Friday, November 29, 2019

Perjalanan ke Agats (2): Lampu Kuning untuk Ketahanan Pangan di Asmat

Bersama para ibu mengolah ikan menjadi abon.

Memberi petunjuk untuk membuat kue telur gabus.

Foto bareng dunggg...

Foto bareng lagi.

Hasil olahan ikan duri dan sagu. Abon ikan dan telur gabus.
Saat pelatihan kok ada tukang sayur lewat. Dicekrek dulu. Ada tahu, tempe, kerupuk dan sayuran. 

Kangkung, okra merah, terong, cabai dll di halaman Pak Sarimin, PPL Dinas Pertanian Agats


Pasar Agats, macam-macam ikan. Yang paling dekat itulah ikan duri.

Daun gatal untuk menyembuhkan pegal linu. Aku ndak berani nyoba. Konon di tempel di kulit, bakal gatal sekitar 15 menit, usai itu sakit dan pegal ilang.

Singkong dan setengah pohon pisang.

Pasar Agats, aneka sayuran dan bumbu.

Kabupaten Asmat beberapa kali mengalami kejadian luar biasa busung lapar/gizi buruk yang menewaskan banyak orang. Pada tahun 2017 - 2018, puluhan anak meninggal karenanya dan ratusan menderita campak. Saat aku datang ke Agats, hal ini menjadi keprihatinan paling besar yang kurasakan. Okeyyyy, aku sama sekali tak kekuarangan makanan. Panitia menjamuku (bersama tamu-tamu lain) dengan makanan beraneka jenis. Tiap kali makan selalu tersedia cukup nasi, ubi-ubian, pisang rebus, roti, aneka lauk dan sayur. Masih ditambah dengan buah walau dalam jumlah dan jenis terbatas.

Bersama dengan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agats, kami menggarap acara Pangan Lokal dalam Perspektif Gender pada Jumat 22 Nopember 2019 bertempat di Aula Kantor Bupati Asmat, diikuti para ibu dari berbagai kelompok. Dua narasumber awal adalah dari bagian gizi RSUD Agats dan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Asmat. Aku gembira karena optimisme yang muncul dalam sesi-sesi itu.

Sesi-sesi itu memunculkan kekayaan pangan lokal yang ada di Asmat. Yang paling menonjol sebagai sumber karbohidrat adalah sagu. Sagu juga mempunyai kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan beras. Buah-buahan lokal juga ada. Aku disebut buah bintang dari tanaman bakau, buah kom dan pisang. Ikan ada beberapa jenis yang mudah didapatkan di sana. Sayuran tidak banyak tapi ada.

Dari situ aku sangat penasaran ingin melihat pasar yang ada di sana. Betul, ikan berbagai jenis ada. Sayuran dan buah juga banyak. Tapi kebanyakan bahan ternyata berasal dari luar daerah Agats. Dan harganya bisa berkali lipat dibanding daerah lain. Misal kemarin aku beli pisang nona (di Lampung biasa disebut pisang muli) sesisir harga Rp 20.000. Padahal di Lampung untuk ukuran yang sama bisa dapat Rp. 3000 -5000 rupiah per sisirnya.

Kebanyakan bahan pangan berasal dari Timika dan Merauke (yang mungkin juga berasal dari daerah lain sebelum masuk lewat Timika atau Merauke). Untuk masuk ke Agats, bahan-bahan itu menggunakan jalan laut (sebagian mungkin udara) dan masuk ke distrik-distrik yang ada di Asmat dengan menggunakan perahu lewat sungai-sungai.

Daerah Agats merupakan kawasan rawa yang membutuhkan perlakuan khusus jika mau menggunakan tanahnya untuk bercocok tanam. Yang kelihatan sepanjang aku berjalan di daerah ini adalah pohon-pohon bakau berbagai jenis. Buah bintang yang diambil dari beberapa jenis bakau katanya biasa dimakan dengan dicolekin ke 'royko'. Duhhh, aku penasaran sekali mengapa harus memakai micin untuk memakannya. Mungkin suatu ketika aku akan bertandang lagi ke mari dalam waktu yang panjang untuk mengeksplorenya.

Pak Sarimin seorang penyuluh dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Agats mengatakan kalau bertanam sayuran di halaman rumah dinasnya. Aku mampir sebentar ke sana untuk melihatnya. Dia menanam kangkung, okra merah, cabai rawit dan lain-lain. Menurutnya tanah yang digunakannya berasal dari tanah rawa yang dicampur dengan sekam, abu dan EM4, baru siap untuk digunakan. Aku sempat bertanya kepadanya apakah cara yang digunakan itu ditularkan ke warga, karena aku belum melihat ada warga yang memanfaatkan sekitar rumahnya untuk bertanam sayuran. Jawabannya kurang memuaskan, tapi memang aku menangkap banyak kesulitan untuk hal itu.

Aku dan Sr. Natalia memberikan sesi pendek tentang gender, lalu usai sholat Jumat kami mengajak para ibu untuk praktek membuat abon ikan duri (ikan ini banyak ditemukan di Agats, mirip ikan lele atau patin), membuat kue gabus dari tepung sagu dan membuat kue sagu mutiara. Resepnya nanti kubagikan dalam halaman terpisah, tahap per tahap sehingga bisa ditiru oleh pembaca. Sebenarnya aku juga menyiapkan resep olahan lanjut dari abon tapi tidak mempraktekkannya. Moga jadi inspirasi bagi para peserta dan mau menyebarkan ke orang-orang lain karena produk ini mudah dibuat, tahan lama dan bernilai ekonomis yang tinggi.

Banyak peristiwa terkait dengan pangan ini membuatku mengeluarkan air mata.

1. Budidaya sagu tidak optimal dilakukan padahal jenis tanaman ini merupakan bahan pangan lokal yang sudah ada sejak lama. Jenis sagu unggul yaitu sagu licin sudah mulai punah, dan harusnya mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak.

2. Masyarakat Asmat mendapatkan perlakukan yang 'miring' dalam urusan makan. Misal saat makan di kantin hotel, mereka mendapatkan cap : makan banyak, menyembunyikan lauk di bawah nasi, kalau tidak habis dianggap hanya pura-pura, dipaksa menghabiskan makan yang tidak diambilnya sendiri, tidak mendapatkan penghormatan selayaknya pembeli yang lain.

3. Orang Asmat yang mondar-mandir di sekitar Agats karena perhelatan budaya Asmat itu datang dari berbagai kampung dalam rumpun suku Asmat. Kebanyakan mereka kurus, dengan baju yang tidak layak, sepertinya tidak ada gantinya, tidak bisa mengakses air bersih dan makan secara layak,

4. Pangan mereka berasal dari luar daerah yang sangat susah transportasinya. Sekali telat atau tidak bisa datang, mereka pasti kekurangan bahan pangan. Atau kualitasnya kurang bagus. Saat aku memasak memakai telur, semua telur yang kupecah selalu cair putihnya, malah kadang sudah busuk.

5. Tidak ada budidaya memadai yang mengembangkan tanaman lokal untuk membangun ketahanan pangan. Huftt...

6. Makanan instan sangat disukai. (Aku sempat beli mi instan plus telur harganya Rp. 20 ribu.) Bahkan mereka menjual ikan atau sayur kemudian menukarnya dengan makanan instan.

Masak sendiri mi goreng plus telur dan sosis. (Sssttt.... ini jangan ditiru.)

Thursday, November 28, 2019

Perjalanan ke Agats (1): Mengenali Transportasi Agats pada Perjumpaan Pertama

Bandara Mozes Kilangin Timika

Ongkos pesawat Timika Ewer.

Salah satu alat transportasi di Agats, longboat.

Pelabuhan Ewer untuk menuju tempat lain di Kabupaten Asmat.

Jembatan Jokowi di Kampung Syuru Agats.

Motor listrik, satu-satunya transportasi darat di Agats.

Bandara Ewer, pakai gerobak untuk mengangkut bagasi.

Pesawat twin otter, yang paling banyak menghubungkan daerah2 di Papua.

Rencana perjalanan ke Agats kupersiapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Usai berbagai materi beres, sehari sebelum keberangkatan aku baru bisa browsing tentang Agats, itu pun hanya sebentar karena berbagai hal yang mesti kukerjakan pada minggu itu. Tanggal 19 Nopember 2019 sore, menggunakan Garuda dari Lampung ke Soekarno Hatta, lalu dari sana menuju Timika pada 21.35. Perjalanan lancar hingga mendarat tepat waktu di Bandara Moses Kilangin Timika pada 20 Nopember 2019. Hingga saat itu aku belum juga mendapat jawaban tentang pesawat yang akan membawa kami ke Agats. Naik pesawat apa, jam berapa dan kode booking kami mana. Semuanya tak ada jawaban.

Rm. Hendri yang menjemput kami memberi jawaban pendek saat kami sudah di ruang makan Ursulin: "Penimbangan jam 11. Nanti saya antar ke tempat penimbangan."

"Lalu terbang jam berapa?"

"Mungkin jam satu atau setengah dua. Pokoknya bersiap saja." Oh. Lalu tiketnya mana? Pesawat apa? Hehehe... tak ada jawaban.

Pukul 11.00 kami tiba di kantor Rimbun Air. Bagasi ditimbang, orang dengan bawaan juga ditimbang. Harga tiket Rp. 1.800.000 per orang, dengan maksimal berat 80kg plus bawaan kabin. Lalu bagasi Rp. 20.000 per kg, tak ada free bagasi. Semua harus dibayar. Total per orang mesti membayar sekitar Rp. 2 jt. Beratku plus ransel adalah 67 kg, masih di bawah berat maksimal. Lalu bagasi 11 kg. Pesawat yang digunakan adalah tipe Twin Otter, isi 17-18 orang, tujuan Ewer. Dari Ewer kami akan melanjutkan perjalanan ke Agats dengan menggunakan speedboat atau longboat.

Dari sana kami lihat masih ada waktu sehingga kami mampir makan siang di warung pecel di kota Timika, enak dengan porsi jumbo ang membuat berat badanku nambah 1 kg. Hehehe... Saat makan Rm. Hendri menyempatkan memberi penjelasan tentang hal-hal penting yang mesti kami ingat saat di Agats demi kesehatan kami semua: "Jangan sampai lupa minum biar tidak dehidrasi. Udara sangat panas, usahakan setiap jam minum air putih dan bawa botol minum ke mana pergi. Makan secukupnya jangan sampai lapar tapi juga jangan terlalu kenyang sehingga masih bisa memasukkan air putih dalam tubuh. Malaria mengintip di mana-mana, jadi jaga tubuh tetap sehat."

Sejam kemudian kami diantar ke Bandara Baru Moses Kilangin, bandara di kompleks yang sama dengan pesawat kedatangan kami di Timika tapi bangunan lain di sisi lain. Bandara itu kecil dan sedang dalam pembangunan. Konon kalau bandara baru ini selesai semua penerbangan domestic dan internasional akan melalui bandara ini sedang bandara lama hanya dipakai untuk kepentingan Freeport.

Menunggu di dalam bandara, kami tidak kunjung menerima pemberitahuan keberangkatan hingga ketika pukul 15.00, petugas memanggil penumpang menuju Ewer. Bukan untuk berangkat tapi untuk membatalkan penerbangan. Hah. "Penerbangan dibatalkan karena pesawat tidak mendapatkan bahan bakar. Silakan menanyakan informasi lanjut ke kantor Rimbun Air, jika anda ingin membatalkan penerbangan atau mengetahui penerbangan besok."

Ndak bisa ngomong. Waduh. Kami segera kontak Rm. Hendri untuk menginformasikan hal tersebut dan minta nasihat apa yang mesti kami lakukan. Beberapa saat kemudian Rm. Hendri menjemput sambil tertawa-tawa: "Ini hal biasa, Yul."

Jadi kami ke kantor Rimbun Air, mengambil bagasi. Rm. Hendri menjanjikan untuk urus kepastian keberangkatan kami ke Agats, dan meminta kami istirahat saja. Jadi malam itu kami tidur di Timika, menginap di Grand Mozza, satu hotel yang dekat dengan bandara. "Nanti saya kabari penerbangan besok bagaimana."

Maskapai tidak bisa menjanjikan jam berapa kami akan terbang. Tapi berkat upaya Rm. Hendri, malam itu kami mendapatkan informasi bahwa kami akan terbang sepagi mungkin dengan pesawat apa pun yang ada. Setelah melalui perubahan jam beberapa kali, kami akhirnya kembali ke bandara pada pukul 06.00. Bandara yang kami tuju masih dalam kompleks Moses Kilangin, tapi gedung yang lain yang berbeda dengan yang pertama dan kedua.

Kami ditimbang lagi. Pesawat yang akan membawa kami ke Ewer adalah Airfast, twin otter isi 18 orang. Terbang saat jam sudah lewat dari 08.00. Pesawat kecil ini membawa kami dengan tenang, karena cuaca sangat bagus. Butuh waktu sekitar 45 terbang. Luar biasa memandang alam Papua dari pesawat kecil yang terbang rendah semacam ini.

Selain pesawat kecil, sebenarnya ada kapal ferry atau speedboat yang bisa digunakan untuk menjangkau Agats dari Timika. Kapal ferry bisa membutuhkan waktu sekitar 10 jam, sedang speedboat membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Tentu keduanya tidak direkomendasikan dalam perjalanan singkat seperti ini walau cuaca nampaknya sedang bagus.

Sampai di Ewer kami sudah dijemput oleh Luise, panitia sie transportasi Keuskupan Agats, bersama kru perahu membantu kami mengurus bagasi dan memindahkannya ke longboat milik Keuskupan Agats. Perjalanan ke Agats dengan longboat ditempuh sekitar 30 menit, melewati muara, laut dan masuk menyusuri sungai besar hingga sampai Pelabuhan Misi di Agats.

Ooohhh, kota Agats nan indah ini ternyata berdiri di atas rawa. Aku tak pernah menyangka kalau seluruh kota dibangun di atas rawa. Jadi naik ke darat itu artinya jalan di atas rawa, rumah di atas rawa dan seluruh aktifitas di atas rawa.

Panitia membantu kami membawa koper ke Hotel Sang Surya, tempat kami menginap selama di Agats, dan kami berjalan kaki untuk mencapai hotel ini. Tak ada alat transportasi selain motor listrik, perahu dan jalan kaki.

Wednesday, November 13, 2019

Bersiap untuk Agats: Lakonono Dhisik Hoiii...

Agats sudah di depan mata. Aku merencanakan dalam waktu yang singkat karena memang baru beberapa minggu lalu mendapat tawaran tentang acara di sana, itu pun aku belum bisa memastikan karena memang tak terpikirkan sebelumnya. Pekerjaan-pekerjaan akhir tahun di Lampung sudah menguras pikiranku, kalau ditambah perjalanan panjang ke Agats kayaknya akan sangat membebani aku. Tapi seluruh situasi membuatku tak bisa menolak. Pertama, Sr. Natalia yang mestinya pergi ke sana sungguh harus ada teman untuk mengisi acara terlebih setelah kecelakaan kecil yang membuat kakinya harus dioperasi dan masih butuh proses pemulihan. Kedua, seluruh anggota badan pengurus SGPP KWI tidak mungkin untuk pergi ke sana menemani Sr. Natalia. Ketiga, akulah yang paling mungkin untuk pergi dalam kesempatan ini. Jadi okelah, aku pergi. Aku memutuskannya minggu lalu dan segera Della mendapatkan tiket Garuda yang sesuai untukku: Lampung-Jakarta-Timika PP. Timika-Agats tidak kuketahui bagaimana cara menempuhnya, pokoke panitia yang akan menyiapkan.

Bagianku adalah menyiapkan bahan-bahan sebagai inspirasi diskusi. Nah, itu dia yang berat. Di tengah segala urusan akhir tahun ini, ditambah waktu yang mepet plus materi yang tak biasa membuatku kerja ekstra. Soal pergaulan sehat (satu sesi tentang itu) aku bisa merangkainya dari materi yang sudah kupunya. Sesi lain yang harus kuampu adalah menu seimbang dalam keluarga. Hehehe... aku bukan ahli gizi, pasti aku akan mengaitkannya dengan kebiasaanku dalam keluarga, lalu mengungkapkan dalam lingkup keutuhan ciptaan. Nah sesi yang berikutnya, katanya paling mudah, yaitu membuat olahan dari bahan lokal. Lha piye iki. Bikin aku panas dingin. Memang aku lulusan Teknologi Pertanian, yang fokusnya pengolahan bahan pertanian. Tapi kalau mesti memberikan sesi tentang itu yo bukan aku donggg. Ditulis oleh Sr. Natalia bahwa sesi terakhir itu akan dibuat berdua, Sr. Natalia dan aku. Hadehhh...tetep saja groginya sudah terasa dari sekarang.

Tapi okelah, aku mengabaikan hal itu sementara waktu. Aku mulai kumpulkan dulu yang ada di sekitar rumah, apa yang kumiliki. Ini sebagian darinya:

Belimbing dalam pot, sedang berbunga.

Jambu dalam pot sudah berbuah.

Terong dalam karung bekas beras, oleh-oleh dari kebun Rm. Pur Palembang.

Jeruk peras dalam pot sudah berbuah.

Bayam merah siap panen plus bayi-bayi sawi yang mulai tumbuh di sela-selanya.
Apel india dalam pot sudah berbuah

Cabai rawit di tanah mulai berbuah

Seledari dalam polibag oleh-oleh dari kebun Rm. Edy Tulangbawang siap panen.

Pohon salam dalam pot siap sedia untuk tambahan bumbu masakan.

Sarapan hari ini. Tumis bayam merah dari kebun sendiri. Ayam dan tahu goreng. Sambel tahu sisa kemarin. Kering tempe sisa kemarin dan mangga hasil kebun tetangga. Lengkap.

Tuesday, November 12, 2019

MASA KECIL DAN MAINAN-MAINAN

Beberapa hari ini Bernard terus mengeluh: "Bosan, boring. Ngapain dongg..." Ini gegara HPnya error. Masalah pada baterainya. Walau mulutnya terus ngeluh, tapi dia tampak santai saja. Saban siang pulang sekolah dia akan ambil beberapa buku Naruto atau apa yang di rak, lalu dibawanya ke kamar atau ke kursi belakang, dan mulai asyik membaca. Sesekali dia akan ambil HPku karena dia memasang Line di HPku untuk keperluan komunikasi dengan teman-temannya. "Kemarin aku ndak bawa jas lab karena ndak tahu. Jadi pinjam ke lain kelas." Katanya sambil mecucu.

 Kemarin pulang sekolah pun dia ambil 3 buku Naruto dan berbaring membaca di sebelahku. Lalu aku tunjukkan tulisan lama di blogku yang bercerita tentang Si Boy, anak ayam hitam yang dulu pernah dipelihara burung dara peliharaan kami. Boy mati kejebur kolam. Klik sini untuk membaca kisah Boy. Juga bisa di sini. Nah, rupanya Bernard tertarik membaca juga tulisan sebelum dan sesudah apa lagi tulisan-tulisan di blog waktu itu tentang masa kecil dia dan kakaknya.

Jadinya dia ingat boneka-boneka binatang yang kami miliki, mulai mengingat nama-namanya dan seterusnya. Juga tentang mainan-mainan yang pernah dibeli seperti mobil tamiya, mobil remote, bola segala jenis, kelereng sampai berapa toples, tembak-tembakan (kata Bernard aku ndak pernah membelikan pistol mainan tapi tiap tahun mereka pasti beli dari uang hasil lebaran) dan mainan-mainan lain. Juga tentang mainan-mainan yang pernah dibikinin sendiri oleh bapaknya dan juga olehku.

"Mainan yang ibu bikinin itu tidak asyik. Kalau bapak yang bikin pasti keren." Katanya. Huuuu... kami pun mengingat tembakan pletokan dari bambu, atau mobil-mobilan dari kayu, juga yang kecil-kecil seperti baling-baling dari kertas lipat, tembakan dari pelepah pisang dan sebagainya.

Sayang sekali tidak semua jenis mainan itu kami punya fotonya. Beberapa yang terpasang di blog tapi tidak semata-mata untuk memotret mainan kreasi denmas Hendro, hanya tak sengaja saja. Misalnya saat aku nulis tentang bola-bola yang kutemukan di sekitar rumah, tak sengaja mobil kayu buatan denmas Hendro kefoto karena bolanya terletak dekat mobil. Lihat sini untuk melihatnya.

Selain ngobrolin mainan-mainan jaman dahulu, Bernard juga mengingat permen-permen tertentu yang tak pernah boleh diminta. "Itu, permen yang bentuknya seperti lipstik itu, warna-warni, sampai sekarang aku belum pernah makan. Kalau yang tipis-tipis itu mas Albert pernah beli walau ibu ndak mbolehin."

Lalu Bernard menceritakan satu rahasia tentang mobil remotenya. "Aku pernah mainin di luar lalu masuk siring, eh atau genangan lumpur, lupa. Pokoknya mobil itu jadi kotor. Aku diam-diam meletakkan di gubuk biar ndak kelihatan ibu."

"Memang ibu pernah marah karena mainan kotor?"

"Ndak sih. Tapi waktu itu takut aja, jadi ndak bilang-bilang."

Tadi pagi saat aku berangkat kerja, kuceritakan hal ini pada denmas Hendro. Sebagian dia ingat mainan-mainan itu tapi sebagian yang lain juga lupa. Jadi sebenarnya, inilah guna blog ini dibuat toooo.... Yukkkk nulis yang rajin. Hehehehe....

Friday, November 08, 2019

Nomor Dua Setelah Empek-empek adalah Pindang Bandara Palembang

Kalau pergi ke Palembang yang wajib dimakan adalah empek-empek. Iyalah, kota ini kan kampung halamannya empek-empek. Dalam kunjungan 1 - 4 Nopember lalu pun aku memasukkan empek-empek sebagai urutan pertama dalam daftar yang harus dikunyah. Masalahnya aku ini kan pemalu (huhuhu) sehingga antara iya dan tidak gitu saat hunting empek-empek. Pikirku: Walau tanpa upaya, asal pergi ke Palembang, pasti dapat tuh empek-empek. Hehehe.... sangat beriman kan.

Nah, untungnya salah satu timku dalam event Palembang ini adalah Cecilia Vonny, maniak empek-empek nomor wahid. "Pokoknya jangan lihat aku kalau sedang makan empek-empek." Gitu kata-katanya yang kemudian kupahami benar saat bersamanya makan empek-empek.

Hari pertama kalimat itu sudah langsung bisa terbukti. Malam, 22.00 kukira, atau lewat karena setelah sesi malam kami masih menemani panitia untuk evaluasi hari itu dan rencana hari esok. Udah sikat gigi, ganti baju, Mbak Vonny nyeletuk: Kebayang empek-empek. Aku sih langsung nyium aroma mi instan. Hihihi... jadi laperrrr.... Jadinya jari jemari Mbak Vonny yang bekerja. Dan malam itu kami makan empek-empek murahhhh... hanya Rp. 1.300 - 1.500 per bijinya. "Enakkk..." Kami berdua sepakat. Memang enak, lembut. Sembari kami mikir kok murah ya.

Hari kedua, saat makan siang, Mbak Vonny teriak dari meja lain. "Nanti malam kita diantar Pak Willy cari empek-empek." Ikuttt... Hehehe.... Hasilnya malam usai evaluasi kami keluar diantar Pak Willy, Pak Leo dan Mbak Nunuk. Dan empek-empek di pinggir jalan (seingatku tak jauh dari Ampera), uenakkk buangetttt.... Berpiring-piring pokoke.

Nah, urusan empek-empek sementara terpuaskan dengan jalan-jalan malam minggu ini hingga tengah malam walau dalam sitaasi hujan. Panitia masih membagikan oleh-oleh empek-empek untuk kami bawa pulang Lampung.Wis puas.

Nah, yang berikutnya adalah makan siang di hari minggu sambil ngantar Mbak Vonny ke bandara. Di pojok belokan bandara itulah rumah makan pindang itu berada. Aku sih awalnya biasa saja. Toh aku sering makan pindang di Lampung dengan segala rasa mulai yang tak enak, biasa-biasa atau yang enak atau enak banget.

Nah (aku suka sekali pakai kata nah, ndak usah diprotes), di pindang bandara ini ada beberapa pilihan pindang: gabus, patin, baung. (mungkin ada yang lain, tapi ndak ingat) Aku milih pindang patin, bagian badan. Sejujure sih penginnya yang kepala tapi agak tengsin kalau tangan n mulut belepotan. Kalau bagian bagian badan kan bisa makan rapi. Hehehe...

Yang tak kusangka adalah ketika tersaji, pindang ini porsi jumbo. Ikan yang besar dengan daging yang tebal. Dan segar banget ikan yang dipilih. Tak kecium aroma atau rasa amis. Kuahnya pas banget asam gurih manis pedesnya. Dengan campuran irisan nanas dan kemangi pada kuah. Pelengkapnya sambel mangga yang maknyus pas di lidah, dan lalapan segar seperti timun, kacang panjang, jengkol, pucuk mente, kemangi dan rebusan labu siam. Pak Willy menambahkan pepes gabus tempoyak. Waduhhh... ini benar-benar mantap. Enak banget. Dengan nasi sedikit saja dan minum jeruk anget tanpa gula. Makanan yang bisa diulang kalau datang lagi ke Palembang. Maknyusss....

Thursday, November 07, 2019

Bersama Relawan JPR SCJ Indonesia: Menulis Kreatif untuk Media Sosial




Salah satu kesempatan menarik bagiku dalam perjalanan ke Palembang kemarin adalah kunjungan-kunjungan informal ke beberapa sahabat. Salah satunya adalah komunitas relawan JPR SCJ Indonesia, di Jalan Karya Baru Palembang pada Minggu 3 Nopember 2019. JPR itu sebuah lembaga / komisi milik para romo SCJ yang bergerak dalam bidang-bidang migran perantau, narapidana, rehabilitasi narkoba, tanggap darurat bencana dan ekologi. Justice, Peace and Reconcilliation, itu kepanjangannya. Personnya sekarang ini adalah RD. Laurentius Purwanto SCJ dibantu oleh tenaga-tenaga muda relawan.

Tentu saja aku senang mendapatkan kesempatan ini apalagi dalam pertemuan beberapa waktu yang lalu di rakernas FPBN, kami sempat berdiskusi tentang pentingnya menggunakan berbagai media dalam menyebarkan nilai-nilai keadilan dan perdamaian. Salah satu alat yang sekarang ini bisa diakses oleh siapa pun adalah media sosial.

Jadilah, beberapa orang muda anak-anak Rm. Pur berkumpul di sekretariat JPR SCJ Indonesia, dalam antusias untuk belajar bersama: Menulis. Hohohohoooo, aku selalu gembira kalau urusannya tulis menulis. Aku bawakan beberapa buku yang kuharap menjadi penyemangat bagi teman-teman muda ini, sebagian besar buku-buku yang kutulis atau kususun.

"Kita mesti membedakan mana yang fakta dan mana yang asumsi. Dan untuk penulisan untuk media demi kepentingan lembaga kita, fakta mesti kita perkuat dengan narasumber yang kompeten, referensi dan yang utama, kita mesti memperkuat diri kita untuk mengoptimalkan pancaindera menangkap apa yang kita lihat, kita dengar, kita cium, kita raba dan dia rasa," kataku saat pengantar.

Usai makan malam meriah bersama mereka aku melanjutkan point singkat tentang penulisan jurnalistik. Kunci 5W 1H harus mereka pegang. Lain-lain nyusul deh, pokoke untuk awal inilah yang penting.

Tentu saja tak mungkin kota seindah Palembang dibiarkan saja. Pembelajaran konkrit kami lakukan dengan 'nggoteki' Rm. Pur supaya kami outing. Menikmati Palembang waktu malam sembari mencari bahan untuk ditulis. Palembang tuh banyak obyek menarik untuk ditulis. Maka kami berdesak-desakan dalam mobil menikmati kota Palembang, dan melanjutkan diskusi sambil nongkrong di angkringan, mbandrek dan ngemi instan. Hehehe...

Apakah ini sudah selesai? Belummm.... Harus dilanjutkan belajar mandiri, juga dalam komunitas. Yang mesti dipelajari lagi adalah bagaimana menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan kepedulian sosial, seperti yang sehari-hari dikerjakan oleh Rm. Pur dan para relawannya. Aku berharap ada perjumlaan selanjutnya bersama Elias, Frans, Marcel, Boni, Angga, Dominggus, Marta dan Vivi untuk belajar lebih jauh lebih dalam. Terimakasih, Rm. Pur.

Tuesday, November 05, 2019

TOT Perjuangan Keadilan dan Kesetaraan Gender

Kegiatan ini digagas sudah beberapa waktu lamanya. Beberapa perubahan dalam pelaksanaan terjadi antara lain karena Sr. Natalia OP, sekretaris Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) KWI yang harusnya hadir mendadak harus memperhatikan kakinya secara lebih karena habis operasi tendon di lututnya. Aku membantu dengan sedang hati apalagi jauh dari jadwal ini aku sudah ingin sekali berkunjung ke Palembang setelah kunjunganku yang terakhir beberapa tahun yang lalu.

TOT Perjuangan Keadilan dan Kesetaraan Gender ini diselenggarakan oleh SGPP Keuskupan Agung Palembang diikuti oleh 40an peserta dari berbagai kelompok dalam wilayah keuskupan. Peserta sangat beragam mulai dari para guru, utusan dari paroki-paroki Dekenat 1, 2 dan 2, wakil dari organisasi atau kelompok juga dihadiri oleh para muda.

Kegiatan dilakukan di RR Giri Nugraha Palembang pada Jumat - Minggu, 1 - 3 Nopember 2019. Aku dan mbak Vonny dari Bogor menjadi narsum utama, dibantu Vivi untuk memfasilitasi beberapa sesi.