Saturday, August 15, 2020

Puisi Sabtu 25: LUKA Karya Pascalis Esong

 LUKA


Entah buat siapa...

 

Pagi ini aku menulis sepi...

Pada kepingan hati yang berderai jatuh dari perasaan perih

Entah buat siapa....

 

Hanya aku dan rasaku....

Hanya aku dan mimpi yang mengisahkan tanya....dan puisi ini.....

 

Entah buat siapa....


Pascalis Esong, seorang aktifis sosial justice yang mencintai sastra, dari Batam kelahiran Dabo Singkep, Kepulauan Riau. Aktif dalam Pastoral Migran dan Perantau Kevikepan Utara, Kepulauan Riau, Keuskupan Pangkalpinang. Salah satu bukunya Gurindam Jiwa dalam 29 Pasal, Bersuluh Lilin Dilambung Ombak, diterbitkan oleh KKJ pada tahun 2017

Friday, August 14, 2020

Jawaban Yuli Nugrahani (10): Blog Apaan Sih Ini?

 Pertanyaan seperti itu seharusnya tak usah dijawab. Cukup dengan membuka yulinugrahani.blogspot.com mulai dari 2016, tepatnya 20 Juli 2016, dan baca lebih dari seribu postingan di sini, pembaca akan tahu. Tulisan pertama bisa di klik, dan lihatlah tulisan pendek bergambar lilin menyala itu. Iya, pendek banget. Yuli Nugrahani, Hidup Bersama untuk Adil dan Damai. 

Tulisan pendek dengan gambar lilin itu menjadi pembuka blog ini pada 14 tahun lalu, saat aku masih bekerja mengelola majalah Nuntius. Aku menuliskan kalimat pendek itu untuk mengingatkan aku bahwa walau aku bekerja di majalah, aku tetap juga bekerja untuk Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang. Walau seluruh waktuku terkuras untuk majalah, aku harus juga tetap berpikir tentang justice and peace.

Kukira ndak terlalu berhasil, tapi sesekali tetap juga kukunjungi ruangan di Keuskupan Tanjungkarang untuk justice and peace. Tanda ini kupasang di blog dan tidak pernah kuedit hingga kini.

Blog ini berisi macam-macam hal sesuai dengan gerak langkah atau gerak pikir atau gerak hatiku. Jadi pembaca harus memaklumi kalau blog ini kadang-kadang seperti buku harian, tempat aku menulis keseharianku, bersama anak-anak, suami atau siapapun yang kutemui.

Kadang, blog ini seperti blog travel, saat aku melakukan perjalanan-perjalanan ke suatu tempat. Aku selalu tergoda untuk membuat tulisan-tulisan sampai beberapa episode usai mengadakan perjalanan-perjalanan entah di Indonesia maupun luar Indonesia.

Kadang yang lain, blog ini seperti blog resep. Iyalah, aku kan suka ada di dapur. Jika memasak sesuatu entah berhasil enak atau tidak enak, aku memotret hasilnya dan menuangkan resepnya di blog ini. Itu berguna sekali bagiku untuk mengingat resep-resep yang sudah kubuat. Kadang aku kan ngawur kalau mau masak, jadi punya catatan di blog ini bisa membantuku jika ingin membuat lagi masakan yang pernah kubuat.

Kadang blog ini seperti jurnal, tempat aku memasang beberapa makalah yang pernah kusampaikan dalam acara-acara sosial atau sastra dan sebagainya. Biasanya aku akan siarkan ke peserta kalau mau akses makalah softcopy bisa ambil dari blog ini. Siapa pun bebas mengaksesnya.

Nah, ya, Kadang blog ini juga sebagai sarana promosi. Usaha-usaha yang aku buat kan perlu dipromosikan, dan menuliskan di blog sendiri akan aman karena tak perlu bayar tak perlu filter dari redaktur. Maka jangan heran kalau di sini pembaca akan menemukan promosi usaha-usaha pribadi. Namanya juga usaha.

Yang lain lagi, blog ini juga kugunakan untuk memasang laporan-laporan kerja yang memang harus diketahui umum seperti perkembangan gerakan sejuta masket untuk Lampung. Aku akan update di sini setiap periodiknya.

Yang paling menarik, blog ini juga media untuk tulisan-tulisan puisi atau cerpen atau kisah-kisah khayalan lain. Bukan hanya yang kutulis, tapi juga bisa dari siapa pun. Tak ada syarat khusus selain mengirimkannya ke aku dengan menyertakan biodata singkat dan foto. Ada rubrik Puisi Sabtu, misalnya.

Rubrik ini pun, Jawaban Yuli Nugrahani, kugunakan sebagai cara untuk mengasah skill dalam beropini. Aku tidak mahir dalam beropini, sering takut bersuara, jadi blog ini bisa membantuku untuk latihan, bersuara dengan argumen-aregumen dari sudut pandangku. 

Selebihnya, blog ini untuk suka-suka, sesuka hati.  

Menjadi Hening dan Mengembangkan Khayalan Untuk Cinta

Semalam ndak sengaja kencan dengan Edy Murphy dalam dua filmnya, A Thousand Words dan Imagine That di Fox Movie, dan kutonton sampai selesai walau mata sudah berat. Dua film ini sama-sama menggambarkan tokoh pekerja keras yang kemudian kehilangan 'sentuhan personal' sebagai manusia. 

Dalam A Thousand Words, nama tokoh Jack McCall adalah agen sastra yang bahkan tidak suka membaca, hanya menggunakan "bakat mengobrol" untuk mendapatkan berbagai kesepakatan buku, dan dia tidak takut untuk mengungkapkan kebenaran untuk mendapatkannya. Ketika dia mencoba untuk mendapatkan kesepakatan buku dari seorang guru spiritual bernama Dr. Sinja, guru tersebut melihat kebohongannya dan menyetujui kesepakatan itu, hanya untuk kemudian mengirimkan buku lima halaman. Malam itu, pohon bodhi secara ajaib muncul di halaman belakang rumahnya. Dr. Sinja pergi ke rumah Jack dan mereka berdua menemukan bahwa untuk setiap kata yang diucapkan Jack, sehelai daun akan rontok dari pohon. Ketika pohon itu kehabisan daun, pohon itu akan binasa, begitu pula Jack. Pada waktunya, dia menemukan bahwa bahkan kata-kata tertulis dan isyarat terhadap kata-kata diperhitungkan dalam batas kemampuannya; ditambah lagi apapun yang terjadi pada pohon juga akan mempengaruhi Jack. Ketika Jack mencoba menebangnya dengan kapak, luka kapak muncul padanya. Saat tupai memanjat pohon, hal itu menggelitiknya. Seluruh film itu akhirnya digunakan oleh Jack untuk menerima situasi itu, artinya menerima bahwa dia harus diam kalau mau selamat. Hal itu mengajarinya untuk menerima dirinya sendiri. Salah satunya menerima bahwa ayahnya memang pergi dan dia seharusnya memaafkannya, demi diri sendiri. Salah satu cara adalah dengan berdamai dengan semua hubungannya dengan istri, ibu dan ayah. Saat Jack mengunjungi makam ayahnya dan mengatakan memaafkan ayahnya, semua menjadi lebih baik. 

Film berikutnya bejudul Imagine That. Edy Murphy menjadi Evan Danielsonseorang penasihat keuangan yang sangat sukses, yang telah bekerja di perusahaan sekuritas yang sama selama delapan tahun sebagai manajer akun top mereka. Begitu gila kerja sehingga bermasalah dengan putrinya, Olivia. Dia tak mampu memberikan perhatian kepada putrinya itu dengan baik, sampai Evan akhirnya menemukan bahwa putrinya, Olivia , entah bagaimana dapat melihat masa depan dalam dunia keuangan dengan menggunakan  "goo-gaa" selimut usangnya dan teman-teman imajinernya. Evan mengikuti khayalan putrinya itu dan dalam beberapa hari bersama putrinya dia menemukan inner child dalam dirinya dan benar-benar bersenang-senang memainkan permainan imajiner ini dengan Olivia. Yang payah, Evan mulai merasa tergantung tergantung pada selimut usang Olivia, alih-alih memberikan perhatian pada putrinya. Bagian terakhirnya Evan menyesali hal itu dan menyadari bahwa putrinya lebih berharga dari segala hal yang lain.

Nah, bagiku, dua film yang berturutan kutonton ini secara kebetulan pas dengan diriku sendiri. Beberapa pointnya adalah sebagai berikut:

1. Aku sudah menjadi perempuan hampir setengah abad yang punya kecenderungan untuk bicara. Beda banget dengan masa kecilku yang pendiam, saat ini aku di titik kalau dipancing sedikit saja aku akan bicara panjang lebar susah berhenti. Parahnya omongan itu kadang-kadang berulang-ulang. Beberapa orang sudah terus terang ngomong itu dan aku harus stop omongan. Bicara memang perlu tapi bicara mesti efektif dan dalam kesadaran. Kalau aku tidak segera menyadari ini, aku akan berhadapan dengan pohon bodhiku, dengan daun-daun yang akan terus berguguran karena omongan searah yang kulakukan karena egoisku, bukan karena kasihku pada orang lain atau padaku sendiri.

2. Aku ini anak kedua yang tumbuh dengan imajinasi tinggi. Akhir-akhir ini hal itu nyaris hilang. Karena diriku sendiri yang menuntut mengerjakan hal-hal lain sehingga imajinasiku tak berkembang. Aku bisa kehilangan kegembiraan kalau imajinasi benar-benar pergi. Aku mesti mulai berlatih lagi mengembangkan imajinasi secara sehat sesuai realitaku, perkembangan kesadaranku. Kalau tidak, aku akan jatuh nyusup ke slimut usang dan terikat di sana. Aku harus gunakan imajinasi untuk kegembiraan dan untuk membagikan kegembiraan. Bukan untuk terperangkap dalam kemandegan.

Saturday, August 08, 2020

Puisi Sabtu 24: HUJAN Karya Marlond Taher Ohoilulin

 HUJAN

 

Ia datang lagi.

Dengan sangat gemas,

ia ingin memeluk perut bumi.

Jari-jari tangannya meliar.

Setiap pori bumi diterobosnya dengan nakal.

Aku gundah.

 

Hutan rumahnya bermukim telah hancur.

Dan mungkin ia meliar 

sampai kita meradang.

 

MBL03062019

 

 ------

Penulis:

Marlond Taher Ohoilulin, ditahbiskan sebagai imam Katolik pada tahun 2011. Sejak tahbisan sampai sekarang jadi pengajar di STPAK Santo Yohanes Penginjil Ambon dan Seminari Tinggi Santo Fransiskus Xaverius Ambon. Study Pastoral-Katekese pada Fakultas Misiologi Universitas Urbaniana di Roma, tahun 2014-2017. Sejak 2018 menjadi Pastor Paroki Santa Maria Bintang Laut Ambon. Awal tahun ini ditunjuk oleh Uskup setempat menjadi Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Amboina.

Friday, August 07, 2020

Pelantikan Pengurus Dewan Kesenian Lampung (DKL): Mengapa Aku Ada di Situ?

Kemarin, Kamis 6 Agustus 2020, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto, mewakili Gubernur Arinal Djunaidi,mengukuhkan  Akademi Lampung dan Pengurus Dewan Kesenian Lampung (DKL) masa bhakti 2020-2024, di Gedung Kesenian Lampung,   PKOR Way Halim, Bandarlampung, Kamis (06/08). Susunan lengkapnya lihat di bagian bawah tulisan ini.

Aku ingin menulis beberapa hal terkait dengan diri sendiri dulu. Pertanyaan dalam judul di atas kugunakan sebagai pemantik: Mengapa aku ada di situ? Dalam SK Gubernur itu aku diletakkan pada posisi sekretaris komite sastra DKL. Posisi yang pada dua dekade lalu kuanggap sebagai posisi yang membanggakan dan mendorongku penasaran mengetahui siapa yang ada di sana dan akan senang sekali jika berkenalan dengan orang-orang dalam komite sastra DKL. Itu 20 tahun yang lalu, saat aku baru datang ke Lampung.

Nah, sekarang aku di posisi ini. Mengapa aku di situ? Yo embuhh. Huhuhu... Kalau mengikuti alurnya mestinya namaku itu dipilih oleh orang-orang dalam Akademi Lampung. Merekalah yang bertugas mencari, menyeleksi dan memilih orang-orang untuk duduk di kepengurusan DKL.

Tapi ya ndak selurus itu. Kenapa orang yang itu, itu atau itu dan itu, serta lain-lainnya tidak masuk dalam kepengurusan? Bukannya mereka lebih paham, lebih senior, lebih ahli, lebih terkenal dan sebagainya-sebagainya. Yo embuh. Huuuu... Tapi telingaku toh tidak tuli dan mataku tidak buta. Uhui. Mereka yang itu itu itu atau itu dan seterusnya itu ada yang menolak, mengundurkan diri dalam proses, tak bisa diterima oleh 'yang milih', atau entahlah. Intinya, inilah koretannya. Yang terakhir, yang mau, yang disetujui.

Aku menulis di Instagramku bahwa  letakku di DKL itu merupakan kewajaran saat ini dengan melihat segala kemungkinan yang tak terjadi. 

Lalu mengapa aku mau? Jawaban guyonku: Untuk menambah baris dalam CV. Huuuuu.... egois banget. Tapi yo embuh. Ini walau sudah dilantik, aku belum pernah mengikuti satu kalipun rapat persiapan. Aku diundang untuk gladi bersih pelantikan, lalu pelantikan (yang sangat molor tak tertoleransi sehingga aku langsung pergi begitu pak sekda pergi, sehingga aku tak sempat ngobrol dengan tim dalam komite maupun orang-orang lain dalam satu kepengurusan itu.) Aku lagi mikir, nunggu undangan untuk rapat atau aku tanya kapan rapat untuk mematangkan program kerja atau apalah-apalah sepantasnya organisasi.)

Lalu apa yang akan aku perbuat? Banyak. Pertama, aku menghormati dua lembaga yang baru dilantik ini dengan seluruh orang yang ada di sana. Aku akan memupuk rasa hormat itu sepantas dan selayak mungkin sehingga lembaga ini bisa berdiri elegan sebagai pengembang seni budaya di Lampung. 

Kedua, aku akan melewati waktu sampai 2024 dengan gembira bekerja sama dengan semua orang dalam DKL. Ayooo majukan seni dan budaya Lampung. Ayo bergembira dalam kerja yang asyik-asyikan seperti itu. Mari melanjutkan hidup yang bukan sekadar bernafas.


Susunan Pengurus Dewan Kesenian Lampung Periode 2020 – 2024


I. Pembina    :

1. Gubernur Lampung

2. Ketua DPRD Provinsi Lampung (Ex. Officio)

3. Wakil Gubernur Lampung


II. Pengarah :

1. Sekretaris Daerah Provinsi Lampung

2. Riana Sari Arinal, SH.   


III. Ketua       : Prof. DR. Satria Bangsawan, SE., M. Si.


IV. Wakil Ketua       :

1. W. Darmawan

2. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung (Ex Officio)


V. Sekretaris                   : Bagus S. Pribadi

VI. Wakil Sekretaris 1    : Riski Febriansyah

VII. Wakil Sekretaris 2   :Dian Evylia  

VIII. Bendahara              :Nurhikmah Imani

IX. Wakil Bendahara       :Bambang SBY


X. Komite –Komite :


A.        Komite Sastra

Ketua           : Zulkarnain Zubairi

Sekretaris     : Yuli Nugrahani

Anggota        : Asril Barning


B.        Komite Musik

Ketua           : Agus Salim

Sekretaris     : Ryan Hidayat

Anggota        : Ricky Oktario


C.        Komite Tari

Ketua           : Agus Gunawan

Sekretaris     : Wika Widyastuti

Anggota        : Renald Caropeboka


D.        Komite Teater

Ketua           : Desi Susanti

Sekretaris     : Vita Oktaviana

Anggota        : Edy Samudra


E.         Komite Seni Tradisi

Ketua           : Syapril Yamin

Sekretaris     : Suttan Purnama

Anggota        : Rizal Ismail


F.         Komite Film

Ketua           : Dede Safara Wijaya

Sekretaris     : Riskon

Anggota        : Razi Alfarizi


G.        KomiteSeni Rupa

Ketua           : Sapto Wibowo

Sekretaris     : Lila Ayu Arini

Anggota        : Bunga Ilalang


SUSUNAN AKADEMI LAMPUNG :

1. Anshori Djausal (Ketua)

2. Iwan Nurdaya Djafar (Sekretaris)

3. R. Hari Jayaningrat

4. Imas Sobariah

5. Ahmad Yulden Erwin

6. Hermansyah

7. Christian Heru Cahyo Saputro

Monday, August 03, 2020

Refleksi atas Dokumen Abu Dhabi : Menjadi Sahabat bagi Perempuan dan Laki-laki tanpa Kecuali

Tulisan ini sebenarnya kubuat atas permintan sebuah panitia untuk penerbitan bunga rampai terkait Dokumen Abu Dhabi. Entah mengapa tidak ada kelanjutan lagi tentang naskah itu, jadi kupasang saja di blog ini supaya tetap tersebar. 


MENJADI SAHABAT BAGI PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI TANPA KECUALI

Refleksi atas Dokumen Abu Dhabi

 

Oleh: Yuli Nugrahani, STP

Badan Pengurus SGPP KWI 2018-2021

 

 

Salah satu point dalam Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani oleh Sheikh Ahmad al-Tayeb, Grand Syekh Al Azhar, Kairo, Mesir dan Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik se-dunia di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019 memperhatikan secara khusus tentang pemenuhan hak kaum perempuan. Yaitu, bahwa hak kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan berpolitik harus diakui. Segala bentuk eksploitasi seksual dengan alasan apapun harus dihentikan.

Hal ini menajamkan banyak point lain yang berbicara tentang penghormatan terhadap martabat manusia tanpa terkecuali, entah laki-laki atau perempuan. Point ini mengingatkan semua orang bahwa yang disebut sebagai manusia adalah laki-laki dan perempuan, yang diciptakan dengan martabat yang sama. (Lih. Kej. 1:26-28)

 

Kondisi dan Situasi Perempuan Indonesia Masa kini

Point tentang hak kaum perempuan dalam Dokumen Abu Dhabi itu sangat relevan dengan kondisi dan situasi di Indonesia masa kini. Dari data-data dari Badan Pusat Statistik (BPS) berikut kita masih melihat bahwa perempuan tidak selalu mendapatkan hak-hak yang sama dan setara sebagai warganegara.

Dalam bidang pendidikan, rata-rata lama perempuan bersekolah lebih rendah daripada  laki-laki.

Rata-rata Lama Sekolah di Indonesia menurut jenis kelamin.

Tahun

2014

2015

2016

2017

2018

Perempuan

7,23

7,35

7,50

7,65

7,72

Laki-laki

8,24

8,35

8,41

8,62

8,65

 

Dalam pemilihan pekerjaan, bisa dilihat distribusi job manajer berikut ini. Perempuan yang berada dalam posisi manajer hanya 28,97 % sedangkan laki-laki 71,03%. Ini bisa diartikan perempuan bekerja lebih banyak bukan pada posisi pengambil kebijakan atau keputusan.

 

2016

2017

2018

Perempuan

24,17

26,63

28,97

Laki-laki

75,83

73,37

71,03

 

Ketimpangan itu masih bisa dilihat dari upah rata-rata per jam pada tahun 2018. Pekerja  laki-laki rata-rata mendapatkan upah Rp. 15.892 per jam, sedang perempuan hanya mendapatkan Rp. 14.142 per jam.

Dalam ranah politik,  keterlibatan perempuan di parlemen juga sangatlah kecil. Sejak tahun 2014 sampai dengan 2018 hanya 17,32% perempuan yang terlibat dalam parlemen. Angka ini malah turun jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 18,04%.

Hal itu ditambah dengan fakta bahwa perempuan masih menjadi korban terbesar dalam kekerasan segala bentuk. Paling tidak menurut yang dilaporkan. Tahun 2017 ada 348.466 kasus pengaduan Hak Asasi Manusia (HAM) perempuan terutama kekerasan terhadap perempuan.

 

Perempuan Berbela Kasih

Padahal, perempuan mempunyai kekuatan yang patut diangkat sebagai kontribusi bagi perbaikan dunia. Satu contoh mudah dan populer dari perempuan yang kuat dalam kasih adalah Bunda Theresa. Bunda Theresa adalah perempuan, seorang biarawati Katolik keturunan Albania berkewarganegaraan India yang mendirikan Kongregasi Misionaris Cinta Kasih di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 47 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat. Bunda Theresa menyebarkan semangat kasih yang konkret ke seluruh India dan selanjutnya ke seluruh dunia.

Bunda Theresa terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya. Dia menjalankan misi-misi cinta kasih di berbagai negara termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDSlepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Banyak orang terinspirasi dari karyanya, dan memberi perubahan bagi banyak kelompok.

Walau mendapatkan tantangan dan menghadapi banyak kritik, Bunda Theresa tetap bergerak dalam keteguhan, kesederhanaan dan cinta. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1979. Bunda Theresa menggunakan kekuatan perasaannya yang penuh kasih, yang kemudian menyalurkan kekuatan fisik yang nyata bagi banyak orang di berbagai tempat tanpa kecuali.

 

Mengkonkretkan Persaudaraan Manusia

Teladan seorang perempuan seperti Bunda Theresa, yang konkret berbuat bagi semua orang yang membutuhkan tanpa kecuali, selaras dengan seruan Dokumen Abu Dhabi. Apa yang sering disebut sebagai kelemahan perempuan, dalam pribadi Bunda Theresa menjadi kekuatan untuk membangun persahabatan yang konkret.

Bagi manusia masa kini yang berhadapan dengan banyak masalah, persahabatan konkret semacam itulah yang harus digaungkan. Karya yang menyentuh masalah sosial dan kebutuhan-kebutuhan konkret manusia masa kini menjadi jawaban atas Dokumen Abu Dhabi.

Bentuk yang sederhana, misalnya:

1.      Tokoh umat agama apa pun, termasuk biarawan-biarawati, pastur dan calon pastur, juga umat tanpa kecuali harus menjalin relasi persahabatan dengan orang-orang yang ada dalam lingkarannya seperti tetangga rumah pasturan/biara, orang-orang dalam bidang karya yang sama, lembaga yang sama dan sebagainya. Relasi tersebut harus sampai ke tataran bersahabat. Menjadi sahabat. Contoh dalam bacaan Injil bisa diambil dari kisah orang Samaria. Contoh realnya seperti yang sudah dibuat oleh para perempuan yang bertetangga. Saling kunjung ketika ada yang sakit, meninggal dan berduka. Saat ada yang mengadakan pesta, para perempuan ikut membantu masak, dalam bahasa Jawa disebut rewang. Pun kedekatan seorang sahabat tidak segan untuk berteriak lewat jendela ketika ada yang lewat dan sebagainya.

2.      Menghayati dan mendalami bidang-bidang yang ada dalam passion masing-masing sebagai sarana untuk masuk dan terlibat dalam suka duka masyarakat. Misal Rm. Mangun menggunakan isu lingkungan untuk bersama dengan masyarakat pinggir Kali Code. Atau  menggunakan seni budaya dalam persahabatan lintas agama dan sebagainya. Dengan demikian relasi lintas iman atau lintas apa pun tidak jatuh pada ceremonial belaka namun nyata konkret dalam masalah-masalah sosial, bersama masyarakat dan terlibat dalam masyarakat.

3.      Bidang pendidikan merupakan salah satu fokus Gereja Katolik yang bisa menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi, berpihak pada orang miskin, dan seterusnya. Mengurangi gemerlap ‘wah’ sekolah Katolik harus dilakukan lewat semua program pendidikannya. Tidak hanya pamer konser tapi kampanye peduli lingkungan sekitar, aksi bekerja sama dengan sekolah lain, bersama masyarakat dan sebagainya.

4.      Bidang kesehatan selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Gereja punya hati untuk melakukan hal ini sebagai penyaluran cinta belas kasih kepada semua orang tanpa kecuali sejak dulu. Resiko yang sangat besar mesti ditempuh seperti biaya, penggunaan BPJS, pengkaderan tenaga medis dan paramedis yang mumpuni sekaligus manusiawi. Namun karya ini bisa menjadi sarana yang nyata untuk menyentuh semua orang, termasuk membangun dan menyebarkan semangat kasih. Keramahan dan kelembutan mesti terus dibangun sebagai karya kasih.

5.      Gereja Indonesia mempunyai peran besar dalam gerakan credit union, koperasi kredit. Bidang sosial ekonomi semacam itu menjadi sarana konkret untuk terlibat bersama masyarakat dalam persaudaraan kemanusiaan, seperti yang diserukan oleh Gaudium Et Spes, “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” Pembangunan ekonomi keluarga yang sehat menjadi gerakan yang konkret untuk memajukan masyarakat, dengan kerja sama suami dan istri secara harmoni.

6.      Tentu saja Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK) adalah jalan pilihan tak tertawarkan. Tak boleh sedikitpun Gereja menunjukkan kekerasan dalam sikap, kata, kebijakan dan sebagainya. Pun Gereja tak boleh memprovokasi munculnya kekerasan, sekecil apa pun. Tapi Gereja juga punya suara yang harus digemakan dengan lantang, dalam pilihan berpihak pada orang yang lemah, korban ketidak adilan dan sebagainya. Yesus bilang berikan pipi kirimu saat ditampar pipi kananmu (Lih. Matius 5:39 - 44). Tapi saat Dia ditampar di sidang (Lih. Yoh. 18:23), Yesus memberikan sikap yang tegas. Dia protes dan mempertanyakan mengapa ditampar. Tujuan Yesus adalah mengubah ketidakadilan menjadi keadilan, menjadi kebenaran, menjadi kasih. Hal itu dilakukan dengan tidak hanya pasrah menyerah sebagai korban. Maka Gereja juga tak boleh membiarkan seorang pun entah laki-laki atau perempuan, entah orang dewasa atau anak-anak menjadi korban, oleh tindakan apa pun dan siapa pun.

 

Gerak Alami

            Bersahabat itu harusnya bukan gerak rekayasa, melainkan gerak alami. Sifat manusia sebagai makluk sosial selalu membutuhkan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Jika sendirian, manusia tidak akan berkembang. Dia akan berhenti dalam diri sendiri yang terbatas.

Kita bisa mengingat catatan Aristoteles yang mengatakan bahwa keutamaan di antara sahabat adalah cinta. Dalam cinta, manusia akan menemukan persahabatan yang sejati. Dalam persahabatan, manusia akan membuka diri terhadap orang lain, dan dengan begini, manusia bisa mengembangkan dirinya. Manusia berani untuk melepaskan diri demi sahabat, rela mati demi untuk dia, dan di dalam kerelaannya melepaskan diri itu pulalah yang membuat manusia semakin menemukan diri, semakin berkembang.

Kita mestinya berani menambah jumlah sahabat dan meningkatkan kualitas persahabatan, menjadikan semua manusia sebagai saudara. Seperti yang ditandaskan pada bagian pengantar Dokumen Abu Dhabi (terjemahan Indonesia), bahwa iman menuntun orang beriman untuk memandang dalam diri sesamanya seorang saudara lelaki atau perempuan untuk didukung dan dikasihi. Melalui iman pada Allah, yang telah menciptakan alam semesta, ciptaan, dan seluruh umat manusia (setara karena rahmatNya), umat beriman dipanggil untuk menyatakan persaudaraan manusia ini dengan melindungi ciptaan dan seluruh alam semesta serta mendukung semua orang, terutama mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan.

****


Saturday, August 01, 2020

Puisi Sabtu 23: BATU YANG TAK PERNAH ADA karya Yuli Nugrahani

BATU YANG TAK PERNAH ADA

 

Aku menduga:

sungai mengirimkan pesan lewat air

gemericik riang membelai jemari kaki

merelakan diri ditumpang kelopak bunga tanjung

pasrah kehilangan dengung dan .

 

Aku bergembira:

duduk di tepian meniup

gelembung getah daun jarak

sesekali melambai pada para petani

di pematang mantap berdendang

pantun serupa mantra penenang.

 

Di ujung ranting sehelai daun menyapa

bicara tentang uban-uban yang datang

juga kekuatiran-kekuatiran yang tersepuh usia.

 

Kukatakan bahwa ada saatnya

kesadaran membunyikan genderang

memaksa bangkit dari tepi sungai

membuka lipatan topi memasang kancing baju

dengan penopang kayu kokka di genggaman.

 

Tak usah kecewa oleh peristiwa silam

sebab aku pun pernah bersandar

pada batu yang tak pernah ada.

 

: Teruslah berjalan.


2019

Sejuta Masker untuk Lampung (6): Laporan Akhir Juli

 


Aksi ini masih terus berjalan walau sangat berkurang. Ya, tentu saja harus dimaklumi karena:

1. Kukira hampir semua orang sudah punya masker, sehingga permintaan sudah jauh berkurang walau tetap saja ada kelompok-kelompok tertentu yang mengajukan kebutuhan.

2. Jumlah relawan jahit sudah menyusut jauhhhh... Ini harus dipahami karena mereka sudah kembali beraktifitas normal.

3. Stok bahan memang naik turun, pernah habis sama sekali. 

Bukan hanya relawan jahit yang menyusut, relawan-relawan lain juga mulai 'diam' eh, bukan ding. Kukira mereka memang harus kembali pada hidup normal mereka.

Sampai 31 Juli 2020, total 64.145 masker kain non medis yang sudah disebar di seluruh Lampung. Dari antaranya 38,52% masker kain tersebut tersebar di daerah Kota Bandarlampung. 

Selain masker-masker kain, dalam bulan Juli ini juga disebar face shield dalam jumlah sangat sedikit.