Friday, June 28, 2019

Oleh-oleh dari Open Forum Inkopdit 2019

Tahun ini, Open Forum dan RAT Inkopdit dilaksanakan di Sanur Bali, tepatnya di Prime Plaza Hotel Sanur, pada 23 - 25 Juni 2019. Aku mempersiapkan pengalaman pertama ini secara khusus dengan mengambil cuti, dengan demikian bisa lebih fokus dan leluasa mengikutinya. Selain itu aku menyiapkan diri menerima pengalaman-pengalaman baru, juga perjumpaan dengan orang-orang baru, serta untuk pertama kalinya ikut bersama rombongan pengurus, pengawas dan manajemen KSP Kopdit Mekar Sai dalam perjalanan yang cukup lama.

Tema yang diangkat dalam lokarkarya Inkopdit kali ini adalah Digitalisasi Pelayanan pada Era Milenial dalam Rangka Keberlanjutan GKKI diikuti oleh lebih dari 700 orang dari CU-CU yang ada di Indonesia. Dan pada hari terakhir, 26 Juni 2019 diselenggarakan Rapat Anggota Tahunan Inkopdit diikuti oleh wakil Puskopdit se Indonesia.

Bersama Kristien
Lokakarya menghadirkan beberapa narasumber. Yang paling menyentuhku adalah Ranjit dari ACCU yang mengingatkan kembali spirit Raiffesien, pendiri CU. Mendengarnya seperti melemparkanku pada beberapa masa lalu di Malang saat aku dan teman-teman KSK maupun VCI keluyuran di bawah dan samping jembatan di sekitaran Kayutangan, Ranjit mengingatkan soal tanggungjawab sosial CU, option for the poor, memperhatikan yang paling tidak berdaya supaya menjadi sejahtera.

Dan yang di luar dugaan, aku bertemu Kristien, salah satu sahabat yang pernah bersama-sama menggarap kegiatan dan pendampingan orang miskin perkotaan. Dia rupanya terpilih menjadi Ketua Pengurus CU Sawiran. Lama sekali tidak bertemu dan aku mengenali dia sedang menggarap zero waste, pengolahan sampah, pemanfaatkan tanaman sekitar sebagai bahan pangan dan hal-hal sejenis. Maka tidak menyangka bawa dia ternyata juga ada dalam gerakan CU. Senang tentu saja, dan aku menghabiskan waktu pada hari pertama lokakarya duduk bersamanya dan mencari-cari jeda untuk ngobrol. Bukan untuk nostalgia walau sesekali mengingat beberapa hal di masa lalu, tapi lebih banyak kami bicara tentang apa yang bisa dilakukan di masa mendatang dalam konteks CU.

Wednesday, June 19, 2019

Puisi Yuli Nugrahani dalam Buku Negeri Para Penyair

Buku puisi Negeri Para Penyair diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung pada 2018 dan diluncurkan lewat Panggung Sastra Lampung, 15 Juni 2019 di Gedung DKL, Way Halim, Bandarlampung. Tiga puisiku muncul di sana yaitu Demam, Melekat pada Udara dan Sudah Terjadi. Kalau ingin membacanya, silakan hunting buku Negeri Para Penyair, pasti bisa didapatkan di Dewan Kesenian Lampung, Komite Sastra.

Satu puisiku dibaca oleh Ahmad Yulden Erwin pada saat Panggung Sastra Lampung, yang berjudul Sudah Terjadi. Sebenarnya aku sudah hampir lupa puisi ini, puisi yang kutulis pada akhir tahun 2017. Jadi aku senang mendengarnya dibaca. Wah. Aku selalu merasakan gelenyar bersemangat kalau mendengar puisiku dibaca oleh orang lain. 



SUDAH TERJADI


Yang tak pernah melewati jalan ini tak akan mengerti
sebuah luka berdarah di jari manis tangan kiri
juga selontar keluhan yang tak bisa dihapus
telah direbus oleh waktu menjadi masa lalu.

Bila kini kau melepas kasut dan duduk di trotoar
mempertimbangkan lagi nawaitu dari selirik lagu
kau terlambat satu babak dari larik memoar
yang telah dipahat dengan teliti pada nisan batu.

Lalu kata tanya menjadi serupa getah bawang.
Tanpa kau colokkan ke mata seorang gadis
membuat wajahnya mengembang dalam tangis.

Di situlah sebuah ayat terpaksa dimunculkan
dikulum hingga habis manisnya lalu menggembung
pecah menampar pipi, tanpa sadar jadi tontonan tragis.

Okt 2017

Aku beruntung bisa mendengarnya lagi, dan membuatku membaca lagi puisi ini. Aku tak akan menjelaskan apa-apa tentang puisi ini. Tapi aku ingin bertanya padamu. Menurutmu, tentang apakah puisi ini? Hehehe... silakan kirim komentarmu di bagian kolom komentar blog ini. Terimakasih.

Tuesday, June 18, 2019

Bagaimana Cara Membaca Cerpen di Panggung?

Orang lebih sering membaca puisi dalam acara pentas sastra. Membaca cerpen untuk umum atau untuk pementasan masih dianggap tidak lazim, eh atau dianggap mbosenin. Bagusan sekalian monolog. Aku maklum karena memang cerpen kalau dibacakan memiliki durasi yang panjang. Bisa 4 - 10 kali lipat dari waktu membaca puisi (tentu saja tergantung panjang puisi dan cerpennya). Salah-salah orang akan tidur saat kita membaca cerpen. Aku sendiri, lebih nyaman membaca cerpen daripada membaca puisi. Dan itu sudah kulakukan sejak aku meluncurkan buku cerpenku Daun-daun Hitam pada tahun 2014. Hampir semua cerpen yang ada dalam buku itu pernah aku baca dalam beberapa kesempatan. Juga cerpen-cerpen yang ada dalam buku Salah Satu Cabang Cemara. (Malah satu cerpen dari buku ini pernah dipentaskan oleh Sun Love Community dalam acara Polda di Taman Budaya Lampung)

Aku punya trik untuk pembacaan cerpen-cerpenku:

1. Tidak membaca persis seperti naskah asli cerpen. Ingat, ada 6.000 - 15.000 karakter yang biasanya ada dalam cerpenku. Itu kalau dibaca lisan, dengan intonasi, membutuhkan waktu sekitar 10 - 30 menit, bahkan lebih. Sedang puisiku sepertinya hanya kisaran 1000 - 3000 karakter saja, bisa kubaca hanya dalam 2 - 5 menit. Jadi, walau aku menyebut membaca cerpen seperti termuat dalam buku, aku membuat naskah lain untuk kubaca dengan memotong, meringkas dan menghilangkan beberapa bagian alur cerpen.

2. Mengubah naskah cerpen hingga terbentuk suasana seperti yang kuharapkan. Misalnya aku mau suasana sedih murung serius. Maka aku akan hilangkan kata-kata yang kira-kira bisa mengganggu suasana itu. Pun kalau kalau mau yang muncul adalah suasana lucu, maka aku bisa menambahkan atau mengubah kalimat dengan maksud yang sama tapi menjadi lucu. Lebih baik jika naskah yang akan dibaca ini diketik ulang. Tapi kalau tidak, ya tandai saja di buku yang akan dipegang.

3. Biasanya aku berhasil mengubah naskah cerpen menjadi setengahnya atau kurang dari setengahnya, sehingga aku hanya mengambil waktu antara 5 - 10 menit untuk membaca cerpen di pentas. Itu pun sudah mblokek untukku sendiri, apalagi bagi pendengar. Jangan lebih lama lagi, itu cukup.

4. Latihan itu mutlak walau tak harus berhari-hari. Misalnya untuk Panggung Sastra Lampung lalu, aku bilang aku tidak latihan, tapi toh aku membaca beberapa kali naskah yang sudah kusiapkan malam sebelumnya itu selama malam hingga pagi sebelum aku berangkat ke DKL. Membaca beberapa kali sampai nemu cara yang pas dengan rasa.
Membaca cerpen di Lapangan Korpri
dengan buanyakkkk penonton.

5. Lebih enak bagiku kalau membaca cerpen dengan sudut pandang 'aku', orang pertama, entah tunggal atau jamak. Itu kayak tinggal ngepasin karakternya saat membaca, seolah-olah aku sedang bertutur tentang diriku sendiri. Nah, kalau sudut pandang orang ketiga, ya kayak mendongeng itu. Atau kalau aku punya waktu lebih longgar untuk menggubah cerpen itu, aku akan mengubahnya, mengambil salah satu karakter dalam cerpen lalu bercerita dari sudut pandang 'aku' si tokoh itu, tanpa mengubah alur.

6. Aku suka menambahkan 'suluk', sebutanku untuk nyanyian atau senandung di bagian awal dan akhir pembacaan. Saat aku membaca cerpen di Lapangan Korpri Bandarlampung untuk acara Sekala Selampung, mengawali pengajiannya Cak Nun, aku mendendangkan "Ra ma da sa." Usai pembacaan orang-orang komentar aku seperti mengucapkan mantra. Hihihi... Memang. Saat aku membaca di Panggung Sastra Lampung baru lalu aku nyanyiin Lir Sa Alir, bagian refreinnya. Itu pas banget, ngingetin aku pada rumah di Jawa Timur sana, sama seperti judul cerpenku, Rumah. Suluk ini bagiku seperti membuat jeda supaya aku bersiap, dan menata lagi nafas sebelum berucap terimakasih. Selain itu dia menjadi semacam pengantar dan penutup bagi kisah yang dibaca. Maka ya cari dendang yang tepat, tidak asal saja.

7. Datang sebelum acara mulai, jangan terlambat, sempatkan meneliti posisi panggung, lampu, para penonton, lewat mana akan jalan menuju panggung, apa saja yang ada di panggung, dan sebagainya. Seringnya sih tak ada waktu untuk gladi bersih. Iyelah, membaca puisi atau cerpen sebagai selingan saja seperti ini dianggap tidak penting. Pokoke maju, baca. Udah. Padahal mengenali medan itu sangat penting bagiku. Menghindari kesalahan yang memalukan. Ingat ya, aku merancang sebaik mungkin apa yang akan aku lakukan. Walau dikata ini tidak penting, dan tak ada waktu cukup untuk latihan serius seperti teater, aku tetap akan bersiap dengan rancangan yang cukup untuk membaca cerpen. Aku sudah harus tahu akan berdiri atau duduk, memegang mike atau meletakkannya, dan sebagainya.

8. Memakai baju dan dandanan yang nyaman. Aku akan percaya diri kalau memakai celana jeans, baju/kaos hitam, plus syal, tanpa make up, tanpa hiasan rambut. Maka itu yang kulakukan. Ndak usahlah pakai lipstik segala kalau justru itu mengganggu. Pakai saja sandal atau sepatu tipis, ndak usah yang berhak tinggi. Salah-salah terjengkang pas baru akan jalan ke panggung. Hehehe...
Membaca cerpen di Tangerang Selatan

9. Santai... Membaca puisi atau cerpen itu kan itu tadi, hanya selingan, ndak penting. Jadi ya santai saja. Biar saja penonton merespon sesuai apa yang terjadi. Aku membiasakan diri tanpa ekspektasi sehingga aku santai saja saja membaca seperti yang sudah kurencanakan. Kalau pun nanti ada salah kata salah gerak, yo tak apa. Pokoke aku lakukan sesuai dengan rencanaku. Ya mau apa, aku memang tak profesional dalam pementasan, tapi kalau sudah punya rencana ya itulah yang dijalankan. Soal hasilnya saat pentas seperti apa, entar bisa dilihat lagi kalau ada rekamannya. Kalau tak ada ya wis, udah lewat. Berarti orang lain juga pasti akan segera melupakannya termasuk melukan kesalahan-kesalahan yang kubuat saat aku membacanya. Hehehe...

10. Hmmm... membaca cerpen itu lebih asyik dari membaca puisi. Percayalah.

Monday, June 17, 2019

Cerpen RUMAH dan Rumah Para Sastrawan Lampung


Dewan Kesenian Lampung (DKL) Komite Sastra menggelar Panggung Sastra Lampung pada Sabtu 15 Juni 2019. Acara itu dihelat untuk meluncurkan dua buku, yaitu buku puisi Negeri Para Penyair dan buku cerpen Negeri Yang Terapung. Tulisanku masuk dalam dua buku itu. Puisi-puisiku yang masuk adalah Demam, Melekat pada Udara dan Sudah Terjadi. Sedang cerpen yang masuk adalah Rumah. 

Membaca cerpen Rumah

Saat perhelatan itu mulai diumumkan oleh Udo Z. Karzi, ketua komite sastra DKL, aku langsung menyatakan diri untuk hadir dan mau membacakan cerpen untuk acara itu. Pun begitu, aku tak punya waktu khusus untuk menyiapkan diri. Maka, malam sebelum kegiatan, aku paksakan diri di depan laptop, melihat lagi cerpen itu. "Terlalu panjang untuk dibacakan." Itu kesimpulanku.

Aku pun mengubah cerpen itu menjadi naskah pembacaan. Saat kubaca ulang, kuperkirakan naskah Rumah akan menggunakan durasi waktu antara 5 - 7 menit. Aku memotong beberapa bagiannya, kuubah menjadi sedikit puitis, dan kupastikan aku melewatkan bagian-bagian yang tak perlu. Lalu aku berpikir untuk menambahkan 'suluk' di bagian awal dan akhir pembacaan. Aku menimbang-nimbang beberapa lagu yang cocok hingga akhirnya kupilih Lir Sa Alir, di bagian refrennya. Lagu dari Madura itu terasa pas, dengan kuhilangkan nada tertingginya dan kupelankan ketukannya. Dan rasanya aku percaya diri menyanyikan lagu ini ketimbang lagu lain. Hehehe... Maka itulah yang kubuat.

Yang ingin melihatnya bisa klik di sini atau bisa juga membuka link Komunitas Kampoeng Jerami klik di sini. Video ini berguna sekali bagiku karena aku bisa melihat bagaimana aku tampil, yach, walau tanpa latihan toh aku menyiapkan diri juga sebaik kesempatan yang kupunya. Terimakasih untuk Zainal Abidin yang sudah membuat video ini. Kebetulan sekali aku duduk di belakangnya dan melihat dia memegang HP selama perhelatan. Aku beruntung sekali dia dengan rela hati membagikan hasil rekamannya yang bagus untukku. Terimakasih banyak.

(Nanti akan kubuat lanjutan dari tulisan tentang ini untuk mengevaluasi caraku membaca cerpen.)


Aku tak mau bisulan, jadi aku ingin menambahkan catatan berikut tentang kegiatan ini : 

Ayo mengingat kegiatan komite sastra DKL. Setelah tahun 2014, saat buku Hilang Silsilah diluncurkan oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL), baru kali ini perhelatan serupa digelar oleh DKL. (Sebelumnya ada buku kumpulan cerpen Kawin Massal, dimana aku juga terlibat). Panggung Sastra Lampung meluncurkan dua buku terbitan DKL tahun 2018, yaitu kumpulan puisi Negeri Para Penyair dan kumpulan cerpen Negeri Yang Terapung. Dua buku ini diisi oleh puluhan sastrawan Lampung dengan kurator Ahmad Yulden Erwin (Penyair), Iswadi Pratama (Teater Satu) dan Ari Pahala Hutabarat (Komunitas Berkat Yakin). Diselenggarakan di Gedung Teater DKL, Way Halim, Bandarlampung, Sabtu 15 Juni 2019 dengan menampilkan pembacaan karya, diskusi dan bintang tamu Holaspica. Heri Sulianto, plt Ketua DKL memberikan apresiasinya atas kerja para sastrawan lewat buku tersebut. Berharap ke depan dalam terus meningkatkan kerja sama dengan semua pihak untuk kemajuan Lampung.

Aku senang terlibat dalam dua buku ini. Buku-buku yang akan abadi, bisa beredar ke banyak pembaca. Aku juga senang bertemu dengan banyak generasi dalam dua buku maupun kegiatan Panggung Sastra Lampung ini. Bagiku ini seperti perangsang bagi gerak sastra di Lampung. Ada generasi tua seperti Nail Emel Prahana, juga ada yang muda seperti Rarai Masae Soca Wening Ati. 

Namun, hal itu sangat-sangatlah kurang, dan harus ditingkatkan lagi kualitas maupun kuantitasnya. Terlihat sekali kurangnya perhatian dari semua pihak untuk kegiatan sastra. Mosok, sejak kegiatan terakhir tahun 2014, baru tahun 2019 hal yang serupa dapat dilakukan lagi. Lima tahun baru bisa diselenggarakan lagi atas nama Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung. Untuk waktu yang selama itu, para sastrawan bergerak sendiri, berjuang untuk eksistensi sastra bagi Lampung maupun Indonesia. Dan selama lima tahun itu, Pemda Provinsi Lampung memberikan apa? Di mana perhatian Provinsi Lampung untuk sastrawan? Pernah ndak dilihat kehidupan para sastrawan ini? Sekadar ruang tampil pun hanya setelah bertahun-tahun bisa dimunculkan lagi, apa lagi hal-hal yang lain. Terus terang aku prihatin.

Merujuk pada diskusi yang dimoderatori oleh Hermansyah GA dengan narasumber para kurator buku, sebenarnya tak mustahil sastrawan Lampung lebih maju dari pada yang sekarang ini terjadi. Mutu tulisan dan jaringan para sastrawan Lampung tidak bisa dikatakan rendah jika dibandingkan karya sastra dari daerah lain. Beberapa tokohnya juga berada level yang bisa diremehkan. LIhat Iswadi Pratama. Siapa sih yang tak kenal dia secara nasional? Isbedy Stiawan. Semua pasti ingin foto dengannya saat bertemu. Tapi, heloooo, berapa kalikah nasib sastrawan diperbincangkan oleh 'para pengambil kebijakan' Provinsi ini? Jika bukan tentang 'uang' atau 'penghargaan', pernah ndak dipikirkan cara untuk meningkatkan mutu mereka (eh kami) ini? 

Aku sih tetep yakin para penyair, cerpenis, novelis atau sastrawan Lampung mampu berjuang mandiri, wong buktinya ya itu yang terjadi sampai kini, dan kami terus hidup hingga mencapai banyak hal. Tapi jika ada perhatian dari banyak pihak, tak mustahil akan ada banyak perubahan yang bisa dicapai oleh Lampung lebih signifikan, lewat para sastrawannya. Maju terus pantang mundur!

Tuesday, June 11, 2019

Menu Kepepet, Buceng ala Yuli Nugrahani

Buceng ala Yuli Nugrahani
Kalau kepepet, cara ini bisa ditiru. Bahan yang mepet, asal disajikan dengan cantik dan tidak biasa, terus makannya bareng-bareng, pasti enak. Ini yang kulakukan. Hehehe...  Buceng ala Yuli Nugrahani.

Bahan:
2 piring munjung nasi sisa
2 mi goreng instan matang
sisa sayur terik (1 telur, 3 potong tahu)
sisa kering tempe kacang
1 butir telur dibikin telur dadar tipis, potong-potong
1 buah wortel, rebus, iris
10 buah buncis, rebus, iris
1 buah timun, iris

Cara membuat:
- Hehehe, mau bilang apa. Ambil aja nampan, alasi dengan daun pisang, buat buceng/tumpeng kecil
- Atur bahan-bahan lain di sekitarnya secantik mungkin. Kalau pun ada bahan sisaan lain bisa ditambahkan
- Paling penting dari menu ini adalah: Kumpulin 4 orang anggota keluarga, doa bareng-bareng, makan bareng-bareng ndak usah pakai sendok, sambil cerita segala macam hal yang menyenangkan. Dijamin enak, ludes. Kalau masih lapar, masih ada pisang ambon dan jeruk madu siap santap. Cucok kannn...

Terik Tahu Telor ala Yuli Nugrahani

Terik tahu telor ala Yuli Nugrahani
Makanan-makanan warna kuning keemasan seperti sayur terik selalu menarik minatku. Dulu kalau ibu masak terik tahu tempe biasanya ditambah urap bayam tauge dan telur rebus. Rasanya gurih enak.

Kali ini aku membuat terik tahu telor. Tanpa tempe karena biasanya tempe akan disisihkan oleh para cowokku itu, hanya diambil tahunya saja. Telor rebusnya kumasukin saja ke dalam kuah biar lebih praktis toh bikinnya juga hanya untuk sekali makan.

Bahan:
8 potong tahu putih
4 telor rebus kupas
1 gelas santan kental dari 1/2 kelapa
1 batang serai
3 lembar daun salam
1 lembar daun jeruk purut

Bumbu halus:
3 siung bawang putih
5 siung bawang merah
1 ruas jari kunyit
1 sendok teh ketumbar
2 butir kemiri

Cara memasak:
- Haluskan semua bumbu, masukkan dalam air mendidih (sekitar 3 gelas air) dalam panci kecil (aku tidak menumisnya. ini terik tanpa minyak goreng). Biarkan hingga matang.
- Masukkan tahu, serai geprek, daun salam, dan daun jeruk purut. Biarkan hingga tahu matang.
- Masukkan santan dan telor rebus. Kecilkan api. Aduk pelan-pelan, hingga matang dan siap disajikan.
- Karena tanpa urap, sajikan dengan lalapan, bisa timun dan tomat iris.

Sunday, June 09, 2019

Nasi Goreng Kaki Lima ala Yuli Nugrahani

Nasi Goreng Kaki Lima ala Yuli Nugrahani
Hari ini (9 Juni 2019), Minggu, hari terakhir liburan. Besok sudah masuk kerjooo... huaaa...
Tukang sayur belum ada, di rumah pun bahan sudah menipis.

Untungnya semalam kemarin malem mingguan berempat, aku dan Albert nontoni youtube lalu masuk ke resep-resep nasi goreng, hingga ke resep nasi goreng kaki lima. Jadilah inspirasi.

"Besok ibu buka warung nasi goreng."

Tak ada satu pun yang protes. Jadi, kulanjutin.

"Sarapan besok cukup sisa kue dan roti. Makan siang nasgor. Okey yaaa...." Sip. Jadi aku ngikutin langkah-langkah untuk mbuka warung nasgor sepanjang siang, termasuk menggunakan bahan yang tak pernah kugunakan untuk nasgor (biasanya aku tak pernah pakai penyedap rasa dan dan saos tiram. Itu full MSG deh.) Tapi kali ini aku buat seperti itu.

Pagi-pagi membuat nasi pera (nasi keras, yang ndak lembek.) Cara yang kupakai seperti yang disarankan dalam beberapa chanel youtube nasgor kaki lima. Beras dicuci, dikukus sekitar 30 menit, lalu rendam dengan air sisa kukusan. Pasin airnya di permukaan beras, lalu tutup. Biarin 30 menit, sampai mekar. Setelah itu kukus lagi antara 45 - 60 menit. Huhuhu... 2 jam untuk masak nasi. Bisa kusambi nyuci, njemur, nyapu, nglamun, dll.

Setelah nasi pera siap, aku membuat minyak bawang. Bawang putih 2 bungkul dicincang halus. Goreng dengan secangkir kecil minyak goreng hingga berwarna keemasan. Simpan dalam wadah jika sudah dingin, tutup rapat.

Lalu, aku siapin bumbu nasi goreng. Bumbu halus:
15 siung bawang merah
15 siung bawang putih
2 biji kemiri

Bumbu lain:
1/4 sendok teh lada halus
1/2 sendok teh penyedap rasa kaldu sapi

Cara membuat bumbu:
- Haluskan semua bahan bumbu halus. Masukkan ke wadah yang ada tutupnya.
- Beri bumbu lainnya, lada dan penyedap rasa, juga minyak bawang tanpa isi hingga pas permukaan bumbu.
- Aduk hingga rata, tutup dan simpan.

Bahan lain-lain, yang ada saja:
- Telur
- Sosis
- Suwiran ayam
- Sawi, kol atau apa pun yang ada.
- Kerupuk

Bumbu lain-lain (hihihi, kok jadi ribet banget ya.):
- Kecap manis
- Saos sambal
- Saus tiram
- Minyak bawang
- Minyak goreng
- Cabai rawit, rebus sebentar, lalu haluskan (yang kubuat tak memakai cabai karena cabaiku sudah ludes untuk masakan terakhir kemarin)

Cara memasak:
- Ingat. Memasak nasi goreng kaki lima hanya saat ada pesanan. Jadi tepat jam 12.00 aku siarkan ke semua orang eh para cowokku di rumah termasuk teman-teman Albert yang lagi ngumpul. "Warung nasgor sudah buka."
- Nah point pertama tadi sangat penting karena nasgor ini enak disantap usai masak, panas-panas. Dan sesuaikan persis seperti pesanan, termasuk jenis telur mau dadar atau ceplok atau campur, pedes atau tidak, dan sebagainya.
- Kok malah ngoceh ya. Langsung aja, untuk pesanan pertama dari Bernard, telor dicampur plus didadar.
- Kocok telur (pilih yang besar) dengan sejimpit garam. Yang setengah didadar, sisihkan. Yang setengah diorak-orik.
- Kalau sudah setengah mateng masukkan sesendok teh munjung bumbu, seperempat sendok teh garam. Aduk hingga harum. Masukkan bahan lain seperti ayam suwir, sosis siap santap yang sudah diiris, sawi dan lain-lain yang ada.
- Masukkan nasi sepiring, kecap manis, saos tiram, saos sambal, aduk rata dengan api kecil.
- Kalau sudah rata, tambahkan sesendok teh minyak bawang plus bawangnya,  besarkan api. Aduk hingga matang sempurna.
- Sajikan langsung ke piring, tumpangi dengan telur dadar yang sudah disiapkan. kalau ada, tambah dengan timun dan tomat iris, juga lalapan lain.

Ini bukan makanan sehat kalau tak ada sayuran dan lalapan. Plus ada MSGnya, jadi hati-hati. Imbangi dengan sayur dan lalapan serta minuman hangat. Juga makan buah di jam-jam lain. Soal enak, yakin deh, ini nasgor yang enak. Tak perlu diincip (ya masak warung nasgor selalu ngincip setiap ada pesenan), juga anti gagal, tinggal cemplung-cemplung, ongseng dengan baik, jadi deh. Jadi berpikir kalau masang plang nama di depan rumah terima pesan online nasgor. Hmmm.... mungkin suatu ketika akan kulakukan deh.

Saturday, June 08, 2019

18 Tahun Albert Ardyatma

Ulang tahun ke 18, Albert Ardyatma, Sabtu, 8 Juni 2019.

Beberapa kali pertanyaanku tentang:"Mau makan apa, Bert untuk ultah?" tak dijawab dengan pasti. Hmmm...okelah. Walau begitu aku tetap menyiapkan diri untuk menikmati hari yang spesial, istimewa bagiku. 18 tahun lalu melahirkan Albert dengan proses yang tidak sebentar. Dia lahir secara normal di klinik Xaverius Pasirgintung dibantu Sr. Erma almarhum. Sempet berhenti di jalan lahir karena aku sangat lemas, nyaris pokoknya. Maka Albert lahir dengan kepala memanjang, tak boleh diangkat hingga 24 jam. Puji Tuhan dia tumbuh menjadi anak yang sehat dengan tubuh yang proposional hingga kini bukan anak-anak lagi.

Hari itu pagi-pagi kubisikin bapaknya untuk menemaniku mencari kue. Malangnya beberapa toko kue yang kuprioritaskan masih tutup. Dari antara yang buka pun tidak menyediakan banyak bahan di tokonya. Akhirnya nemu tart lemon ukuran 20 cm ini di Holand Bakery dekat rumah.

"Love you, Albert. Kau sangat berharga. Yuk, kalahkan dunia."

Thursday, June 06, 2019

Tumis Gondes ala Yuli Nugrahani

Kebiasaanku kalau menjelang lebaran, aku akan membeli bahan-bahan makanan yang awet tidak mudah busuk. Tahun ini pun aku melakukan hal serupa ditambah syarat: bahan harus tahan lama tanpa kulkas. Memang sudah satu tahun lebih di rumahku tak ada kulkas, dan kami aman-aman saja jadi lebih sehat.

Apa saja yang aku stok?
1. Segala bahan seperti beras, mi, minyak, dan bumbu-bumbu kering.
2. Sayuran tahan lama seperti kentang, buncis, wortel, kol, labu siam, tomat, timun dan sebagainya.
3. Lauk yang bisa disimpan adalah telur, termasuk telur asin. Lalu ikan asin dan ikan kaleng. Tahu dan tempe masih bisa juga kusimpan selama 2 har, dengan setiap hari direbus. Rasanya sih tak seenak yang segar, jadi aku ndak banyak nyetok tahu dan tempe. Atau kusimpan dalam bentuk olahan seperti kering tempe atau bacem tahu tempe.

Nah, lebaran hari kedua belum ada tukang sayur yang lewat, pun pasar masih sepi, sayuran itu sangat berguna, dan jadi menu hari ini.

Bahan:
2 buah gondes/manisah/rambusah/labu siam
1/2 tempe atau sesuai selera sesuai persediaan
10 buah cabe keriting (atau kalau suka pedas bisa ditambah dengan cabe rawit. pokoknya sesuai selera saja dah)
2 siung bawang putih
4 siung bawang merah
1 ruas jari laos
gula pasir dan garam secukupnya
minyak goreng untuk menumis

Cara memasak:
- Iris bawang merah, bawang putih, cabe, dan laos. Tumis hingga harum.
- Masukkan irisan gondes, beri sedikit air, tutup wajan, sesekali diaduk, hingga setengah matang.
- Masukkan irisan tempe, gula dan garam, aduk. Tutup hingga matang.
- Udah. Gitu saja. Hehehe... cepat banget dan enak banget. Sajikan dengan dengan peyek dan telur ceplok. Sedappp. Tambah lalapan timun dan tomat.

Wednesday, June 05, 2019

Pernah Ikut Pawai Obor Malam Takbiran, Dulluuu...

Malam takbiran itu selalu membuat aku hanyut dalam beberapa nostagia. Rasanya, kalau sudah masuk Bulan Ramadhan, aku pun menanti-nanti malam takbiran dan menikmati seluruh suasananya yang gemilang. Walau pernah juga mengalami peristiwa tak terlalu menyenangkan saat malam takbir seperti dalam peristiwa ini, tapi tetap saja malam takbiran tuh sangat spesial, berbeda dengan malam-malam yang lain.

Aku sudah Katolik sejak bayi. Bapak ibuku membawaku pada pastur untuk dibaptis saat aku masih berusia beberapa bulan. Tapi waktu masuk sekolah dasar, hingga kelas 3, aku ikut pelajaran agama Islam. Aku sekolah di SDN Grogol 3, Kediri, dan waktu itu di sekolah itu tidak menyediakan guru maupun pelajaran agama Katolik. Jadi sejak aku masuk sekolah aku belajar Iqro, menulis huruf-huruf Arab, juga menghafal doa-doa dasar yang ada dalam agama Islam dan menyalin surat-surat tertentu dari Al Quran walau tak tahu artinya. Tentu saja waktu itu aku hafal syahadat lisan maupun tertulis, juga doa-doa lain yang biasa diucapkan sehari-hari, tahu kisah nabi-nabi juga tembang-tembang Islami. Aku lupa nilaiku di rapot untuk pelajaran agama, tapi seingatku aku bukan yang paling bodoh di kelas untuk pelajaran agama Islam termasuk dalam ulangan-ulangan praktik agama.

Selama mengikuti pelajaran agama Islam itu, aku juga ikut aktifitas yang berkenaan dengannya. Misalnya tiap tahun pasti ikut pawai obor pada malam takbiran. Sore-sore kami sudah heboh seru di halaman sekolah membawa oncor/obor masing-masing. Bapak membuatkanku obor yang tidak terlalu besar sehingga bisa aku pegang dengan kuat. Sudah diisi dengan minyak tanah yang cukup untuk berjalan keliling kampung. 

Suasananya sangat khas. Gegap gempita. Hangat. Alunan takbir dari mulut kami terus menerus berkumandang. Semua orang dalam rombongan anak-anak SD itu bergembira. Tak ada yang mempermasalahkan aku ada di situ karena aku memang bagian dari rombongan itu. Sayang sekali tak ada fotonya ya, tapi aku bisa mengingat hal itu dengan gembira.

Setelah kelas 3, SD tempatku sekolah mendapatkan guru agama Katolik, Bu Tyas. Aku mulai mengikuti pelajaran agama terpisah pada tiap hari Jumat, digabung dengan murid-murid lain dari semua angkatan. Aku antara malas dan senang ikut pelajaran ini. Pertama karena temanku yang sekelas tidak ada, kedua kami tidak mendapatkan kelas sehingga kami memakai teras kantor desa di samping sekolah untuk pelajarannya, ketiga rasanya pelajarannya jadi lebih susah walau lebih familier. Senangnya, pada saat jam pelajaran agama Islam, aku free, boleh melamun-lamun saja atau mencoret-coret sesuka hati di luar kelas.

Walau aku sudah mengikuti pelajaran sesuai keyakinanku, aku tetap boleh ikut pawai obor setiap tahunnya. Dan, tentu saja itu menggembirakan. Ya iyalah. Setiap lebaran selalu menggembirakan dan pawai obor adalah permulaan kegembiraan itu. (Juga tetap ikut dalam ritual-ritual agama Islam yang dirayakan di sekolah, seperti perayaan Maulid Nabi dimana kami membawa makanan dalam besek untuk dikumpulkan, dibagi dan dimakan beramai-ramai.)

Aku ingat, walaupun malam takbiran sudah keliling kampung, besoknya saat lebaran tiba, aku sudah heboh sejak pagi menggunakan baju terbaik. Menyiapkan dompet. Hehehe... dan keliling dari rumah ke rumah. Biasanya aku paling sedikit mendapatkan angpao karena aku paling pemalas untuk pergi dari rumah dibanding kakak atau adikku, tapi toh itu tetap menyenangkan dan kulakukan sampai SMP. Dapat bonus madumongso karena beberapa tetanggaku selalu saja ada yang ingat aku suka madumongso sehingga mereka memberiku secara khusus. 

Di rumah pun, bapak ibuku selalu menyediakan jajanan dan makanan, lebih heboh daripada saat natalan. Orang-orang, saudara dekat jauh, tetangga, rekan kerja, murid atau mantan murid, para tokoh desa dan banyak orang selalu datang ke rumah saat lebaran bahkan hingga hari ke sekian lebaran. 

Aku tetap Katolik sampai sekarang, dan semakin dikuatkan oleh keindahan peristiwa-peristiwa yang kualami, tetap suka mendengarkan Adzan setiap jamnya (favoritku adalah suara Abah, suami Wawak, yang suaranya mengumandang dari masjid dekat rumah), sesekali mengikuti ritual puasa model Islam pada bulan ramadhan, tak peduli mendapatkan ucapan selamat natal atau tidak, senang pada lagu-lagu qosidahan, suka banget pada Jalaluddin Rumi, dan sebagainya. Dan lebaran kali ini pun, aku menikmatinya dengan gembira berucap:"Selamat idul fitri. Mari kita senantiasa fitri."

Rempeyek Kacang ala Yuli Nugrahani

Salah satu makanan favoritku adalah rempeyek atau peyek. Aku cukup cerewet tentang peyek karena aku punya standar rasa untuk peyek yang enak, widihhh. Hehehe... Walau begitu, aku punya banyak resep peyek, kadang-kadang juga sesuka hati saja asal jadi adonan, goreng dan trataaaraaa, jadilah peyek enak. Jadinya resep peyek yang kubuat bisa berubah-ubah.

Ini ini untungnya mencatat resep-resep masakan, biar aku bisa mendata hasil-hasil eksperimen memasakku. Sebenarnya aku suka peyek dengan aneka isian, seperti kacang tanah, kacang hijau, kedelai, kacang tolo, teri, rebon dan sebagainya. Tapi berhubung cowok-cowok di rumah ini sukanya kacang tanah, ya gitu deh. Peyek kacang tanah yang muncul.

Nah, berikut ini salah satu resep peyek yang dijamin kriuk gurih. Hanya sayangnya tak bisa awet. Ya gimana mau awet, wong masih nggoreng saja tangan-tangan dan mulut udah bekerja. Hehehe...

Bahan:
250 gr kacang tanah, iris kasar
300 gr tepung beras
100 gr tepung tapioka
1 butir telur
minyak goreng

Bumbu:
4 siung bawang putih
2 ruang jari kunyit
2 lembar daun jeruk purut (bisa lebih)
2 sendok teh ketumbar
3 biji kemiri
sejumput ebi atau rebon (bisa dihilangkan kalau vegetarian)
sesendok kacang tanah (ebi/rebon atau kacang tanah yang dihaluskan bersama bumbu membuat peyek yang kita buat menjadi lebih gurih.)
garam secukupnya
air secukupnya

Cara memasak:
- Haluskan seluruh bumbu hingga halus. Campurkan pada tepung beras dan tepung tapioka, tambahkan air dan aduk rata.
- Kocok telur lalu tambahkan pada adonan. Aduk rata.
- Panaskan minyak goreng pada wajan besar yang benar-benar bersih. Wajan yang tidak bersih akan membuat peyek lengket.
- Goreng peyek menggunakan pinggiran wajan. Kental encernya adonan mempengaruhi tebal tipisnya peyek. Jadi bisa dicoba-coba dulu di awal untuk menemukan kekentalan adonan yang pas.
- Sebelum masuk ke toples, pastikan bahwa peyek sudah benar-benar dingin.

(Sttt, jangan ditaruh dalam satu toples. Itu bisa jadi malapetaka. Sekali ambil, orang tak akan mampu menghentikan kunyahan hingga habis satu toples. Jadi, menurut pengalamanku, letakkan peyek pada beberapa toples, taruh satu di atas meja, dan yang lainnya simpan tersembunyi dari pandangan mata. Hehehe...)

Resep Bolu Pisang ala Yuli Nugrahani

Bolu Pisang ala Yuli Nugrahani
Punya pisang yang sudah matang di rumah dan mau mengubahnya menjadi santapan legit gurih? Bolu pisang seperti ini bisa dicoba. Yang tidak biasa dibandingkan bolu yang lain, aku tidak menggunakan baking powder tapi menggunakan ragi instan/fermipan. Bikinnya agak lama karena menunggu adonan mengembang, tapi rasanya lebih pas di lidahku. Teksturnya juga okey punya.

Bahan:
5 buah pisang yang sudah matang (cari pisang ambon, raja atau janten. Dalam resep ini aku memakai pisang janten)
1 gelas tepung terigu
4 sendok makan mentega, dicairkan
2 butir telur
10 sendok teh gula pasir
sejumput garam halus
1 sendok teh munjung fermipan
1/2 sendok teh SP (kalau ndak mau, juga tak apa-apa ndak pakai SP. SP hanya untuk emulsifier adonan saja, biar campurannya stabil)
sedikit air
coco chip secukupnya (atau bahan lain yang disuka)

Cara memasak:
- Lumat pisang sampai halus (atau tidak halus juga tak apa. aku malah suka kalau tidak terlalu halus) menggunakan garpu. Campur dengan sedikit air (sekitar 3 sendok makan deh) 2 sendok teh gula pasir dan fermipan.
- Kocok telur, gula pasir yang tersisa dan SP hingga mengembang. Masukkan terigu sedikit demi sedikit sambil dikocok dengan kecepatan rendah.
- Masukkan mentega cair sambil diaduk pelan-pelan memakai spatula.
- Campurkan pisang yang sudah halus dalam adonan, tutup dengan serbet, diamkan sekitar 30 menit sampai mengembang.
- Pindahkan adonan ke loyang (20 cm). Tutup lagi dengan serbet, diamkan sekitar 30 menit.
- Taburkan coco chip ke dalam adonan, lalu panggang dengan api kecil 30 - 45 menit.
- Cek kematangan dengan menusukkan lidi. Bolu sudah matang kalau tak ada adonan yang menempel pada lidi.
- Setelah matang, biarkan tetap dalam cetakan tertutup sampai sekitar 10 menit. Baru kemudian buka tutupnya, iris sesuai selera, dan sajikan. Aku lebih suka disajikan hangat-hangat. Dijamin bolu ini tidak seret di tenggorokan dan bikin nagih.

(Di foto resep, buah ceri/kersen itu hanya untuk pemanis tampilan saja. Hehehe...)

Tuesday, June 04, 2019

Resep Gado-gado ala Yuli Nugrahani

Gado-gado ala Yuli Nugrahani
Beberapa hari lalu waktu aku posting tentang pecel uleg, Mbak Liest nyeletuk di FB bahwa itu adalah gado-gado. Ya, saat aku makan gado-gado di beberapa tempat, memang seperti itulah gado-gadonya. Ya penampakannya, ya rasanya.

Bagiku sendiri, gado-gado yang kusukai memiliki rasa yang sedikit berbeda karena perbedaan cara pengolahan dan isian di dalamnya. Kuingat dulu gado-gado yang paling enak itu di dekat Kampus Brawijaya Malang. Menjadi langgananku sampai lulus. Kalau di Lampung ada yang paling pas di lidah itu ya di warung Merry, daerah Simpur.

Tentu saja yang paling enak adalah buatanku karena memang paling pas dengan seleraku.

Bahan bumbu gado-gado:
2 ons kacang tanah, goreng, haluskan
1 ons kentang, rebus, lumat halus
1 butir kuning telur yang sudah direbus, haluskan
3 siung bawang putih, goreng bersamaan dengan kacang saat kacang hampir mateng
1  cm kencur, goreng bersama dengan bawang putih
1 biji asam yang dibuang bijinya
1 lembar daun jeruk purut
100 cc santan
cabai merah/keriting sesuai selera
garam secukupnya
2 sendok makan gula aren iris
1 sendok teh munjung gula pasir

Cara membuat bumbu gado-gado:
- Haluskan semua bahan di atas, campur semua bahan, aduk rata. Tambahkan air sampai cukup encer kentalnya.
- Rebus hingga meletup-letup dan keluar sedikit minyaknya. Kalau kurang encer tambah dengan air matang hingga encernya sesuai.

Bahan isi gado-gado:
- Kentang, wortel, buncis, kol, sawi putih, atau sayuran apa saja yang disuka (rebus hingga matang)
- Selada, timun, telur rebus, tomat, tempe dan tahu goreng, lontong, iris sesuai selera.
- Untuk taburan, tambahkan bawang goreng, emping mlinjo dan kerupuk.
- Sajikan dengan mencampur semua bahan, siram dengan bumbu gado-gado, lalu tambahkan taburan di atasnya.

Foto di atas, aku memasukkan juga bayam dan kacang panjang, tidak menggunakan taburan apa pun walau saat memakannya aku menambahkan kerupuk udang.

Monday, June 03, 2019

Jebakan Tubuh

Sampah?
Di antara seluruh organ tubuhku, aku menganggap bahwa hidungku bekerja paling sensitif dari antara seluruh bagian tubuhku yang lain. Sedikit saja aroma tertentu menyentuh penciumanku, seluruh tubuhku bisa bereaksi secara luar biasa. Kalau yang hadir itu aroma yang tidak kusukai, seluruh kerja tubuhku akan terganggu, tidak nyaman, menjadi gelisah bahkan akan muntah. Jika yang tercium adalah aroma yang kusuka, walaupun bagi orang lain mungkin aroma itu tidak enak, seluruh tubuhku akan mengembang, bergelenyar dalam semangat yang luar biasa. Tak bisa dibahasakan, tapi itu perasaan dan rasa seluruh tubuh dengan ingatan pada segala hal masa lalu terkait dengan aroma/bau tersebut.

Itu anggapanku dan aku membuktikannya lewat berbagai pengalaman. Aroma tertentu bisa menuntunku pada banyak hal, yang kreatif atau yang menyejukkan, padahal tak ada peristiwa apa pun yang menyertai. Demikian juga sebaliknya aroma tertentu bisa meruntuhkan menghancurkan segala hal, bahkan memporakporandakan pikiran.

Itu tentang hidung, bagian kecil dari seluruh tubuhku. Bagaimana dengan yang lain? Bagian-bagian tubuhku ini bekerja secara spontan berdasarkan banyak pengalaman dalam hidupku. Dengan postur yang seperti ini dan latihan lewat peristiwa-peristiwa selama hidupku, tubuhku bisa merasakan kenyamanan atau kegelisahan karena hal-hal tertentu. Ada banyak 'perintah' dari otakku atau hatiku pada tubuhku. Misalnya karena komitmenku bekerja di keuskupan, maka tubuhku harus berangkat ke kantor pada jam kerja, suka atau tidak suka. Atau ketika hatiku sedang dilingkupi rindu tak ketulungan pada ibu, hatiku memerintahkan tubuhku untuk menelpon ibu, sesegera mungkin.

Tubuhku sangat manja. Dia punya gerak yang kadang-kadang tak kupahami. Malah, bisa jadi dia menjadi pengkianat, menjebakku dalam kebutuhan yang tak masuk akal. Pikiran seperti ini membuatku sangat lemah, mencoba mengolah kesadaran tentang jebakan tubuhku sebagai hal yang positif. Tapi juga berpikir, mengapa harus selalu positif? Apa ukuran positif dan negatif itu?

Otakku. Otakku yang menilai positif dan negatif itu. Bahkan aku (tentu saja dengan tubuhku) sudah melakukan banyak hal yang paling tak masuk akal. Mestikah aku mengoreksinya ketika kesadaran seperti ini muncul, bahwa aku terjebak pada tubuh 'yang butuh', yang berkianat, yang tak semestinya? Di manakah harga tubuhku ini?

Semua tindakan tubuhku punya alasan. Dia mengalir secara bebas dan seringkali spontan, dari hati dan atau otakku. Hingga bergerak, bersuara, memilih, dan sebagainya. Satu kebohongan  besar yang sudah kulakukan, tak bisa kukoreksi hingga saat ini adalah kalimat:"Aku manusia setia." Bahkan aku tak sanggup mengoreksi kebohongan itu pada suamiku, anak-anakku, orang-orang yang bisa melihatku atau berkomunikasi denganku sehari-hari.

Pun dalam kebohongan seperti itu, aku masih marah kalau dikatakan tidak setia. Aku tetap murka dikatakan berbohong. Aku masih menyisakan amukan bila tak dihargai, dikatakan hanya menggunakan tubuh, tak punya harga, bahkan ketika dicerca,"Kau terjebak oleh kebutuhan tubuhmu." atau tudingan "Semua yang kau katakan itu hanya sampah." atau tuduhan,"Kau tak punya cinta." Masih juga muak pada siapa pun yang mengatakan hal seperti itu.

Sepertinya, PR untuk mengenali tubuhku sendiri harus kuteruskan, dengan ritme yang lebih cepat, sebelum masaku menggunakan tubuh yang sekarang ini berakhir. Huft. PR yang berat. Huft.

Pepes Tongkol Bumbu Kacang ala Yuli Nugrahani

Pepes Tongkol Bumbu Kacang ala Yuli Nugrahani
Pepes tongkol atau biasa juga kusebut pelas tongkol, khususnya bumbu kacang termasuk masakan favorit suamiku. Aku mendapatkan resepnya juga karena dia. Yang mengajariku memasak pelas tongkol model ini adalah Mbak Sih, sepupu mas Hendro yang pernah ikut ibu Budi, ibu mas Hendro almarhum. Konon menurut cerita mbak Sih kalau mas Hendro pulang dari kostan atau bepergian, pasti ibu menyediakan menu ini.

Ini resep yang berbeda dari awal ketika mbak Sih ngajarin karena aku menambahkan rempah sedikit lebih banyak, tapi rasanya sama maknyusnya. Anggaplah ini termasuk menu favorit keluarga yang tak pernah kutemui dalam keluarga lain atau bahkan warung, kecuali di daerah Senduro Lumajang sana. Mas Hen selalu bilang ini resep rahasia turun temurun. Hehehe... tapi aku sudah pernah bocorkan resep ini dulu di blog ini juga tahun 2012. Klik sini kalau mau lihat resep yang dulu pernah kubagi. Sama, hanya kadang-kadang aku bereksperimen menambahkan sedikit bumbu atau bahan lain.

Bahan:
6 ekor ikan tongkol ukuran kecil, rebus dengan sedikit garam, cuci bersih dan buang kepala dan durinya
1/4 kg kacang tanah, sangrai/goreng, haluskan
12 lembar daun salam, cuci
12 set daun pisang dan tusuk gigi untuk membungkus

Bumbu halus:
10 siung bawang merah
6 siung bawang putih
2,5 tomat segar
15 cabe merah atau sesuai selera
sedikit jahe
sedikit kunyit
sedikit laos
1/2 batang serai
1 atau 2 lembar daun jeruk purut
garam secukupnya
gula pasir secukupnya
(aku gunakan ukuran sedikit itu untuk ukuran hanya sekitar 1 cm saja, supaya rasanya tidak menonjol biar gurih kacang tanah masih tetap dominan)

Cara memasak:
- Uleg (atau blender kalau lagi males. hehehe) seluruh bumbu, beri sedikit air.
- Campurkan bumbu halus pada kacang tanah, aduk rata.
- Bungkus setengah ikan tongkol, beri alas daun salam, balur dengan bumbu kacang secara merata.
- Kukus kurang lebih 30 menit, atau sampai matang.
- Pepes tongkol pun siap, sudah bisa langsung disantap. Bisa juga dibakar dahulu dengan daunnya baru disajikan. Tapi paling enak pepes model ini digoreng dulu, tiriskan hingga garing, dimakan hangat-hangat. Kalau model Mas Hen atau Bernard, masih ditambah kecap manis.

Untuk lebih jelasnya tunggu ditayangin di chanel youtube Piet Hendro, entar kalau sudah tayang link akan kupasang. Sabar.

Sunday, June 02, 2019

Bukan Catatan tentang Meninggalnya Ani Yudhoyono

Begitu tahu kabar duka, aku spontan melantunkan doa untuk arwah Bu Ani semoga kembali kepada PenciptaNya sebagai jiwa yang suci, diampuni segala dosanya dan menjadi satu dalam Keilahian. Doa itu masih terulang beberapa kalau aku ingat peristiwa duka itu.

Aku tak pernah berniat membuat catatan tentang meninggalnya Ibu Ani Yudhoyono karena aku menganggap doa-doa spontanku itu sudah cukup dan aku memang tak punya kedekatan apa pun tentang perempuan ini. Bahwa Bu Ani sangat populer ya iyalah, dia istri presiden pada suatu masa dan katanya mempunyai beberapa aktifitas positif bagi kemajuan bangsa. Aku tak terlalu paham soal itu karena aku memang tak tertarik mengulik kehidupannya sebagai anak Sarwo Edi maupun sebagai istri SBY.

Jadi kenapa nulis di blog tentang beliau? Tidak. Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja tiba-tiba aku memikirkan soal kematian. Dan peristiwa paling heboh terkait dengan kematian sekarang ini di Indonesia ya mau tidak mau mesti dikaitkan dengan Ani Yudhoyono. Lihat saja betapa banyak wartawan berlomba-lomba menuliskan hal-hal baik terkait dengan perempuan ini. Bahkan yang dulu mungkin pernah mencercanya, sekarang memuji-muji segala hal terkait beliau.

Begitulah kematian itu bisa membalik penilaian-penilaian. Seseorang tidak pernah tampak baik saat masih hidup. Dia dicela-cela, dikritik, diejek, tapi begitu meninggal, yang tampak kemudian adalah hal-hal baik yang ada padanya. Sejak dulu hal baik itu ada tapi tidak pernah ditonjolkan, tapi setelah mati, orang kayaknya takut bicara yang jelek-jelek tentang orang itu. Atau mungkin bukan takut, tapi berpikir ya apa gunanya lagi ngomong yang jelek wong sudah meninggal ini.

Aku jadi berpikir, seharusnya aku mulai melihat hal-hal baik saja dari orang-orang yang kukenal. Toh dampaknya akan lebih baik jika aku lakukan begitu daripada aku melihat hal-hal jelek yang nanti akan aku tutupi kalau orang itu mati. Tapi melakukan hal seperti itu tak mudah. Kalau orang itu masih ada, selalu ada alasan menjengkelkan untuk menampakkan keburukan-keburukan. Dan tak mungkin mendoakan semoga kematian segera hadir supaya semuanya berbalik. Ahhh, tidak boleh begitu.

Rosario Murah Meriah Boleh Nawar Boleh Minta

Liburan 10 hari kudu dimanfaatkan dalam keheningan yang relax. Dapat bonusnya kalau mengerjakan hal-hal yang tak biasa. Salah satunya membuat untaian rosario. Ini sudah kurencanakan dari beberapa bulan yang lalu dan inilah waktu yang cocok untuk melakukannya. Maka beberapa hari sebelum libur aku sudah mencari informasi di mana aku bisa mendapatkan bahan-bahan untuk membuat rosario selengkap-lengkapnya.

Belanja pertama ke Mbak Wanti yang memang sehari-hari membuat dan menerima pesanan rosario segala jenis. Pasti punya bahan yang banyak jadi aku bisa nempil salib dan harces kecil yang bagus. Tak usah banyak-banyak dulu wong ini juga masih nanting tangan dan mata, sanggup ndak aku bertahan telaten mengerjakan pernak-pernik macam gini. Ndak aku banget. Tapi aku butuh melakukan hal semacam ini supaya aku bisa hening.

Nah, setelah salib dan harces kudapatkan, aku ke toko pernak-pernik. Semua orang menyarankan ke toko Adika, tapi rupanya toko itu sudah tutup. Huhuu... jadilah hunting di sekitar Bambu Kuning. Dari situ aku bisa mendapatkan senar ukuran kecil yang cocok. Monte-monte segala ukuran segala warna segala bentuk. Modal liburan tenang pun tersedia.

Yang aku tak nyangka, ketika sabtu aku mulai menyiapkan bahan-bahan itu, dan kemudian menowel cowok-cowok di rumah, mereka mulai memegang-megang bahan-bahan itu. "Ibu beri reward untuk tiap rosario yang kalian buat. Pokoke rapi dan jumlah montenya tak salah."

Jadilah workshop itu. Empat orang sampai dini hari membuat untaian-untaian cantik ini. Rapi dan cantik. Jadi 12 buah di hari pertama, dan kami semua menikmati njenggruk di meja yang sama.

Akan diapain rosario-rosario ini? Pertama untuk acara keluarga, bisa jadi sovenir yang bagus. Kedua untuk disumbangkan ke siapa yang membutuhkan sarana doa. Ketiga, dijual donggg.... Ini kan bagus. Jadi yang berminat beli, sumonggo. Harga bisa disesuaikan dengan budget, jangan segan nawar. Tapi kalau beli sebisanya jumlah yang banyak ya. Jangan cuma satu atau dua. Ya minimal selusin lah....

Resep Pecel Uleg ala Yuli Nugrahani

Penampakan pecel pesanan Bernard. Cabai 1, tanpa tempe,
tanpa bawang goreng, tanpa kerupuk.
Katanya di suapan pertama:"Lezattt..."
Pecel termasuk makanan favoritku dari dulu. Biasanya sih aku lebih suka pecel siram khas Madiun atau Blitar atau Kediri. Dimakan sebagai lauk nasi, tambah peyek atau krupuk, plus tahu dan tempe goreng. Minumnya teh anget.

Nah, tapi pecel uleg ternyata juga tak kalah enak. Maka akhir-akhir ini pecel uleg ini sering kulirik. Walau ribet dan bikin capek ya sering kubuat sebagai menu sedap dari dapurku. Ribet karena memang mbikinnya nih pating krenih, banyak yang harus dikerjakan. Capek karena setiap kali ada yang mau makan, mesti nguleg dulu, ngracik dulu, baru bisa disantap.

Nah, hari libur keempat, menu ini pas untuk disajikan. Bahan-bahan pun lengkap ada di rumah. Pertama-tama yang harus dikerjakan adalah membuat lontong. Pagi tadi tak ada daun pisang yang bisa kutemukan, maka lontong kukerjakan begitu bangun tidur menggunakan kantong plastik seperempatan.

Bahan lontong:
4 plastik seperempatan kilo
4 canting beras dicuci dan ditiriskan (1 canting beras tadi kutakar kira-kira 7 sendok makan)

Cara memasak:
- Masukkan beras 7 sendok ke dalam plastik. Ikat kuat (aku menggunakan kabel kecil yang bisa kupuntir kuat). Ukuran beras adalah 2/3 dari bungkus yang kita gunakan. Jadi kalau menggunakan daun, atau ketupat, atau plastik ukuran lain, sesuaikan saja banyaknya beras yang dimasukkan.
- Masak dengan air yang penuh sekitar 2 jam. Sesekali tengok kalau air menyusut bisa ditambahkan air lagi.
- Tiriskan dan biarkan dingin. Kalau lontong belum dingin, dia akan ambyar saat diiris. Jadi setelah dingin baru bisa disajikan dengan cantik.

(Begitu lontong matang, ehhh, malah dapat daun pisang segar nan bagus. Tetep kusimpan daunnya untuk resep yang lainnya nanti. Silakan tunggu menu apa lagi yang akan kuhadirkan. Hehehe.)

Bahan bumbu pecel:
kacang tanah goreng
bawang putih secukupnya (goreng bersama dengan kacang tanah saat kacang hampir matang)
kencur secukupnya (goreng bersamaan dengan bawang putih)
cabai rawit
daun jeruk purut, cuci bersih
gula aren
asem jawa, larutkan dengan air panas
garam secukupnya

Bahan pelengkap:
dedaunan sesuka hati, paling kusukai kacang panjang, bayam, tauge, kol, rebus
tahu goreng
tempe goreng
timun
kerupuk

Cara memasak dan menyajikan:
- 1 siung bawang putih goreng, 1 cm kencur goreng, cabai rawit sesuai selera, garam setengah sendok teh, setengah daun jeruk purut, uleg hingga halus.
- Tambahkan kacang tanah yang sudah digoreng 4 sendok makan munjung, uleg hingga halus
- Tambahkan irisan gula aren 2 sendok makan dan larutkan dengan menggunakan air asem jawa. Aduk hingga merata, incip pas belum asinnya dan rasanya.
- Lontong, tahu, tempe dan timun, iris yang rapi. Tambahkan sayuran yang disukai, aduk.
- Sajikan dalam piring, beri taburan bawang goreng kalau suka, plus kerupuk, terserah krupuk apa pun.

Cukup ribet to? Kalau ndak mau ribet, monggo, boleh pesan ke Yuli Nugrahani. Pesannya satu hari sebelumnya ya. Satu porsi cukup mahal sih, tapi boleh tak bayar kalau sedang tak punya uang.

Saturday, June 01, 2019

Resep Ikan Mas Bakar Sambel Kecap ala Yuli Nugrahani

Pagi-pagi hari libur ketiga aku sensi poll. Mikir apa saja kok salah. Berkata apa saja kok ndak bener. Melihat apa pun tak ada yang pas. Pokoke pengin uring-uringan tapi tak tahu alasan yang tepat apa.

Nah, udah gitu ditambahi pula dengan peristiwa di warung sayur. Pertama, pesan kencur ke Sari si penjual, dia bilang kalau kencur tak ada. "Mahal, mbak. Aku beli se ons tak dibolehin sama penjual di pasar. Lha njenengan hanya pesan se ons, kalau aku beli setengah kilo sisanya kupakai untuk apa?"

"Memang harga kencur berapa?"

"Sekitar 100 ribu rupiah per kilonya. Aku ndak berani ambil." Yaelahhh... Jadi aku ngremus apa hari ini kalau tak ada kencur? Ngremus ndase sopo? Huh.

Kedua, aku minta tiga ekor ikan mas ke Sari. Aku bilang beberapa kali,"Jangan dibersihkan. Biar hidup saja, langsung masukin plastik seperti itu. Aku akan memasaknya untuk sore, biar segar." Biasanya ikan yang kubeli segar gitu asal tak ada luka, pasti tetep hidup hingga sore. Tinggal kumasukin ke baskom besar, kasih air cukup. Pas sudah pengin masak, baru disiangi bersih. Jadi tetap segar.

Ehhh, si suaminya Sari, tahu-tahu udah ngepentung ikan. Siap mau dibelah. "Lah, kan udah kubilang bolak-balik lho, biar gitu saja." Itulah saking baiknya orang, biar aku ndak repot. Duh, jadinya satu atau dua ikan itu pun udah klenger saat dimasukin plastik. Sesampai di rumah, ketika aku taruh di baskom, aku tunggu beberapa saat, hanya satu ekor yang masih gesit segar berenang. Yang dua ekor udah klepek-klepek.

Suami dengan sabar bilang,"Udah, masak sekarang saja. Biar tetap segar." Huhh, okey dehhhh....

Bahan:
3 ekor ikan, belah dan bersihkan, lumuri dengan air jeruk nipis

Bumbu halus:
2 siung bawang putih
seruas jari jahe
seruas jari kunyit
sedikit ketumbar bubuk
garam secukupnya

Cara memasak:
- Ulek bumbu halus, beri air sedikit dan lumurkan pada ikan secara merata.
- Panggang di atas api sedang (aku sih memanggangnya di atas kompor, pas di atas api. Ini cara yang paling praktis, tapi memang lamaaa... Harus telaten memutar, membalik, sampai matang)

Sajikan ikan yang sudah matang dengan timun dan sambel kecap. Sambel kecap yang kubuat sangat mudah. Iris tipis cabe rawit sesuai selera dan satu siung bawang merah (iris tipis juga). Tambah dengan sedikit air matang, lalu beri kecap. Kalau ada, bisa ditambah irisan tomat segar.

Gituuuuu....