Friday, January 29, 2016

Permintaan

Baru pulang kerja, Albert mengingatkan bahwa dia akan beli HP dengan uangnya dan kekurangan uangnya akan meminjam padaku. Spontan aku melotot.
"Tunggulah sebentar. Ibu baru sampai rumah. Belum makan, belum istirahat. Kau juga belum makan, belum ganti baju."
Wajahnya yang cemberut akan memprotes, tapi aku yakin mataku sudah semakin membesar sehingga dengan terpaksa, sambil menggerutu kukira, dia masuk kamar, dan keluar dengan baju bermain. Mengambil nasi 'pura-pura' makan, dia ambil hanya seporsi kecil yang bahkan dimakan seekor kucing pun tak akan kenyang.
Sekarang wajahku pasti sudah tertekuk. Dan lebih-lebih lagi ketika dia datang dengan pertanyaan tunjebpoin.
"Gimana, bu? Boleh?"
"Ibu masih memikirkannya. Nanti dulu."
Bapaknya memelototi aku. Ya, aku tahu nadaku terlalu tinggi untuk menjawab hal sepele itu.
Jadi aku menghaluskannya.
"Kalau Albert tanya sekarang, jawaban itu sudah pasti : TIDAK. Tapi sabarlah. Biar ibu mikir dulu. Mas Albert bagian menyenangkan hati ibu. Melakukan apa kek."
"Apa yang bisa membuat ibu senang?"
"Entah. Apa kek. Beliin bakso atau apa."
"Aku ndak punya uang."
Hehehe... ya. Ibu tahu. Jadi aku makan dengan santai lalu membuka laptop, mencari-cari jenis dan harga HP. Bapaknya menemaniku sambil ngelus-elus tangan seperti bilang,"Sabar, bu. Sabar." Hehehe... Kuserahkan ke bapaknya aja. "Cari deh, yang seperti apa."
Aku masuk kamar, sampai kemudian Albert teriak-teriak lagi.
"Bert, ini duit tabungan Albert. Yang ini sumbangan ibu. Terus yang di amplop ni, ini ibu utangin. Pergi sama bapak sana. Jika tak mendapatkan yang seharga uang ini, ndak usah beli. Pakai saja HP ibu atau beli HP bapak."
Ahhh, wajahnya sudah sebulat bulan purnama yang merekah. Mengambil uangnya dan menciumku beberapa kali. Aku tidur.
(Tadi pagi aku tanya : Mana HPnya? Dia jawab : Belum jadi beli.)
Ealah.

Thursday, January 28, 2016

Apakah Kafe Memang Bisa Dinikmati untuk Sastra? Seni?

Sabtu lalu (23 Januari 2016) aku ikut dalam acara yang digelar Udo untuk buku Lampung Tumbai, yang ditulis oleh Frieda Amran. Kebetulan Frieda datang ke Lampung, jadi acara itu menjadi ajang bagi 'Frieda lover' untuk ngobrolin Lampung. Aku mengira kalau yang menyebut Frieda Lover itu adalah mereka yang menyukai tulisan-tulisan Frieda di Lampung Post sejak 2014.

Tulisan-tulisan tentang Lampung di masa lalu ditulis ulang oleh Frieda dari dokumen-dokumen yang ada di Belanda. Dan memang tepat sekali hal itu ditulis oleh Frieda, seorang antropolog yang penyuka sejarah, dan penulis sastra. Tepat. Sehingga tulisan yang dihasilkan untuk Lampung Tumbai bukanlah tulisan terjemahan semata, tapi menjadi ramuan yang menarik dan unik.
Kafe Dawiels, foto oleh...hmmm ini ngambil dari fb.

Nah, acara 'ngobrol' ini dilakukan di kafe Dawiels, jl Kartini. Ini nih yang tiba-tiba muncul di otakku pagi hari ini. Cocok ndak sih ngobrolin tulisan di kafe? Kubilang cocok. Karena tempat ini memang disetting supaya pengunjungnya bisa santai, lalu ngobrol 'ngalor ngidul', dan jika cocok menjadi obrolan mendalam. Seperti sepasang entah yang melakukan PDKT, mereka bisa gunakan kafe untuk melakukan penjajakan. Aku juga sering menggunakan tempat seperti kafe ini untuk melakukan perbicangan kasak kusuk awal soal sastra, seni atau juga tentang diri sendiri. Waktu Daun-daun Hitamku diluncurkan, beberapa tempat yang menerimanya juga kafe, warung kopi.

Nah, benarkah kafe memang bisa dinikmati untuk sastra, dan seni? Uhuk. Tidak untuk pertemuan lanjutannya. Jika arahnya adalah perbincangan yang lebih 'ketahuan arah'nya, maka kusaranin jangan kafe deh. Rame, terlalu bermusik, dan ...ehmmm mahal. Lebih baik jika menyeduh kopi sendiri dari dapurku lalu menyajikannya untuk anda sekalian di halaman belakang rumahku jika memang ada ruang lain yang bisa dipinjam. Mungkin ruang redaksi sebuah media. Aula kosong yang bolah dipakai gratis. Salah satu ruang kampus. Emperan Taman Budaya. Ya, tempat macam tuh lebih tepat untuk pertemuan selanjutnya.

Tuesday, January 26, 2016

Rumah Sabtu

Hasil gambar untuk house in forestJika suatu masa aku cukup beruntung, aku akan punya Rumah Sabtu. Yang kubuka pintu-pintunya pada hari Sabtu dari pukul 00.00 sampai tak terbatas waktu..., sesuka hatiku. Di situlah aku bisa mengundang siapa saja yang kusuka untuk hadir menikmati alam dan seni.

Kukira bayangannya mendekati gambar inilah Rumah Sabtu itu. (Gambar dari hasil browsing internet.)

Sunday, January 24, 2016

Mencari Jejak Masa Lalu Lampung di Antara Jemariku

Judul buku : Mencari Jejak Masa Lalu Lampung : Lampung Tumbai 2014
Penulis : Frieda Amran
Editor : Udo Z. Karzi
Foto sampul : Arman AZ
Desain Sampul : Dara Dharmaperwira
Tata letak : Tri Purna Jaya
Isi : xviii + 208 hlm, 14 X 21 cm
Penerbit : Pustaka LaBRAK
Cetakan 1 : Januari 2016
ISBN : 978-602-96731-4-2

Aku senang mendapatkan buku ini, terlebih dilengkapi tanda tangan dan kesempatan untuk berbincang dengan penulisnya (walau sebentar banget) saat penulisnya Frieda Amran berkunjung ke Lampung, Sabtu 23 Januari 2015. Apakah buku ini membuat penasaran? Tidak. Bahkan aku sudah membaca nyaris semua isinya karena tulisan-tulisan dalam buku ini sudah diterbitkan lewat koran Lampung Post tiap hari Minggu.

Namun bukan berarti buku ini patut dilewatkan begitu saja. Buku ini adalah inspirasi bagi banyak gerakan lain di Lampung. Aku tak perlu membuktikan hal itu. Tapi simaklah dengan cermat yang terkandung dalam tulisan-tulisan ini. Apa yang sudah tertimbun oleh waktu dicuatkan kembali. Diingatkan kembali. Digali kembali. Maka kita akan mengulang peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, detail-detail budaya, tradisi, dan sebagainya.

Kenapa ini berbeda dengan buku sejarah? Frieda mengambil sumber dari tulisan-tulisan para ilmuwan, pegawai pemerintah Hindia Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda di abad 19 tentang Lampung. Lalu dituliskan bukan bentuk terjemahan yang bisa dibayangkan bakal membosankan jika memakai struktur dan gaya bahasa Belanda kuno yang panjang berbelit-belit, tapi Frieda menuliskannya dalam kalimat-kalimat yang mengalir sederhana mudah dipahami tanpa menghilangkan data dan fakta yang perlu diungkapkan. Jadinya? Tulisan keren yang asyik. Hehehe... Selebihnya, silakan baca sendiri. Ini cuplikan untuk ngintip sedikit :

Halaman 119.  ... Sebaliknya, pulau-pulau lain seperti Krakatau dan Sebuku, dihindari. Konon, orang yang tinggal lebih dari dua minggu di pulau-pulau itu akan terserang demam tinggi. Mungkinkah banyak nyamuk malaria di sana? Walahhuallam. Yang jelas penyakit malaria baru dikenal puluhan tahun setelah FG Steck (sumber tulisan) meninggalkan Lampung. Nama jelek kedua pulau itu membuat orang Lampung menggunakannya sebagai tempat pembuangan dan pengucilan.

Nah, dengan gaya tulisan seperti itu aku yakin Frieda eh Lampung Tumbai (sebenarnya sih keduanya tak bisa dipisahkan) sudah memiliki banyak penggemar. Maka saat kencan di Dawiels pada malam minggu itu, beberapa orang menyebut diri,"Kami ini Frieda lover." Nah.

Begitu. Jika kemudian buku ini membutuhkan tindak lanjut semacam Pusat Dokumentasi Lampung, ya, itulah yang seharusnya dilakukan. Kini langkah-langkah awal sudah dibuat. Jemari membuka-buka lembaran jejak masa lalu, kaki harus digerakkan ke Lampung masa depan. Semangat.

Friday, January 22, 2016

Tiba-tiba Ingat Si Palinten

Nah, memang lama tak memikirkannya. Tiba-tiba pagi ini aku ingat si Palinten. Gadis malang ini sungguh-sungguh ngenes nasibnya. Ah, agak susah juga dibilang gadis. Tapi juga repot kalau dikatakan bukan gadis. Dia gadis karena dia memang seorang yang bebas. Dia bukan gadis karena memang dia tak perawan lagi. Tubuhnya sudah menerima banyak perlakuan yang sepantasnya dia terima dengan kegembiraan pada awal mulanya tapi kemudian menjadi kesedihan-kesedihan yang beruntun.

Oalah, bagaimana nasibmu sekarang, Nduk? Terakhir aku mendengar kau melakukan perjalanan panjang untuk mengawali asal muasal kegembiraan dan kesedihanmu itu. Menurut banyak versi, ya itulah caramu, perempuan (ini sebutan yang sepadan untuk Palinten) yang berani menghadapi situasi yang paling rumit yang sudah membelit hati.

Maka perjalanan panjang itu kauusahakan sekuat tenaga, kau rekayasa supaya seluruh titiknya mengembalikanmu pada kegembiraan awal. Kau telusuri jalan yang sama setahun silam, kau hilangkan perlakuan-perlakuan, perkataan-perkataan, dan segala hal yang sebenarnya sudah menyumbat hatimu. Bahkan kau kembali meletakkan tubuh terlentang untuk dimasuki laki-laki yang sama untuk kembali merasakan hasrat yang dulu pernah berkobar. Kau merasakan kesakitan ketika hal itu tidak sejalan dengan hatinya, tapi kau lirih berkata,"Tidak sakit."

Oh, Palinten genduk ayu. Aku mendengar kau pulang dengan kaki pincang. Darah mengucur dari tubuhmu dan air mata yang sudah merembes dari awal menjadi banjir bandang tak terbendung. Aku tak bisa memaklumi seluruh tindakanmu tapi jadilah bahagia ketika sudah memutuskan hal sulit itu. Terlebih kupingmu yang peka itu selalu tak terima menerima makian, menerima kenyataan bahwa hal paling berharga yang sudah kau berikan itu hanyalah dihargai sebagai pelacur.

Nduk, sekarang dimana kau meletakkan kepalamu? Di antara remah jagung bakar yang mulai dipatuk anak-anak ayam pagi ini? Di antara ampas kopi sisa semalam? Palinten, bahagialah, nak. Jagalah hatimu. Kau sudah memutuskan, jadi berjalanlah pada kebenaranmu. Suami dan anak-anak akan disediakan bagimu, di dalam rumahmu.

Tuesday, January 19, 2016

Marines Eco Park

Minggu, 10 Januari 2016. Mengunjungi Marines Eco Park (MEP) di Piabung, Pesawaran, Propinsi Lampung, aku mendapatkan beberapa hal yang menarik.

Pertama, pantai. Ya, pantai selalu kusebut sebagai ibu sejak aku tahu betapa baiknya pantai padaku, hmmm...mungkin sejak tahun 1994, saat aku merasakan dilahirkan kembali di sebuah pesisir selatan di antara pasir putih yang membentang. Nah, MEP dibangun di Pantai Lembing, dalam wilayah Brigadir Infanteri 3 Marinir TNI Angkatan Laut Indonesia. Indah. Pulang pada ibu. Selalu indah.

Kedua, lukisan-lukisan Dana E. Rachmat, sahabatku. Tanggal ini roadshow pertama bagi karya pelukis Lampung ini juga diresmikan bersamaan dengan peresmian Monumen Marinir dan Nelayan oleh KSAL. Tentu saja aku bergembira karenanya.

Ketiga, kafe kopi Jon Jaeger Cafe. Bersama dengan Hendarto dan istrinya aku menyelami kopi tidak hanya harum dan nikmat tapi juga indah. Disajikan langsung oleh Werijo, Danbrig yang humanis, kopi arabica level 86,2 dari Solok ini terasa pahit legit nikmat. Cangkir kedua ditambah dengan es krim yang manis dan lumer di mulut, membuat tak bisa menolak cangkir ketiga dan keempat. Wuah...

Keempat, Ahmad Albar. Bayangpun, ketemu penyanyi legendaris ini persis di depan mata, menemaninya makan siang yang intim dan ...hmmm... tak terkata deh.

Saturday, January 02, 2016

Akhir Tahun 2015 dan Awal Tahun 2016

Mengakhiri tahun 2015, aku tidak seperti biasanya. Tidak ada evaluasi dalam meditasi dan refleksi. Yang ada adalah gerakan. Aku ingin mencatat akhir dari tarianku di tahun 2015 walau tak ada pencapaian yang berarti. Minimal, aku mengakhirinya dengan kegembiraan seperti ketika aku mengawalinya di awal tahun. Baik juga jika mengingat bagaimana niatku waktu itu, seperti di sini.

Ya, teman, menari. Harusnya aku menari. Tapi rupanya aku belum menari dalam harmoni. Jadi lebih baik kata itu kembali kucuatkan dalam tahun 2016 ini. Harmoni. Dalam harmoni. Aku belum tahu bagaimana mengartikannya, jadi aku akan mencari pengertian pada kata ini sepanjang tahun ini. Harmoni dengan start dari kamus :
 
harmoni (n) : pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/harmoni
KamusBahasaIndonesia.org
 
Bagaimana ini dibangun? Kita lihat, kita lihat. Aku belum tahu. Minimal, resiko-resiko 'gempa' mesti kuatasi saat terjadi. Dalam keselarasan semesta, gempa-gempa memang harus terjadi karena pergeseran, gerakan dan sebagainya. Doakan aku. (Aku, Yuli Nugrahani kekasih Allah, adalah vibrasi harmoni untuk seluruh harmoni yang ada seturut dengan kehendakMu, Sang Ilahi, Sumber dan Arah.)