Monday, June 27, 2011

Cooking and Eating

Aku suka makan, makanya aku suka nonton Master Chef. Hmmm...gak ada hubungannya ya? Ada! Karena suka makan, pasti aku akan dekat-dekat dengan makanan. Tidak selalu makanan itu adalah masakan, karena ada makanan yang tidak harus dimasak. Dan juga tidak harus ada penyajian khusus, makanan bisa diambil begitu saja dan dimakan. Misalnya jambu biji samping rumahku. Tinggal petik saja bisa langsung masuk mulut.
Tapi sejujurnya, selain aku suka makan aku juga suka masak. Tepatnya eksperimen memasak (iya, karena gak semua masakanku kemudian jadi enak dimakan. hehehe...). Jadi semua bahan aku bisa bumbui dengan cara apapun. Akhir-akhir ini suka banget buat sayur bening, maka semua daun aku masak bening. Bayam, katuk, labu, kangkung, kemangi, sawi, wortel, kacang panjang, dll. Bergantian dibening. Membuatnya sangat gampang, tinggal keprek bawang merah putih, tambah gula dan garam, sudah jadi. Dan semua lauk bisa masuk. Mau ikan, ayam, daging, atau tempe tahu bakwan, bisa cocok dengan sayur bening. Karena sayur bening dengan rasa yang sederhana itu tidak akan bentrok dengan bumbu lauknya. Hehehe...kira-kira begitulah. (Tapi alasan utamanya sih karena cepat dibuat, 5 menit asal semua sudah dipotong dibersihkan dan air sudah mendidih, dapat dipastikan sudah dapat langsung disantap.)
Tapi ada hari-hari aku tidak mau memasak. Aku punya banyak alasan untuk tidak memasak pada satu hari itu. Gak usah tanya! Maka, ada menu-menu andalan dekat rumah yang murah meriah enak dan lahap disantap orang serumah :
1. Sarapan : bisa dipilih lontong sayur, nasi uduk, bubur, roti tawar, atau kue-kue yang dijajakan keliling.
2. Makan siang : silakah pilih pecel, dan soto ayam (dekat rumah warungnya). Kalau mau keluar gang, ada pilihan buanyak di warung padang, warung tegal atau di rumah Wawak! (hahahaha....yang terakhir disebut ni gak perlu bayar)
3. Makan malam : wah, gak bisa ditulis pilihannya. Banyak nian sepanjang jalan dari Hajimena hingga Tanjungkarang. Gak usah disebutlah.
Nah, ada yang tanya pagi ini aku masak apa? Aku masak lodeh tahu, tempe dan kentang yang aku campur cabe merah 2 biji. Goreng ayam. Dan ada krupuk.
Ada yang tanya nanti sore aku masak apa? Belum tahu. Mungkin tidak masak, karena sudah beberapa hari ini aku sangat ingin makan bebek. Dan aku belum bisa mengolah bebek yang enak. Jadi kayaknya mampir aja ya, beli di Rajabasa. Hmmm....

Friday, June 24, 2011

Starting Points

Setiap orang akan melakukan loncatan-loncatan dalam hidupnya. Seringkali loncatan itu dilakukan dengan sadar, namun tak jarang terjadi dengan tanpa sengaja, tidak disadari. Dan sangat mungkin itu terjadi pada waktu yang tidak diketahui.
Maka, PR terbesar dan dominan adalah siap sedia, selalu siap melakukan loncatan-loncatan. Memenuhi hidup dengan membuat ancang-ancang. Posisi seluruh tubuh sadar, merencanakan sebuah loncatan, sekaligus siap jika kesempatan tak terduga untuk meloncat.

Thursday, June 23, 2011

Enjoy The Pressure Time

Bagaimana jika suatu keranjang hari penuh dengan bulatan-bulatan tekanan? Pilihannya adalah tidak memperdulikannya, berlalu begitu saja dengan kalimat,"Emang gue pikirin?" Huff, senangnya kalau bisa seperti itu. Namun seringkali tubuh tidak sekuat yang terbayang. Tubuh mempunyai sinyal-sinyal tanda keterbatasan. Sakit kepala, diare, lemas, tak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuh, dll adalah tanda yang nyata.
Aku sering bilang,"Nikmatilah." Huff, ini pun tidak mudah. Bagaimana bisa menelan bulatan-bulatan tekanan dengan nikmat seolah makan bakso urat Malang yang gurih dan sedap? Dan ketika sudah tercerna oleh lambung dia menggelembung menjadi bagian-bagian energi gerak kita. Aduh, aku ingin belajar seperti ini. Aku sedang cari caranya. Ya, dengan terus menerus mau menerima tekanan dalam hari-hariku. Dengan senyuman.

Thursday, June 16, 2011

Tree of Thinking

Pikiran tidak mungkin lurus-lurus saja. Seperti pohon, dia akan mempunyai cabang-cabang, ranting-ranting, dan juga akar-akar yang menjalar kemana-mana. Beberapa pohon punya standar kualitas yang ditentukan oleh keberadaan cabangnya. Misalnya pohon jati, semakin tinggi cabang baru muncul maka dia akan semakin dicari, karena batangnya akan lurus dengan tekstur yang teratur. Ranting-ranting kecil tak masalah tapi jangan bengkok.
Lalu, bagaimana kualitas pikiranku ini jika di pangkalnya pun sudah bercabang-cabang? Tak mungkin aku disamakan dengan pohon jati. Mungin sama dengan perdu yang bahkan cabang rantingnya tak terhitung menyentuh tanah, tidak tinggi menjulang. Aku tak bisa berhenti pada satu pikiran lalu lurus begitu saja terpikat pada hal itu. Aku meloncat dari satu pikiran ke pikiran lain, merangkai membentuk cabang ranting. Kadang selesai sampai ujungnya hingga rimbun dengan daun bunga dan buah. Tapi sering juga tak selesai, sehingga tak ada satu bunga buah pun di ranting itu. Hanya ranting saja, kering, lalu patah. Ah...

Wednesday, June 15, 2011

My Husband Birthday

Hei, selamat ulang tahun. Mengenalmu belasan tahun yang lalu membuatku sangat ge-er setengah mati. Aku adalah makluk ciptaan yang diberi banyak keberuntungan. Puncaknya adalah ketika aku mendapatkan dirimu sebagai pasangan hidup. Laki-laki yang naik begitu saja ke kebun teh, tak mengerti mengapa harus datang, tapi menawarkan pertemanan dan mengantar mengelilingi pucuk-pucuk teh di ketinggian Kertowono. Masih juga heran ketika berani mengucap janji sehidup semati di depan altar dan sampai sekarang masih heran juga melihatku setiap pagi. Seolah-olah aku adalah peri aneh yang menyusup mengganggu hidupnya hingga tidak bisa tenang nyaman mapan seperti kebanyakan suami. Hahaha, selamat ulang tahun. Mari berpesta hari ini.

Tuesday, June 14, 2011

Angry!

Apa salahnya marah? Boleh. Tentu saja boleh marah. Aku sering marah. Kenapa tidak? Pun akhir-akhir ini aku sangat sering marah. Karena anak-anak tak menurut, suami yang tak paham, teman yang berkhianat, yang kuanggap penting tidak dianggap sama orang lain, situasi yang tak berubah juga, dll.dll.dll. Aku punya banyak alasan untuk marah, dan sudah kulakukan.

Lalu apa? Setelah marah, selanjutnya apa? Apakah marah adalah tujuanku? Tidak. Marah adalah loncatan api emosi. Bisa tak terkendali, tapi itu bukan tujuan. Kalau tujuanku hanya marah, sudah tercapai saat itu, saat ini. Kan aku sudah marah.

Tapi bukan seperti itu. Bukan. Aku marah karena ada hal lain yang sedang kutuju, maka aku sedang belajar untuk tidak berhenti hanya pada marah. Marah adalah salah satu sarana untuk sampai pada tujuan sejatiku. Marah boleh, tapi bukan itu tujuanku. Marah hanya sarana bagi jiwaku yang masih butuh mengekspresikan emosi. Begitulah.

(Ini pemahaman yang terus menerus kucekokkan pada diriku sendiri. Come on, Yuli. Growth up!)

Monday, June 13, 2011

Holy Spirit in The Sea

Mengunjungi laut menjadi kesenangan luar biasa bagiku. Apalagi setelah sekian lama tidak mencium bau air asin seperti itu. Melihat anak-anak dan bapaknya asyik memancing di rakit terapung sekitar 50-an meter ke laut, tiduran saja sambil pegang tali senar pancing, kali-kali ada ikan nyangkut, melihat langit cerah, sesekali memasukkan tangan ke air, sesekali ambil foto kanan kiri, sering-sering membuka tas ambil cemilan,... ha sampai besok pagi pun aku betah. Hitam kelam terbakar juga tidak terasa. Itu yang kulakukan sepanjang hari minggu kemarin, tepat Pesta Pentakosta. Kami mengais Roh Kudus di tepian Mutun Beach. Dan Roh Kudus turun dalam rupa-rupa bentuk. Ikan, rumpon, pasir, anak-anak,...etc. Bertaburan hingga amis sekujur tubuh. (Hehehe...nyambung gak sih.)

Friday, June 10, 2011

Travelling into heart


Aku dulu berasal dari sebuah guci. Guci ajaib yang menyimpanku rapat, membuatku nyaman, tidak ingin kemana-mana. Guci itu aman bagiku walau mudah retak. Keretakan pertama kedua ketiga hingga kesekian ratus masih membuatku bertahan, tapi kemudian tiba-tiba aku sudah di luar. Aku berada di jalanan, menggelandang. Sesekali kuingat aku melewati banyak perjalanan. Ke banyak tempat. Bertemu banyak orang.
Baru saja, pagi ini, saat aku hanya duduk di kebekuan, aku teringat kembali pada guciku. Guci ajaib yang pernah menyimpanku. Aku melongok dan melihat bahwa guci itu utuh. Ajaib, tidak ada bekas retak dan patah di dalamnya. Maka, aku akan menata ranselku, untuk memulai perjalanan kembali. Kali ini, perjalanan ke dalam, bukan keluar. Perjalanan menjelajah guciku, dekat sini.

Wednesday, June 08, 2011

Sorry, I want it for myself!


Tak ada untukmu, tak ada untuk kalian, tak ada untuknya, tak ada untuk mereka! Aku menginginkan untukku sendiri! Jadi mau apa? Walau dirayu seperti apa tak akan kubagi untuk siapapun, terlebih dirimu!

(I want be egois. I want everything for myself. My body, my times, my smiles, my talents, my everything...)

Friday, June 03, 2011

Non Violence


Aku mengabadikan dan membagikan senyum mereka, yang sedang belajar untuk aktif tanpa kekerasan. Stop kekerasan!

(Kami belajar dari Chico Mendes dan Nashville, untuk Indonesia.)