Tuesday, April 29, 2014

KUMPULAN PUISI YULI NUGRAHANI : PEMBATAS BUKU


Aku sudah mulai menulis berbagai bentuk tulisan pada tahun 1992 sampai sekarang di berbagai buletin, majalah, koran dan jurnal. Sebut saja Buletin Terlibat, Lembur, Majalah Hidup, Ucanews, Femina, koran Malang Post (aku pernah jadi wartawannya di tahun 1999 - 2000), Lampung Post, Suara Karya, Sinar Harapan, Jurnal Perburuhan, Bulettin ACPP Hongkong dan sebagainya. Juga di media online seperti blog yang kukelola ini (sejak tahun 2006).

Aku menjadi editor dan penyusun buku : Eritis Mihi Testes (2002), Suster-suster Klaris Kapusines Sekincau (2003), Samudera Peziarahan (2010) dan Goro-goro, Kucing Gering Bagong Leong (2013).

Tulisan reflektif masuk dalam buku : Mengais Makna di Tepi Kehidupan (2005), Varia Geliat Hati, sebuah Refleksi Pemerhati Buruh Keuskupan Tanjungkarang (2008) dan Pastoral Lembaga Pemasyarakatan, Refleksi Para Pemerhati Narapidana (2013).

Sedang cerpenku masuk dalam buku : Antologi Cerpen Kawin Massal (2011) dan Antologi Puisi dan Cerpen Hilang Silsilah (2013).
 
Kini waktunya, segera, awal Mei, buku kumpulan puisiku akan terbit menjadi warna bagi dunia puisi Indonesia. Diterbitkan oleh Indepth Publishing dengan kata pengantar Edi Laksito, seorang teman yang menemaniku mengawali cinta pada puisi di tahun 1994-an dan sebuah catatan pembuka dari Ari Pahala Hutabarat, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung. Sampul didesain oleh Devin dan tata letak oleh Reza. Tentu saja yang kebagian repot adalah Oki, siapa lagi. Terimakasih banyak ya teman-teman. Aku menunggu buku ini dengan gembira, sama dengan saat aku mengerjakannya.

Thursday, April 24, 2014

Muara Sungai Karang

letakkan aku di sisi tangkaimu
karang pasir debu lintah di rongga-rongganya
leburkan raga serupa stupa
tanpa bibir tanpa gerak tanpa hasrat
melumat mimpi dalam senyap nestapa
semesta tegang mengeras di genggaman
melesat rindu tanpa balasan


mengalir di sungai karang
jiwa kerontang berbuih berandai
turunlah hujan embun segala cairan
runtuhkan aku dalam kuburmu
biarkan aku menjelma belulang
biarkan aku hilang tertimbun bebatuan
menjadi senyawa senyap tanpa padanan

aku akan berjalan menyanggahmu
menyangkal hingga lebur menghablur
dalam karang dalam pasir dalam debu
aku akan memastikannya di peziarahan
perjumpaan tanpa bekal
semata benci tertinggal

Wednesday, April 23, 2014

Tips Menulis Puisi

Aku pernah menulis Tips Menulis Cerpen pada tahun 2008 untuk para penulis pemula di Unila. Aku ramu tulisan ini dari berbagai sumber yang aku temukan di internet. Cara yang paling mudah, sederhana dan tidak usah dulu melihat teori-teori ndakik-ndakik tentang sastra. Tentu saja jika sudah beberapa kali mencoba menulis, orang harus meningkatkan kapasitas dengan teori-teori itu. Tapi biarlah saja itu nanti, jika hasrat menulis sudah kuat membara pasti otomatis orang juga tak lagi puas dan mulai melihat, menggali, membandingkan dan sebagainya.

Nah, kali ini aku ingin menulis dikit tentang menulis puisi untuk para pemula. Kali ini aku buat awalnya khusus untuk anakku Albert (SMP kelas 1) yang lagi ketularan ibunya menulis puisi. Dia sudah menulis satu puisi lengkap beberapa waktu lalu tentang cintanya pada Indonesia, lalu dia sedang berpikir untuk menulis puisi tentang keindahan air terjun karena tugas guru bahasa Indonesianya.

"Tidak boleh ditulis di rumah, ibu. Puisi ini harus dibuat di sekolah."

"Okey, ibu akan beri pelajaran privat jadi nanti bisa lebih mudah saat di sekolah. Gratis untuk Mas Albert."

Dia cengir-cengir saja, lalu mendekat serius di dekatku. Aku sudah pegang laptop, jadi kubuka program word.

"Ini kalau untuk orang lain mahal lho. Jadi serius. Albert mau menulis puisi tentang apa?"

"Air terjun. Itu, yang pernah kita datangi di Gunung Betung itu."

"Sip. Yuk kumpulin kata-kata apa saja yang ada kaitannya dengan air terjun. Apa saja kata itu."

Maka kata-kata pun berhamburan. Air, mengalir, batu, rumput... Aku menuliskannya di laptop sambil sesekali bertanya untuk membuat kata lebih spesifik : Ya, batu, kalau kecil? Kerikil. Lebih kecil? Pasir. Mengalir, memercik, beriak, dst. Seluruh kata-itu aku ketik dengan huruf yang bisa terbaca jelas dengan kolom-kolom. Tentang benda-benda mati, hidup, warna, suasana, dan sebagainya.

Lalu aku bertanya kepadanya,"Mau menulis puisi tentang apanya air terjun? Keindahannya? Kekuatannya? Kesedihannya? Atau sesuatu yang lain di luar air terjun yang seperti air terjun?"

Hehehe... dia mikir lamaaa sekali. Hingga akhirnya dia memilih yang paling mudah,"Keindahan air terjun."

"Okey, tulislah, Bert. Buat beberapa kalimat dulu." Dia pun memulainya. Aku membantu dengan bertanya, terus bertanya. Misal,"Di sini sudah ditulis indah, di situ indah lagi, lalu di situ indah lagi. Apa kata yang sama artinya dengan indah?"

"Bagus. Cantik. Menawan. Mempesona."

"Nah, kata-kata yang indah bisa diganti dengan kata-kata itu."

Demikian juga kata-kata lain aku pertanyakan. Juga keberadaan kata-kata sambung, kata tak perlu.

"Apakah memang harus memakai yang? Jika dihapus apakah artinya berubah? Jika tak berubah hapus saja."

Lalu aku mengajaknya melihat kumpulan kalimat-kalimat itu. "Yang ini tentang tanaman, yang itu tentang pelangi. Apakah baik kalau dipisah ke bait yang berbeda?"

Nah, kini dia punya bayangan tentang puisi itu. Ketika kehabisan ide, dia lihat lagi daftar kata yang sudah disusun. "Ah, ada kata sore, kemah, anggang-anggang. Aku mau pakai juga."

"Iya, dan jangan lupa ada suatu pesan. Mas Albert mau berpesan apa pada pembaca? Mengunjungi air terjun itu? Atau Mas Albert mau datang lagi ke sana? Atau ajakan untuk merawat? Memelihara keindahan? Menjaga kebersihannya? Masukin di bagian terakhir itu kalau belum ada di bagian atas."

"Ya. Aku ingin keindahan air terjun tidak hilang."

"Sip. Lalu judulnya. Kau mau pilih apa? Air terjun begitu saja? Baiklah. Tapi baik juga kalau memang mau menonjolkan Lampung kau tulis lanjutannya, air terjun mana yang kau maksud itu."

"Air terjun Gunung Betung. Aku pakai judul ini saja."

"Sip. Kau baca ulang-ulang. Kalau masih ada yang mau diubah, ubah saja. Di sini ada kata indah, lalu di baris ini berakhiran kata lembah. Enak kan dibacanya? Coba lihat di atas itu, siapa tahu ada akhiran yang bisa disamakan lagi. Tak harus sama seperti pantun, tapi kalau dibaca enak, puisi akan semakin indah."

Okey. Dia akan belajar merapikannya nanti. Untuk anak SMP kelas 7 atau kelas 1 seperti Albert, cara membuat puisi seperti ini cukup. Sudah cukup. Dia akan mengembangkannya nanti setelah dia banyak membaca puisi. Dan Albert sudah bertanya-tanya terus tak sabar menunggu buku puisiku yang akan terbit. Aku yakin dia akan belajar untuk hal-hal yang disukainya ini.

Monday, April 21, 2014

KARTINI

Kartini sama saja dengan semua perempuan-perempuan lain. Memakai kain kebaya, memasak, menikah dalam perjodohan, menangis, merawat anak dan suami, serba terkekang, bergelut di kasur, dapur dan sumur, terbatas ruang geraknya. 

Apa yang membuatnya unggul, dikenang dan diteladan? Dia menulis! 

Dia merawat pikiran-pikiran dengan membaca. Dia menulis! 

Dia punya hati peduli pada perkembangan manusia dalam pendidikan. Dia menulis!

Sunday, April 20, 2014

MINGGU PASKAH

...
Di depanku, kau berjalan
tunjukkan palu sidang yang akan kau lempar.

"Lakukan untukku!"
Kau menuntut hakmu
lewat wajah di jalan-jalan yang kutemui.

"Berikan padaku!"
Kau menuntut kewajibanku
lewat kaki-kaki teladan di Kalvari.

Selalu, selamanya.
...

Saturday, April 19, 2014

SABTU CAHAYA

...
Daun-daun palma terurai kayu-kayu melandai
lereng Kalvari merosot dalam catatan kain mori
lengang tanpa jasad terserap tanah bebatuan.

Batu makam terguling oleh tanda-tanda chandra
bertengger di sayap malaikat merentang cahaya.

Kutinggalkan botol-botol minyak wangi
terserak jejak pencarian berpeluh rindu
berlari mendapatkanmu jiwa tak tertandingi
mencucukkan jari-jari ke liang luka-lukamu.

Rabuni, roti dan anggur di meja saji, 
wajahmu kucuplik untuk lilinku hari ini
memercik dalam cium seorang kekasih.

Aku mencintaimu.
...

Friday, April 18, 2014

JUMAT AGUNG

...
Secarik beledu tanpa corak
tercelup cawan cuka
hilang warna tersisa
perih tercabik langkah
menuju Golgota.

Eli, Eli, lama sabachthani?
Mengapa kau tinggalkan aku?
...

Wednesday, April 16, 2014

KAMIS PUTIH

...
Serangkai petikan sitermu sampai kertasku
mengalun dalam gesekan melodi kenanga
rebus, rebus saja dalam belanga kesediaan
kayu pinus yang terbakar kering dahana.

Mengucur minyak manis ke kakimu dan aku
menyiapkan rambut basah oleh air mata
bersimpuh meramu perjamuan Paskah, Kamis
cawan-cawan bersanding dengan piala-piala.

Aku rindu padamu.
...

Saturday, April 12, 2014

Hamster, Bromo dan Ibu yang Tidak Nakal

Hujan sangat manis sore ini. Aku sudah membuat dua cerpen sepanjang siang, dan sekarang sedang mengedit satu di antaranya. Yang satunya sudah kulempar ke salah satu media. Tinggal menunggu dimuat atau tidak. Maka kulempar pertanyaan ke para cowok yang ada di kanan kiriku.

"Beri ide pada ibu harusnya menulis apa sekarang?"

"Tulis tentang hamster." Kata Albert yang duduk di sebelah kananku.

"Bromo." Ujar Den Hendro yang ada di sebelah kiriku.

"Tentang ibu yang tidak nakal." Kata Bernard di ujung sana. Dia memang sedang marah padaku gara-gara semalam aku angkat dia dari depan tivi karena kuanggap dia sudah tidur. Aku tidak kuat mengangkatnya, maka dia melek, dan dia marah. Hingga hari ini dia masih ingat aku sebagai si pengganggu.

"Hmmm, baiklah. Ibu akan menulis tentang hamster, Bromo dan ibu yang tidak nakal."

Mereka bertiga senyum-senyum dengan aktifitasnya masing-masing. Albert sedang makan ikan goreng tepung, Den Hendro sedang mainan puzzle di laptopnya, dan Bernard sedang nonton Metro TV Penantang Terakhir. Aku tahu otak mereka. "Coba saja buktikan bisa nulis tentang semua itu." Dan aku tertantang untuk mewujudkannya. Lihat saja ya apa yang bisa kubuat. Lihat saja.

Friday, April 11, 2014

PUISI-PUISIKU

Untuk kali kesekian tak terhitung orang bertanya,"Jadi, kamu tuh sebenarnya cerpenis atau penyair? Mau cerpen atau puisi?" Selalu aku jawab dengan mantap,"Aku ini cerpenis. Tentu saja aku akan menulis cerpen selamanya." Lalu puisi-puisi itu? Okey, baiklah, aku akan tulis sedikit tentang hal ini. Mungkin tidak menjawab seluruh pertanyaan tapi minimal aku bisa menceritakan sedikit tentang puisi-puisiku ini.

Aku mengenal puisi pertama kali ketika aku sekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Tentang sekolah TK ini aku mesti jujur bahwa aku tidak lulus dan tidak punya ijazahnya lantaran jarang masuk. Waktu itu aku diajak oleh guruku yang manis, Bu Pipit untuk ikut lomba deklamasi. Judul puisinya : Pahlawan. Entah karangan siapa. Bu Pipit tidak memberitahu aku akan ikut lomba atau mungkin memberitahu tapi aku belum mengerti lomba itu apa. Yang jelas aku senang membaca puisi pertamaku ini. Aku cepat menghafalnya karena aku termasuk cerdas (heheehe, iyalah, IQku selalu di atas rata-rata pada test beberapa kali saat sekolah dulu) dan aku suka meneriakkan puisi pertama ini kuat-kuat di setiap waktu sehingga hampir semua bulikku pun ikut hafal, sampai sekarang. "Pahlawan. Darahmu membasahi bumi persada..." Soal seluruh bulikku jadi hafal puisi ini karena peristiwa lomba itu akhirnya menjadi peristiwa paling memalukan yang pernah terjadi dalam sejarah pembacaan puisi sepanjang hidupku dan mesti kualami saat masih sangat dini di usia 4 tahun. Hehehe...

Alkisah, aku sudah ada di atas panggung lomba deklamasi untuk siswa-siswi TK tingkat kecamatan. Aku tidak menyangka kalau aku mesti membaca puisi itu di hadapan buanyak orang yang sebagian besar tak kukenal. Sebagian kecil kukenal justru duduk di bagian depan yaitu Pak Puh No (kakak ibuku) menjadi juri, lalu bupuh dan bulik-bulikku yang ikut nonton, juga ibuku. Aku mulai meneriakkan judulnya. Mikenya kurang pas di mulutku maka seseorang maju untuk menurunkan letak pengeras suara itu. Maka di baris awal, suaraku pun menggelegar keras karena memang aku berteriak bukan bersuara, dan inilah kali pertama aku mendengar suaraku dengan pengeras suara maka... shock. Kaget oleh suaraku sendiri. Aku lupa baris berikutnya, hafalanku porak poranda, aku terdiam, menarik-narik rokku sendiri, mulai akan menangis... hingga Bu Pipit menyelamatkanku, menurunkan aku dari panggung. Huh, penampilan pertamaku gagal total. Aku masih menyimpan foto bersama seluruh peserta aku ngumpet di bagian belakang dengan wajah nyaris menangis.

Lalu aku tak pernah lagi berurusan dengan puisi. Aku lebih banyak sendirian (aku nyaris tidak punya sahabat saat SD dan SMP), mencoret, mewarna, melukis, membaca, menulis... hingga suatu waktu saat SMP aku menulis gurit, puisi bahasa Jawa, kukirim ke Majalah Panyebar Semangat (majalah bahasa Jawa langganan mbahku), dan dimuat. Aku lupa puisi itu tentang apa dan bagaimana tapi aku dapat pujian dan dorongan dari Bu Purnami, guru bahasa Indonesiaku yang mengenalkan aku pada penulis-penulis Chairil Anwar, NH Dini, STA dsb. Lalu pada saat kelas 3 SMP aku gak mau lagi melukis dan aku 'merayu' bapakku, Pak Sam, yang kebetulan guruku saat SMP untuk ikut lomba baca puisi mewakili sekolah. Aku ingat aku dapat juara dua dikalahkan oleh Yuli yang lain, salah satu siswa lain sekolah.

Saat SMA aku mulai menulis-nulis buku harian tak teratur, sebagian bentuknya puisi. Curhat-curhat menye-menye. Ini berlanjut hingga kuliah. Tak sekalipun aku menganggap puisi sebagai bentuk tulisan yang serius. Aku menggunakannya sebagai curahan hati, curhat, karena di dalamnya aku bisa sembunyi dengan enak tanpa harus memendam perasaan. Ini cocok dengan karakterku yang introvert waktu itu (sekarang aku lebih membuka diri. Asli.) Saat kuliah ini pula aku mulai bicara tentang puisi dengan salah satu sahabatku, Fr, Nanglik (sekarang pastur, Rm. Edi Laksito) Aku suka puisi-puisi yang dia buat dan aku terpacu membuat puisi serupa untuk kutunjukkan padanya.

Kemudian puisi-puisi tak lagi terjamah saat saat aku mulai bekerja, menikah hingga kemudian pada tahun 2005 aku mulai membuat blog dan mengelola Nuntius. Aku mulai bersentuhan lagi dengan puisi. Membaca dan menulis puisi serta belajar puisi. Isbedy Stiawan pernah aku undang untuk membantu teman-teman relawan Nuntius pada 2007-an untuk belajar puisi. Tentu saja aku ikut juga dalam sesi belajar puisi itu. Dan itu sangat menyenangkan. Aku melanjutkannya dengan koresponden lewat email beberapa kali, namun bapak Paus Puisi dari Lampung ini selalu menyebut,"Puisimu masih curhat banget." Jadi aku mulai pasrah, ya sudah, biar saja puisiku untuk curhat saja. Lalu ketika tahun 2008 aku mulai memublikasikan cerpen, puisi-puisi tetap aku buat, tentu saja sebagai curhat.

Tahun 2013 adalah tahun puisi bagiku. Aku menulis puisi buanyak banget justru saat aku sedang getol serius belajar cerpen. Cerpenku sudah beredar banyak di media, juga masuk dalam antologi Dewan Kesenian Lampung, tapi aku belum puas. Kebetulan sekali aku bersama Dina Amalia Susamto terjaring tak sengaja dalam perbincangan dengan Ahmad Yulden Erwin dalam sebuah grup sastra di Facebook untuk belajar nulis cerpen. Masa ini bisa dikatakan sebagai masa pencerahan, namun cerpen-cerpen justru mengalami kebuntuan. Tak ada cerpen yang bisa kuselesaikan walau aku punya bakal cerpen yang super banyak.

Puisi-puisi menjadi penyalur bagi ide-ide di otak. Mereka mengalir mendahului cerpen. Berhamburan setiap hari. Kesempatan bertemu penyair-penyair lain di Lampung walau bukan pertemuan intensif turut memberikan dorongan bagi puisi-puisi ini. Kesempatan datang ke Taman Budaya dan terlibat perbincangan-perbincangan singkat turut menjadi pemantik ide. Buku-buku puisi dari siapa saja mulai kulahap. Kamus, thesaurus, dan catatan-catatan siapapun menjadi guru bagiku. Buahnya, puisi menjadi sarana belajar juga dalam perkembangan cerpenku, khususnya dalam pengetahuan Bahasa Indonesia, diksi dan penyampaian imaji.

Lebih dari seratus puisi kubuat hingga kini. Mungkin ratusan. Sebagian besar diantaranya curhat belaka. Sebagian dari antaranya kubuat serius dengan pengeditan berkali-kali. Dalam beberapa kesempatan, Ari Pahala Hutabarat (yang kukenal sejak 2007 atau 2008 saat bengkel penulisan cerpen) mesti kusebut sebagai pendorong dengan cara yang kadang tak kumengerti, lewat perbincangan tak sengaja tanpa ujung pangkal di teras Taman Budaya, teras IAIN, teras... hmmm, teras manapun. "Mana warna Katolikmu?" Aku seorang Katolik, tapi memang aku tak pernah menggarap tema Katolik secara serius di cerpen yang kupublikasi. Mana Katolikku? Mereka muncul di puisi, tapi aku lebih suka menyebutnya 'kedalaman hatiku' bukan 'katolisitasku'. Memang aku seorang Katolik yang dibaptis, tapi apakah aku sungguh-sungguh Katolik? Memang aku mengidolakan Yesus sebagai panutan manusia radikal, tapi apakah aku sungguh-sungguh pengikutNya? Pencarian, mungkin itulah faseku di ranah ini. Ari mengusikku dengan pertanyaan-pertanyaan (sebagian diantaranya di kuping dan hatiku terasa sebagai tuntutan), dan aku belum bisa menjawabnya dengan cerpen atau novel (yang menjadi bagian dari obsesiku). Tapi aku bisa mengalirkannya melalui puisi.

Sekarang aku menganggap puisi adalah proses pembelajaranku. Dan aku serius dengannya. Masih curhat, bisa jadi. Tapi saat mengeditnya, aku tak mungkin lagi mengabaikan seluruh pelajaran bahasa Indonesia dan juga contoh-contoh puisi bermutu karangan sastrawan luar maupun dalam negeri yang penuh mutu yang pernah kubaca. Aku beruntung mendapatkan banyak guru dalam hal ini. Aku sangat beruntung juga mengalami peristiwa-peristiwa yang membuatku menjadi 'kaya' dengan percikan-percikan ide dan ilmu.

Tapi aku akan selalu bilang aku ini cerpenis, yang mungkin suatu ketika akan menjadi novelis. Walau aku mengeluarkan banyak puisi atau buku puisi, aku ingin tetap dikenal sebagai cerpenis atau mungkin suatu ketika novelis. Aku serius dalam hal ini.

Wednesday, April 09, 2014

PEMILU INDONESIA

Hari ini pemilihan umum (Pemilu) Indonesia untuk memilih anggota DPD, DPR-RI, DPRD 1 dan DPRD 2. Di Lampung masih ditambah memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur. Inilah gawe terbesar politik Indonesia yang akan memberi pengaruh terhadap Indonesia selama 5 tahun mendatang.

Karena keplentingan eh kepentingan itu, seluruh hari ini pun tak terkecuali aku diperioritaskan untuk mencoblos. Ya, sebenarnya sih istimewa karena libur kerja sehingga tak perlu masak pagi dengan buru-buru, lalu tak harus melakukan apapun secara bergegas.

Begitu semua beres datang ke tempat pemungutan suara dengan santai pula. Aku sudah mempunyai pilihan, sehingga tak butuh waktu lama saat ada di bilik eh kotak suara. Tapi aku menyempatkan diri duduk agak lama di kursi antrian tak ingin buru-buru untuk melihat apa yang terjadi di tps. Ya, para pemilih kelihatan antusias datang, tapi tak banyak yang sudah mantap yakin punya pilihan sehingga mereka bergerombol di depan kertas yang dibentang di pagar berisi para calon yang akan dipilih, lalu ngobrol ini itu tentang mereka, saling tanya dan saling ajak.

Para panitia terdiri dari pengurus rt dari beberapa rt sehingga mereka sudah biasa banget menggelar hal ini. Tak sulit. Dan seluruh aktifitas hari ini diwarnai oleh hal-hal Pemilu. Kita lihat nanti hasilnya. PR sebagai warga negara belum selesai begitu Pemilu usai. Semangat!

Tuesday, April 08, 2014

Tanaman, Binatang dan Orang dalam Puisi-Puisiku

Dari 40 puisi yang sudah kusisihkan, kupilah dari lebih seratus puisi yang kupunya, aku menemukan nama-nama tanaman, binatang dan orang berhamburan dalam bait-baitnya. Sambil mengeditnya aku iseng mendata tanaman, binatang dan orang yang ada. Hasilnya, 43 jenis tanaman, 24 jenis binatang dan 26 nama orang.

Tanaman : tapak liman, trengguli, gulma, lambang sari, walikukun, rumput, kepala, bungur, mawar, ephorbia, albasia, sonokeling, palem, kaktus, anyelir, aren, wijaya kusuma, mangga, sirih, pinang, ilalang, saliara, gandaria, beringin, pinus, kapuk, jati, bakung, teratai, palinten, salam, jamur, cendawan, bunga sepatu, euchalyptus, daffodil, kecubung, gaharu, sorghum, luntas, tali putri, kenanga, dan edelweis.

Binatang : sapi, naga, ulo tampar, cecak, domba, burung kenari, burung gagak, kaki seribu, kelelawar, burung kolibri, burung murai batu, serangga, ngengat, rusa, manyar, lipas, kuda, kupu-kupu, kutilang, burung pleci, onta, burung kedasih, kelinci, dan elang.

Nama orang : Uskup Myriel, Limbuk, Azar Nafisi, Charlos Hathcock, Damar Wulan, Loh Gender, Menak Jinggo, Anjasmara, Waita, Puyengan, Dayu, Wira, Empusa, Putri Andalusia, Rabindranath Tagore, Father Carlosa, John, Aktaion, Diana, Artemis, Dewi Gandari, Gibran, Ziadah, Kresna, Arjuna dan Kariyem.

Ini belum termasuk nama-nama yang ada di puisi yang belum terpilih. Bagiku pun sudah luar biasa, apalagi jika bisa kutambah nama-nama lain, di puisiku yang berikutnya, di bukuku yang berikutnya yang bisa kurancang. Wah. Ini bisa menjadi daftar yang panjang.

Sunday, April 06, 2014

Air Minum

Kalau anda semua bertandang ke rumahku, anda tak akan menemukan galon air minum atau dispenser. Yang ada adalah tempat air minum biasa plus ceret. Tiap hari aku merebus air minum dari sumur yang ada di belakang rumah. Sumur ini dalamnya sekitar 4 meter, selalu menyediakan air di musim apapun. Tidak pernah kering. Hanya saja kalau hujan sangat deras dan lama, air sumur menjadi keruh dan ini membuatku mesti menyiapkan tandon air yang cukup minimal untuk dua hari kebutuhan masak-memasak.

Karena aku punya sumber air sendiri yang terhubung secara langsung, maka aku sangat peduli pada kelangsungannya dan juga mutunya. Maka di sekitar rumah kecil kami, full dengan tanaman-tanaman peneduh yang sekaligus berfungsi sebagai penahan air.

Aku tidak mau kehilangan kemerdekaan mendapatkan air gratis yang bermutu. Pabrik-pabrik air minum kemasan sudah menjadi salah satu pemisah manusia terhadap sumber air. Karena tidak ada hubungan langsung dengan sumber air (minum), manusia menjadi tak tahu bagaimana kondisi sumber air dan apa yang terjadi padanya pada akhir-akhir ini. Mereka tak tahu bagaimana kualitas air, perlakuan kimia apa yang sudah dipaksakan untuk mendapatkan mutu air yang mendekati layak, perlakuan apa saja yang merusak sumber air itu dan sebagainya.

Hmmm, padahal sayang sekali. Air mestinya seperti sinar matahari dan udara yang tersedia gratis. Kini air minum dijual sekian ribu per liter. Hampir sama atau beberapa merk malah lebih mahal dari pada harga bensin atau bahan bakar yang jelas semakin langka dan butuh proses lebih lama untuk membuatnya. Siapa yang diuntungkan?

Saturday, April 05, 2014

Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Aku Mengarang

Aku punya empat buku Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, editor Panusuk Eneste. Jilid 1 - 4 itu aku dapatkan secara tidak sengaja. Dua jilid pertama aku dapatkan saat aku membongkar gudang tak tersentuh punya kantor. Yang jilid 3 aku dapat sebagai kado dari Indri. Dan jilid 4 aku dapatkan dari suamiku saat dia ngubeg bazar murahnya Gramedia.

Beberapa hari terakhir ini aku sedang mengulang-ulang beberapa tulisan dalam buku itu. Aku acak saja sesuka hati. Keempatnya ada di depanku, aku lihat deretan penulisnya yang terpampang di sampul depan. Misal dalam jilid 4, aku suka sekali membaca proses kreatif Ahmad Tohari, juga Motinggo Busye. Di jilid 3 ada YB. Mangunwijaya. Di jilid 2 aku baca ulang Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang. Di jilid 1 ada NH. Dini, AA. Navis. Sebagian lain aku baca sepenggal-sepenggal.

Tulisan-tulisan itu membuatku berkhayal-khayal bahwa suatu ketika Panusuk akan menghubungiku dan memintaku untuk menuliskan proses kreatifku, mengapa dan bagaimana aku mengarang. Hehehe...jadi kemudian aku mulai berdebar-debar, sedikit panik. Ah, ya, menulis hal seserius itu tentu butuh waktu yang lama bagiku. Dan pasti lebih menguras energi dari pada menulis puisi-puisiku atau cerpen-cerpenku.

Lalu aku jadi berpikir, apa tidak lebih baik aku mulai menyiapkan tulisan yang diminta Panusuk itu dari sekarang? Jauh sebelum dia benar-benar memintaku disertai tenggat waktu yang tak mungkin dilanggar? Sepertinya memang harus mulai kusiapkan dari sekarang, sehingga saat Panusuk nanti menyuratiku, menghubungiku lewat email atau telepon, aku benar-benar sudah siap.

Ya! Aku akan mempersiapkannya mulai dari sekarang. Aku kira ini ide yang baik. Sangat baik. Hmmm... aku semakin berdebar-debar.

Friday, April 04, 2014

Logis Oon Ala Cak Lontong ILK

Beberapa kali aku ngikuti acara ILK di Trans7 gara-gara di rumah ada penggemar berat Cak Lontong (hehehe...). Spesifik aja aku pun ingin menuliskan tentang logika oon ala Cak Lontong ini. Sebagai contoh episode hari ini (Jumat, 4 - 4 - 14), yang mengambil tema Taman Menghilang, Mall Berkembang.


Ini tema yang serius, tak ada yang bisa menyanggahnya, iya kan? Nah, apa komentar Cak Lontong?

"Pertama harus ditandaskan bahwa taman kota harus berada di kota."

Tentu saja yang menjadi pemandu acara sok nyolot. Karena kan memang harus lucu. Dan nyolot-nyolotnya itu yang ditawarkan sebagai kelucuan ILK (moga gak berlanjut di kehidupan sehari-hari deh). Cak Lontong melanjutkan.

"Iya kan? Kalau tidak di kota, namanya bukan taman kota. Jadi apa yang salah?"

Nah ya tidak ada yang salah kan? Logikanya betul. Tapi oon. Itu masih berlanjut.

"Dan saya peringatkan, jangan sekali-kali membuat taman kota Jakarta di tepi sungai Musi. Kalau dibuatnya di tepi sungai musi, itu tidak bisa disebut lagi sebagai taman kota Jakarta tapi taman kota Palembang."

Hehehe... jadi nangkep kan logis oon ala Cak Lontong? Nah itu juga yang terjadi pada banyak 'iklan' partai untuk Pemilu sekarang ini. Persis. Logis tapi oon. Mau disebutin contohnya? Aih, aku tak mau membeberkan hal-hal yang sudah terbeber. Lihat saja sendiri bagaimana logika oon itu dipelihara demi kepentingan pribadi dan kelompok. Ah, moga-moga virus Cak Lontong ini tidak menyebar luas di dunia selain hiburan. Kacau.

Binatang-binatang di Sekitarku

Rumahku bukan kebun binatang. Tapi rupanya ada banyak nian binatang yang hidup di dalam maupun luar rumah, dan ini karena ... Albert! Ya, siapa lagi si pengerah binatang-binatang ini kalau bukan dia. Aku bukan peminat binatang walau bisa disebut penyayang binatang. Bernard tak punya waktu untuk mengurus binatang-binatang karena pikirannya yang detail terus berputar. Bapaknya apalagi, jelas tak ada minat sama sekali.

Nah, Albertlah biangnya. Dari kecil ketrampilannya menangkap binatang sudah terlihat. Dia bisa menangkap kadal, kodok, dan jenis-jenis binatang lain yang bahkan tak terbayang untuk ditangkap dengan tangan seperti biawak, ular, huft. Aku sering sport jantung gara-gara kelakuannya yang tak kenal takut.

Baiklah, aku tak akan mendata binatang-binatang yang sudah dilepasnya, tapi sekarang lihat apa yang ada di sekitar rumah (sayang aku masih bermasalah dengan pembacaan memory card, jadi sementara tanpa foto ya.) yang berada dalam reksa Albert ya. Pertama, sepasang hamster yang manis tapi bau pesing setiap pagi. Dua, seekor tokek yang didapatnya dari rumah tetangga. Ketiga, beberapa ekor burung. Aku tak tahu lagi jenis apa saja yang ada tapi aku menikmati juga kicaunya setiap hari. Keempat, jangkrik-jangkrik. Mereka ini dibeli untuk makan burung dan tokek. Aih, kasihan betul nasibnya. Kelima, beberapa ekor ayam kampung dan bangkok yang setiap kali aku rayu untuk dibeli buat lauk. Dia tak rela kalau hanya disembelih tanpa penggantian. Hehehe... payah. Keenam, beberapa ekor ikan di kolam belakang yang diklaim punya dia, padalah bapaknya yang urus. Ketujuh, seekor kura-kura sehat di kolam itu juga.

Kedelapan, ini yang paling terakhir kulihat. Saat aku bangun tidur tadi tiba-tiba sepasang mata lucu muncul dari balik motor. Anak kucing! Pasti diselundupkan oleh Albert semalam. Anak kucing hitam dengan bulu putih di tiap telapak kaki, dan di bagian lehernya. Di lehernya sudah terpasang gelangnya si Albert dan pasti sudah dikasih tahu Albert supaya tidak bersuara karena dia tak mengeong sedikit pun. Huwah, bentar lagi kalau bapaknya bangun pasti heboh. Hehehe... aku akan diam-diam sajalah kalau Albert dan bapaknya berdebat soal kucing dalam rumah ini. Hihihi... sini kucing, kau makan dulu sebelum ikut dengar perdebatan mereka. Albert pasti ngotot, dan bapaknya pasti akan lebih ngotot. Tapi kau harus hidup. Hehehe...

Thursday, April 03, 2014

Not a Coffee Geek

Aku bukan seorang coffee geek. Bertemu secangkir kopi itu ya biasa saja seperti saat menghadapi benda-benda lain. Kalau ada aku nikmati, kalau tak ada pas sedang pengin ya dicari, kalau tidak ingin ya biasa saja, tak harus ada.

Tapi aku punya kopi favourite coffee jika aku boleh memilih. Dan ini bukan sesuatu yang tetap sepanjang masa. Artinya, bisa berubah kapanpun sesuka hatiku. Dulu aku menganggap kopi hitam terlalu kuat untukku, maka aku lebih suka memilih kopi susu, atau kopi coklat, atau kopi krem, yang manis, yang tidak pahit, dan cukup secangkir kecil saja.

Beberapa tahun terakhir, aku sering eksperimen, sembari nongkrong pura-pura berpikir, merasakan berbagai jenis minuman kopi entah di rumah, warung kopi, kafe, atau manapun. Mulai dari cappuccino yang gurih, espresso yang pahit dengan air perasan jeruk nipis yang segar, latte yang pahit gurih, kopi tubruk yang kental dengan ampas kasar, kopi instan yang ringan di mulut berat di lambung dan sebagainya. Aku juga mencoba banyak merk kopi yang beredar di Indonesia, maupun beberapa merk lain saat berkunjung di negara lain.

Sekarang aku katakan aku bisa menikmati semua jenis minuman kopi yang panas (aku tidak suka jenis es kopi atau kopi dingin). Tapi jika aku ditawari di suatu tempat oleh seseorang yang ingin mengajakku ngobrol, bukan mengajakku ngopi, aku akan memesan minuman kopi tubruk (terserah mau robusta atau arabica) yang ampasnya lembut tak ada yang mengambang di permukaan, dengan komposisi kopi : gula : air = 2 : 1 : 10, diseduh memakai air panas mendidih memakai cangkir porselin dengan cawan warna senada.

Sudah, begitu saja. Tak usah pakai camilan, duduk di manapun. Tak pake kursi atau tikar atau sofa juga tak masalah. Di dalam ruangan atau di pinggir jalan juga okey. Wis. Siap ngobrol tentang apapun hingga kopi tandas. Bahkan berjam-jam setelah kopi habis aku juga masih bisa bertahan ngobrol.

Tuesday, April 01, 2014

Siddartha, Sebuah Novel : Berpuasa, Menunggu dan Berpikir

Judul buku : Siddartha
Penulis : Hermann Hesse
Penerbit : Jejak, Yogyakarta
Cetakan 4 : Oktober 2007
Alih Bahasa : Sovia VP.
Isi : 224 halaman.
ISBN : 978-979-16341-11-3

Novel Siddartha ditulis tahun 1922 oleh Herman Hesse, peraih nobel sastra tahun 1946. Hesse lahir di Jerman pada tahun1877, meninggal pada tahun 1962. Bukunya antara lain Peter Camenzind (1904), Beneath the Wheel (1910), Getrud (1910) dan Rhoshadle (1914). Dalam perang dunia I dia menyuarakan perdamaian dan anti perang, dan sesudahnya beberapa karyanya lahir seperti Demian, Siddartha, Steppenwolf, Nascissus and Goldmund, Jurney to the East dan The Glass Bead Game.

Novel ini menceritakan perjalanan Siddarta putra seorang brahmin yang menyadari dan mengakui bahwa keahliannya adalah berpuasa, menunggu dan berpikir. Maka dia menjadi seorang gigih yang terus menerus mencari jawaban-jawaban atas 'Om', kesempurnaan yang harus ditujunya. Dia mengawali perjalanan dengan 'sabar menunggu' restu ayahnya untuk menjadi seorang samana, berjalan tanpa menjadi pemilik.

Perjalanan tiga tahun sebagai samana melatih banyak hal tentang hidup. Govinda, sahabat yang menyertainya mengatakan kalau Siddartha mau tinggal lebih lama bersama para samana, dia yakin sahabatnya itu akan segera bisa berjalan di atas air. Tapi Siddartha yang sedang memikirkan pencarian yang sejati mengatakan,"Aku tidak punya keinginan berjalan di atas air. Biar saja si samana tua menyenangkan diri dengan keahlian semacam itu."

Mereka meninggalkan kelompok samana dan memulai pencarian menuju Gotama, si Budda suci yang menjadi perbincangan banyak orang. Cara hidup Guru ini menarik hati Siddartha, tapi dia tak mau mengikuti doktrin. Dia mau menjadi seperti sang Gotama, mendapatkannya lewat pencarian, tidak lewat dogma, doktrin, ajaran. Maka dia meninggalkan Govinda yang sudah memilih untuk menjadi pengikut Budha, sedangkan Siddartha sendiri melanjutkan perjalanan.

Dia meninggalkan dirinya yang samana dan mulai mengenali pelajaran lain yang lebih duniawi. Belajar bahwa cinta itu seni dari seorang pelacur, Kamala, kekasihnya. Juga belajar memainkan uang dari seorang pedagang, Kamaswami. Hingga dia merasa mati, hancur, harus pergi, meninggalkan semuanya termasuk meninggalkan benih di rahim Kamala.

Kali ini dia bertemu lagi dengan Govinda, yang tak mengenalinya tapi sangat dikenalnya. Untuk kemudian dia menjadi 'murid' Vasudewa, si juru sampan, belajar mendengarkan sungai, belajar mengenali emosinya, juga lewat anaknya yang kemudian ditemuinya.  Dia sampai pada kehampaan, juga kepenuhan. Seorang yang penuh cinta, yang dalam dan beragam.