Tuesday, February 27, 2018

RAT KSP Kopdit Mekar Sai Tahun Buku 2017, Swiss Belhotel Lampung 25 Februari 2018



RILIS:

MEMPERKOKOH PERSAHABATAN
DENGAN TEKNOLOGI FINANSIAL UNTUK KESEJAHTERAAN BERSAMA
Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Kodpdit Mekar Sai Tahun Buku 2017


                Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke 26 tahun buku 2017 KSP Kopdit Mekar Sai diadakan di Ballroom Swiss-Belhotel, Bandarlampung pada Minggu, 25 Februari 2018. Menurut rencana, RAT dimulai pukul 10.00 dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Propinsi Lampung, Satria Alam. Agenda utama RAT akan dilaksanakan dalam dua sidang, yang pertama untuk mendengarkan laporan dan rencana kerja kepengurusan, dan yang kedua untuk pembahasan.
Tema yang diangkat pada RAT adalah Memperkokoh Persahabatan dengan Teknologi Finansial untuk Kesejahteraan Bersama. Menurut Ketua Dewan Pengurus Kopdit Mekar Sai, Andreas Muhi Pukai, tema ini memiliki tiga kata kunci yang sedang menjadi fokus dalam rencana program dalam tahun ini. Pertama, adalah persahabatan. “Dalam lambang koperasi, kata persahabatan muncul lewat gambar rantai yang tak terputus, menggambarkan salah satu sifat dari koperasi yang ingin dibangun oleh Mekar Sai yaitu sifat persahabatan yang kokoh, kekeluargaan, kebersamaan menuju kesejahteraan,” ungkap Andre.
Kata kunci yang kedua adalah teknologi finansial. Di dalamnya tercakup impian Mekar Sai untuk mengikuti perkembangan teknologi yang mau tidak mau menjadi sarana untuk berbagai kemudahan. Teknologi finansial terus menerus digunakan oleh Mekar Sai untuk mempermudah, mempercepat dan memperluas jangkauan pelayanan koperasi terhadap anggota.
“Ketiga yang tidak boleh diabaikan adalah kesejahteraan bersama. Ini sesuai juga dengan tema hari koperasi internasional tahun lalu: "Co-operative ensure no one is left behind". Tidak boleh ada satu pun dari anggota tertinggal ketika koperasi dinyatakan sedang berkembang. Semua anggota tanpa kecuali harus mendapatkan kesejahteraan karena keanggotaannya di Mekar Sai,” tandas Andre.
Tema RAT tersebut juga diterjemahkan dalam rangkaian acara RAT, yang dimulai sehari sebelum puncak acara. Sarasehan diadakan pada Sabtu, 24 Februari 2018 pukul 09.30 – 12.00 mengundang generasi muda dari berbagai komunitas dengan narasumber Anis Saadah, penggiat koperasi dari Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo), Jakarta. Sarasehan dilakukan di Kantor Mekar Sai, Pahoman, Bandarlampung, ingin menunjukkan bahwa orang muda mempunyai ruang yang sangat luas dalam koperasi sekaligus mempunyai peluang besar untuk mendapatkan manfaat dari koperasi. Pada hari yang sama setelah sarasehan diadakan penarikan undian, sebagai bentuk penyemangat bagi anggota Mekar Sai yang aktif dalam gerak dan perkembangan koperasi.
Ini adalah pertama kalinya Kopdit Mekar Sai mempercayakan panitia inti RAT pada para ibu. “Saat menentukan kepanitiaan inti kami mempertimbangkan kapasitas dan kompetensi dari tiap orang. Bahwa ternyata nama-nama yang muncul adalah nama-nama para ibu, ini adalah nilai lebihnya karena pada kenyataannya peran para ibu sangat besar dalam pencapaian kesejahteraan keluarga maupun dalam koperasi.” Jelas Andre. ***

Kontak person :
Ketua Panitia RAT : Ch. Dwi Yuli Nugrahani 
Ketua Dewan Pengurus: Andreas Muhi Pukai 

Saturday, February 24, 2018

Puisi Sabtu 16: SEGITIGA BERMUDA karya Lusia Yuli Hastiti


SEGITIGA BERMUDA

bila kutelusuri sisi miringnya yang pertama
aku bertemu dengan sebuah masa
di mana aku terbiasa bermain cahaya
dan tertawa bersama sebuah bintang muda

sisi miring lainnya
aku akan bertemu dengan masa
di mana aku berada di gelanggang
angan terbuka menatap bulan sambil bercengkerama

satu hal yang membuatku terpedaya
saat aku berada pada pusaran
di tengahnya membuat badan tiada berkuasa
saat kedua sisi miring itu mencipta getaran di dada

Lampung Timur, 24 Januari 2018

------------


Lusia Yuli Hastiti, lahir di Girimulyo, pada 8 Juli 1989. Setelah lulus dari universitas, dia bekerja sebagai guru di SMP PGRI 3 Marga Sekampung, Lampung Timur, Lampung. Kesukaannya pada puisi membuat dia aktif membaca dan menulis puisi. Kecintaannya yang lain adalah anak-anak.

Monday, February 19, 2018

Kesalahan Puisi Esai itu Bukan Hanya Urusan Denny JA atau Saut Situmorang

Kalau aku harus menulis tentang puisi esai sekarang ini, bukan berarti aku sedang kurang kerjaan. Aku harus segera menuliskannya karena kalau tidak aku akan diare berkepanjangan. Anggap saja proses menulisku ini semacam resep obat penyembuh diare. Atau, kalau hal semacam ini dianggap sebagai sesuatu yang ndak tepat, ya anggap saja ini sebagai penghiburan bagiku supaya lebih sehat, lebih waras.

Apakah kalian pernah membaca Pengakuan Pariyem, yang ditulis oleh Linus Suryadi AG dipublikasi tahun 1981? Bagaimana kalian menyebutnya? Ada yang mengatakan itulah novel, dengan model puisi. Ada yang menyebut puisi prosa. Atau aku, menyebutnya sebagai prosa liris/lirik. Kusebut demikian, seperti juga banyak orang menyebutnya, karena semua unsur dalam prosa dipenuhi oleh Linus. Ada tokoh, ada alur cerita, ada latar tempat, waktu dan sebagainya. Mesti ada keterangan tambahan, karena Pengakuan Pariyem tidak bisa disebut begitu saja sebagai prosa. Linus menuliskannya dalam bentuk deret-deret kalimat menyerupai puisi, dengan bait-bait, pemotongan-pemotongan tiap barisnya dan pilihan kata yang bisa membawa pembacanya pada perasaan tertentu.

Apakah tulisan sejenis ini adalah puisi? Iya. Tapi tidak bisa dikatakan juga sebagai hanya puisi. Dia mengandung 'prosa'. Unsur-unsur puisi dan prosa, serta merta muncul dalam tulisan ini. Dia memenuhi syarat disebut puisi tapi juga memenuhi syarat dsebut sebagai prosa. Maka, aku bilang ini bisa disebut juga sebagai puisi prosa.

Nah, kalau akhir-akhir ini ada istilah puisi esai, maka harusnya contoh puisi atau esai yang disodorkan memenuhi syarat keduanya. Tapi, sebelum sampai di sana, aku cenderung menentang istilah ini. Esai adalah salah satu jenis prosa. Jadi kalau mengatakan puisi esai, mestinya dia itu ya puisi prosa. Jika ada yang mengatakannya sebagai sebuah genre baru, tentu itu adalah kesalahan. Puisi prosa sudah dibuat sejak-sejak dahulu oleh banyak penulis. Selain Linus ada juga Rendra, Soni, bahkan aku juga menulis dalam bentuk ini.

Kalau memang Denny ngotot menyebutnya sebagai puisi esai, bagaimana syarat keduanya bisa dipenuhi? Syarat puisi dan syarat esai. Apa ciri utama yang bisa membedakannya dengan puisi prosa yang lain? Kalau pernah membaca yang dimaksud oleh Denny sebagai puisi esainya, aku tidak melihat perbedaannya. Denny seringkali menyebut soal adanya catatan kaki dalam puisi esainya. Hmmm, aku juga sering membuat catatan kaki untuk puisi-puisiku. Itu salah satu caraku supaya 'puas' setelah menulis puisi 'rumit', hihihi. Tidak percaya diri dan tidak percaya pada pembaca. Catatan kaki kubuat dalam beberapa puisi supaya pesan yang ingin kusampaikan tidak hilang saat dibaca. Takut kalau pembaca tidak paham terhadap tulisan yang sudah kubuat. Keterangan di sana-sini menjadi penyangga supaya puisi itu 'jelas'.

Esai, adalah jenis prosa yang 'bukan khayalan'. Dia harus menyodorkan fakta, data, sesuatu yang 'benar', nah, kalau mau sampai ke esai, orang harus tahu dan paham soal-soal yang ditulisnya itu disertai dengan riset-riset yang secukupnya. Menulis puisi, bagiku juga sebuah kenyataan, maka seringkali juga aku melakukan riset untuk mendahuluinya. Walau nanti dalam penyajiannya aku akan 'mengambang' di atas di fakta itu, namun puisi bagiku tetap sebuah 'kenyataan'. Jadi kenapa harus memakai istilah puisi esai? Mengapa juga Denny ngotot menggunakan istilah itu?

Itulah kesalahan Denny JA. Andai dia membiarkan puisi-puisinya hidup, disebar, terserahlah mau memakai catatan kaki atau tidak, terserah juga mau disebut apa, maka suatu ketika nanti dia akan menemukan 'kebesarannya'. Entah, bentuknya apa. Tapi, karena kengototannya, lalu mengupayakan sekuat tenaga 'ngototnya' itu untuk mendapatkan argumen pembenar/pembela, sehingga muncul juga barisan 'aneh' hmmm... barisan pengagum hmmm.... barisan ... opo ya nyebute tuh, yang dia temui bukan kebesaran, tapi kebodohan, atau orang menyebut pengabaian sejarah, penipuan, dan sebagainya. Ngototnya itu (cara ngototnya itu muncul lewat para pembenar/pembela, juga lewat 5 juta rupiah, lewat buku-buku sia-sia yang digencarkan dll), sudah keterlaluan sekarang ini.

Huh, aku sungguh ndak mau terpengaruh oleh hal ini sehingga kemudian memilah orang berdasarkan Denny JA. Aku mau diem-diem, enak-enakan tidur, ndak mikir soal ini. Tapi aku perlu menulis pendapatku ini supaya orang-orang yang membaca tahu, kesalahan semacam itu yang telah dilakukan oleh Denny JA, harus dikoreksi oleh banyak orang supaya tidak salah kebablasan. Supaya orang-orang yang kontra semacam Saut, Eko, dan lain-lain juga tetap berada dalam kewarasan karena memang itulah yang seharusnya. (Kalau waras sendirian tuh nanti lama-lama pasti mikir: Jangan-jangan aku yang ndak waras.) Gawat kan?

Maka, kesalahan semacam ini bukan urusan segelintir orang seperti Denny JA atau Saut saja, tapi ini juga urusanku. Wis. Gitu dah obat diareku. Aku ndak mau nyebut nama-nama lain. Menyebut beberapa nama lain yang mati-matian menjadi pembenar/pembela itu malah membuat diare. Pokoke macam ** atau ***  (kena sensor dah), lebih baik mulai melihat lagi deh kesalahan ini. Ndak usah promosiin buku-buku yang ndak bakal kubaca seakan-akan buku tulisan ** atau *** macam itu bisa memberikan pencerahan. Lha, membaca atau mendengar kalian aja bisa kukira-kira cara pikir kalian lho. Ndak masuk akal. Aku mungkin hanya melihat hal kecil macam ini, tapi orang lain, yang punya pengalaman atau ilmu lebih mestinya juga bisa memberi kontribusi lebih. Wis kono, nuliso...

Saturday, February 17, 2018

Puisi Sabtu 15: DIALOG_KU_KAMAR_KU_DIALOG karya Lus Fianto


Dialog_Ku_Kamar_Ku_Dialog



Rasanya begitu lama pintu ini tak terjamah
oleh sepasang tangan,
 sampai aku lupa warna dindingnya tak lagi cerah
dan figura figura berjatuhan dari tempatnya.

Lemari tempat menggantung kenangan
kerap kali mengeja debu,
sedang meja meja membentuk petakan
derita dibawa angin dan karpet pelangi berdiskusi di kakiku.

"Kamar ini bagai baju saat aku telanjang
menjadi selimut dikala dingin maupun hangat
tawa sedihku bergumun di pelaminan
secangkir kopi mencipta pahit manis sendiri."

Seperti rias cahaya terpasung di jendela
 hati rindang serindang jala laba-laba.

13/01/18

--------------------




Moh. Lus Fianto adalah penggiat seni yang lahir di Desa Aeng Baja Kenek pada tanggal 27 Juni 1994, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Menetap di Bluto saat ini aktif di Sanggar Permata, Forum Belajar Sastra (FBS), Taneyan Kesenian Bluto (TKB) dan Rumah Proses Bersama (RPB) yang berada dalam naungan Komonitas Kampoeng Jerami (KKJ).

Saturday, February 10, 2018

Puisi Sabtu 14: LANGIT KETIGA PULUH DUA karya Moh. Ghufron Cholid


LANGIT KETIGA PULUH DUA


berikan langit yang anggun
langit yang selalu mengingatkan keserbamahaan

langit kasmaran yang ditumbuhi keberkahan Tuhan,

langitku langit kerdil langitMu, langit jalil

tinggal di langit ketiga puluh dua cintaMu, cintaMu,
cintaMu tak pernah purba

Torjunan, 7 Januari 2018

----------

Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, lahir di Bangkalan, 7 Januari 1986. Menulis puisi, cerpen, pantun dan esai serta melukis. Tamat SDN Blega 03 (1999), tamat SLTPN 01 Blega (2002), tamat TMI AL-AMIEN PRENDUAN (2006), menyelesaikan studi S1nya di IDIA Prenduan. Fak. Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), karya-karyanya tersiar di Radar Madura, Koran Madura, Mingguan Malaysia, Mingguan Wanita Malaysia, Utusan Borneo, Utusan Malaysia dll beberapa puisinya pernah dibacakan dalam acara-acara sastra baik di Indonesia termasuk di Kongres Penyair Sedunia ke-33 di Malaysia. Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. 

Friday, February 09, 2018

Suatu Waktu

Hujan pagi hari mengingatkanku pada suatu waktu dulu. Saat aku masih sangat suka biji gontang yang disangrai dan memakannya di pojok teras rumah. Mengumpulkan kulitnya yang hitam dalam telapak tanganku dan saat seluruh biji gontang tak tersisa, aku menghamburkan kulit-kulitnya di atas kepalaku.

Saat itu aku lupa kalau aku berdiri di suatu tempat yang pasti akan tampak tidak nyaman dipandang dengan ratusan kulit gontang yang berserakan. Kulit-kulit gontang yang tersangkut di rambutku memberiku sensasi yang kusukai, tapi serakan kulit-kulit itu membuat aku mendapatkan marah dan cela.

Biasanya aku akan lari ke halaman belakang. Meninggalkan kulit-kulit itu bersih dengan sendirinya oleh jadwal menyapu sore nanti. Aku membiarkan diriku menerima marah dan cela, tanpa rasa bersalah karena memang aku suka melemparkan kulit-kulit gontang di atas kepalaku. Aku tetap melakukannya berulang-ulang.

Lalu kemanakah perginya kegembiraan kecil itu sekarang? Aku meringkuk dalam cangkang kelapa tua yang sudah kehilangan minyaknya dimakan oleh jamur. Jika meneriaki burung-burung bukan lagi rasa riang, dan mengumpulkan kulit biji gontang hanyalah kenangan, maka semestinya aku kembali tidur dan melamunkan sepasang sayap untuk terbang.

Saturday, February 03, 2018

Puisi Sabtu 13: TENTANG LELAPKU SEBAGAI SENJA LAUTAN GURUN karya Mohammad Arfani

Tentang Lelapku sebagai Senja Lautan Gurun
                     
                           Sebuah salam persahabatan buat Olid



memang sudah seharusnya engkau memilih keadaan yang sebenarnya
jika bumi dan langit seperti mendebarkan arah dan jarak pandang
lebih demikian adalah kenyataan berbalik yang memang ada di matamu
di antara setiap malam sampai menjadi inginku yang tak tersampaikan
di antara kata demi kata dan memang seharusnya aku mengerti
tentang diammu yang bercahaya...

maka inilah jalan yang dikenang untuk setiap harap yang patah
mungkin resah yang setimpal lebih layak pada setiap kemungkinan
tentu saja segala bentuk pengembaraan akan berakhir setelahnya
atau sebaliknya aku terlalu lama di sini menunggu hadirmu
pada ada di antaranya, untuk gelisah yang benar-benar menjadi gelisah
pada mimpi buruk yang tak sengaja kau tanamkan hingga tiada pertanda
menanggalkan semua kabar tentang lelah yang datang
sebagai aku yang menjadi matahari untukmu.

suatu saat bentuk apa pun menjadi gemintang di langit
dan akan kupersiapkan semuanya tentang hadirku sebagai apa pun,
tentang inginku sebagai cahaya, tentang lelapku sebagai
senja lautan gurun.

sesaat setelah pertemuan kita aku mulai mengerti
bahwa pulang adalah pilihan

11 Agustus 2013


 ------------------------------



Mohammad Arfani, lahir di Palembang  27 Februari 1978. Aktif menulis puisi, naskah drama, artikel sastra di beberapa media, dan juga berteater. Buku-buku puisi dan naskah drama tunggal karya Mohammad Arfani adalah Tentang Takdir dan Kenyataan (2015), Dialog Yang Tersulut Api(2016), BerbalikKumpulan Naskah Drama(2016), Inilah Syair Abdul Muluk Kajian Struktur Karya Raja Ali Haji (2016), Naskah Bangsawan Palembang; Kumpulan Naskah Drama Tradisional(2017) Perayaan Musim (2017). Email saat ini: arfani708@gmail.com.