Friday, July 15, 2011

All kind of transportation

Dua hari terakhir aku melakukan perjalanan Lampung - Semarang. Males cerita isi perjalanan atau acaranya, tapi aku ingin cerita alat transportasi yang aku pakai. Hampir semua jenis aku pakai.
1. Tanggal 12 Juli 2011 naik mobil travel dari Bandarlampung ke Bakauheni. Memakai mobil jenis APV yang cukup longgar dengan sopir yang terkantuk-kantuk mencoba menyumbat matanya dengan kacang atom supaya tetep melek. Tapi kecepatan cukup tinggi dipakainya sehingga aku yang ada di sampingnya mesti pura-pura tidur supaya tidak ketakutan. Pukul 22.15 dari kantor agen, sekitar 00.00 tiba di pelabuhan Bakauheni dalam hujan deras. Aku bayar Rp. 35.000,- per orang.
2. Kapal ferry menyeberang selat Sunda. Bayar berapa ya, kok aku lupa. Rp. 11.500,- mungkin. Tapi di atas karena pengin tidur di ruang dingin aku tambah Rp. 8.000,- untuk masuk di ruang VIP, n tidur beneran.
3. Pukul 03.30 tiba di Merak, jalan kaki untuk dapat bis jurusan Kalideres. Pilih AC ekonomi bayar Rp. 18.00,- yang kebut turun di Cikokol pada pukul 06.00.
4. Turun di pinggir jalan ganti naik taksi ke bandara Soekarno Hatta seharga Rp. 50.000,-/ Waktu yang sangat mepet.
5. Penerbangan jam 08.05 jurusan Semarang dengan Sriwijaya Air. Cepat check in, bayar airport Rp. 40.000,- Pesawat jurusan Semarang hanya 50 menit sudah sampai di Bandara Ahmad Yani.
6. Acara di jl. Imam Bonjol, cari taksi seharga Rp. 35.000,-
7. Malam selesai acara naik becak ke stasiun Tawang, seharga Rp. 15.000,-.
8. Dapat tiket kereta api Senja Utama ke Senen seharga Rp. 105.000,- berangkat pukul 20.00. Tiba di Stasiun Jatinegara pukul 03.10.
9. Mampir ke rumah seorang teman untuk tidur sebentar, mandi dan makan pagi. Lalu naik taksi ke Gambir.
10. Cari tiket bis Damri jurusan Lampung, dapat yang eksekutif Rp. 150.000,- berangkat pukul 08.00. Sampai di Lampung 17.00, tentu saja setelah 2 setengah jam di kapal ferry.
11. Lalu naik ojek sampai rumah kembali 14 Juli 2011, Rp. 10.000.
Nah, lengkap to? Beberapa jenis alat transportasi aku pakai untuk perjalanan ini.

Tuesday, July 12, 2011

Highest and Lowest Point

Aku punya satu titik yang aneh. Saat berada di dalam persinggungan rotasi, titik ini menjadi titik tertinggi sekaligus titik terendah dalam putaran hidupku. Agak sulit dianalisa bagaimana dua posisi ekstrim itu bisa menyatu dalam satu titik. Efek yang tak terduga pun sangat potensial untuk muncul karena situasi ini sungguh di luar kendaliku. Aku hanya bisa mengekang ujung-ujung permukaannya saja, selebihnya, kedalamannya, tidak terkendali. Aneh.

Wednesday, July 06, 2011

Shah Rukh Khan

Sebelum aku membuat catatan berikut, aku ingin mengawalinya dengan mengatakan bahwa orang inilah yang bisa membuatku melek sampai jam 01.00 dini hari. Membuatku tidak jadi beli buku kedua Toto Chan untuk membeli biografinya. Rela menonton wajahnya dalam pose berulang-ulang. Meneteskan air mata untuk aktingnya yang yahud di My Name is Khan. (Ini film bagus banget tentang keberagaman di dunia dari kaca mata seorang idiot, seorang Khan, seorang yang punya cinta. Dan ini film yang bagus banget dengan Khan yang diperankan oleh Khan. Menarik. Sekitar 3 jam, separonya aku tonton dengan berurai air mata. Duhai.)

Jadi apa yang ingin aku catat tentang dia? Bahwa aku jatuh cinta padanya namun tidak mencintainya. (Tak mungkin aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Hahaha...tidak. Tapi aku memang jatuh cinta.) Hanya yang ada dia film India kutonton selama ini. Selebihnya tidak minat. Lalu apa? Ya tidak ada lagi. Beberapa kata tak penting saja. Bahwa dia salah satu dari seluruh kelekatan yang masih kupunyai di dunia ini. Hahaha...gak penting kan? Sudah kubilang.

Shah Rukh Khan. Dia adalah satu satu sarana yang membantu imajinasiku tentang cinta tetap hidup. Bagian kecil tentang cinta.

Aku lupa sejak kapan.

Tuesday, July 05, 2011

Missing Moment!

Sudah satu minggu tak kulihat anak-anakku secara fisik (mereka berlibur tempat tantenya di Jakarta). Ada rindu luar biasa pada keributan yang dibuat mereka, pada kemarahan yang ditimbulkan mereka, pada kegembiraan yang dicipta oleh mereka, pada keprihatinan karena tingkah mereka, karena apapun yang mereka lakukan kalau dekat denganku.
Aku tahu mereka bisa menikmati liburan mereka dengan dinamika yang mereka alami saat jauh dari aku ibunya. Pagi siang sore malam aku telepon, mereka selalu dalam keasyikan sebuah moment. Tapi aku di rumah, ya ampun. Sampai rasanya pengin nangis, dan sudah nangis dengan sms ke adikku : "Please, peluk mereka untuk aku." Rasanya sepi... Padahal ini bukan kali pertama mereka tidak bersamaku. Ada banyak kali, seminggu bahkan lebih aku pergi dari rumah, tidak bertemu mereka secara fisik. Aku yang pergi dan mereka di rumah.
Ternyata rasanya beda ya. Pantas saja saat aku pergi terlalu lama dan mereka yang ada di rumah, Bernard sering komentar,"Gak enak kalau gak ada ibu." Kini aku yang ada di rumah dan mereka yang pergi, aku merasakannya, gak enak kalau gak ada anak-anak. Kalau mereka di kejauhan sana? Aduh, bahkan saat aku telpon pun mereka tidak mau ngangkat karena sedang asyik dalam permainan, perjalanan, percakapan,... Aduh.