Monday, February 28, 2011

Nurdin Halid

Membaca PSSI, Nurdin Halid dan segala kerumitannya, membuatku ingin menulis juga tentang hal ini. Tapi rupanya isi otakku hanya penuh pertanyaan. Diwakili satu pertanyaan aja dulu : Kenapa ya untuk urusan sport seperti ini banyak yang tidak sportif?

Sayangnya ini terjadi justru pada saat para pemain bola Indonesia sedang naik daun. Sedang mulai ancang-ancang untuk berprestasi. Moga-moga mereka bisa melepaskan diri dari masalah 'bengek' macam itu. Tetap semangat para pemain bola!

Thursday, February 24, 2011

Astaga Dipo Alam!

Astaga!

"Saya hendak mendidik media sebagai pemangku kekuasaan, mengingatkan mereka, kan hak saya sebagai rakyat. Jangan media menjadi institusi can do no wrong. Kenapa saya harus takut? Dibawa ke Dewan Pers juga saya siap." Dipo Alam yang berkata.

Aku bisa bilang apa lagi? Seorang Dipo gitu loh.

"Kami ingin mendidik pemerintah sebagai pemangku kekuasaan negara, mengingatkan mereka, kan hak kami sebagai rakyat. Jangan pemerintah negara menjadi institusi can do no wrong. Kenapa kami harus takut? Di bawa kemana saja kami siap." Ini nih kami yang bicara, sebagian kecil dari orang media.

Astaga!

Sunday, February 20, 2011

Ingat Munir


Bertemu dengan Suciwati, Sumarsih, Ruminah, Bejo Untung dan lain-lain di Kantor KWI Jl Cut Mutia, membuatku ingat sosok mungil berambut pirang : Cak Munir. Aku ingat pernah beberapa kali bertemu dengannya di Kampus Brawijaya Malang. Dia datang dengan motor bebeknya, lalu terlibat dalam diskusi, dengan gaya ceplas ceplosnya. Ingat gayanya yang santai. Tubuh ringannya itu menampakkan kekuatan.
Mbak Suci, terimakasih bertemu dengan anda sekalian. Aku belajar banyak dari anda semua. Dari kenangan, dari cerita pergulatan, dari perjuangan, dan kali dari perjumpaan dengan anda semua. Aku ingin terus belajar dalam perjuangan ini. Aku akan terus mengingat bahwa semua peristiwa itu pernah terjadi. Tragedi G 30 S, Semanggi, Trisakti, Talangsari, Wasior, Ambon, dan sebagainya tak terhitung di Indonesia. Aku akan terus mengingat bahwa semua itu pernah terjadi. Aku akan terlibat di dalamnya dengan apa yang bisa kuperbuat.

Friday, February 11, 2011

Sakit Kepala

Darahku naik sampai ubun-ubun. Mungkin sudah sakit dari kemarin-kemarin, tapi pagi ini sangat terasa. Berdenyut hingga di kuping kanan kiriku. Terasa juga ada cairan di ujung tenggorokan di pangkal hidung. Sakit kepala sangat. Kenapa? Aku tidak tahu juga. Biasanya jika ada gangguan pada tubuh aku bisa menguranginya dengan tertawa, membaca atau diam-diam aja. Ketiganya sudah kulakukan tapi aku tetap sakit.
Apa yang kupikir?
1. Rian di RSU Abdul Muluk
2. Deadline Nuntius
3. Anak-anak
4. Kekerasan di banyak tempat
5. Pengin makan
6. Dll, buanyak lagi yang gak jelas.

Thursday, February 10, 2011

Penistaan Agama

Aku menuntut orang yang menista agama sendiri atau orang lain dihukum! Tidak pandang bulu! Penistaan agama itu adalah :
1. Orang yang menulis atau bicara menjelekkan agama sendiri atau orang lain.
2. Orang yang mengganggu ibadat orang lain.
3. Orang yang merusak tempat ibadat di manapun.
4. Orang yang menghambat pembangunan rumah ibadat agama apapun di manapun.
5. Orang yang menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan sehingga boleh mencap sesuatu benar atau kafir.

Aku menuntut ada tindakan untuk orang-orang yang melakukan seperti itu!

Wednesday, February 09, 2011

Penjual Obat

Beberapa hari lalu si Tyo sakit gigi. Pagi-pagi aku mampir ke Apotik Enggal untuk membelikannya minyak tawon untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Ini obat untuk semua penyakit. Tidak selalu menyembuhkan, tapi bisa mengurangi rasa sakitnya. Kalau sakit gigi, oles aja di gigi atau gusinya dan pipi. Jika sakit batuk, oles di leher, dada dan punggung dan minum dikit. Untuk sakit yang lainnya. Lecet, terbakar, masuk angin, sakit perut, memar,...pokoke apa aja. Ini obat untuk segala sakit. Baca lengkapnya di kertas bungkus itu."
Tyo manggut-manggut aja sambil mlongo.
"Dados pinten, mbak? Regine pinten?"
Ganti aku yang mlongo, eh mendelik.
"Memangnya aku penjual obat? Dasar! Itu untukmu. Pakai kalau sakit! Kalau kau percaya, sembuhlah kau!"
"O..."
Bejo yang kebetulan nguping di belakang kami nyletuk.
"Bayarnya di aku, Yok."
Tyo masih memandangku.
"Wah,nggih dados mboten sekeca kula, mbak."
Eh si gundul Bejo ngakak-ngakak.
"Hahaha...baru tahu ya? Mbak Yuli kan paling bisa membuat orang gak enak ati. Lalu terjebaklah orang itu. Hahaha..."
Terpaksa kusambit gundulnya.
Tyo dengan wajah malaikatnya cuma mantuk-mantuk.
"Maturnuwun."
Bentar kemudian, dia datang lagi sambil menyorongkan teh dan pisang goreng sisa malam ke mejaku.
Aku tahu si Bejo tetep cengar-cengir. Anjrit! Pasti dalam hatinya dia bilang,"Bener kan. Orang pasti jadi gak enak hati sama si mbakyu n terpaksa mengikuti keinginannya."
Ya, habis gimana lagi. Hehehe...

Wednesday, February 02, 2011

Perjuangan Melawan Kelaliman

Jaman kecilku dulu nama Asterix sangat-sangat dekat. Asterix dan Obelix disertai seekor anjing Idefix. Mereka adalah rakyat sekaligus pejuang Galia untuk mempertahankan kedaulatan mereka dari pasukan Romawi. Mereka melakukan segala cara untuk perjuangan ini. Namun ada beberapa hal yang menarik :
1. Mereka selalu gembira. Ada canda, pesta, dll.
2. Mereka mempunyai pendamping seorang dukun obat. (Siapa ya namanya? Lupa blas. Entar kalau ingat aku tambah.)
3. Lurah Galia, si Abraracourcix, hanyalah pemimpin lelucon. Harus ada tapi ya gitu deh. Kayak-kayaknya seperti untuk formalitas saja.
4. Ada kekuatan 'lain' yang menyertai keberhasilan Asterix, Obelix dan warga Galia. Yaitu ramuan ajaib. Bahkan Obelix pernah 'kecemplung' di ramuan itu, tidak perlu lagi meminumnya supaya kuat.
5. Warga Galia ini beragam orang dan karakternya, tapi sangat kompak jika sudah melakukan aksi.
Itu sih di komik. Bukan nyata. Di tempat kita sekarang? Aku ingin jadi orang Galia, aku akan selalu gembira, cari 'kekuatan lain', mengarah kompak, seperti itulah. Bisa kali. Ayuk.



Tuesday, February 01, 2011

Ambulance

Kalau tidak pernah merasakan diri atau keluarga atau sahabat berada di dalamnya, kau tak kan pernah merasa perlu minggir kalau ambulance lewat. Masak harus nunggu terjadi pada kita sih? Ayolah, biarkan ambulance lewat. Minggirlah. Come on. Aku minta itu. Minggirlah, biarkan ambulance lewat duluan dengan cepat. (Tahu kan siapa yang ada di dalam ambulance? Mungkin orang yang kena serangan jantung, sakit parah, kecelakaan, orang sekarat... Kadang-kadang jenasah.)