Sunday, March 23, 2014

KA. Krakatau Kediri - Merak

Pulang kampung terakhir (karena bapak sakit) yaitu pada 7 - 12 Maret 2014, aku memanfaatkan perjalanan pulang balik Lampung macam relaksasi dengan Kereta Api Krakatau dari Kediri langsung Merak (Berangkatnya Lion Air cukup menyakiti hatiku karena delay yang keterlaluan walau mereka menggantinya dengan sekotak nasi padang!) Ini pengalaman pertama dengan Krakatau sejak dibukanya rute ini 10 Nopember tahun lalu.

Okey, aku sebut ini perjalanan relaksasi karena aku memang butuh diam-diam saja selama beberapa jam setelah menemani bapak di rumah sakit. Terlalu banyak yang kurasakan dan kupikirkan selama 4 hari di Kediri dalam situasi seperti itu. Entah suasana rumah sakitnya, kondisi bapak, rumah Sembak yang senyap, kumpulan pasir Kelud di mana-mana, kekuatiran ini itu dan sebagainya. KA Krakatau membantuku untuk mengendapkannya sebelum aku kembali menginjak Lampung dan kembali dalam rutinitas.

Aku akan cerita tentang kereta ini mulai dari pemesanan tiket. Sistem online kereta api membuat calon penumpang kereta api sekarang ini sangat dimudahkan. Di stasiun Kediri tempat aku membeli tiket, keterangan-keterangan tentang pemberangkatan, kedatangan, harga tiket, jumlah tiket tersisa dalam suatu perjalanan kereta api terpampang jelas di monitor dekat loket. KA Krakatau Kediri - Merak akan berangkat setiap hari pada pukul 06.45, dengan harga normal 230.000 rupiah (untuk gerbong 2 lebih murah, 215.000 rupiah.) Aku memilih gerbong 4, persis di belakang gerbong restorasi pada kursi dekat jendela, no 9 A. KTP mesti disiapkan untuk pembelian tiket, jangan lupa.

KTP juga dibutuhkan saat check in. Mereka sangat rapi sekarang ini, jadi jangan coba-coba pakai calo atau nama yang beda. Juga sangat bersih dan tepat waktu. Hari H, setelah pamit tak tega pada ibu bapak, aku duduk di KA Krakatau tanpa bicara. Kereta api ini disebut kereta api ekonomi AC, ekspres. Dia tidak berhenti di sembarang stasiun, jadi cukup cepat. Toilet bersih dengan air dan tisu yang tersedia di tiap toilet. Minimal aku melihat di 3 toilet yang sempat kupakai. Sayang pintunya agak berat sehingga aku selalu kesulitan saat menutup dan membukanya. Pengalaman terkunci di toilet TIM cukup membuatku horor setiap kali menemukan pintu toilet yang seret.

Gerbong restorasi cukup nyaman. Saat jam makan siang aku nongkrong di situ untuk segelas teh tawar hangat dan semangkuk lontong sayur. Alunan lagu membuatku lebih relax, hanya sayang para hostnya agak gak bisa atur mulut. Mereka cukup kencang ngobrol antar mereka, tertawa-tawa dan tindakan gak perlu lainnya. Padahal ada penumpang yang ada di gerbong itu sedang menikmati makanan. Makanan cukup enak dan bersih walau yach, seperti kebiasaan makanan di perjalanan selalu lebih mahal dari yang seharusnya.

Tidak ada penjual keluar masuk gerbong kecuali di dua stasiun yaitu Solo dan hmmm... kalau tak salah Cirebon. Jadi aku bisa membaca novel Sampar yang kubawa dengan tenang. Aku menghindari kontak mata dengan penumpang lain di sekitarku karena aku sedang tak ingin ngobrol sehingga sepanjang perjalanan itu aku hanya mengucap terimakasih dan beberapa kata saja seperlunya.

Sampai di Merak sekitar jam 2.00 dini hari, terlambat beberapa menit dari seharusnya tapi masih bisa ditoleransi. Turun, langsung naik tangga persis di loket kapal ferry penyeberangan ke Lampung. Ini sangat mudah dari pada kalau naik bis yang mesti jalan kaki sekitar 1 km.

Ah, recomended banget deh. Aku pasti akan mengulangnya lagi untuk perjalanan yang lain. (Foto-foto aku upload menyusul. Entah kenapa memory cardku tak bisa terbaca oleh netbookku ini. Hmmm...)

3 comments:

  1. Hi mba...artikel yg menarik. Kebetulan aku rencana mau naik ka krakatau dr jakarta. Ada yg mau aku tanyakan yaitu konfigurasi tempat duduk nya. Apakah kursinya Itu saling berhadapan atau gimana. Aku bersama 2anak. Jadi kita ber 3 . Makasih sebelumnya. Salam

    ReplyDelete
  2. Thanks sudah berkunjung, Lia. Kursinya 2 - 2 berhadapan. Nah yang aku tak tahu urutannya no berapa berhadapan dengan berapa, misal apakah 1 dengan 2 atau 2 dengan 3. Kalau ngikutin ABCD berderet pasti ada 1 orang yang berselang jarak kursi. Kalau beli tiketnya langsung di loket mungkin bisa diminta ke petugas. Kalau beli online tak kelihatan mana yang berhadapan. Salam.

    ReplyDelete