Sunday, February 19, 2017

Jurney to Manila 8 : Balik ke Indonesia

Hari terakhir di Manila pas hari Minggu. Aku gunakan waktu ke Gereja. Katanya dan memang benar, mayoritas Piliphina adalah Katolik. Tapi sungguh tak bisa kupercaya, gereja di hari minggu sangat sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang. Hmmm... Seorang pastur cerita dia akan melakukan misa di mall, di sana akan banyak pengikut misa di hari minggu. Yaelah.

Makan pagi terlambat sudah malas keluar. Makan di kantin dengan menu seadanya yang bisa masuk perutku. Roti. Telur goreng. Pisang. Air putih. Semuanya 55 peso. Aku tambah 2 pisang lagi untuk dibawa ke kamar, jaga-jaga kalau masih lapar. Tak ada rencana apapun hari ini. Jadi aku keramas, tidur, dan bersiap untuk balik ke Indonesia.

Naik taksi ke bandara, aku mengantar Lilik ke terminal 1 sebelum melaju ke terminal 3 Ninoy Airport dimana pesawatku, Cebu Pasific akan menerbangkanku ke Soetta. Bandara yang ramai super. Aku hitung peso di dompetku tinggal 50 peso dan beberapa receh. Jadi selepas imigrasi aku coba cari makan yang bisa kubeli dengan uang segitu. Dapatnya : cup noodles seharga 45 peso! Cukup deh... Hehehe...

Pesawatku terbang jam 20.50. Sampai di Indonesia tepat jam 00. Aku meneruskan tidur di kamar Yeni di Zest Hotel. Kebetulan banget Yeni juga pas pulang dari Myanmar di tanggal yang sama n mau berbagi kamar denganku. Perjumpaan sekejab untuk tidur, dan esoknya sarapan bareng, ke bandara bareng lalu Yeni ke Solo, aku ke Lampung. Nah... begitulah.

Saturday, February 18, 2017

Jurney to Manila 7 : Seru-seruan di Intramuros

Usai ikut aksi Walk for Life aku punya waktu sebentar untuk sarapan dan istirahat. Kucari Lilik untuk mengajaknya jalan ke Intramuros, kota tua Manila yang konon bau Eropa. Niatku cuma mau foto-fotoan seru-seruan. Lilik bilang kalau sudah ke sana, tapi aku yakin dia tak akan menolak ajakanku. Menunggu bentar karena dia rupanya ikut meeting SC.

Ini halaman Katedral Manila. Sangat okey untuk foto kan?
Berangkat naik taksi yang kami tuju adalah Katedral Manila. Ini wajib dikunjungi kalau ke Manila sebagaimana kita tahu negeri ini mayoritas Katolik. Jadilah menjadikan Katedral sebagai obyek foto yang pertama.

Di bagian luar atau dalam Katedral tak luput dari pemotretan narsis. Okey banget.

Usai ngublek Katedral, inginnya cari makan. Tapi hujan deras membuat ini tertunda walau kemudian terpaksa menembus hujan saking ndak tahan laper. Yang dituju KFC seberang Katedral. Hihihi.

Usai makan, jalanlah kami ke Fort Santiago. Mampir ke toko souvenir yang tidak asyik karena seperti melihat barang kerajinan di Jawa, Kalimantan atau Sumatera, tak ada yang khas banget, dan harganya super mahal.

Di Fort Santiago, dengan bayar 75 peso, kami puas membuat kaki teklok memutarinya. Melihat taman, benteng, penjara, musium Jose Rizal dll. Check it out :


Beberapa patung yang bisa diajak bercengkerama.

Pintu masuk benteng.

Konon tapak kaki Jose Rizal sebelum digantung.

Di salah satu sisi benteng melihat laut dan kota Manila.

Foto lain nyusul deh... Capek.



Jurney to Manila 6 : Kesempatan Ikut Aksi

Sehari setelah selesai meeting kebetulan sekali ada ajak untuk ikut aksi menolak kebijakan Duterte tentang penerapan hukuman mati tanpa peradilan untuk narkoba. Jadilah, 18 Pebruari pagi-pagi sekali pukul 4 waktu Piliphina alias jam 3 pagi waktu Indonesia bangun untuk Walk for Life.

Bagiku ini sangat menarik setelah diskusi tentang justice and peace sepanjang meeting. Menjadi semacam penutup, dihadapkan pada masalah nyata. Mungkin ini memang konteks Piliphina, tapi di Indonesia pun hal yang mirip sudah terjadi. Peradilan Indonesia yang masih belum bisa dipercaya nyaris seperti penerapan penembakan langsung untuk pelaku pengedar Narkoba, padahal tuduhan itu bisa salah, bisa fitnah.

Beberapa bagian dari aksi ini sudah kutulis untuk http://www.pojoksamber.com/walk-lifemelawan-kekerasan-tanpa-kekerasan/ soooo, silakan klik di sini untuk melihat sedikit dari aksi yang kuikuti ini.

Friday, February 17, 2017

Jurney to Manila 5 : Meeting!!!

Diskusi dalam kelompok.
Aku nulis singkat saja deh pertemuan untuk pekerja justice and peace ini. Berlangsung dari 15 sampai 17 Pebruari 2017, diikuti oleh berbagai negara seperti India, Bangladesh, Pakistan, Srilanka, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Piliphina sendiri. Eh, juga ada yang dari Hongkong ding. Eh, mana lagi yaaaa...

Pemaparan.






Pertemuan ini diisi dengan beberapa bahan dari narasumber seperti Fr. Edu dan Fr. Niphot, selebihnya adalah diskusi dan sharing dalam kelompok maupun pleno. Cukup oke memperkaya diriku tentang Popularum Progresio dan Laudato Si serta bagaimana dua dokumen itu bisa menjadi bagian dari gerak kembang kemanusiaan.

Tuesday, February 14, 2017

Jurney to Manila 4 : Mercusuar

Hari keempat aku bersama rombongan berkunjung ke pertanian di Jaybanga, sekitar 1 jam perjalanan dari Lagdlarin menggunakan jeepney, kendaraan andalan di Piliphina. Desa yang indah, tapi membuatku gundah. Perjalanan yang cukup berat membuatku berpikir bagaimana penduduk desa mengakses pendidikan, kesehatan atau kebutuhan lain. Lalu semakin sedih ketika tahu mereka sudah kehilangan tanah-tanah mereka berpindah ke pemilik uang. Duh.

Padahal ini tempat yang luar biasa indah. Lihatlah, bahkan aku menjelma bidadari dalam lingkungan surga seperti ini. Sangat cantik, segar. Apalagi dijamu oleh para ibu petani di sana dengan semangkuk bubur beras yang manis. Aku tidak sempat sarapan di rumah Ate Nimpa karena buru-buru dan harus packing n pamitan.

Membayangkan beberapa tahun lagi tanah-tanah ini berubah rupa membuatku sangat sedih.

Nah, perjalanan terakhir hari ini adalah ke mercusuar Malabrigo dan berbincang dengan komunitas petani dan nelayan di Balibago. Aku tidak terlalu menikmati bagian ini karena tidak seperti berkunjung ke komunitas tapi seperti rapat. Harusnya akan lebih menarik jika kami mengunjungi rumah mereka, berbincang di ruang tamu atau teras mereka, dan minum teh bersama mereka. Tapi ya sudahlah.

Hari ini adalah hari terakhir menikmati Lobo. Sore kami kembali ke Manila menembus jalan berliku dan kemacetan kota pada bagian akhirnya. Tidak kembali ke Hotel Syalom tapi kami akan menginap di Pope Pius XII Catholic Center, penginapan milik Gereja Katolik di pusat kota untuk melanjutkan pertemuan. Ohya, hari ini 14 Pebruari 2017 adalah hari valentine yang terlewatkan. I love you.

Monday, February 13, 2017

Jurney to Manila 3 : Ombak, Mindoro dan Seluruh Topik

Kalau perjalanan ini untuk rekreasi, aku pasti sudah tenggelam dalam keindahan alam Piliphina. Di hari 3 tanggal 13 Pebruari di negeri ini, PSET (People's Solidarity and Education Tours) yang memfasilitasi kegiatan eksposure ini mengajak untuk mengekplore laut dengan menggunakan perahu besar.

Ombak yang tinggi tak menyurutkan semangat, cuma mengocok perut sampai parah. Hihihi... beberapa peserta sudah pucat-pucat hijau tahi mengalami ombak lepas dari pulau Luzon menuju Mindoro. Aku sendiri merasa tidak terlalu nyaman dengan tingginya ombak walau aku cukup menikmati perjalanan ini.

Dalam kondisi normal saja aku kesulitan menyerap informasi yang disampaikan dalam bahasa Inggris, apalagi dalam perahu yang terombang ambing gitu. Yaelah. Dan begitu sampai di pesisir indah di Mindoro, aku kehilangan mood untuk nyemplung pantai indah mereka. Bening, terumbu karang, ikan, dan seluruh flora fauna laut. Aku menikmati dek kapal saja sambil mandi matahari menikmati alam segar dan indah. Tapi aku tak bisa melepaskan diri dari tema-tema yang dibahas sepanjang eksposure ini : nelayan, petani dan tambang.

Huft.

Sunday, February 12, 2017

Jurney to Manila 2 : Tinggal di Lagadlarin, Lobo, Batangas Province.

Hari kedua di Manila, aku mesti bangun pagi-pagi sekali. Jam 6 perjalanan ke Lobo, propinsi Batangas akan dimulai. Menggunakan bis besar, peserta eksposure sekitar 25-an orang akan menikmati daerah pantai yang menjadi bagian dari cara mengenal Piliphina lebih lanjut. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 3 jam, berhenti untuk kencing di toilet umum (jelas lebih ok toilet-toilet di stasiun-stasiun di Indonesia yang sekarang ini wangi), mengunjungi Fr. Jojo di paroki Michael Angelo lalu makan siang bersama umatnya di pinggir pantai sambil mendengarkan pengenalan tentang daerah yang akan kami kunjungi.

Seluruh peserta dibagi dalam 3 kelompok. Aku kebagian kelompok Lagadlarin, sebuah komunitas nelayan di daerah pesisir. Sebelum ke rumah tempat tinggal, kami berkunjung ke Lagadlarin Mangrove Forest untuk menanam bibit mangrove di daerah itu. Aku menanam dua bayi yang kutiup-tiup dengan doa supaya mereka tumbuh sehat. Hehehe.

Usai menanam mangrove, kami sekelompok menikmati pantai mereka yang bau ikan tapi super bersih. Huwaa... rasanya aku bakal kerasan banget di kampung ini. Sukaaa.... indah banget.

Rumah yang aku tempati adalah rumah keluarga Nimpa. Rumah yang untuk ukuran kampung ini sangat lumayan, dengan jamuan makan yang lezat, tak beda jauh dengan makanan orang Indonesia. Aku sungguh-sungguh tak bermasalah beradaptasi dengan mereka. Apalagi di antara orang-orang yang datang ke rumah itu, ada si Ariyana, gadis manis usia 14 tahun yang berani yang bercerita tentang mimpinya, tentang kesedihannya karena tambang, tentang keraguannya apakah nanti bisa menggapai cita-citanya jadi dokter karena dia tahu orang tuanya tak punya uang, dan sebagainya.

Saturday, February 11, 2017

Jurney to Manila 1 : Kesempatan untuk Tidur!

Introduction.
Perjalanan ke Manila sudah aku rancang dari tahun lalu saat ada undangan dari ACPP bekerjasama dengan NASA Manila untuk Justice and Peace Workers Meeting 2017 se Asia - Pasific. Aku menanggapi undangan dengan senang hati dan menyiapkannya. Meeting ini akan diawali dengan eksposure selama 3 hari, jika aku berminat. Wow, tentu saja.

Pilihan terbang menggunakan Cebu Pasific adalah pilihan yang tepat. Penerbangan langsung dari Soetta ke Ninoy akan ditempuh selama sekitar 4 jam. Dari Lampung aku berangkat pada 10 Pebruari sore, untuk penerbangan Cebu ke Manila pada pukul 00.30, lewat dikit dari tengah malam. Ini bukan jam yang tepat karena begitu lewat dari imigrasi pada pukul 22, aku sudah nyaris tak bisa membuka mata. Berjalan-jalan di sekitaran terminal 2 Soetta tak membantuku sama sekali sedang tubuh yang belum sempat istirahat beberapa hari pengin banget dibaringkan.

Harapanku, penerbangan 4 jam itu akan menjadi saat tidurku. Huft, sayang sekali. Harapan tinggallah harapan. Hampir selama penerbangan, cuaca begitu buruk sehingga penerbangan itu terguncang-guncang. Selama 4 jam lebih! Dengan jiwa yang menciut karena takut, mata pun bisa tetap bertahan terbuka. Puji Tuhan sampai dengan selamat di Ninoy Aquino Internasional Airport tepat waktu, saat fajar siap merekah, pukul 05.50.

Saat keluar dari bandara, seseorang yang menjemputku dengan tanda di tangannya sudah bersiap. Aku menghampirinya, mengenalkan diri dan langsung meluncur ke Hotel Syalom, tempat satu malam nginap sebelum besok melanjutkan perjalanan ke Batangas untuk eksposure.

Briefing sore hari pada 11 Pebruari cukup membuatku nyaman karena sebagian peserta sudah kukenal. Aku sempat tengsin karena telat masuk ruang untuk briefing gara-gara aku ndak set arlojiku. Piliphina memiliki waktu satu jam lebih cepat dari Lampung, dan aku lupa mengingatnya. Padahal begitu sampai di hotel aku menuntaskan kebutuhan biologis dengan tidur sepanjang waktu. Siang bangun sebentar untuk makan wafer sisa dari Sriwijaya dalam penerbangan Lampung - Jakarta, dan minum sebotol air yang kubeli di hotel. Lalu tertidur lagi sampai ditelpon oleh resepsionis hotel,"Mam, you are waited for meeting at third floor. Now they ready for meeting." Aku protes kalau meeting akan mulai satu jam lagi sesuai agenda yang kupunya, tapi kemudian segera sadar soal perbedaan waktu. Ealah, cepet-cepet aku cuci muka dan turun ke lantai 3. Kamar yang kudapat di lantai 5.

Apapun, hari pertama selalu menarik, apalagi saat makan malam aku merasakan bahwa aku sangat-sangat lapar...