Thursday, November 29, 2012

Rhoma Irama, Capres Indonesia 2014

Awalnya dari semalam ingin menulis tentang Michael Learns To Rock (MLTR) yang akan nyambangi 3 kota di Indonesia. Tapi gara-gara pagi ini melihat gambar bagus punya Widjana, aku merubah topik. MLTRnya besok-besok saja. Ini tentang Raja Dangdut yang 'mempunyai wacana' menjadi calon presiden Indonesia 2014, yaitu Rhoma Irama (66).
Gambar dari Widjana.
Nah, harus diakui bahwa sosok ini adalah manusia multi talenta. Pertama, dia penyanyi dangdut hebat, legendaris. Lewat Soneta Grup, lagu-lagunya menghiasi jalan, warung, pesta, dan sebagainya. Sebut saja judulnya, kita langsung beralun berdendang hafal sedikit banyak liriknya. Begadang, Judi, Darah Muda, Terajana dan sebagainya. Kedua, dia pemain film-film dengan penonton berjubel di era 70 - 80an. Aku ingat bulik-bulikku termasuk penggemar beratnya. Waktu SD aku pernah diajak nonton film Satria Bergitar, yang dimainkan bersama Ricca Rachim, yang kemudian menjadi istrinya. Ketiga, dia ustadz termasyur. Lihat jadwal ceramah kotbahnya di berbagai belahan dunia. Di Lampung pun pernah diundang sama Eva Dwiana Herman HN di sebuah acara pengajian. Keempat, dia punya banyak penggemar dan pengikut. Penggemarnya mencakup banyak generasi. Gambar-gambarnya masih menghiasi banyak kamar para bujang gadis bapak ibu. Kelima, dia orang yang kuat bersemangat secara fisik maupun dalam berpendapat. Lihat saja sepak terjangnya dalam percintaan. Hanya orang yang kuat yang bisa melakukannya. Juga amati kalau sudah berpendapat, dia akan mempertahankan habis-habisan dengan segala argumentasi. Keenam, dia seorang politikus yang pernah bertahan di partai kabah PPP, pernah jadi utusan GOLKAR, dan juga menjadi ketua di sejumlah organisasi.

Jadi, percaya kan kalau dia multi talenta? Sebagai Raja Dangdut yang kokoh beberapa dasa warsa, dia tak tertandingi. Hebat. Untuk jadi Presiden Indonesia, aku berpikir beberapa tips serius yang bisa membantunya untuk sampai pada impian itu.
1. Melakukan pemetaan secara obyektif  tentang orang Indonesia masa kini. Pendapat beberapa ulama, orang dekat, bukan ulama, bukan orang dekat, harus didengarkan untuk mendapatkan gambaran ini. Kan di Jakarta mudah banget ditemui orang-orang yang beragam macam itu, tidak harus keliling Indonesia untuk mendapatkan manusia yang beragam. Jangan mudah percaya pada satu dua orang yang isinya hanya memuji. Memuji dan menjilat itu sangat tipis sekatnya.
2. Mulai menahan diri bicara tentang isu-isu tertentu yang SARA tentang etnis atau agama lain.  Pendapatnya tentang etnis atau agama bisa sangat-sangat melukai hati. Bukan hanya etnis atau agama tertentu saja, tapi juga mereka yang bersahabat dengan orang dengan etnis atau agama tersebut. Jika secara hati nurani susah bicara yang sebaliknya karena memang sesadarnya itu yang dipikirkan dan dihayati, minimal tidak usah bicara dulu sampai 2014. Diam-diam saja jika ada hasrat diri ingin bicara tentang hal itu.
3. Mulai membaca koran. Ini biar tidak terjadi peristiwa memalukan seperti dalam Mata Najwa semalam (28/10). Masa ditanya pendapat tentang masalah-masalah sosial yang umum seperti subsidi bahan bakar, malah ngeles. Jika diteruskan bicara, yang ngeles-ngeles kayak gitu pasti ngawur logikanya. Kalau memang tidak biasa terjun langsung ke rakyat luas, membaca koran bisa membantu.
4. Melakukan rekonsiliasi seisi rumah dalam keluarganya. Pendekatan pertama-tama harus dilakukan pada para istri dan anak. Dengan demikian mereka akan menjadi sekutu utama dalam perjalanan ke RI 1 ini. Jangan sampai skandal-skandal lama dan baru terungkap ke publik lewat media apapun. Para istri dan anak sebisa mungkin satu suara dalam urusan pribadi keluarga ini. Pendapat tentang poligami dan kawin siri bisa simpang siur di Indonesia ini.
5. Hati-hati menggunakan ayat-ayat Al Quran. Al Quran bukanlah alat politik, tapi alat untuk kesucian diri. Di dalamnya sudah lengkap disebutkan tentang berbagai hal. Jika urusan sosial dunia masih bisa ngeles, nah urusan yang ini jangan lagi ngeles. Jadi, baca secara sungguh-sungguh dan hati-hati. Sungguh hati-hati. Ini urusannya dengan Yang Di Atas. 

Nah, aku sudah bekerja selama kurang lebih satu jam untuk membuat 5 tips ini. Jika ada hal yang perlu ditambahkan, akan ditambahkan sesegera mungkin. Semoga berguna bagi Rhoma Irama dan tim suksesnya. Good luck ya.

Wednesday, November 28, 2012

The Moving Office

Capucino dan nasi goreng untuk makan siang!
Aku biasa pindah kantor. Hehehe, ndak seluruh isi kantor sih, tapi seluruh kerjaan yang biasanya dikerjakan di kantor bisa aku boyong ke suatu tempat. Bisa ke sebuah acara di kota tertentu, atau di dalam kamar, atau di hunian hijau terbuka di suatu tempat, dan lain-lain. Fleksibel sesuai kesempatan untuk bisa kerja. Siang ini aku mindahin kantorku ke Waroeng Kopi di Pahoman, ndak terlalu jauh dari kantor asli. Awalnya karena kencan penting yang gak kesampaian, tapi jadinya nongkrong bekerja di sini beberapa jam. (Arman, where are you?) Cukup nyaman ternyata. Sehingga gak sempat marah-marah walau tuh orang tak ketahuan rimbanya. Tak ada ruginya buatku.
Waroeng Kopi letaknya di Jl. Nusa Indah, no 3. Aku kira belum lama, karena aku baru melihatnya beberapa bulan terakhir ini. Sepertinya baru buka pada bulan Maret tahun ini. Dengan kapasitas 60 pengunjung dengan beberapa jenis ruang, silakan pilih ber-AC, untuk merokok, atau yang di taman. Musik akan mengalun, dan aku bisa kerja dengan tenang. Orang datang dan pergi tapi tidak terlalu ramai. Entah hanya untuk hari ini kebetulan sepi, atau memang tempat ini masih sepi.
Menu yang ada standar kafe kopi. Beberapa jenis kopi, minuman panas dan dingin, beberapa ragam makanan ringan dan berat. Di titik ke 14.00 perutku yang protes membuatku pesan nasi goreng WK agak pedes. Cukup berat, terlebih usai tandas secangkir capucino. Makan sembari menikmati wifi gratis. Hehehe, rasanya sih ini bukan gaya hidupku, tapi sesekali melakukannya cukup ternikmati.
Tagihan? Jika sesekali kayaknya tempat ini masih terjangkau deh. Tapi kalau ramai-ramai aku pilih ditraktir saja. Hehehehe....

Tuesday, November 27, 2012

Selamat Jalan, Romo Alex Ganggu, SVD.

Siang ini (27/10) usai misa prasetya kekal beberapa suster FSGM di Pringsewu, sebuah surat elektronik masuk. Dari Romo Ronnie Neto Wuli, Pr, seorang sahabat dari Ende di timur jauh sana :
"Saat ini saya sedang berada di Ende-Flores mengikuti serangkaian acara penghormatan, misa requiem dan pemakaman seorang tokoh "guru dan sahabat" JPIC, GPP dan GATK Keuskupan Agung Ende dan SVD Flores : Pater Alex Ganggu, SVD. Misa requiem di Aula BBK St. Kondradus Ende dipimpin langsung Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota dan pemakaman di Taman Pemakaman Biara Bruder St. Kondradus Ende dipimpin mantan Ketua Komisi JPIC-KAE Rm.DR.Domi Nong, Pr. Terlihat yang sibuk diantara panitia sidang perkabungan ini adalah teman2 alumni Pendas dan Promotor GATK Kevikepan Bajawa dan Ende-K.A.E.  Dari sambutan2 termasuk dari Bupati Ende menyebutkan : "Kita kehilangan seorang tokoh kemanusiaan, pemberdayaan dan pejuang keutuhan ciptaan, promotor Active Non-Violence  serta sahabat lingkungan alam ciptaan." Alm Pater Alex ikut Pendidikan Promotor GATK di Mataloko dengan Fasilitator Rm. Danny Sanusi dan mbak Yuli Nugrahani. Demikian sekilas info dari Ende "central Flores"-Nusa Bunga untuk Nusantara."
Surat itu mengingatkanku pada sosok yang setia dan tekun yang pernah aku kenal di tahun 2010. Tidak cukup kenal tapi dia bukan orang sembarangan. Dalam sebuah blog francisobon.wordpress.com, dijelaskan sedikit yang pernah dilakukan oleh 'bapak tua' ini.
"Pater Alex Ganggu SVD dari Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) Provinsi SVD Ende mengatakan, gerakan lingkungan hidup yang getol diperjuangkan oleh JPIC selama ini dilandaskan pada konsep bahwa kita membangun relasi tidak saja dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga dengan lingkungan hidup.
“Itulah alasannya mengapa JPIC getol dalam persoalan tambang. Karena masalah tambang bukan saja soal sosial ekonomi, tetapi lebih jauh dari itu adalah soal keutuhan ciptaan,” katanya."
Maka, sejenak aku tunduk ikut berdoa dalam duka cita kepergian Romo Alex. Senyumnya pasti sudah menyebar luas, di kalangan SVD maupun Ende. Selamat jalan, Romo Alex! Rest in peace, father.

Sunday, November 25, 2012

Membanggakan Anak-anak

Di Malioboro saat libur lalu.
Setiap ibu akan sangat sulit untuk bersikap obyektif saat memberikan penilaian atau menceritakan anaknya. Aku kira kecenderungan ini tidak hanya berlaku pada satu dua orang saja, tapi kebanyakan ibu. Pun aku! Hehehe. Seringkali ketidak obyektifan ini agak keladuk bangga sombong. Bukan berarti ibu tidak melihat sisi buruk atau negatif dari anak, hanya menutupi dengan tidak menceritakan yang 'bagian itu'. Alhasil memang seluruh cerita menjadi tidak seimbang, seolah-olah anaknya adalah orang paling hebat sedunia.
Nah sebaliknya, seorang ibu akan cenderung sinis jika mendengar ibu lain bercakap seru tentang anak-anak mereka. Jadinya tidak antusias mendengarkan, dan pengin 'ngejori', nyaingi dengan cerita lain tentang anak-anak mereka sendiri.
"Kalau anak saya...bla...bla...bla..." Tidak mau kalah.
Bisa jadi kesinisan ini merupakan ujung dari pemahaman bahwa para ibu yang lain itu ya sama saja dengan diri sendiri. Jadi walau bibir tersenyum kepala manggut-manggut, dalam hati menyimpan rasa,"Ah, anakmu gak sepenuhnya seperti itu. Sama seperti kalau aku cerita tentang anak-anakku, ada bagian yang tidak kuceritakan juga."
Hehehe...sebegitu pahamnya aku akan situasi ini, ternyata aku pun melakukan hal yang serupa juga. Jika yang diceritakan tentang anak-anak, maka anak-anakkulah yang paling top, the best of the best lah. Walau aku cerita tentang kesalahan, kenakalan, kenaifan mereka, aku tetap bisa menemukan sisi yang bisa kubanggakan dari kisah itu.
Mungkin, ini sebentuk harapan. Mungkin juga ini menggelapkan mata para ibu. Tapi, harapan adalah doa, adalah sugesti. Maka aku akan tetap melakukannya, aku rasa. Anak-anakku selalu anak-anak yang paling tepat bagiku. Begitupun anak-anak lain selalu paling tepat bagi ibunya masing-masing. Maka tentu saja mereka adalah anak-anak paling hebat yang pernah ada.

Friday, November 23, 2012

Pesan Pastoral Sidang KWI Tahun 2012 tentang Ekopastoral


  “Keterlibatan Gereja dalam melestarikan keutuhan ciptaan

Pendahuluan                                                    
1. Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari tanah” (Mzm. 104:14). Yang dikutip untuk mengawali Pesan Pastoral ini adalah Mazmur Pujian atas keagungan Tuhan yang tampak dalam segala ciptaan-Nya. Pujian itu mengandung kesadaran iman pemazmur akan tanggungjawab dan  panggilannya untuk menjaga dan melestarikan keutuhan ciptaan, dengan mengusahakan keselarasan dan perkembangan seluruh ciptaan (Kej 2:15). Inilah kesadaran Gereja juga.  Sadar akan pentingnya tanggungjawab dan panggilan tersebut, para Uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia menyampaikan Pesan Pastoral sebagai buah dari sidang yang diselenggarakan pada tanggal 5 – 15 November 2012.

Kondisi yang memprihatinkan
2.  Alam semesta  dan manusia  sama-sama diciptakan oleh Allah karena kasih-Nya, sehingga manusia tidak bisa tidak menyadari kesatuannya dengan alam. Itulah sebabnya manusia harus memperlakukan alam sebagai sesama ciptaan dan mengolahnya secara bertanggung jawab. Bumi sendiri merupakan rumah bagi manusia dan seluruh makhluk yang lain. Hal ini mengharuskan manusia melihat lingkungan hidup sebagai tempat kediaman dan sumber kehidupan. Oleh karena itu, sejak awal Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya baik adanya (Kej 1:10.12.18.21.25.31) dan Allah mempercayakan alam kepada manusia untuk diusahakan dan dipelihara.
3. Alam semesta bukanlah obyek yang dapat dieksploitasi sesuka hati tetapi  merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia. Sumber daya alam yang diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia di bumi ini diperuntukkan bagi siapa saja tanpa memandang suku, agama dan  status sosial. Sumber daya itu akan cukup apabila dikelola secara bertanggung jawab, baik untuk kebutuhan generasi saat ini maupun generasi yang akan datang.  Oleh karena itu, alam harus diperlakukan dengan adil,  dikelola dan digarap dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab.
4. Tetapi kenyataannya, lingkungan yang adalah anugerah Allah itu, dieksploitasi oleh manusia secara serakah dan ceroboh serta tidak memperhitungkan kebaikan bersama, misalnya penebangan hutan, pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan yang kurang bertanggung jawab.  Lingkungan menjadi rusak, terjadi bencana alam, lahir konflik sosial, akses pada sumber daya alam hilang dan terjadi marginalisasi masyarakat lokal/adat, perempuan dan anak-anak. Keadaan itu diperparah oleh kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada kepentingan politik sesaat dan pola pikir jangka pendek yang mengabaikan keadilan lingkungan. Akibatnya antara lain pemanasan bumi, bertumpuknya sampah, pencemaran air, tanah, laut, udara serta tanah, pengurasan sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan dalam skala besar.

Gereja peduli
5. Gereja telah lama menaruh keprihatinan atas masalah lingkungan yang berakibat buruk pada manusia. Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio (1967, No. 12) mengingatkan kita bahwa masyarakat setempat  harus dilindungi dari kerakusan pendatang. Hal ini diperjelas oleh Paus Yohanes II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987, No. 34) yang menekankan bahwa alam ciptaan sebagai kosmos tidak boleh digunakan semaunya dan pengelolaannya harus tunduk pada tuntunan moral karena dampak pengelolaan yang tidak bermoral tidak hanya dirasakan oleh manusia saat ini tetapi juga generasi mendatang. Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Caritas in Veritate (2009, No. 48) menyadarkan kita bahwa alam adalah anugerah Allah untuk semua orang sehingga harus dikelola secara bertanggungjawab bagi seluruh umat manusia. 
6. Gereja Katolik Indonesia pun telah menaruh perhatian besar pada masalah lingkungan. Hal ini ditegaskan dalam Pesan SAGKI 2005 berjudul “Bangkit dan Bergeraklah” yang mengajak kita untuk segera mengatasi berbagai ketidakadaban publik yang paling mendesak, khususnya yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan. Gereja juga telah melakukan banyak usaha seperti edukasi, advokasi dan negosiasi dalam mengatasi pengrusakan lingkungan yang masih berlangsung terus bahkan kian meningkat kualitas dan kuantitasnya.

Gereja meningkatkan kepedulian
7. Kami mengajak seluruh umat untuk  meneruskan langkah dan meningkatkan kepedulian dalam pelestarian keutuhan ciptaan dalam semangat pertobatan ekologis dan gerak ekopastoral. Kita menyadari bahwa perjuangan ekopastoral untuk melestarikan keutuhan ciptaan tak mungkin dilakukan sendiri. Oleh karenanya, komitmen ini hendaknya diwujudkan dalam bentuk kemitraan dan gerakan bersama, baik dalam Gereja sendiri maupun dengan semua pihak yang terlibat dalam pelestarian keutuhan ciptaan.  
8.Pada akhir Pesan Pastoral ini, kami akan menyampaikan  beberapa pesan:
8.1.Kepada saudara-saudari kami yang berada pada posisi pengambil kebijakan publik : kebijakan terhadap pemanfaatan sumber daya alam dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) hendaknya membawa peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup. Undang-undang yang mengabaikan kepentingan masyarakat perlu ditinjau ulang dan pengawasan terhadap pelaksanaannya haruslah lebih diperketat.
8.2. Kepada saudara-saudari kami yang bekerja di dunia bisnis : pemanfaatan sumber daya alam hendaknya tidak hanya mengejar keuntungan ekonomis, tetapi juga keuntungan sosial yaitu tetap terpenuhinya hak hidup masyarakat setempat dan adanya jaminan bahwa sumber daya alam  akan tetap cukup tersedia untuk generasi yang akan datang. Di samping itu, usaha-usaha produksi di kalangan masyarakat kecil dan terpinggirkan, terutama masyarakat adat, petani dan nelayan, serta mereka yang rentan terhadap perubahan iklim dan bencana lingkungan, perlu lebih didukung.  
8.3. Kepada umat kristiani sekalian : umat kristiani hendaknya mengembangkan habitus baru, khususnya hidup selaras dengan alam berdasarkan  kesadaran dan perilaku yang peduli lingkungan sebagai bagian perwujudan iman dan pewartaan dalam bentuk tindakan pemulihan keutuhan ciptaan. Untuk itu, perlu dicari usaha bersama misalnya pengolahan sampah, penghematan listrik dan air, penanaman pohon, gerakan percontohan di bidang ekologi, advokasi persuasif di bidang hukum terkait dengan hak hidup dan keberlanjutan alam serta lingkungan. Secara khusus lembaga-lembaga pendidikan diharapkan dapat mengambil peranan yang besar  dalam gerakan penyadaran akan masalah lingkungan dan pentingnya kearifan lokal.
9. Tahun Iman yang dibuka oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 11 Oktober 2012, antara lain mengingatkan kita untuk mewujudkan iman kita pada Tuhan secara nyata dalam tindakan kasih (bdk. Mat 25: 31-40). Dengan demikian tanggungjawab dan panggilan kita untuk memulihkan keutuhan ciptaan sebagai wujud iman makin dikuatkan dan komitmen ekopastoral kita untuk peduli pada lingkungan kian diteguhkan. Kita semua berharap agar sikap dan gerakan ekopastoral kita menjadi kesaksian kasih nyata dan “pintu kepada iman” yang “mengantar kita pada hidup dalam persekutuan dengan Allah” (Porta Fidei, No.1). Kita yakin bahwa karya mulia di bidang ekopastoral ini diberkati Tuhan dan mendapat dukungan semua pihak yang berkehendak baik.

Penutup
10. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudari yang telah setia menekuni, mengusahakan dan memperjuangkan kelestarian keutuhan ciptaan dengan caranya masing-masing. Semoga Allah yang telah mencipta segala sesuatu, senantiasa memberkati rencana dan usaha kita bersama ini.

Jakarta,  15 November 2012

P R E S I D I U M
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,


Mgr. Ignatius Suharyo
K e t u a
Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal

Thursday, November 22, 2012

KANVI

KANVI seperti Kampung Bena, kecil di tengah semesta raya.
Ini akan jadi catatan pendek untuk mengingat sebuah perjalanan bertahun silam. Bukan sesuatu yang luar biasa, namun aku masih mengingatnya dikit-dikit sebagai bagian yang cukup menarik, yang sudah pernah aku alami.
Alkisah, aku diajak untuk datang ke suatu acara pada suatu sore di suatu bulan tahun 1995. Aku lupa persisnya siapa yang mengajak. Mungkin Ines atau orang lain, tapi semua yang datang sepertinya sudah aku kenal semuanya entah dekat atau tidak. Bertemu di sebuah ruangan di bangunan berjajar miliknya Komkep Malang. Dalam pertemuan itu Fr. Wawan (dan Ines?) bercerita sebuah pengalaman yang baru saja diperoleh dari pertemuan di Jogja.
Intinya adalah active non violence (ANV). Bertindak aktif tanpa kekerasan. Kami yang hadir tidak lebih dari 7 orang, membuat janji-janji untuk kencan secara periodik. Mau saling sharing, belajar tentang seorang tokoh yang melakukan tindak ANV, merangkainya dalam sabda Tuhan dan mempererat persahabatan. 2 minggu sekali akan bertemu.
Bukan hanya bertemu dengan model itu (dipandu secara bergantian yang sudah disepakati bersama dalam pertemuan), kami juga merencanakan beberapa aksi untuk stop kekerasan, untuk hidup tanpa kekerasan. Bagi stiker, bunga atau seruan-seruan lain merupakan bagian dari aksi bersama.
Lalu tahun 1996, kami membuat sebuah acara di Surabaya. Muncul nama-nama lain yang rupanya turut memberikan warna pada ajakan Fr. Wawan waktu itu. Adi Wardaya, SJ., salah satunya dan orang inilah yang menjadi biang keladi utama. Lalu ya teman-teman lain. Acara itu disebut studi refleksi ANV dipadu dengan latihan teater rakyat. Sangat menarik. Usai acara itu, aku ingat kami memakai KANVI beberapa kali untuk mengumpulkan orang muda. Salah satu yang kuingat diadakan di Sawiran.
Masuk tahun 2000 aku lupa sama sekali pada KANVI selain persahabatan yang tiada henti dengan orang-orangnya. Fr.Wawan yang sudah jadi romo, Ines dan Gatot, Senot, Joko, Vivi, dan beberapa nama lain.  Hingga kemudian di tahun 2008 aku bertemu lagi dengan Mbah Adi. Dia mengingatkanku pada ANV, dan tentu saja tentang KANVI. Yang tiada henti adalah tentang api yang harus dikobarkan dalam diri. ANV bukan sekedar wadah atau gerakan atau jaringan, tapi menjadi pilihan sarana untuk sampai pada kesejatian diri. Dalam relasi sosial dan alam, yang harmonis sebagai ciptaan utuh Sang Agung.
Foto yang aku pasang adalah gambar Kampung Bena di Flores sana, yang aku ambil saat aku mengunjunginya tahun 2010. Seperti kampung itulah aku bisa menggambarkan KANVI. Komunitas kecil di tengah semesta raya. Bisakah berkembang? Bisakah bertahan? Secara history pernah aku kunjungi, pernah aku gulati, dan masih menyimpan mimpi untuk mengunjunginya atau menggulatinya lagi.

Tuesday, November 20, 2012

Selamat Jalan, Kai.

Kai (72) meninggal kemarin (Senin, 19 Nopember 2012). Kabarnya jam 14.00, menghembuskan nafas terakhir di RS. Advent Bandarlampung. Tidak terlalu mengagetkan karena Kai sudah sakit dari setahun lalu, dan sebelum meninggal mengalami koma dari hari Minggu pagi.
"Malam Sabtu itu aku mendengar Kai batuk beberapa kali. Lalu tidur bahkan ngorok, sampai pagi. Ketika pagi-pagi belum juga bangun, lalu kami bangunkan. Tidak bangun. Jadi kami bawa ke rumah sakit." Jelas anak mantunya.
Aku sempat menjenguk ke rumah sakit di ruang ICU. Kai dalam kondisi koma. Telapak tangan dan kakinya dingin sekali, dengan nafas yang berat bersuara seperti ngorok. Air matanya berlinang, itu terlihat ketika diajak bicara. Tapi tidak ada gerakan lain lagi. Matanya kosong menatap ke atas, dan seluruh badannya terbujur tak bergerak selain guncangan karena nafasnya yang tersengal berat. Selang-selang tertancap di hidung, mulut, dan lengan. Beberapa kabel terpasang juga di dada.
Aku pulang ke rumah menjelang pemakaman. Halaman rumahku pun ramai orang karena Kai tinggal persis di depan rumah. Usai Magrib Kai dimakamkan di pemakaman perumahan Polri Hajimena setelah disholatkan di Masjid. Aku mengikuti prosesi dengan kelu. Tak tahu harus melakukan apa, berpikir apa atau mengatakan apa. Lantunan doa tak henti di kepalaku.
"Ini yang terbaik. Juga terbaik bagi semua." Batinku.
Ah, 10-an tahun Kai aku kenal karena tinggal di depan rumah. Pernah menempati rumahku sementara waktu sambil menunggu rumah bersama anak-anaknya itu selesai dibangun. Tapi bahkan aku lupa, siapa namanya ya? Kai adalah panggilan kakek dari bahasa Banjar, karena dia pernah tinggal di sana.
"Kai, selamat jalan. Semua akan baik-baik saja. Kau bisa melihat nenek, Tatik, dan semua anak dan cucumu dari atas sana dengan damai. Selamat jalan, Kai."

Monday, November 19, 2012

Keroyokan

jadi,
kalian akan mengeroyokku?
mengira aku mampu menahan
dengan telapak tanganku?


bisa benar, bisa salah
aku hanya pasang kuda-kuda
ayolah kalian semua
maju dan keroyok aku


ini seperti melumat mawar
dengan seluruh telapakku
akan jatuh kelopak-kelopaknya
bercampur keringat hangat


pasti akan menguarkan harum asam
yang nikmat, seperti perempuan mengidam
merindukan mangga belum matang
aku akan menikmatinya

(Ini tentang otakku, aku, yang sedang dikeroyok banyak impian dan kerjaan.)

Friday, November 16, 2012

Kantuk Pagi

dia biasanya menyambutku hangat
memberiku kalungan bunga
mengurapiku dengan embun
mendupaiku dengan kabut

hari ini dia menahanku di pintu
menarik mata dalam lesak kantuk
dirantainya aku dengan tubuhnya yang tambun
disodorkannya mimpi setengah jadi

hai, lepaskan aku!
malam sudah lewat 
tidakkah uap kopi memendarkan malasmu?

ayolah!
aku ingin melihat tarianmu
aku harus bergerak hari ini.

Tuesday, November 13, 2012

Conspiracy (10)

(Kisah sebelumnya. )
Hmmm, aku yang harus pegang kendali. Aku tidak akan membiarkan mereka membuat semua ini berlarut-larut.
"Aku mau Dew kembali. Brain, kau tidak menginginkannya kan?"
Brain diam memandangku dengan mata tak mengerti. Cepat aku mengalihkan pandangan ke Heart.
"Heart, aku mencintaimu. Tapi, kau mesti belajar mengalah juga."
Heart diam, ada lekukan tidak terima di bibirnya, namun matanya menatapku lembut.
"Dan kalian semua, aku membutuhkan kalian. Jadi bantulah aku."
Mereka pelan-pelan duduk di kursinya masing-masing. Brain cepat-cepat mengandengku untuk duduk di tahtaku. Aku melihat sekilas senyum di bibirnya. Ah, dia selalu menjadi penjagaku. Aku sengaja bertumpu pada tangannya ketika mulai menekuk kakiku untuk duduk.
"Kali ini, aku yang akan menjadi pemimpin kalian. Tidak ada lagi kerja masing-masing. Semua mesti dalam kesadaranku, kendaliku. Brain akan membantuku dalam pembagian tugas." Aku memandang Brain. Dia mengangguk.
"Kita tidak akan menggantungkan diri lagi pada angin, para Gobi, maupun hujan, ..." Aku menghela nafas. Heart kelihatan sedikit gelisah, namun dia tetap di kursinya dan memandangku.
"Dan kita akan menggunakan strategi." Brain berdehem. Kedengaran lebih keras dari biasanya.
"Pertama-tama adalah membuat gambaran yang tepat tentang Dew. Kita akan membuat sketsanya. Wajahnya, tubuhnya, dan segala ciri tentangnya. Dengan begitu, kita dapat memastikan bahwa Dew seperti itulah yang akan kita cari, bersama-sama. Bukan Dew menurut gambaran Brain, Heart atau salah satu dari antara kalian. Dew sejati, dan tidak salah lagi."
Brain mengacungkan tangannya. Kelihatan wajahnya lebih cemerlang dari biasanya.
"Putri, putriku yang mulia. Aku akan menyiapkan segala alat untuk membuat gambar seperti itu. Seluruh kotak-kotak kenangan akan menjadi referensi. Dan selama itu, Heart akan menemanimu untuk mencatat segala perasaanmu terhadap Dew, juga seluruh kerjap yang kau tangkap saat berjumpa dengan Dew."
Aku setuju. Brain melanjutkan dengan mantap.
"Yang lain berjaga-jagalah. Eyes, Noses, Mouth, Ears, Skins, rapikan pasukan kalian masing-masing. Siagakan mereka, dan pekalah. Kami akan memanggil kalian setiap kali dibutuhkan. Gambar itu akan cepat kita selesaikan, secara detail dan cermat."
Semua menyatakan persetujuannya. Aku mengibaskan tangan, tanda mereka semua boleh pergi. Brain dan Heart yang paling akhir pergi. Brain menciumku dengan kasihnya. Suatu yang biasanya paling enggan dilakukannya. Lalu ia berjalan tegak ke tempat dimana kotak-kotak kenangan yang penuh data dan pengalaman disimpan. Sedang Heart mengajakku ke taman, mencari tempat paling nyaman, dan mulai memijit kakiku. * (Bersambung)

Monday, November 12, 2012

Awalnya NN

Awalnya adalah NN.
Tertabrak BRT, pagi tadi.
Aku berlalu, abai, dengan gelenyar di kulit.
Aku daraskan doa, berulang : Ampuni dia.
Sembari berpikir berhati berseteru tak henti,
andai saudara, andai keluarga, andai kenalan...
Aku daraskan doa, berulang : Ampuni aku.
Sepercik rasa bersalah,
karna aku berlalu, abai, dengan gelenyar di kulit.
Kini bukan lagi NN, tapi orang yang jelas.
Mungkin tidak kenal, tapi aku berdoa untuknya.
Jhon Sukirjo, semoga damai di surga.
Sopir BRT, orang-orang yang bantu dan yang abai,
semoga damai di dunia sisa.

(Berharap tidak ada lagi korban keganasan lalulintas.)

Maarif, Belajar dari Si Tukang Kebun

Judul                            : Maarif
Karya                          : Bahauddin Walad
Penyadur dan apresiasi : Ahmad Yulden Erwin
Cetakan 1                   : Januari 2006
Penerbit                      : One Earth Media
Halaman                     : xiv + 456
Dimensi                      : 14,5 X 21
ISSBN                       : 979-99877-9-2


Buku ini sudah ada dalam koleksi bukuku dari tahun 2007 (atau 2008 ya?). Aku mendapatkannya sebagai specially gift from my Babe. (Seperti halnya aku mempunyai banyak ibu, maka aku juga mempunyai banyak bapak. Si pemberi adalah salah satu bapak yang kucintai, yang telah keras mengajarku dengan tangan besi, sekaligus memberiku petunjuk pada kelembutan sebagai mata cinta. Thanks, Be.)

Pada awalnya buku ini aku terima secara biasa. Toh aku sering sekali mendapat hadiah buku dari banyak orang. Namun kemudian menjadi tidak biasa ketika kami sempat mendiskusikannya dalam satu kesempatan luar biasa. Aku lupa siapa saja yang terlibat dalam obrolan, tapi kuingat mereka ini 'orang-orang yang sedang gila', waktu itu. Hehehe... Nama Ahmad Yulden Erwin pun pop up, terlebih kasak-kusuk konon orangnya tinggal di Lampung. "Tetanggamu tuh, Yul." Mereka minta aku mencari si tetangga ini. "Siapa tahu bisa kita undang ke Jakarta untuk diskusi mendalam tentang Maarif." Sayangnya saat itu aku tidak sungguh-sungguh mencari 'tetanggaku' ini walau aku beberapa kali datang ke seputaran Gotong Royong, alamat yang muncul sebagai petunjuk keberadaan Ahmad Yulden Erwin.

Kemudian bertahun buku ini tersuruk begitu saja di rak bukuku, hingga tiba-tiba mencuat lagi di weekend kemarin, semata-mata karena aku ketemu 'tetanggaku' itu secara tidak sengaja. Awalnya aku kurang yakin. Aku memastikan dengan menelusuri koleksiku. Tulisan Maarif, Ahmad Yulden Erwin, dalam warna putih, kuning dengan background biru gradasi kemerahan langsung kelihatan menonjol dari buku-buku yang lain. Dan aku pun mulai membolak-balik buku itu lagi. Betul dia ini orangnya, hehehe... Telat banget. Sahabat-sahabat gilaku sudah tersebar entah di mana.

Belum semua bab dalam buku ini sudah aku baca. Aku ingat aku membacanya secara melompat-lompat. Syukurnya, buku ini bisa dibaca dengan cara demikian. Bebagai topik sufistik ditulis oleh Bahauddin Walad sebagai prosa puitis, diterjemahkan dan disadur oleh Erwin dalam bahasa Indonesia secara demikian juga. Aku tidak pasti dari bahasa apa dia menterjemahkan, tapi aku bisa katakan ini terjemaahan yang 'utuh' dan indah. (Dalam beberapa buku terjemaahan aku sering sok mencela-cela, 'terlalu bau Perancis', atau 'Belanda banget deh'. Buku ini tidak memberiku alasan untuk mencela karena aku tidak mendapat baunya selain Indonesia, yang indah.)

Ketika aku buka kembali, ada tiga pembatas buku yang terselip di buku ini. Ini pasti menandai bab-bab terakhir yang aku baca sebelum aku 'onggokkan' di rak dindingku. Pembatas buku yang paling akhir ada pada bab 57, Berdusta (hal. 201). "Seseorang yang berkata :"Aku telah beriman.", mungkin saja berdusta. Sebab, ketergantungannya kepada Tuhan mungkin saja lebih dimotivasi untuk mengejar kenikmatan, atau untuk menghindari penderitaan."

Kata-kata Bahauddin Walad, ayah dari Jalaludin Rumi yang tarian berputarnya sudah menjadi inpirasi pada beberapa cerpen dan puisiku, adalah kumpulan kata lembut yang menyusup pelan, sekaligus memberikan rasa sakit saat membacanya. Pasti ini semacam rasa sakit yang diterima oleh kerang mutiara saat raganya disusupi 'pencemar' atau 'pengganggu'. Dan spontan tubuh dan jiwa bereaksi 'menggulatinya', melumuri dengan 'penyembuhan diri', hingga tebal dan suatu ketika nanti akan jadi mutiara berharga.

Maka, di setiap satu bab yang aku baca, aku menyempatkan diri dalam pengendapan sebelum lanjut pada bab berikutnya. Dengan demikian buku ini bukan hanya teks kata, tidak semata sekedar kumpulan kata. Bahauddin Walad menyebut diri si tukang kebun, dan aku si pekerja di ladang Tuhan yang belum berani mengaku, tersindir habis oleh kata-kata yang diungkap olehnya. Hmm, sebenarnya bukan semata sindiran. Beberapa bab adalah hiburan, yang lain pencerahan, lainnya lagi kritikan, dukungan, dan sebagainya.

Erwin memberikan apresiasi di tiap bab. Jujur, bagian yang ini tidak terlalu kusuka karena terasa melelahkan. Aku melakukan usaha yang cukup keras supaya tidak terpancing tulisan Erwin ini. Aku yakin Erwin mengungkapkan apresiasi dari refleksinya yang mendalam. Di beberapa bab, refleksi itu ada juga yang senada dengan irama jiwaku saat membaca bab yang bersangkutan. Namun, sejarah dan konteksku berbeda dengan Erwin. Jadi, di beberapa bab aku menahan diri supaya aku tidak masuk dalam 'kurungan' (?) yang sudah dibuat oleh Erwin. Hehehe, mungkin bukan dimaksudkan sebagai kurungan, jadi aku pun bertahan memerdekakan diri dalam mengendapkannya.

Apresiasiku sangat besar untuk manuskrip Maarif, dan juga untuk Erwin yang sudah membawaku pada Bahauddin Walad. Buku ini berjajar dengan buku-buku favorit yang tak akan kubiarkan hilang. Surely.

Saturday, November 10, 2012

Titik Maklum

Tulisan ini bagian dari 'ngeles', mencari pembenaran dari beberapa yang aku ungkapkan pada My Dear Bejo pagi ini. Aku anggap ini satu fase penting yang harus kusadari, maka aku mesti menulisnya supaya tidak lupa.
Ya, ini terkait dengan tuduhan beberapa sahabat. Mereka sahabatku, jadi jika mereka sampai menuduhku maka tuduhan itu benar adanya sesuai dengan pemahaman mereka terhadapku. Tidak salah.
Memang tidak salah jika aku dikatakan sebagai "Orang yang tidak punya prinsip." Hatiku mempertanyakan kebenarannya, tapi penilaian mereka sah.
Tidak salah jika aku dikatakan sebagai "Orang yang tidak berpihak. Orang yang netral. Ular berkepala dua atau tiga atau seribu. Yang tidak ngeblok." Aku akan protes, tapi penilaian itu benar.
Aku kira memang aku orang seperti itu. Mereka katakan harusnya aku mempunyai keterpihakan yang jelas.
Hmmm, ini yang menjadi pemikiranku sekarang. Aku ingat berpuluh tahun lalu, mungkin saat SMA, aku sudah berpikir soal "Aku akan sampai pada titik itu, titik maklum." Dulu pikiranku adalah hitam putih, dan aku akan sampai pada titik maklum, di mana tidak ada hitam atau putih. Baik atau jahat. Cek di blogku yang lain ini. Di situ ada salah satu orang yang memberiku pengaruh pada pendapat ini.
Terus terang, titik maklum menjadi visiku yang kuat sejak aku remaja. Maka nilai-nilai menjadi tengah-tengah antara hitam dan putih, mungkin tidak abu-abu tapi ada di antara hitam dan putih. Hal itu diperkuat oleh pengalaman-pengalaman. Aku bertemu orang yang pernah membunuh (jahat?) tapi dia menunjukkan kasih yang luar biasa pada suatu peristiwa, beberapa orang (baik?). Aku pernah bertemu orang suci, yang bersih dari kaki hingga kepalanya (baik?) tapi kemudian dia tanpa merasa bersalah melakukan sesuatu yang menjijikkan dan tidak bermoral menurut pandangan umum (jahat?). Aku tidak bisa membenci orang-orang itu, pun tindakan-tindakan kuanggap manusiawi antara hitam dan putih. Bahkan pada sahabat-sahabatku, saudaraku, aku menemukan sisi hitam dan putih yang sesekali membuatku sangat jengkel marah namun tak bisa membuatku berhenti mencintainya. "Terserah kau lakukan apa, aku tetap mencintaimu!" Itu kuserukan setiap waktu pada setiap orang bahkan orang-orang di jalanan. (Apalagi orang-orang yang terdekatku.)
Bejo memintaku (mendesakku) untuk berpihak. Berpihak pada 'siapa'? Berpihak pada 'apa' aku sudah berusaha lakukan dengan seluruh tindakanku, pikiranku, keterbukaanku. Tapi berpihak pada 'siapa', aku tidak bisa. Aku tidak berani menyebutkan 'belum' karena aku tidak punya visi seperti itu. Secara hati aku spontan di sisi para buruh ketimbang para pengusaha, orang muda ketimbang orang tua, korban dari pada penindas dan sebagainya. Aku lakukan juga dalam aksi, selain omongan dan tulisan. Tapi aku juga tidak bisa membuat diriku memandang salah satu sisi secara negatif antipati.
Yang sedang kupikir, hehehe, ini bagian dari 'ngeles'ku, adalah aku mesti berada pada posisi dan peran yang benar supaya cara pandangku ini memberi manfaat yang tepat pada sekitarku, pada semesta dunia. Ini yang sedang menjadi fokus pikiranku beberapa waktu (tahun?) terakhir ini. Menemukan kavling yang tepat bagi diriku. Pertapa? Hehehe. Seniman? Lebih cocok. Novelis? Ambisius. Cerpenis? Ahhh... Mungkin sesuatu yang lebih soliter. Ini masa midle of life dalam hidupku, sepertinya. Semacam puber kedua, pencarian jilid kedua. Hehehe....
Bejo, terimakasih atas secangkir kopi pekat pagi ini. Ini jadi satu tapak tanggaku. Moga aku sedang menghadap ke atas.

Thursday, November 08, 2012

Just Say : Please Help Me

Seorang ibuku (Hehehe, aku punya ibu yang banyak, tempat aku mengayun manja digendong diajar.) pagi ini menyapa. Manis terasa di telinga, tapi sungguh lecutan yang membuatku terhenyak.
"Hanya katakan, tolong aku, ya..."
"Hanya begitu?"
"Ya! Memangnya kau ini hebat bisa mengerjakan semuanya? Bantu mereka untuk melihat apa yang kau kerjakan. Bantu mereka untuk tahu apa yang kau rasakan. Biar mereka memahami dirimu dan apa yang kau kerjakan."
"Hmmm..."
"Pakai bibirmu dengan manis, dan pakai tanganmu dengan kasih."
"Aduh."
Maka aku terlolong tak tertolong, mencoba memahami ini mulai dari nol. Aku setuju itu. Dalam bahasa yang berbeda, aku pernah dicerahkan tentang hal ini juga, tapi rupanya aku masih tolol bertahan dalam egoisku, ngeyel tak melihat sekeliling. Bandel tak mau menghayatinya.
"Jadi tak ada alasan bagimu untuk merasa capek. Biarkan dirimu dipahami, dibantu. Enteng kan?"
Hmmm, ya, ibu. "I will try."
Weleh telat sekali untuk try di titik ini, sementara pemahaman tentang hal ini sudah dilemparkan ke aku bertahun yang lalu lewat berbagai peristiwa.
"Terimakasih, ibu. Terimakasih sudah mencerahkan aku pagi ini."
Dan aku memeluknya erat, menimba kasih darinya. Aku tahu ibuku yang lain akan datang nanti siang atau malam atau besok untuk menjagaku. Pasti.

Wednesday, November 07, 2012

Menuju Shambhala

Ada satu tempat yang menjadi tujuan perjalananku kali ini.
Shambhala. Tempat para dewa bersemayam.
Kuil-kuilnya sudah menjulang di perbukitan.
Aku akan menuju ke sana.

Beberapa petunjuk sudah kudapat di sepanjang jalan.
Pertama, aku menemukan diriku yang memuai
atau menyusut sesuai energi cinta yang mengalir.
Kedua, aku harus punya visi positif di ujung sana,
visi yang cemerlang dalam pagar semesta raya.
Ketiga, aku memantapkan sugesti pengharapan,
setiap saat, setiap tempat, setiap insan.

Cinta, iman dan pengharapan adalah peta
bagi perjalanan penuh misteri kali ini.
Menuju Shambhala.

Monday, November 05, 2012

Menulis

Seorang sahabat mengirim SMS : "Menulis adalah karya seni keheningan."
Aku membantah :"Tapi menulis adalah pipa bagi hati dan pikir yang riuh bertabur pesan."
Kemudian aku pikir-pikir, aku tidak bisa membedakan apakah hening dan riuh. Keduanya sama.
Kalau dikata sekarang ini saat aku menulis ini, aku sedang hening, memang aku sedang tidak mengeluarkan suara apapun. Gerakan yang muncul dari tubuhku adalah jari-jemari di keyboard komputer, mata antara monitor dan tuts, serta nafas teratur yang nyaris tak kusadari.
Namun bisa dikata sekarang ini saat menulis ini, otakku sedang sangat riuh. Satu lontaran berpindah ke lontaran lain. Pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, ide-ide, pikiran, rasa, semuanya berisik berpadu tidak berhenti. Bergerak ke sana kemari, bahkan tiada batas.
Jadi, apakah ini hening? Atau riuh?

Saturday, November 03, 2012

Membolak-balik Buku Rahimku Bukan Kos-kosan

Judul          : Rahimku Bukan Kos-kosan
Penulis       : Yessy Sinubulan
Penerbit     : Gerrmedia Komik
Halaman    : 250 halaman isi
Cetakan 1 : Mei 2012
ISBN        : 978-602-99921-3-7


Judul dan cover depan buku ini begitu menggoda. Warna ungu dengan gradasi lembut dari atas ke bawah menjadi warna dominan, selain warna hitam pada siluet orang hamil dan tulisan, dan krem sebagai latar judul. Warna lain yang muncul adalah merah dan putih.
Judul Rahimku Bukan Kos-kosan, sudah menandakan pembaca yang disasar, yaitu orang muda, pelajar atau mahasiswa, yang familier dengan kehidupan kos-kosan. Dan sebuah pesan dengan lugas disampaikan di bawah judul itu "...tidak benar jika setelah aborsi kamu bisa pulang dan tidak merasakan apa-apa..." Penulis jelas menandaskan di mana dia berdiri : Dia tidak setuju dengan aborsi! Lebih terlihat jelas ketika kita membaca halaman usai daftar isi. Sebuah ilustrasi dengan tulisan Abortion is murder! Terpampang jelas, sejelas pikiran penulisnya.
Ada 24 judul cerpen yang dikumpulkan dalam buku ini. Semua mengambil tema aborsi, yang dilakukan oleh berbagai kalangan : orang muda, mahasiswa, ibu rumah tangga, pelacur dan sebagainya. Perempuan-perempuan disodorkan oleh penulis sebagai tokoh-tokoh yang mengkuatirkan hidupnya, mengkuatirkan 'sesuatu' yang mungkin atau pasti ada di rahimnya, juga didampingi laki-laki yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah 'janin' maupun 'aborsi', entah di pihak manapun.
Setiap judul sering kali diselipi sebuah data tentang pernak-pernik yang berkaitan dengan aborsi. Misal usai memampang cerpen dengan judul Aku dan Beberapa Potong Nanas, penulis menambahkan sebuah kotak bertuliskan  : Tahu tidak sih?Nanas mengandung bla, bla, bla, dst. Juga di beberapa bagian lain tentang proses aborsi, akibat aborsi, fakta-fakta tentang aborsi dsb. Seperti menyajikan sebuah referensi untuk sebuah aborsi. Seolah ada kekuatiran penulis bahwa apa yang sudah dituangkannya dalam cerpen-cerpen itu tidak cukup kuat menyampaikan pesannya tentang aborsi!
Membaca buku ini secara lengkap, membawa kita pada seluruh permasalahan aborsi dalam rumah tangga, masa remaja yang sibuk mencari, kelalaian, kenakalan, dan sebagainya. Bahkan juga menyinggung ranah sosial ketika Perempuan yang Mengaborsi pada Suatu Pagi memakai setting pemerkosaan di bawah acungan senapan, atau Panggil Aku Cina. Dan beberapa cerpen yang memakai setting budaya lokal di Indonesia yang menempatkan perempuan pada posisi kurang beruntung, bahkan (atau terutama?) ketika hamil. Dengan melihat keutuhan seluruh buku, sulit dikatakan bahwa buku ini sekedar buku kumpulan cerpen. Buku ini lebih dari sekedar kumpulan cerpen dengan melihat pesannya yang menggebu dan juga referensi-referensinya. Ditulis secara fiksi, namun penulis juga memaksa eh mendorong pembaca melihat bahwa ini adalah fakta.
Beberapa pemilihan kata mestinya masih dikaji ulang jika dimaksudkan untuk sebuah buku kumpulan cerpen dengan pesan 'kampanye' anti aborsi ini. Yah, mungkin itu ruang yang coba dikompromi antara penulis dan pasar. Andai masih ada waktu yang cukup untuk refleksi, pengendapan, penulis pasti akan menemukan cara yang paling tepat sehingga cerpen-cerpen itu tetap memampangkan pesan itu secara kuat, tanpa kehilangan makna sastra.
Bukan berarti buku ini bisa dilewatkan begitu saja. Lihat beberapa cerpen, seperti Bunga Kuning Tanpa Daun atau Harinake. Dua cerpen ini menguat, bahkan andai dibaca tanpa catatan apapun, atau bahkan saat dibaca begitu saja tanpa bingkai sebuah buku anti aborsi (atau buku kumpulan cerpen anti aborsi?). Mereka tetap menjadi cerpen, cerita pendek, dimana kita dapat mengintip sebuah rumah lewat jendela yang sudah terbuka setengah. Terasa seluruh rumah, namun terlihat hanya sebagian ruangnya. Itulah cerpen.

Friday, November 02, 2012

Other Sides of Us : Narsis!!!

Tujuan utamanya 'jagong' alias kondangan atawa pesta. Seorang sahabat menikah massal hari itu (26/Okt), yaitu Titis Trinoto dengan pasangannya, dan adiknya Esthi dengan pasangannya. Jadi 2 pasang pengantin nan jelita menikah bareng. Titis adalah teman muda yang pernah menemani kami sekeluarga naik puncak Gunung Tanggamus. Jika lupa kisahnya klik sini. Dia masih punya utang untuk nemani ke beberapa gunung lain di Lampung. Jadi, kami datang ke pestanya dalam rangka nagih janji juga.
"Tis, bulan madunya jadi ke Gunung Pesagi atau Gunung Rajabasa?"
Hehehe, dia nyengir doang. Pasti sambil mbatin, apa enaknya bulan madu beramai-ramai. Pasti cuma untuk digangguin.
Okey, soal pesta, tetap mengasikkan. Cukup lama nongkrongin pelaminan sambil ngemil ini itu, ngobrol ini itu, dll. "Met masuk dalam tahap kehidupan baru, ya, Tis. Awalnya adalah cinta, kini sudah diikat dalam Tuhan, selanjutnya adalah perjuangan dalam setia. Salam dan doa kami."
Nah, yang aku mau kisahkan kali ini adalah perjalanan menuju pesta itu. Menarik, karena ini pertama kalinya aku dan Den Hendro melewatinya. Rumah keluarga Titis ini di Rejomulyo, kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan. Si Bejo penunjuk jalan kasih ancer-ancer.
"Dari pasar Karanganyar masih jauh banget. Nglewati kebun sawit, lalu tanya di situ. Ada gereja kecil di Rejomulyo, nah gang kecil samping gereja itulah jalan masuk ke rumah Titis."
Gedubrak!!! Payah ni penunjuk jalan. Umum banget. Lebih parah lagi, ternyata bukan kebun sawit, tapi kebun karet! (My Bejo, tahu bedanya sawit dan karet tidak sih? Hehehe.)
Tapi gak ada rasa kecewa sama sekali. Perjalanan ke Rejomulyo menempuh jarak sekitar 20 km. Masuk lewat Untung, terus hingga mencapai Karanganyar dan bablas ke arah Metro. Masuk ke kebun karet langsung membangkitkan jiwa narsis pada hati kami berdua. Hehehe. Maka,"Pulang nanti masuk sebentar ke kebun karet ya. Foto-foto." Hehehe, entah aku atau Den Hendro yang bilang begitu, tapi yang satu di antara kami yang lain langsung setuju sepakat, jadi gak masalah siapa yang ngomong usul duluan.
Dan benar, saat perjalanan pulang kami wujudkan hal itu. Foto narsis habis! Sebagian sudah kami upload di facebook. Nih salah satu contohnya.   Hehehe. Kami buat buanyak file foto model serupa, gantian. Sayang gak ada orang lain yang ditemui sehingga kami tak bisa minta difotoin berdua macam foto prewedding gitu. Hehehe...