Wednesday, December 31, 2014

Pergantian Tahun di KA Kahuripan

Liburan kali ini bukan sesuatu yang direncanakan serius. Awalnya adalah saat browsing tiket untuk beberapa perjalanan kerja, dapat info tiket kereta api murah Bandung - Kediri pp. Hanya 50 rb per orang, asal tidak lewat 31 Desember 2014. Ok. Jadi, tiket pun didapat untuk kami berempat. Sekeluarga. Lupa mikir urusan lain di luar tiket kereta api, yang ternyata jauh lebih banyak. Berkali lipat.

Tapi, apa daya. Siapa yang bisa melewatkan godaan liburan seperti ini? Jadilah, Lampung, Bandung, Nganjuk, Kediri, Lumajang, Jember, Malang. Sekarang 31 Desember 2014. Bentar lagi masuk tahun 2015, kami ada di atas KA. Kahuripan menuju Bandung. Pas pergantian tahun, kami akan melewatinya di atas kereta. Akan jadi pengalaman ok.

Jadi, mari tiup terompet.

Tuesday, December 16, 2014

Titik Temu, Komunitas Kampoeng Jerami

Mestinya aku menulis resensi buku ini, tapi nantilah. Itu bisa menunggu beberapa saat. Aku ingin bercerita hal-hal sebelum buku ini terjadi.

Mulanya adalah perjalanan ke Sumenep pada 4-5 September 2014 lalu untuk kepentingan Daun-daun Hitam dan Hujan Kampoeng Jerami. Dua buku ini diluncurkan di beberapa tempat di Sumenep. Kontakku di sana, yang terkasih Fendi Kachonk, berhasil memikat hatiku dengan tawaran (hmmm tepatnya desakan) : "Kak, bantulah kami di Komunitas Kampoeng Jerami."

Aku bilang setelah berpikir beberapa jenak. "Untuk terlibat seumur hidup denganmu eh dengan Kampoeng Jerami aku tak punya kemampuan. Jadi ini komitmenku sementara ya, aku akan sepakat untuk bekerja bersamamu dan Kampoeng Jerami untuk satu putaran kegiatan mungkin sebuah penerbitan buku yang berikutnya."

Maka mulailah putaran itu. Mesti ada satu buku antologi puisi lagi di tahun ini. Ok, ambil tema yang sedikit umum. Kemanusiaan. HAM. Lalu semua hati teracu pada 10 Desember, hari HAM. Titik Temu muncul begitu saja sebagai loncatan ide. Sebagai contoh judul, tapi semuanya menerimanya sebagai keputusan. Buku itu berjudul Titik Temu dan akan diluncurkan pada 10 Desember 2014. Naskah-naskah mulai dikejar. Awal Nopember harus sudah siap. Proses naik turun pun mulai berbiak pada para relawannya : Fendi Kachonk, Umirah Ramata, Lia Amalia Sulaksmi, Cici Mulia Sary dan Yuli Nugrahani. Lia mesti mundur di tengah jalan. Semua paham. Proses terus berjalan. Lalu nama-nama pun bergabung. Hingga ada 60 nama!

60 nama penyair tergabung dalam buku ini. Siapa sangka?  Acep Zamzam Noor, Ady Harboy, Aji Saputra, Alex R. Nainggolan, Alra Ramadhan, Ariany Isnamurti, Bayu Taji, Bunda Umy, Cici Mulia Sary, Ciek Mita Sari, Dedy Tri Riyadi, Dewi Nova, Dita Ipul,  Djemi Tomuka, Edy Samudra Kertagama, Fendi Kachonk, Handry TM, Hasmidi Ustad, Indarvis Inda, Jamal D. Rahman, Joko Bibit Santoso, Julia Asviana, Khifdi Ridho, Korrie Layun Rampan, Lara Prasetya, Lia Amalia Sulaksmi, Lilis A Md, Mariana Amiruddin, Masita Riany, Maulidia Putri, Meitha KH, M. Faizi, Mohammad Arfani, Much. Khoiri, Muhammad Zamiel El-Muttaqien, Nissa Rengganis, Retha, Reza Ginanjar, Saifun Arif Kojeh, Sastri Bakry, Saut Poltak Tambunan, Senandung Sunyi Chamellia, Setyo Widodo, Shinta Miranda, Siti Noor Laila, Soetan Radjo Pamunjak, Sofyan RH. Zaid, Sulis Setiyorini, Syaf Anton Wr., Syarifuddin Arifin, Tengsoe Tjahjono, Umirah Ramata, Upik Hartati, Vebri Al Lintani, Warih Subekti, Weni Suryandari, Yanuar Kodrat, Yeni Afrita, Yonathan Rahardjo, dan Yuli Nugrahani.

Naskah terkumpul. Berikutnya. Uang. Dari mana uang? Sebagian kecil penulis sudah urunan. Tapi itu tak cukup. Proposal pun mulai disebar. Siapa yang berminat? Ya, beberapa orang baik mengulurkan energinya. Springhill Group mesti kutulis di sini atas bantuannya. Tabik dan takzim. Kapitalis humanis hidup abadi di dadaku. Terimakasih.

Dua nama lagi, Dana E. Rachmat dan Devin Nodestyo yang kebagian repot mengerjakan gambar-gambar, tata letak dan segala hal terkait teknis ini itu untuk buku ini. Apalah kami semua tanpa mereka berdua. Jadi peluk erat untuk mereka. Jatiputro urusan berikutnya setelah ISBN dikejar Umi, catatan-catatan oleh Cici, dan tentu saja Fendi si penanggungjawab. Urusanku sudah beres begitu beres proses editing, dan ini itu yang diperlukan.

Kini buku itu sudah bisa dipegang. Baunya harum, kertas baru. Tebal. Siap diedarkan dan diluncurkan di berbagai tempat. Titik Temu siap berjalan memenuhi takdirnya. Putaranku masih terus berjalan untuk Kampoeng Jerami, tapi suatu waktu nanti akan ada evaluasi bagi kerja selanjutnya. Komitmenku? Lihat saja nanti.  

Sunday, December 14, 2014

Chiara, anakku.

Aku ingin mencatatnya.

Begini, 14 Desember 2014.
Namanya Chiara.
Dia menyatu dalam diriku.

Kembali ke tanah,
kembali padaNya.

Aku akan mengingatnya.

Sunday, November 23, 2014

CHIARA

Siapakah Chiara?

Itu adalah anak perempuanku.
Yang akan hadir melalui rahimku.

Aku sedang menantinya.
Dengan gembira.
Dengan sepenuh
jiwa raga.

Siapakah Chiara?
Dia adalah anak perempuanku.

Yang akan lahir
melengkapi semesta.

Tuesday, November 11, 2014

Daun-daun Hitam Bersama Mahasiswa di Jatinangor

Mengikuti gerak buku Daun-daun Hitam, kumpulan cerpenku dan sketsa Dana E. Rachmat selalu membuatku penuh semangat. Kali ini aku ingin mengingat perjalanannya ke Bandung, eh sebenarnya bukan di Bandungnya tapi Jatinangor, bersama dengan puluhan mahasiswa di aula Gerkopin, 28 Oktober 2014, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda.

Ya, tentu saja menarik. Bertemu dengan para muda selalu menarik. Apalagi para muda yang begitu semangat dan antusias. Beritanya sudah dimuat di www.suaramahasiswa.net, klik saja untuk membacanya. Tapi, berita itu tentu saja diawali jauh-jauh hari. Ulah Jai, bisa kubilang begitu. Mahasiswa Unpad yang kukenal saat ke Moncek beberapa waktulah yang menjadi biang dari seluruh kegiatan menarik ini.

"Mbak Yuli, kalau ke Bandung kabari aku ya." Begitu pesan pendeknya lewat inbox, beberapa minggu setelah perjumpaan di Madura. Seperti panci dapat tutupnya, karena kebetulan Oktober aku harus ke Bandung untuk rapat, kubalas dengan konkret. "Pilih tanggal 27, 28 atau 29 Oktober. Aku akan rapat di Bandung, dan aku sesuaiin tanggalku itu dengan kemungkinan yang kau punya."

Alhasil, itulah yang terjadi. Jai pilih tanggal 28 Oktober, lalu berjanji akan membuat rundown acara dan menghubungiku secepatnya. Dan itulah yang terjadi. Bukan hanya aku yang terlibat tapi Fendi Kachonk penulis Sumenep, Lia Amalia Sulaksmi penulis Bandung, Meitha KH penulis Bandung dan juga Jailani sendiri, bertemu dalam satu acara bersama puluhan mahasiswa dari berbagai kampus pada petang itu hingga malam.

Membaca karya bergantian. Aku membaca Pasien yang baru saja mendapat ulasan dari Adek Alwi. Ngobrol tentang penulisan, tentang buku, tentang Daun-daun Hitam. Lalu di sesi terakhir aku memandu mereka semua untuk menulis puisi yang akan dibaca oleh mereka pada akhir sesi. Wuah, walau sungguh aku sangat capek dan lapar, energiku melimpah ruah. Aku senang bisa bersama dengan mereka. Dan inilah bagian dari perjalanan Daun-daun Hitam. Belum selesai. Masih akan terus berjalan. Hingga lunas nanti.

Jai, terimakasih karena telah memungkinkan peristiwa ini terjadi.

Thursday, October 30, 2014

CERPEN YULI NUGRAHANI

Oleh Adek Alwi

TEKNOLOGI informasi makin canggih dan orang kini dapat mengakses peristiwa apa pun dari manapun, yang tak jarang aneh-aneh, ganjil-ganjil, mendului imajinasi. Hal itu berdampak ke sastra, ke cerpen. Peran bentuk pada cerpen semakin penting, dan pengarang pun ditantang menemukan cara atau seni bercerita yang lebih agar cerpen tetap memikat-menarik dibaca.

Dengan demikian, tetap dapat diterima atau tetap bisa menarik cerpen yang berangkat dari realitas atau dari konflik sosial, atau peristiwa politik yang kita lihat/hadapi sehari-hari, asal cerpen itu tak hadir biasa saja atau sebutlah macam potret. Tapi melalui cara bercerita yang “lebih” itu, yang membuat kita/pembaca tak terpaku hanya ke yang tersurat. Dengan begitu pula, kita/pembaca dihargai; yang lahir-berkembang di pikiran kita bebas memaknai. Nah, di titik ini cerpen itu pun berjaya memenuhi sifat karya sastra yaitu ambiguitas.

Saya menangkap ke arah itu Yuli Nugrahani melangkah dengan “Daun-daun Hitam” (Indepth Publishing, Agustus 2014); Kumpulan Cerpen Yuli Nugrahani dan Sketsa Dana E Rachmat. 12 cerpen Yuli di kumpulan ini umumnya berangkat dari peristiwa sosial, politik, yang biasa kita dengar/jumpai di negeri ini. Tapi cerpen-cerpen itu tak dihadirkan macam potret. Pengarang terkesan menumpukan pergulatan kreatif ke cara atau pada seni bercerita. Dengan lain kata bukan “apa” (isi)-nya yang ditonjol/dikedepankan tapi “bagaimana”-nya (menyampaikan isi) itu.

Dan hal senada juga mengemuka pada sketsa-sketsa Dana E Rachmat, yang mendampingi cerpen-cerpen Yuli. Sketsa Dana tidak hadir sekadar penghias atau sebutlah serupa ilustrasi-ilustrasi yang menyertai cerpen-cerpen di majalah terutama di masa lalu, tapi bisa kita sikapi selaku karya mandiri –meski tentu pula dapat membawa imajinasi kita mengaitkan dengan cerpen Yuli yang menyertai/disertainya.
***

MENUMPUKAN pergulatan kreatif ke cara atau seni bercerita, bak mengetuk berbagai pintu. Bagi Yuli Nugrahani di antologi “Daun-daun Hitam” ini, terbuka pintu yang memungkinkan ia mengeksplorasi unsur-unsur yang ada pada cerpen: setting, tokoh, alur, dll. Maka dialog dan setting pun dia jalin begitu rupa, selang-seling ataupun berpadu, saling topang menguatkan. Pun dengan deskripsi suasana; baik suasana di luar diri, juga suasana dalam diri tokoh utama cerita.

Hal demikian misalnya mengemuka di cerpen “Pasien” –juga cerpen satu-satunya yang saya urai pada kesempatan ini terkait cara/seni bercerita; atau sebutlah “Pasien” wakil 11 cerpen Yuli lainnya meskipun masing-masing jelas memiliki perbedaan. “Pasien” dibuka Yuli dengan deskripsi setting (dan dari deskripsi ini hadir suasana), yang ia jalin berselang-seling ataupun berpatu dengan gambaran suasana dalam diri tokoh utama cerita. Seperti ini:

Tak ada ruang resepsionis, juga tak ada seseorang sebagai penerima tamu, sekretaris, atau sejenisnya. Lebih bagus lagi tempat ini terlihat seperti rumah biasa, tanpa plang nama di halaman, tanpa tanda-tanda rumah yang biasa dikunjungi oleh tamu. Aku sedikit lega karena dengan demikian aku tak harus berjumpa orang-orang yang kukenal maupun mengenalku.

Saat menekan bel, jam di tanganku menunjukkan bahwa aku sudah terlambat 15 menit dari waktu yang dijadwalkan. Aku sengaja melambatkan langkah setelah memarkir mobil sekitar dua blok dari rumah ini karena rasa gamang yang menyergap. Keyakinan yang aku pupuk beberapa hari lalu lenyap dalam gelenyar kegelisahan dan kepanikan.

Tapi aku sudah di depan pintu yang terbuka. Senyumnya mengembang, mempersilakan aku masuk....

Dengan cara/seni bercerita seperti itu setidaknya dua hal mengemuka. Satu, perlahan tetapi pasti kita/pembaca dibawa masuk ke suasana; kedua, dari situ mulai muncul pertanyaan. Ya, siapa “aku”? Siapa pula pembuka pintu? Mengapa “aku” mendatangi tempat yang “terlihat seperti rumah biasa” itu? Tapi kita lanjut saja dulu.

Seusai buka pintu, senyum, dan pembuka pintu itu mengajak “aku” ke ruang tengah sambil menawari “teh”, atau “kopi,  atawa “minuman dingin” seraya menyebut nama “aku” (yaitu Adel), cerita pun dilanjutkan Yuli Nugrahani. Dan, lagi-lagi dengan lukisan suasana dalam diri tokoh (reaksi atas sambutan si pembuka pintu), gambaran setting di luar dirinya serta dialog (jawaban atas pertanyaan pembuka pintu itu). Begini:

Aku suka dengan caranya memanggil namaku. Lama sekali orang tidak lagi menyapa namaku begitu saja, tanpa sebutan ibu, madam, atau nyonya di awal nama. Aku diam beberapa saat membiarkan udara tanpa getaran, menyempatkan melihat ruang depan sembari kami lewati pelahan. Ruang tamu sederhana dengan seperangkat kursi rotan, lukisan abstrak bergaya Gogh di sisi utara dan sebuah guci Cina warna biru kobalt dengan beberapa payung di dalamnya. Cahaya redup dari jendela dan ventilasi membuat ruangan itu terlihat sejuk.

Tapi ruang tengah yang dia maksud membuat aku merasa jauh lebih nyaman.

“Teh tawar saja jika tak merepotkan. Terimakasih,” kataku ketika melihat dia tak mengatakan apapun yang lain, langsung menuju meja kecil di sudut ruang....

Nah, kian terdorong kita, pembaca, untuk mengetahui siapa “aku” ini, serta apa urusannya mendatangi tempat yang “terlihat seperti rumah biasa”, beruang tamu “sederhana dengan seperangkat kursi rotan, lukisan abstrak bergaya Gogh” dan lain sebagainya itu –dengan informasi yang bagai sengaja disampaikan selintas-lintas serta dijalin dengan lukisan setting yang menghadirkan suasana tertentu itu.

Dan, memang terus begitu, hingga cerita berakhir. Unsur-unsur cerpen itu dieksplorasi Yuli, ia jalin berselang-seling, atau ia padu, saling topang menguatkan. Tidak terkecuali informasi mengenai kedua tokoh cerita, suasana batin si tokoh utama, tak dijejalkan –tapi ditampilkan bak selintas-lintas bersamaan dengan unsur-unsur lain yang digarap dengan baik. Seperti ini, misalnya:

“Kenapa Adel ingin bertemu denganku?”

Nada suaranya lebih mirip seorang kenalan yang sudah lama tidak jumpa daripada seorang psikiater, atau seperti kata temanku, seorang terapis. Tapi pertanyaan itu tetap saja membuat sepasang ketiakku menjadi panas, gerah basah, juga bagian belakang kepala dan punggungku. Kontras dengan lenganku yang merasa menggigil kedinginan. Aku lihat bulu-bulu tanganku merinding mengikuti perasaan itu.

“Hmmm....”

Aku memutar-mutar pegangan cangkir hingga ada derit antara cangkir dan cawannya. Untuk menghilangkan bunyi itu, yang rasanya memang tidak nyaman, aku mengangkat cangkir dan mendekatkan ke bibir walau aku tidak benar-benar menyeruputnya. Aku mengingat quick-count, kotak-kotak suara, hingar-bingar kampanye, uang-uang, artis-artis.... Kepalaku berdenyut.

“Itu teh dari Kertowono, konon kualitas yang terbaik. Beberapa orang memujinya saat aku kirimi teh itu. Cobalah.”

Aku mencicipi beberapa tetes. Melihat ampas teh mengendap....

Begitulah, maka tatkala cerpen “Pasien” itu berakhir, kita/pembaca, yang asyik oleh pesona suasana dan rasa ingin tahu mengenai tokoh cerita akan mendapat kesimpulan sendiri, alias tak didiktekan pengarang. Dan bagi saya kesimpulan itu kira-kira seperti ini: Hm, perempuan bernama Adel itu adalah politisi yang gagal, yang mengalami stres (tak cuma uang terbuang, hubungannya pun memburuk dengan pasangan), lalu mendatangi psikiater/terapis yaitu Sid. Itu akibat tuntutan sekaligus sistem politik yang tak beres di negeri ini, lebih mengutamakan materi/hura-hura daripada kualitas manusia.
***

KEMBALI ke awal, kalau saja Yuli Nugrahani tak berorientasi pada bentuk penyampaian atau ke cara/seni bercerita bagai saya urai di atas, maka cerpen “Pasien” dan cerpen-cerpen Yuli lainnya dalam kumpulan “Daun-daun Hitam” ini hemat saya akan kehilangan daya tarik atau daya pikatnya. Sebab melalui teknologi informasi canggih sekarang ini kita dapat mengakses berbagai-bagai peristiwa seperti dialami tokoh Adel itu –malah lebih tragis dari itu pun ada, juga yang lebih aneh-aneh plus lucu.

Maka hal itu bagi saya mengisyaratkan, bahwa peran bentuk dalam cerpen kini menjadi kian penting. Pengarang dituntut untuk menemukan cara atau seni bercerita yang lebih, supaya cerpen tetap menarik/memikat dibaca. Dan Yuli Nugrahani telah melangkah ke sana dengan kumpulan cerpennya, “Daun-Daun Hitam”.

Jakarta, Minggu 7.9.2014

Wednesday, October 15, 2014

SETUJU

Lewat satu hentakan lesu
aku lepaskan aliran sungai dari mata
membiarkan kaki-kakinya menyapu
seluruh kisah seluruh warna.

"Pakailah kerudungmu
rambutmu aman dari musuh mengintai
dan ujungnya teman bagi gerakmu."

Aku menyetujui usulnya
melilitkan kerudung pada wajah
menyeka mata dengan ujungnya
dan merenda gerak mengabaikan gerah.

"Bawa lenteramu
jalanmu aman dari sesat
dan lintah pergi dari kakimu."

Aku menyetujui usulnya
dan melangkah
pergi.

Tuesday, October 07, 2014

Sekar Alit, Melantunkan Macapat dalam Bahasa Indonesia

Judul buku : Sekar Alit, Kumpulan Syair Mocopat
Penulis : Abah Yoyok
Cetakan I : Mei 2014
Penerbit : Q Publisher, Depok
ISBN : 978-602-1177-02-0

Buku ini kudapatkan dalam sebuah kesempatan langka, 24 Agustus 2014, usai cara halal bihalal yang diadakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang Selatan. Datang di acara ini saja sudah membuatku bergembira apalagi mendapatkan bonus buku, Sekar Alit, langsung dari penulisnya, Abah Yoyok.

Buku ini masih tersuruk dalam tas hingga kemudian aku menemukannya saat membongkar tas beberapa waktu yang lalu. Mulai membacanya seperti diingatkan kembali pada kenangan masa kecil, saat hari Kamis atau Jumat ada bundel majalah Panyebar Semangat dan Joyoboyo dilemparkan oleh pak pos ke rumah eyang kungku. Ya, pak Sodi Kartodiwiryo, eyang kakungku, adalah agen untuk dua majalah berbahasa Jawa ini. Karenanya aku beruntung mendapatkan bacaan rutin sejak aku mulai bisa membaca.

Nah, itu yang kurasakan saat aku mulai membaca Sekar Alit. Ah, tidak, aku tak mau membicarakan seluruh halaman buku ini. Aku ingin masuk pada satu bagian Sekar Pocung (hal. 47) berjudul Sedulur Halus. Dalam ingatanku tembang pocung (atau pucung) selalu menggugah senyum karena tema humor atau tebak-tebakan yang ditampilkan. Misal salah satu tembang yang dulu suka kunyanyikan :
                Bapak pucung, dudu watu dudu gunung. 
                Sabamu ing sendhang, 
                péncokanmu lambung kéring. 
                Praptèng wisma, si pucung muntah kuwaya. 

Sedangkan pucungnya Abah Yoyok, aduh serius dan dalam banget. Sedulur Halus mengajak pembaca untuk merenung tentang kelahiran setiap diri, setiap manusia, setiap aku, yang lahir dengan 'saudara-saudara' yang menyertai.

              tiap orang pasti punya dulur halus
             dalam wujud sinar
             dia itu si pendamping
             diam-diam suka bantu diri kita

Ini bait pertamanya. Menjadi penghantar sebelum mengenalkan masing-masing sedulur halus yang dipunyai. Diungkap satu persatu dalam bait-bait berikutnya. Sampai 10 bait. Bait yang terakhir bicara tentang dulur Puser.

               di Utara, si Puser yang hitam itu
               tidak pernah lengah
               akan terus mengawasi
               hasrat serta hajat hidup di dunia.

Ada senyum tersimpul saat membacanya, tapi itu tidak seperti Bapak Pucung yang kulagukan saat masih kelas  SD yang bisa kuteriakkan sambil terbahak berloncatan ke sana kemari. Ini adalah senyum yang hening, yang tenang, yang membuat hati berefleksi. Begitu juga pada Sekar Pocung yang berikutnya Makluk Halus, Abah Yoyok membawa pembaca pada suasana mistis, misteri tanpa melepaskan senyum.

Sekar-sekar yang lain, pun begitu manis, mengalir, mengayun dan mengalun, seperti sejatinya kidung. Aku tak tahu bagaimana seandainya sekar-sekar ini dilagukan dalam ketukan aslinya. Pasti sedikit beda karena Macapat-nya Abah Yoyok ini menggunakan bahasa Indonesia. Nah, mungkin kalau aku ketemu penulisnya, aku akan menuntutnya untuk rengeng-rengeng tembang-tembang ini. Mulai dari Asmaradana, ya Abah Yoyok. Kidung Cinta Kasih itu membuatku 'mumbul' pada ruang semesta. Wah.

Monday, October 06, 2014

Hal Kecil, Penting, Tapi Bukan yang Terakhir

Daun-daun Hitam, sebagai kumpulan cerpen Yuli Nugrahani dan sketsa Dana E. Rahmat, sudah dimulai dari Lampung. Caritas Tanjungkarang menjadi salah satu lembaga penting yang membuat mimpi terlaksana dan mewujudkan penerbitannya bersama Indepth Publishing. Karena penerbitan itu, Daun-daun Hitam menjangkau banyak kota di Jawa (cek http://yulinugrahani.blogspot.com/2014/09/melayang-di-atas-daun-daun-hitam.html) juga di Medan. (Buku ini sudah menjadi diskusi dan hasil diskusi dirangkum dalam resensi buku Analisadaily, Medan. http://analisadaily.com/news/read/daun-daun-hitam-yang-bercerita-tentang-kehidupan/63807/2014/09/14#) Pembaca bisa melihat link lain di blog ini untuk melihat bagaimana Daun-daun Hitam berjalan.

Di satu etape yang kecil, namun tak bisa diremehkan, adalah kembalinya Daun-daun Hitam di Lampung. Kesempatan pertama adalah dalam panggung Sekala Selampung, sebuah tausiyah kebhinekaan yang digawangi oleh Emha Ainun Najib, atau Cak Nun. Di sela aktifitas pelatihan GATK, aku melarikan diri untuk membaca Menuntut Bukti, salah satu cerpen dalam buku Daun-daun Hitam. Sabtu, 20 September 2014, di Lapangan Korpri Lampung, aku bukanlah seorang cerpenis yang baik yang mencoba bersatu dengan Cak Nun, namun aku memakai kesempatan itu sebaik-baiknya untuk mengenalkan Daun-daun Hitam. Ini agak susah dipahami oleh banyak orang, tapi aku sudah melakukannya dengan memasukkan sebagai bagian dari penghayaan Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan, yang kebetulan sedang kubuat pelatihannya pada tanggal itu.

Yang berikutnya adalah bedah buku di Asilo Hermelink pada 1 Oktober yang diadakan oleh para mahasiswa dalam KMKL. Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila itulah aku dan Dana E. Rachmat untuk pertama kali bisa bersanding berbincang tentang Daun-daun Hitam. Ini peristiwa yang menarik karena memang buku ini bukan hanya kumpulan cerpen tapi ini juga buku kumpulan sketsa. Apakah setelah ini Daun-daun Hitam masih akan melanjutkan perjalanannya. Tentu saja. Dan aku akan menumpang di atasnya.



Friday, October 03, 2014

Kandung Makna dari Tempias Hujan Kampoeng Jerami

Judul buku : Antologi Puisi 'Hujan Kampoeng Jerami'
Penulis       : Agus Hariyanto Rasjid, dkk.
Penerbit     : Komunitas Kampoeng Jerami, Sumenep
Terbitan pertama : Juli 2014
ISBN         : 978-602-70227-3-7

Apa yang menarik dari sebuah buku antologi puisi dibandingkan dengan banyak buku antologi puisi yang di Indonesia diterbitkan ratusan buku (atau malah ribuan) dalam satu tahun? Pertama-tama, karena dalam buku itu ada nama Yuli Nugrahani, namaku. Hahaha... jiah. Ya, terus terang aku tak terlalu suka membaca puisi. Aku lebih suka menuliskannya. Dan kalau aku merasakannya demikian, bisa jadi sebagian penyair lain juga merasakan hal serupa. Menulis saja, dan seringkali tidak membacanya lagi apalagi membaca puisi orang lain. Hehehe...

Jadi ada dua puisiku masuk dalam buku Antologi Puisi Hujan Kampoeng Jerami ini. Berjudul : Lengang dan Selang. Dua puisi ini bersanding dengan puluhan puisi-puisi lain dari 30 penyair dari berbagai kalangan di Indonesia maupun luar Indonesia. Ini bagian menarik yang kedua dari buku ini. Para penulisnya terkumpul dari banyak kota di Indonesia maupun luar Indonesia. Yang dari Indonesia pun terbentang dari banyak pulau mulai dari Sumatera hingga Sulawesi. Sedang beberapa penyair lain datang dari Malaysia dan Taiwan. Sebagian merupakan anak negeri ini juga, walau ada beberapa yang penyair negeri Jiran seperti Sazalee Sulaiman dan Ezah Nor.

Yang ketiga, buku ini menarik karena prosesnya diikat oleh kepercayaan yang sangat maya, dari dunia maya, facebook. Naskah dikumpulkan lewat FB, pengeditan dilakukan di sana, diskusi lewat situ juga, bahkan para relawan penggarapnya pun tidak satu kalipun bertatap muka dalam proses pengerjaannya. Hingga buku ini tersebar ke para pembaca, FB pun yang berperan.

Keempat, buku ini menampilkan tema paling sederhana yang setiap waktu menjadi inspirasi puitik siapapun yang sedang menulis puisi, entah dia itu penyair legendaris ataupun pemula, yaitu tentang hujan. Lewat buku ini hujan menjelma menjadi puluhan puisi beragam tema dan warna.  "Untuk menulis hal-hal kecil dan penuh warna dari sekian banyak perbedaan di antara kami semua," Itu dikatakan Fendi Kachonk, pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami dalam kata pengantar buku ini. Dan setelah buku ini sampai pada pembaca, mau tak mau, tempiasnya yang sejuk dan basah akan menular para para pembacanya.

Karena aku terlibat di dalamnya, aku paham bagaimana buku ini melalui perjalanan penuh dinamika. Namun karena itu juga aku bisa mencatat di bagian kelima mengapa buku ini menarik. Buku ini diluncurkan dalam sebuah acara yang sederhana di Sumenep dalam perbincangan sastra yang digelar oleh Laksamuda, segerombolan muda penuh semangat dengan mengundang komunitas-komunitas muda. Peluncuran dilakukan bersamaan dengan diskusi buku Daun-daun Hitam pada Jumat, 5 September 2014. Dari maya menjadi nyata. Seperti itulah aku memaknai acara itu. Aku beruntung karena akupun terlibat dalam kegiatan ini sehingga aku bisa merasakan buku ini tidak sekadar buku, tapi Hujan Kampoeng Jerami adalah perjalanan. Perjalanan kepercayaan yang dimulai dari dunia maya namun bisa menyata. Perjalanan ide yang terus mengalir bahkan memercikkan tempiasnya ke segala penjuru. Perjalanan manusia yang coba mendobrak kekuatan dan kemapanan kubu-kubu tokoh sastra, secara sederhana.

Ya, itulah bagian menarik keenam dari antologi puisi ini. Dia akan terus hidup dalam perjalanan mematrikan fungsi dirinya sebagai pintu bagi manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Buku ini sudah terbit, dan akan terbit yang berikutnya dari manusia-manusia pecinta kata dalam Komunitas Kampoeng Jerami. Akan ada dinamika, angin gelombang, tapi tenang saja, senantiasa ada bunga-bunga mekar wangi bahkan berteriak dari perdu atau ilalang. Let see.



Monday, September 15, 2014

DI BALIK HUJAN KAMPOENG JERAMI ADA DAUN-DAUN HITAM YANG BASAH



“Sebuah catatan proses agenda”
Peluncuran Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam
Oleh: Fendi Kachonk

“Semalam ada berapa hal yang tak aku nikmati, sembari ingin memejamkan mata, ingin terlena dibuai mimpi. Tapi, tak bisa aku kalahkan berapa pikiranku. Agenda yang aku susun hari ini, dan berapa halnya lagi aku tak mengerti datang, timbul lalu tenggelam."
“Hey, Fen!” sapa encing, seorang yang aku tak paham dari mana awalnya mengenali dan dekat sekali. Bekerja di Pos Lenteng, tempat aku ngutang duit, bahkan kadang kantor pos aku jadikan tempat aku singgah, istrihat, makan dan minum serta pernah aku jadikan kantor Pos Lenteng sebagai tempat pertemuan kecil dengan kawan-kawan kala tak menemukan tempat yang gratis saat ada acara ngumpul bareng semacam diskusi.
Jam, 6.23 WIB, aku sudah rapi, dengan berbagai daftar kegiatan hari ini. Tiba-tiba aku merasakan ada sedikit keharuan. Melihat tumpukan buku “ANTOLOGI HUJAN KAMPOENG JERAMI” lalu terbayang semua kejadian, seminggu yang lalu kami mengadakan tiga acara peluncuran buku,”Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-Daun Hitam” kumpulan cerpen seorang kawan dari Lampung.
Perempuan itu kadang aku panggil Yuli Nugrahani, Kadang juga aku panggil Kakak, tapi tak pernah aku panggil dia dengan sebutan mba’ karena aku selalu menganggap kakak, dan kurindukan kakak laki-laki dalam kehidupanku. Maklum kakak dan adikku perempuan. Oleh berapa ingatanku, aku sempat tertegun. Wajah Umirah Ramata, adikku yang ada di Taiwan, Lia Amalia Sulaksmi, Teteh, begitu biasa aku sebut dia. Tangan-tangan mereka yang mampu dan sabar selama ini berproses dengan kami, membangun Kampoeng Jerami dengan semangat, naik turun emosi dan semua luapan kejadian yang sama pernah kami alami.
Lebih kurang dari setengah bulan, aku, Yuli, Lia, dan Umirah memutar dengan cepat proses Buku “ Hujan Kampoeng Jerami” itu proses yang sebelumnya berapa bulan sempat terkendala. Tetapi, semangat yang luar biasa dari mereka membuat buku ini siap. Kemarin tepatnya seminggu yang lalu, aku mengulang kenangan, pada hari : Jum’at, 5 September 2014 kami meluncurkan bukan Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam. Di tiga tempat itu ada pos kerja yang sangat aku banggakan dengan kegigihan anak muda yang luar biasa semangatnya, aku biasa memanggilnya dengan sebutan “alek” dalam bahasa madura yang bisa diartikan ke Indonesia dengan “adik”. Ferli seorang adik yang mengawal pertemuan pembuka dan sangat takjub, agenda yang akan aku pikir akan sangat kecil tingkat kehadiran peserta malah sampai full dan tak kurang dari 50 orang jadi peserta. Tak kalah membanggakan fasilatator yang menyempatkan diri di mana kesibukannya sangat padat. K. Muhammad Muzammiel El-Muttaqien berkenan hadir dan membuat situasi hangat serta menyehatakan.
Oh, waktu begitu cepat, seminggu yang lalu itu telah berlalu, tinggal kenangan dan kumpulan semangat untuk merenda hari dengan berproses dan belajar terus masih kental di dalam ingatan. ingatan aku juga berputar pada suatu siang, setelah acara di laksamuda Sumenep kami evaluasi dengan sederhana bersama kawan-kawan, “Sukses acaramu, Fen”. Ujar kawan-kawan kepadaku. Dan pada saat itu, setelah berapa saat mengajak Yuli berputar di seputaran kota. Melihat keraton lebih dekat, dan lalu aku harus fokus pada waktu pertemuan kedua di Pondok Pesantren Putri “ Tarbiyatul Banat.” Di hape sudah ada berapa kali miskol, tepatnya telpon yang terangkat oleh K. Ali Faruq. Sesampai di rumah, aku masih mencuri pandang pada wajah Yuli yang masih kerap tersenyum dan siratan letih mulai ada. Tapi, aku memang sangat kejam ketika sudah fokus. “Yuk, Yul. Kamu boleh mandi atau cuci muka sebentar lagi kita berangkat.” Kataku pada Yuli dan Yuli tak ada komentar hanya menuruti. Ih. Maaf ya, Yul. Bisikku dalam hati.
Lalu teringat pada kawanku yang sangat luar biasa dalam membantu aku selama ini. “Sigit, kamu di mana?” Bathinku. Aku SMS Moh Ghufron Cholid. Lalu mereka berdua segera sampai di rumah, Sigit selama ini begitu sangat peka mengambil peran-peran penting yang tak bisa aku lakukan sendiri. Karena memang ketika dalam ruangan, aku tak bisa ada di dua keadaan, moderator dan mengambil dokumentasi. Maka Sigit sangat sigap mengambil peran itu dan memainkannya dengan mulus. Temanku yang satu ini memang luar biasa, dia bisa memahami gerak dan kebutuhanku tanpa aku harus ngomong. Jiwa senimannya yang seorang pelukis, pemusik dan penulis mengasah kepekaannya selama ini. Terima kasih banyak cuy.
Siang itu, dengan rasa yang mulai letih, oleh sebab sebelum masuk pada kegiatan di Sumenep, kami berlima, aku, Yuli, Gufron, Jailani, dan Ferli adikku ini masih juga berdiskusi di Asta Tinggi, membaca puisi dan cerpen dilanjutkan ke Taman Bunga Sumenep dan tentu kami ngopi bareng demi merayakan satu keindahan dengan cara sederhana, lesehan di Taman Bunga.
“ K. Faizi apa bisa rawuh, Fen?” Tanya K. Ali Faruq. Dan, aku mulai kebingungan ada yang lepas dari ingatan untuk mengkomfirmasi ulang ke K. Faizi. Beliau aku sms, aku telpon dan belum ada jawaban. Tapi, selang berapa menit kemudian. “saya sudah siap-siap mau berangkat.” Sms di hape jadul saya memberiku telaga yang bening oleh konfirmasi K. Faizi tersebut.
Aku berjudi dengan waktu, sesegera mungkin acara segera kami mulai, Nyai Ulfah sebagai MC mulai mengatur acara dan memperkenalkan Yuli Nugrahani, Ufron dan Sigit telah bertindak sebagai penyokong keberhasilan acara di sana. Sampai pada sesi acara diskusi dan bedah buku, “Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun hitam.” Aku memandu. Sambil menunggu kedatangan K. Faizi, aku dan Yuli memberi semangat kepada santri perempuan untuk menulis, menulis apapun, mulai dari sekarang dan jangan ditunda, itu inti dari yang kami sampaikan berdua.
Wow, mataku dan Yuli tak berkedip melihat K. Ali Faruq membacakan puisinya dan sangat luar biasa, aliran energi di ruangan itu jadi hangat sekali. Aku merasakan ada di tempat yang membakar seluruh badanku. Yah, oleh semangat yang buncah. Sekitar 15-20 menit K. Faizi sudah bergabung bersama kami. Beliau dengan lembut, serta humor yang manis memberikan suasana yang luar biasa jadi gurih dan renyah. Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah mau magrib. Akhirnya usai sudah agenda. Kami akhirnya berpamitan, terlebih dahulu aku berterima kasih kepada K. Faizi dan akhirnya beliau pamit undur diri lebih awal karena persoalan pesantren yang sudah menunggu beliau. Di Tarbiyatul Banat inilah, dulu aku mengenal K. Faizi,  sewaktu beliau jadi Juri baca Puisi Tingkat Madura dan kebetulan saya jadi di antara pemenangnya. Pada waktu itu, K. Mursyid begitu aktif dan hatiku kembali berbisik. Mari kita gairahkan kembali K. Mursyid. Serupa doa aku lepas dengan memandang langit.
Moncek sudah diselimuti malam, sampai juga di rumahku, Taman Baca Arena Pon Nyonar, taman baca sekaligus tempat aku menulis dan membaca. Yuli sudah aku lihat kuyu, hanya binar matanya masih berbicara, tepatnya, sok kuat dan masih bergairah. Sedang geraknya mulai lamban. Aku meminta Sigit menemaninya. Sedang aku pura-pura menemani Surga hanya untuk sebentar memberi lelap pada mataku. Ah, akhirnya kami dapat telpon dari adikku. Hasmidi Ustad ketua Sanggar Rakyat Merdeka dulu kami berproses bersama di sana. “Kak, Kawan-kawan KKN INSTIKA putri sudah ngumpul. Mariklah mohon dicepatkan rodanya.” Aku tersenyum dengan bujukan manis adikku yang kemari jadi lulusan terbaik di sebuah perguruan tinggi di kotaku ini. Dan, mereka paham, dalam keletihan mereka tak akan mendesakku, kecuali membujukku denganku lembut. Aih. Ah. Lebay kau, Ffen. Biarin. Hehe.
Bukan karena ada Yuli di motorku. Tapi, memang dalam setiap segala suasana, aku biasa menyanyi waktu naik motor, waktu apapun, apalagi saat letih dan capek. Aku biasa menghibur diriku. Inilah cara paling hemat untuk kembali melonggarkan syaraf-syaraf otakku. Dan memang luar biasa, berasa semangat, berasa muda dan lagi, dan yang paling hebat jarak tempuh tak terasakan sama sekali. Sedang yang aku bonceng mungkin telah hidup dengan dunianya. Melamun dan bisa jadi sedang bilang, “Neh, anak kok gila ya?.” Maka, sampai pada tempat itu, tepatnya acara ketiga kami sangat menarik dan sangat tak kalah unik dan menggemaskannya sama dengan dua acara sebelumnya. Yuli jadi magnit, dan pembicaraan mulai soal tulis menulis sama seperti jarum jam yang terus berputar. Bergantian. Hasmidi, Ufron dan Mahasiswi membacakan Kumpulan Puisi Hujan Kampoeng Jerami dan Yuli Membacakan satu cerpennya dari kumpulan cerpen Daun-daun Hitam. Sampai akhirnya Yuli menutupnya dengan pantun yang tak kalah legitnya.
Kami pulang, Jailani, Ufron, Sigit, aku dan Yuli sampai juga di rumahku. Yuli bertanya, “Fen, kita berangkat jam berapa ke Surabya? Yang pasti saya harus sampai di Kediri sekitar jam 8 atau paling telat jam 9 karena aku harus meminta sarapan kesukaanku pada ibu. “Jam 11.30 “. Jawabku. “Oke” kata yuli. “Kalau begitu aku aktifin alarmku ya?”. Tapi, setelah jam 11 malam ke setengah jam selanjutnya tak ada tanda Yuli bangun, dan aku paham pasti dia capek kataku.
Sampai jam 12 malam aku gugah. “Kak, Kak. Jadi pulang malam ini” suaranya parau. “Iya,” katanya. Dia pun keluar dari kamar dengan masih melipat wajah dengan bentuk persegi empat. Aku tersenyum. Di hatiku membantin, kau tak sempat makan nasi jagung, sate madura, dan legen. Tapi, aku juga merasakan keletihan, bagiku. Dan Yuli, mengingat masa muda jadi waktu masih disebut aktifis jalanan, kami akhirnya bergerak ke Prenduan. Yuli dan aku. Sigit dan Ufron melaju dan menerebas dingin desa-desa kami.
“Uiy, Fen!” encing mengagetkan aku. “Melamun saja dari tadi” lanjutnya dan ternyata aku melamun di kantor Pos Lenteng. "Eh, Cing, duitku tak cukup neh, aku hanya ada 150 ribu. Ngutang dulu boleh gak?” kataku pada encing si pegawai Pos itu.
“Boleh, apa yang tidak untukmu, Fen.” Aku tersenyum dan semua mengalir bersama dengan waktu, proses kami baru mulai dari buku Hujan Kampoeng Jerami membuat kami sadar. Bahwa hidup akan selalu terus berlalu, dan aku bagian orang yang tak mau diam tanpa melakukan sesuatu. Aku tak mau menunggu, bergerak dan belajar bersama, tersenyum dan bergembira. Inilah aku. Inilah kami yang sangat bahagia dengan proses sederhana kami. Mari terus menulis. Mari saling mendukung. Tak semudah membalikkan telapak tangan, semuanya butuh proses. Dan kuatlah wahai seluruh teman-temanku.
Demikian, terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung Kampoeng Jerami.

Sunday, September 14, 2014

Melayang di atas Daun-daun Hitam

Ini adalah cerita bagaimana sebuah buku bisa mencari pemenuhannya sendiri. Aku menganggapnya sebuah sebagai tahap lanjut usai meluncurkan sebuah buku. Daun-daun Hitam, kumpulan cerpen Yuli Nugrahani dan sketsa Dana E. Rachmat, membawaku sebagai penulisnya melakukan perjalanan-perjalanan tak terbayangkan sebelumnya. Satu etape sudah terlaksana bersama Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang Selatan pada bulan Agustus. Lalu awal September ini, aku terbawa buku ini pada banyak komunitas di beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. (Secara khusus aku mesti berterimakasih pada Pernas KKP-PMP KWI, Jogja 8 - 12 September yang memungkinkan aku melakukan perjalanan ini. Tanpa event ini mokal bagiku untuk mendapatkan pintu-pintu ini.)

1. 4 - 5 September yang padat.
Bersama pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami, aku dibawa pada persahabatan asyik. Membaca puisi dan cerpen di Asta Tinggi, lanjut diskusi hangat di Taman Bunga, Sumenep, hingga dini hari. Lalu paginya bersama Laksamuda hingga Jumatan, memutari Keraton Sumenep sebagai selingan, dan berlanjut ke Pondok Pesantren Kak Ali yang keren. Malam ditutup bersama mahasiswa KKN di Lenteng Sumenep sebelum perjalanan limbung ke Bungurasih.


2. 7 September yang hangat.
Ya, tentu saja hangat. Siang jam 2 bertemu beberapa sahabat lama di Kafe Tjangkir 13 plus sahabat-sahabat baru di Malang. Bicara tentang buku, siapa yang bisa menolaknya? Gara-gara Aji Prasetyo, seorang komikus dan pemilik kafe ini, kami semua tergiring memperbincangkan orang gila. Terus begitu sampai jam 5 sore. Aih, kami ini rupanya orang gila yang keren. Hehehe...


Lalu malam, masih di tanggal ini, ternyata urusannya dengan sahabat lama dan baru juga dalam pertemuan ke 40 Komunitas Pelangi Sastra Malang di Warung Kelir. Super keren. Aku, eh Daun-daun Hitam, mendapat kesempatan semacam itu. Bersama seorang komikus Aji Prasetyo, seorang penulis cerpen yang dosen Fak. Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, Yusri Fajar. Dan juga si keren owner Warung Kelir yang menawarkan warungnya bagi kegiatan-kegiatan seperti ini, Bachtiar, si teman lama.

 3. 12 September yang asyik.
Sebenarnya juga masih soal sahabat-sahabat. Kali ini warung di lantai 3 Mirota Malioboro yang kebagian kehangatannya. Aku begitu tersanjung. Apalagi yang lebih menyenangkan daripada ngobrol, nge-mob, bersama para sahabat dalam bungkus Daun-daun Hitam? Finish, Nugroho dan Emil, Rinda, Kiram dan temannya. Itu asyik banget.

Hmmm, aku menuliskannya sebagai pengingat. Suatu waktu aku akan menulis detail dari setiap pertemuan ini, karena aku tak mau melupakan barang sejengkal pun. Terimakasih, teman-teman. Terimakasih sudah memberi kesempatan pada Daun-daun Hitam untuk melayang di pintu persahabatan kalian. Salam.

Monday, September 01, 2014

Dua Wajah Manusia dalam Antologi Cerpen dan Sketsa Daun-daun Hitam



(Diambil dariKompasiana)

Ditulis oleh Alexander Aur Apelaby
 
“Aku rindu suara beruk dan burung rangkong di Gunung Betung. Aku benar-benar ingin pulang sekarang.” – Cerpen “Daun-daun Hitam”.
“Sikin telah memilih tanah-tanahnya sebagai simbol atas hak hidup. Kini simbol itu direnggut begitu saja oleh papan putih sepele yang menandai area itu sebagai milik negara. Dia tidak diakui sebagai pemilik padahal dia lahir dan besar dari tanah itu, dan mendapatkan harga diri dari tanah itu. Padahal, dari kecil dia biasa membaui tanah itu sebagai bagian hidupnya, sebagai haknya.” – Cerpen “Belum Kalah”.
1409403489113710896
Antologi cerpen dan sketsa yang mampu menyingkapkan dua wajah manusia.
Bila dibanding dengan bentuk-bentuk karya manusia yang lain, kesenian merupakan bentuk karya yang lebih memadai untuk mengungkapkan problem-problem yang berkaitan dengan kedirian manusia. Kesenian – yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah cerpen dan sketsa – merupakan jalan yang lentur yang ditempuh baik oleh pengarang maupun penikmat sastra untuk menelusuri lorong dan labirin diri manusia. Sudah barang tentu, bentuk, isi, dan bahasa dari kesenian dalam konteks menelusuri kedirian manusia ini, tetap menjadi hal-hal yang penting dalam karya sebuah sastra. Hal-hal itu tetap penting untuk diperhatikan baik oleh pengarang, perupa, pelukis dan penikmat kesenian karena kedirian yang terwahyukan sebuah karya seni dapat terwujud apabila terjadi kombinasi elegan antara bentuk, isi, dan bahasa. Boleh dikatakan bahwa ketiganya merupakan “trisula kesenian” yang mampu menyingkapkan atau mewahyukan problem-problem kedirian manusia.
Kiranya tidak berlebihan, apabila “trisula kesenian” itu mewujud dalam antologi cerpen dan sketsa Daun-daun Hitam karya Yuli Nugrahani dan Dana E. Rachmat, yang diterbitkan Idepth Publishing bekerja sama dengan Caritas Tanjung Karang tahun 2014. Dua pegiat kesenian (seni sastra dan seni rupa) ini mampu mewahyukan kedirian manusia melalui karya-karya mereka dalam antologi ini. Dalam testimoni tertulis ini, saya tidak akan mengupas mengenai “trisula kesenian”. Tulisan ini lebih berfokus pada “dua wajah manusia” yang terwahyukan dalam antologi ini.
Kupasan yang bersifat testimonik terhadap antologi ini menggunakan pisau kupas fenomenologi manusia. Tanpa mengabaikan pisau kupas-pisau kupas yang lain, pisau kupas fenomenologi merpakan salah satu pisau kupas yang mampu menjembatani jarak tegas antara pengupas dan apa yang dikupas. Kupasan ini bisa dilakukan oleh pengupas sejauh karya (yang dikupas) memberi kemungkinan untuk dikupas. Artinya, dalam proses pengupasan, terjadi “fusi horizon” antara horizon pengupas dan horizon dalam karya yang tersingkapkan oleh karya itu sendiri. Tentu, kupasan ini terbuka bagi kritik, baik dari kedua pegiat seni yang karyanya dikupas di sini, dan dari penikmat atau kritikus seni lainnya. Kritik merupakan bentuk dari apresiasi dan perluasan-penambahan wawasan dalam bidang kesenian. Kritik yang demikian bertumpu pada argumentasi-argumentasi rasional yang terbangun dalam kritik yang tersampaikan.
Wajah Eksistensial Manusia
Antologi cerpen dan sketsa Daun-daun Hitam dibuka dengan sketsa “Pak Lik Wagimin, Puncak Betung, 21 April 2007” dan cerpen “Daun-daun Hitam.” Pada sketsa, tampak sosok laki-laki mengenakan ikat kepala, berbaju lengan panjang, selembar kain terlilit di pinggangnya, bercelana panjang gombrong, bersepatu boot, kedua tangaanya bertumpu pada sebilah tongkat yang tertancap ke tanah. Kaki kiri sosok ini agak maju, layaknya orang yang sedang berdiri santai. Matanya menatap ke depan. Di bagian depan di dekat kaki, seonggok benda-benda berupa bilah-bilah papan dan kayu yang terbakar. Sketsa ini menyingkapkan kepada publik (penikmat atau kritikus) sosok orang desa (kampung) yang menjalani hidup sebagai petani. Sosok ini dikuatkan dengan keterangan yang menjadi judul sketsa. Sekurang-kurangnya dua ikon yang menandakan sosok orang desa yang bekerja sebagai petani, yakni “Pak Lik” dan “Puncak Betung.” Kata “Pak Lik” meskipun digunakan juga untuk orang-orang kota untuk memanggil seseorang yang menjadi kerabat (adik bapak), tetapi kata ini lebih sering digunakan dalam komunitas masyarakat pedesaan. Panggilan “Pak Lik” memancarkan rasa dekat dan rasa hormat. Rasa dekat dan rasa hormat ini dalam arti emosional dan bukan dalam arti jarak spasial dan karena jabatan.
Dari perspektif sosiologis, rasa dekat dan rasa hormat yang demikian memang menjadi ciri masyarakat pedesaan. Rasa dekat dan rasa hormat ini menjadi ciri dari keguyuban masyarakat desa. Api yang membakar bilah-bilah kayu dan papan juga merupakan ciri dari kehidupan masyarakat desa. Membakar kayu atau daun-daun adalah aktivitas rutin yang dilakukan petani-petani di desa. Kedesaan tersingkapkah melalui penggunaan kata yang menunjukkan tempat, yakni “Puncak Betung.” Sangat jarang kita mendapat “kekotaan” di daerah puncak gunung. Bahkan kedesaan yang terpancar melalui sketsa itu dari sosok laki-laki dalam sketsa. Di sini kita mendapatkan sebuah kepastian tentang apa yang pernah dikatakan oleh Romo V. Kirjito bahwa, “desa adalah ibu dari kota.” Kedesaan ibu yang melahirkan kekotaan. Kedesaan dari sebuah desa mengandung dua hal mendasar, yakni ruang geografis dan momen untuk kembali akar (kembali ke asal-usul).
Ruang geografis dan momen kembali ke akar ini termaktub pula dalam cerpen berjudul “Daun-daun Hitam.” Cerpen ini dibuka kalimat “Aku rindu suara beruk dan burung rangkok di Gunung Betung.” Kalimat ini diulangi lagi oleh narator setelah dialog antara suami dan istri (dua tokoh dalam cerpen ini). Pengulangan kalimat tersebut ditempatkan oleh narator sebagai sebuah interupsi sang istri terhadap suami. Kalimat itu sangat signifikan baik bagi narator dan suami, sehingga dalam teks kalimat itu dicetak miring.
Hal signifikan yang tersingkapkan dari kalimat itu adalah bahwa Gunung Betung adalah ruang geografis dan momen kembali ke akar. Signifiksi itu secara metaforis digambarkan oleh narator sebagai “daun-daun hitam.” Metafora ini merupakan ungkapan eksistensialistik tentang ruang geografis dan momen kembali ke akar. Kita bisa melihat hal ini dalam kalimat dialog para tokoh cerita dan narasi narator di bawah ini:
“Yang ini ringan.” Kataku tentang kotak keempat.
“Daun!” Istriku terpekik pelan begitu kotak besar itu terbuka. “Bapak masih menyimpannya.”
Segala jenis daun kering ada di situ. Sebagian telah membusuk berjamur karena kota itu bukan kotak penyimpanan yang aman.
“Aku bakar saja. Ini pasti sisa eksperimen bapak. Waktu ke Gunung Betung terakhir kali, bapak membawa daun-daun kakao sangat banyak. Di sini rupanya.”
Istriku menyeret kotak itu menjauh ke halaman samping rumah. Membolak-balik daun-daun itu dengan tangannya, dilakukan berulang kali, tak lagi memperhatikan aku membuka kotak-kotak berikutnya.
“Mas, apakah kita bisa pulang dalam waktu dekat?” Di tangannya ada selembar daun coklat berwarna kehitaman, berjamur. Wajahnya tidak berpindah dari tumpukan daun-daun itu.
“Kita lihat saja nanti. Semoga.”
“Aku berharap mendengar lagi bunyi beruk, burung-burung atau apa sajalah di sana. Semoga Gunung Betung masih dirawat oleh penduduk sekitar dan para pendaki. Tidak apa-apa jika ada banyak pacet, bahkan menempel di kakiku, tapi kita harus kembali ke sana lagi suatu ketika, secepatnya.”
Ruang geografis dan momen kembali ke akar merupakan dua hal yang signifikan bagi manusia. Dalam kedua hal itu, terletak gairah eksistensial manusia. Dalam dua hal itu, gairah eksistensial bisa merupakan sesuatu yang menggembirakan, bisa juga merupakan sesuatu yang mencemaskan. Kegembiraan dan kecemasan kental dalam dialog di atas. Kecemasan tersingkapkan melalui metafor daun-daun hitam yang terbakar. Kegembiraan tersingkapkan melalui harapan untuk mendengar lagi bunyi beruk dan burung rangkok atau burung-burung lainnya.
Orang sudah lama meninggalkan tanah asal-usulnya dan bermukim di tempat lain mengalami pengalaman “tercabut” dari akarnya. Ketercabutan itu mengental dalam diri manakala ia rindu kembali ke sana. Ketercabutan merupakan gerak menjauh dari tanah. Ada jarak tegas yang bersifat spasial-temporal dan emosional antara tanah asal dan tanah dan tanah perantauan. Kerinduan untuk kembali merupakan gerak mendekat ke tanah asal. Ketercabutan dari akar dan kerinduan kembali ke akar adalah wajah eksistensial manusia perantau. Manusia perantau adalah manusia melakukan gerak menjauh dan gerak mendekat. Inilah wajah eksistensial manusia perantau.
Dari perspektif fenomenologis, relasi gerak menjauh dan gerak mendekat bersifat korelatif. Keduanya merupakan hal-hal mendasar diri manusia. Sama seperti pergi dan pulang, demikian pula menjauh dan mendekat merupakan fenomen khas manusia. Ini yang dilakukan oleh manusia dalam hidupnya. Dalam perspektif religius, keberadaan kita di dunia adalah sebuah modus merantau dari tanah Tuhan dan akan kembali lagi ke tanah Tuhan. Dalam momen itulah kegembiraan dan kecemasan selalu menjadi hal eksistensial dan fundamental diri manusia.
Wajah eksistensial manusia seperti yang diuraikan di atas, tampak dalam sketsa-sketsa dan cerpen-cerpen lain dalam antologi ini. Kita bisa menangkap wajah eksistensial manusia itu, misalnya dalam sketsa-sketsa yang berjudul: “Secuil Asa di Malam Haji, 3 Maret 2009”, “Makam Ayah, 12 September 2007”, “Kasih Ayah, Selat Sunda, 29 Juli 2007”, “Pohon Mati yang Berkaki, 19 Agustus 2007”, dan “Terpetik di Tengah Arus Jaman, 17 Oktober 2006.” Wajah eksistensial juga terwahyukan dalam cerpen-cepen lain: “Pasien”, “Adenita”, “Pada Hari Pemakaman”, Sekandhi Gabah, Sebungkus Gula Kopi, Sekilo Telur”, dan “Hanya Penari.”
Wajah Politis Manusia
Beberapa cerpen yang ditulis Yuli Nugrahani dan sketsa-sketsa yang digurat Dana E. Rachmat menampilkan pula manusia sebagai makhluk politis. Wajah politis manusia termaktub dalam cerpen-cerpen Yuli, antara lain “Pasien”, “Penghakiman”, “Menuntut Bukti” “Belum Kalah”, “Mak Unti” dan “Namanya di Dunia Maya.” Sedangkan sketsa-sketsa wajah politis manusia tampak dalam judul-judul: “Senyum si Mbok Penjual Kain, Kintamani, 11 Juli 2007”, “Menunggu Kereta di Stasiun Turi, 28 Juli 2008”, dan “Tatap Pedagang Asongan di Pagar Bromo, 27 Juli 2008”.
Dalam cerpen “Pasien” wajah politis manusia hadir melalui simptom-simptom yang dialami oleh tokoh Adel. Kepergian Dandri melahirkan dalam diri Adel keinginan yang begitu kuat untuk bunuh diri. Perpisahan antara Adel dan Dandri adalah kesepakatan mereka berdua. Pemicu perpisahan – lebih tepat kepergian Dandri – itu diawali dari kesibukan Adel di dunia politik. Partai, pemilu, tim sukses, dan kampanye telah menyita banyak waktu Adel sehingga ia tak mempunyai waktu untuk memperhatikan atau melakukan hal-hal remeh yang menautkan dirinya dan Dandri. Kenyataan yang dihadapi Adel sekarang adalah Dandri sudah pergi dari dirinya.
Kepergian Dandri dan perpisahannya dengan Dandri lahirkan mimpi-mimpi buruk dalam tidur Adel. Mimpi-mimpi buruk Adel dalam “Pasien” mengingatkan kita pada apa yang disebut Freud sebagai konflik antara berbagai daya psikhis dalam diri manusia, yakni id, ego, dan superego. Id merupakan lapisan psikhis manusia yang paling dasariah. Dalam lapisan ini, eros (naluri kehidupan) dan thanatos (naluri kematian) bekerja. Ego merupakan hasil dari kontak antara id dan dunia luar. Ego adalah diri yang sadar. Ego terwujud melalui berbagai persepsi dan proses intelektual. Sedangkan superego merupakan hasil internalisasi atas berbagai nilai yang diterima seseorang dari lingkungan budaya tempat ia hidup dan berkembang.
Eros Adel tampil melalui aktivitas ego Adel dalam ranah politik. Partai dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengannya yang dilakukan Adel adalah representasi dari eros. Eroslah dasar dari kebudayaan yang selanjutnya dikonstruksikan secara rasional oleh ego. Politik dan aktivitas politik yang dilakukan Adel dan orang-orang lain merupakan suatu bentuk kebudayaan dan pembudayaan. Politik dan aktivitas politik adalah wujud konkrit dari ego dan eros. Seluruh praktik kebudayaan dan proses pembudayaan di ranah politik melibatkan pula superego, yakni nilai-nilai etis yang sering diudarkan oleh lingkungan masyarakat sebagai pedoman.
Tetapi rupanya Adel juga dibayang-bayangi oleh thanatos (naluri kematian) melalui dorongan untuk bunuh diri. Dalam diri Adel, thanatos berjibaku dengan eros, ego, dan superego. Jibaku itu tampak dalam wujud fisik yang diamali Adel ketika mengalami mimpi-mimpi buruk: Mimpi menempuh jalan tol buntu, jalan setapak, jalan berlumpur, naik turun sehingga saat ia bangun dari tidurnya, Adel mendapati badannya basah kurup oleh keringat; Mimpi berada dalam gua dan supaya bisa keluar dari gua itu dengan selamat ia harus membuat api ungguh dari uang tumbuh di dinding gua. Hal itu membuat Adel terbangun dengan napas tersengal-sengal; Mimpi menangis bersama dua anak laki-lakinya di hadapan sesosok mayat, padahal Adel tidak mempunyai anak. Adel sungguh-sungguh menangis dalam tidurnya sehingga basah ujung bantalnya.
Dalam “Pasien” wajah politik manusia bersifat psikologistik. Wajah politis manusia terepresentasi melalui tokoh Adel yang mengalami komplikasi psikologis. Kepergian Dandri dan perpisahannya dengan Dandri merupakan triger (pemicu) yang mampu mengangkat ke permukaan patologi-patologi psiko-politik yang tidak pernah disadari oleh Adel. Bahkan, tak jarang dalam hidup konkrit sehari-hari, khusus dalam ranah politik riil, praktik-praktik politik yang dijalankan oleh para politisi merupakan perwujudan dari patologi psiko-politik yang mereka alami.
Cerpen “Belum Kalah” menyodorkan kepada pembaca dua jenis antropologi, yakni antropologi politik dan antropologi budaya. Kedua jenis antropologi ini berciri politis. Kedua jenis antropologi itu bertemu dalam satu medan yang sama yakni: tanah. Atas nama mengembalikan tanah negara dan berdasarkan hukum yang berlaku, Kades yang masih muda belia memaksa lelaki tua yang bernama Sikin dan warga desa lainnya untuk mengembalikan tanah yang sudah puluhan tahun menjadi “rumah” mereka. Wujud konkrit pengembalian itu adalah pemerintah melalui Kades, memberikan uang lima juta kepada setiap warga. Uang itu juga sebagai bentuk kepedulian pemerintah kepada warga. Tokoh Sikin menolak patologi psiko-politik yang diidap Kades muda. Penolakan didasarkan pada keyainan bahwa tanah simbol atas hak hidup. Ia dan warga desa lain lahir dan besar di tanah itu, mendapat harga diri dari tanah itu. Bahkan semasa kecil, Sikin biasa membaui tanah itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai haknya.
Cerpen “Belum Kalah” mengangkat persoalan manusia dan tanah sebagai masalah politik. Dalam konfigurasi politik pembangunan, negara selalu menempatkan rencana dan proses pembangunan dalam tajuk “demi kepentingan umum.” Atas dasar tajuk itu, tanah-tanah yang sebelumnya menjadi bagian dari diri rakyat, sering kali diambil secara paksa “demi kepentingan umum.” Tanah yang semula adalah rumah kehidupan mereka, sering kali dikuasai secara paksa oleh negara.
Pertanyaan lanjutan yang muncul kemudian adalah apakah rakyat lebih dulu ada atau negara lebih dulu ada? Kades dan Sikin adalah dua tokoh yang saling mempertaruhkan jawaban melalui sikap yang mereka tunjukkan. Argumen Kades adalah bahwa tanah-tanah yang dipakai oleh Sikin dan orang-orang sekampungnya merupakan tanah yang dipinjamkan negara kepada mereka. Sudah saatnya negara mengambil kembali tanah itu. Sebagai bentuk perhatian negara terhadap warganya, maka Sikin dan orang-orang sekampungnya diberi uang. Argumen Kades menunjukkan bahwa Sikin dan orang-orang sekampungnya adalah warga negara. Oleh karenanya harus tunduk terhadap negara. “Warga negara” adalah sebuah konsep antropologi politik yang lahir bersamaan dengan adanya negara. Secara fenomenologis, hubungan antara negara dan warga negara adalah korelatif. Antropologi politik seperti ini terkandung dalam argumen Kades. Eksistensi warga negara (citizen) dan negara hadir bersamaan.
Sikin mempunyai pendirian yang berbeda dengan Kades. Bagi Sikin, tanah yang mereka tempati selama ini, merupakan bagian dari diri mereka, menjadi rumah mereka. Oleh karena itu, hubungan mereka dengan tanah adalah hubungan kebudayaan. Di atas tanah itu mereka mengembangkan diri mereka sebagai makhluk berbudaya. Oleh karena itu, mereka menolak bila tanah itu dikuasai oleh negara. Argumen Sikin menunjukkan sebuah antropologi budaya. Dalam kerangka antropologi yang demikian, eksistensi Sikin dan orang-orang sekampung adalah rakyat dan bukan warga negara. Eksistensi rakyat (populi/people) hadir lebih dulu.
Cerpen “Belum Kalah” mengeksplisitkan dua jenis antropologi, yakni antropologi politik dan antropologi budaya. Antropologi politik terepresentasi dalam tokoh Kades. Antropologi budaya terepresentasi dalam tokoh Sikin. Dalam konstelasi politik modern, dua jenis antropologi ini silih berganti bertarung dalam arena politik riil.
Antropologi politik dan antropologi budaya juga tampak dalam sketsa “Tatap Pedagang Asongan di Pagar Bromo.” Bromo adalah wilayah pariwisata yang ditetapkan melalui keputusan-keputusan politik. Yang dimaksudkan dengan keputusan politik di sini adalah keputusan pemerintah yang bertajuk “demi kepentingan umum.” Pedagang asongan adalah representasi manusia ekonomi. Praktik ekonomi pedagang asongan tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga sebagai strategi budaya. Tindakan ekonomi sebagai modus operandi keberbudayaan manusia.
Membaca cerpen-cerpen dan mencerna sketsa-sketsa dalam Daun-daun Hitam, pembaca akan menemukan sekurang-kuranganya dua wajah manusia, yakni wajah eksistensial dan wajah politis. Inilah kekuatan antologi ini.

Monday, August 25, 2014

Daun-daun Hitam di antara Semarak Halal Bihalal KSI Tangsel

Sebuah kesempatan manis kudapat pada Minggu, 24 Agustus 2015. Aku membaca salah satu cerpenku dalam Daun-daun Hitam yang berjudul "Pada Hari Pemakaman" dalam Halal Bihalal Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang Selatan. Kebetulan acara KSI ini mengambil tema Kemerdekaan dalam Perspektif Sastra dengan mengundang komunitas-komunitas seni dan budaya yang ada di Tangerang Selatan dan sekitarnya. Mereka menampilkan puisi, musik dan juga hadir pembicara, Abah Yoyok dan Ahmadun Yosi Herfanda.

Aku memilih cerpen ini karena cerpen ini kuanggap bisa mewakili satu semangat dasar dalam pengerjaan buku ini, yaitu : cinta. Cinta yang kekal, yang bahkan membuat gila.

Malamnya, diskusi berlanjut di kediaman Tika D. Pangastuti bersama KSI. Aku bisa cerita sedikit tentang prosesku dalam penulisan cerpen, khususnya dalam buku Daun-daun Hitam.

Seluruhnya, aku menikmati perjumpaan dengan teman-teman di KSI Tangsel ini. Terimakasih banyak atas penerimaan dan keterbukaan yang sudah diberikan padaku.

Saturday, August 09, 2014

Kumpulan Cerpen Yuli Nugrahani dan Sketsa Dana E. Rachmat : Daun-daun Hitam

Berisi 12 cerpen Yuli Nugrahani dan 12 sketsa Dana E. Rachmat. Ditulis pada halaman v bahwa buku ini diterbitkan untuk menghormati kesejatian manusia yang memiliki keragaman cara pandang, budaya, etnis dan keyakinan dalam keutuhan Indonesia dan semesta.

Tentu saja ajakan-ajakan tidak dikatakan secara langsung, karena "Daun-daun Hitam" sebenarnya hanyalah sisa pembakaran. Abu yang tertabur di bumi, yang bagi kebanyakan orang layak untuk diinjak dan dilupakan.

Mengapa Yuli Nugrahani dan Dana E. Rachmat mengumpulkannya dalam buku ini? Karena kesederhanaannya yang memikat. Karena begitu sepelenya sehingga orang tak akan mungkin meliriknya. Karena begitu kecilnya sehingga orang tak mau mendengarkannya.

Buku ini adalah cara kecil untuk mengabadikannya.