Wednesday, August 28, 2019

Nonton Karnaval Kagol, Tapi daripada Kecewa yukk Tertawa

Sejak beberapa hari aku sudah menjadwalkan tanggal 25 Agustus mau nonton Tapis Carnival yang diadakan oleh Provinsi Lampung dalam rangkaian Festival Krakatau. Maka aku pun menyiapkan untuk pergi secara khusus, menyiapkan diri dengan baik. Sementara inilah sebagian kecil foto yang diambil dalam agenda ini.

Favoritku





Ini yang paling asli. Njogrok di bawah pedagang siomay sambil mencela-cela.
Aslinya memang aku kecewa. Karnawal ini tak memenuhi 20% ekspektasiku. Huh. Lampungku, Lampung tercinta, kapan kau mau belajar dari pengalaman? Huh. Huh. Huh.

Bersatu dalam Satu Tampah: NKRI, Merdeka!

Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 tahun ini di Blok C Perumahan Polri Hajimena Lampung Selatan terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ini pertama-tama gegara para bapak di gang rumahku berada, sejak masuk bulan Agustus mereka berkumpul tiap malam di rumah Pak Putu sebelah rumah untuk merancang segala sesuatu. Pertama, mereka mengusahakan ada bendera-bendera kecil untuk sepanjang gang, kedua mereka juga membuat penjor merah putih yang dipasang di tiap rumah, ketiga pun mereka mengusahakan bambu-bambu untuk memasang hiasan-hiasan itu, keempat masih pula mereka memasang lampu di mulut gang dan di pos ronda dan kelima, mereka mengeluarkan pot-pot diletakkan di atas selokan sehingga gang menjadi lebih asli.

Kegembiraan bapak-bapak yang kompak itu pun mudah sekali menular kepada orang-orang lain. Jadi kalau mereka berkumpul tiap malam, pasti ada kopi dari Bu Putu, terus ada cemilan-cemilan. Begitu terpasang memang tampak kalau merah putih membuat gang masuk ke blok C perumahan Polri Hajimena ini menjadi semarak.

Menjelang 17 Agustus kemeriahan semakin terasa olehku karena lewat grup WA para ibu dikabarkan beberapa lomba-lomba yang akan diadakan di Blok A. Bu RT kami yang keren pun mengkoordinir para ibu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan itu.

"Tak penting menang atau kalah, yang penting kita silahturahmi dan terlibat bersama warga," itu pesan Bu RT, atau yang biasa kami panggil: Mami.

Salah satu lomba yang akan diikuti ibu-ibu adalah lomba tumpeng. Maka rapat-rapat berantai pun dilakukan lewat grup WA, sehingga ada kesepakatan bahwa setiap orang membawa bahan sesuai dengan yang dimaui atau disanggupi lalu dikumpulkan di rumahku pada hari H untuk bersama-sama dihias sebagai tumpeng yang indah.

Aku menyanggupi menyediakan tampah dengan pernak-pernik yang dibutuhkan. Maka usai mengikuti jalan sehat pada tanggal 18 Agustus pagi, aku mulai menghias tampah dengan daun pisang, memberi pelapisnya di bagian tepi hingga siap untuk menjadi wadah tumpeng. Kubalut bagian pinggir tampah dengan kertas merah putih, lalu kusediakan beberapa bendera kecil merah putih dengan tiang dari tusuk sate, juga tulisan dirgahayu kemerdekaan RI pada kertas warna merah untuk menandai tumpeng.


Usai arisan ibu-ibu yang kebetulan diadakan pada hari yang sama, satu persatu ibu di blok C pun berkumpul, membawa bahan-bahan masing-masing juga kegembiraan untuk bekerja bersama. Bu Tir yang ahli membuat garnish sudah siap dengan bunga-bunga cantik dari bahan yang ada. Ibu-ibu lain membawa nasi kuning, kering tempe, kering kentang, tahu tempe bacem, telur rebus, ayam bumbu, mi goreng, urap, lalapan, kerupuk dan lain-lain.

Proses yang heboh menghasilkan tumpeng yang heboh, cantik. Asli. Membuat kami antusias. Walau Bu RT mengingatkan kita tidak akan terpengaruh menang atau kalah, semua ibu kayaknya sepakat dalam hati: Kita pasti menang. Hehehe...

Tumpeng yang semarak indah itu seperti kondisi Indonesia kita. Beraneka ragam rasa, warna, bentuk, semua bersatu dalam satu tampah, dan membentuk paduan yang indah bagus mengundang minat.

Saat malam hari diumumkan bahwa tumpeng blok C menang, rasanya kami sudah tidak heran lagi. Hehehe... Piala juara satu pun diboyong ke blok C dengan sukses. Tapi aku tetap setuju dengan nasehat Bu RT beberapa kali itu, bahwa yang penting dari semua proses itu adalah silahturahmi, untuk persatuan, untuk persaudaraan.

Tak sabar menunggu tahun depan untuk mengulang kegembiraan ini.

Friday, August 16, 2019

Diskusi Gender KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang: Perempuan dan Laki-laki Diciptakan Setara Menurut Citra Allah

Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang menggelar diskusi tentang gender. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dalam tahun ini untuk belajar bersama tentang gender. Kali ini diskusi diadakan di teras Matow Way Hurik Tanjungseneng, Kamis 15 Agustus 2019 diikuti oleh 10 penggiat dari berbagai kelompok yang ada di Keuskupan Tanjungkarang.

Diskusi mengambil pemantik Surat Gembala KWI 2004 tentang Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah. Pembahas utama, RD Gregorius Suripto mengajak seluruh peserta untuk membaca surat gembala itu dan mencermatinya tiap bagian yang ada mulai dari keprihatinan, kesadaran dan perilaku baru yang harusnya dibangun oleh masyarakat.

"Pelanggaran terhadap martabat perempuan yang menganggap bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai benda, sebagai obyek perdagangan, melayani kepentingan egois dan kenikmatan semata. korban pertama atas hal itu adalah kaum perempuan, menghasilkan penghinaan, perbudakan, penindasan terhadap kaum yang lemah, pornografi, pelacuran, khususnya dalam bentuk terorganisasi," tandas RD. Greg.

Karena itulah kesadaran untuk menghormati martabat perempuan menjadi bagian penting untuk dilakukan. Bahwa manusia itu laki-laki dan perempuan, bukan salah satunya. Yang perlu diingat adalah perempuan dan laki-laki mempunyai peran biologis/seksual yang berbeda, yang tak bisa dipertukarkan, tapi bisa saling mendukung untuk menjalankan peran biologis itu. Sedang dalam peran gender, dua belah pihak harus menjadi mitra, saling melindungi supaya tidak ada satupun yang menjadi korban.

"Kita harus menghentikan paternalistik, tak boleh ada dominasi salah satu jenis kelamin. Perempuan bukan milik laki-laki, entah ayahnya atau suaminya," demikian salah satu point yang mencuat dalam diskusi ini. Seluruh diskusi dipandu oleh Maria Torra Pratiwi, dan rencana tindak lanjutnya akan diadakan diskusi lagi dengan tema pendalaman khususnya tentang kekerasan dalam rumah tangga, dalam masa sebelumnya, mungkin saja bekerjasama dengan Komisi Keluarga dan Komisi Kepemudaan. Dengan demikian ada sinergi dengan semua pihak untuk mengatasi masalah-masalah ketidakadilan gender.




Gerakan Go-Ban untuk Pelita Kasih

Aku dan Pak Willy di kantorku.

Hari Selasa, 13 Agustus 2019 lalu aku kedatangan beberapa tamu luar biasa. Salah satu yang mengunjungi kantorku adalah Pak Willy Darma. Orang tua ini dulu yang mengelola YPSK sekian puluh tahun. Hidupnya didedikasikan untuk masyarakat Lampung, sampai purbabakti beberapa tahun lalu. Salah satu cerita yang dibawa oleh beliau adalah gerakan Go-Ban, yaitu mengumpulkan 50 ribu rupiah tiap bulan sebagai aksi sosial. Kali ini dana yang terkumpul diserahkan unttuk Pelita Kasih.

Pak Willy cerita kalau dia sudah menulis untuk sebuah media tentang gerakan itu dan aku berjanji mau ikut mempublikasikannya kalau tulisan itu dikirim padaku. Baru saja aku mendapatkan email dari beliau dan inilah tulisan itu:

Mereka cacat fisik, tapi mental tidak terganggu dan semangat hebat. (Kalimat ini menyertai foto-foto orang-orang yang hebat dengan tanpa kaki atau tangan dan sebagainya)
Lain ceritanya pada  anak-anak yang berkebutuhan khusus karena  gangguan mental. Yayasan Pelita Kasih di Lampung, adalah salah satu sekolah luar biasa. Di bawah asuhan para suster ALMA, saat ini ada  40 murid yang  mentalnya terganggu. Muridnya ada yg autis, down syndrome, microsephalus, dll, Dilayani oleh 14 guru yang super sabar.

Selain ada Go-Jek, Go-Car, Go-Food, Go-Pay, Wulan Lampung bikin Go-Ban
Mencoba mengumpulkan donor yg bersedia nyumbang Rp 50.000,- /bulan untuk Pelta Kasih.
Kegiatan ini sukarela, tanpa ikatan, terbuka untuk siapa saja
Boleh sumbang lebih, tapi pakai  nama lain. Tujuannnya agar ada pemasukan yg agak rutin.
Agar tidak ada kesan terpaksa atau sungkan, diumumkan lewat group.
Sudah ada dua peserta non Wulan dari Jakarta yang ikut gabung.
Ada anggota yg bulan Mei lalu sedang berobat di Singapur. Begitu baca WA  ia langsung transfer. Ada juga yang setor/transfer bulanan. Ada non anggota yg langsung ikut gabung jadi donor.
Masing orang punya pengeluaran sendiri yg kita tidak tahu.
Jadi kalau ada anggota yang belum gabung, itu tentu mereka punya pertimbangan pribadi.
Mei, Juni, Juli, sudah  ditransfer di atas sejuta. Bulan Agustus, akan jadi 2 juta. Sebagai laporan, tiap bulan dikirim ke group via WA foto bukti transfer dana yg terkumpul, dan nama nama pendonor .

Kunjungan beberapa anggota Wulan ke SLB Pelita Kasih 10 Agustus 2019

(Kapan-kapan aku akan tanya apa dan bagaimana Wulan itu. Kemarin aku ndak tanya. Terimakasih ya, pak Willy.)

Tuesday, August 13, 2019

Satu Malam di Raja Amat (10): Perjalanan Pulang


Kapten Bayu, boss (hihihi), Josep dan Endo.
Josep menjawab dengan ramah saat ditanya berapa lama perjalanan pulang dari Friwen ke Sorong,"Dua jam sudah sampai."

Ombaknya? "Moga tidak tinggi."

Tapiiii, penumpang bagian belakang disuruh pakai jas hujan. Huaaa... tanda-tanda ndak baik ini. Doa pun kembali terlantun.

Kok lama sih Jo? "Bentar lagi, bu. Ini lurus saja kok."

Yoalah, sampai 3 jam juga belum sampai. Dasar si Josep. (Saat di pelabuhan dia minta maaf, memang mengatakan hanya 2 jam perjalanan biar penumpang tidak takut.) Dan memang lurus saja ini perjalanan pulang, tak mampir-mampir lagi. Ombak tinggi, arus samudera, semua dilewati dengan gagah oleh speedboat dengan kaptennya yang cool. Awalnya kepulauan di belakang masih kelihatan semakin samar, lalu hilang tak tampak mata. Kok pulau depan masih belum kelihatan?

"Belum bu, bentar lagi." Suara Josep masih kalem aja. Hadehhh... Speedboat terbanting-banting dengan bunyi yang bikin seram.

Sesekali kami terhibur kalau berpapasan dengan perahu-perahu tradisional. Jelas kecepatan speedboat 200 PK yang kami tumpangi menang soal apapun. Lebih cepat, lebih tangguh. Melihat mereka di longboat yang begitu pelan dengan penumpang-penumpang orang lokal kok ya lebih serem. Duh, mereka sehari-hari sudah melakukan pelayaran model itu sepanjang waktu.

Sekali dua kali kami lihat kapal besar, Sorong - Waisai yang sehari memiliki 2 kali jadwal pelayaran pulang balik. Mereka seperti perempuan besar yang berjalan anggun melintasi samudera, tampak tenang dan tidak tergesa-gesa. Tapi yo tampak sekali oleng kanan, oleng kiri.

Sesekali kami akan melihat ikan-ikan layang yang meloncat dari satu ombak ke ombak berikutnya. Indah berkilat. Kadang dalam khayalan muncul bayangan ikan besar di bawah permukaan air laut. Mereka sepertinya dophin penjaga kami, menemani pelayaran siap membantu kalau dibutuhkan. Atau mereka itu rombongan hiu yang siap memangsa kami kalau terjungkal ke laut? Huaaa...

Ke Billy Bakery untuk pesan Roti Abon Gulung
Juga kami masih melihat burung-burung putih terbang berputar, sesekali menyambar ikan yang tidak beruntung. Lha mereka dari mana dan dimana hinggap kalau capek terbang ya?

Tontonan macam itu juga pikiran-pikiran yang selintas-selintas memenuhi pikiran, membuatku bisa sedikit melupakan amukan ombak. Kalau sudah celingukan ke arah depan tapi pulau belum nampak juga, duhhh... kembali deh dag dig dug.

Setelah lebih dari 3 jam, ombak juga belum reda, tapi mercusuar Sorong dengan menaranya yang kukuh mulai kelihatan, rasa lega mulai mengalir. Kapal-kapal, perahu mulai tampak dan dermaga di kejauhan semakin jelas wujudnya. Puji Tuhan.

Sampai dermaga, langsung aku ke toilet, nyuci dan ganti baju. Lalu aku seret 3 kru kapal, Josep si Pemandu, Bayu si Kapten dan Endo si Kelasi, untuk foto bersama. Mereka para muda yang tangguh. Makasih ya. Terimakasih banyak.

Tugu Merah dan ornamen di depan seminari Sorong.

Sopir dari Kingsfour sudah menanti dengan mobil minibus. Mereka akan mengantar kami ke toko oleh-oleh untuk pesan roti abon gulung, lalu mengantar ke penginapan. Billy Bakery yang kami pilih untuk beli abon gulung, roti khas untuk oleh-oleh Sorong. Kita bisa pesan di toko ini, membayar lunas, menunjukkan jam penerbangan kita dan besok oleh-oleh itu siap kita ambil di bandara Dominique Edward Osok. Jadi kita bisa mendapatkan oleh-oleh yang segar untuk dibawa pulang.

Nah, di Sorong sendiri tak banyak yang bisa dikunjungi. Tapi ada Tugu Merah, juga ada beberapa lembah atau bangunan yang indah. Jalanan cukup bagus, dan makanan enak dengan bahan dasar ikan cukup mantap. Pernah aku makan sate, kukira sate ayam dengan bumbu kacang, tapi setelah beberapa suap barulah kusadar. Ini ikan. Ikan yang segar disate dibumbu kacang. Mantap pokoknya.

Bandara Dominique Edward Osok Sorong
Salah satu penampakan di bagian dalam bandara.
Aku agak kapok pada ombak-ombak Raja Ampat. Tapi kalau ada kesempatan lagi pergi ke tempat ini, apalagi gratis aku tak akan banyak pertimbangan, ayukkk saja. Inilah daerah paling timur yang pernah kukunjungi di bumi Indonesia setelah beberapa tahun lalu menjelajah Ambon. Tentu saja aku akan mau jika ada kesempatan lain mengunjungi daerah timur nan indah ini.  Indonesia sangat luar biasa.*** (selesai)

Satu Malam di Raja Ampat (9): Bersantai di Pantai Friwen


Keluar dari wilayah kepulauan Batu Pensil, kami  kembali dikocok ombak sampai tak bisa koment dah. Doa singkat nyembur berkali-kali:"Ya, Tuhan, ke dalam tanganmu kuserahkan jiwaku." Duhhh, ampun.

Nah, begitu masuk teluk tempat Pantai Friwen berada, suasana langsung tenang. Puji Tuhan. Aku meloncat ke pantai dengan lega. Benar-benar lega. Airnya tenang, dan landai. Beberapa perahu lain juga tampak berlindung di pantai ini tanpa mengeluarkan penumpangnya. Josep bilang kalau mereka parkir sementara waktu menunggu ombak di luar sana agak reda. Wah.

Satu kapal besar sudah memuntahkan penumpang yaitu turis-turis dari Australia. Mereka menyebar di sekitar pantai menggunakan perahu kecil, sebagian berenang di sekitar pantai. Mungkin 3 atau 4 pasang mereka itu. Sedang kami ber-6 plus 3 kru langsung menyerbu salah satu warung dengan satu mace yang ramah. Rm. Koko udah teriak-teriak mau mi instan dari sejak pagi, langsung pesan itu. Sayang seribu sayang mace bilang mi instan habis. Si Josep yang menjawab bahwa mereka punya 9 bungkus di kapal. Oalah, ndak bilang lho Jo.

Beberapa gelas kopi dan teh langsung tersaji. Mace menyiapkan pisang goreng. Kru kapal membuat api di samping warung siap-siap membakar ikan. Kami menyebar mencari kenikmatan masing-masing. Aku langsung menyusuri pantai ke arah kiri, sampai beberapa ratus meter, melemaskan kaki. Rm. Koko main ayunan. Rm. Ewal berenang. Rm. Heri mencari cara untuk mancing. Hihihi. Sr. Natal dan Rm. Bimo kayaknya di warung aja.

Balik dari menyusuri Friwen aku tiduran depan warung. Surga seperti ini sungguh seperti ini, Tuhan. Masih ada bonus aroma wangi pisang goreng yang menggelitik perut sehingga aku jadi kebayang juga pengin makan mi goreng instan. Hehehe... piye to.

Kru kapal sudah menyiapkan nasi untuk makan siang dari Waisai. Ohya, mereka bertiga ini disiplin lho: Tak merokok, tak minum alkohol. Itu sudah masuk dalam kontrak kerja mereka dan mereka menaatinya sepenuh hati.

Kembali tentang Friwen, ini sebenarnya lokasi yang sangat pas untuk berenang. Iri banget lihat rm. Ewal sampai merah merona kerebus air pantai. Aku hanya nyemplung kecipak-kecipik lalu kembali lagi berteduh di bawah pohon. Nyebur kaki aja, kembali lagi di bawah pohon. Hehehe... Tapi pantai ini memang menawarkan ketenangan. Segalanya serba tenang di sini. Ombak dan angin pun rasanya mengikuti irama tenang ini. Sebagai spot terakhir dalam tour Raja Ampat yang dipilihkan oleh Josep dan kawan-kawan, Friwen sangat tepat untuk diam sesaat sebelum pulang. Saatnya mengendapkan segala yang didapatkan dari Raja Ampat supaya tak luntur oleh ingatan lain.
Foto bareng sebelum naik ke kapal.

Aku menyempatkan diri untuk menikmati ketenangan itu di bangku warung, di bawah pohon, di pasir putihnya, bahkan juga saat masuk ke dalam airnya yang tenang. Sebuah lagu kulantunkan dalam hati:

...
Alangkah indah rumahMu, Tuhan, Raja Alam Raya
Burung pipit serta layang-layang Kau berikan sarang
Betapa kurindu, tinggal di rumahMu
Sorak dan sorai bagiMu.
...

Lagu itu kubahas sendiri dalam percakapanku denganNya. "Intinya adalah kesadaran, Yul. Kesadaran. Jika kau sadar, kau akan selalu tahu bahwa kau sedang ada dalam rumahKu." Iyalah, aku tak mengelak dari hal itu.

Puas berenung-renung, juga berheboh-heboh, makan siang berlimpah sampai super kenyang, main ayunan sambil berfoto-foto, kulit sudah hitam manis. Josep mulai ngajakin kami kembali ke speedboat. Ombakkkk, janganlah dirimu terlalu nafsu siang iniiii.... please. *** (berlanjut)

Satu Malam di Raja Ampat (8): Batu Pensil

Di depan itulah Batu Pensil.

Makan kacang.
Tidur pulas di Raja Ampat City Hotel membuat pegal-pegal gegara naik turun bukit di Piaynemo juga ketegangan akibat guncangan ombak bisa mereda. Hotel sangat sederhana, tapi bagiku cukup nyaman. Air minum lengkap dengan air panas plus kopi teh gula tersedia di ruang depan kamar yang nyambung dengan lobby dan berfungsi juga untuk tempat sarapan. Dan disediakan sarapan lhooo, tentu dengan khasnya kepulauan Raja Ampat, ikan tuna dan daun singkong.

Jam 8 kurang kami sudah otw ke pelabuhan Waisai, antusias namun juga berdebar-debar. Membayangkan ombak yang tinggi siap menghadang. Hohoiii... Sesampai di pelabuhan aku lebih deg-degan lagi. Terasa banget kalau ombak jauh lebih tinggi daripada saat kami bersandar kemarin sore. Speedboat saja susah merapat di dermaga. Wuih, petualanan hari ini pasti seru. Asli, deg-degan.

Dari awal si Josep sudah membagikan jas hujan ke penumpang di bagian belakang, dan beberapa menit begitu kami keluar dari teluk, ombak tinggi sudah membanting kapal. Sekali, dua kali, oleng kanan, oleng kiri... duh.

Si Josep selow aja menjawab setiap pertanyaan:

"Sebentar lagi sampai."

"Itu, pulaunya sudah di depan."

"Itu sudah dekat."

"Ada kok ombak yang lebih tinggi, ini tak seberapa."

"Biasa. Memang bulan ini ombak tinggi. Tapi aman."

Hadehhhh.... rasanya tuh jauhhhhh.... lamaaaaa.... dan ngeriiiii.... Ini belum sampai juga spot yang dituju. Aku kudu mengoreksi ke teman-teman lain soal pernyataanku kemarin,"Aku pernah melalui ombak yang lebih ganas saat di Batangas Filipine, aman kok." Hadehhh, ini dua kali lipat dari perjalanan Batangas, asli. Padahal belum sampai ke lokasi Batu Pensil, spot pertama di hari ini.

"Kita mampir sebentar ke Friwen untuk mengantar alat snorkeling. Ada rombongan besar yang membutuhkan alat-alat kita. Hanya mampir sebentar. Setelah dari Batu Pensil baru kita agak lama di Friwen untuk makan siang sebelum balik ke Sorong."

Nyaris tak ada yang nanggepin. Agak ayem ketika memasuki daerah Friwen yang tenang, tapi begitu speedboat kembali meraung membelah lautan, huhuhuuuu... kembali dag dig dug. Lagian si Josep ini tak menyarankan kami memakai lifejacket yak. Gemes.


Tapi saudara-saudara, semua langsung terbayar tuntas ketika kami memasuki kepulauan dimana Batu Pensil berada. Tandanya, kecepatan perahu menurun, riak ombak menjadi tenang, lalu kata wow mulai muncul dari mulut penumpang satu persatu.

Kami naik ke dermaga kayu yang goyang-goyang, mungkin sudah lapuk persis di seberang batu pensil. Itu mah biasa saja, jika dibandingkan dengan goyangan gelombang, jadi kami merasa santai, berasa tuntas segala mara bahaya (ndak mikir nanti baliknya gimana) pokoknya sekarang menikmati pemandangan indah yang luar biasa.

Batu Pensil sebenarnya biasa saja, berupa karang yang mencuat berdiri di tengah laut, serupa tiang karang atau ya seperti pensil itulah, eh sebenarnya juga ndak mirip pensil. Hanya seperti batu yang tinggi langsing berdiri tegak. Tapi perpaduannya dengan seluruh pulau-pulau di sekitarnya yang membuat Batu Pensil ini istimewa. Juga bening dan tenangnya air laut membuat kami ngah ngoh penuh takjub. Tuhan Maha Pencipta, inilah cipratan surga yang Kau bolehkan kami nikmati. Rasanya.... duhhhh....

Aku tak ingat pasti apakah aku pernah memimpikan tempat seperti ini bisa kukunjungi. Tapi sepertinya, eh mungkin saja sih suatu masa dulu pernah, entah dalam mimpi atau bocoran dari kehidupan masa lalu selintas aku sebagai seorang remaja berdiri di sebuah pulau, melambai-lambai pada kapal yang lewat, meminta mereka untuk mengajakku pergi. Setelah pengembaraan sekian abad, kini aku pulang. Hehehe... seperti itu deh kayaknya, maka aku rasanya nyaman sekali di tempat dini, serasa di rumah sendiri.*** (berlanjut)

Friday, August 09, 2019

Satu Malam di Raja Ampat (7): Menginap di Waisai

Salah satu tugu
malam hari.
Inilah sebenarnya maksud judul satu malam di Raja Ampat. Keseluruhan waktu mengitari Raja Ampat sebenarnya sekitar 30 jam, dari pagi-pagi 28 Juli hingga sore pada 29 Juli. Lengkapnya satu malam dua hari di Raja Ampat. Hehehe...

Senja mulai melingkupi Raja Ampat saat speedboat melempar jangkar di dermaga pelabuahan Waisai. Kru kapal memberikan pesan: "Besok jam 8 ditunggu di dermaga ini lagi untuk mengunjungi dua spot yang tersisa." Siap.

Dua mobil utusan Rm. Susilo sudah menanti di parkiran pelabuhan. Kami berenam langsung memecah mengisi dua mobil masing-masing bertiga. Sopir mobil mengatakan kalau kami akan diantar ke hotel, lalu jam 19.00 akan diantar untuk makan malam. Ahaiii, nikmatnya dunia ini ya Tuhan. Puji Tuhan. Perutku sudah keroncongan sejak keluar dari air Arborek. Laper sangat. Tapi aku juga pengin segera mandi karena sejak masuk air aku tetap menggunakan baju yang sama, basah-basahan.
Hotel tempat menginap

Sr. Natal membantu untuk check in di Raja Ampat City Hotel, recomended hotel, tidak jauh dari pelabuhan dan cukup nyaman. Harga kisaran 400 an ribu. Dengan fasilitas yang cukup baik, dan bersih. Saat sr. Natal masih ribet dengan urusan mbagi kamar-kamar, aku sudah nyelonong di kamar yang paling dekat dengan lobi dan langsung masuk kamar mandi. Dengan demikian aku masih waktu sebentar untuk berbaring sebelum berangkat makan malam.

Kerepotan sr. Natal saat check in itu bermula dari para romo yang tak biasa tidur berdua padahal sr. Natal hanya booking 3 kamar saja untuk berenam. Hehehe... wajar saja. Tapi itu perkara mudah, dan dengan cepat mereka mendapatkan kamarnya masing-masing.
Makan malam di pastoran Waisai. Kenyangggg....

Persis jam 19.00 kami berangkat ke Pastoran Waisai. Rm. Susilo dan umat sana sudah menyiapkan makan malam untuk kami semua. Huaaa... menu lengkap yang buanyakkkk sampai kami puas bahkan tak bisa menahan diri untuk membawa pulang eh membawa bekal juga untuk dibawa ke hotel. Hihihi, tamu tak tahu malu pokoknya. Makasih banyak, rm. Susilo. Menu yang pas dan lezat.

Di salah satu oleh-oleh Waisai.
Selesai makan pun kami masih ditawarin untuk keliling Waisai. Tapi mengingat tubuh masing-masing yang sudah pengin berbaring kami hanya mampir sebentar ke satu tugu Raja Ampat. Ada banyak tugu di Waisai untuk menandai Raja Ampat. Lalu kami ke toko oleh-oleh yang sudah hampir tutup karena sudah malam, dan dua pekerjanya sudah males banget ngelayani, tidak ramah lagi karena capek kali. Harganya selangit, jadi aku pun hanya membolak-balik barang-barang, lalu membeli tifa mini seharga Rp. 70.000. Sebagai tanda bahwa aku pernah ke Papua. Hehehe...

Balik hotel hanya kepikiran berbaring. *** (Berlanjut)

Thursday, August 08, 2019

Satu Malam di Raja Ampat (6): Bermain Bersama Ikan di Dermaga Arborek

Sudah sejauh ini, ya harus nyebur dong. Sebelum-sebelumnya paling hanya njeburin kaki, main-main pasir dan riak pantai. Kesempatan untuk benar-benar nyebur datang saat sore kami sampai di spot terakhir untuk hari itu di Dermaga Arborek, di salah satu pulau yang terkenal untuk snorkeling. Kru kapal sudah menyediakan life jacket dan alat snorkeling, jadi aku pun memanfaatkannya dengan baik dalam waktu yang sangat terbatas. Walau tak bisa renang, aku senang bisa snorkeling.

Dari awal aku sudah ngomong ke si pemandu, Josep bahwa aku mau snorkeling kalau ada pegangannya.

"Ada, bu. Nanti kita bisa snorkeling di sekitar dermaga. Ada tangga di situ."

Benar saja. Begitu kami sampai di Arborek sudah ada dua kapal kecil yang bersandar. Satu rombongan sedang snorkeling dan berenang di sekitar tangga, sedang satu rombongan lagi rupanya sudah selesai menikmati air, sehingga tampak mereka hanya istirahat dan tidur di perahu.

Satu rombongan yang sedang di air pun rupanya segera pergi, sehingga kami saja yang ada di sana. Para suci rombonganku itu rupanya tak terlalu berminat untuk masuk air. Sr. Natal sudah menyiapkan roti untuk ditebar ke ikan-ikan. Rm. Koko dan Rm. Heri sepertinya sudah puas menikmati Arborek dari atas dermaga. Iyalah, ikan besar kecil berseliweran dengan jelas di air jernih itu. Juga terumbu karang aneka warna bisa di lihat dari atas dermaga. Tapi aku tak kan puas kalau ke Raja Ampat tidak masuk air. Jadi aku pun turun dan sambil pegangan anak tangga yang paling bawah aku bisa meditasi eh snorkeling merasai air, arusnya, segala macam pemandangan bawah air.

Ikan bisa menyentuh hidungku, melintas persis di dekat mata, bahkan ada yang nggigitin kaki. Ya, ampun... rasanya tak terkata. Kayak bermain-main dengan ikan. Saat aku menghentikan sesi pertama, naik sebentar, si Rm. Bimo rupanya tergiur juga dan ternyata dia bawa alat snorkeling sendiri, jadi dia ikutan turun walau hanya sekejab mata. Hehehe...

Saat aku mau turun lagi, Rm. Ewal melepas bajunya dan langsung njebur. Si jago renang itu nikmat banget merasai air laut, tapi dia kesulitan untuk melihat pemandangan bawah air. Matanya sudah plus or minus 9, kalau kacamata dilepas tak kan bisa melihat apa-apa. Kalau tak dilepas ya piyelah, dia kerepotan mencoba andai memakai kacamata renang or snorkeling tanpa melepas kacamatanya.

Nah, memang indah banget. Larangan untuk memancing di sekitar pantai, tak boleh menginjak terumbu karang, tak boleh membuah sampah di situ, benar-benar menjaga alam Raja Ampat terjaga. Ikan besar pun bisa menyapa dekat sekali dengan wajah. Si Josep yang mengambil gambar bawah laut berusaha mengajakku ke tengah, dengan jaminan akan memegangku. Tapi aku tak berani. Pun sudah puas berpegangan tangga dermaga bermain bersama ikan-ikan.

Wednesday, August 07, 2019

Satu Malam di Raja Ampat (5): Top View of Piaynemo


Rasanya pengin berlama-lama di tempat ini.
 Berikut ini spot favoritku (eh, ndak juga ding. Tempat lain juga suka. Tapi pokoke bikin seneng, berlipat-lipat energi yang kudapat dari tempat ini.) Puncak Piaynemo. Tak jauh dari Telaga Bintang, masih di gugusan kepulauan yang sama, kami melempar jangkar. Aku langsung meloncat ke dermaga dengan semangat. Antusias yang kurasakan dari Telaga Bintang masih berlimpah-limpah, dan kini melihat plank Piaynemo dengan deretan tangga seolah-olah melambai mengajak mengundang.

Indah banget.
"Ini lebih tinggi tempatnya, tapi jalannya lebih bagus. Tangga-tangga kayu sampai ke atas nanti." Papar Josep.

Salah satu perhentian. Niat banget pengin foto
setiap kali udah terengah-engah
 menapai tangga.
Full team.
Dari jauh kami sudah disambut dengan senyuman mace-mace yang berjualan di dekat dermaga. Beberapa mace menawarkan kelapa muda, minuman-minuman lain, sate kerang dan jajanan ringan. Sudah pengin saja duduk di bangku-bangku mereka, tapi yo mosok lho. Naik dulu dong.

Maka, kami berjalan dengan semangat ke puncak Piaynemo. Bikin mengkis-mengkis nafas pendek, tapi untungnya pemandangan indah menjadi dopping yang segar. Sedikit-sedikit berhenti. Selfie dongg... foto-foto...

"Kalau mau lewat kiri, itu tangga SBY. Yang kanan itu tangga Jokowi." Uhuk. Aku terbatuk dengar penjelasan Josep saat kami di persimpangan. Yang tangga Jokowi lebih tinggi. Hihihi. Kubayangkan nanti kalau presiden selanjutnya setelah Jokowi ada tangga lain, dengan panggung yang lebih tinggi. Hehehe... bagus kan.

Sampai di atas, weihhh... gugusan pulau-pulau, dengan air laut yang biru, kehijauan, tampak tenang. Padahal saat di lalui ombak gelombangnya menggulung-gulung riuh bikin nyali ciut. Ini begitu dipandang dari atas, tenangggg... lembut selembut sutra... seolah tanpa riak. Angin menyapa kami cukup kuat, membuat rambut dan kain berkibar-kibar, juga perasaan berkobar.

Tuesday, August 06, 2019

Satu Malam di Raja Ampat (4): Telaga Bintang yang Super

 Spot berikutnya usai makan siang adalah masih di seputaran Kepulauan Piaynemo. Tak jauh dari homestay, kami bersandar di dermaga dengan gapura bertuliskan Telaga Bintang. Aku yang tidak browsing tentang daerah-daerah ini sebelum berangkat kemarin, seperti mendapatkan kejutan-kejutan indah setiap kali. Terguncang-guncang oleh ombak lalu berdecak-decak oleh keindahan. Kayak gitu dari pengalamanan beberapa spot awal, maka kali ini pun aku bersiap.

Untuk sampai ke tempat yang dimaksud, kami dipandu untuk naik ke bukit karang. Walau sudah dibantu dengan tangga semen tapi tetap saja sangat terjal. Sarung pun kubuka biar enak melangkah. Kesrimpet dikit resikonya besar. Ndak mikir gimana turunnya yang pernting merangkak naik sampai di puncak, dan woowww... super. Benar sekali namanya Telaga Bintang karena dari atas memang tampak seperti bintang raksasa berwarna biru kehijauan. Indah, susah dikata.

Di puncak yang areanya sempit itu kami bergantian memakai posisi paling tepat untuk ambil foto. Di sela-sela berfoto menggumam tak henti-henti mengagumi keindahan yang hanya bisa didapat di Raja Ampat.


Melihat dari atas bukit ke arah 'bintang' raksasa, merasai angin yang kencang dan udara yang segar. Aku merasakan syukur yang luar biasa. Ini wisata yang 'sangat mahal', bukan soal uang tapi soal keagungan ciptaan. Menoleh ke kiri, ke kanan atau ke belakang isinya hanya semata kekaguman.

Paling nyaman kalau ke tempat ini dengan menggunakan sandal jepit, baju yang simpel bebas bergerak. Bagusnya bawa air minum dalam botol kecil masukkan ke kantong celana. Tidak perlu membawa barang lain yang bikin ribet. Cukup sedikit air minum dan kamera yang baterainya full. Sudah, gitu saja. Tentu saja dengan fisik yang bagus dan konsentrasi. Batu karangnya tajam, jadi mesti konsentrasi saat naik dan turun.

Kami turun dengan tak rela, tapi Josep si pemandu sudah mengingatkan kita masih akan ke spot lain yang lebih tinggi. Jadi kami harus segera turun. Turun dengan super hati-hati, jangan sampai terperosok. Kalau naiknya merangkak, nah turunnya ngesot. Hihihi. Tapi sungguh tak rugi, sungguh. Pun sampai bawah masih foto-foto lagi donggg.




Monday, August 05, 2019

Satu Malam di Raja Ampat (3): Makan Siang di Piaynemo Homestay

Dari Pasir Timbul kami melaju ke Piaynemo Homestay. Sudah pukul 12.00 WIT dan perut sudah mulai keroncongan. Kami dipandu ke bagian belakang homestay. Pun begitu aku nyempetin foto-foto dulu di dermaga. Masih takjub-takjub terus melihat keindahan alam daerah itu. Wowww.

Kru sudah menyiapkan makan siang di meja dekat pantai, di bagian belakang homestay. Menu makan siang yang lezat itu rupanya dibawa dari Sorong, jadi kami berada di homestay itu hanya numpang makan saja. Hehehe...

Dermaganya saja sudah membuat hati tertambat. Huhuhu...

Begitu naik ke dermaga, tak bisa menahan diri untuk mondar-mandir di dermaga. Nengokin rumah kecil-kecil di atas air dan jelas tak bisa menahan diri untuk foto-foto di situ.

Sampai kemudian kru kapal memanggil untuk mengikutinya. Dia sudah menyiapkan makan siang di bagian belakang homestay. Tradaaaa.... langsung ke pasir putih pantai nan indah.

Di meja makan sudah tersedia lunch box untuk masing-masing dari kami. Menu yang menggugah selera. Nasi, ikan tuna dibumbu pedas, telur rebus dibumbu manis, bihun goreng dan cap cay sayur. Nikmattt...

Selamat makan... Posisi yang pas di pinggir laut, memandang laut, mencium aroma laut... makan sampai ludes tak tersisa.

Usai makan masih ada waktu beberapa menit untuk mengitari pantai. Bersih dan indah. Juga menjajal toilet mereka yang berlantaikan serpihan batu karang. Sayangnya kami ndak menginap di homestay ini, jadi kami mesti segera pergi untuk spot yang berikutnya, dan dag dig dug lagi menerjang ombak.

"Jangan kesorean, karena angin dan ombak semakin tinggi." Pesan kru kapal. Huhuhuuu.... apa boleh buat.

Friday, August 02, 2019

Satu Malam di Raja Ampat (2): Pasir Timbul

Aku benar-benar lupa pada namanya. Yang kuingat hanyalah Pasir Timbul, tidak jauh dari Waisai, dan menjadi spot yang pertama untuk didatangi. Seluruhnya adalah pulau kecil terdiri dari pasir putih yang memanjang. Untuk sampai ke pulau kecil ini kami harus mengarungi lautan lebih dari 1jam 30menit, dengan beberapa kali ombak cukup tinggi.

Nah, tentang ombak. Bulan Juli dan Agustus memang puncak ombak tinggi, sehingga tidak semua jenis perahu bisa berlayar. Bisa terbalik karena tinggi ombak di atas 1 m. Speedboat 200 PK yang kami tumpangi cukup tangguh dengan Kapten Bayu yang luar biasa, maka aku bisa merasa tenang saja melewati bantingan ombak (hehehe, kadang dengan dada dag dig dug juga sih).

Nah, ada 2 pasir timbul yang tampak. Kami berhenti di salah satu pulau pasir timbul yang lebih panjang. "Kalau pulau yang sana kita kesulitan untuk menyandarkan perahu, bu." Itu penjelasan Josep si guide tour kami.

Puluhan burung putih (camar?) langsung terbang saat perahu untuk menurunkan jangkar. Aku turun ke pasir dengan perasaan yang luar biasa. Putihhhh.... bersihhhh.... indahhhh....

Eits, hati-hati saat melangkah. Banyak telur burung terserak di pasir putih. Buanyak. Wah, regenerasi yang luar biasa. Dan lihatlah ke air yang jernih, terumbu karang warna warni, ikan kecil, aduhhh.... surga pun bisa dicicip di dunia.

Aku menyusuri pantai hingga ke ujung, lalu jongkok. Hihihi... kebelet. Dan tempat yang aman untuk pipis tak terlihat dari sisi lain. Sialnya, saat Sr. Natal ikutan teoriku, suara dengung di atas kami bikin keki. "Apaan sih, Yul?" Aku tengadah dan melihat kamera drone. Huaaaa.... langsung panik deh. Rupanya si Josep membawa perlengkapan itu untuk mengabadikan perjalanan kami, tapi tak tahu kalau di ujung pulau itu kami ada maksud privat.

Uh, begitu ketemu kami wanti2 dia untuk menghapus hasil tangkapan kamera. Payah bener deh.

Pun begitu, mood untuk foto-foto tetap menyala donggg. Iyalah, tempat seindah itu, yang belum tentu kapan lagi bisa dikunjungi harus disimpan dalam kenangan dan foto. Josep sangat sigap dalam hal ini, Dia membantu kami berpose di tempat yang kami sukai. Nah, nah, ini fasilitas yang luar biasa dari Kingfour. Dan dia membawa alat media yang lengkap untuk kepentingan itu. *** (berlanjut)

Thursday, August 01, 2019

Satu Malam di Raja Ampat (1): Memulai dari Pelabuhan Sorong Papua Barat

 Kegiatan utama di Sorong sudah selesai. Sesuai tawaran manis dari seseorang yang baik hati kami merencanakan perjalanan ke Raja Ampat, tempat yang dari dulu menjadi salah satu tujuan impian. Kali ini tawaran datang begitu saja, tak mungkin ditolak.

Minggu 28 Juli 2019 kami berenam (aku, sr. Natal, rm. Koko, rm. Heri, rm. Ewal dan rm. Bimo) sudah bersiap. Misa pagi dulu karena itu hari minggu, dan tak mungkin mengikuti atau melakukan misa dalam perjalanan. Hehehe... Usai misa masih ada sarapan dengan Mgr. Hilarion, tuan rumah kami yang baik hati. Pun usai sarapan, sr. Natal masih nyempetin mengangkut satu bungkus besar roti tawar dari meja makan. "Ini memang disediakan untuk kita. Kita bawa satu saja ya." Aku tertawa saja menyetujui.

Mengingat perjalanan nanti akan berada di seputar air, laut, pantai, aku meminimalkan bawaan. Celana pendek 2 buah, 1 untuk nyebur ke air dan 1 lagi untuk tidur. Celana panjang cukup satu kupakai sebagai rangkapan waktu berangkat, tapi aku menyiapkan sarung Bali untuk kupakai sewaktu-waktu. Kaos, baju dalam, handuk kusiapkan bersama dengan perlengkapan mandi, plus sandal jepit.

Persis pukul 08.00 kami sudah berada dalam minibus jemputan dari Kingfour Tour and Travel untuk menuju ke pelabuhan. Pelabuhan tidak terlalu jauh dari tempat kami nginap, hanya sekitar 5 menit sudah sampai. Di dekat dermaga kami disambut 4 kru Kingfous. 1 perempuan rupanya hanya untuk memastikan kami dan logistik kami sudah siap dan okey. Sedang yang 3 lagi mengenalkan diri. Josep, si guide tour multimedia, Bayu si kapten yang akan membawa speedboat, dan Endo si kelasi yang membantu kapten dalam pelayaran.

Sebelum kami berangkat, briefing serius dilakukan oleh Josep. "Tidak boleh membuang sampah sembarangan di laut atau pulau. Semua sampah yang kita bawa masuk ke tempat sampah ada di speedboat, atau di tempat yang disediakan di tiap spot. Kedua, tak boleh menginjak terumbu karang di manapun kita masuk ke air. Sebagian dari terumbu karang itu sangat dekat dengan kaki kita, tapi tak boleh diinjak. Ketiga, dilarang memancing di daerah-daerah pantai. Memancing hanya boleh di tengah laut atau di tempat yang diijinkan."

Nah, okey banget deh dengan peringatan itu. Josep mengatakan kita akan melalui dua hari itu dengan beberapa spot perhentian. Hari pertama, rute yang dipilihkan untuk kami adalah Pasir Timbul, lalu ke Piaynemo Guesthouse untuk makan siang, lanjut ke Telaga Bintang dan ke Bukit Piaynemo. Dua tempat ini akan menuntut kita naik ke atas bukit, jadi harus menyiapkan pendakian. Terakhir di hari itu akan ke kampung Arborek untuk snorkling. Usai snorkling kami akan diantarkan ke Waisai untuk menginap satu malam di ibu kota Raja Ampat itu. Sebuah hotel sudah dipesan untuk kami, Raja Ampat City Hotel.

Josep masih meneruskan, kalau hari kedua kami akan diantar ke 2 spot cantik. Yang pertama adalah Batu Pensil dan kemudian ke Pantai Friwen. Friwen adalah spot terakhir untuk kami, sebelum kami balik ke Sorong.

Yang aku ndak nyangka adalah penjelasan berikutnya saat kami mulai melaju di atas speedboat dengan kekuatan 2 mesin masing-masing 100 PK, kecepatan sekitar 45 knot, bahwa bulan Juli dan Agustus adalah puncak ombak tinggi di daerah situ. Bulan itu biasanya tidak diminati oleh orang-orang yang takut gelombang tinggi. Kadang BMKG juga akan menghentikan aktifitas pelayaran sewaktu-waktu karena sangat berbahaya. Huhuhuuuu....

Kingfour memberikan pelayanan yang oke dalam pelayaran. Mereka menyediakan alat snorkling, life jacket, air minum macam-macam (kecuali yang beralkohol), makanan cemilan, jas hujan sekali pakai (nanti akan ketahuan gunanya saat perjalanan. huft)

Nah, setelah semua siap, kami berenam plus 3 kru speedboat mulai berlayar di hari minggu itu pada sekitar jam 09.00. I'm coming Raja Ampat. *** (berlanjut)


Workshop Rumpun Kemasyarakatan KWI di Sorong: Menghormati dan Memberdayakan Martabat Perempuan


Aku mendapatkan kesempatan menarik pada bulan ini. Rumpun Kemasyarakatan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajakku untuk ikut terlibat dalam workshop untuk Keuskupan Manokwari Sorong 27-28 Juli 2019 bertempat di Aula Lux Ex Oriente Sorong. Tema yang diangkat adalah Menghormati dan Memberdayakan Martabat Manusia diadakan bekerjasama Keuskupan Manokwari-Sorong diikuti kurang lebih 400 orang dari 13 paroki yang ada di Sorong.


Tema ini diangkat karena dari sekian banyak kasus kekerasan yang terjadi, yang paling rentan menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak. Kekerasan terhadap perempuan itu kebanyakan terjadi di ranah personal yaitu di sekitar rumah tangga dengan orang-orang  yang mempunyai hubungan darah dan hubungan perkawinan. Stigma terhadap perempuan sebagai makhluk yang lemah dan “kelas dua” kian menempatkan perempuan sebagai korban dengan akses ekonomi, politik dan bidang kehidupan lain yang tidak adil dan setara. Martabat perempuan dipandang sebelah mata.
            Itulah sebagian dari latar belakang tema ini diangkat oleh Rumpun Kemasyarakatan KWI yang terdiri dari Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP), Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan (HAK), Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KPP-PMP), Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Komisi Kerasulan Awam (Kerawam).
            Kegiatan dilakukan pada Jumat – Sabtu, 26 – 27 Juli 2019 bertempat di Aula Lux Ex Oriente Gereja Katedral Sorong. Mgr. Hilarion Datus Lega, Uskup Manokwari Sorong memberikan dukungannya mulai dari awal acara hingga penutupan.
          “Setelah Konsili Vatikan II, ajaran-ajaran Gereja senantiasa menekankan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara menurut citra Allah (Bdk. Kej 1:26-27). Allah memberikan kepada mereka tanggungjawab untuk memelihara keutuhan ciptaan-Nya. Sesuai dengan kehendakNya, laki-laki dan perempuan diciptakan setara martabatnya walau berbeda secara biologis. Perbedaan tersebut dikehendaki oleh Tuhan, karena mempunyai makna yang dalam dan tujuan yang khas untuk mengembangkan kehidupan. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan memperkaya serta dipanggil untuk membangun relasi yang penuh kasih.” Demikian sebagian dari cuplikan surat gembala KWI tahun 2004 tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai citra Allah.
Gereja meyakini laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itulah dalam sesi kedua, peserta diajak untuk melihat pemberdayaan yang berkeadilan mulai dari keluarga, komunitas, masyarakat dan negara disampaikan oleh Eko Aldilanto O.Carm dari KKPPMP KWI dan Ewaldus PR dari Komisi PSE KWI. Pada sesi ketiga, peserta diajak meluaskan pandangan dengan melihat hubungan antar agama dan politik oleh Heri Wibowo PR dari Komisi HAK KWI dan PC Siswantoko PR dari Komisi Kerawam KWI.
            Aku mengulang point yang beberapa kali pernah kusampaikan dalam beberapa kesempatan yaitu tentang alternatif pemberdayaan melalui pengembangan komunitas. “Komunitas bisa menjadi salah satu kekuatan bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya, keluarganya serta membentenginya dari perilaku yang bisa membuatnya menjadi korban. Persaudaraan saling percaya dan solider dalam komunitas membuat perempuan tidak perlu merasa sendirian.” Salah satu komunitas yang kupakai sebagai contoh adalah komunitas perempuan di daerah Ulubelu Tanggamus yang mengelola Koperasi Simpan Usaha dengan produk kopi.
            Mengembangkan ekonomi secara kreatif bisa dimulai dari sana. Pertama, mendapatkan akses permodalan alternative dengan nilai-nilai koperasi; kedua, mendapatkan peluang mendapatkan wawasan dan pelatihan; ketiga, melakukan kerja produktif dengan seimbang; dan keempat, mengembangkan pemasaran yang manusiawi melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi digital. Dari sana, para perempuan akan terus berkembang mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi di tengah masyarakat.