Monday, October 19, 2020

Sumber Aneka Motor, Bengkel dan Sparepart: Terus Berbenah untuk Menyajikan yang Terbaik

 Bengkel motor ini terus berbenah. Ayo, yang membutuhkan pelayanan terbaik untuk motor anda, kunjungi bengkel kami, Sumber Aneka Motor, di bawah flyover Tanjungseneng (sebelah kiri kalau dari arah Way Kandis), atau kontak di nomor 081369581515. 

Segala hal tentang motor bisa kita selesaikan bersama, bahkan kalau anda datang untuk konsultasi atau belajar tentang motor pun tetap kami layani. Atau, anda mau bermitra dengan kami dalam bidang ini? Jangan ragu untuk kontak.







Talkshow di Radio Suara Wajar tentang Menyiasati Ekonomi Keluarga saat Pandemi

Kesempatan menarik kami dapatkan lewat kegiatan  Komisi Keluarga Keuskupan Tanjungkarang. Kami diminta untuk mengisi talkshow radio Suara Wajar pada Jumat 16 Oktober 2020 pukul 20.00 – 21.30 malam dengan tema “Menyiasati ekonomi keluarga saat pandemi.” 

 Supaya tidak lupa aku menuliskan poin-point jawaban kami saat diwawancarai oleh host RSW, Ci Cucu malam itu:

Situasi umum keluarga-keluarga di masa pandemi

-          Situasi umum adalah bertahan, ada yang gaji berkurang dipotong, mengalami phk, tutup usaha dan sebagainya. Sedangkan ada pengeluaran  yang bertambah untuk internet dan telepon.  Gerak terbatas oleh prokes dan muncul kekuatiran-kekuatiran yang memungkinkan stress tingkat tinggi.

Disiasati dengan:

-          Hemat

-          Bertanam apa pun di sekitar rumah, pangan dari pekarangan

-          Menambah penghasilan

-          Memperkuat akses keuangan (jangka panjang)

-          Dan tetap menabung

 Uang itu penting, tapi bukan yang paling penting. Uang ada di mana-mana, tinggal diambil saja. Hanya saja yang mampu melihat uang itu orang yang ‘tahu, bijak dan mau bekerja’. Apakah uang ada di meja makan? Bagi orang yang tahu, bijak dan mau bekerja, ada uang di situ. Dalam semangkuk sambel saja ada uang, di atas pohon ada uang, di jalan ada uang, dan seterusnya.

Salah satu kesalahan atau keberuntungan kami ini adalah tidak pernah bermimpi kaya raya, kami hanya memimpikan : pas-pasan. Pas pengin makan sate, ada. Pas pengin pergi ke Bali ada tiket. Pas butuh bayar SPP ada, dst. Jadi ya serba pas saja.

Tidak pernah menjadikan uang sebagai berhala.

 Pengeluaran :

-          Kebutuhan makan minum sehari-hari (harian)

-          Kebutuhan per bulan (bayar sekolah, listrik, telpon, internet, angsuran pinjaman, tabungan dst)

-          Kebutuhan per tahun (rekreasi/mudik)

-          Kebutuhan tak terduga (social cost, dll)

 Pengelolaan uang lewat satu pintu. Tidak ada uang suami atau uang istri, tapi uang adalah milik bersama, dikelola bersama digunakan bersama.

Ada minimal 3 lembaga yang terkait dalam pengelolaan keuangan:

1.       Bank

2.       Koperasi

3.       Pegadaian

Ketiganya untuk tabungan, transaksi, ‘dompet kebutuhan sehari-hari’.

Selain 3 lembaga itu ada jarring pengaman: keluarga dan teman. Kudu bisa dipercaya oleh mereka, kudu peduli mereka.

Tentang hutang. Ada, ada hutang. Dari pembelajaran: hutang harus dilakukan saat tidak darurat. Jangan berhutang saat darurat. Dengan demikian hutang benar-benar direncanakan.

Ini juga provokasi dari Bob Sadino alm. Dia mengatakan kita mesti berhutang selama kita masih bisa berhutang. Bukan untuk konsumsi, tapi untuk diperkerjakan. Dengan perencanaan matang dan hati-hati (bukan untuk darurat) maka hutang menjadi sarana produktif bagi kita.

Memanfaatkan peluang. Ada banyak peluang. Contoh: SAM bengkel dan sparepart. Ini usaha yang kesekian setelah banyak kali kegagalan. Dibuka pada Juli 2020, saat semua orang mengeluh usahanya lesu. Peluang ini ditangkap karena :

-          Ada teman yang membutuhkan pekerjaan

-          Harapan menjadikannya sarana keuangan di masa depan

Ada satu istilah yang bisa dipegang: diversifikasi sumber penghasilan. Misal menjadi buruh, dapat gaji, jangan hanya mengandalkan gaji itu, karena itu tak akan cukup. Harus ada sumber lain. Dengan demikian orang punya kemerdekaan. Saat harus memilih maka pilihan terbaiklah yang dibuat, bukan karena terpaksa memilih hal itu.

Tantangan-tantangan:

Banyak sekali. Ada banyak situasi darurat yang membuat kepala pusing juga.

-          Minimnya keberanian menanggung resiko. Keluarga guru dan pegawai, tidak ada yang pengusaha.

-          Pengalaman yang dipunyai lebih banyak pengalaman kegagalan

-          Melibatkan orang-orang yang tak bisa sepenuhnya dalam kendali kita. Kalau mereka memilih pergi, ya kita mau apa. mesti ada alternatif2 perencanaan

-          Pasar yang harus dibangun terus menerus. Lagi-lagi tentang kepercayaan.


Membangun harapan:

Dilakukan dengan cara:

-          Meminimalkan kekuatiran dengan melihat masa terpendek yang paling aman.

-          Mengubah rumusan keinginan: bukan ingin pada ‘kata benda’ tapi ingin pada ‘kata kerja’

-          Memperkuat relasi keluarga, saling percaya, saling menerima

-          Melakukan keseimbangan jasmani dan rohani: jalan tiap minggu bersama LHHH

-          Berdoa sepanjang hari bahkan saat melakukan hal-hal lain

 

Harapan untuk keluarga-keluarga:

Semua upaya tak mungkin dilakukan sendirian. Mesti ada dalam kekuatan komunal juga. Koperasi masih menjadi jawaban yang terutama tentang kekuatan komunal itu dengan prinsip2: dari oleh dan untuk.

Membangun kepedulian. Tidak berorientasi pada diri sendiri tapi pada kekuatan bersama.

Dan yang utama : selalu mendekat pada kehendak Tuhan. Terus mawas diri terhadap covid dan dampaknya.

Wednesday, October 14, 2020

LHHH (5): Tahura Wan Abdul Rachman dalam Persahabatan

Aku termasuk pemula dalam komunitas olahraga ini. Beberapa dugaan masih memenuhi pikiranku karena memang belum tahu banyak. Di kali ke lima mengikuti Lampung Hash House Harriers (LHHH) ini aku mulai melihat beberapa keutamaan yang dimunculkan. Aku memang tahu ada 3F yang ingin dibangun yaitu Fun, Fitness dan Friendship. Tiga hal ini bisa dirasakan dalam setiap event yang dilakukan pada tiap minggu pagi.

Nah, Minggu 11 Oktober 2020 ini menyajikan rute asyik mantap di perbukitan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Wan Abdul Rachman di Pesawaran. Medannya naik turun bukit dan beberapa kali mesti melewati sungai atau jalan yang terjal. Dalam rute lalu aku tak terlalu merasakan relasi para pesertanya, kali ini aku benar-benar merasakan tentang friendship yang terbangun di antara peserta.


Tentu saja aku belum banyak kenal dengan orang-orang yang ada di sana. Paling hanya dengan Pak Amir, Ci Merling, Pak Gamat dan putranya, Pak Hadi, Ko Fenliong, Ko Kipeng, mbak Eka, dan sebagainya. Itu pun baru kenal-kenal gitu saja. Hebatnya, dalam rute naik turun yang licin basah ini, rasanya semua orang adalah saudara, semua orang adalah sahabat.

Ketika aku terlihat kesulitan melewati jalan yang curam, selalu saja ada orang-orang yang mengulurkan tangannya membantuku. Juga ketika tahu aku terpleset-pleset, mereka dengan enteng mengulurkan bantuan. Jika tidak pun mereka memberi warning supaya aku hati-hati saat melewati jalur tertentu. Bahkan ketika terlihat aku melambat atau tampak lemas, mereka meneriakiku untuk semangat. Padahal mereka pasti belum kenal siapa aku.

Setelah sampai di garis finish Ko Kipeng yang ceria itu pun masih menyambut gembira walau aku tahu dia pasti juga capek, dan kakinya mengucur darah karena digigit pacet yang ditariknya paksa. Pak Amir langsung memberitahu dimana aku bisa ambil makanan, lalu beberapa orang menyapa sambil makan suka-suka di sekitaran lokasi, tersebar mencari posisi paling nyaman.

Beberapa semangat juga muncul dalam percakapan-percakapan. Banyak diantara mereka memang hobi olahraga. Tubuh mereka terjaga dengan baik. Dan keseimbangan seluruh tubuh pun tertata, bukan hanya secara jasmani ragawi tapi juga secara rohani hati pikiran sosial. Rasa salut tumbuh dengan kuat. Bayangin, mereka rata-rata sudah berumur, tapi tubuh penuh vitalitas dan kegembiraan.

Saat aku melihat salah satu ibu, aku memanggilnya Oma, aku langsung menghampirinya. Saat di pertengahan jalan nanjak, ibu ini jalan dengan tongkat mendahuluiku. Dengan hormat kupanggil akrab:

"Oma jalan cepat sekali. Setelah nyalip kami tahu-tahu kok ilang."


Oma yang kumaksud tertawa dengan ceria, dan otomatis semangatnya itu menular padaku. Beberaa orang yang ada di situ langsung menyambut menyetujui kalau si ibu itu memang jalannya cepat. 

"Saya juga tadi sempat noleh kok kalian ndak kelihatan lagi di belakang."

Tentu saja. Aku sempat terpeleset dan duduk beberapa saat. Setelah itu jalanku yang seperti siput semakin melambat. Pikiranku yang underestimed sebelumnya karena melihat mereka yang lebih tua dariku, jalan pakai tongkat, dan seterusnya spontan hilang. Mereka masih sesegar itu di garis finish, mosok aku mau mengeluh-ngeluh karena terpeleset atau ngos-ngosan saat tanjakan. Ya ampun.


Juga seorang bapak tiba-tiba menghampiri, bercerita kalau sampai kini pun masih terus berlatih fisik tiap hari, bahkan masih mengikuti event-event lari maraton. Wow. Pokoknya aku kalah jauh dari mereka, dan tak seharusnya berpikiran underestimed kalau belum kenal, apalagi sampai sombong ini itu. Kekuatan persaudaraan atau persahabatan itu sungguh-sungguh nyata.

Dan inilah unsur yang penting dari LHHH. Aku dikuatkan darinya. Friendship.

Tuesday, October 06, 2020

LHHH (4): Rute Suka-suka Seputar Bumi Kedaton Batu Putuk

 Ada tiga hal yang bisa diambil dari keterlibatan dalam Lampung Hash House Harriers (LHHH). Pertama olah raga, dengan rute yang bisa dipilih antara panjang, medium dan pendek. Kedua fun, atau rekreasi, dengan sajian lokasi hash yang dekat dengan alam. Jalan yang dipilih dalam rute memang sebisa mungkin melewati jalan setapak, pegunungan, pantai, hutan kebun dan sebagainya. Ketiga adalah persahabatan, relasi dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Ketiga hal ini menjadi hal yang menarik dan membuatku nyaman mengikutinya setiap minggu.

Kali keempat ikut dalam jadwal mereka, kegiatan agak berbeda dengan biasanya. Run and walk diawali dengan senam bersama di halaman belakang wahana waterboom Bumi Kedaton di daerah Batu Putuk, Bandarlampung. Warna yang dominan oranye, dipandu oleh instruktur senam selama 30 menit. Senam yang cukup menguras energi, sudah membuat berkeringat walau belum jalan melintasi rute hash.


Selesai senam, pemandu acara mempersilakan kami memilih rute pendek atau panjang yang sudah mereka taburi kertas penanda. Rute panjang akan melintasi sungai beberapa kali jadi diingatkan untuk bersiap basah-basahan, dengan jalan naik dan turun bukit beberapa kali. Rute pendek lebih aman dari basah, bisa lewat belakang wahana.

Aku membayangkan untuk ikut rute pendek saja, dengan pertimbangan kondisi badanku, terlebih sudah berkeringat 30 senam erobik. Terpaksa mas Hendro mengikuti aku karena tak mau istrinya lepas dari pengawasan. Hihihi. Iyalah, tahu paham banget beliaunya kalau aku itu cenderung ngos-ngosan kalau tanjakan curam dan akan sedikit limbung kalau pas turunan. Nah lho. Susah to kalau ndak dikawal. Makanya beliau sabar mendampingiku walau aku paham betul mas Hen pasti akan memilih rute panjang kalau tak terbebani olehku.

Tapi rupanya di awal kami sudah salah mengambil rute, bukan jalur rute pendek yang kami ikuti. Maka begitu persimpangan rombongan masuk ke jalur rute panjang, aku, mas Hen dengan ajakan dari pak Amir dan beberapa teman, mengambil rute lain yang sudah mereka kenal, lewat jalan kampung. Tidak terlalu jauh, dan kami sebut itu rute suka-suka. Jalanan naik dan turun beberapa kali karena memang daerah itu daerah perbukitan. Masuk ke sungai sebentar, karena memang lokasi indah dan segar, lalu kembali ke jalan kampung.

Begitu badan sudah tidak mau jalan lagi, ya sudah balik kucing menyusuri jalan semula kembali ke camp. Dengan begitu, baru kali inilah kami tidak ketinggalan rombongan. Hehehe... Pukul 10.00 kami sudah bersantai di pondok, jalan sedikit lagi di sekitar wahana, lalu sebelum jam 11.00 kami sudah pulang.  

Untungnya dengan jalur suka-suka ini kami ada kesempatan untuk berelasi dengan beberapa orang dalam rombongan kecil tersebut. Orang baru macam aku belum banyak kenalan dalam komunitas ini jadi senang banget bisa kenal dengan orang-orang yang ada di dalamnya, termasuk juga bertukar informasi-informasi menarik yang berguna atau mungkin berguna.


Bonus lain seperti lalu tetep kami ambil dong, yaitu foto-foto. Apalagi saat kembali ke wahana waterboom masih sepi sehingga bisa foto-foto di antara bunga bayem-bayeman yang tengah mekar warna warni. 

Menikmati hari minggu pagi beberapa jam bersama LHHH bisa menjadi cara sehat yang ok bagi tubuhku. Love.