Wednesday, November 20, 2013

Takut Tai Ayam

Yo, aku, di umur 3 tahunan.
Salah satu yang kuingat dari masa kecilku adalah aku takut pada tai ayam. Jika aku sedang berjalan, aku kira di usia 1 - 4 tahun, lalu tiba-tiba di depanku ada telek lencung, tai ayam, aku akan mendadak terpaku. Diam, lalu berteriak sekuat-kuatnya,"Ana teyek!!!" (Ada tai!!!) Lalu ibu, atau bulik atau mbah, atau mak, akan datang, membersihkannya, baru aku bisa bergerak. Biasanya siapa saja yang membersihkan tai ayam itu sambil ngoceh. "Mbok diloncati, opo lewat kono, belok sitik. Yo, yo,..." (Kan bisa diloncati, atau lewat sana, belok dikit kan bisa. Yo, Yo..." Yo adalah panggilan sayang untukku di masa aku masih kecil. (Sekarang hanya beberapa yang memanggilku demikian.) Kalau diinget-inget kok ya aneh lucu to, masak takut sama tai ayam. Hmmm, kenapa ya?

Tuesday, November 12, 2013

Lampost, 10 Nopember 2013

Kisah yang Rapi dari Pencerita yang Baik

Data buku
Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi
Kuntowijoyo
Kompas, Jakarta
I, September 2013
xviii + 150 hlm.


CERITA pendek ang termaktub dalam kumpulan cerpen ini merupakan cara komunikasi Kuntowijoyo yang mudah sekali menggelitik perasaan para pembacanya. Bahasa yang digunakan sangat lugas, mengalir dengan terus terang apa adanya. Sebelum sampai pada kedalamannya, orang yang membaca dengan mudah dapat terkecoh menyangka tulisan ini semacam kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, terlebih di beberapa tulisan, Kuntowijoyo, sang penulis, mengungkapkan jati dirinya.

Dalam cerpen Pistol Perdamaian, Kuntowijoyo memakai gaya bertutur dari sudut pandang orang pertama: saya. Di salah satu paragraf bagian terakhirnya tokoh saya ini diungkap sebagai seorang ahli sejarah, seperti si Kuntowijoyo sendiri yang memang seorang ahli sejarah, pengajar sejarah dan menelurkan banyak buku ilmu sejarah.

“Dalam rapat kelurahan, setelah soal KTP dan PBB selesai dibicarakan, Pak Lurah membuka kertas koran dan berkata tanpa interupsi. ‘Sebaiknya barang ini saya serahkan pada teman kita yang ahli sejarah.’ Dia memberikan bungkusan itu pada saya, sebuah pistol, masya Allah. Jadi, pistol yang saya buang ke kelurahan juga jatuhnya.” (hlm. 24)

Hal yang sama juga muncul di cerpen-cerpen lain seperti di cerpen paling akhir dalam buku ini, RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana. Di paragraf kedua halaman 140, ditulis identitas Kuntowijoyo sendiri, walau hanya sedikit. “Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya ketua RT berijazah S-3 dari universitas papan atas di Amerika.”

Tentu saja ungkapan-ungkapan itu tidak bisa dianggap sebagai fakta karena memang ke-15 tulisan itu dibuat sebagai cerpen, fiksi. Jadi semuanya memang karangan semata dan bukan kisah nyata, walau sang penulis memang merupakan ahli sejarah, doktor sejarah lulusan universitas terkenal di Amerika Serikat dan mengajar di universitas terkemuka di Indonesia.

Namun, ketika kita mulai mengulik sedikit kehidupannya melalui sumber-sumber di berbagai tempat mau tidak mau pembaca akan mengaitkan Kuntowijoyo dengan peran lain yang dimilikinya di dalam kampus, masyarakat khususnya Islam, dan negara. Pembaca tidak bisa lagi mendirikannya hanya semata cerpenis atau novelis. Di pengantar buku ini, Bakdi Soemanto menulis soal apakah Profesor Doktor Kuntowijoyo ini seorang sejarawan yang menulis fiksi, atau dia adalah penulis fiksi yang suka sejarah.

Dia memang seorang akademisi, pakar sejarah, sangat lazim Kuntowijoyo berpikir dan bertutur secara ilmiah. Dia telah membuktikan itu dengan menulis banyak sekali dan tulisan sejarah, misalnya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985) atau Pengantar Ilmu Sejarah (1995).

Buku ini berisi 15 judul cerpen yang pernah muncul di Kompas pada 1990—2000-an. Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi yang menjadi judul buku ini merupakan judul cerpen yang ke-14 dalam buku terpasang di halaman 125. Namun, bisa dikatakan judul ini membingkai seluruh tema cerpen yang ada dalam dalam buku ini. Dan baik juga jika judul ini menjadi ajakan atau anjuran bagi para calon politisi. Sederhananya, baca dulu buku ini sebelum menjadi calon politisi untuk kemudian menjadi politisi.

Bagaimana pembaca dapat menangkap pesan yang disampaikan Kuntowijoyo lewat cerpen-cerpennya? Inilah keunikan yang berikutnya. Judul pertama yang dipasang dalam buku ini, Laki-laki yang Kawin dengan Peri, menyodorkan paragraf pertama dengan sebuah pertanyaan setengah meledek, ”Mau jadi anggota DPR? Boleh, asal dengarkan cerita ini.” Paragraf pendek, dengan dua kalimat pendek.

Setelah itu, Kuntowijoyo sama sekali tidak menyinggung tokoh tentang anggota DPR atau calon anggota DPR, tetapi kisah tentang Kromo, seorang laki-laki berbau busuk, yang tinggal di sebuah desa, yang terusir dari kampungnya karena bau busuknya itu, lalu konon menikah dengan peri, dan saat mati berbau harum. Baru kemudian di bagian akhir kisah ini, Kuntowijoyo kembali menarik pembaca supaya merenung untuk menangkap pesannya dalam satu paragraf pendek, lagi. “Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun.”

Kuntowijoyo menawarkan kaca pembesar untuk melihat detail kemanusiaan dalam sekup yang sangat kecil, kadang dianggap remeh. Mudah disetujui bahwa seorang pemimpin harus menyiapkan syarat itu sebelum menjadi pemimpin. Mereka dituntut untuk jeli, peka terhadap situasi orang-orang biasa, sederhana, yang dianggap lemah dan seluruh dinamika yang melingkupinya. Mata dan hati Kuntowijoyo mampu menangkap hal-hal remeh temeh yang terjadi di keseharian, khususnya di lingkungannya sendiri, entah di Jawa atau saat dia tinggal di Amerika Serikat, untuk kemudian mengolahnya menjadi cerpen.

Kuntowijoyo memang salah satu penulis terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara.

Yuli Nugrahani, cerpenis.

Friday, November 08, 2013

Keinginan yang Tidak Merugikan Dunia

Hari ini aku menjemput Albert pulang sekolah. Dia sudah menunggu satu jam lebih karena seharusnya dia pulang jam 11.00 sedang aku jam 12.00 dari kantor di hari Jumat ini. Begitu bertemu di gerbang sekolah dia cerita kalau pisang goreng yang dia jual masih sisa separo. Hari ini dia memang jualan pisang goreng, seharga Rp. 500,- yang aku buatkan pagi-pagi, sesuai ajakan guru IPSnya, bu Atun. (Konon, Albert bercerita, pada pelajaran IPS, guru tercintanya ini mengajak murid-murid untuk membawa bekal makanan yang lebih, yang bisa dijual untuk teman-temannya. Hasil penjualan bisa untuk menambah tabungan. Aku sangat mendukung ide ini. Dan untuk jualan pertama, Albert membawa 14 biji pisang goreng. Kalau laku separo, berarti dapat Rp. 3.500,-. Hehehe...)
Nah, di jalan yang mendung, dia mengatakan ingin melihat hujan salju sekarang ini.
"Pasti asyik kalau ada hujan salju di Indonesia. Bukan hanya sesekali tapi sering. Seperti memang musimnya gitu, tidak hanya musim penghujan dan kemarau."
Aku mengingatkan kalau Indonesia itu ada di garis katulistiwa. Tidak ada salju, kecuali di tempat yang sangat tinggi.
"Namanya kan keinginan, bu. Jadi kan asyik bisa lihat salju."
"Tapi tanaman di Indonesia tidak akan tahan pada salju, Bet. Bisa mati semua. Juga hewan dan orang-orangnya."
"Hmmm, masak sih."
"Dan lagi kalau di Indonesia yang tropis ada hujan salju, gimana nanti yang negara-negara subtropis atau di dekat-dekat kutub sana. Tambah dingin dong."
"Tapi kan ini keinginan, bu. Boleh saja kan."
"Boleh sih, tapi itu akan mengubah dunia. Mungkin malah merusak dunia. Ganti keinginan saja deh, Bet."
"Yaaa, penginnya lihat salju kok."
"Diubah kan bisa. Pengin lihat salju di Jepang, atau mana gitu. Kan mungkin saja Mas Albert sekolah atau kerja di sana suatu ketika."
"Iya deh."
"Dan itu tidak merugikan siapa-siapa. Tidak merusak dunia dan semesta."
"Iya, deh, bu. Iya."
Hehehe, nadanya sudah agak jengkel. Hmmm, jangan merasa aku membatasi mimpimu. Aku hanya ingin kau melihat orang lain jika punya keinginan. Dan jangan merugikan mereka semua. Ya?

Sebentar Sempurna

Duduk santai, di tengah kehijauan, segar, indah, merasa gembira, itulah sempurna, sebentar sempurna.
Tapi aku juga tak bisa menghilangkan pagi ini. Saat pagi sibuk dengan gerakan, teriakan, bergegas, penuh marah, tidak sabar dan hasrat. Ini juga sebentar sempurna, ketidak sempurnaan sebentar yang sempurna.
Tapi aku juga tak bisa melupakan, kekacauan sekitarku di lalulintas berantakan, yang berhasil kulalui dengan sumpah serapah, pada asap, ketidaktaatan, penipuan, basa basi resmi, mobil polisi, dan inilah sempurna.
Sebentar yang sering, kekacauan yang sempurna,
di negeri ini.

Sunday, November 03, 2013

Benang Laba-laba

Rajutan yang kau buat begitu remeh menjuntai
hanya benang tipis terlempar dari mulut seri.
Mudah terayun angin atau gerakan ranting 
bahkan bisa dikoyak tanpa perkosa.

Kaki yang kurang ajar menjadikannya mainan,
tak disangka kekuatannya berjuta lipat ketika berbeban,
menempel semakin erat di setiap gerak badan.

Getaran mungkin sudah kau sangka,
lama kau intai dari balik daun palma,
matamu telah memilin dari kejauhan,
bibirmu telah meremas dalam semburan,

jika bergerak, benang laba-labamu semakin menjerat
jika bergerak, kau melangkah semakin dekat,
jika bergerak, ludahmu membuncah siap melumat.

Pemimpi ingin masuk ke mulut pemangsanya,
merasakan bukan gigitan tapi enzimnya yang pelan,
akan menghancurkan daging dan tulang,
hingga hanya ada kenangan.

Pemimpi memilih bergerak,
mengundang pemangsa berderak,
mendekat,
lekat.