Wednesday, August 10, 2016

Salah Satu Cabang Cemara, Kumpulan Cerpen Yuli Nugrahani

Penulis: Yuli Nugrahani
Tata letak & desain sampul: Devin Nodestyo
Model sampul: Kiki Rahmatika dalam The Dark Side
Fotografer : Achmad Oddy Widyantoro (Oddzhaheho Creative)
Penerbit : Komunitas Kampoeng Jerami
ISBN : 978-602-74925-0-9

Setelah penerbitan kumpulan cerpen Daun-daun Hitam pada tahun 2014, saya berniat menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berikutnya, dalam waktu dekat. Tentu menyenangkan jika dapat menerbitkan buku cerpen secara periodik. Ternyata niat itu tak mudah dijalankan karena ada hal-hal lain yang tiba-tiba harus menjadi prioritas, naik turunnya semangat dan juga adanya kelalaian-kelalaian saya dalam proses.

Awal tahun 2016 saya mulai mengumpulkan cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media, saat cerpen saya yang pertama dalam tahun ini dimuat di Lampung Post pada Januari 2016. Cerpen berjudul Kafe itulah yang saya letakkan pada bagian pertama dalam kumpulan cerpen ini.

Kafe bercerita tentang seorang ‘aku’ yang berada dalam penantian dan perpisahan. Si ‘aku’ sangat merindukan Nad, namun Nad bukan orang yang mudah untuk ditunggu. Keinginan untuk bertemu Nad menjadi batu sandungan bagi langkah si ‘aku’. Menjadi sumber kegelisahan sekaligus menjadi bahan pengharapan. Pada suatu waktu nanti, batu ini mungkin akan benar-benar melukai atau mungkin malah menjadi batu pijakan bagi lompatan hidup ‘aku’. Sekejap perjumpaan mereka telah menjadi sarana untuk mengambil keputusan di masa mendatang, jika diperlukan.

Saya tidak menentukan akhir yang pasti dan jelas dalam cerpen ini. Dengan cara begitu cerpen ini menjadi sindiran bagi saya sendiri yang sering kali menciptakan ‘batu-batu’ dari penantian dan perpisahan yang muncul dalam hidup. Saya yakin bahwa saya mendapatkan hikmahnya ketika saya sudah menuliskan Kafe dengan sadar. Demikian saya berharap pembaca bisa mengambil suatu pengalaman saat membaca cerpen ini.

Cerpen-cerpen lain saya susun secara acak tanpa peduli urutan kronologis pembuatannya. Pembaca dapat melihat cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini ditulis antara tahun 2006 sampai 2016 dengan beragam tema. Hampir semuanya pernah dimuat di media, jurnal maupun antologi bersama penulis lain.

Saya mesti berterimakasih secara khusus kepada Fendi Kachonk dan Yulizar Fadli, dua sahabat yang rela hati menjadi pembaca awal, mempertanyakan, mengkritisi maupun mengoreksi naskah-naskah dalam buku ini. Saya mesti minta maaf karena sering kali keras kepala menanggapi kritikan.

Terimakasih pada Ari Pahala Hutabarat dan Yanusa Nugroho, yang senantiasa menjadi penyemangat dalam perjalanan kepenulisan. Walau saya tidak membangun komunikasi intensif, sepercik-sepercik kalimat berkali-kali menjadi kobaran spirit. 

Saya mencatat nama-nama yang terlibat secara langsung dalam buku ini. Devin Nodestyo yang sabar mendengarkan dan membuat desain buku melampaui imajinasi saya. Kiki Rahmatika yang menyediakan foto diri saat menari The Dark Side dipakai sebagai bahan sampul. Ahmad Oddy Widyantoro, sang fotografer. Umirah Ramata yang membantu proses penerbitan. Teman-teman Komunitas Kampoeng Jerami dan Komunitas Berkat Yakin.

Istimewa untuk para lelakiku : Hendro, Albert dan Bernard. Terimakasih atas segala cinta dan pengertian.

Tuesday, August 02, 2016

The Palace of Illusions

Penulis : Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU) - terjemahan
Terbit : 4 Agustus 2009
Isi : 493 halaman
140 x 210 mm
ISBN : 9789792245561

Perempuan mempunyai dan menjalani kisah-kisah yang 'heboh', hingar bingar oleh berbagai pengalaman sejak lahir hingga matinya. Jika kisah itu diberitakan oleh orang bukan perempuan, yang ada adalah alur, adalah babak demi babak, adalah perjalanan. Namun jika yang bercerita adalah 'perempuan itu' sendiri, alur bukan sekedar alur, babak bukan sekedar babak, dan perjalanan bukan sekedar perjalanan.

Aku sudah mengenal Dropadi (dalam kisah wayang Jawa, dia adalah istri Yudistira, tapi dalam versi India, dia adalah istri Pandawa, seluruh Pandawa) sejak dahulu. Aku tahu kisah hidupnya dalam dua versi Jawa dan India. Tapi lewat The Palace od Illusions, Chitra mengubah kehidupan Dropadi atau Drupadi, alias Pancali, alias Kresnhaa menjadi tokoh sentral yang 'bulat' sebagai perempuan tidak biasa.

Pancali lahir secara tidak biasa. Hidup secara tidak biasa. Pun dia merasa dan berpikir tidak biasa. Dia dalam novel ini memang digambarkan tidak selumrah perempuan-perempuan lain yang ada di bumi. Dialah salah satu pemicu perang besar Mahabarata. Dialah kecintaan Kreshna. 

Yang menjadi hal baru dari kisah Pancali yang menjadi pembeda alur kisah yang pernah kudengar atau kubaca adalah, Pancali meletakkan hatinya pada Karna! Karna, anak yang terbuang, anak Kunti yang sulung sebelum melahirkan Pandawa. Karna yang memilih di pihak Kurawa. Hihihi. Aku tak mengira Chitra bisa mengasumsikan hal ini dan kemudian menceritakannya begitu indah. Bahkan pada akhir hidup Pancali di babak ini, Karnalah yang menjadi tujuan jiwanya. Wah.