Thursday, September 14, 2006

Semalem aku nonton konser Radja di Stadion Pahoman. Konser pertama kalinya sejak tinggal di Lampung. Asyik juga. Sayang dapat tempatnya di VIP (gratisan karena suamiku jadi pelanggan Indosat untuk pabriknya. nah Indosat itu yang punya gawe), sehingga tidak bisa jejingkrakan. Padahal lagu-lagu Radja kan mestinya cocok untuk loncat-loncat. Yang lembut.....
...angin...bawalah....jiwaku melayang...
...angin...

Asyik juga. Mau kapan-kapan lagi.

Monday, September 11, 2006

ada sebuah smp terbuka

Ini SMP yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat petani di daerah Register 45 Tulangbawang, Lampung. Didirikan atas dasar kebutuhan para keluarga petani yang susah menjangkau SMP Negeri. Terlalu jauh. Maka setelah lebih dulu membuat SD terbuka, tahun ini dibuka SMPnya. Ada 13 siswa yang sudah mau belajar bersama, didampingi oleh AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria). Mereka butuh orang tua asuh. 50 ribu rupiah tiap bulan yang dibutuhkan per anak untuk kebutuhan seragam, buku, dan makan para guru relawannya. Kurikulum ngikut SMPN, tapi juga diajarkan ketrampilan dasar sebagai anak-anak petani. Ya, mereka harus bisa menanam juga dong. Hidup mereka dari situ. Oki yang menceritakannya untukku. Aku ingin sesekali main kesana. Aku lihat di foto-foto Oki, mereka terlihat penuh semangat. Padahal sekolahnya pindah-pindah lo. Bahkan bisa belajar di sawah, kebun, atau kandang. Dan para relawannya, salut deh...

Thursday, September 07, 2006

sebuah surat menghantamku

sebuah surat dari bapak
bahwa tidak ada yang mesti diteruskan
hingga tahun berlalu
bahwa tidak ada rumah yang dibuka
hingga ada satu rencana baru
bahwa tidak ada orang yang bisa datang
hingga ada sepaham satu

sebuah surat dari bapak
yang tiba-tiba kelihatan renta
menahan sabar
melihat anak-anaknya
yang tak kunjung dewasa

sebuah surat menghantamku
hingga aku terduduk di tangga klender
mengibaskan rasa
Ada beberapa hal yang menjadi sumber keprihatinanku akhir-akhir ini. Salah satunya, betapa tololnya orang-orang Indonesia (sebagian darinya!!!) yang sok hebat sok pintar. Saling soknya, alam pun hendak diplintir di manipulasi layaknya yang biasa terjadi di birokrasi Indonesia. Alhasil, tidak ada kendali yang masih bisa dipegang. Itu yang terjadi di Porong Sidoarjo hingga berpuluh hektar tanah terendam lumpur dan masih terus berlangsung. Lalu yang dilakukan seperti biasa. Mengusung ribuan tentara untuk mengatasinya. Tentara bisa apa untuk ngatasi luapan lumpur yang beribu kubik setiap hari? Yang bisa dilakukan adalah membungkam protes rakyat yang tidak lagi bisa hidup dari tanahnya. Yang tidak bisa lagi di dalam rumahnya. Yang tidak lagi bisa makan, bekerja, bercengkerama dan hidup normal. Yang tidak ada harapan seluruh hidupnya kembali seperti semula.