Thursday, April 18, 2019

TPS 024 Hajimena Natar Lampung Selatan: SERI!

Rabu, 17 April 2019, aku nyoblos dalam Pemilu 2019 ini di TPS 024 Hajimena Natar Lampung Selatan. Lokasinya di rumah pak RT blok C di Perumahan POLRI, Hajimena, Lampung Selatan.

Mas Hen semangat banget ngajak aku pagi-pagi berangkat sehingga baru kali inilah aku bisa mengikuti proses dari awal sebelum nyoblos. Mulai dari membuka paket-paket kertas suara, memastikan jumlahnya, kertasnya ada robek atau tidak, dan sebagainya. Setelah setengah jam duduk mengamati kerja awal panitia pemilihan, sekitar jam 08.00 barulah proses pendaftaran, dan nyoblos.

Bersama denganku ada belasan orang yang datang awal dengan semangat. Yang ibu-ibu beralasan biar beres dulu menyelesaikan coblosan, barus beberes rumah.

"Belum masak, nanti pulang nyoblos baru masak. Biar bisa konsentrasi ndak kepikiran lagi soal pemilu."

Yang bapak-bapak sebagian datang pagi karena memang antusias, lalu ikut mengamati jalannya pemilihan. Ada juga yang karena harus tetap kerja di hari pemilihan itu.

Nah, secara umum, jalannya coblosan di TPS 024 berjalan dengan baik. Ada beberapa warga di sekitarku yang protes karena mereka mendapat TPS di lokasi lain yang jauh padahal kami sebelahan rumah. Ada juga yang tidak mendapatkan surat panggilan sehingga mereka menggunakan hak pilih setelah jam 12 siang. Tapi secara umum, semua berjalan baik dan lancar.

Penghitungan suara dimulai pada sekitar pukul 13.00, dan untuk pemilihan presiden hasilnya seri. Masing-masing mendapat angka 102 suara dari 204 suara yang sah. Jokowi mendapatkan 102 suara, Prabowo mendapatkan 102 suara. Persis sis sis sama jumlahnya. Hehehe bisa juga ya.

Yang lain-lain aku belum mendapatkan hasilnya. Konon sih jam 03.00 dini hari penghitungan baru selesai semuanya dan direkap oleh panitia.

Tuesday, April 16, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (7): Kok kamu terus kepikiran Prabowo sih?

Iya, aku kepikiran Prabowo terus menjelang Pemilihan Umum besok nih. Aku sudah punya pilihan yang pasti untuk presiden, DPD, DPR RI, DPRD I dan DPRD II. Tapi aku risau karena Prabowo. Haish. Karena ditanya hal itu aku mau jawab terus terang pangkal kegelisahanku.

1. Prabowo tuh jelas banget ndak logis kalau melihat apa yang dia munculkan dalam kata maupun bahasa tubuh. Jelas kalau dia emosional, temperamental, ndak punya visi dan mudah ngomong ngaco. Tapi kenapa orang macam begitu diangkat oleh sekelompok orang sebagai calon presiden? Betul katamu. Karena dia adalah orang yang mudah dijatuhkan. Dia akan dijatuhkan saat menjadi presiden nanti, itulah skenarionya. Siapa yang akan menjatuhkannya? Nah ini yang mengerikan. Kebayang banget orang-orang yang sekarang ini ada di sekitarnya entah kelihatan atau tak kelihatan. Kepentingan apa mereka itu? Mengapa memilih seseorang sebagai presiden untuk kemudian mau dijatuhkan.

2. Prabowo tuh modal apa untuk jadi presiden kali ini? Dia bolak-balik menyebut diri sebagai patriotik nasionalis. Tapi dia akan menyerang siapa saja selama ada kesempatan. Serangannya pun dalam bentuk beragam. Secara fisik, lihatlah cara dia menggebrak, memukul, ... (lihat di youtube, banyak contohnya). Secara kata-kata, lihatlah cara dia berkata-kata. Otaknya berisi perang, pertahanan diri, dst. Selalu merasa terancam walau dialah yang akhirnya mengancam. Rasanya sama sekali tak nyaman memandang ekspresi wajahnya. Sama sekali tak pernah ada keteduhan khas karisma pemimpin. Itu yang tampak memang seperti boneka. Bayi dan anak-anak akan menangis kalau dekat dengan aura macam gitu. Aura yang memunculkan kegelisahan.

3. Aku tahu kalau Jokowi bukan presiden ideal harapanku mengingat banyak hal yang tak juga mampu dia perbuat seperti tentang keadilan, HAM dll. Tapi aku sama sekali tak mau berada terus menerus dalam kegelisahan karena melihat Prabowo yang tak juga berubah tabiatnya walau dia paham kalau sedang dalam sorotan rakyat. Aku tak akan mau orang macam Prabowo menjadi presiden Indonesia, dan golput tak akan kuat untuk menahannya. Maka aku akan memilih Jokowi besok, minimal beberapa kali aku merasai keteduhannya, caranya berkomunikasi yang pas dengan pangrasaku, caranya membangun keluarga yang ingin kucontoh, dan sebagainya.

Francis Award 2019 SMA Fransiskus Bandarlampung

Aku bersama Albert Ardyatma usai acara
Sulungku Albert Ardyatma memasuki penghujung masa SMAnya. Aku menghadiri acara perpisahan sekolahnya pada Jumat 12 April 2019. Hehehe, belum ada pengumuman kelulusan tapi sudah perpisahan. Ya sudahlah, kita abaikan saja hal aneh itu.

Pun konsep yang diusung sekolah ini untuk melepas muridnya juga unik. Judulnya Francis Award, merujuk pada nama sekolah dan pemberian penghargaan-penghargaan.

Aku sudah beberapa kali ikut dalam acara Francis Award tahun-tahun dulu saat aku masih di Nuntius untuk peliputan. Tapi hadir dalam acara ini untuk anakku kok ya rasanya tetap spesial.

Beberapa hal selain unik aku juga merasakan konsepnya agak tak pas di hatiku. Kujelaskan nanti kalau aku mau dimana letak tak pasnya. Huhuhu.

Sunday, April 07, 2019

Jawaban Yuli Nugrahani (6): Apakah kau memasak babi di rumahmu?

Ini pertanyaan yang tak kusukai, karena apa urusanmu tahu apa yang kumasak atau tidak di rumahku? Tapi karena pertanyaan ini seringkali muncul dalam benak orang tanpa diungkapkan padaku (Terus dari mana aku tahu? Hehehe.) maka aku akan menjawabnya. Aku hanya satu kali pernah memasak babi, babi hutan, sekitar tahun 2001, tahun pertama aku ada di Lampung. Babi hutan pemberian itu aku goreng kering dan aku sajikan ke Mas Hen tanpa bilang kalau itu babi.

Alhasil, Mas Hendro sangat-sangat-sangat marah saat tahu, langsung muntah-muntah. Dan sejak itu aku tak pernah lagi masak babi di rumah. Mas Hendro tidak doyan blas blas blas. Boro-boro babi, daging kambing pun haram bagi Mas Hen. Daging merah yang dimaui hanya sapi yang dimasak rendang atau rawon. Selain itu, tak ada daging merah untuk Mas Hen. (Yang bisa dilahap oleh Mas Hen itu ayam, ikan jenis tertentu, tahu tempe dan telor. Nah.)

Aku sendiri suka segala hal asal itu disebut sebagai makanan. Jadi aku harus ngaku kalau aku makan apa pun daging termasuk babi. Tentu saja karena Mas Hendro tak mau babi ya aku tak memakannya di rumah kecuali kalau dikirimi atau dihadiahi orang. Aku tak pernah beli sendiri makanan macam gitu. Dan sekarang ini aku sangat mengurangi jenis daging merah apa pun asal binatangnya.

Karena itulah, aku sangat sangat tak suka kalau ada yang enggan makan di rumahku dan kemudian bergosip bahwa aku menyajikan makanan haram untuk tamu-tamuku. Halah. Wong bojoku sendiri aja tak mau makanan kayak gitu kok boro-boro aku menyajikan untuk orang lain. Setiap ada yang kelihatan ragu makan sesuatu di rumahku aku biasa ngomong terus terang soal ini dan menunjukkan isi kulkasku.

Eh setahun ini tak ada kulkas ding di rumahku. Kami sekeluarga tak lagi menggunakan kulkas, jadi makanan yang tersaji pasti bukan masakan yang sudah dibekukan atau disimpan di kulkas.

Jadi, aku bisa memastikan pada kalian, kalau aku tak pernah memasak babi atau makanan haram lainnya di rumahku karena suamiku mengharamkan makanan-makanan lebih banyak dari aturan agama manapun. Atau, kalau memang kalian mau makan di rumahku, bawalah makanan sendiri, yukkk kita makan bareng-bareng. Aku tak pernah menolak makan apapun apalagi pemberian yang diselimuti cinta kasih. Hehehe...


Friday, April 05, 2019

Postingan ke 1.000, Pengunjung ke 90.000

Aku ingin nandai postingan kali ini. Ini adalah postingan ke 1.000 dalam blog ini, dan pada pukul 12.09 tadi, pengunjung untuk blog ini adalah 90.000 sejak pertama kali blog yulinugrahani.blogspot.com ini kubuka. Postingan pertamaku kubuat pada tanggal 20 Juli 2006 pukul 13.17, sebuah postingan pendek eksperimen gambar lilin menyala dengan tulisan: Hidup bersama untuk adil dan damai.

Jadi sampai sekarang sudah hampir 13 tahun usia blog ini. Jumlah postingan 1.000 dengan aneka topik sesuka hati sesuai dengan kehendak hatiku. Tentang penulisan, perjalanan, anak-anak, cinta, puisi, cerpen, pikiran-pikiran liar atau tidak liar, dan sebagainya. Jumlah pengunjung hanya 90.000 itu ya artinya rata-rata satu tulisan dilihat oleh 10 orang dari berbagai daerah yang rata-rata dari Indonesia. Iyalah, kan aku nulis dalam bahasa Indonesia.

Nah, semoga tahun ini aku semakin produktif menulis untuk blog ini dengan isi yang semakin mendalam dan bisa memberikan kesegaran untuk para pembaca. Aku selalu ingin bekerjasama dengan siapa pun, jadi silakan rekan-rekan yang ingin ikut terlibat dalam blog ini, mari, silakan kirim artikel dan atau foto ke yulinugrahani@yahoo.com. Boleh puisi, cerpen, artikel atau apa pun, asal orisinil siap aku publikasikan.

Terimakasih atas dukungan teman-teman semua.

GOOD IS NOT GOOD ENOUGH

Dari beberapa buku yang kubaca akhir-akhir ini aku punya beberapa pemikiran yang ingin kucatat supaya aku tidak lupa, minimal point-point yang kudapat:

1. Yang aku percaya adalah A God in Action. Atau istilah yang lain Allah yang Manusiawi, Allah yang hadir lewat banyak manusia. Aku mendapatkan banyak tak terhingga pertolongan Allah yang dikerjakanNya lewat manusia-manusia lain, entah yang ada di sekitarku atau bahkan yang tak kukenal sekalipun.

2. Kalau aku bisa menjumpai Allah dalam manusia tentulah aku juga harus menghadirkan Allah bagi orang lain. Saat mereka bertemu denganku, mereka harus juga merasakan bahwa mereka bertemu Allah. Bagaimana aku bisa melakukannya? Ini yang menjadi pertanyaanku terus-terusan, sampai sekarang. Sebuah alat sederhana biasa aku pakai, yaitu analisis SWOT pribadi, untuk mengetahui posisiku pada suatu waktu pada suatu tempat. Dari sana aku bisa menemukan alternatif strategi (wuih) apa yang akan kukerjakan atau kulakukan untuk suatu waktu. Alat yang lain adalah rasa pangrasa. Iyalah, aku ini kan orang yang sangat moody, orang yang ngikuti mood. Lebih dalam lagi ini sebenarnya adalah passion. Aku akan selalu berkobar-kobar kalau diundang untuk kegiatan literasi, atau yang ada urusannya dengan seni. Itu misalnya.

3. Bagus itu belum cukup bagus. Dasarnya, aku ini orang yang minimalis. Ya wis lah, segini pun cukup. Ini mungkin karena sifatku yang pemalas, lumuh. Tapi dasarku yang seperti itu tidak hanya berhenti di situ. Seturut perjalanan hidupku ternyata itu tidak cukup. Selain sifat dasarku yang minimalis dan pemalas, ternyata aku butuh untuk melakukan lebih, lebih dan lebih. Tidak cukup hanya menjadi bagus, tapi harus jadi terbagus, tak biasa atau luar biasa. Ketika satu hal sudah tercapai, yang berikutnya akan menyusul, lagi dan lagi.

4. Slogan itu diperlukan, tapi tak cukup jika hanya slogan. Tahun ini aku membuat slogan untuk merumuskan misiku tahun ini: Waktunya untuk kesaksian. Setiap kali aku akan kembali pada slogan ini supaya aku ingat bahwa aku punya gairah untuk satu misi itu pada awal tahun dan aku ingin menyadari setiap moment, perjumpaan atau apa pun untuk kepentingan itu. Sekali lagi, ini hanya sebagian contohnya.

5. Proses itu seperti biji yang jatuh ke tanah, disiram, merekah, tumbuh menjadi pohon yang rindang dan membuahkan ribuan bahkan jutaan biji yang siap untuk jatuh ke berbagai tempat di seluruh dunia. Itu proses yang biasa sekaligus luar biasa. Bisa ditemui di mana-mana tapi sekaligus sangat bermakna, kalau disadari. Kalau tak disadari ya akan lewat begitu saja, dianggap biasa saja.

Tuesday, April 02, 2019

MELETAKKAN PESAN DALAM PENULISAN CERITA RAKYAT

Foto by Alfa
Disampaikan dalam Bedah Buku Cerita Rakyat Lampung
Kantor Bahasa Indonesia Lampung, 2 April 2019
Oleh: Yuli Nugrahani*

 Apresiasi
Empat buku cerita rakyat Lampung diterbitkan lagi oleh Kantor Bahasa Lampung pada tahun 2018 berjudul Legenda Kelekup Gangsa (Izzah Anissa), Legenda Mahat Menggala (Novita Sari Idham), Putri Rincing Manis (Sustin Nunik) dan Raden Mas Mangkudirija dan Bidadari (Fauzie Purnomo Sidi). Empat buku ini menambah kekayaan literasi Provinsi Lampung, setelah beberapa buku yang sudah diterbitkan sebelumnya.
 Tahun 2001 ketika saya melahirkan anak pertama, saya mengalami kesulitan ketika berburu dongeng atau cerita rakyat yang berasal dari Lampung. Saya menemukan cerita-cerita pendek serupa ringkasan dengan jumlah yang tidak banyak. Kalau saya ditanya oleh seseorang apa cerita yang berasal dari Lampung, saya seringkali menjawab tidak tahu, dan ini sangat memalukan.
Dari kecil saya sudah sangat terbiasa mendengarkan kisah tentang Anglingdarma dari Malawapati (konon lokasi kerajaannya tidak jauh dari rumah orang tua saya di Kediri), bahkan hingga detail-detailnya.  Saya tahu tokoh-tokohnya mulai dari Setyowati, Nagagini, Nagasasra, Mliwis Putih, dan sebagainya. Saya berharap anak saya pun punya ingatan akan kisah / legenda / dongeng yang berasal dari tempatnya lahir.
Pencarian saya tidak berbuah banyak. Sebuah naskah yang dipentaskan di Taman Budaya Lampung, Dayang Rindu, menjadi salah satu pentas yang menggembirakan. Sebelumnya saat SD, anak saya diberi tugas mementaskan drama Si Pahit Lidah. Kisah-kisah itu tersebar Sumatera Bagian Selatan, termasuk Lampung dengan variasi cerita. Lalu anak saya mendapatkan cerita-cerita tambahan dari sekolah atau guru atau teman-temannya yang kemudian ditularkan ke saya.
Salah satu yang kemudian menarik minat saya adalah Kisah Sultan Domas yang  saya tulis dalam beberapa jenis tulisan (puisi, cerpen, cerita anak). Cerita anak tersebut termasuk dalam terbitan  Kantor Bahasa Lampung tahun 2017.
Upaya-upaya Kantor Bahasa Lampung ini patut diapresiasi. Melihat buku-buku ini terbit membuat saya menaruh harapan yang besar untuk perkembangan literasi Lampung khususnya tentang cerita rakyat asli daerah Lampung. Dan lihat saja, buku ini tidak dibuat ala kadarnya, tapi dengan penyaringan ketat lewat sayembara, diedit serius, dilengkapi dengan ilustrasi berwarna, dan dicetak menjadi buku yang membanggakan si penulis maupun pembaca yang menerima dan menggunakannya.

Menulis Cerita Rakyat sebagai Cara Komunikasi
Komunikasi terjadi kalau ada pemberi pesan, penerima pesan, dan mutlak harus ada pesan yang disampaikan. Cerita rakyat sebagai salah satu jenis cerita yang diteruskan secara tertulis atau lisan juga merupakan bentuk komunikasi. Karena itulah tiga unsur komunikasi itu mutlak harus ada. Dalam terbitan empat buku ini, pemberi pesan adalah penulis (dibantu oleh editor, ilustrator, penerbit, dan sebagainya, penerima pesan adalah pembaca atau pendengar, dan pesannya sendiri adalah apa yang dimunculkan dalam kisah-kisahnya.
Setiap cerita rakyat adalah sarana komunikasi yang mewajibkan ketiga unsur tersebut ada. Kalau tak ada pemberi pesan, cerita-cerita ini akan terhenti dan tidak berlanjut. Kalau tidak ada penerima pesan, buku-buku ini akan teronggok di rak, perpustakaan atau gudang. Jika tak ada pesan yang disampaikan, kertas-kertas ini tidak ada gunanya, dianggap sampah dijadikan pembungkus kacang dan akhirnya dibuang atau didaur ulang.
Ketiga unsur itulah yang memungkinkan kisah-kisah itu masih berlanjut sampai sekarang dan terus menjadi sumber inspirasi generasi yang akan datang. Jika dulu dilakukan secara lisan, lalu ditulis secara sederhana, dan sekarang menjadi buku yang menarik. Mungkin nanti akan dilisankan lagi dalam pementasan, ditulis lagi dalam bentuk lain dan seterusnya.

Mengolah Pesan
Pesan atau amanat merupakan salah satu unsur yang harus ada dalam cerita rakyat. Dalam cerita rakyat, pesan ini bisa dimasukkan dalam:
1.      Karakter tokoh.
Alur cerita rakyat sudah tetap, tidak berubah, walau memungkinkan ada banyak versi yang berkembang sesuai dengan si penutur. Salah satu ruang bebas yang bisa digunakan penulis adalah ‘biodata tokoh’. Saya biasa membuat apa yang saya sebut ‘biodata tokoh’ ini dengan menuliskan rinci ciri-ciri fisik dan non fisik masing-masing tokoh termasuk kebiasaan, kecenderungan, dan sebagainya. Biodata tokoh inilah yang nantinya saya pakai sebagai acuan saat menampilkan tokoh dalam cerita. Di sinilah pesan itu muncul. Misal seorang tokoh digambarkan sebagai anak baik, artinya: ramah, mudah membantu orang lain, membuang sampah di tempatnya, merawat tanaman, dan sebagainya.
2.      Peristiwa.
Peristiwa bisa memberi pesan tentang akibat-akibat perbuatan baik atau tidak baik. Jika sebuah perbuatan baik tidak dilakukan, maka akan terjadi sesuatu yang buruk. Atau sebaliknya. Memberikan penekanan pada peristiwa-peristiwa tersebut bisa menguatkan pesan yang akan diberikan oleh sebuah cerita.
3.      Kesimpulan.
Beberapa cerita menambahkan kesimpulan pada akhir cerita untuk menajamkan pesan yang ingin disampaikan. Bisa diletakkan dalam satu bagian tersendiri, entah dalam kalimat, paragraf atau bab.

Catatan
Beberapa kesalahan teknis dalam penerbitan buku-buku sebelumnya sudah diperbaiki dalam penerbitan kali ini. Yang tampak dalam empat buku ini adalah buku yang indah, rapi dan berkualitas disertai informasi-informasi penting seperti nama ilustrator, glosarium, dan sebagainya. Tata letak, ilustrasi dan warna pun kelihatan lebih matang apalagi menggunakan kertas yang lebih tebal dibandingkan dengan penerbitan sebelumnya. Pun nuansa Lampung sangat kental dengan meletakkan beberapa istilah dari Bahasa Lampung. Ini sangat berguna untuk mengenalkan istilah-istilah Lampung yang sangat biasa dari daerah Lampung.
Beberapa yang masih harus diperketat adalah:
-          Pengetikan tanda baca (ada yang tidak perlu (tanda seru dan koma/titik digabung), kurang tanda kutip di awal atau belakang kutipan, dan sebagainya).
-          Huruf miring digunakan tidak konsisten dan pada bagian yang tidak diperlukan.
-          Huruf yang diketik berlebihan (cukup 3 huruf saja, atau konsisten). Ini biasanya muncul dalam teriakan, suara yang keras atau diperpanjang.
-          Pemenggalan yang tidak tepat (titik akhir kalimat di baris berikutnya).
-          Huruf besar di awal kalimat ada yang ilang.
-          Tidak ada sumber cerita.
Kesalahan-kesalahan seperti yang saya sebut di atas tidak banyak namun cukup mengganggu saat ditemui. Sebagian kesalahan itu mungkin terjadi pada saat proses lay out dan bisa diatasi dengan koreksi akhir sebelum cetak. Dengan demikian, buku ini bukan hanya membawa pembaca (siswa SD dan SMP atau guru-guru/orang tuanya) pada cerita rakyat Lampung, tapi juga mengajak mereka untuk belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar.  Dan secara menyeluruh sebagai sarana pengajaran etika, budi pekerti dan perilaku baik sebagai personal, sosial maupun makluk ciptaan. ***

*Yuli Nugrahani, penulis Sultan Domas Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati,
cerpenis dan penyair Lampung. (yulinugrahani.blogspot.com)
Foto by Alfa


(Kegiatan ini dihadiri oleh para guru SD dan SMP utusan dari berbagai sekolah di Prov. Lampung, siswa-siswi SMP dari beberapa daerah di Lampung, penulis, editor dan peserta pelatihan instruktur literasi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Prov. Lampung. Saya hadir dalam satu sesi sebagai pembahas buku yang baru diterbitkan, bersama dengan Isbedy Stiawan ZS, dimoderatori oleh Dr. Ganjar Harimansyah dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud)

Monday, April 01, 2019

Kopdit Mekar Sai pada Unit SKM Metro

Ini pertama kalinya aku sebagai bagian dari pengawas Kopdit Mekar Sai melihat bagaimana kunjungan unit dilakukan oleh pengurus dan manajemen Kopdit Mekar Sai. Pekerjaan dan tradisi rutin Mekar Sai ini sudah berjalan lama. Pengurus dibantu manajemen berkunjung ke unit-unit (ada 300an unit sekarang ini) yang tersebar di berbagai daerah di Provinsi Lampung sesuai permintaan dari unit yang bersangkutan atau jadwal yang sudah ditentukan oleh pengurus.

Sasaran kunjungan kali ini adalah Unit SKM Metro, bertempat di aula SMK Kristen 1 Metro, pada Minggu 31 Maret 2019. Ini adalah program kunjungan yang pertama setelah Rapat Anggota Tahunan (RAT) bulan Februari lalu dan pertama juga dilakukan oleh pengurus baru. Hadir dalam kunjungan ini 100 anggota unit (seluruh anggota unit SKM berjumlah lebih dari 200 orang).

Tujuan utama dari kunjungan pengurus kali ini adalah mensosialisasikan hasil RAT, memperkenalkan kepengurusan yang baru itu salah satunya, plus program-program yang lain. Dan mengenalkan aplikasi Sakti.Link yang mulai digunakan oleh Mekar Sai pada tahun ini kepada anggota dan mengajak mereka mulai menggunakannya sebagai sarana kemudahan pelayanan Mekar Sai kepada anggota.

Aku senang bisa melihat antusiasme anggota yang hadir dalam kunjungan kali ini. Pak Dar, koordinator unitnya ternyata orang yang sangat peduli pada literasi dan punya program kepustakaan untuk pelajar. Masuk ke perpustakaan yang dikelolanya membuatku berkobar-kobar apalagi ditunjukin hasil karya tulis para pelajar yang dipandunya berbentuk kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan resensi buku/film, dan sebagainya. Itu mah bonus setelah melihat bagaimana unit ini sudah berjalan sejak lama dengan anggotanya yang aktif dan terus berkembang.

Sebelum dan sesudah acara, juga di sela-sela acara, staf manajemen yang ikut (Pak Kiman dan Mbak Susan) memberikan pelayanan kepada anggota yang membutuhkan, entah simpanan, pinjaman atau konsultasi.

Beberapa orang muda dan anak-anak yang hadir juga membuat kegiatan ini meriah, apalagi pada bagian akhir Mekar Sai juga membagi-bagikan sovenir untuk para anggota.

Aku sendiri mesti terus menarik diriku supaya tetap pada posisi pengawas, yaitu mata anggota untuk mengawasi pengelolaan koperasi secara keseluruhan. Maka saat ada kesempatan bicara, aku menyampaikan hal itu kepada hadirin dan berharap mereka tidak segan memanfaatkan keberadaan pengurus dan pengawas supaya seluruhnya berjalan dengan baik dan terus berkembang.