Saturday, November 22, 2008

Ingin Berhenti

Aku ingin berhenti. Menggiring bola kesana-kemari tanpa pernah masuk ke gawang satu kalipun untuk mendengarkan sorakan gembira karena satu gol yang tercipta, adalah kekecewaan. Bukan kakiku yang tidak bisa menyepak, tapi gawangnya selalu dipindahkan. Ooh...

Wednesday, November 19, 2008

Hiburan

Tanpa ditanya, tragedi tengkorak adalah jawabannya.
Sekalipun bintang membisu di gelap, keheningan merangkai nirwana.
Pun saat mawar meluka, tetaplah menggores surga.

Hiburan ini diulurkan Leo, SCJ. lewat pesan singkatnya dalam HPku. Saat ini gigiku tengah mengunyahnya. Serpih-serpih pahit itu harus kutelan kan, romo? Bagaimana kalau perutku menolaknya? Aku menangis membayangkan harus mencicip Kalvari, dengan mata terbuka dan hasrat yang sadar.

Tuesday, November 18, 2008

Lelah

Aku berjalan ke arah rumahmu. Bergegas, terjatuh-jatuh, berlari... Terus... Aku tahu persis, aku tidak pernah sampai di rumahmu, atau sekedar berteduh di terasmu.

Tuesday, November 11, 2008

Labrakan Pagi

Pagi ini aku bangun sangat subuh, langsung mengkerut terpojok di sudut dapur. Logika datang dengan golok terhunus, mengkilap tajam dengan mata yang berkilat-kilat marah. Dia langsung menekan leherku dengan tangan kiri, sedang dua matanya tak lepas dari mataku yang masih belum tersentuh air.
"Jangan lagi pernah kau tinggalkan aku!!" Suaranya tak terlawan.
Aku mengaduh dalam cekikannya. Goloknya terayun hanya beberapa centi dari jantungku sehingga nyaris aku terlonjak ke alam kematian, terkena serangan jantung.
"Jangan berdalih apapun. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan kepadaku. Lalu kau siarkan soal keringkihanmu yang pura-pura itu. Bukan keranjang bambu yang kau punya tapi lihat itu!!"
Aku terpaksa menoleh pada telunjuknya. Aku melihat guci tembaga yang kemarin aku gelindingkan sembunyi-sembunyi di balik sumur. Aku tidak bisa mengelak, memang.
Melihatku tanpa suara, Logika mengendurkan tangannya.
"Aku juga tidak harus selalu sekencang ini padamu setiap waktu. Tapi kamu sudah keterlaluan." Suaranya melemah, menyalurkan rasa pemakluman pada tiap nada suaranya.
"Tapi kamu harus janji untuk tidak lagi membiarkan aku tercecer tanpa harga. Jangan lagi sembunyikan kekuatanmu dalam rasa semu yang kau idolakan itu. Aku akan tetap mengawalmu, jangan protes."
Aku tak mengangguk juga tak menggeleng. Logika tetap di samping kiriku, tapi golok sudah disarungkannya kembali. Sedang hati dan rahim mulai mendekat pelan-pelan, takut-takut, mencoba meraih tangan kananku. Tidak aku kibaskan.

Monday, November 10, 2008

Malam Berdebu

Ada satu ruang di belakang rumahku. Gelap karena selalu tertutup rapat, dikunci pintunya dan ditutup rapat-rapat jendelanya. Semalam aku berada di dalamnya sekitar dua jam. Dua jam yang mendebarkan karena ada seseorang di dalamnya, duduk dengan telepon di telinganya, dan tangan mencoba meraih tubuhku. Tidak kelihatan persis wajahnya, karena aku hanya bisa membayangkannya lewat suhu, suara dan debu. Suhu yang menghangat di seputar tubuhku dan tubuhnya. Suara yang mengalun dalam melodi karonsih lewat bibirku dan bibirnya. Dan debu yang bergerak seturut gerak dan nafas kami berdua. Benar-benar jadi malam yang penuh berdebu, dalam kegelapan. Hingga aku sesak nafas, dan terpincang-pincang menjaga keseimbangan diri.
Untung, benar-benar beruntung setelah detik-detik itu, ada satu celah kecil yang menembuskan berkas cahaya. Sangat kecil. Namun lihatlah. Debu-debu cemerlang dalam berkas itu, berkilauan, bergerak, seperti jutaan bintang kecil yang hidup. Hingga kantuk mengeluarkan kami berdua dari ruang itu, kami hanya bisa duduk terpaku. Takjub pada keindahan debu yang terkena berkas sinar.
(Aku kira, kalau pagi telah datang nanti kami akan saling memandang dan menyapa,"Sayang...")

Friday, November 07, 2008

Lidah

Aku mengaduh dalam gelap. Sakit seluruh pancaindera.

"Aku tidak menggigitmu, sungguh. Tapi sedang mencari lidahmu." Sanggahnya dalam suara berat.

Mana mungkin lidah yang aku titipkan padanya bisa hilang begitu saja?
Bukankah waktu itu dia berjanji akan menjaga lidah itu tetap aman?
Aku tidak mungkin bertahan jika lidahku hilang.

"Waktu itu aku tidak memaksamu. Kamu sendiri yang memberikan lidahmu padaku." Masih menyanggah dia dengan suara parau bertembakau.

Bagaimana mungkin bibirnya melepaskan kunci pada lidahku?
Sehingga berkeliaran entah kemana tanpa tulang dan kehendak?
Aku harus mendapatkan lidahku kembali.

"Sungguh, tidak ada lagi di dalam mulutku. Lihatlah bibirku!" Semakin dia tidak masuk akal memberikan sanggahan. Aku tidak bisa menuduh selain dia.

Aku meletakkan bibirku di atas bibirnya. Mencoba mencari-cari dalam rongga mulutnya, barangkali dia menyembunyikan lidahku di sana.
Selama lidah itu belum kembali,
tak kan mungkin aku bersuara.
Tak kan mungkin aku menaruh percaya
kepadanya.

Thursday, November 06, 2008

Dalam Senyuman

melihat tangan melenggang aku ingat sebuah senyuman
yang meruapkan dupa dalam jiwa penuh birahi
serupa bunga-bunga semerbak di altar pemujaan
memberikan kesempatan masa depan hadir berjanji
'tak pernah kupikir menamparmu
hanya menyayangimu'
seperti bisikan persis di rongga telinga
aku tidak bisa menyetujui nada-nada fatamorgana

'tak penting kau menamparku
atau kau menciumku
lakukan saja!
karena saat kau lakukan berarti engkau ada di dekatku!
engkau mengkerut di ujung hatiku
menelan pahit marcapada
tak berani menampar atau menciumku
karena jauh kau tak terhingga


The flower grew in an altar of soul full of echantment.
The fragrance of love has washed some hurts on hurts.
The parfume has relieved a darkness of soul.
For a while, I may tell a story of heaven, it will wither together the time.
(Terakhir ini upaya Leo, SCJ. entah dari mana idenya. Bagiku menjadi ide yang baru lagi. Thanks, Mo.)

Suamiku


Saat rapat tim untuk membuat jaring politik beberapa hari yang lalu, 12 orang yang datang memulai pertemuan dengan menceritakan detil identitas dan aktifitas masing-masing. Supaya bisa saling percaya dan jalan bareng di masa mendatang. Aku bercerita tentang diriku sendiri. Seorang istri, ibu dari dua anak. Dengan aktifitas di majalah, orang muda, perburuhan,...bla, bla, bla,...punya minat kuat pada bla, bla, bla...
Seorang bapak mengatakan,"Aku tidak bisa membayangkan mengerjakan semua itu. Terlebih kalau aku seorang perempuan."
Aku langsung mengangguk. Iya, betul, pak. Ini karena ada lelaki hebat yang ada di sebelahku. Bukan seperti suami-suami kebanyakan.
Kalau suamiku bukan Den Hendro, aku juga tidak bisa membayangkan melakukan ini itu dengan status istri dan ibu dua anak, yang melekat tak mungkin lepas seumur hidup. Dengannya, aku mendapatkan kesempatan bukan sekedar menjadi Nyonya Hendro dan Ibu Albert - Bernard. Dengannya, aku tetap bisa menjadi seorang Yuli, yang merdeka sebagai seorang ciptaan dengan banyak karunia yang sudah diberikan oleh Penciptanya, untuk dikembangkan berkali lipat. Dengannya, aku tetap bisa bermimpi, berkeliaran, ... Tidak ada yang hebat dariku karena aku menjalankan apa yang mestinya memang aku jalankan.
Dialah lelaki hebat itu, yang sudah memberikan kasih dan ruang percaya sebesar itu.

Wednesday, November 05, 2008

George

Ini foto mereka saat anteng, diem, asyik bermain dengan pasir dan ombak pantai Kalianda Resort.

Aku sudah terbiasa mendengar Albert dan Bernard berisik luar biasa hingga seperti kapal pecah seluruh rumah. Dari ruang tamu, kamar, dapur, kamar mandi, halaman, semua jadi ajang permainan mereka yang kadang-kadang keterlaluan tidak aku mengerti sebagai ibunya. Bagaimana mungkin bisa bertengkar seolah akan bermusuhan seumur hidup hingga lebam kaki tangan mereka, sama-sama menangis atau tidak mau bertegur sapa. Tapi sedetik kemudian mereka sudah saling berpelukan asyik berkasak-kusuk membuat rencana bersama. Lalu muncul permainan aneh-aneh. Astaga. Dan tidak ada satu barang pun yang bisa lepas dari perebutan. Apapun menjadi asyik kalau rebutan lebih dahulu. Bantal, guling, piring, kursi, bahkan pipiku, duduk di kanan atau kiriku, ... apapun!
Tapi aku paling tidak tahan jika mereka berisik di atas motor. Seperti beberapa hari yang lalu, dari rumah mereka sudah ribut antara siapa yang harus mematikan televisi. Lalu ribut dengan sabuk. Yang mana yang harus dipakai oleh siapa. Setelah itu akur di atas sadel Mio dengan rapi manis berseragam sekolah. Dengan tanda salib yang khusyuk di depan rumah. Tak bertahan lama. Usai bunderan Raden Intan mereka melihat monyet nyengir asimetris (hehehe...kok inget diri sendiri ya. Dulu Ines, Gatot dkk sering ngolok aku si bibir asimetris. Tapi tentu lebih seksi dibanding si monyet iklan).
"Jos...!!!" Mereka berdua teriak bersamaan.
Aduh apaan sih? Aku rem motor mendadak, melotot pada mereka.
"Ada apa?"
"Itu si Jos, bu."
"Jos siapa?"
"Jos, monyet yang pintar itu." Si kecil menjelaskan sambil menunjuk papan iklan monyet. Oh, film Curious George! Tanpa kata aku gas motor. Dongkol berat.
"Jos, satu!!!"
"Dua!!"
"Sepuluh!!!"
Mereka berdua ribut menghitung si George yang dipasang di papan-papan selanjutnya yang rupanya baru dipasang hari itu berderet hingga Tanjungkarang. Tangan-tangan ruwet ke kanan kiri. Kepala menoleh sana sini. Kaki saling sepak mengaku yang paling benar menghitung. Saling bantah, saling hitung.
"Kenapa berhenti, bu?" Aduh pengin njitak kepala mereka berdua.
"Kalau kalian tidak bisa diam, ibu sulit nyetir. Bisa kecelakaan. Kita sudah terlambat."
"Nah, diem, dik."
"Mas Abot yang mulai duluan."
"Kamu!"
"Kamu!"
Ah, aku tinggal tidur saja wis. Capek deh...

Monday, November 03, 2008

Terbawa Angin

pusasan angin melayangkan tubuhku pada tubuhmu di jauh sana
membantuku meraba semburan ribuan sinyal kata
jangan mati, teriakku
biarlah logika berputar
biarlah rahim mengaduh
biarlah hati berserakan
sudah kubiarkan pusaran angin melayangkan tubuhku
pada tubuhmu di jauh sana

akan kubuka naluriku tempat sembunyi
wajah rasa yang abadi beku

Bengkel Penulisan Cerpen Mini


Pertama-tama apa cerpen mini itu?
Novel adalah sebuah rumah yang kita bisa jelajahi ruang-ruangnya, satu persatu.
Cerpen adalah sebuah kamar dengan jendela tempat kita bisa melongok, melihatnya.
Cerpen mini adalah sebuah kamar dengan lubang kunci, dimana kita bisa mengintipnya.
Cerpen mini seringkali dibatasi oleh jumlah kata, 400, 750 atau 1000. Tapi tidak boleh ditawar lebih dari itu. Apa yang ingin disajikan oleh pemilik rumah atau kamar, itulah yang harus diolah oleh sang penulis sehingga saat mengintip lewat lubang kunci, para pengintip itu tidak mau pergi. Biarkan resonansinya menggemakan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban yang jelas. Beri kejutan yang menggerakkan jiwa.
Itu yang dikatakan oleh AS. Laksana dalam Bengkel Cerpen Mini yang diadakan Dewan Kesenian Lampung (DKL) pada 1 - 2 Nopember 2008 di Gedung Unik Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung (Unila). Acara diikuti oleh 20 peserta yang menjadi nominator dalam lomba cerpen mini yang diadakan DKL plus beberapa orang dari UMKBS.
Pengertian yang masih mengambang dan memberikan ruang diskusi lebih lanjut tapi kesimpulan menarik diberikan oleh Ari Pahala dan Arman AZ pada akhir acara :
Cepen mini atau micro fiction atau flash fiction adalah cerita yang non naratif, lebih ke sugestif dan ada kecenderungan ke perumpamaan. Secara teknis bisa dilakukan dengan : tinjulah dulu hingga pembaca terkapar, setelah itu beri penjelasan singkat. Tidak perlu penjelasan bertele-tele.
Ah, masih bingung juga? Yach, aku yang ikut workshop dua hari aja masih meraba-raba dalam gelap. Aku akan cari satu contohnya nanti untuk aku tampilin. Hingga kini belum dapat yang okey. Bahkan Anyaman yang Terburai - ku pun rupa-rupanya juga bukan termasuk genre ini kalau dilihat lagi. "Itu cuma cerpen yang dipendekin. Bukan cerpen mini." Gitu si Ari bilang. Jadi, tunggu aja.

Menahan Diri

Pada akhirnya memang muaranya pada menahan diri
Hanya menahan diri