Joshua Oppenheimer. Aku telat banget menontonnya secara lengkap, tapi sungguh, aku jadi ... aku tak sanggup menceritakannya. Ini secuplik dari Wikipedia tentang film dokumenter, dengan 'aktor' Anwar Congo dan kawan-kawannya :

Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.
Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.
Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.
Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral.

Untung Joshua bukan orang Indonesia, sehingga dia bisa pergi, lepas, walau di banyak media dia menceritakan rasa sakitnya ketika membuat film ini. Dia menerima pujian, dan banyak penghargaan. Bahkan sekarang masuk nominasi Academy Award.
Tapi aku, yang orang Indonesia... apa yang akan kulakukan? Aku berterimakasih padanya karena dia telah mengorek korengku. Huks, uhuks, aku berterimakasih karena dia sudah memberikan lampu pada cermin untuk memandang kenyataan. Kini...biar saja aku menangis dulu. Sakit...

Sunday, January 19, 2014

Masa Kecil

Waktu aku pulang kampung di pergantian tahun lalu, aku menyempatkan diri membongkar album, map, kerdus, rak dan segala macam tumpukan. Hasilnya : catatan-catatan dalam berbagai bentuk, gambar-gambar, dan yang paling membuatku lama terpekur adalah foto-foto.

Satu tahun.
Yang aku mau pasang di sini bukan yang membuatku terdiam lama-lama tapi yang membuatku teringat, sadar, yakin, bahwa aku pernah lahir dan kemudian bertahap hidup pelan-pelan dalam evolusi pasti hingga menjadi sekarang ini seperti ini. Kata-kata aku simpan dulu, tapi lihat tiga foto ini.

Pertama adalah foto saat umur kurang dari satu tahun, digendong Pakpuh Joko, kakaknya bapak, di dapurnya Mbah Kari di Brebek Nganjuk, juga bersama Mbah Kari. Seumur itu, aku blas gak tahu apakah aku punya kesadaran sebagai manusia.

Dua tahun.
Kedua adalah foto saat berumur kurang lebih dua tahun, digendong bapak di dekat pelaminan. Lamat-lamat aku masih bisa mengingat peristiwa ini. Saat itu aku ikut bapak ibu menghadiri undangan perkawinan, seperti biasa aku akan mendekat pada yang kelihatan 'blink-blink' gemerlap. Ibu melarangku pergi jauh-jauh dari sisinya, tapi aku menangis, lalu digendong bapak maju ke dekat pelaminan. Aku diam, dan bapak - kayaknya yang membuat dekorasi manten itu - minta tukang foto memotret kami.

Ketiga adalah foto saat aku berumur sekitar tiga tahun. Ibu akan berangkat ke sekolah dengan motornya. Aku mengambil topi dan sepatu, ingin ikut, tapi tidak boleh. Seseorang, mungkin Pakpuh No, memotret kami untuk menghiburku.

Tiga tahun.
Hmmm... beberapa peristiwa masa kecil lain aku juga masih ingat. Seperti saat ikut lomba baca puisi saat 'pura-pura' sekolah di nol kecil. Judul puisinya "Pahlawan". Hmmm, sebagian cerita itu aku ingat, karena memang aku mengingatnya dan masih bisa kurasakan perasaanku waktu itu saat mengenangnya. Sebagian lain juga karena ibu, bulik, dan kerabat beberapa kali mengulang cerita-cerita 'memalukan' yang pernah kulakukan dulu, di masa kecil. Hmmm... bisakah aku kembali? Masa itu aku sungguh aman di dalam cangkang telurku yang belum pecah. Di mana sekarang cangkang telur itu? Hmmm....

Saturday, January 18, 2014

Dalam Persembunyian

berlari tanpa alas kaki, perempuan
kesakitan, berterimakasih
pada hujan, menyembunyikannya
dalam derai rinai, menurunkan
panas suhu badan, memompakan
hidup buluh raga.

selamanya dia bersembunyi
dalam hutan hujan
sampai harga dirinya kembali
dan mengajaknya
menari.

Thursday, January 16, 2014

Suatu Sore

menjelang sore, sebelum matahari merapat kaki langit
aku membayangkan kita duduk berdua
dengan secangkir kopi di depan kita
memulai lagi perjumpaan-perjumpaan
merangkul dan minta maaf pada mereka
karena pernah kita tinggalkan di pinggir kota

kali ini kita akan memesrai kenangan
penuh rindu tapi tanpa cemburu
berbincang tentang anak-anak yang telah kita biarkan
tumbuh berpinak di segala puisi dan prosa
mereka, telah dipijahkan dari waktu yang singkat
namun bukan untuk mangkat

lalu kita akan saling tertawa
menarik kulit kita yang pernah bersenggama
di suatu musim yang kita sebut cinta
walau hanya untuk sementara
kini pun aku tetap bersikeras
itu memang cinta

Kerling Pagi

suatu saat ketika genangan hujan belum kering
aku duduk di tepi pagi, membenahi kantung-kantung bekal
sayang, aku tidak bisa membawamu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
di kerling pagi aku akan menyimpanmu
rapat tak untuk siapa juga
sesekali aku akan menengokmu
sayang, jangan merasa kesepian
kita punya matahari sama
yang pernah mekar dalam sebuah perjalanan
di atas senyumku, di atas senyummu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
sesekali aku akan menengokmu
memastikan bahwa kau aman, di kerling pagi
dalam rumah kita.

Wednesday, January 08, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (5) : Gunung Kelud

Cerita sebelumnya.

Keterangan tentang gunung Kelud.
Ini bagian akhir liburan yang mengasyikkan. Di hari terakhir sebelum meluncur kembali ke Lampung, kami 'mendaki' Gunung Kelud, di Kabupaten Kediri. Gunung ini gunung yang masih aktif dan kuingat meletus terakhir pada tahun 1990 saat aku masih SMA. Aku ingat saat letusan terjadi aku ada di kelas, langsung lari ke menara Gereja yang ada di samping sekolah untuk melihat ke arah Gunung Kelud. Semburan warna oranye dan merah bisa kulihat dengan puas dari menara itu sampai disuruh turun oleh petugas Gereja dan diusir pulang.

Ini kedua kalinya ke gunung ini. Dua tahun lalu aku pernah juga ke sana berdua dengan den Hendro dan sangat beruntung karena cuaca yang sangat sempurna. Kali ini cuaca mendung, sedikit gerimis sehingga foto-foto kurang cerah. Tapi tetap bagus, tetap indah.
Jarak Kelud dengan gunung lain.

Kenapa di paragraf awal kata mendaki itu aku beri tanda kutip? Karena ini berbeda dengan mendaki gunung-gunung lain. Pemda setempat sudah memfasilitasi para pengunjung dengan sangat rapi sehingga mereka menyediakan anak tangga (500 anak tangga!) untuk menuju atas puncak, dan 150 anak tangga untuk ke bawah ke anak Gunung Kelud yang masih bertumbuh.

Anak Gunung Kelud.
Tangga-tangga ini bikin kaki gempor, tapi tak rugi karena pemandangannya luar biasa. Selain itu pasti merasa nyaman sekali melewati tangga-tangga ini karena sesekali kita bisa berhenti untuk mengamati perbukitan, kabut yang bergerak turun, dan jangan lupa untuk memicingkan mata melihat kanan kiri. Banyak edelweis tumbuh di lereng-lereng Kelud. Cantik buanget.

Masuk terowongan.
Selain puncak dan anak Gunung Kelud, beberapa lokasi wajib dinikmati. Terowongan lahar yang gelap tapi romantis dingin, lokasi camping yang berdinding tebing, permandian air panas, flying fox yang menyuguhkan pemandangan indah, batu prasasti yang bisa untuk background foto, musim dan teater, warung-warung makan yang enak dan murah, serta jangan abaikan perjalanan menuju lokasi atau saat pulang. Kebun durian, nanas dan sebagainya ada di kanan dan kiri jalan berkelok.
Permandian air panas.

Bahkan di perjalanan pulang kami dapat bonus. Sebotol madu asli dari penangkaran lebah. Itu salah satu oleh-oleh kami dari Kediri. Oleh-oleh lain? Hmmm... tulisan-tulisan ini sudah cukup untuk oleh-oleh kan? Atau kurang? Jika ada yang mau tanya lebih lengkap komplet jelas, silakan tanya. Aku siap menjawabnya. *** (Selesai)

Tuesday, January 07, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (4) : Bendungan Selorejo

(Cerita sebelumnya)

Semilir di pinggir danau.
Tempat lain yang kami kunjungi adalah Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Dulu aku tak pernah tertarik mengunjungi tempat ini saking biasanya aku lewat di dekatnya. Kemarin pun ketika semua semangat untuk mampir aku tidak begitu semangat.

Tapi rupanya cukup menarik juga tempat ini. Yang pertama-tama bisa dinikmati adalah kulinernya! Beberapa macam makanan dari ikan air tawar bisa ditemukan di sini. Ikan dan udang kecil-kecil yang digoreng kriuk, lalapan, atau ikan yang agak besar ada nila atau mujair.
Urusan utama, belanja.

Yang paling enak? Mujair bakar. Hmmm... sedap nian. Ikannya kecil, tak sampai seukuran telapak tangan. Masih segar, dibakar cukup pas tidak terlalu gosong tapi juga tidak mentah, lalu disiram bumbu kacang dan kecap. Wuah, satu porsi bisa habis sendirian.

Harga tidak terlalu mahal. Satu porsi ikan mujair bakar itu terdiri dari dua ikan yang dibelah sehingga matangnya merata, dengan satu bakul kecil nasi plus lalapan dan sambel seharga 30 ribu rupiah. Atau pilih paket makan untuk 10 orang seharga 165 ribu rupiah, lengkap, kecuali minum. Teh, kopi dan minuman lain bisa dipesan terpisah.

Ikan dan udang goreng tepung yang kriuk.
Selanjutnya bisa shoping beberapa barang kecil macam baju, kaos, celana batik, gantungan kunci, tulisan-tulisan I love Malang, dan sebagainya. Juga makanan-makanan khas Malang dan sekitarnya.

Pemandangannya? Hmmm, bagus. Danau kecil, jembatan, bangku, batu, pohon, air, rumput, kabut,...macam setting sebuah puisi atau cerpen saja. Hehehe... *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (3) : Pantai Papuma

(Cerita sebelumnya)

Menjelang senja. So romantic.
Aku sangat beruntung bisa datang lagi ke pantai ini, dan kali ini bersama dengan salah satu yang merintis keberadaannya sebagai tempat wisata andalan di desa Lojejer, kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Nama pantai itu Papuma. "Asalnya dari kata pasir putih malikan. Pasirnya memang putih, dan di sebelah sana ada lempeng-lempeng batu yang akan malik (terbalik) kalau terkena ombak," jelas VJ. Suliham, salah seorang perintis pantai ini saat masih bekerja di Perhutani Wuluhan, dan kebetulan sekali bapak ini adalah mertuaku, hehehe...

Pantai ini terletak sekitar 45 km dari kota Jember ke arah selatan. Awalnya yang lebih populer adalah pantai Watu Ulo. Tempat ini mudah terjangkau. Tapi kemudian Perhutani melihat peluang pantai ini yang mempunyai potensi keindahan yang jauh lebih alami dan erotis. Memang, bukan waktu yang sedikit untuk mewujudkan Papuma sebagai tempat wisata yang mudah terjangkau dan lengkap fasilitasnya. Tapi sekarang kalau bertandang kesana, semua hal itu, keindahan dan kemudahan bisa didapatkan.

Untuk keindahannya, sudahlah, lihat foto-fotoku, atau browsing di banyak alamat internet. Sungguh tak tertandingi. Belum lagi keragaman flora dan fauna, bikin kerasan boo... Nah soal kemudahan, jalan ke tempat ini sudah bagus. Dulu ketika tahun 1996 aku ke sana tidak sebagus ini. Juga ada tempat penginapan yang murah meriah.
Tempat bermain, berfoto, bersantai, melamun, ...dll.

Pertama bisa memilih cottages punya perhutani yang disewakan dari harga 200 ribu rupiah hingga 750 ribu rupiah. Kalau ini terlalu mahal, bisa pilih menginap di tenda. Harganya lebih terjangkau. Klik sini untuk keterangan yang lebih lengkap.

Waktu kami liburan kemarin, kami memakai penginapan Jati 1, 2 dan 3. Tiga ruang / rumah karena memang rombongan besar. Harganya super karena pas libur yaitu 550 ribu rupiah per malam (hari biasa 400 ribu rupiah) dengan fasilitas kamar mandi, tivi, ac, kulkas, tempat tidur besar, teras yang cantik menghadap ke laut.

Makanan tidak perlu kuatir karena banyak warung makan di sepanjang pantai yang menyediakan ikan bakar, lalapan, mi, rawon dan sebagainya. Juga banyak penjual sovenir yang murah meriah. *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (2) : Pura Mandara Giri Semeru Agung

(Cerita sebelumnya.)

Gerbang utama difoto dari dalam.
Pura ini terletak persis di depan Puri Dewi Rengganis. Jadi tinggal menyeberang jalan, sampailah di situ. Maka, jika kita menginap di Puri Dewi Rengganis, tempat ini bisa setiap saat dikunjungi. Dan, sungguh, pura ini sangat indah dan besar. Rasanya setiap ke Senduro aku pasti ke pura ini. Kadang datang untuk sembahyang, menyepi, tapi juga kadang khusus untuk berfoto-foto. Segala sudutnya tempat ini indah.

Mulai dari depan, kita akan disambut gerbang utama yang megah. Lalu di bagian depannya ada pendopo dimana kita masih bebas masuk. Ornamen-ornamen membuat kita serasa di Bali.

Konon, Pura Mandara Giri  adalah pura tertua di Indonesia. Bukan soal pendiriannya karena baru dibangun pada tahun 1988 dan pada 1992 pura ini dianggap resmi berdiri. Walau begitu, kegiatan keagamaan memang sudah dimulai jauh sebelumnya. Ritual nuur tirta (permohonan air suci) sudah pernah dilakukan sejak tahun 1963 di Patirtaan Watu Kelosot oleh para pemeluk Hindu dari Bali maupun dari warga setempat.

Air dari lambung gunung Semeru bukanlah air biasa dan sembarangan. Ada konsep kuat melatarinya, dan ini sangat terkait dengan sumber-sumber susastra-agama yang ada. Antara lain disuratkan, ketika tanah Jawa masih menggang-menggung, belum stabil, Batara Guru menitahkan para Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India) ke Jawa. Maka, puncak Gunung Mahameru dipenggal, diterbangkan ke tanah Jawa. Jatuh di sisi barat, tanah Jawa berguncang. Bagian timur berjungkat, sedangkan bagian barat justru tenggelam.
Serasa di Bali.


Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun digotong lagi ke arah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu berjatuhan dan kemudian menjadi enam gunung kecil masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 m di atas permukaan laut), Gunung Wilis (2.169 m), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 m), Gunung Kawi (2.631 m), Gunung Arjuna (3.339 m), Gunung Kemukus (3.156 m).

Adapun puncak Mahameru itu kemudian menjadi Gunung Sumeru (3.876 m). Inilah puncak tertinggi Pegunungan Tengger sekarang dan gunung tertinggi yang membentuk poros dengan Gunung Bromo atau Gunung Brahma. Sejak itu tanah Jawa menjadi stabil, tak lagi goyang.



Puncak Semeru dari Senduro.
Di hulu tertinggi inilah manusia-manusia yang percaya mengambil sumber energi dari Hyang Widhi Wasa, untuk dialirkan ke banyak tempat. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menetapkan nama pura adalah Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa. Ke sanalah umat Hindu berdatangan. Tidak hanya pada hari raya dan ulang tahun pura (Juni - Juli merupakan waktu yang paling ramai dengan banyak ritual dan festival.), tapi juga pada hari-hari biasa. Bukan hanya dari Jawa dan Bali tapi dari berbagai tempat di Indonesia. *** (Bersambung)

Monday, January 06, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (1) : Puri Dewi Rengganis

Liburan kali ini begitu heboh. Melibatkan keluarga besar Samiran dan Suliham. Aku kurang tertarik menuliskan tentang dua keluarga ini, jadi aku memilih menuliskan tempat-tempat mana saja yang telah kami kunjungi selama rentang liburan itu.

Puri Dewi Rengganis tampak depan.
Pertama adalah Puri Dewi Rengganis. Ini bukan tempat wisata, tapi ini tempat yang merangkul kami semua dalam dinginnya Semeru. Awalnya rumah di jalan raya Senduro, desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ini adalah rumah tinggal keluarga Suliham. Hanya untuk tempat tinggal yang bahkan tidak selalu ditinggali, karena Pak Suliham bekerja di Perhutani dengan tugas berpindah ke beberapa kota.

Setelah pensiun, rumah ini kembali dihuni tapi situasi sudah berbeda. Lokasinya yang persis berada di depan Pura Mandara Giri Semeru Agung, membuatnya sering diminta orang-orang yang datang dari jauh untuk transit sebentar, numpang istirahat, numpang mandi dan sebagainya. Maka Pak Suliham merombaknya dengan serius. Kamar mandi dibikin beberapa di bagian luar, dan kamar-kamar dibuat standar. Ada 15 kamar dilengkapi double bed, meja kecil dan kursi di tiap kamarnya.

Maka, jadilah Puri ini sebagai tempat singgah yang nyaman. Saat kami datang (rombongan dua mobil keluarga Pak Samiran), kami sudah booking jauh-jauh hari, supaya dapat kamar. Di hari libur, tak ada kata pokoknya walau anak sendiri bisa gak kebagian tempat. (Aku pernah datang pada bulan-bulan ramai hanya untuk semalam, akhirnya menggeser kamar bapak untuk tidur karena semua kamar penuh. Dan dalam semalam itu aku menjadi 'host seksi' yang hilir mudik karena permintaan bergelas-gelas kopi, teh atau air panas untuk mandi.) Apalagi dalam jumlah besar macam kami, booking kamar mesti dilakukan 6 bulan sebelumnya!

Nah, perlu diingat, Senduro adalah dataran tinggi yang super dingin. Jadi sediakan jaket atau apapun penangkal dingin jika datang ke tempat ini. Memang sih tiap kamar disediakan juga selimut, tapi pasti kurang hangat. Fasilitas lain? Aih, ini ya rumah biasa. Maka jangan berharap ini macam villa atau hotel. Bersih, rapi dan indah. Cukuplah itu. Makanan bisa pesan untuk jumlah berapapun dengan harga terjangkau sesuai menu yang diminta. Ini recomended banget deh. Makanan di sini enak buanget. Pakai sangat, sekali, amat, very...

Rutenya, dari terminal Wonorejo Lumajang naik bis jurusan Kencong/Ambulu turun di Klojen, sekitar 15 menit. Dari Klojen naik angkutan desa ke Senduro. Ini mesti sabar karena kalau naik angkutan desa ini akan nunggu penumpang penuh baru jalan dan lelet banget. Bilang saja ke sopir turun depan Pura atau langsung sebut Dewi Rengganis, persis di depan rumah. Ada plang nama terpasang.

Pemandangan dari teras samping. Halaman luas, parkir mudah.
Atau kontak Pak Suliham di nomor 0334-610650, nanti akan diatur penjemputan di Terminal Wonorejo. Soal pembayaran, pakai cash saja, dan bisa nego. Harga keluarga, karena siapapun yang bertandang ke puri ini akan dianggap sebagai keluarga. Terakhir-terakhir ini rata-rata biaya menginap Rp. 50.000,- semalam per kamar. Teh, kopi, air panas, penjemputan dan guide bisa ditambahkan saat akan check out. Lebih okey jika bawa oleh-oleh juga pas datang karena kan anda akan jadi keluarga di puri ini.

Nah, jadi kalau sedang ada agenda ke arah Semeru, Bromo, Pura Mandara Giri dan sekitarnya, atau cuma ingin melihat puncak Semeru dari kejauhan, datanglah, silakan datang ke Puri Dewi Rengganis. Anda akan diterima selayaknya keluarga.*** (Bersambung)

Wednesday, January 01, 2014

Gerimis dan Tekad Awal Tahun

Awal tahun 2013 silakan diklik untuk melihat niatku. Kalau sekarang aku punya waktu diam dan hening persis di tanggal pertama tahun 2014, bukan berarti aku lebih beruntung dari tahun lalu. Tahun ini diakhiri dengan gerimis yang tak henti-hentinya membayang di pelupuk mataku. Kerutannya jelas mengejang setiap kali aku membuka mata. Aku punya banyak alasan untuk tidak bisa menghentikannya, dan aku memang tidak bisa menghentikannya. Jadi, sementara waktu hingga awal tahun baru ini, aku biarkan gerimis-gerimis itu menjadi sahabatku. Merangkulnya dalam hati pedih, dan tidak kutolak.
Temans, mohon maaf atas situasi ini dan mohon maaf aku tidak bisa mengucapkan happy new year atau ucapan apapun yang sejenis untuk tahun baru ini. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengucapkannya kepada siapapun. Bagi yang sudah mengucapkannya untukku, lewat SMS, email atau langsung, mohon maaf aku tidak bisa membalas kegembiraan yang sama untuk kalian.
Apakah situasi ini begitu buruknya? Tidak. Jangan pernah kuatir akan hal itu. Aku tahu ini hanya sementara, dan rasanya memang aku membutuhkannya. Gerimis tidak sama dengan embun kan? Gerimis bisa membasuh banyak hal, meluruhkannya, dan semua akan terlihat berbeda nanti. Hanya butuh kesabaran saja mengikuti waktu. Jadi, temans, tidak usah mengkuatirkan aku.
Kalian masih ingin tanya hasil evaluasiku di akhir tahun lalu? Ini bagian yang sulit, tapi aku bisa bercerita beberapa point. Pertama, omong kosong soal memurnikan motivasi. Justru aku terpuruk dalam hasrat egois yang parah. Kedua, untuk pertama kalinya aku merasakan penyesalan-penyesalan atas tindakanku yang kusengaja. Aku tak pernah berada dalam perasaan seperti ini. Ketiga, aku menandai diriku sendiri dalam labirin yang menyesatkan walau terus terang memang aku nikmati. (Ehm, apa sih yang tak dinikmati oleh seorang Yuli?) Keempat, ada buku Hilang Silsilah yang memuat cerpenku. Urusan ini selalu membuatku antusias dibanding apapun juga. (Thanks Dewan Kesenian Lampung). Dan kelima, aku punya harapan yang besar terlebih aku mendapatkan teman luar biasa di akhir tahun ini (walau juga sekaligus aku telah kehilangan banyak hal di akhir tahun.) Temanku adalah Divakaruni.
Tapak liman tanpa batang yang hanya untuk diinjak.
Siapa Divakaruni? Dia lewat Queen of Dreams telah menguatkan aku untuk meneruskan hidup dalam misi khusus tahunan. Okey, aku setujui dia untuk menghilangkan misi yang sok suci. Misi-misiku di beberapa tahun terakhir akan aku simpan di kotak penyimpananku. Aku melangkah di tahun 2014 ini dengan hasrat baru untuk menghadapi banyak tantangan. Pesannya sangat jelas :"Jangan pernah turunkan targetmu, tapi tingkatkan kemampuanmu untuk mencapai target tertinggimu." (Thanks, batang tapak liman kesayanganku. Apapun situasinya, indah atau buruk, aku tak akan melepas cinta, pada dirimu yang sebentar dan kecil di antara seluruh keabadian semesta raya ini. Ini semangat yang mengalahkan segala yoga, meditasi ataupun segala peristiwa.)
Jadi aku menulis tentang misiku di tahun 2014 ini dalam bayangan gerimis (yang toh aku syukuri karena gerimis ini muncul karena cinta) yaitu : novel! Aku telah memulainya di hari yang dini ini. Dan lihat akhir tahun 2014 nanti, kalian, para kekasihku, akan memelukku kembali sebagai ucapan terimakasih karena kado yang kuberikan untuk kalian. Sebuah novel! Kali ini tak usah bertepuk tangan untukku. Lihat saja akhir tahun nanti. Dan selama hari-hari hingga akhir tahun nanti, aku tak peduli andai kau palingkan pandangan dariku. Lihat saja nanti.