Friday, August 31, 2012

Gunung Betung 4 : PR bagi Semesta

G. Betung, warisan bagi Albert dan Bernard serta anak cucu mereka.
Gunung Betung hanyalah salah satu dari kekayaan semesta yang sudah diberikan cuma-cuma oleh Pencipta bagi manusia. Bukan hanya satu manusia, tapi seluruh manusia. Ada beberapa catatan yang mesti diperhatikan untuk kelangsungan abadinya warisan ini.
1. Alam selalu berkaitan antara manusia, tumbuhan, binatang dan segala semesta. Menyapa mereka merupakan bagian paling awal dan remeh yang dapat dilakukan. Gunung Betung punya itu semua untuk disapa, mulai dari desa-desa yang dilewati di bawah hingga sampai puncak. Dan masyarakat sekitar gunung selalu merupakan orang paling ramah sedunia. Senyumku selalu terbalas.
2.  Gunung Betung punya kekayaan material yang luar biasa. Bebatuan, air berkualitas dan tanah yang subur. Semuanya mesti dijaga dalam keseimbangan aslinya. Air tidak berlimpah. Ini peringatan. Aku tidak tahu dulunya bagaimana, tapi air terjun pun hanya diisi oleh gemercik air, bukan gemuruh air yang tercurah. Jika tidak diperhatikan, air bisa habis juga.
3. Gunung Betung termasuk gunung yang cukup populer di Lampung di antara muda atau pecinta alam. Selain dekat dengan kota, gunung ini mudah terjangkau dan tidak terlalu tinggi. Banyak orang datang, boleh dan sah, tapi jangan menggunakannya secara salah. Maksiat, mabuk, mentang-mentang, dan merusak jangan pernah ditolelir.
4. Gunung Betung masih menyimpan kekayaan hewani yang luar biasa. Beruk atau si amang, burung elang rangkong dll, babi hutan, tupai, dsb, masih bisa ditemui. Aku belum punya prinsip soal berburu, tapi kebijaksanaan manusiawi mutlak digunakan supaya keseimbangan ekosistem ini terjaga. Yang wabah boleh diburu, yang langka jangan. Sementara itu saja, moga dapat pencerahan di proses hidup mendatang. Di air aku tidak menemukan ikan karena sungai sangat kecil beriak. Anak-anak menemukan kecebong ukuran raksasa, sejempol-jempol, tapi belum melihat kataknya. Mestinya ada karena lamat-lamat suaranya ada.
Teks kode etik di gubuk Mbah.
5. Pepohonan di Gunung Betung masih diwarnai pohon-pohon kayu besar. Namun sebagian besar juga berbentuk perdu semacam rotan, salak-salakan, dll. Masyarakat sekitar terlihat mencari ranting cabang untuk kayu bakar. Moga tidak merambah yang lebih besar. Perkebunan karet dan kopi di kaki gunung menjadi penyokong hijaunya hutan ini juga.

Bagusnya, gubuk Mbah Sum terpasang teks Kode Etik Pencinta Alam Indonesia di terasnya. Lihat kembali apa isinya!


Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa
Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran menyatakan :
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
  3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
  7. Selesai
Disyahkan bersama dalam Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974

(Akhir, akan berlanjut ke pendakian selanjutnya. Cerita lain yang teringat kemudian akan ditulis menyusul.) 

Thursday, August 30, 2012

Gunung Betung 3 : Puncak jadi Bonus Rahmat

Terhalang pohon tumbang, di awal pendakian.
Ketika merancang perjalanan ke Gunung Betung, kami sama sekali tidak berpikiran soal naik hingga puncak. Mengingat waktu, dan tenaga. Pagi hari usai sarapan, celetukan Bejo soal puncak, yang diulangnya beberapa kali dari kemarin sore, membuat yang lain ikut bersemangat.
Aku menghitung logistik yang sisa. Roti tawar, susu coklat, sebungkus mi, beberapa saset kopi dan beberapa bungkus cemilan. Masih cukup untuk makan siang seusai dari puncak. Yoyok bilang butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai di puncak. Jadi cukup okey, tidak perlu buru-buru turun. Godril dan Mai memilih tinggal di tenda. Dan memang diperlukan orang yang menunggu di situ karena tenda dan barang-barang tidak mungkin dibawa naik.
Mendaki, memanjat, merangkak.
Maka berenam kami naik. Dua botol air dan sebungkus biskuit cukup untuk bekal. Dan jangan lupa kamera serta baterainya! Baru sepuluh menit pertama aku sudah nyaris putus asa. Aku tidak membayangkan kalau gunung ini sangat terjal. Kemiringan 30 - 60 derajat, sangat minim lokasi landai. Kalau pun istirahat pasti dapat tempat yang miring, bergelanyut pada akar atau pohon supaya tidak jatuh.
Untungnya cuaca sedang kering sehingga tidak licin dan tidak ada pacet. Aku ingat Gunung Tanggamus yang kami daki tahun 2009 lalu. Hutan tropis yang basah, penuh pacet dan hujan! Kami kurang beberapa menit saja sampai puncak terpaksa mengurungkan niat demi selamat. Kali ini hatiku membara, harus sampai puncak. Betung cukup terjal. Kami mendaki setengah memanjat.
Dan puncak setinggi 1.523 Mdpl (meter dari permukaan laut itu) baru tercapai setelah 1 jam 30 menit, plus istirahat tiga kali untuk tiga teguk air. Setengah jam lebih lama dari perkiraan. Aku kira akulah penghambat utama perjalanan ini karena mengatur nafas bagi seorang ibu hampir kepala 4 ini agak susah dilakukan pada tanah yang terlalu miring hampir tegak. Apalagi olah fisik nyaris diabaikan beberapa tahun terakhir ini. Albert dan Bernard di umur 11 dan 8 tahun sama sekali tak perlu dikuatirkan. Mereka masih bisa mendaki sambil bercerita, bertanya, menyanyi seperti biasa, sedang ibunya sudah ngos-ngosan.
"How are you, ibu? I'm fine." Setiap saat Bernard berteriak padaku.
Puncak Betung, 1523 Mdpl.
Mencapai puncak adalah bonus rahmat yang luar biasa! Sang Pencipta memberi kesempatan istimewa bagi kami. Jika selama ini aku berjalan dari rumah ke kantor atau kota-kota lain pun dipenuhi anugrah lewat panca indera dan perjumpaan dengan orang lain, mencapai puncak gunung adalah bonus rahmat.
Serumpun bambu.
Di atas ada 4 orang remaja dari SMK Gadingrejo dan alumni. Tentu bentang umur yang jauh, tapi ada Albert dan Bernard yang juga sangat belia. Maka kami pun masuk dalam perbincangan yang seru tentang alam, pengalaman diri, dll. Dan tentu saja foto beberapa kali di dekat pohon dengan tulisan Puncak Betung 1523 Mdpl Arpala.
Ohya, di jalan kami menemukan serumpun bambu, aku menduganya sebagai bambu betung, yang batannya besar-besar. Aku berkhayal mungkin itulah cikal bakal nama Gunung Betung. Nanti aku coba cari kebenarannya. Bambu ini bernama latin Dendrocalamus asper Backer, di beberapa daerah dikenal sebagai Bambu betung (Indonesia), awi bitung (Sunda), pring petung (Jawa), awo petung (Bugis), bambu swanggi (Papua). (bersambung)

Wednesday, August 29, 2012

Gunung Betung 2 : Basecamp yang Indah

Memulai perjalanan ke basecamp.
Di tulisan sebelumnya aku telah menunjukkan sekilas di mana kami memasang tenda sebagai basecamp kami selama di Gunung Betung. Ini tempat yang aman, nyaman dan indah. Tentu saja dengan mengingat segala pesan Mbah Sum dan tanda hati-hati yang terpasang di sana. Salah satunya tidak membiarkan anak-anak atau siapa saja pergi sendiri atau melongok melihat aliran air yang menjuntai jadi air terjun di bawah saja. Lokasi itu sangat curam dan penuh batuan. Jadi ingat selalu! Jangan terlalu dekat dengan ujung atas air terjun dan melongok ke situ walaupun ada godaan pemandangan yang indah dari atas! Ingat!
Lokasi camp kami persis di bawah pohon rindang di bagian atas, yang menjadi titik awal andai kita mau mendaki ke puncak Gunung Betung. Tempat ini cukup luas untuk memuat tiga tenda yang kami dirikan, plus api unggun besar dengan tumpukan kayu cadangan di sebelahnya. Kayu kering sangat mudah dicari. Banyak kayu lapuk di sekitar basecamp yang bisa dipakai. Jika awalnya aku kuatir karena tidak mendapatkan parafin saat mau berangkat, begitu tiba di basecamp itu kekuatiran hilang. (Kebanyakan toko masih tutup, sehingga tidak ada parafin yang bisa dibeli. Toko langganan malah habis persediaan parafinnya.) Kami masih bisa memasak tanpa parafin. Hehehe, tentu saja kami membawa spirtus sebagai gantinya selain mengandalkan kayu-kayu dari sekitar.
Menunggu penampakan dekat api.
Sore sejuk terasa ketika matahari mulai undur di barat. Agak meremang bulu kuduk di jam-jam dekat magrip. Aku tidak tahu kenapa padahal aku tidak sedsang merasa takut. Tapi hanya sebentar, kemudian berganti dengan suasana lengang indah. Terlebih ketika melihat cahaya bulan setengah cukup membuat malam setengah terang. Wah.
Batu besar depan tenda, favorit untuk nampang jadi model.
Malam tidak terlalu dingin beku. Bernard dan Albert menyusup tidur setelah menghabiskan jatah makan malam. Beberapa sendok nasi sisa siang, mi goreng dan mi rebus yang lengkap dengan sawi dan kol serta suwiran ayam goreng, plus tumis tahu tempe (Hehehe, mewah. Itu sisa makan siang yang memang kami bawa dari rumah.) Lalu tambah dengan kapucino hangat serta beberapa cemilan.
Yang lain masih sempat ngobrol di sekitar api, sembari menahan diri tidak cerita yang horor. Hehehe. Malam sempat ada tamu tiga orang yang kemudian pergi lagi. Bejo mengira mereka orang mabuk. Aku tidak mau mengira begitu. Hanya tiga orang yang agak aneh. Gitu saja. Sesekali terdengar gitar dari arah air terjun. Di sana ada 6 orang yang sedang ngecamp juga.
Sarapan pagi di basecamp Gunung Betung.
Lokasi pancuran air di atas, 50-an m dari basecamp.
Tukang ronda Den Hendro dan Yoyok tidak tidur semalaman. Mereka krusekan saja sepanjang malam entah mengerjakan apa saja. Yang lainnya memilih masuk tenda. Tapi aku pun tidak bisa tidur malam itu. Aku lebih melamun sepanjang malam, mendengar suara alam, mereka-reka calon beberapa cerpenku, memeluk Albert dan Bernard yang pulas, dan pagi-pagi sekali cepat beranjak keluar tenda, untuk...beol! Hehehe, ini salah satu yang boleh ditinggalkan di gunung selain jejak. Yang lainnya tidak seperti sampah, barang, tidak boleh ditinggal. Dan untungnya diriku, jadwal biologisku ini tak pernah berubah di manapun aku berada dalam kondisi apapun. Hehehe...
Enaknya, camp kami ini dekat dengan air di sebelah atas. Air pancuran yang jernih dan sejuk itu sangat cukup untuk memenuhi segala kebutuhan minum, makan dan cuci badan. Bahkan tidak perlu dimasak pun secara kasat mata air ini sangat layak. Jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa... Dan lebih bagus lagi karena semakin atas letak air semakin minim kontaminasi. Yang perlu diingat, tidak boleh kencing dan beol di air. (bersambung)

Tuesday, August 28, 2012

Gunung Betung 1 : Offroad dengan Mio

Rencana naik gunung sudah tertunda sekian lama. Ketika sudah merancang ke Gunung Betung saat libur lebaran pun masih tertunda. Tapi kemudian tibalah hari menjadi nyata, 25 Agustus 2012, cabut berempat disertai Bejo dan partner setianya, Mai. Dua orang lagi akan menyusul malam. Tiga motor pun melaju saat matahari di atas kepala.
Lewat Gedongtataan, belok ke kiri (Ada plang yang menandai arah ke Gunung Betung.), jalanan sekitar 1 km halus beraspal. Jika ingin, di dekat tikungan ini ada posko bagi para pendaki gunung. Silakan saja mampir. Aku lupa kontak personnya, kalau tidak salah namanya Imam. Tapi pas perjalanan kemarin tidak mampir karena kelihatan posko lengang.
Gubuk Mbah Sum, tempat menitipkan motor.
Usai itu, jalanan akan heboh berbatu. Mio-ku mesti meraung terpental-pental dengan jalan menanjak. Bukan kendaraan yang tepat untuk medan ini. Cukup membuat pegal pinggang dan lengan rontok semua. Jalanan berbatu ini akan berakhir di sebuah gubuk dimana kita bisa istirahat sejenak. Di depan gubuk ini ada start bagi pencinta downhill dengan naik sepeda. Ada jalur yang sudah dibuat disela-sela coklat. Aku melihat beberapa rombongan dengan pick up dimuati sepeda untuk kenikmatan ini.
Lalu jalan anjing lah yang akan kita temui. Mio-ku lebih meraung lagi, dengan super hati-hati. Menanjak dan kadang-kadang berpapasan dengan motor para pengais rejeki alam dari atas yang membawa hasil kebun, buah, ranting atau daun. Jalan setapak sampai di rumah Mbah Sum (aku tidak tahu persis namanya, tapi kami memanggilnya begitu). Di sinilah kami akan menitipkan motor sebelum kami jalan kaki ke basecamp.
Ada beberapa lokasi yang bisa dipakai untuk kemah, pertama dekat rumah Mbah Sum ini. Tapi kok ya aneh kalau veteran macam kami ngecamp di situ. Hehehe, maka kami pun pilih di atas. Mbah Sum sama sekali tidak merekomendasikan. Kekuatiran tampak dalam larangannya. Tentu saja. Dia pasti paling tahu dan ingat bahwa beberapa orang sudah jadi korban di atas. Dan dia pasti juga paling repot kalau ada kejadian macam itu lagi.
Maka kami meyakinkan dia bahwa kami, termasuk anak-anak, Albert dan Bernard, cukup paham dengan segala resiko dan akan super hati-hati.
Tanda bahaya, tanda hati-hati.
"Nanti masih ada teman kami yang lain akan menyusul, mbah. Kami akan hati-hati."
Jadilah kami ngecamp di atas. Lokasi ini dekat dengan mata air, dan berada persis di atas air terjun. Tentu kami pilih lokasi paling jauh dari air terjun, tempat beberapa orang pernah jatuh itu. Jadi cukup aman dan nyaman.
Istirahat usai memasang tenda.
Huff, baru ingat terpal-terpal tertinggal di rumah Mbah Sum, membuat Den Hendro dan Albert mesti balik lagi usai membuat tenda. Mungkin butuh 15 menit perjalanan, atau 30 menit pp. Sembari menunggu mereka, Bejo mencari kayu bakar dan yang lainnya...hehehe...tiduran.
Basecamp yang indah. Suara beruk bersahutan dengan burung rangkong. Dan saat malam tiba, berbaring di luar, bulan setengah menari di antara ranting dengan dendang alam... Berapa lamapun aku akan betah di tempat ini. (bersambung)

Thursday, August 23, 2012

Lebaran Bersama Pram

Buku fotokopian.
Mulai aku berniat hanya di rumah, malam takbiran, aku mengundang Pram, Pramoedya Ananta Toer, lewat Jejak Langkah-nya untuk menemaniku. Buku tebal fotokopi-an pemberian seorang sahabat hatiku itu setia di dekatku. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Juga saat pesta Idul Fitri bersama para tetangga yang tidak mudik dengan ketupat, opor, rendang tak habis-habisnya. Aku tidak masak selama 3 hari karena kiriman rahmat itu.
Jejak Langkah Pram sudah kubaca lebih dari tiga kali. Dan setiap kali aku menemukan hal yang baru bagi hatiku. Kali ini aku lebih mengerti bagaimana organisasi dan media massa menjadi alat kuat bagi cita-cita kemerdekaan. Dan itulah yang diusahakan oleh Minke setelah perjalanan hidupnya dari romantis menjadi politis sesuai pengaruh yang dialaminya. Bersama Annelies, Mei dan juga Gadis Jepara, dokter tua Jawa, Ter Haar, mama, dll.
"Berorganisasi, sahabat, berserikat, banyak orang, puluhan, ratusan, malah puluhan ribu, menjadi satu raksasa gaib, dengan kekuatan lebih besar dan lebih banyak daripada jumlah semua anggota di dalamnya." Itu jawaban Mei, gadis Tiongkok, yang kecerdasannya dalam tubuh singkek sipit pucat kurus pun membangkitkan birahi Minke.
Dan virus tidak mengenal bangsa. Lawannya adalah siapa saja yang tidak menguntungkan. Minke mau menggulatinya dengan sadar. Tombak-tombak dilemparkannya. Kadang membanting balik tubuhnya, hingga rancah luka terkorban.
Kedekatannya dengan pendidikan Eropa memberinya cara pikir dan keberanian yang tidak biasa. Dalam masa penjajahan, orang semacam ini selamanya tanggung. Bukan Belanda, bukan Jawa. Dicurigai Belanda, juga tidak diterima Jawa.
Aku belum menyelesaikan putaran kali ini hingga lebaran sudah usai. 464 halaman, dengan tinta fotokopian yang nyaris kabur, konsentrasi yang penuh, membuat mata mudah capek saat membacanya. Tapi aku yakin sekali ini pun aku mendapat lebih banyak lagi dari Pram. Bahan yang membuatku menjadi semakin manusia. Amalnya masih berjalan walau dia sudah istirahat damai. Taqabbalallahu minna wa minkum! Selamat mereguk tuntas anugerah fitri.

Friday, August 17, 2012

17-an Makan Mi Instan?

Sasangka Jati dengan mi instan? Aduh.
Merdeka!
Pekik para pejuang kuulang di hari ini. Merah putih aku kibarkan dengan sadar di halaman rumah, di stir Mio dan di hatiku. Aku sangat mengingat hari ini.
Pun dengan sadar juga aku niat mengisi hari ini dengan gerak tubuhku. Membereskan rumah yang cukup melelahkan karena ditinggal cuti Wawak. Juga menyiapkan makan siang untuk para cowokku.
Jam 10.00, ketika 67 tahun lalu Soekarno membaca teks proklamasi di Jalan Penggangsaan Timur, aku sedang di atas Trans Bandar Lampung menuju kantor. Sengaja motor ditinggal karena aku tidak mau menyetir di jalan yang ruwet padet berdebu macam sekarang ini. Tapi rupanya imbalan jalan sehat harus aku terima karena Trans Bandar Lampung tidak masuk ke gang-gang seperti mikrolet Pahoman.
Di detik ini, tinggal 30 % terberat dari pekerjaan editanku yang tersisa. Yaitu bagian fokus Nuntius. Otakku berat diajak mengerjakan bagian ini. Dan tidak ada pilihan lain untuk disantap selain mi rebus instan ngembat punya Tio (Makasih ya Tio. Dimana kau? Saat aku ambil mi, kau gak ada. Tapi aku sudah bilang kok tadi keras-keras,"Minta mi ya Tio.")
Saat hendak menyantapnya, tak sengaja mangkuk mi bersanding dengan Buku Sasangka Jati yang sudah beberapa bulan ini tergeletak di meja kerjaku. Menunda makan aku buka tepat di pembatas buku yang kusematkan di situ. Baru halaman 10. "Janganlah engkau meremehkan tugas yang kecil-kecil itu, sebab apabila belum terbiasa mengerjakan tugas yang mudah, bagaimana engkau akan dapat mengerjakan tugas yang sukar. Oleh karena itu, segala sesuatu yang sudah ada di tanganmu, laksanakanlah dengan kesungguhan hati yang suci, niatkan atas karsa Tuhan, sebab tidak ada tugas di dunia ini, yang tidak atas karsa Tuhan, meski yang tampak remeh sekalipun."
Wuh, ini buku yang berat, yang belum tentu aku setujui seluruhnya (hmm, tidak harus aku setujui seluruhnya). Tapi melihat ada mi di sebelahnya, aku kembali mengingat 17 Agustus bagi kemerdekaan Indonesia. Berapa orang di Indonesia yang sekarang ini makan siang dengan mi instan sumbangan? Atau, berapa orang di Indonesia yang sekarang ini menyimpan mi instan sumbangan sebagai satu-satunya pilihan untuk buka puasa nanti?
Huff, aku salah memilih pikiran untuk istirahat siangku ini. Jadinya otakku lebih berat sekarang. Dan denyut di bagian belakang kepalaku yang kemarin aku rasakan kembali mendera.
Merdeka!!!

Thursday, August 16, 2012

Dia Bukan Bayi

ada saat aku menerimanya gembira
membopongnya dengan dua tangan
menimang memeluknya menyusuinya

aku kidungkan Jalan Pengharapan Nguyen Van Thuan
aku lantunkan Mazmur Daud bagi Salomo
padanya, aku senandungkan keceriaan

aku adakan pesta setiap putaran bulan
mengundang para muda penuh gairah
yang menyumbang tarian dan semangat
membuatkan bubur dan sup hangat baginya
ikut menimang memeluknya

aku berdiri bagai benteng baginya
menjadi tameng menahan angin
badai luka hujan air mata
aku berdiri membelanya bagai ibu
dengan seluruh kecintaan

ketika kini kerentaan aku rasa
aku melihat kedua tanganku
tak bisa lagi rela menimang memeluknya
tak mau direpotkan oleh rengeknya
tak ingin mempedulikan

tubuhku telah bungkuk
dan dia bukan bayi lagi
bahkan ternyata
dia sama sekali bukan bayi

aku telah salah dari awal cara mencintainya

(bolehkah aku pergi dan meninggalkan dia di gerbang rumahmu?
maukah engkau mengasuhnya?)

Wednesday, August 15, 2012

Sarapan Pagi bersama Mgr. Henri

Roti gandum berserat tinggi.
Aku seringkali datang ke kediaman Mgr. Henri (Uskup Emeritus Keuskupan Tanjungkarang) pada jam tidak biasa. Misal pada pagi jam 07.00, yaitu jam yang aku tahu persis belum membuat janji dengan siapa pun kecuali jika harus pergi dari rumah. Jam 7 pagi adalah jam sarapan, maka aku pasti bisa ketemu. Bukan apa-apa, aku memang tidak suka membuat janji bertemu, main tembak saja. Resikonya ya paling tidak bisa berjumpa karena tidak di tempat atau diusir karena memang tidak mau ditemui. Kalau beruntung ya duduk saja di sebelahnya sembari menemaninya makan sembari bicara tentang banyak hal, sambil nonton Metro TV. Jarang aku ikut makan kecuali jika ingin secangkir teh atau kopi. Malu melihat porsi makan di atas meja makannya. Hehehe. Begitu sedikit, sepertinya cukup pas hanya untuk seorang saja.
Pagi ini (15/8) aku datang (ketiga kalinya berkunjung sejak pengumuman emeritus) tanpa niat apapun. Tidak ada rencana, hanya tertarik untuk belok masuk halaman rumah Mgr. Henri begitu lewat di depannya. Tepat pukul 07.05 saat aku memencet bel rumah. Sr. Tatiana mempersilahkan aku masuk, dan aku nyelonong saja ke ruang makan.
"Ingin ikut sarapan, Mgr."
"Haa, rupanya kamu sudah kangen juga."
Aku tertawa. Mgr. Henri menyilahkan aku mengambil cangkir dan piring di laci. Aku mengambil kopi gula plus cream dan duduk di sebelahnya.
"Ambillah dulu. Saya masih lama."
Aku mengambil sepotong roti gandum yang disorongkan Mgr. Henri dan melapisinya dengan selembar keju, dan langsung melahap dengan mencengkeramnya pake tangan kananku. Tangan kiri memegang cangkir sembari sesekali menyeruputnya.
Lihat, apa yang dikerjakan Mgr. Henri? Lihat, apa yang ada di piringnya? Ada beberapa tangkai sawi rebus, sepotong timun dan seiris tomat. Mgr. Henri memotongnya, tepatnya mencincangnya, hingga lembut. Tangan kirinya memegang garpu, dan tangan kanan memegang pisau. Serbet diselipkan di bajunya, dan posisi duduk sempurna. Lalu diambilnya sepotong roti gandum, diolesi mentega. Di bagian atas diolesnya lagi campuran sayuran yang sudah halus itu. Dan dimakan dengan pelan, tenang.
"Kok wajahmu begitu? Ini makanan yang menguatkan. Jangan pikir soal rasa enak atau tidak enak."
Aku tersipu mengingat cara makanku.
Usai makan, Mgr. Henri menggeser piringnya dan mengambil cangkir. Kopi cream yang lebih hitam dari punyaku. Isi cangkirku lebih putih, karena lebih banyak cream ketimbang kopinya. Beberapa komentar pun muncul menimpali Metro TV yang pagi ini mengulas tentang parcel bagi para pejabat.
Ritual sarapan dilanjutkan di dekat kandang burung, dengan membawa satu lembar roti gandum. Dicuil-cuil dan dilemparkan ke para burung yang berkicau ramai menyambutnya. Lalu aku pamit.
"Sudah kenyang, Mgr. Mau melanjutkan hidup."
Wajahnya tak percaya. Biasanya kan ada omongan tentang pekerjaan ini itu, curhat ini itu, dll.
"Tidak ada yang ingin disampaikan?"
"Saya memikirkan sesuatu, tapi tidak yakin. Jadi kapan-kapan saya mampir lagi."
Hehehe, sebetulnya kasihan melihat wajah Mgr. Henri yang bengong sesaat sebelum mengantarku ke pintu. Tapi aku betul-betul memilih untuk pamit dan melanjutkan hidup hari ini di kantor Nuntius. Pukul 08.05.

Monday, August 13, 2012

The Unknown Errors of Our Lives

Aku sedang membaca buku ini. Ditulis oleh Chitra Banerjee Divakaruni. Siapa penulis ini silakan klik di sini . Aku tidak ingat apakah aku pernah membaca tulisan lain yang dibuat olehnya. Lamat-lamat mungkin aku pernah membaca sebuah cerita anak yang yang ditulis Chitra, tapi tidak yakin. Mungkin aku harus bongkar rak-rak bukuku dulu untuk memastikan.
Buku ini berisi 9 cerpen Chitra dengan tokoh-tokoh perempuan India muda atau tua yang migrasi atau pernah migrasi ke Amerika. (Aku jadi ingat film My Name is Khan. Pernah aku tulis sekilas di shah-rukh-khan, atau di tempat lain juga. Lupa.) Dari awal, melihat sampulnya pun aku sudah terpikat. Lihat bunga-bunga kamboja itu? Lihat warna tanah yang membingkainya?
Nah, Chitra menyodorkan kisah-kisah perempuan yang masih India namun juga sudah Amerika. Dinamika perempuan.
"Dari waktu ke waktu mereka melemparkan lirikan ke arahku dan pakaian Indiaku. aku tahu mereka pasti belum banyak melihat orang India. aku mencengkeram pagar kapal, sambil menggigil, ingin sekali berada di Sacramento lagi, di mana tidak ada yang memandangiku bila aku berjalan ke toko memakai salwar kameez." (hal. 51)
Chitra menunjukkan ranah aman yang dinikmati oleh perempuan. Maka, tokoh-tokoh perempuan India pun disandingkan dengan laki-laki India (bukan bule atau negro), walau perjalanan sudah sejauh itu dilakukan. Tetap dalam ikatan sari atau salwar kameez.
Namun di sisi lain, Chitra juga jujur mengisahkan hasrat perempuan yang liar penuh mimpi. Kadang di luar tradisi.
"Aku menggetarkan bahuku dan mendongakkan kepalaku, dengan berdansa mendobrak ke dalam hidup baru yang sudah kumulai sebagai impian - rasanya sudah begitu lama berlalu - di atas bus Greyhound. Ketika Ajit memutarku sehingga aku tersandar ke dadanya, aku tidak menarik mundur diriku seperti yang akan dilakukan Mira yang lama, Mira yang rambutnya dipenuhi bercak karat dari tangki air, yang mengering seperti kerak darah." (Hal. 197)
Maka ada cinta, ada gairah, ada petualangan. Dan tentu saja ada kesalahan-kesalahan, yang sebagian besar di antaranya tak pernah bisa diketahui di mana ujung atau pangkalnya. Apa penyebab dan solusinya. Tak pernah bisa diketahui.

Thursday, August 09, 2012

Menjadi Artis seperti Agnes Monica


Sekali-sekali aku pernah mimpi untuk menjadi artis. Tentu saja enak membayangkannya. Terkenal. Mau senyum atau nungging disorot media. Bisa dijual senyuman atau tunggingannya. Tentu saja aku pilih-pilih jika jadi artis akan menjadi artis yang mana. Dan pilihanku : Agnes Monica. Gadis kelahiran Jakarta 1 Juli 1986 itu berpaut belasan tahun lebih muda dariku. Tapi aku menyukainya. Lihat cara dia tampil di depan umum. Menarik. Wajahnya, badannya, gerakannya, bajunya, gaya rambutnya, dll. Kadang kontroversial. Tidak lazim, nyleneh, berani. Tapi gak mbosenin dalam kaca mataku.
Yang terlihat seperti itu. Dan dia punya citra kerja keras. Itu bisa terlihat dari otot-otot tubuhnya dan cara bicaranya. Sekali lagi, yang terlihat! Dan aku tentu saja tidak bisa melihatnya sepanjang waktu. Aku gak tahu pas dia tidur, mandi, jatuh cinta, patah hati, berbuat salah, marah, sedih, dsb.
Dan tentu saja jadi artis harus siap dengan citra. Orang akan melahap citra itu lewat media. Habis-habisan.
Jika aku sekali-sekali mimpi menjadi artis, maka aku juga sekali-sekali berlatih untuk memakai citra. Orang banyak akan melihat citraku itu. Mereka tidak melihatku saat aku sedang tidur, mandi, berbuat salah, marah, atau sedih. Dan penilaian hanya berdasarkan citra adalah kesalahan besar. Ada banyak hal tak kelihatan di balik citra.
Lalu, bagaimana jika para aktor negara memakai citra dalam bertindak? Harus! Harus ada citra karena kita gak lihat yang tidak kelihatan. Yang harus diingat, mereka ini bukan artis. Maka citra yang harus mereka tampilkan juga bukan citra keartisan. Tapi citra aktor ( = pelaku, bukan aktris atau artis) negara. Aku menunggu melihat citra itu.

Wednesday, August 08, 2012

Arah dan Tujuan Hidup Hingga Akhir Tahun

Jalan masuk.
Di OVJ, kalau salah satu pemain sudah kelewat ngong, membuat alur cerita berantakan, salah satu dari mereka yang masih sedikit waras akan mendekati.
"Mau tanya, sebenarnya apa dan kemana sih arah hidupmu?"
Sekarang ini mungkin saja aku juga sudah kelewat ngong, lebih dari berantakan, lebih dari merusak alur cerita. Dan kalau ada yang bertanya,"Yuli, sebenarnya kemana sih arah hidupmu?", jangan berasumsi jangan menilai. Segini ngongnya aku, aku masih punya arah dan tujuan hidup. Memang kali ini aku gak bisa menentukan arah dan tujuan hidup selama hidup. Itu terlalu panjang dan lama untuk dipikirkan sekarang bagi otakku yang sedang sempit karena ngong. Tapi aku bisa jawab dengan gembira bahagia bahwa aku punya arah dan tujuan hidup hingga akhir tahun. Karenanya, aku tidak punya alasan untuk merasa sedih, gagal, putus asa, atau apapun yang negatif. Bahwa aku memang lagi ngong ya biar saja begitu dulu.
"Jadi apa arah dan tujuan hidupmu hingga akhir tahun?"
"Ada deh. Yang jelas aku gak akan pasang program jangka panjang sekarang ini. Aku mau yang jangka-jangka pendek saja. Ini akan membuat hidup lebih mudah, tidak repot. Seperti kredit motor, nyicil dikit-dikit. Kan akhirnya lunas juga."
"Iya, tapi kemana arah hidupmu?"
"Pokoknya menarik deh. Aku ceritain nanti saja usai evaluasi ya. Sekarang kan baru planning, beberapa langkah tindakan awal, dan akan mau kedepan. Gak asyik kalau diceritain duluan."
Haa, pasti kemudian curiga,"Halah, lagi ruwet saja. Pasti memang lagi gak jelas arah hidupmu tuh."
Yeee, kata-kata mah tidak harus menggambarkan niat dan tindakan. Biarin saja omong gak jelas. Memang lagi ngong. Lagi ngong kan gak harus mikir dulu kalau mau ngomong. (Ngong = gila, tapi tidak sekedar gila. Ada unsur sadar. Mungkin bisa dikatakan gila yang sadar, begitulah. Hehehe. Orang lagi ngong tidak bisa disalahkan, karena disalahkan seperti apapun ya akan tetap ngong.)

Tuesday, August 07, 2012

Dibangunkan Kewajiban

Tidur lelap dengan garis-garis mimpi, terjemahanku untuk Starry Night-nya Van Gogh
Tidur itu adalah saat paling enak. Ndak usah mikir, mengendalikan diri, sadar, atau apapun. Pun masih dapat bonus mimpi-mimpi. Maka, untuk bangun tuh pasti rasanya malas sekali. (Dan itu aku banget!) Aku sangat suka bangun siang-siang, santai, ndak perlu buru-buru loncat dari kasur, bisa berguling-guling dulu. Lebih nikmat kalau masih boleh melanjutkan bacaan sebelum tidur yang nyelip di bawah bantal, lalu ada yang nganteri sarapan!
Tapi manusia harus bangun. Ini ndak enaknya. Kalau tidur terus belum bisa disebut manusia. Dan manusia dicipta bukan hanya untuk tidur. Maka pagi-pagi manusia pun bangun oleh kewajibannya masing-masing. Kewajiban menjadi manusia. Dibangunkan oleh kewajiban sholat subuh, misa pagi, atau meditasi. Itu menjadi awal untuk hidup selanjutnya dalam sehari itu.
Aku? Aku pun dibangunkan oleh kewajiban pagiku. Belum sholat subuh, misa pagi atau meditasi. Kewajiban pagiku ada di dapur. Jam 5 atau paling telat 5.30 harus sudah di dapur. Sementara itu yang bisa membangunkan tidur lelapku untuk beberapa masa kemarin hingga kedepan. Minimal aku memasak dalam hening. Itulah ibadatku.
Sehingga aku bisa menikmati lintasan pikiran dan rasa tentang apa saja. Ibu yang sedang di rumah sakit, anak-anak yang semakin remaja, Ahmad Jayani yang lama tak berkabar di Jatiagung sana, kantor yang sedang sangat membosankan, janji untuk pertemuan orang muda nanti sore, mas Hen yang lagi sibuk dengan cangkang sawitnya, buka puasa bersama FKSPL, setumpuk cerpen-cerpen yang sedang kubuat, nasib Buku Goro-goro-nya Rm. Dwijo yang belum ketahuan, kekasih-kekasih gelapku, rencana liburan akhir tahun, keinginan kemping di dekat air terjun Gunung Betung, rindu Yeni, kuatir gak jelas tentang Mbak Lis, bapak, atau bahkan tentang pikiran dan rasa yang lagi kosong, dll. dll. dll. ...
Pikiran dan rasa tumpleg bleg seperti itu mulai membakar bahkan di awal hari. Untungnya masih boleh tidur nanti malam. Maka aku akan menunggu malam. Selalu ada saat aku ndak usah memikirkan semua itu. Tapi juga untungnya masih boleh bangun sehingga aku bisa merubah pikiran dan rasa segala hal itu. Merubahnya bersama pergerakan tubuh jiwaku sepanjang hari.
Susahnya, aku bisa bilang, ada banyak orang yang masih suka tidur lelap saja. Walau kewajiban sudah memanggil membangunkan, tetap tak terusik. Dan lebih susah lagi, aku sering juga kepikiran orang-orang macam itu. Menduga-duga mereka bisa dibangunkan atau tidak. Kedelai sudah langka, kok masih tidur. Harga bahan pangan melangit, kok masih tidur. Kasus polisi berulang, kok masih tidur. Korupsi semakin parah, kok masih tidur. Orang teriak-teriak demonstrasi, kok masih tidur. Hoi!!! Ini bukan lagi pagi, sudah siang, bahkan akan sore. Cepat bangunnn!!!
Satu-satunya keuntungan punya pikiran yang gelisah seperti ini adalah susah tidur! Maka aku punya waktu yang lebih panjang untuk bergerak.

Monday, August 06, 2012

Ibu Masuk Rumah Sakit, Lagi.

Ibu masuk rumah sakit lagi. Ini sudah kesekian kalinya sejak dipasang cincin di jantung pada akhir tahun lalu di RS Harapan Kita dan harus suntik insulin untuk mengatasi gula tiap hari mulai beberapa bulan lalu.
Sabtu, 4 Agustus 2012 malam gejala sesak dan sakit di dada dan lengan bagian kiri membuat bapak Sam langsung mengantar ke RS. Baptis di Kediri. Pagi-pagi aku terima kabar itu lewat SMS. Cemas, dan langsung melantunkan doa-doa.
"Seperti yang lalu. Sekarang masih di UGD. Doakan saja, Yo. Kalian di Lampung apik?"
Ah, suara sabar Pak Sam membuatku tenang. Aku coba telepon ibu sorenya, tapi tidak diangkat. Memang harus istirahat, aku paham. Tapi mendengar suara ibu pasti akan membuatku lebih tenang lagi.

Ini aku dapatkan dari Yayasan Jantung Indonesia. Ada detail-detail lain, tapi minimal ini bisa menjadi pengetahuan awal sebelum browsing yang lebih lagi. Mohon doa untuk Ibu Titik-ku.

Sayangilah Jantung Anda

Penyakit jantung koroner adalah salah satu penyakit penyebab utama kematian di Indonesia. Dengan bertambahnya usia, semakin meningkatnya, gaya hidup mewah, dan naiknya tingkat stres, risiko berjangkitnya penyakit jantung koroner semakin tinggi. Namun demikian, penyakit jantung koroner ini dapat dicegah atau diobati. Ilmu kedokteran telah mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang bisa kita ubah untuk menghindari penyakit tersebut.
Karena itu, sayangilah jantung Anda dan kenalilah berbagai fakta tentang penyakit jantung koroner ini. Dengan demikian, Anda dapat menyelamatkan hidup Anda sendiri!

APAKAH JANTUNG SEHAT ITU?
Jantung adalah organ tubuh yang terdiri dari otot-otot yang kuat dan memompa darah yang membawa oksigen dan bahan makanan ke seluruh bagianian tubuh. Untuk dapat berfungsi secara baik, jantung membutuhkan darah yang cukup untuk memberinya oksigen dan bahan makanan yang memadai, agar dapat menunjang kegiatan sehari-hari seperti berjalan atau makan. Jantung memiliki dua arteri koroner utama, yang selanjutnya bercabang-cabang.

JANTUNG TAK SEHAT
Penyakit Jantung Koroner
Ketika arteri koroner menyempit atau tersumbat, suplai darah ke jantung berkurang, sehingga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan otot-otot jantung. Keadaan inilah yang disebut dengan penyakit jantung koroner. Penyebab utama penyakit ini adalah aterosklerosis.
Aterosklerosis
Aterosklerosis adalah keadaan di mana unsur lemak bertumpuk di dinding dalam arteri dan menyebabkan menyempitnya arteri, dan jika terus berlanjut, menyumbat arus darah. Ini biasanya terjadi jika kita kelebihan lemak atau kolesterol dalam darah kita.

Thursday, August 02, 2012

Baju Kotak-kotak

Jokowi bersama kotak-kotaknya, eh pendukungnya.
Dari dulu aku suka baju kotak-kotak. Dalam setiap masa aku selalu punya baju dengan motif ini. (Walau sekarang ketika aku bongkar lemari, bukan hanya kotak-kotak tapi sudah lebih variasi bentuk dan warna baju yang kupunya, dan kebanyakan malah hampir semua adalah baju gratisan! Hehehe...)
Tapi aku tetap suka baju motif kotak-kotak. Rasanya motif kotak-kotak itu begitu sederhana mencerminkan diriku yang memang sederhana. Cieee... Dan baju kotak-kotak tuh fleksibel. Mau ke kantor atau ke gunung tetep cocok. Menurutku begitu!
Tapi gara-gara Jokowi - Ahok memakainya untuk kampanye gubernur Jakarta aku jadi malas memakai kotak-kotakku. Bukan apa-apa, cuma kok jadi banyak kembarannya ya? Motif kotak-kotak kan selamanya selalu sama. Yang beda cuma ukuran dan warnanya. Juga bukan karena takut dikira pendukung mereka. Toh aku di Lampung, tidak pengaruh apa-apa suaraku bagi mereka.
Memang sih, siapa pun gubernur Jakarta yang terpilih mau tidak mau dia akan memberi pengaruh pada siapa saja orang Indonesia khususnya yang sering mondar-mandir ke Jakarta untuk segala macam urusan. Dan semua pasti setuju bahwa Jakartalah tempat segala macam urusan itu. Maka banyak nian yang datang ke Jakarta dan terpengaruhi oleh transportasi, sarana publik lain, urusan administrasi tetek bengek, dan sebagainya yang diterapkan di Jakarta.
Jadi siapapun yang terpilih nanti, plis, buat wajah Jakarta menjadi lebih baik dan nyaman. Buat benar-benar sebagai ibu kota negara bagi seluruh Indonesia. Ibu yang ramah bagi semua...

Wednesday, August 01, 2012

Negara Tempe tanpa Kedelai

Tempe kedelai
Nun alkisah di sebuah negara di cincin bumi yang jelita, hiduplah sekelompok rakyat jelata. Mereka seperti kebanyakan orang di manapun kalau ditilik dari tubuh, wajah dan rambutnya. Mereka ini bekerja dan makan serta tidur seperti kebanyakan orang lain. Yang sedikit unik adalah mereka mempunyai makanan sakti yang harus mereka santap sehari-hari. Jika sehari saja mereka tidak makan makanan ini, bukan hanya perut mereka yang akan melilit, tapi akan ada penyakit akut yang menyerang mereka. Penyakit itu disebabkan putusnya hubungan otak dengan segala organ dan indera pada tubuh mereka. Maka omongan tidak nyambung, pendengaran tidak beres, penciuman gagal, dan gerakan tangan kaki jadi ngaco. Tidak ada obat untuk penyakit ini. Cukup makan secuil tempe, mereka akan sembuh.
Mereka harusnya dipandu oleh raja dan para pamong praja menjaga supaya tempe selalu ada dalam menu mereka sehari-hari. Tapi saking remehnya urusan tempe ini, ketersediaan tempe sering kali tidak masuk hitungan dibanding urusan-urusan besar lainnya. Ya, tentu saja mereka juga makan makanan yang lain. Tapi tempe bukan suatu pilihan. Tempe adalah keharusan dan kewajiban tiap orang bagi tubuh mereka sendiri.
Ada juga beberapa orang, yang sudah mendapatkan penetralan terhadap tempe karena suatu usaha, mereka tidak lagi tergantung pada tempe. Tapi ini jumlah yang sangat kecil. Dan proses penetralan ini membutuhkan biaya yang sangat mahal, konon hingga di atas 1 milyar kepeng. Siapa rakyat jelata yang mampu mencari kepeng sebanyak itu? Dan kebanyakan negeri ini dihuni rakyat jelata dengan penghasilan hanya 8 - 10 kepeng saja seharinya. Cukup untuk membeli tempe seharga 1 kepeng dan tentu saja beras, gas, dll kebutuhan sehari-hari. Jangan kata soal menabung. Itu sangat sulit dilakukan.
Bertahun-tahun mereka hidup dengan tempe sebagai penopang hidup. Syahdan, suatu waktu tiba-tiba tempe menjadi barang langka. Kalau pun ada sudah menjadi rebutan. Satu hari saja, dan orang-orang pun menjadi kalap. Ya bayangkan, sehari tidak makan tempe penyakit putusnya hubungan otak itu langsung bereaksi. Hampir seluruh rakyat mengidap itu. Kalau ada yang masih punya tempe, mereka menyimpannya diam-diam.
Raja dan seluruh pamong praja pun panik. Mereka menemukan ternyata, mereka tidak punya stok kedelai lagi di lumbung-lumbungnya.
"Kenapa sampai kedelai tidak ada?" Murka sang raja.
"Harga kedelai dari luar sangat mahal," jawab pamong urusan ekonomi. "Saya usulkan bea masuk kedelai dihapuskan."
Hal itu pun disetujui. Dan setiap orang boleh membeli kedelai di luar negara itu tanpa biaya untuk negara.
"Apakah kita tidak punya kedelai sendiri?" Tanya sang raja lagi.
"Ada. Tapi panen masih 7 minggu lagi, raja." Angguk pamong urusan petani. "Dan hanya ada beberapa petak yang tersisa. Kita harus usaha lebih untuk para petani kedelai. Mungkin subsidi untuk mereka?"
Murka sang raja masih belum berhenti. Dan bergantian pamong-pamong yang lain mengusulkan ini itu. Mereka lupa bahwa mereka pun belum makan tempe hari itu, sehingga penyakit putusnya hubungan otak itu pun merasuk mereka. Mereka kan belum melakukan vaksinasi penetralan terhadap tempe. Omongan semakin tidak jelas. Tangisan rakyat di berbagai pelosok karena tidak tahan terhadap penyakit itu pun semakin mengharu biru. Mereka mengais kedelai dari pelosok-pelosok. Namun sebagian besar dari mereka sudah terjangkit parah penyakit putusnya hubungan otak, tak terkendali. Negara tempe seolah dihuni oleh para zombie yang butuh tempe sekarang ini juga! Saling bunuh hanya untuk tempe. Tidak ingat anak istri ibu bapak lagi... Karena tempe.
...
"Hoi, bangun, sudah siang!"
Ups, teriakan suamiku membuat aku terloncat dari tempat tidur.
"Ya ampun. Aku mimpi buruk. Itu bukan Indonesia kan?"
"Apaan sih?"
"Aku mimpi negara tempe tanpa kedelai. Mengerikan."
"Hussy. Sudah cuci muka sana. Dan cepat goreng tempe untuk sarapan."
Sebelum ke kamar mandi aku sempatkan melongok kulkas. Di sana ada seiris tempe yang cukup untuk sarapan. Syukurlah masih ada tempe. Tapi aku harus diingatkan untuk mampir pasar nanti siang pulang kerja, untuk membeli tempe.