Tuesday, July 30, 2013

Ndre, selamat jalan.


Andreas Soejanto 

Aku baru bisa menulis tentang kabar duka ini sekarang, setelah beberapa minggu berita duka itu kuterima. Tepatnya tanggal 13 Juli 2013, sahabatku, Andreas Soejanto, alias Andre sudah berpulang pada Sang Penciptanya di Rumah Sakit Lavalette, Malang dan dimakamkan di kampung kelahirannya Blitar. 
Mendengar kabar itu pertama kali sungguh tidak percaya. Setahun setengah yang lalu aku bersama suami dan anak-anak mampir ke rumahnya di Blitar dan dia sungguh ceria sehat dan segar menyambut kami. Ah, kematian selalu tak terduga.
Tapi Andre, alias Bondet, tak mungkin begitu saja bisa dilupakan. Dia sahabat yang baik saat aku mengalami masa-masa sulit di jaman tertentu di tahun 94 - 96, atau mungkin juga sebelum dan sesudahnya. Ndak, dia gak melakukan apa-apa. Malah mungkin dia hanya pengganggu karena datang ke kostanku dengan maksud ini itu, minta dibantu ini itu dan sebagainya. Jangan curiga, kami benar-benar hanya teman atawa sahabat. Tapi selama dua tahunan itu aku, Andre, Aat dan Dina menikmati persahabatan yang menyenangkan, yang mungkin tidak disangka oleh orang lain.
Bisa jadi kami sering dianggap double couple date atau apalah. Atau juga persahabatan itu malah tidak terendus oleh siapapun. Setiap dari kami ulang tahun kami pasti menyempatkan berempat nonton film dan makan. Bisa jadi aku sedang dimanfaatkan dua cowok dan 1 cewek ini, tapi really it's fun. Mereka bertiga dengan kompleksitasnya (hehehe) masing-masing sangat menghiburku. Saat itu aku jomblo dan sedang ndlosor karena patah hati yang kubuat sendiri. Patah hati karena kebodohan sendiri. (Huh, sebel kalau ingat.) Dan mereka bertiga menawarkan persabahatan yang manis. Aku menampung kisah dari curhatan masing-masing orang dan aku mendapatkan banyak inspirasi dari situ.
Setelah satu persatu dari kami mendapat tumburan atau gandengan atau kegalauan atau pilihan melangkah lebih maju, kami semakin renggang. Kadang aku jalan sendiri dengan Dina, kadang dengan Andre saja atau dengan Aat sendiri. Tapi jelas kami tidak bisa lagi jalan berempat begitu masuk tahun-tahun kami menjelang kelulusan kuliah. Hingga kemudian kami lepas kontak sama sekali. Aku sibuk dengan pekerjaan baruku dan pacar baruku (yang kemudian jadi suamiku), Dina masih berkutat di kampus lalu sibuk dengan dunianya, Andre gak ketahuan kabarnya hingga kutahu kemudian dia menikah dan tinggal di Blitar, dan Aat hilang seperti ditelan bumi setelah mengirim kartu entah lupa untuk moment apa.
Kami tersambung lagi walaupun tidak bertemu fisik dalam suasana yang jauh berbeda. Masing-masing dari kami terpisah jauh ke pulau-pulau berbeda, dengan dinamika yang luar biasa. Aku merasa tidak ada satu pun dari moment persabahatan kami yang patut disesalkan. Semuanya indah. Lalu kabar meninggalnya Andre menjadi penguat memori itu.
Terimakasih, Andre. Hidupmu sama sekali tidak sia-sia. Dalam porsi yang cukup kau berikan juga untukku.  Salam dan doaku dari peziarahanku yang belum selesai. Damailah kau di sisi Penciptamu. Selamat jalan, sahabat.

Wednesday, July 17, 2013

Menunggu Rumah Baru

Hujan merobohkan rumahku                                                                  
menyisakan bongkah pondasi
cerangah ceringih seperti gigi susu
tinggal digoyangkan kanan kiri

lalu tak ada lagi yang sisa.
Sementara aku tidur di semesta
menyewa sejumput tanah
sementara aku perlu berpijak.