Monday, November 09, 2015

Pentas Seni IX C SMP Fransiskus Tanjungkarang


Jadi pengawal.
Rabu, 4 Nopember lalu jadi hari heboh untuk Albert setelah 2 bulan bersama teman-teman sekelasnya menyiapkan pentas seni untuk nilai praktek sejumlah mata pelajaran. Aku ikut heboh karena mereka memintaku menjadi wakil orang tua untuk memberikan kata sambutan. Hehehe... Itu kesempatan yang menarik.

Albert sudah memberikan 'kisi-kisi' apa yang boleh diomong atau tidak. Jadi aman dah. Yang aku sangat salut adalah seluruh acara yang digarap sendiri oleh mereka itu bisa berjalan dengan keren. Untuk anak usia SMP itu luar biasa.

Albert sendiri terlibat dalam beberapa pentas : flash mob, main cethik, jadi pengawal, jadi tukang perahu dan peran-peran kecil lain. Itu sangat keren. Proficiat ya, Bert dan kawan-kawan.

Friday, October 23, 2015

Tanah Silam

Di antara perjalanan kerja, aku seringkali 'nakal' memanfaatkannya untuk sastra. Kali ini setelah urusan dengan tim modul kaderisasi Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) selesai digarap di Yogyakarta, aku meluncur ke Sumenep, 22 Oktober 2015. Kali ini untuk buku puisi Tanah Silam, karya Fendi Kachonk.

Rasanya ini menjadi bukuku juga karena aku gembira untuk peluncurannya. Bertempat di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah (STITA) Usymuni, Terate, Sumenep, acara dihadiri beberapa orang yang sudah kukenal, beberapa lain yang lebih banyak yang tidak kukenal. Beberapa tokoh senior Sumenep maupun para muda hadir di aula STITA yang bersamaan dengan Hari Santri Nasional ini.

Musikalisasi puisi, pembacaan puisi, orasi budaya oleh Syaf Anton dan bedah buku dialirkan dalam suasana santai. Aku sebagai orang 'jauh' tidak merasa sebagai tamu di sini. Ardy Raditya, dosen dari Surabaya yang ternyata orang Madura juga menjadi narasumber lain yang membedah buku ini selain diriku.

Kesempatan paling asyik ketika aku boleh membacakan satu puisi Fendi, berjudul Orang Tua Benih.
Diiringi teman-teman muda dari Komunitas Kampoeng Jerami yang keren aku membaca puisi ini. Mengapa puisi ini? Mengapa bukan puisi yang lain? Karena aku menyukainya. Dalam bahan diskusiku aku mengatakannya begini :



"Air menetes menjadi hujan. Setiap pagi ia ceritakan tembang-tembang lama, mocopat dan dongeng dari negeri 1001 malam untuk memberi hidangan pada mulut kecilnya.

"Kecerdasan itu hanya kemampuan mengendalikan tangisan, Anakku!"

Fendi memberikan nasihat. "Kecerdasan itu hanya kemampuan mengendalikan tangisan, Anakku!" Apakah ini hasil dari pengalaman-pengalamannya secara personal konkret? Bisa jadi. Apakah mata seorang Fendi sudah katam oleh tangisan-tangisan? Bisa ya bisa tidak. Apakah pengolahan otaknya kemudian berangkat dari tangisan-tangisan itu? Hanya oleh pengalaman entah oleh dirinya sendiri atau yang dia tangkap dari hidupnya yang bisa membuatnya yakin seperti itu. "Kecerdasan itu hanya kemampuan mengendalikan tangisan." Kita bisa tanya nanti pada penulisnya, apakah orang-orang yang tak mampu mengendalikan tangisnya berarti bukan orang-orang yang cerdas.

Tapi saya mau mengatakannya begini. Tangisan adalah wujud emosi yang mudah muncul karena situasi yang tidak diinginkan. Bentuk lain saat hal yang diinginkan tidak terjadi adalah kemarahan. Kemarahan bisa dimunculkan dalam kata-kata, tapi tangisan adalah kata-kata yang tidak beraturan. Isakan. Raungan. Siapa yang mampu menafsirkan tangisan jika sang penangis tidak menerjemahkan dengan kata-kata yang mudah dipahami?
 
Itu rupanya yang ingin dikatakan Fendi. Menangis itu sah dilakukan. Boleh dilakukan oleh anak-anaknya (atau pembacanya) tapi menangis akan membantu orang lain dan orang yang menangis itu maju dalam hidupnya jika dia mampu mengendalikannya sebagai bahasa yang dimengerti orang lain. Dengan demikian siapapun yang melihat tangisan tidak akan salah tafsir terhadap tangisan itu. Sedih, haru atau justru gembira? Berguna, merugikan atau mencelakakan? Akan diteruskan atau dihentikan."

Itu sebagian yang kukatakan untuk menanggapi puisi ini. Yach, sedikit sendu, dan mungkin berbeda juga dengan tangkapan orang lain. Tapi menghadiri kegiatan ini untuk Tanah Silam, sangatlah luar biasa bagiku. Aku menunggu saat-saat lain di masa mendatang untuk mengulanginya pada buku Fendi yang lain atau pada buku-buku teman-teman lain di Sumenep. Mungkin untuk Pak Syaf Anton, Kyai Miming, Kak Fauzi, atau dari teman-teman muda Denny, Ferly dan lain-lainnya. Semangat ya teman-teman!!!!

Wednesday, October 21, 2015

Di Antara Kebun Salak untuk Modul Perburuhan

Kali ini kami menemukan tempat luar biasa untuk rapat Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) khususnya tim modul, yaitu di Tlatar, Turi, Sleman, Yogyakarta. Rapat kebut dua hari ( 20 - 21 Oktober 2015) tidak terasa capek karena kebun salak di sekitar kami seperti biola yang terus bergesek menghibur. Jiaahhhh... hehehe...

Cukup menarik, tapi aku menuliskan soal modul itu :
1. Keprihatinan terhadap situasi perburuhan Indonesia di tengah kuatnya korporasi dan ketidakpedulian banyak pihak.
2. Pentingnya semakin banyak orang yang terlibat dalam dunia ini dalam peran apapun.
3. Banyak anak muda yang harus diberi peluang untuk melihat gerakan buruh ini sebagai gerakan yang menghidupkan masyarakat untuk semakin maju berkembang.
4. Perlu tindakan-tindakan yang dapat membantu para muda untuk punya hati dan minat terjun di wilayah gerakan ini berikut dengan inovasi-inovasi yang mungkin mereka bawa nanti.
5. Aku optimis kegiatan untuk mengkonkretkan modul ini dapat terlaksana pada semester awal di tahun 2016, kemungkinan di wilayah Ungaran atau kalau tidak di Sidoarjo.
6. Yang mempunyai sumberdaya yang bisa disambungkan dalam gagasan ini, mari merapatlah.

Nah, pekerjaan rumah kami menyelesaikan modul itu. Semoga nanti dapat kami sebar bukan hanya untuk kami lakukan tapi juga dilakukan oleh banyak orang atau pihak lain. Lalu hubungannya dengan kebun salak di kaki Merapi? Hehehe... ya begitu deh. Yukkk.... selalu ada keindahan dalam setiap situasi.

Friday, October 02, 2015

Lintasan Lari Stadion Pahoman Dan Lain-lain Dekat Kantorku

Foto dari Antara Lampung
Aku beruntung sekali mendapatkan fasilitas kantor di daerah Pahoman. Memang sih, ini agak jauh dari tempat tinggalku. Sekitar 15 km dari rumah. Dulu sempat tak kusukai karena untuk sampai di kantor membutuhkan naik angkot 3 kali oper.

Sekarang, jarak itu tak terlalu jauh lagi rasanya. Dan beruntungnya, kantor ini dekat dengan fasilitas-fasilitas umum yang kubutuhkan :

1. Dekat dengan tempat makan. Iyalah, secara aku suka makan. Di dekat kantorku ini ada pusat jajanan yang cukup terkenal karena ragam jajanan yang dijual dan murah meriah. Bakso, siomay, soto, ketoprak, nasi uduk, lontong sayur, es doger, dan lain-lain.

2. Dekat dengan stadion Pahoman, lengkap dengan kolam renang, lapangan sepak bola dan lintasan lari. Dengan panjang 435 m keliling lapangan sepak bola, lintasan ini menyenangkan untuk digunakan setiap pagi. Gratis dan bersih. Cukuplah 5 atau 6 putaran jalan cepat dan lari secara bergantian.

3. Dekat dengan kantor pos. Ini lokasi yang sering kukunjungi karena aku ini termasuk pelanggan setia layanan pos. Untuk mengirim apa ajah.

4. Dekat dengan kantor-kantor lain seperti Koperasi Mekar Sai, pusat perkantoran kodya Bandarlampung, dan juga dekat dengan toko-toko perbelanjaan. Selain itu juga dekat akses kesehatan seperti Puskesmas negeri maupun Panti Sari.

Udah deh, pokoknya lengkap. Semua ada dekat sekitar sini.

Tuesday, September 29, 2015

Reinkarnasi

Sore-sore kemarin Albert dan Benard heboh setelah sepanjang siang mereka tenang dengan buku-bukunya masing-masing. Bernard asyik dengan komik Naruto sedang Albert menikmati buku lelucon. Bernard dengan menjelaskan sesuatu pada Albert tentang kisah Naruto yang sedang dibacanya. Aku tak tahu persis yang dibahas karena aku tidak familier dengan tokoh-tokoh komik itu, tapi lamat-lamat aku mendengar Bernard menjelaskan,"Ini adalah reinkarnasi dari ini, si itu reinkarnasi dari itu dst..."

Dari kamar yang terbuka aku berteriak,"Dik, reinkarnasi itu apa sih?" Dia tanpa mikir menjawab ngawur,"Entah." Ih.

Albert yang sigap menjawab setelahnya,"Reinkarnasi itu hidup setelah kematian, bu. Jadi kayak hidup kembali tapi dalam bentuk yang berbeda." Oooo... okey. Itu tepat.

"Memang Naruto itu reinkarnasi dari siapa?" Tanyaku. Bernard kembali menjawab ngawur,"Entah." Aku tahu kalau dia tahu tapi dia tak mau menjawab. Tetap Albert yang menjawab,"Naruto itu reikarnasi dari Ashura, eh apa Indra ya?" Halah...

"Tapi perasaan aku dulu juga pernah hidup, bu, sebelum jadi Albert. Sepertinya aku dulu seorang prajurit, mati karena ditusuk. Aku seperti masih merasakan sesak nafas karena ditusuk bagian perut." Nah, nah, cerita itu pernah kudengar dulu. Dia pernah cerita kalau dia dulu pernah mati ditombak.

Bernard menyahut juga,"Aku sepertinya juga pernah hidup sebelum jadi Bernard. Tapi lupa dulu sebagai apa."

"Dik, diinget-inget dunk. Siapa tahu berguna." Bernard cuma angkat bahu.

Aku menjelaskan sembari lalu,"Konon orang mesti reinkarnasi atau hidup kembali dalam wujud berbeda karena tugasnya yang dulu belum beres. Dia harus menyelesaikannya sekarang ini. Jadi kalau bisa diingat kita bisa lebih hati-hati dalam hidup, supaya lebih baik dari kehidupan sebelumnya."

Mereka berdua cuma nyengir saja, seperti aku. "Iya, mungkin saja dulu Bernard itu bosnya Albert atau siapa gitu," kataku.

"Kalau ibu, dulu pernah hidup sebagai apa?"

"Sepertinya ibu dulu pernah hidup sebagai putri cantik anak raja. Yang suka nyuruh-nyuruh. Hehehe..."

"Kalau bapak? Dulu sebagai apa?"

"Bapak itu reinkarnasi dari panda." Kata Albert menggoda bapaknya yang dari tadi diem antara ingin membantah dengan malas ikut dalam perbincangan. Hehehe...

Saturday, September 26, 2015

Cinta

Seseorang mengatakan kepadamu,"Aku cinta kamu." Hmmm... so sweet... Iyalah, mendapatkan cinta itu manis rasanya. Dicintai itu rasanya manis banget. Dan tak seorangpun ingin menolak cinta.

Yang tak enak, jika seseorang yang bilang cinta itu mulai mendesak. "Karena aku cinta kamu, kamu harus cinta aku juga dong." atau,"Karena aku cinta kamu, kamu harus jadi pacarku." lebih-lebih,"Karena aku cinta kamu, kamu harus ...begini, begitu, ini, ini... itu, itu...."

Yeee, siapa yang nyuruh kamu punya cinta? Cinta ya cinta saja. Beruntung kalau yang dicintai juga punya cinta sepadan, maka klop, pas. Atau justru cari saja cinta seperti itu sebelum mengatakan cinta, yaitu mencintai orang yang mencintai balik. Jika tidak cinta padaku, aku pun tak kan mungkin cinta padanya. Jika tidak, hmmm.... mari lihat. Untuk titik sekarang ini lebih baik aku menyimpulkan orang yang seperti itu, sebenarnya dia sama sekali tidak mencintai, tapi dia hanya mengingini. Atau mungkin bukan mengingini, tapi membutuhkan. Pun jika aku merasakan hal yang sama, aku akan berpikir dalam hatiku sebenarnya bukan cinta, tapi hanya keinginan, kebutuhan,... hmmm, macam itu.

Lalu cinta itu seperti apa? Menurut Banerjee dalam novelnya, cinta sejati itu hanya mungkin jika orang yang mengaku mencintai tidak membutuhkan orang yang dicintainya. Huahhh... mampus kita. Jika hanya ecek-ecek menuntut meminta mengharap, cinta yang diaku itu belum cinta sejati. Belum mencintai, baru mengingini saja.

Ada lagi yang bilang, cinta itu tak punya alasan. Uhuk. Tak peduli dia jelek, bau, bodoh, miskin,... kalau cinta, ya cinta. Mata jadi buta, telinga jadi tuli, hidung jadi pesek...

Tapi ada yang bilang lain, bahwa cinta itu itu justru punya banyak alasan. Matanya berlipat ganda, telinganya berkali-kali lebih peka. Apa yang tak dilihat oleh orang lain, bisa dilihat oleh mata cinta.

Bukti cinta itu adalah pemberian, persembahan. Cinta itu kata kerja, melulu satu arah kecuali jika karena keberuntungan muncul kata saling di depannya, sehingga tercipta saling cinta.

Jadi piye sekarang ini? Orang yang saling cinta untuk harapan sebuah perkawinan tak kan mungkin masuk dalam deretan cinta sejati macam ini dong. Atau, aku akan membaliknya begini : seharusnya perkawinan tidak perlu dilakukan jika belum sampai pada tataran ini. Hmmm... tidak, tidak. Lebih baik aku bilang : perkawinan adalah salah satu cara untuk memproses supaya cinta sampai pada tataran ini. Dengan begitu aku tak perlu menahan orang yang sudah kebelet menikah untuk sampai pelaminan.

Intinya memang tak perlu sampai sempurna untuk mulai mencintai. Mulai saja dari level paling buncit sekalipun. Lalu disadari, diproses semakin sempurna, sampai pada kesejatian, sampai pada saling memerdekakan, pada saling bantu untuk sampai ke Sang Sumber Cinta itu sendiri. Hyang Ilahi.

Huahhh... cinta....

Friday, September 25, 2015

Olah Raga, Olah Tubuh

Jika seseorang bertanya,"Apa kebutuhanmu, Yul?" Aku bisa menjawabnya dengan tegas. "Bergerak. Olah raga. Olah tubuh." Mungkin bukan yang kuinginkan tapi ini yang kubutuhkan.

Yeah, bisa dikatakan, dari dulu aku bukan penggila olah raga. Saat-saat olah raga hanya kulakukan karena kewajiban : jam pelajaran olah raga di sekolah, senam setiap Jumat di sekolah, persiapan fisik saat akan naik gunung, olah raga saat ada pelatihan atau kegiatan di luar rumah, dan ... sudah. Bisa dikatakan soal gerakan tubuh aku sama sekali tidak luwes. Beberapa tahun aku sempat rutin jalan kaki keliling stadion Pahoman dan sekitarnya, minimal 30 menit, tapi itu sudah lama tak kulakukan. Juga jalan kaki di sekitar rumah yang dulu sering kulakukan malam hari.

Satu-satunya olah raga yang masih sering kulakukan adalah senam kaki sebelum tidur. Posisi berbaring, menggerakkan kaki seperti mengayuh sepeda, atau bergerak bersama, aku masih lakukan sampai hitungan ke 50. Atau sesekali aku melakukan peregangan dengan beberapa gerakan yoga yang kuingat saat aku di dapur pagi hari.

Sudah, tak ada lagi. Dan tubuhku sekarang rupanya tidak cukup dengan gerakan-gerakan seperti itu. Aku bisa mendeteksinya dengan cara ini : Tiga minggu lalu aku ikut senam massal gratis. Usai ikut senam sekitar 1 jam, tubuh rasanya jauh lebih sehat. Atau juga saat aku melakukan sendiri gerakan-gerakan menguras keringat agak lama, aku merasa lebih sehat. Dari situlah aku mengira tubuhku memang membutuhkan gerakan-gerakan ritmis yang rutin.

Jadi, kapan harusnya ini kulakukan? Sekarang. Aku ingin dan telah memulainya sekarang. Sembari cari sanggar atau kelompok senam yang bisa kuikuti, aku mengusahakan bergerak lebih rutin di pagi dan sore dengan gerakan-gerakan senam yang kuingat. Dan, ...aku sudah beli sepatu olah raga yang cocok untuk kepentingan ini. Hehehe... Niat, niat, niat... semangat! Sehat!

Wednesday, September 23, 2015

Calon Penulis

Sepanjang pagi ada beberapa panggilan yang tidak kudengar. Maafkanlah, akhir-akhir ini memang hp sering kujauhkan dari badanku, jadi yang tertinggal hanyalah miss call. Kali ini dari nomor yang tak dikenal, beberapa kali, hingga kemudian sebuah pesan pendek masuk : "Mbak, bisakah minta alamat emailnya? Saya mendapat nomor ini dari Majalah Nuntius karena saya ingin mengirimkan puisi."

Nah, memang, sejak bulan ini saya menjadi pengasuh rubrik sastra untuk Majalah Nuntius, majalah yang sejak setahun lalu kutinggalkan dalam rasa sayang yang membuncah. Iyalah ya, 9 tahun merawat Nuntius seperti bayi, tentu tak tega juga ditinggalkan jauh-jauh walau tangan sudah tidak lagi menjangkaunya.

Nah, (untuk kedua kalinya) rubrik sastra ini justru rubrik yang tak berani aku bangun saat aku masih menjadi Pemimpin Redaksi Nuntius. Kali ini aku menyanggupinya dengan alasan-alasan personal yang menggembirakan. Jadi, sms itu kutanggapi dengan riang. Memberikan salam kenal dan alamat email serta harapan-harapan.

Si calon penulis ini seorang ibu, usia 56 tahun, mengenalkan diri sebagai Bu Endang. "Ibu, jangan kuatir. Kirim saja 2 atau 3 puisi, nanti kita lihat bersama bagaimana puisi-puisi itu." Jawabku, ketika ada nada kuatir dalam percakapannya soal puisi-puisi yang sudah ditulisnya. Dia tidak yakin apakah puisi-puisinya bagus, apakah layak. "Saya baru belajar menulis." Katanya.

Dia bilang sudah membuat tulisan panjang juga, sudah 100 halaman lebih tentang kisah-kisah keseharian yang dia pernah jumpai. Nah, (tiga kali nah. hehehe.) ini bakal menarik. Jadi kutawarkan kantorku,"Ibu, datanglah. Kantorku terbuka untuk pembelajaran kita. Marilah datang untuk belajar sastra bersama." Wuah, 100 halaman yang sudah ditulis katanya. Aku, 40 halaman belum beranjak juga ke halaman selanjutnya.

Nah, nah, nah... ini satu dari calon penulis. Calon-calon penulis berikutnya akan kutunggu. Mungkin tidak selalu kutanggapi dengan seriang hari ini, tapi aku yakin aku selalu punya cadangan senyum, apapun yang terjadi. Dan kembali terlibat dengan Majalah Nuntius dalam bentuk yang berbeda seperti ini tentu akan memberikan hal yang berbeda sebagai pengalaman dan suatu ketika akan menjadi kenangan yang luar biasa menyanding pengalaman 9 tahun sebagai pemegang Pemimpin Redaksinya.

Saturday, September 19, 2015

Rumah Kucing Cikoneng

Pernah satu malam aku berkunjung ke rumah Denok di Cikoneng, kabupaten Bandung, nun jauh di sana. Apa kurasakan saat tiba di gerbang rumahnya?
"Ini bener-bener rumah kucing, deh." Kataku pelan.
"Iya, aku cuma numpang." Jawab Denok lebih lembut lagi. Hehehe, itu jelas kelihatan
Bayangpun, di halamannya yang rindang aku 3 kotak pasir dengan bau menguar yang khas kucing. Ada dua bantal yang pasti bekas tidur kucing dan karpet yang sedang dijemur dengan bau pesing kucing yang kuat. Indera penciumanku yang sangat sensitif sedikit shock, tapi aku melangkah masuk. Ada empat atau lima kucing menyambut kami. Di dalam rumah, bau makanan kucing yang mengering juga tercium. Juga bulu-bulu yang menempel di semua benda yang ada di rumah itu. Pokoke ini benar-benar rumah kucing.
Wuah, Denok, aduh, aku masuk rumahmu seperti mengambang, tak percaya. Lalu mencoba mencari-cari cara untuk meletakkan tubuh dengan hati-hati supaya tidak mengusik para kucing itu. Siapa coba kuingat namanya : Aa' Naga, Tante Jov, Mimi, Batik, Kuro, Momo, Kuro, Sayu, hmmm... tak tahu aku. Tak ingat nama-nama mereka yang bersepuluh itu, eh atau sembilan ya? Atau lebih? Hehehe... Lupa.
Denok mencarikan kasur lipat untukku, tapi aku belum duduk pun, seekor kucing sudah duluan tidur di situ. Dalam hati aku sudah meniatkan bahwa sehari itu aku hanya santai saja di rumah Denok, jadi aku menjelmakan diriku sebagai seekor kucing juga, yang tiduran dengan gerak santai, pelan, tanpa keinginan apa-apa.
"Kau santai aja, Nok. Aku hanya ingin tiduran saja di rumahmu ini. Ndak usah kemana-mana."
Dia tentu saja setuju, karena sepertinya niat kami sama, hanya bermalas-malasan saja di rumah. Hehehe...
Aku sempat pulas beberapa lama sebelum sore. Saat aku bangun, ealah, rupanya ada yang menemani. Satu dekat kakiku, dan satu lagi dekat bahuku, merasakan aku menggeliat, si manis yang dekat bahuku menoleh, matanya sayu memandangku seolah bertanya,"Kenapa bangun, dah, tidur lagi yukkk..." Iya deh. Aku pun tidur lagi, merasakan badan hangat yang menempel di badanku, dan seekor lagi, entah, sedang menjilati tanganku. Hmmm... maaf ya, walau aku mencintai binatang-binatang manis ini, aku tak bisa ramah memeluk mencium atau berbicara dengan para kucing. Tapi membiarkan mereka menggelendot di badanku sungguh aku tak masalah. Huah, pengalaman tinggal di rumah kucing ini jelas tak kan terlupakan...

Monday, September 14, 2015

Kapan Aku Bisa Menulis?

Seorang guruku, Ahmad Yulden Erwin, bilang berkali-kali, bahkan menandaskan,"Jangan menulis kalau sedang marah." Dulu aku membantah hal itu. Aku tetap menulis saat marah. Sekarang aku setuju, tapi aku gunakan nasehat itu pada saat sedang mengedit tulisan. Aku tidak akan mengedit apapun pada saat sedang marah.

Ernest Hemingway, guruku yang lain mengatakan,“Kita dapat menulis kapan saja bila orang meninggalkan kita sendirian dan tidak menggangu. Atau kita dapat menulis bila kita cukup kejam tentang soal ini. Tetapi jelas tulisan terbaik bila kita sedang jatuh cinta." Aku setuju tiga perempatnya, tidak setuju seperempatnya. Aku seringkali malah butuh orang lain yang bisa mengganggu supaya menulis.

Aku sendiri beberapa kali bilang ke kelompok-kelompok yang sedang belajar menulis,"Jika memang mudah menulis saat jatuh cinta, jatuh cintalah setiap kali. Jika lebih mudah menulis saat patah hati, patah hatilah terus." Biasanya aku akan melanjutkan dengan keterangan-keterangan misalnya jatuh cinta pada sepucuk daun, pada ujung gunting kuku, pada patahan dahan cemara, dan sebagainya. Atau patah hati pada pemerintahan Jokowi, patah hati karena putus listrik, kesandung batu, dan sebagainya. Kadang aku tak meneruskan dengan penjelasan apapun. Biarin saja dirasain sendiri oleh mereka, macam mana jatuh cinta dan patah hati yang mampu menggerakkan inspirasi menulis.

Lalu, kapan aku menulis? Kapanpun aku ingin. Seperti kata Ari Pahala Hutabarat, guruku yang lain lagi, pada suatu kesempatan mengatakan,"Menulis itu kayak mau berak." Kebelet, sampai tak tahan, dan memang harus menulis. Ya, bagiku menulis itu kebutuhan. Jika tak menulis aku bisa mati. Dan biar aku kebelet terus menerus, aku harus makan terus-terusan, makan campur-campur, biar mules. Membaca segala hal, mengembangkan panca indera untuk menangkap segala hal, terjaga sepanjang waktu, .... terus-terusan. Biar terus menerus menulis juga... terus... terus...

Sunday, September 13, 2015

Menyelesaikan Emma dari Jane Austen

Mestinya baca dulu tulisan ini yaitu tulisan yang kubuat saat aku memulai membaca novel karya Jane Austen, berjudul Emma pada 4 hari yang lalu. Hari ini hampir tengah malam aku menyelesaikan buku ini. Buku super tebal yang sangat-sangat lambat alurnya. Aku ingin buru-buru menuliskannya karena aku takut lupa point-point yang kudapat setelah menyelesaikannya.

Ya, membaca Jane Austen selalu begitu. Seperti dilempar ke abad 18-an, di mana kelas-kelas dalam masyarakat Eropa masih sangat terasa. Walau membaca setebal hampir 800 halaman, aku tak merasa capek sama sekali. Jane menuliskan detail-detail rumit dengan cara sederhana sehingga seolah-olah kita sang pembaca tinggal tak jauh dari tokoh yang diceritakan. Kalau dalam novel ini tokohnya bernama Emma, yang, seolah-olah kita adalah salah seorang tetangga Emma yang tahu persis gerak gerik gadis ini kesehariannya.

Jane seperti novel lain yang sudah kubaca menempatkan konflik-konflik yang mungkin memang dia alami di kalangannya waktu itu. Konflik yang itu-itu saja, soal cinta, perjodohan, relasi dalam keluarga besar dan masyarakat kecil suatu desa. Asyik dan santai walau di seratusan halaman pertama aku selalu merasa sangat bosan, tidak sabar karena hal-hal remeh temeh yang diketengahkan oleh Jane.

Yang menarik adalah, aku selalu berpikir, bagaimana Jane bisa menyelesaikan ratusan halaman seperti itu di jamannya? Dia pasti seorang penyabar yang tekun yang bekerja sangat telaten untuk novel-novelnya.

Kedua, Jane pastilah seorang penulis perempuan yang berani. Dia mengemukakan pendapat-pendapatnya dengan jelas lewat tokoh-tokohnya. Aku yakin dia pasti mendapat banyak tentangan pada masanya. Tapi aku salut luar biasa pada dia. Pendapatnya tak relevan lagi untuk masa kini, tapi pasti itu sangat luar biasa di masa hidupnya.

Ketiga, Jane pastilah seorang yang punya mimpi dan imajinasi yang besar. Dia membangun tokoh-tokoh novelnya sebagai bayangan dari mimpinya sendiri. Yang menarik lagi, nama Jane dipakai juga dalam cerita-ceritanya walau bukan sebagai tokoh utama. Tapi tokoh Jane selalu ditempatkan sebagai bagian yang penting dengan karakter tokoh yang nyaris sempurna. Mungkin itulah sebagian dari mimpi atau cita-cita Jane.

Yang jelas, novel Jane bukan novel yang rumit. Aku bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan beberapa hari. Andai aku tidak terkukung kerjaan lain-lain aku yakin tak sampai satu hari bisa kuselesaikan novel ini. Sebali koleksi, novel Jane bisa dilirik deh. Untuk membangun daya khayal masa silam, tentang romantisme klasik yang kadang klise, ini sangat menarik.

Saturday, September 12, 2015

Gagasan-gagasan Aneh, Idealis dan Kompromis

Tak diragukan, aku ini seorang pengkhayal. Hobi melamun dan mudah tenggelam dalam pikiran-pikiran tak terhingga. Dari sana bisa muncul gagasan-gagasan aneh yang bahkan saking anehnya sering membuatku takut untuk menuliskannya. Misal tentang tas plastik yang dibuang di tengah jalan, aku bisa berpikir di dalamnya ada seorang bayi, maka remku mendecit menghindarinya, dan spontan berpikir kuatir kalau-kalau ada kendaraan lain yang menabraknya dan tubuh bayi itu akan porak poranda, berhamburan. Duh, aku membayangkannya dalam detil yang membuatku bergidik ngeri, dan bisa keterlaluan membuatku menangis tak ada ujung pangkal. Pikiran lain bisa menyanggahnya, mengatakan itu plastik biasa saja, tapi kemudian melihat banyaknya plastik yang ada di jalanan, aku bisa berpikir, bisa saja satu dari plastik-plastik itu berisi bayi. Ini mengerikan apalagi aku sudah melihat banyak sekali luka di jalan raya, tikus-tikus yang gepeng, kucing berdarah dan sebagainya. (Karenanya aku anti membuang sampah di jalanan. Plastik atau benda apapun.)

Pikiran-pikiran tertentu bisa muncul sangat idealis. Aku bisa sangat patah hati jika membaca undangan yang dikirim lengkap dengan TOR, dengan susunan panitia dan siapa yang diundang. Aku selalu berpikir, jika ada kejanggalan kecil saja, pikiranku sudah terusik. Misal, mengapa bukan si Anu yang diundang, kenapa malah si Ini. Bukankah itu tidak strategis? Bukankah itu menjadi batu sandungan bagi proses yang seharusnya begini dan begitu. Wuahhh... dalam sebulan aku bisa mendapatkan beberapa undangan, betapa aku mesti stress setiap kali karena hal di luar jangkauanku ini. Itu baru soal undangan. Soal lain-lain, ini itu... duh. Aku bisa sungguh terganggu oleh hal-hal sepele semacam itu, bahkan untuk waktu yang lama.

Suatu titik di masa lalu, salah satu guruku, mengatakan : "Kompromi, Yuli. Kompromi. Tak semua yang kau pikiran bisa menjadi realita. Tapi hidupmu itu pun realita. Kompromilah." Hmmm... aku tak paham waktu itu. Belum sepenuhnya paham juga hingga sekarang. Tapi aku melakukannya. Di titik tertentu aku tidak sehat, proses kompromis yang kumaksud jatuh pada kecuekan atau ketidak pedulian. Benar-benar tidak peduli, dan tidak rugi apa-apa karena ketidakpedulian itu. Sementara waktu kubilang : Tidak apa-apa. Hal itu pun membuatku sehat. Hmmm. Hmmm.

Thursday, September 10, 2015

Menyepi

Foto oleh Afrilia Utami. Thanks ya, non.
Bersama suara-suara
manusia menyepi
di perkumpulan
di perjalanan
di perhentian.

Yang meriak pada kesadaran
menarik raga pada diam
mengolah suara
sebagai adonan
di telinga.

Bukan disumbat
bukan dibabat
hanya menunggu waktu tepat
untuk kembali mengucap.

Berharap bibir seirama dengan langkah
juga liuk pundak
impian
dan
harapan.

Wednesday, September 09, 2015

Memulai Emma dari Jane Austen

Hasil gambar untuk emma jane austenSecara tak sengaja aku menemukan deretan Jane Austen saat membelikan Toto Chan untuk Marco beberapa waktu yang lalu. Saat aku membaca Pride and Prejudice, aku tak punya bandingan lain dari Jane yang bisa kupilih. Ini, pada satu rak ada berderet novel-novelnya.

Aku langsung terbayang cerita Jane yang begitu lambat, dengan detail-detail yang kadang membuat aku tak sabar saat membaca. Spontan juga kebayang kehalusan romantisme klasik jaman dahulu kala. Maka, jari jemariku langsung menelusuri beberapa novel itu. Ah, jika ada yang mau membayariku pasti kuambil semua buku itu, tapi karena aku ingat dalam dompetku hanya ada beberapa lembar yang harus aku hemat hingga tanggal 25 nanti, aku mesti hati-hati dan menahan diri.

Okey, aku memilih buku yang paling tebal dari semuanya : Emma. Aku baru memulai membacanya semalam, baru beberapa halaman awal, dan perasaan seperti saat aku mulai membaca Pride and Prejudice pun muncul. Rasa tidak sabar, terasa bertele-tele. Dan Jane menuliskan 737 halaman untuk buku ini! Busyet. Energi apa yang dipunyai oleh Jane perempuan penulis itu saat membuat novel-novel seperti ini? Huft. Aku iri.

Kucuplik sedikit untuk menggambarkan Emma seperti apa yang ditulis oleh Jane dalam buku ini. Halaman 210 :"Bagi gadis periang seperti Emma, walaupun malamnya sempat murung, datangnya pagi hampir tidak pernah gagal mengembalikan semangatnya. Usia muda dan kecerahan yang mendatangkan rasa bahagia dan semangat." Ini mirip juga dengan tokoh dalam Pride and Prejudice. Tapi, okey, lihat nanti, aku akan membaca pelan-pelan saja.

Saturday, September 05, 2015

Perbedaan

Mempunyai anak-anak seperti Albert dan Bernard, adalah rahmat luar biasa. Mereka berbeda, ya, sangat berbeda. Satu contoh kemarin sore. Di jalan raya Hajimena ada truk fuso bermuatan batu terguling di jembatan, sangat dekat dengan pintu gang masuk perumahan kami tinggal.

Albert, begitu mendapat kabar itu, langsung mandi, menyiapkan buku, pinjam motor dan mengajak beberapa temannya untuk nonton! Nonton bagaimana truk itu diderek, dari magrip hingga jam setengah 10 malam. Huah. Itu pun dia pulang setelah dicari bapaknya. Persis saat truk sudah ke posisi aman siap dipindahkan.

Bernard, ah dia mah adem ayem. Cuek, tak perduli. Saat digoda bapaknya,"Nard, ikut yuk. Lihat fuso yang terguling di depan." Jawabannya cuek saja, sambil terus nonton tivi. "Ngapain lihat truk terguling? Apa yang dilihat?" Huah. Itu pun dia tak memindahkan pandangan matanya.

Memang berbeda.

Tuesday, September 01, 2015

Reputasi

Pagi yang heboh selalu terjadi di pagi hari. Setelah menjerang air untuk mandi Bernard, menanak nasi, minum segelas atau dua gelas air, aku akan membangunkan anak-anak. Huft, ini bagian yang mesti diulang berkali-kali. Kadang setelah nasi matang, lauk matang, sayur matang, tetap saja mereka sembunyi di balik selimut.

Biasanya terakhir aku akan bilang,"Pokoknya ibu tak akan membangunkan lagi. Terserah kalian."

Masih belum bangun juga aku akan mondar-mandir ke kamar,"Ibu sarankan kalian lihat jam dulu deh kalau mau memutuskan untuk tidur lagi." Walau mereka tidak bergerak-gerak, aku tahu mereka sudah bangun dan pasti mendengar suaraku.

Usai itu barulah mereka akan mulai beranjak. Mandi, makan, dan hal-hal yang perlu dilakukan. Sambil makan sesekali mereka akan lupa kemalasan-kemalasan mereka, malah mengajukan protes-protes. "Ibu ini lho, ndak mbangunin aku." Ih, kuketok kepala mereka secara spontan. Dasar.

Pagi tadi sembari lari ke motor, Bernard berujar,"Reputasiku bakal turun nih bu."

"Reputasi apaan?"

"Telat terus setiap hari. Mepet jam doa. Harusnya lebih pagi lagi berangkatnya."

Ealah, lha yang bangun siang tuh siape? Yang masih lelet-lemot tuh siape? Yang menurunkan reputasi tuh siape? Eeee....

Friday, August 21, 2015

Dari Mejaku Pagi Ini Memandang Rumah Berwarna Kunyit


Sangat mudah mengingat kapan aku menerima buku ini. Rabu, 19 Agustus 2015, di Balai Keratun, kompleks Kantor Gubernur Propinsi Lampung, dari tangan editornya langsung, Udo Z. Karzi. Aku menanti buku ini sudah agak lama, dan akhirnya kudapatkan. Bukan berarti isi buku ini hal yang baru sehingga aku sangat ingin mendapatkannya, karena aku sudah membaca sebagian artikel dalam Rumah Berwarna Kunyit (Polemik Kesenian, Kesenimanan dan Lembaga Seni (di) Lampung) ini koran, tapi aku ingin menyimpannya sebagai salah satu dokumen di perpustakaanku.

Ya, seperti dikatakan Udo, buku ini berupa kumpulan dari artikel-artikel yang sudah dipublikasi di media masa. Dan secara umum aku bisa memahami situasinya kalau yang ditulis adalah tentang kesenian, kesenimanan dan lembaga seni yang ada di Lampung. Walau aku tidak terlibat banyak di situ, tentu saja aku paham juga sedikit-sedikit tentang hal ikwalnya. Karena aku juga membuat karya seni, aku seniman, dan sesekali aku terlibat dalam lembaga atau komunitas seni.

Aku menerima buku ini pada hari bersejarah bagi Dewan Kesenian Lampung (DKL), yaitu pengukuhan pengurusnya untuk masa jabatan 5 tahun mendatang. Aku sedang menunggu acara dimulai ketika Udo memberikannya padaku dalam sampul coklat bertulis namaku. Acaranya sendiri belum mulai juga walau aku sudah satu jam lebih duduk di situ. Undangan yang kuterima menyebutkan acara akan dimulai pada pukul 09.00. Aku datang di lokasi sekitar 7 menit sebelum jam 09.00. Dan aku terima buku biru ini sudah lewat 5 menit dari pukul 10.00! Dan acara belum ada tanda-tanda akan mulai!

Aku sengaja meniatkan datang setelah mendapat surat undangan warna biru sehari sebelumnya karena beberapa alasan. Pertama, aku ingin hadir untuk teman-temanku seniman yang sudah pasti akan masuk dalam jajaran kepengurusan. Kedua, aku penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada DKL kedepan. Menurutku salah satu tanda yang bisa kutangkap adalah siapa yang ada di dalamnya. Dan saat aku terima undangan pengukuhan itu, tak ada informasi jelas yang kudapat tentang orang-orang yang akan masuk dalam jajaran pengurus yang akan dikukuhkan itu. Ketiga, aku sedang tak ada acara apapun di manapun. Jadi kupikir tak ada ruginya untuk hadir.

Pagi itu merasa antusias menyiapkan diri. Baju dominan biru sengaja kupakai dan bukan batik. Ya, sesuai dengan warna undangan biru. Dan ini pasti akan membedakan dengan sangat kontras dengan para calon pengurus yang akan dikukuhkan, yang disebutkan sudah menerima batik seragam. Sepatu kulit coklat kupakai. Mestinya lebih enak jika aku pakai sandal tumit tinggiku yang ringan. Tapi hari Minggu lalu aku terkilir. Kaki kiriku masih sakit jika digerakkan walau bengkaknya sudah mengempis. Dan aku berangkat dari kantor pukul 08.30. Aku memastikan tidak akan terlambat dan melewatkan hal-hal yang akan kutemui di sana.

Sayangnya, aku kecewa di satu jam pertama. Okey, harapanku memang tak bisa terpenuhi seluruhnya. Lihat saja, pertama, ya, aku bertemu teman-teman seniman. Sebagian memakai 'batik seragam' sebagian lain tidak. Jadi merekalah yang akan jadi pengurus, yang lain hadirin undangan seperti aku. Kedua, aku mendapati nama-nama pengurus. Soal ketua umum sudah terpilih Yustin Ridho Ficardo. Lalu ketua harian Heri Suliyanto. Hmmm.... Yang lain, aku baru tahu kemudian, lewat media online. Setelah acara selesai. Ketiga, ah,... aku tak bisa menunggu segitu lama untuk acara yang sudah bisa kutebak situasinya. Jadi pukul 10.30, aku bangkit. "Aku bosan. Harus jalan dulu." Kataku pada Imas Sobariah, yang duduk tak jauh dariku. Lalu aku ke tempat Kang Dana,"Selamat, kang. Aku tak tahan lagi menunggu." KD menyebut 2 menit, pasti mulai.

Aku tertawa dan pergi. 1,5 jam cukup bagiku. Tak ada pengaruhnya apa-apa jika kursiku kukosongkan. Jadi aku pulang, walau saat aku di teras Balai Keratun aku berpapasan dengan mobil yang membawa Ridho dan Yustin, Gubernur dan Ketua Umum DKL. Dalam hati aku menyapa mereka,"Sukses selalu, pak dan bu." Aku paham, sangat paham, acara-acara seperti ini biasa dimulai dengan sangat-sangat terlambat, molor jauh dari waktu yang tertulis. Sangat-sangat biasa. Dan karena untuk acara ini Ridho dan Yustin atau entah protokoler pemprov Lampung tak membuat gebrakan sehingga hal yang memalukan ini tidak terjadi, ya serta merta rasa pesimisku mencuat. Ya yang biasa-biasa itulah yang akan terjadi. Huft.

Di parkiran, bapak tukang parkir manggut-manggut sambil membantuku mengeluarkan motor. "Mereka ndak paham. Menunggu sampai selama ini buat ibu-ibu ya akan merepotkan. Belum lagi harus masak, ngurus anak. Acara belum mulai juga padahal sudah siang. Hati-hati ya bu." Hehehe... aku tertawa mendengar komentar si bapak. Komentar ini memberiku ilham sebuah resep masakan. Dan spontan membuatku rindu dapur.

Hmmm... akan kemana DKL dengan jajaran pengurus seperti itu? Hmmm... hmmm... hmmm... Aku menulis soal harapan saja. Karena DKL sudah diisi oleh orang-orang yang dekat dengan pemerintahan, ketua umum istri Gubernur, lalu ketua harian kepala dinas pendidikan, aku berharap pemerintah Lampung semakin memberikan perhatian dan ruang yang nyata dan merata terhadap seni, seniman dan lembaga seni termasuk komunitas-komunitas seni di Lampung. Bukan untuk lamis-lamis lambe tampak gemebyar saja tapi sungguh-sungguh. Serius. Dan besok-besok, terlambatnya jangan keterlaluan deh. Ya 10 menit 15 menit bolehlah. Lampung sudah terlambat jauh, jangan lagi ditambah mengulur waktu yang merugikan begitu. Wis, itu saja deh.

Selebihnya, ya ya ya, Rumah Berwarna Kunyit membantuku melihat pandangan-pandangan para penulis tentang geliat seni di Lampung. Buku ini belum kubaca seluruhnya. Masih nunggu giliran memakai waktu yang kupunya. Sementara kusurukkan saja di ranselku, jika ada jeda aku bisa membacanya pelan-pelan di manapun aku berada, bercampur dengan dua buku yang sedang kubaca juga pelan-pelan Pagi Lalu Cinta-nya Isbedy Stiawan dan Harakah Haru-nya Iswadi Pratama, serta sebuah manuskrip buku puisiku yang sedang kuedit.

Dan walau aku tidak jadi ikut hadir dalam acara pengukuhan (maafkanlah, aku mah gini orangnya, tak sabaran.) aku mengucapkan : Proficiat, pengurus DKL yang baru. Selamat bekerja. Seni dan seniman tak selalu butuh rumah karena udara dan mataharilah sumber utama inspirasi karya. Jadi mungkin akan bisa dihitung siapa yang akan bertandang atau diundang ke rumah. Tapi para pengurus rumah, semestinya tak melulu di dalam rumah, tapi membuka pintu jendela membersihkannya setiap pagi, merapikannya setiap kali hingga pantas disebut sebagai rumah, termasuk dengan taman dan halaman yang indah. Dan jalan-jalan di luar rumah, sekitar rumah atau sedikit jauh dari rumah akan baik juga untuk kesehatan. Jadi, lakukanlah kerja-kerja yang diperlukan itu. Sekali lagi, proficiat. Selamat.

Tuesday, August 18, 2015

Matahari dan Bulan

Pagi ini, 06.20, lewat bundaran Raden Intan, matahari bulat warna oranye di timur kelihatan rendah dan bulat.
"Bert, Nart, itu matahari atau bulan?" kataku memancing Albert dan Bernard di boncengan Mioku.
"Matahari. Bagus." kata Albert.
"Itu bulan." kata Bernard.
"Matahari, dedek." tandas Albert.
"Itu matahari yang menyamar jadi bulan." jawab Bernard cuek.
"Itu matahari kecil yang menyinari seluruh bumi." kata Albert sok puitis.
"Itu matahari yang menyinari setengah bumi." protes Bernard.
"Kok setengah? Seluruh." kata Albert.
"Tugas matahari memang setengah saja, setengahnya lagi tugas bulan."
"Dih, adek." kata Albert dengan jengkel. "Matahari kan terus berjalan menyinari semuanya."
"Bukan matahari, tapi bumi yang berputar." tukas Bernard.
"Iya!" seru Albert pasrah.
"Dan dalam suatu waktu, matahari hanya menyinari setengah bumi. Tak bisa sekaligus disinari seluruhnya." Lanjut Bernard.
"Iya deh." kata Albert.
Lalu dua-duanya diam. Iya deh. Hehehe....

Saturday, July 25, 2015

Dewa Kolonshewang

Dewa Kolonshewang kehilangan tahtanya. Dia berjalan ke sana ke mari di seluruh penjuru langit.
"Aku lupa meletakkan kursi itu di mana." Keluhnya.
Rombongan angin yang sedang ditunggangi oleh para dong menggeleng-gelengkan kepala, sedang para dong dengan pecut di tangannya terheran-heran.
"Dewa, kursi...itu bukan kursi. Dan bagaimana Dewa bisa menghilangkannya? Tahta dengan berat seperti pasak-pasak Semeru dan hiasan berkilo-kilogram bebatuan? Dewa membawanya kemana?"
Dewa Kolonshewang tertunduk murung. Dikibas-kibaskannya tangan. Diusirnya angin-angin. Para dong menggerutu berkasak kusuk.
"Mestinya aku meletakkanya di suatu tempat. Tapi aku lupa. Di mana?"
Para dewi yang berjinjit dengan selendang-selendang pelangi tak bisa menghiburnya. Guntur dan petir dan membuatnya berjingkat kembali ke istananya. Dewa Kolonshewang terus berjalan hilir mudik mencari tahtanya.
...
Nun jauh di bawah sana, bumi guncang oleh prahara. Sebuah desa tertimpa kotoran lembu sebesar gunung. Lekukan di bagian atas berbentuk cekung, dan jejak seperti sepasang tapak kaki  menghias bagian bawahnya. Seratus orang meninggal karenanya dan baunya terus menyebar ke seluruh bumi. Segerombol ilmuwan sedang mengambil contoh dari kotoran itu dan para filsuf mulai mendiskusikan mengapa dan bagaimana kotoran sebesar itu bisa runtuh ke bumi. "Sebesar apakah lembu yang sudah mengeluarkan benda ini? Di manakah dia yang sangat besar itu berpijak?"

Friday, July 24, 2015

Lukisan-lukisan Yuli Nugrahani

Aku melukis dari usia yang masih sangat dini. Tak ingat persisnya. Tapi mulai SD aku sudah ikut lomba melukis bahkan hingga menjadi utusan Kabupaten Kediri di tingkat propinsi Jawa Timur. Lukisan-lukisan itu tersimpan, hilang dan tersebar. Kebanyakan dari mereka adalah lukisan yang belum jadi. Ini dua di antaranya :


Perempuan-perempuan
 
Penari Banyuwangi

Adakah yang berminat? Silakan inbox di fb yuli nugrahani.

Thursday, July 09, 2015

41 Tahun yang Belum Cukup

Hari yang istimewa ini seperti biasa. Yang luar biasa adalah aku bertemu rahim perawatku, ibu, pada jam pertama aku membuka mata di hari ini, sama seperti 41 tahun yang lalu. Pada jam yang hampir sama, sekitar pukul 7 pagi. Aku tak memberikan kado apa-apa, hanya pelukan, yang dibalas lebih erat oleh ibu."Terimakasih, ibu. Terimakasih sudah melahirkan dan merawatku." Bisikku dalam peluknya.

Udah. Usai itu hari ini berlangsung biasa seperti biasa aku merayakannya. Mengambil beberapa waktu untuk sendirian. Melihat beberapa tumpukan dokumen lama di lemariku di Kediri membuatku lebih masuk ke dalam kesendirian. Satu map tak sengaja kutemukan. Berisi dokumen-dokumen saat aku ikut pelatihan jurnalistik pertama kali di Jakarta, bersama Ignatius Hariyanto (penulis, editor, juga direktur LSPP beberapa tahun terakhir) dengan pembicara-pembicara dari Kompas, Tempo, Intisari dan sebagainya. Juga tumpukan lain saat aku aktif bersama teman-teman KANVI Malang dan di VCI.

Seperti kejutan membaca kembali dokumen-dokumen itu setelah 20 tahun lewat (kalau tidak salah pelatihan itu kuikuti pada tahun 1994). Pelatihan itu kuikuti jauh sebelum aku menjadi wartawan Malang Pos. Bahkan jauh sebelum aku berpikir menjadi jurnalis. Atau bahkan sebelum terlibat di berbagai lembaga puluhan tahun silam.

Apakah aku seorang jurnalis? Ya, suatu waktu yang cukup lama di Malang Pos dan kemudian di Majalah Nuntius dan beberapa media lain. Apakah aku seorang aktifis? Tidak. Orang-orang menyebutnya begitu untuk meledekku. Juga untuk menyerangku. Aku dengan kegembiraan dan kesedihan hari ini, menyebut diriku sendiri pembohong dengan jutaan topeng dalam rak penyimpanan yang seluruh eksistensinya patut dipertanyakan.

Aku ingin mencatat satu hal untuk mensyukuri hari ini. Aku seorang manusia yang menandai hidupku dengan gerakan kaki, loncatan pikiran dan dinamika perasaan. Hari ini sama dengan hari-hari yang lain, tapi aku ingin mengingatnya suatu ketika nanti sebagai hari yang istimewa, saat merasakan pelukan sang rahim, pada hari dan jam yang sama seperti saat aku pertama kali merasakan udara semesta.

Thursday, May 21, 2015

OTAK PASIR

Bernard duduk di sebelahku. Melihat ke atas dan bertanya,"Bu, bagaimana cara menyambung kabel-kabel lampu seperti itu ya?" Aku melihat arah pandangnya. Kabel yang menghubungkan lampu belakang rumah dengan listrik tampak menjuntai. "Ibu tidak tahu. Tapi pasti ada caranya. Bernard tanya bapak saja nanti. Bapak kan ahlinya."
Bernard diam sebentar lalu berkata,"Nanti kalau aku sudah besar, aku akan jadi bapak juga. Jadi harus tahu cara menyambung kabel."
Oh. Aku melihat wajahnya tampak serius, jadi aku tak berani tertawa. "Ya, nanti kalau bapak pulang, tanyalah. Tapi ndak usah buru-buru lah jadi bapaknya. Jadi anak saja sekarang."
"Iya." Wajahnya begitu serius. Lalu dia diam lagi, sebelum kemudian nyeletuk,"Belajar pada masa anak-anak itu seperti mengukir batu, sedang belajar pada saat sudah tua itu sama seperti mengukir air."
Eits. "Mengukir air kan ndak bisa, Nard." Protesku sambil mikir, nih anak sedang berpikir apa ya?
"Karena itulah, bu. Makanya belajar pada saat masih anak-anak. Seperti aku. Jadi seperti ukiran di batu. Tidak akan hilang."
"Ah, iya juga. Tapi setua ibu juga masih belajar."
"Tapi susah kan, bu? Buktinya ibu sering lupa."
"Hmmm.... ya. Mungkin sebenarnya itu bukan mengukir air, tapi pasir. Bisa, tapi mudah hilang."
Bernard manggut-manggut. "Iya kali. Pasir. Kena hujan, hilang deh."
Dia berdiri. Memutar badan menuju sepedanya. Sebelum dia pergi aku tanya dengan sedikit berteriak,"Nard, memang tahu dari mana itu soal mengukir batu dan air."
"Ada ditulis di kelasku. Aku sudah membacanya di dinding sejak naik kelas 5."
Ohhh.... baiklah. Dia hilang dengan sepedanya. Aku melanjutkan merenung, berpikir soal otak airku... eh... otak pasirku. Duh.

Wednesday, May 20, 2015

Kireji pada Haiku Denok Indriyati



Selain syarat 5 – 7 – 5 ketukan pada baitnya, adanya kigo/penanda musim, dan syarat-syarat lain, salah satu syarat yang penting dalam haiku Jepang adalah keberadaan kireji. Kireji dalam bahasa Inggris adalah cutting word atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai kata pemotong. Menurutku ini adalah bagian yang sulit dipahami. Aku tak tahu kata pemotong dalam bahasa Indonesia itu yang seperti apa ya?
Dalam satu tulisanku tentang hal ini lewat haiku Hikmat Gumelar aku menuliskan “Syarat berikutnya adalah adanya kireji, atau pemotongan. Ini agak susah dibayangkan. Di banyak contoh haiku, misalnya haiku Basho, dimanakah kirejinya? Pemotongan ini kalau kubayangkan dalam pantun seperti pemotongan antara sampiran dan isi. Sesuatu yang tak ada hubungannya tapi toh terkait juga.”
Rupanya hal itu tidak sesuai betul dengan arti yang sebenarnya tentang kireji. Dalam bahasa Jepang memang ada kata-kata pemotong yang kemudian dipakai dalam haiku untuk memberikan ruang keterlibatan bagi para pembaca. Kata pemotong itu menjadi pemisah ada dua tema yang disandingkan (jukstaposisi) dan pada gilirannya saat dibaca akan menjadi ruang bagi pembaca untuk bertanya, merenung dan mengambil inspirasi yang lebih dari haiku yang sudah dibuat.
Dari banyak sumber, dalam bahasa Inggris tidak ada padanan yang tepat untuk hal ini. Dan karena aku tak bisa memahami bahasa Jepang, aku juga tidak tahu apa padanan yang sesuai untuk hal ini dalam bahasa Indonesia. Jika dalam tulisan atau pemahamanku dahulu membandingkan keberadaan ‘pemotong’ atau pemotongan ini seperti antara sampiran dan isi dalam pantun, aku masih akan tetap menggunakannya dalam pemahaman yang tidak persis seperti itu. Aku akan memahaminya seperti ini :

Pertama, pemotongan ini aku setarakan dengan penyandingan dua tema yang berlainan itu dapat terlihat dalam haiku Denok Indriyati ini.

Malam yang redup
bulan dililit mega
angin gelisah.
(Diposting di Haiku Nusantara pada 20 Mei 2015)

Pada baris pertama dan kedua, kita bisa melihat adanya satu tema/ide, malam yang redup karena bulan dililit mega. Tak ada cahaya yang tampak karena mega menutupi bulan. Itu jelasnya. Lalu masuk tema kedua pada baris ketiga, angin gelisah. Andai tidak dipotong, antara dua baris pertama dan baris ketiga, seharusnya ada keterangan yang panjang sebagai penghubung keduanya. Inilah ruang yang disediakan bagi pembaca haiku Denok. Apakah yang terjadi sehingga pada malam yang redup bulan dililit mega, membuat angin menjadi gelisah. Mengapa terjadi begitu? Hal itu menimbulkan banyak imajinasi tergantung dari pembacanya pernah mengalami apa, sedang mengalami apa atau tengah membayangkan apa. Karena itulah, baris-baris dalam haiku tidak bisa dijadikan satu kalimat, tapi selalu berupa penggalan-penggalan.

Kedua, ini tidak lepas dari keberadaan haiku sendiri yang sangat singkat. Ruangnya yang terbatas hanya 5 – 7 – 5 ketukan, tidak memberi keleluasaan bagi penulisnya untuk berboros kata menjelaskan secara rinci tentang segala idenya. Pada akhirnya, justru di sinilah kekuatan haiku itu muncul. Lukisan yang tak terbatas bisa tersampaikan dari deretan kata yang sangat minim.
Jika kembali melihat haiku Denok, aku akan langsung ditarik oleh kata-kata yang disusunnya dalam imajinasi yang begitu luas. Di mana? Pada malam yang redup. Apa? Bulan dililit mega. Kapan? Saat angin gelisah. Ketiganya adalah sumber imajinasi yang tak terhingga.

Ketiga, dugaanku ini juga ada kaitannya dengan sejarah haiku. Konon haiku (klasik disebut hokku) awalnya dipakai sebagai pembuka atau pengantar rangkaian sajak panjang. Sebagai pembuka atau pengantar, kubayangkan ini sesuatu yang pendek, semacam lead dalam tulisan jurnalistik, yang memberi ‘senyuman’ selamat datang untuk menarik pembaca meneruskan membaca seluruh sajak.
Kalau dihubungkan dengan hal ini, kubayangkan haiku Denok ini akan membawa kita pada pada kisah yang sangat panjang. Segala kisah yang mungkin terjadi pada sebuah malam yang redup, bulan dililit mega, angin gelisah. Ini adalah imajinasiku. *** (Yuli Nugrahani)

Wednesday, April 29, 2015

Pertama adalah Mata

Aku sudah pernah menjadi juri untuk beberapa bidang dalam penulisan atau di luar penulisan. Salah satu kesempatan kudapatkan baru saja dengan menjadi juri cipta puisi tingkat sekolah dasar (SD) untuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Propinsi Lampung, di Hotel Nusantara, Bandarlampung 24 - 27 April 2015. Ada 15 peserta yang ikut lomba dari 15 kota dan kabupaten yang ada di Lampung. Kisaran peserta dari kelas 3 sampai 5 SD.

Tema umum yang disodorkan dalam lomba ini adalah kebudayaan Indonesia, spesifik karena ini lomba tingkat propinsi Lampung maka yang harus ditulis oleh peserta adalah kebudayaan Lampung. Dengan waktu kurang lebih 3 jam, apa yang bisa diharapkan dari para peserta siswa siswi SD itu? Hmmm, ya dari banyak pengalaman untuk tingkat umur SD, puisi-puisi yang dihasilkan adalah puisi deskriptif, melukiskan apa yang menjadi tema.

Misal anak SD diminta menulis puisi tentang tarian Lampung. Mereka akan mengurai kata-kata yang melukiskan tarian Lampung, berdasarkan apa yang mereka pernah lihat. Puisi mengandalkan kata-kata yang muncul dari perasaan, yang didasari dari apa yang ditangkap oleh pancaindera. Tapi untuk para muda, anak-anak SD ini, penggunaan mata atau indera penglihatan secara optimal, adalah awal yang sangat baik dan tepat.

Dan ini memang sungguh awal yang baik bagi seorang penyair. Indera yang pertama dan paling optimal bisa digunakan oleh penyair untuk menjaring perasaan-perasaan puitik adalah mata, indera penglihatan. Lewat mata kita bisa melihat bentuk, letak, gerakan, warna dan sebagainya. Jika dituangkan dalam kata-kata, apa yang tertangkap oleh mata ini sangatlah banyak, luar biasa.

Kalau dalam FLS2N tingkat SD mereka melukiskan budaya Lampung, mulai dari tarian, alam, adat, dan sebagainya, kita bisa memakai sekitar kita sebagai latihan menggunakan mata. Mempertajam apa yang bisa ditangkap oleh mata kita sangatlah besar maknanya. Coba lihat di mejaku sekarang ini. Ada gelas nyaris kosong persis di depanku. Apa kata-kata yang bisa kuungkap dari gelas ini? Misalnya : bening, mengkilat, air, gelas, jernih, udara, kosong, pantulan, wajahku, bias, lengkung, lurus,cahaya, dll. dll. Dari kata-kata itu aku bisa merangkainya jadi puisi. Misal puisi pendek seperti ini :

Bening depanku
gelas mendamba air
wajah memantul.

Nah, mataku menangkapnya, dan jadilah puisi pendek. Jika aku menyimpannya, lalu mengeditnya, ini akan jadi salah satu bait dari puisi yang utuh nanti. Jadi, sungguh menyenangkan melihat anak-anak SD sudah memulai dari yang paling menyenangkan yang mereka tangkap lewat mata mereka, untuk dijadikan puisi. Salut.