Tuesday, March 29, 2011

Jealous

Aku biasa sombong mengatakan bahwa diriku adalah orang yang merdeka. Jika aku ingin melakukan sesuatu maka itulah kehendakku. Apapun reaksi yang kuterima tak akan memberi pengaruh apapun. Jika mau senyum, ya aku akan senyum. Karena aku yang ingin dan memutuskannya tidak ada ruginya sama sekali andai aku tidak dibalas senyum atau bahkan dibalas umpatan.
Aku kira aku sungguh-sungguh telah menjadi orang yang merdeka seperti itu sehingga aku tetap akan lurus maju di jalan ini. Jalan yang sudah kupilih. Jalan yang penuh belajar tentang cinta kasih.
Aku kira aku seperti itu.
Ternyata tidak. Hari ini aku sangat cemburu hanya karena aku tidak diperlakukan seperti yang aku ingin dapatkan.
Aku sangat cemburu.

Monday, March 28, 2011

Bunuh Diri

Seorang yang kukenal bunuh diri. Aku tidak tahu harus merasa apa. Tapi, bagaimana bisa pilihan ini diambil? Tidak adakah harapan satupun? Tidak adakah hal lain yang bisa dilakukan senekat apapun selain bunuh diri (dan membunuh orang lain)? Teman, jangan limpahkan rasa salah ke orang lain, tapi lihat diri sendiri. Ada banyak harapan di sekeliling kita.
1. Putus cinta. Masak sih harus bunuh diri? Anang usai putus cinta, cerai, sakit hati, kemudian dapat dekat dengan cewek lain bebas, bisa pilih. Karies menanjak, lebih terkenal.
2. PHK. Masak sih harus bunuh diri? Anak-anak di terminal itu bisa tetap hidup dengan jual rokok eceran. Masak orang lain tidak bisa melakukannya. Dagang apapun, lakukan apapun, kalau tetep gak bisa jualan, ngemis dulu gak apa-apa. Baru kemudian jualan.
3. Gak bisa lanjutin sekolah. Masak sih harus bunuh diri? Berhenti sekolah sebentar ya gak pa-pa. Malah enak gak ngerjain PR. Lalu cari-cari cara, terus lanjut lagi. Malu ketuaan? Halah, malah enak ketemu yang muda-muda, jadi kita yang paling senior.
4. Gak punya duit saat anak sakit. Aduh, masak harus bunuh diri? Kan anak-anak harus tetap dirawat, tetap didoakan. Kalau sudah mati gak bisa melakukan itu.
5. Diejek orang. Masak harus bunuh diri? Apa ruginya diejek orang? gak mencuil hidung kita. Kita hidup gak harus tergantung orang lain kok.
6. Hayo sebutkan alasan lain mengapa harus bunuh diri. Lalu kita bahas nanti kenapa hal itu gak perlu kita lakan...
Banyak harapan, teman. Banyak harapan di dekat tubuh diri kita.

(Banyak doa untuk Agus. Mohon ampunan Tuhan untuk kerapuhannya.)

Wednesday, March 23, 2011

Heli

"Ibu kenal Heli?" Albert bertanya saat pulang dari sekolah kemarin.
"Ndak. Siapa dia?"
"Itu bu, anjingnya Vio." O. Hehehe...kirain siapa.
"Ibu kira Vio gak punya anjing. Gak pernah lihat atau dengar gonggongnya." Kataku sambil mengingat-ingat.
"Iya, memang tidak di rumah itu. Dititip ke orang."
"Kenapa tidak dipelihara sendiri?"
"Dulunya dipelihara sendiri tapi karena apa gitu terus dititip. Kayaknya karena Vio gak rajin merawat atau apa gitulah, bu. Aku juga gak jelas. Tapi Heli tuh anjing baik. Dia sangat suka kalau dielus, didekati. Gak galak. Aku pernah bertemu beberapa kali, dia bisa dilatih. Kalau disuruh berdiri dia akan berdiri. Disuruh berguling, dia akan tiruin kita berguling. Tapi kemudian dia jadi agak galak sekarang."
"O, kenapa bisa gitu?"
"Habis ditabrak motor, dia jadi berubah. Kayaknya dia jadi trauma, bu. Kalau didekati dia sudah curiga duluan. Kasihan. Dan lagi jalannya jadi pincang."
Hmmm, aku pikir ya begitulah. Karena pernah ditabrak sekali, Heli jadi berubah perangainya. Apalagi kalau manusia sering 'ditabrak', jelas sekali akan berubah. Bisa jadi apapun.

Friday, March 18, 2011

Mengirimkan Jenasah

Saat duka terjadi kapanpun. Kesedihan dan kepanikan terjadi tanpa diundang. Apalagi jika tidak ada teman yang membantu untuk berpikir jernih tentang segala hal teknis praktis yang diperlukan mengurus yang meninggal maupun yang berduka. Satu pengalaman bagi perantau, ketika seorang teman meninggal jauh dari kediamannya dan harus dimakamkan di tempat asal.
Berikut ini tips untuk mengirimkan jenasah ke tempat keluarga yang jauh, berdasarkan pengalaman dalam duka untuk Yusi. (Dia yang ceria gembira saat wisuda kakaknya, Yessy, dalam sekejab dipanggil Tuhan di Lampung dan harus dibawa ke Kabanjahe karena seluruh keluarganya ada di sana. Aku menuliskan ini masih dalam duka karena kepergiannya (16/3) yang tak terduga.)
1. Sekejab setelah kabar duka, luapkan saja seluruh emosi. Menangislah, merataplah. Tidak ada yang salah dengan sedih, duka.
2. Tegakkan badan, lihat sekitar. Siapa yang cukup kuat dan tidak kuat akan terlihat. Bagi peran akan berjalan sendiri pada situasi ini.
3. Urus jenasah. Dia akan memerlukan peti. Kalau ini terjadi di rumah sakit, biasanya petugas rumah sakit punya hubungan ke sana. Juga keperluan-keperluan lain seperti memandikan, mengenakan baju yang pantas, pemberian formalin (ini harus diberikan karena akan dikirim jauh memakan waktu).
4. Jangan lupa minta surat keterangan kematian dari rumah sakit. Ini akan diperlukan sepanjang perjalanan. Isinya antara lain bahwa tidak ada penyakit menular dan juga kondisi-kondisi jenasah yang mengkuatirkan berdampak bagi orang lain. Surat ini juga digunakan untuk mendapatkan surat keterangan/jalan ke kepolisian. Urusan ini sangat cepat dan mudah, jadi tidak usah kuatir atau negatif thinking biar semua dapat berjalan lancar tanpa emosional.
4. Cari penerbangan dengan cargo yang dapat menerima jenasah. Langsung kontak ke maskapai untuk tanya ini. Biasanya akan dihargai berdasarkan beratnya. Sriwijaya Air punya pelayanan baik untuk Yusi. Aku berterimakasih sekali untuk itu sehingga perjalanan Lampung - Jakarta - Medan sangat ok untuknya dan keluarganya.
5. Urus sekaligus penerbangan bagi orang yang akan mengikuti jenasah. Paling mudah dalam penerbangan yang sama. Tapi kalau tidak pun tidak masalah, karena sesudah masuk cargo, tidak perlu lagi peti ditemani. Dia pasti diurus dengan baik.
Untuk membawa ke bandara, di rumah sakit pasti mempunyai akses ambulan untuk keperluan ini. Tanya saja ke petugas.
6. Jangan lupa kontak keluarga di tempat asal untuk memastikan mereka menyambut dengan segala keperluan. Mobil jenasah, rumah duka yang siap, dan sebagainya.
7. Segala urusan ini butuh uang yang banyak. Mungkin akan perlu hutang.
8. Keluarga yang berduka, tidak akan bisa berpikir jernih. Temani terus, bantu, tanya, dan perhatikan fisik mereka. Makan minum secukupnya perlu dipaksakan supaya mereka kuat. Mereka ini yang lebih butuh perhatian.

Aku masih menyeka mata untuk Yusi. Selamat jalan. Kau adalah rahmat bagi kami semua dalam perjumpaan singkat di Lampung ini. Bahkan di titik akhir pun kau masih memberikan kesempatan pengalaman bagi banyak orang. Khususnya aku. Terimakasih.

Friday, March 11, 2011

SBY

Presiden merupakan satu posisi di Indonesia yang paling berpengaruh untuk membuat sebuah perubahan atau sebuah kemandegan. Ya, berpikir bodo aja, misalnya kalau aku yang bilang tentang sesuatu hal, pengaruhnya paling hanya padaku sendiri, pada orang-orang dekatku. Kadang juga gak ngaruh sama sekali karena jarang banget ada orang mau mendengarkanku. Nah, orang-orang lain juga begitu. Kadar pengaruhnya pada urutan tertentu sesuai dengan posisinya, pengalamannya, kedekatannya dengan orang lain, karakternya dan sebagainya.
Nah, (lagi) kalau ngomong presiden di negara presidensiil, yang presidennya dipilih oleh lebih 50% rakyat, jelas pengaruhnya besar sekali. Bersabda apa saja bisa memberi pengaruh besar bagi negara ini. Nah, jadi Pak SBY, anda mau beri pengaruh apa? Baik atau buruk? Jangan lagi takut tidak dapat dukungan atau kepercayaan. Di tangan andalah aku sudah berikan mandat. Ayolah berbuat untuk kami semua. Jangan hanya untuk partai koalisi, jangan hanya untuk kemapanan posisi, jangan hanya untuk keluarga anda! Kami sudah memberikan mandat, maka lakukanlah!
1. Perlindungan dari kekerasan
2. Perlindungan dari pemerasan
3. Perlindungan dari keraguan
4. Perlindungan terhadap seluruh hak
5. Biarlah negara tetap tegak karena suaramu
Jika tidak bisa lakukan itu, aku akan mencabut mandatku!