Thursday, December 20, 2012

Siap-siap Liburan

Pada bulan Juli lalu aku sudah menulis bagaimana mesti merancang perjalanan (klik sini jika lupa) dan juga bagaimana cara mengurus paspor sendiri (klik sini). Nah, sekarang sudah dekat hari libur akhir dan awal tahun, aku ingin ajak lihat bagaimana kami mempersiapkan diri untuk liburan kali ini.

1. Jadwal perjalanan.
Kami membuat daftar perjalanan. Rencananya perjalanan ini akan dilakukan dari tanggal 23 Desember 2012 - 2 Januari 2013. Maka, daftar itu berisi apapun yang akan kami lakukan mulai dari tanggal itu dari rumah sampai kembali di rumah. Yaitu tujuan, alat transportasi, tempat makan dan di baris yang sama kami beri perkiraan rupiah/ringgit/bath yang diperlukan.) Perjalanan kali ini kami akan menempuh 3 negara mulai dari Indonesia (Lampung dan Jakarta), lalu Malaysia (Kualalumpur) dan Thailand (Hatyai). Kami catat juga di lembaran itu apa yang mesti diperhatikan di tiap-tiap point. Referensinya dari Google dan teman yang sudah pernah ke sana.

2. Catatan kecil
Ini kami pisah dari daftar perjalanan, tapi ditaruh di buku agenda kecil yang akan kami bawa. Isinya adalah alamat tempat kami akan menginap (Tempat menginap harus dipastikan jauh-jauh hari. Kali ini kami akan menginap di tempat saudara saat di KL, jadi cukup aman dan murah meriah lah. Di Hatyai akan memakai hotel murah yang terjangkau.), nomor-nomor penting, dan jadwal penerbangan plus kode penerbangan. Ohya, tentu harus dilengkapi dengan alamat dan nomor Kedutaan Besar negara setempat yang akan dikunjungi. Hanya untuk jaga-jaga saja. Buku agenda ini mesti dijadikan satu dengan dokumen-dokumen identitas diri.

3. Dokumen penting
Dokumen-dokumen mulai kami kumpulkan, yaitu paspor, kartu keluarga dan tiket. (Tiket sudah kami beli beberapa bulan lalu, supaya dapat harga murah. Pun kami beli nyicil. Beli dulu untuk berangkat, lalu baru untuk pulang pada kesempatan yang berbeda. Jadinya pulang pergi Jakarta - Kualalumpur jatuhnya Rp. 760.000,- per orang. Cukup murah untuk ukuran hari libur. Jadi cukup puaslah. Ini tidak akan melebihi budget andai kami pulang kampung.) Ketiganya kami fotokopi dan nanti akan kami taruh kopiannya di tas besar, terpisah dari tas kecil tenteng yang melekat di badan.

4. Menukar uang
Berdasar itinery, kami mulai tukar uang dalam bentuk ringgit dan bath. Menyisakan beberapa ratus rupiah untuk airport tax dan keperluan di Indonesia, dan juga menyiapkan bentuk US Dollar untuk saving. Saat aku tukar beberapa hari lalu, ringgit sedang langka (belum dapat) sedang bath dihargai Rp. 329,-. Ini pun kami lakukan dengan nyicil, dikit-dikit kan lama-lama menjadi bukit. Sebagian dari hasil membuka kotak keinginan kami masing-masing. Den Hendo pemecah rekor dapat Rp. 499.000,-. Aku urutan kedua cuma dapat Rp. 147.000,-. Dan masing-masing anak-anak tidak lebih dari Rp. 100.000,- Minimal bisa untuk beli oleh-oleh untuk pribadi. Hehehe...

5. Menyiapkan barang-barang keperluan perjalanan.
Kamera plus baterai, pulsa telepon yang kira-kira cukup untuk SMS antar negara selama beberapa hari itu, alat-alat mandi, pena yang masih penuh isinya, baju ringan seminim mungkin dan baju dalam agak banyak. Juga sepatu yang cukup nyaman untuk perjalanan. Makanan dan minuman juga kami siapkan karena anak-anak suka tidak terduga jika merasa lapar. Tapi tidak bawa banyak, hanya beberapa roti, susu kotak dan air putih yang bisa dikonsumsi sambil nunggu pesawat. Juga vitamin, tolak angin dan minyak kayu putih. Ukuran kecil saja.

6. Stamina tubuh
Ini yang paling penting. Den Hendro dan Bernard beberapa hari terakhir ini sudah mulai batuk-batuk karena kehujanan beberapa kali, maka beberapa hari sebelum keberangkatan harus ada dopping. Minum madu secara rutin bisa membantu untuk menjaga stamina tubuh. Jangan sampai sakit saat perjalanan. Sungguh, itu sama sekali tidak enak.

7. Menyiapkan mental.
Perjalanan yang akan kami lakukan adalah perjalanan minim ongkos dengan gaya backpacker. Maka seluruh peserta perjalanan yaitu aku, Den Hendro dan anak-anak mesti membayangkan akan banyak jalan kaki, transportasi umum, menahan keinginan memborong barang-barang, dan tidak ada manja-manjaan. Juga harus akur. Walau ada jadwal perjalanan, targetnya adalah menikmati perjalanan. Jadi selalu fleksible.

8. Packing
Pengemasan akan dilakukan pada hari terakhir sebelum berangkat walau semua barang sudah disiapkan. Maka hari terakhir itu jangan membuat janji terlalu banyak untuk keluar rumah. Lebih baik untuk istirahat dan packing. Hanya membawa 4 tas sesuai jumlah orangnya. Ini akan nikmat kalau tidak banyak bawaan. Dan lagi tiket yang kami beli kan tanpa bagasi, jadi lebih irit. Hehehe...

Nah, begitu deh. Semua akan siap, dan selamat berlibur.

Monday, December 17, 2012

Berkawan Dengan Kantuk

Bukan karena tak ada pilihan
aku berkawan denganmu pagi ini, siang dan malam
tanganku sudah memelukmu ketika
aku memilih gunakan malam hingga subuhku
dalam pesta raya denyut otak

kau akan jadi teman bagi gerakku
hanya pintaku, jangan menggangguku!
ciumi aku, cumbui aku
tapi, jangan menggangguku

hari ini aku tak akan mengikuti maumu
bergelas kopi lari atau rock and roll
akan menghadang ganggumu jika kau berniat begittu

hari ini aku akan sangat sibuk
duduklah di depanku

dan jadi kawanku tak berkianat.

Saturday, December 15, 2012

Dharma Wanita

Dulu yang namanya Dharma Wanita itu akrab di telinga. Ibu Titik, ibuku termasuk penggiat di Kecamatan Grogol Kediri, maka tak asing kalau tiba-tiba suatu hari ibu bilang akan rapat Dharma Wanita. Ibu akan memakai seragam yang berbeda dari biasanya ketika mengajar, dan berangkat pulangnya pun pada jam yang berbeda. Dan karena rapatnya akan diadakan di kantor kecamatan atau kantor dinas atau kantor mana gitu, biasanya pulangnya akan membawa oleh-oleh. Sebenarnya bukan oleh-oleh yang sengaja beli, tapi sekotak kue atau nasi yang dibagikan saat rapat. Seingatku ibu selalu membaca kotak itu utuh dan 'dipurak', dibagi beramai-ramai oleh kami bertiga anak-anaknya. Tidak pernah dimakan sendiri (Kok beda sama aku ya, setiap dapat jatah rapat atau acara aku langsung santap di tempat. Jarang kubawa pulang. Akan kuingat lain kali bahwa dibawain oleh-oleh ibunya itu menyenangkan walau rebutan.)
Sekian lama, nama Dharma Wanita tidak bergaung di telinga maupun otak juga hati. Aku bukan istri Pegawai Negeri Sipil (PNS) jadi tidak tergabung dalam cabang Dharma Wanita manapun. Ini adalah organisasi yang berdiri pada tahun 1974 oleh Tien Soeharto, istri presiden RI waktu itu. Organisasi ini berubah nama menjadi Dharma Wanita Persatuan pada tahun 1998 dengan visi menjadi organisasi istri pegawai negeri yang kukuh, bersatu, dan mandiri. Misinya adalah menyejahterakan anggota melalui bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya secara demokratis. Dan suamiku orang swasta yang tidak punya macam ini di pabriknya. Jadi jauhlah.
Nah, lalu kenapa aku tiba-tiba masuk dalam topik ini? Mulanya adalah kerjaan Indri (dosen FISIP Unila) dan Melly (dosen FISIP Unila juga dan kebetulan menjadi Ketua Dharma Wanita Fakultas Teknik (FT) Unila) untuk mewarnai pertemuan rutin arisan para ibu istri dosen FT itu dengan 'sesuatu'. Entah aku dianggap punya sesuatu atau hanya sekedar kolusi antar teman (hehehe), aku diminta datang (Jumat 14/12) di Gedung A (?) FT Unila. Harus ngomong apa? Tentang apa saja terkait peran ibu dalam pembangunan. Weh. Astaga.
"Aku mau tapi bentuknya talk show ya. Ada moderator bertanya dan aku tinggal menjawab. Kalau disuruh nggambleh sendiri, ndak mau aku." Indri setuju. Dan aku bilang ke Melly lanjutannya. "Bukan kasih materi, tapi ngerumpi."
Alkisah, aku pun berdiri di depan para ibu hebat itu, menjadi orang yang paling tidak hebat di antara mereka, tapi aku beruntung karena aku punya hak suara lebih banyak dari semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Melly tentu saja, sang ketua dan pemandu acara ini. (Sayang aku lupa bawa kamera sehingga tidak ada foto. Sayang sekali.)
Dan bener-bener ngerumpi. Aku bilang tentang asyiknya hidup jika relasi suami istri okey. (yang berat jadi ringan, yang ringan jadi lebih menyenangkan.) Menjadi pengantarku tengan smsku dan suami pagi itu tentang roti kelinci yang lucu untuk sarapan. Lalu tentang tugas pokok istri dan ibu yang tidak boleh ditinggalkan, plus nambah pulsa luar biasa kalau harus meninggalkan keluarga. Juga tentang sebuah baju sederhana buatan anak-anak Citra Baru hasil latihan mereka. Baju cantik seharga belasan ribu rupiah, hanya lurus potongannya, warna hitam polkadot putih transparan yang aku pakai itu aku ambil sebagai contoh, betapa dengan memakainya saja, sudah menyumbang sedikit percaya diri pada anak-anak disable di Citra Baru. Dan itu aksi konkret yang ketika diceritakan banyak banget inspirasi yang muncul. Gerakanku membuka tali-tali baju itu membuat mereka sedikit antusias memandangku dan otomatis aku merasa sebagai sahabat mereka. Hihihi, mungkin lebay juga yang sudah aku lakukan. Pasti kelihatan seksi deh. Hehehe...
Di bagian akhir, aku bilang pentingnya seorang perempuan jujur terhadap kebutuhannya sendiri. Berusaha menyuarakannya di ranah domestik depan suami anak dan keluarga, juga di ranah publik sosial politik semaksimal yang bisa dilakukan. Dengan begitu orang-orang lain akan paham apa yang dibutuhkan oleh perempuan karena cirinya yang khas berbeda dengan laki-laki. Dan hidup sebagai istri, ibu dan pribadi menjadi lebih asyik.
Ketika seorang ibu bertanya bagaimana tips mengatasi anak-anak, aku terbengong. Hadeuh, aku bukan ahlinya. Pun aku masih sering galau soal anak-anak. Untung seorang ibu,  yang ternyata Pembantu Dekan II FT, ibu manis yang anak-anaknya sudah ko-as, sudah kuliah, Dra. Sumiharni, S.T., M.T., dengan suara lembut keibuan (beda dengan suaraku yang mendesak gelisah orasi. hehehe.) menceritakan keterlibatannya bersama anak-anaknya. "Tidak memaksa, tapi mengajak. Hingga keinginan muncul dari anak sendiri." Itu pointnya.
Wah, terimakasih para ibu. Seperti biasa, aku yang dapat paling banyak : materi, pengalaman, teman, dan thank a lot, Mel, Ndri, sudah ngundang aku plus traktiran kwetiau goreng dan kopi hangatnya di kantin FISIP. Hmmm, sedap. Aku pasti kecanduan dharma dharmi macam gini lagi bersama kalian.

Thursday, December 13, 2012

Nyanyian

pagiku bersenandung segala nyanyi
melompat diangkat para dikini
berselimut energi

hingga ketukan di tepi mata
memintaku duduk paksa
"betapa aku cintainya. dimana?"

aku menggeleng tak tahu
wajahnya kecewa sendu
mata mengalirkan sungai debu
deras sekuat gelengan kepalaku

kibasan tangan meruntuhkan ragaku
juga semua lagu

para dikini membantu
yang butuh dibantu
bukan aku,
si kikir berhati batu!

Wednesday, December 12, 2012

12 - 12 - 12

kiamat disiram hujan
mandi massal segala alam

aku terlanjur meloncat jendela
mengetuk pintu berbisik
"bolehkah aku masuk?"

tampias basah seluruh badan
aku telanjang mengering
di sudut pendiangan

gemetar
pada adventku
yang belum usai

Monday, December 10, 2012

Pembantaian

adventku bukan sekedar penantian
serupa jalan kalvari bagi dua pengkianat
di samping kanan dan kiri

darah dan keringat membalur
tengkukku masih tegar tegak
menahan luap air mata

paksa aku bersimpuh, wahai
buat hatiku rela bagi pembantaian
menghanguskan kesombongan jiwa

demikian eranganku adalah hamba
dan lukaku adalah upeti, bagi raja
yang sudah mencipta leluasa penuh cinta

Friday, December 07, 2012

Lesu

kalau aku menulis lagi tentang lesu, kau pasti tidak percaya.
kau akan katakan bahwa aku bohong lalu kau akan bergelanyut di ujung senyumku
menggosok lidahku hingga mengeluarkan suara lucu
kemudian kau akan memaksaku mendengar ringkikanmu
persis di gendang telinga

adalah kabut yang sudah ditaruh sembarangan entah siapa
terasa ketika aku mulai menghela kakiku melewati jalan ini
mata remang tak mampu melihat jelas di sekitarku
berpuluh meter kemudian adalah pekat

ya, kalau aku menulis lagi tentang lesu, kau pasti tidak percaya
malah menggandengku dan bergurau tebak-tebakan apa di depan kita,
di belakang, di samping, di atas, di bawah?

jangan kuatir begitu kau katakan sembari menyenggol bahuku
kau bisikkan ada banyak kunang-kunang di saku

kau pastikan akan meletakkan mereka di bulu mataku, nanti

Tuesday, December 04, 2012

Pak Sam dan Bu Titik, Proficiat!

"Bapak dan ibu, selamat. Puluhan tahun bukan masa yang pendek. Bukan selalu sempurna, tapi aku bersyukur terlahir dalam keluarga ini. Salam dan doa dari Lampung."

Minus keluarga Yeni. Lupa kapan dibuat.
Pesan singkat itu aku kirim untuk Pak Sam (A. Samiran K.A) dan Bu Titik (Sudiati) pagi ini. Mereka sudah 41 tahun mengarungi hidup bersama, gembira maupun sedih. Mungkin juga pernah bosan atau konflik. Mereka bertahan dalam rumah yang sama sejak tahun mereka mengikat janji.
Kami anak-anaknya belum seujung kuku menyamai hal itu. Mbak Lis, aku dan Yeni masih mengembara mempelajari terjal perkawinan. Belum mampu juga meraup pembelajaran dari mereka berdua.
Keluarga Yeni, kesempatan beda
Aku anaknya, masih sering heran bagaimana mereka bisa saling mencecap dan membagi kasih. Cara yang mereka gunakan seringkali tak masuk akal. Bahkan mungkin sampai 41 tahun pun mereka masih belum saling terima. Masih menerima kejutan setiap harinya, masih saling menjadi salib bagi yang lain. Tapi mereka sepakat untuk setia, minimal sepakat untuk terus hidup bersama.
Ah, aku telah mendapat wujud ragaku karena persetubuhan mereka, sekaligus juga mendapat watak-watak dasar dari perpaduan mereka. Selanjutnya, pun mendapat pengaruh dan pengalaman dari mereka. Semuanya dibungkus rasa kasih sayang yang masih belum bisa kutiru untuk anak-anakku.
"Selamat, pak dan bu. Terimakasih banyak sudah menyediakan diri bagi perkembangan jiwa dan ragaku hingga kini. Tidak selalu sempurna, tapi aku ingin selalu bersyukur karena terlahir dari anda berdua." Tulus dalam doa hari ini, 4 Desember 2012.

Monday, December 03, 2012

Awestruck

panggilan itu nyata tersadari
menjadi pintu ke persemayaman
lidah-lidahnya menyemat kunci
pembuka laci-laci sentuhan

aku berjingkat memungutnya
satu-per-satu lumat
'manis di mulut
pahit di perut'

hujan membantuku mencerna
sungguh pelan
hingga tidak diare
terbuang

malam secangkir kopi pekat
untuk mengendapkan
kekaguman

(Tak ingin lupa detail cukil kata dari obrolan bersama Erwin di teras Teater Tertutup Taman Budaya Lampung (2/12). Seluruhnya adalah cuplikan ilmu, yang akan terkupas di perjumpaan-perjumpaan berikutnya. Sudah kudapat rangkumannya, akan kuserap seluruhnya! Pasti.)