Wednesday, October 31, 2012

Bernard Sandyatma

Sebenarnya aku tidak pernah terima pesanan menulis untuk blogku sendiri. Tulisan di blog aku isi sesuka hatiku, tentang apapun saja sesuai rasa dan pikirku saat menuliskannya. Tapi sebuah permintaan manis diucapkan setelah mencium pipi saat aku mulai membuka netbook.
"Tulis tentang aku, ibu. Jangan tentang Yuli Nugrahani terus."
Hah. Kan sering aku menulis tentang Bernard?
"Tapi sekarang tidak menulis tentang Bernard kan? Jadi tulis tentang Bernard Sandyatma."
Wuih, permintaan yang sulit ditolak.
"Okey. Ibu akan tulis. Tentang Bernard saja?"
"Iya. Tentang Bernard saja." Hening sejenak lalu melanjutkan,"Juga bersama Elpen, Turtle, Dolpino, Lion, Snopi,..."
Ooh.
"Okey."
Tapi bener lo ya, harus setuju bahwa ibu sering menulis tentang Bernard juga. Misal, cek di sini, atau di sini, juga di sini, lalu di sini, ada juga di sini, di sini, di sini, dan buanyak lain yang kalau aku link semua, habis ruangnya.
Bercerita tentang Bernard memang tidak ada habis-habisnya. Sejak aku sadari dia ada dalam perut, sudah banyak kisah yang menyertainya. Soal duren berkarung-karung yang kumakan tanpa sadar ada dia di rahim, sudah 4 bulan baru ketahuan karena memang sejak melahirkan Albert aku tidak mens, lalu tidak percaya juga saat sudah hamil, dan sebagainya.
Bahkan saat akan melahirkan Bernard, aku masih bekerja pada hari Sabtu, menyerahkan surat cuti siang, lalu belanja gila-gilaan di Matahari keperluan melahirkan. Dan hari Minggunya, dia lahir! Siang hari, dengan proses yang cepat nyaris tidak sakit. Kekuatan penuh dari Bernard bayi yang lahir dengan berat 3,9 kg (super gede) dan panjang 53 cm.
Dia bayi yang manis. Aku coba cari softcopy foto bayinya belum ketemu. Tapi ada beberapa foto dia masih beberapa tahun. Masih imut hingga sekarang ini. Lihat parade foto berikut :
Malu tapi mau.



Suka permen, coklat, dll yg manis.
Anteng.
Senyumnya...




Dia begitu manis kan? Sekarang umurnya sudah 9 tahun pada 26 Oktober lalu. Dia meminta aku mengajak makan bersama di Kampoeng Bamboe dan kado kejutan dari bapaknya, dan ditambah surprise kecil dari kakaknya.
Ah, aku kira dia akan tetap menjadi manusia manis (offcourse dengan kenakalan-kenakalannya juga) sampai kapanpun.
"Doaku untukmu, nak. Kau punya hidup sendiri yang akan kau jalani sampai nanti. Warnai sesukamu. Muah."

Wajahnya semakin dewasa, ok?


Nah, aku tahu tulisan ini pasti diprotes, lihat saja. Tentang Elpen, Turtle dll belum dimuat. Ya, ya, mereka adalah kesayangan Bernard. Binatang-binatang adalah kesayangannya. Yang hidup maupun yang boneka, adalah teman-temannya.
"Elpen (si gajah) adalah teman baikku sekarang ini. Dia menemani aku kalau tidak ada orang di rumah."
Ehmm, ya. Karena dia masuk sekolah siang jam 12, maka tiap pagi dia menghabiskan waktu bersama Elpen, sebelum Wawak datang atau Oom Khairil menjemputnya. Kapan-kapan aku tulis lagi tentang Bernard dan kawan-kawan itu ya... Love you so much, son.

Tuesday, October 30, 2012

Tangis dan Doa untuk Balinuraga, Agom dan sekitarnya

Ini sudah kesekian kalinya.
Aku tak mau mencap, Lampung atau Bali.
Jawa atau Batak.
Lurus atau keriting.

Ini soal manusia-manusia tidak paham.
Hanya satu kata bogem melayang.
Lalu dibalas dengan ratusan pukulan.
Menjadi ribuan tusukan.
Dan kemudian jutaan tangisan.

Satu nyawa begitu berharga.
Ini belasan? Puluhan?

Aku menangis dan berdoa untuk Balinuraga dan Agom dan juga sekitarnya. Tak tahu berapa persis korban yang sudah ada, tapi jelas ada korban tak terhingga. Mari kendalikan diri. Apa yang dicari? Balas dendam? Akan pernah cukupkah dendam terbalas untuk sampai pada hakekat?

Monday, October 29, 2012

Difitnah Arwah

duduk bersila di beranda belakang
seseorang menggelitik kakiku
tak bergeming tak berasa, hanya tertawa
siulan angin menambah geli

..., hanya tertawa
"bahasamu terbatas.
bukan teman bukan lawan.
jangan bersuara."

melanjutkan sila di beranda belakang
ingin abai dan ingin lupa
ketidakpekaanku tak tahu makna
jadi hanya tertawa
"bahasamu terbatas.
bukan teman bukan lawan.
jangan bersuara."

para malaikat kuundang
lindungi aku, amankan aku
roh ilahi tutupi aku
dalam semadi bersila
juga dalam jalan gerak
terlebih untuk berdoa
"bagimu yang punya bahasa terbatas."

Thursday, October 25, 2012

My Homework : Discernment

Sudah beberapa masa yang lalu aku mulai menulis tentang discernment. Tiap hari aku ulak-alik, aku geluti dengan merenungkan ke dalam, maupun mencari keluar. Keluar masuk web, menjumpai beberapa orang, membaca buku, dan sebagainya. Aku sudah mendapat beberapa pointnya, tapi aku belum puas. Maka rumusan yang sudah kubuat belum aku siap juga untuk dipublish.
Salah satu arti kata discernment adalah  the mental ability to understand and discriminate between relations. Di kalangan para rohaniwan, kata ini sangat familier dikaitkan dengan pembedaan roh, pembedaan spirit. Membedakan roh yang mendorong seseorang, apakah roh ilahi atau roh lain, roh baik atau roh jahat. Ini soal dalam diri manusia, yang kemudian menentukan seseorang memutuskan untuk bertindak sesuatu. Tentu aku yang bukan rohaniwan boleh saja berpikir lebih luas tentang pembedaan spirit ini. Sejak tahun 2000-an secara tak sengaja melalui Hotniati Simamora (sekarang Sr. Erika) aku mengenal istilah pemurnian motivasi. Aku memakai kata ini untuk meneliti diri : Sungguhkah motivasiku sudah murni? Atau adakah sesuatu yang tersembunyi dalam tindak dan pikirku? Tiga hal yang aku pernah tulis yaitu seks, uang dan kekuasaan, adalah motivasi dasar yang paling penting untuk diperhitungkan.
Tapi aku sedang berpikir juga, apakah mungkin istilah ini dipakai untuk sesuatu yang lebih 'keluar'. Jadi bukan hanya soal kemampuan untuk menilai spirit pribadi, namun juga untuk melihat roh-roh lain yang ada di sekitar manusia. Kebetulan sekali sekarang menjelang 2 Nopember, yang seringkali dipakai untuk berdoa bagi para arwah. Apakah teori discernment juga dapat digunakan untuk membedakan roh-roh yang berada di sekitar manusia, apakah mereka arwah ataukah bala Lucifer? Apakah mereka termasuk yang perlu bantuan kita atau termasuk yang perlu dihindari? Perlu dibantu karena mereka adalah jiwa-jiwa perindu damai abadi serba gelisah gentayangan. Mungkin sebagian di antara mereka sudah putus asa menutup diri. Sedang yang perlu dihindari, karena mereka datang untuk memanipulasi otak manusia, memasang teori-teori dalam otak untuk membenarkan kejahatan. Untuk membawa manusia pada kejahatan, secara pelan-pelan, sehingga manusia mengamininya, seolah-olah kebenaran.
Sementara aku pakai istilah sederhanaku saja : pemurnian motivasi. Ini lebih mudah ukurannya secara personal ke dalam (Ih, mudah apanya. Sebanyak ini ubanku juga masih bergelut dengan hal itu.). Istilah discernment aku simpan dulu. Pertanyaanku terlalu banyak untuk istilah ini, maka pekerjaan rumahku tak sudah selesai juga. Masih tersimpan dalam folder draft, entah sampai kapan bisa tuntas walau setiap hari aku ulik. Terlalu banyak banyak yang mesti kucari, kugali, juga terkait dengan beberapa peristiwa yang aku alami akhir-akhir ini. Mungkin sengaja peristiwa-peristiwa itu diberlakukan padaku dalam rangka pendalaman tentang hal ini. Ah, terlalu berat. Ampun. Jika PRku sudah seberat ini, bagaimana ujianku nanti? Yang Maha Ilahi, kasihanilah aku.

Wednesday, October 24, 2012

Bunga-bunga Mekar di Hujan Pertama

Sekitar rumahku sedang semarak dengan bunga-bunga yang mekar usai hujan-hujan pertama bulan ini. 
Aku foto sebagian untuk diabadikan dan dibagikan. 

Anggrek tanah ungu.

Peace Lily putih.

Bougenville.

Bunga kupu-kupu

Ballon plant, alias bunga balon.

Euphoria, merah dan pink yang bersanding.

Tapak dara merah.

Kemuning

Lely atau lily.

Kamboja jepang.

Soka

Entah apa ini namanya ya. Bunganya keluar seperti buah dan tidak pandang musim. 
Konon bisa dipakai untuk obat kanker.

Bunga jambu jamaika pertama

Bunga rampai alias tomat cerry.

Bunga anggur yang mulai muncul bersamaan dengan kuncup.

Tuesday, October 23, 2012

Pepes Tongkol Bumbu Kacang

Pepes tongkol biasanya dibumbu kemiri atau kelapa dengan ramuan tomat yang membuatnya segar. Nah, ada pepes tongkol yang sedikit tidak biasa. Aku makan pertama kalinya di daerah Senduro, Lumajang, yaitu pepes tongkol bumbu kacang. Kemiri atau kelapa muda diganti dengan kacang tanah yang sudah disangrai dan dihaluskan. Biasanya bumbunya sangat ringan sederhana, hanya bawang merah, bawang putih, cabai merah buang bijinya, tomat, daun jeruk purut ditambah sedikit kencur, gula dan garam. Karena ini adalah makanan kesukaan Den Hendro sejak masa kecilnya, maka aku sering memasak tongkol dengan cara ini. Yang ngajari aku adalah Mbak Sih, saudara sepupunya yang lama ikut keluarga Den Hendro, sehingga dijamin rasanya mirip dengan buatan ibunda almarhum.
Kali ini aku membuat resepnya lebih medok sehingga gurih pedes asem manisnya lebih terasa, dan bau amis ikan tongkolnya hilang. Ssst, sudah pernah kubilang kan kalau aku suka eksperimen masakan? Eksperimen kali ini pasti bikin mata merem melek ludah mengumpul sebelum menyantapnya. Nih, simak resepnya dan silakan mencoba.

Bahan :
1/2 kg ikan tongkol segar, bisa kecil atau besar.
1 ons kacang tanah sangrai, haluskan
4 siung bawang merah
3 siung bawang putih
5 buah cabai merah
2 buah tomat merah besar
1 ruas jari jahe
1 ruas jari kunyit
1/2 cm kencur
1 sendok teh gula pasir
1/2 sendok teh garam
1/2 sendok teh ketumbar bubuk
1/4 sendok teh lada bubuk
1 helai daun jeruk purut segar yang lebar
50 ml air
daun pisang dan lidi untuk membungkus

Cara memasak :
Bersihkan ikan dan rebus sekitar 10 menit. Siram dengan air dingin dan ambil dagingnya (singkirkan duri dan kepalanya).
Haluskan semua bumbu. Bisa ditambah cabai rawit jika suka pedas.
Campurkan bumbu halus dengan kacang tanah yang sudah halus.
Tambahkan air sehingga agak basah.
Masukkan ikan tongkol hingga semua terbalur bumbu.
Bungkus dengan daun pisang, bisa ditambah dengan cabai rawit utuh, daun kemangi dan irisan belimbing/tomat jika suka.
Kukus selama 30 menit.
Pepes tongkol bumbu kacang siap dihidangkan.
Selain langsung disantap dengan nasi, pepes ini bisa dihidangkan dengan cara digoreng dahulu dengan sedikit minyak (buka bungkusnya). Hasilnya jadi lebih crunchy. Atau dibakar dulu di atas arang (dengan bungkusnya). Yummy!

** Jika mau pesan yang sudah matang, silakan kontak di 0721-774214 pada jam 05.00 - 07.15 (pagi) atau jam 18.00 - 21.00 (malam). Hanya melayani khusus daerah Bandarlampung dan Hajimena, pengantaran gratis, harga 1 porsi Rp. 9.000,- tanpa nasi atau Rp. 13.000,- dengan nasi + lalapan, minimal pemesanan 5 porsi. Akan diantar paling cepat 24 jam setelah pemesanan. Dibayar begitu makanan sampai tempat kecuali untuk pemesanan di atas 10 porsi. Juga menerima pesanan pepes apapun yang diinginkan dengan harga dan cara pemesanan yang sama.

Monday, October 22, 2012

Menjadi Elang yang Terbang Tinggi

Jumat, 19 Oktober lalu aku menjadi tamu Indri di kelasnya, di hadapan puluhan mahasiswa semester lima fakultas FISIP, Universitas Lampung. Mereka sedang belajar dalam mata kuliah Pengembangan Organisasi dan Indri memintaku untuk memandu para mahasiswa untuk melihat satu aspek dalam organisasi yaitu : individu. Organisasi sebagai kumpulan dari individu-individu akan berjalan ke arah tujuan dengan keterlibatan dan partisipasi individu-individu. Bagaimana individu bisa efektif memberi kontribusi? Pertama-tama, dengan mengenali diri dan melihat mana yang bisa disumbangkan atau dikembangkan.
Lagi nggambleh, eh nggedobos...
Aku tulis judul materiku : Menjadi Elang yang Terbang Tinggi. Hahaha, pokoke gak ilmiah banget deh. Dan mana bisa si Yuli ini bicara yang ilmiah? Hehehe...maka, walau di depan akademisi, para mahasiswa yang haus akan ilmu, hehehe, aku hanya bercerita tentang dongeng-dongeng. Dongeng yang biasa saja, yang dipakai oleh ibu-ibu untuk menidurkan bayi. Kisah pertama tentang nasib anak elang yang menetas di sarang ayam, yang rindu ingin terbang seperti elang sampai akhir hayatnya tanpa pernah tahu bahwa dia sebenarnya adalah elang yang bisa terbang sama seperti elang-elang lain. Kisah kedua tentang perjalanan sebotol air minum dari pabrik yang sama tapi punya harga berbeda tergantung dimana dia dijual. Di terminal, di salon, di restoran, di hotel berbintang? Dan kisah ketiga aku lagukan sambil mendengarkan dendang Sita, pada lagu Donna, Donna. Tentang anak sapi yang mengeluh, burung layang-layang yang terbang tinggi, dan petani yang menghardik suruh memilih mau jadi anak sapi atau burung layang-layang.
Ya, hanya berdongeng sepanjang 1,5 jam di bagian awal, tengah dan akhir. Selebihnya nggambleh (istilah Indri), nggedobos (istilahku), atau kuliah (menurut istilah mahasiswa). Hehehe. Tentang menganalisa diri sendiri melalui analisa paling sederhana, analisa SWOT. Mereka aku bawain toolnya sehingga bisa langsung berlatih di kelas. Lalu mengambil teorinya Stephen Covey tentang 7 Habits plus yang ke 8. Dilengkapi ajakan-ajakan untuk melihat diri sendiri dalam relasi dengan Ilahi dan semesta raya. Begitulah.
Menarik, selalu menarik. Bertemu orang-orang muda yang dinamis bergerak, boleh salah, syukur kalau bener, adalah sesuatu yang menarik. Kapan aku diundang lagi, Ndri? Terimakasih ya sudah boleh ndobos di kelasmu.

Friday, October 19, 2012

Mantra 3

Bersama damper baby, si penyeimbang Taipei 101.
"swa tra bi lu kasi mang
aws art ib ul isak gnma"
komat kamit tamok timak

langkah sudah tak ingin henti
perempuan memantapkan pandangan
jeda di keranjang diremas menjadi niat
dicampur dengan perasan mata
dan dicuilnya sedikit hati
dua lengan diayunnya bagai penyeimbang

ini lelaku terakhir putaran purnama
mantra diucap saat dupa dipatahkan

"swa tra bi lu kasi mang
aws art ib ul isak gnma"
komat kamit tamok timak

perempuan  mengingat semadi
yang akan diulanginya nanti
saat purnama baru sudah muncul

(Keterangan foto :
Si bulat 'imut' itu adalah icon The Damper Baby, bola raksasa di belakang kami itu. Bola dari logam seberat 660 ton itu menjadi penyeimbang supaya orang yang berada di gedung tertinggi di Taiwan, Taipei 101 Building yang tingginya sekitar 500-an meter tidak merasakan guncangan saat angin menerpa. Setinggi itu, jadi pasti gedung ini bisa berayun berguncang. The damper babylah penjaganya.)

Thursday, October 18, 2012

Mantra 2

menjejak tanah dengan asta terkatup
perempuan merubah mantra
'sun ora kelara, sun bisa lelunga'
mangalsutra dilepas
ditaburnya manik bunga

payalnya tak lagi berbunyi
'sun ora kelara, sun bisa lelunga'
mantra berulang di bibirnya

tali mangalsutra
jadi pengikat rambut

dia memulai dari tempat itu

Wednesday, October 17, 2012

Mantra

kata mantra beruap dupa
mendorong jendela terbuka
perempuan duduk di bingkainya
"aku tidak mau melakukannya!"
tangannya memunguti jeda
bertebaran di luar, di dalam
jeda-jeda beranak berpinak
satu beranak satu
satu berpinak satu
saat keranjang jeda sudah penuh
perempuan melihat ke luar, ke dalam
"aku tidak mau melakukannya"
sebagai kata mantra beruap, berulang

perempuan harus turun dari bingkai jendela
entah di luar, atau di dalam

Tuesday, October 16, 2012

Salah Sangka

Anak sulungku, Albert mendapat tugas dari guru seninya untuk menghafal satu lagu bahasa Inggris. Aku merekomendasikan beberapa lagu. Misal, lagu Twingkle Twingkle Litle Star, Uncle John, dll.
"Memang aku anak kecil. Itu kan lagu anak kecil."
"Lho, Albert mau lagu apa?"
"Apa saja yang keren."
"Ooo."
Jadi aku mencoba merekomendasikan lagu-lagu lain.
"Nah, ini lumayan, Donna Donna."
"Lagu apaan itu?"
Aku promosikan liriknya yang bagus tentang anak sapi dan burung layang-layang. Dia geleng-geleng.
"Mother How Are You Today."
"Memang aku anak cewek."
"Lalu apa dong."
Dia tidak menjawab. Sorenya dia minta dicariin lagunya Adele, Someone Like You. Ha? Serius nih?
Lalu besoknya lagi dia minta dicariin lagunya Avenged Sefenfold. Aku lebih mendelik lagi. Are serious, my son? Lalu dia sodorin beberapa judul Dear God, Afterlife, Nightmare dll. Astaga. Tidak nyangka dia tahu lagu-lagu macam itu.
"Aku punya gambarnya juga logonya. Stikernya. Nih."
Dia tunjukin stiker gambar tengkorak bersayap. Ah memang aku yang salah sangka.
Albert Ardiyatma, rupanya kau memang bukan anak kecil lagi.

Monday, October 15, 2012

Mawas Diri

Mawas diri hanya bisa dilakukan dengan landasan kesadaran diri. Menyadari aku ini sedang apa, di mana, bagaimana, apa, mengapa, dan kapan. Kesadaran ini membawaku untuk tahu secara persis 'posisi'ku sekarang ini. Gambaran umum sekarang ini aku sedang duduk, menyalakan komputer, dan ingin menulis sesuatu tentang mawas diri. Aku memakai rok kotak-kotak dengan atasan putih, sepatu yang aku injak bagian belakangnya dengan jari-jari kaki. Rambutku aku kuncir dengan karet hitam, dengan mata tak lepas dari monitor tapi pikiran sedang kosong menari-menari entah.
Kalaupun sekarang aku ingin menulis sesuatu tentang mawas diri, ini bukan sebuah konsep mendalam yang sudah selesai aku kupas kulit-kulitnya. Justru aku masih memegang kulit-kulitnya, merabainya, menciuminya. Tentu bukan tanpa alasan. Beberapa hari ini aku merasakan lesu tidak bergairah tentang apapun walau aku menjalani banyak hal. Biasanya memang ini yang kulakukan jika aku sedang bad mood. Sudah, bergerak saja, lakukan saja kewajiban-kewajiban rutin, tidak usah pikir. Hal seperti itu harusnya hanya dilakukan sebentar, saat memang pikiran malah merusak seluruh tindakan. Namun jika dibiarkan berlarut-larut, bergerak tanpa berpikir adalah kebodohan. Tidak boleh diteruskan.
Lalu kejadian-kejadian 'sial' menurut pandangan manusiawi terjadi. Kehilangan uang, ditilang polisi, ATM macet dengan saldo berkurang, menyesal setelah belanja tanpa hitungan, mimpi buruk tiga malam berturut-turut, dll. Hanya dalam tiga hari semua itu terjadi, di saat rumah ditambahi pekerjaan rumah tangga nyuci, nyeterika, nyapu, ngepel, karena Wawak pergi ke Palembang untuk urusan keluarga. Badan dan jiwa lebur dalam capek, lesu. Aduh.
Aku terpancang pada dua kata itu : mawas diri. Lalu apa? Aku belum mudheng. Sepertinya aku harus duduk hening. Apa yang bisa kulakukan dengan intuisi 'mawas diri' yang sekarang sedang mengempis mengembang dengan kulit-kulitnya yang rapat di tanganku? Apa yang bisa kupikirkan?

Friday, October 12, 2012

Enaknya Ngopi

Aku bukan penggila kopi. Minum kopi hanya kulakukan sesekali. Biasanya saat kerjaan numpuk dan ingin istirahat barang 10 menit tanpa melakukan apa-apa, nah kopi adalah teman yang tepat. Atau bangun tidur, tidak minat apa-apa sedangkan pengin melakukan banyak hal, nah 10 menit bersama kopi akan menyegarkan. Atau kalau sedang ingin bertahan melek tapi tidak ada teman ngobrol maka cepat jerang air dan ngopi. Maka ngopi tidak kulakukan secara rutin. Dan aku paling menikmati kopi plus susu atau krem dengan gula yang tidak terlalu banyak. Kopi hitam terlalu keras bagiku.
Nah siang ini, (12/10) ajakan ngopi dengan dua teman aku terima dengan senang hati. Mereka memilih The Coffee untuk tempat kencan. Cafe ini terletak di Way Sungkai, Pahoman, Bandarlampung. Tempat yang tepat untuk ngobrol ngalor ngidul. Dan cappucino-nya enak. Mungkin memang sedikit lebih mahal dari tempat serupa di Lampung, tapi karena ini kencan traktiran tentu aku menikmati sepenuh hati. Apalagi bisa ngobrol dengan diiringi musik lirih dan tempat yang tenang.
Kebetulan sekali, di tengah-tengah kami menikmati kopi, Acen pemiliknya keluar dan bergabung bersama kami. Cerita pun berkembang apalagi kemudian dia mengenalkan 'kekayaan-kekayaan'nya, istri, anak, cucu. Hmmm, keluarga yang menarik. Pun mendengar sekilas perjalanan 'warung kopi' yang baru 2 hari yang lalu merayakan 2 tahunnya ini. 10 Oktober memang hari lahir 'anak'nya Acen ini.
Jadi, apa enaknya ngopi? Ya, aku menikmati secangkir cappucino yang tidak terlalu manis. Tapi tentu saja ini menjadi lebih nikmat karena obrolan dan pandangan. Tidak usah buru-buru, nikmati saja. Seruput pelan-pelan saat kopi masih panas, hingga di teguk terakhir saat kopi sudah dingin. Saat giliranku bicara, aku pegang gagang cangkir menikmati hangatnya merambat di telapak. Saat aku mendengarkan, aku seruput kopi sembari menatap yang sedang bicara. Tentu sambil senyum, karena kopi sangat tidak enak dinikmati sambil cemberut.

Thursday, October 11, 2012

Apa yang Terjadi Nanti?

Tiba-tiba aku sudah kembali nonton Shah Rukh Khan, setelah sekian lama tak muncul di tv Indonesia. Yang ini adalah Kal Ho Naa Hoo. Di awal aku setengah lupa, ini film yang mana ya. Tapi kemudian aku ingat, ooo, yang itu. Jelas pernah nonton. Alhasil aku menonton sampai menangis. Iya, ini patokannya.
"Udah malam, cepat tidur." Jam sudah lewat 00.00. Den Hendro yang sudah tak tahan menemani, beralih ke kamar setelah mendengar jawabanku.
"Tunggu, sampai nangis dong. Nonton Shah Rukh Khan harus sampai menangis, bukan sampai jam berapa." Hehehe, sambil terbengong, lalu beranjak. Dan aku sendiri dengan Shah Rukh Khan-ku, eh, dengan Kal Ho Naa Ho.
Judul ini kalau aku yang mengartikan ke Indonesia jadi : apa yang terjadi nanti, tidak ada yang tahu. Shah Rukh Khan bermain sebagai Aman, bersama dengan Preity Zinta sebagai Naina, dan Saif Ali Khan sebagai Rohit. Kisah cinta penuh tembang, terhalang oleh keterbatasan diri Aman yang sakit jantung parah tidak mau Naina menderita andai kata sampai kematiannya, yang mungkin bisa datang sewaktu-waktu. Jadi dia berupaya keras kata cinta tidak muncul di antara keduanya. Namun kehadiran Aman pun tetap menjadi cinta bagi Naina, untuk kemudian menemukan Rohit sebagai teman hidup, dan juga membawa kegembiraan bagi keluarganya.
Yach, seperti film-film lain, Shah Rukh Khan selalu menjadi dewa. Yang sempurna melakoni peran pahlawan bagi tokoh-tokoh lain. Seperti gak ada salahnya. Asyiknya, filmnya tidak melulu soal percintaan itu sendiri walau selalu itu porsi yang utama. Ada detail-detail mengharu biru yang membuat nangis. Dalam film ini misalnya ternyata ibu Naina, Jennifer (Jaya Bachchan) bergulat hidup bersama mertuanya, yang tidak pernah menyukainya dan juga keputusannya mengangkat seorang anak, yang ternyata adalah anak dari suaminya sendiri alias bapaknya Naina dari perempuan lain. Laki-laki itu, suami Jeni, telah digambarkan mati bunuh diri, namun tetap dicintai Jeni. Situasi kebencian mertua mantu ini yang kemudian dijadikan motiv atas karakter Naina yang begitu angkuh soliter di bagian awalnya.
Lalu juga detail-detail tradisi India, soal perjodohan, yang tetap dipelihara juga walau sudah hijrah di New York. Lalu soal perjuangan menghidupkan restoran keluarga dengan mengentalkan warna Hindustan. Aahhh, I love it.
Yaa, karena aku sudah nonton film ini maka batasnya ya sampai nangis, dan aku baru bisa nangis setelah pukul 01.30, saat Aman memeluk Naina dengan mengatakan,"Aku tidak mencintaimu, aku tidak mencintaimu, ..." Berulang-ulang, sedang Naina mengatakan,"Mengapa kau begitu mencintaiku, mengapa kau begitu mencintaiku,..." Berulang-ulang. Lalu, pet! Mati-in dan tidur! Subuh aku sudah harus bangun, jadi biar saja Shah Rukh Khan melanjutkan hidupnya dalam film-film heroic romantis melankolis tragis...

Tuesday, October 09, 2012

Dunia Lain : Digital dan Maya

Indera maya
Jika diingat-ingat, aku mulai mengenal bahwa ada dunia yang tak masuk otakku yaitu dunia maya adalah ketika aku punya alamat email pertama kali, dulu waktu aku bekerja di Vincentian Center Indonesia (VCI) di Malang. Waktu itu kantor punya modem dengan operator Indonet (Semoga tak salah. Agak-agak lupa.) Aku buat alamat email itu dengan nama yulinugrahani.
Kebiasaan punya nama ini berlanjut ketika kemudian aku punya alamat berikutnya setelah yang pertama itu mati, yaitu yulinugrahani@hotmail, lalu @telkom.net. Keduanya mati karena lama gak diakses. Aku mesti cari warung internet (warnet) yang masih jarang-jarang di tahun itu (1998 - 2004-an), di beberapa kota (Malang, Kediri, Natar, Bandarlampung).
Kemudian wabah internet semakin kencang. Alamat berikutnya yang aku pakai adalah yulinugrahani@yahoo.com dan yulinugrahani@gmail.com bertahan hingga sekarang. Aku bisa mengaksesnya dengan mudah di kantor, rumah, warnet atau di mana saja. Nama yang sama kemudian aku pakai untuk membuat beberapa hal lain yang terkait dunia maya, yaitu blog (yulinugrahani.blogspot.com) yang ini, lalu blog lain yang baru saja aku buat untuk belajar menulis dalam bahasa Inggris (houseofyulinugrahani.blogspot.com). Kesukaan memakai blog juga aku sebarkan ke siapa saja. Ada yang kemudian terpikat, seperti suamiku sendiri dengan blog pribadinya ini.
Nama Yuli Nugrahani juga aku pakai nama facebook (fb). Khusus fb awalnya aku tidak mau membuat, tapi kemudian setelah dibantu Robertus Bejo, my best brother (sometime my best opponent), aku mulai menggunakannya seturut keinginanku. Sekarang malah sedang aku giatkan karena gak bisa membendung teknologi yang akan dipakai anak-anakku, minimal aku bisa mengikuti Albert saat ia berselancar di fb atau dunia maya. Jadi aku add teman-teman fbnya menjadi temanku juga. Offcourse untuk usia ini, Albert tidak boleh menggunakan internet tanpa aku atau bapaknya di sampingnya.
Perkembangan keaktifan melesat dengan bantuan alat-alat digital, seperti alat perekam, kamera, HP, notebook dll. Jika dulu mau motret ada urusan dengan roll film, cuci dan cetak, kini tak perlu lagi. Hanya butuh kabel-kabel yang masih juga kuherani kok bisa ya mengantarkan gambar serupa nyata ke media-media lain. Logikaku tak bisa mengikuti.
Nah, tentu aku masih akan tetap gagap jika menghadapi dunia komunikasi digital dan maya macam ini. Ada jenis-jenis lain yang walau cukup familier toh masih asing. Macam BB, twitter, unggah foto atau video, ... ah, bahkan menyebutnya pun kagak tahu. Setahuku aku tidak membutuhkannya, tapi aku sedang berpikir, anak-anakku tak kan mungkin kubendung larang untuk menggunakan itu semua.
Jadi mestinya aku membuka pikirku untuk itu. Tak untuk kecanduan menggunakannya, tapi untuk mengenalinya. Dan walau pasti akan terengah-engah aku masih bisa berjalan di belakang anak-anakku yang akan melesat karena segala perkembangan digital dan dunia maya itu.
Woalah, padahal aku sejujurnya lebih suka memakai langsung bibirku untuk bicara, telingaku untuk mendengar, kakiku untuk menghampiri, mata untuk melihat... Bahkan juga untuk menyentuhmu sekalian yang jauh di manapun secara langsung. Andai hal-hal seperti itu bisa kulakukan sekejab manual nyata, tanpa digital dan maya. Ah...

Friday, October 05, 2012

Antologi Cerpen : Kawin Massal

Judul buku : Kawin Massal
Terbitan     : Dewan Kesenian Lampung
Cetakan    : Pertama, Januari 2012
Isi             : 103 halaman
Penulis      : F. Moses, Muhammad Amin, Ika Nurliana, S.W. Teofani, Yuli Nugrahani, Yulizar Fadli
Penyunting : Arman AZ, Ari Pahala Hutabarat
Desain sampul dan isi : Rudiansyah

"Lampung sudah kadung dicap sebagai "Negeri Penyair" sebab karya para penyairnya tergolong berkualitas. Sehingga anggapan daerah ini cukup tandus untuk prosa seperti tidak ditolak. Namun melalui antologi cerpen "Kawin Massal" yang menghimpun 6 cerpenis Lampung ini, dapat menabalkan bawa prosa juga tumbuh subur di Lampung." Isbedy Stiawan ZS, sastrawan, Ketua I Bidang Sastra dan Teater Dewan Kesenian Lampung.



Ya, ini hanya satu dari sekian buku yang pernah diterbitkan oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL). Beberapa terbitan yang lain sebut saja : kumpulan puisi Agit Yogi Subandi berjudul Sebait Pantun Bujang, kumpulan puisi milik Lupita Lukman berjudul Mimpi Basah, kumpulan puisi Arya Winanda berjudul Desis Ular, kumpulan cerpen Alexander GB yang berjudul Cerita-cerita dari Rumah no 9, atau sebuah tips menulis dari Ari Pahala Hutabarat yang berjudul Menanam Benih Kata. Antologi cerpen Kawin Massal hanya salah satunya saja.
Tentu karena aku ikut menulis di dalam buku itu bukan berarti aku kehilangan hak untuk meresensinya atau sekedar menceritakannya. Justru karena aku ikut menyumbangkan dua judul cerita pendek (cerpen) dalam Kawin Massal, dan aku lihat tidak ada promosi apapun dilakukan untuk buku ini (Coba cari di internet apakah buku ini sudah terjamah oleh Google atau Yahoo? Aku tidak menemukannya.), maka aku kemudian ingin menulis tentangnya. Setelah 10 bulan dari saat terbitnya! Sangat-sangat usang.
Isbedy, sastrawan 'paus' penyair Lampung sudah menilai buku dengan cara seperti di atas itu. Itu aku kutip dari sampul belakang buku ini. Apakah kemudian penilaian ini disetujui oleh kalayak ramai, khususnya kalayak sastrawan Lampung? Aku sangat berharap apa yang dikatakan bahwa 'prosa juga tumbuh subur di Lampung' sebagai suatu nyata. 
Menilainya berdasar buku ini saja tentu belum cukup. Ada 6 cerpenis yang diajak dalam buku ini. Masing-masing cerpenis menyumbangkan dua judul cerpen sehingga termaktub 12 cerpen 'saja' dalam buku ini. Karena ditulis oleh banyak orang, maka buku ini pun menyodorkan 'kepala' yang beragam juga. Berbagai persoalan masuk terpapar lewat cerpen-cerpen itu. Isu sosial, lokal, cinta, perempuan dan sebagainya mewarnai setiap cerita.
Kawin Massal sendiri diambil dari judul cerpenku yang berkisah tentang pasangan Minto dan Las. Sepasang laki-laki perempuan marjinal yang rindu ikut kawin massal, namun toh belum bisa ikut karena ganjalan kemarjinalannya. Untuk mendapatkan selembar pengesahan atas 'hidup serumah' mereka berdua, lewat kawin massal pun masih serupa mimpi. 
Pun kalau kemudian Kawin Massal bukan lagi hanya judul cerpen tapi judul buku antologi cerpen, aku melihat 'kawin massal' masih menjadi mimpi bagi DKL dan para cerpenis. Antologi cerpen ini adalah bagian dari langkah perwujudannya. Dan nanti, suatu ketika, kawin massal, benar-benar kawin dan benar-benar massal pasti dapat dilakukan oleh DKL untuk 'pengesahan' bagi para cerpenis Lampung. Pasti begitu! Mestinya begitu.

Tuesday, October 02, 2012

Gajah-gajah Way Kambas

Ada banyak pose gajah yang diambil dalam perjalanan ke Taman Nasional Way Kambas beberapa minggu lalu (baca Taman Nasional Way Kambas). Sebagian aku bagi di sini. Lucu, menggemaskan, sekaligus kasihan memprihatinkan. Di taman itu ada 66 gajah yang sudah jinak, dan ada 200-an lagi yang masih liar. Jika aku boleh memilih tanpa mikir apa-apa juga segala pertimbangannya, aku memilih mereka tetap liar, dengan makanan cukup dan tidak diganggu. 

Mereka di padang penggembalaan untuk makan. 
Tiap gajah punya satu pawang yang memperhatikan mereka.

Yang punya gading adalah yang jantan. Sedang yang betina tidak punya gading.

Mereka suka berendam...

Menyemprot badan mereka dengan air...

Mendekat...

Diberi makan.

Dan bersahabat!

Monday, October 01, 2012

Seks, Uang dan Kekuasaan

Tiga hal ini sangat nikmat. Seks, uang dan kekuasaan. Kelekatan pada tiga hal ini sangatlah manusiawi. Iyalah, manusia mana yang tidak menyukainya? Maka semua manusia mengejar hal itu lewat segala cara. Dan ada banyak orang yang berhasil menggapainya. Mendapatkan seks, mendapatkan uang dan mendapatkan kekuasaan. Walau tidak mengejar, kalau disodori, pasti tidak akan dilewatkan, tidak akan ditolak. Dan lebih banyak orang sedang dalam posisi pengejaran ini.
Tiga hal inilah yang menjadi tantangan bagi hidup manusia. Maka ada yang mati-matian dalam hidup tapa mati raga. Menjadi biarawan atau pastor atau biksu atau pertapa atau apalah namanya untuk mampu mengurai seks, uang dan kekuasaan jadi alat bagi kekudusan, untuk mencapai keilahian. Preketek!

Kulit tersentuh pun langsung terangsang dalam hasrat seksual.
"Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. Kataku,"Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya..." (Kid. & : 7 - 8)


Melihat uang pun ingin menyimpannya bagi diri, untuk kesenangan diri.
"Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah." (Lukas, 12 : 19)

Menyadari ada makluk lain langsung sombong merasa jadi penguasa.
"Penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej. 1 : 28)

Ah, semua ada teorinya, teman. Pun kitab tersuci sekalipun bisa menjadi bungkus bagi teori manusiawi ini. Kenapa tidak? Jadi bagaimana menjadi murni, miskin dan taat? Kau punya teorinya, teman? Ha, masih punya teorinya? Hanya teori? Haaa....