Friday, July 27, 2018

Kejadian Mistis di Kamar Mandi Depan. Jeng... Jenggg...

Setelah mandi kemarin sore, aku berbaring di dekat Bernard yang sedang asyik dengan game hpnya. Meluruskan pinggang pegel. Aku ambil buku dan mulai membaca lagi Perempuan Penunggang Harimau, sampai di halaman 403, tentang kematian Sekeghumong. Iseng aku nowel Bernard:

"Nard, pernah mengalami peristiwa mistis ndak?"

"Pernah." Matanya tak beralih dari layar HP. Aku langsung meletakkan buku, dan serius ingin mendengarnya.

"Di mana?"

"Di rumah ini. Di kamar mandi depan." Rumahku punya dua kamar mandi yang berdampingan. Kamar mandi yang pertama menghadap ke ruang depan, kami biasa sebut sebagai kamar mandi depan.

"Ohya? Seperti apa kejadiannya?"

Dia ini tetep memandang hpnya sambil pencet-pencet main game. "Waktu itu aku masuk kamar mandi, bu, terus pup. Banyak tahinya karena sakit perut banget. Nah, waktu menekan tombol flush, tiba-tiba... tahinya ilang! Menghilang begitu saja."

Aku melotot. Yaelah. Kurang ajar nih anak. Kujedut pake buku tebalnya Dhoni. Huh. Dasar. Ngerjain ibunya. Udah gitu wajahnya tetep serius di hp lhooo....

Thursday, July 26, 2018

Pekerjaan Luar Biasa

Ini pekerjaan apa cobaaa? Butuh ketelitian, ndak usah cepat-cepat, pokoke jadi.

Pekerjaan yang tak biasa, yang luar biasa.

Coba tebak: Apa yang sedang kubuat tuh?

Thursday, July 05, 2018

Putus Saja!

Beberapa perjalanan kutunda dulu penulisannya. Ndak mood. Lebih baik kutuliskan yang masih segar baru kualami dan aku tak mau lupa.

Kemarin aku pulang kantor dijemput Albert. Mumpung diboncengin, aku minta dia mampir ke Aladin untuk mencari gelas jelly dan sendoknya. Setelah itu dia bilang bahwa jam 16.30 harus ke Moka untuk ambil HPnya yang sedang diservis. Okey. Karena masih ada waktu sejam lebih maka kami menunggu di Mi Godhog Pak Karso.

Setelah bla bla bla segala urusan Albert selesai (hihihi males nulisnya. urusan-urusan ribet yang bikin ndak sabar), kami pulang. Diboncengi Albert tuh agak serem karena motor bisonnya sangat tinggi. Kalau naik pun aku harus minta dia miring ke kiri. Kalau tidak, aku sulit untuk naik. Serem-serem sedap karena apa yang menurutku ngebut, menurut Albert tidak. Huh. Bahkan dia bisa-bisanya lewat pinggir jalan yang sempit biar ndak kejebak macet Unila, padahal motornya kan segede itu. Oalah.

Nah, point dari judulku itu muncul di puteran balik dekat rumah. Motornya tiba-tiba mogok pas tengah jalah! Aku menahan diri tidak teriak walau aku panik banget. Si Albert dengan tenang mendorong motor pakai kakinya dengan kami masih di sadel motor! Itu kan berat! Dan jalan ramai. Oalah. Beberapa mobil mengklakson dengan heboh. Aku tutup mulutku jangan koment, hanya mencengkeram pinggangnya.

"Kok iso lho Bert."

"Habis bensin kayaknya, bu."

"Yang bener saja. Masa ndak dicek dulu tadi2. Lagian tuh penandanya kan kau bisa lihat."

Dia nyengir saja. Minta HPku untuk nyenterin tangki bahan bakar. "Masih bisa kok."

Dia nyoba ngeslah motornya beberapa kali, hidup, dan memiringkan motor supaya aku naik.

"Untung sama ibu. Kalau sama pacarmu, pasti ngamuk dia."

"Kalau dia marah karena soal sepele gini ya putusin saja."

"Enak aja kau ngomong main putus."

"Lha kalau untuk urusan gini saja dia ndak sabar, dia pasti ndak oke untuk jalan bareng hidup bareng."

"Masaaa?" Halah.

"Iyalah."

Dia santai saja lalu membelok ke SPBU dekat rumah. Aku bilang untuk ngasih sepuluh ribu untuk bensinnya. "Kukira isi full. Ih ibu mah. Cuma sepuluh ribu."

Terpaksa kujegug kepalanya lalu kuangsurkan 20 ribu padanya. Nooo...kutambahin.

Dalam perjalanan pulang aku mikir-mikir pikiran Albert soal putus. Hmmm...

Tuesday, June 05, 2018

Perjalanan Tanjungpinang-Batam (1): Langsung Menyeberang ke Tanjungpinang

Tanggal 28 April 2018, hari Sabtu, aku dan Mas Hen berangkat pakai Garuda dari Radin Inten II menuju Hang Nadim. Berangkat dengan beberapa hal yang ndak pasti, tapi aku dan Mas Hen gembira saja membayangkan perjalanan ini. Misalnya, siapa nanti yang akan njemput di Batu Besar, Batam? Hmmm... pertanyaan itu terjawab ketika kami sampai di Bandara. Sebuah keluarga yang baik hati akan menjemput kami di Bandara Hang Nadim lalu mengantarkan kami ke Pelabuhan Telaga Punggur untuk menyeberang ke Tanjungpinang. Kenyataannya, kami dapat bonus! Traktiran makan siang oleh keluarga baik hati itu. Wah.

Sembari makan, sekitar pukul 14.00 aku kontak Yuanda Isha, perempuan yang menulis buku Seribu Satu Puisi, dimana ada coretan sketsaku, bahwa bentar lagi akan otw pelabuhan. "Siap, mbak. Nanti kami jemput di pelabuhan."

Kami menggunakan kapal cepat Oceana dari PT. Pernas Baruna Jaya, seharga 65 ribu rupiah. Kapal yang nyaman, dan cepat. Sekitar 45 menit kemudian aku sudah sampai di Pelabuhan Tanjungpinang. Suasana yang berbeda dengan Batam walau hanya berjarak 45 menit. Begitu keluar pelabuhan, dari jauh tampak 'sosok' Yuanda melambai-lambai. Astaga, kurus amat perempuan ini. Yah, ini pertama kali aku berjumpa dengan penulis ini, dan tidak menyangka sama sekali kalau dia sekurus itu.

Bang Ulu sudah menunggu di mobil siap menemani kami. "Kita mencari penginapan dulu, atau ngopi dulu. Kita santai saja." Ya, kami ikut saja rencana mereka. Mencari penginapan pada hari Sabtu di Tanjungpinang bukan hal yang mudah. Rata-rata full booked, sampai kemudian kami mendapatkan Kaputra Hotel, di tengah kota. Ngopi di pinggir pantai jangan terlewatkan. Plus bakwan goreng dengan udang segar di tengahnya. Dan rupanya, bang Ulu suami Yuanda ini sudah memikirkan akan meminjami kami motor Nmax mereka yang baru. Huhuhu... Jadilah. Saat magrip, mereka balik, aku dan mas Hen pun merancang perjalanan malam di Tanjungpinang. Yuan dan suaminya meyakinkan kami bahwa Tanjungpinang aman untuk dijelajahi.

Malam itu kami menikmati ikan bakar di Taman Tepi Laut, dekat dengan Gedung Gonggong, Taman Laman Boenda. Juga satenya yang josss.... Tempatnya tak jauh dari pelabuhan, dan menjadi tempat ngumpul orang Tanjungpinang. Apalagi pas Malam Minggu.

Kenyang, kami lanjut berputar-putar kota. Asli, berputar-putar, karena kami rupanya kembali lagi di jalan yang itu, lalu ke situ lagi... Hehehe... terpaksa buka GPS. Nah, lalu kami ke Jembatan Dompak, jembatan yang menghubungkan Tanjungpinang ke pusat pemerintahan Propinsi Kepulauan Riau. Tempat nongkrong juga. Banyak orang duduk-duduk di jembatan ini dan menikmati malam.

Hampir tengah malam, capek muter-muter kami balik ke Kaputra Hotel, membeli dulu mi goreng samping hotel, dan menikmati kamar kami yang nyaman setelah mandi bersih dan nyikat mi goreng yang rupanya sangat enakkkk.... wah.

Monday, May 28, 2018

Muhammad Harya Ramdhoni: Nyekar lewat Sihir Lelaki Gunung

Judul buku: Sihir Lelaki Gunung; sebuah kumpulan sajak
Penulis: Muhammad Harya Ramdhoni
Desain Cover: Sunlie Thomas Alexander
Foto Cover: Eka Fendiaspara
Tata Letak: Ladang Art Studio
Penerbit: Ladang Publishing, Yogyakarta
Cetakan pertama: 2018
Isi: xii+118 halaman
Ukuran: 13X19 cm
ISBN: 978-602-1158-23-4




Buku ini aku terima dari penulisnya beberapa bulan yang lalu. Maafkanlah, buku ini sampai lecek kubawa ke mana-mana. Dan tragisnya tak juga kubaca satu puisi pun yang ada dalam buku ini. Lihat sampulnya yang sampai tergores-gores, karena kubawa ke Tanjungpinang, Batam, Padang, lalu terakhir kemarin Malang dan Surabaya. Duhai, saat menunggu pesawat yang membawaku ke Lampung itulah kubuka secara acak buku ini sampai pada halaman 51:

NYEKAR
: Mbah Kung R. Soetanto
Mbah Putri DRA. Koemini Ismari

sepenggal waktu membawa diri menuju tempat bermula. sebuah kota di bengawan dan kisah dua makam tak terukir dari batu pualam berwarna jingga. di sana terbaring jasad kakeknda dan nenekda. setia menimang diri dalam hening, dalam cinta tulus tak terbayar. "aku menjengukmu mbah kakung, mbah putri," kata lelaki muda dengan suasana hati gembira namun takzim. disimpan baik-baik tangisnya, mengingat kasih sayang dan kemanjaan kala balita. namun air matanya akhirnya titik. saat sadar jasad keduanya telah lama tergelar di dalam tanah. tiga puluh tahun bukan sebentar. sementara lelaki muda hanya punya segenggam doa. di sore hari seiring ia bergumam lirih,"selamat petang, solo. aku kekal mencintamu."

Solo, Jawa Tengah & Bangi, Malaysia, 4 & 17 Januari 2014

Aku masih mengulang-ulang puisi ini sampai siang ini saat aku menuliskannya di blog ini. Puisi, hmmm... sebenarnya aku tergelitik ketika menyebut tulisan ini sebagai puisi. Ini kayak bukan puisi. Sepertinya aku bisa menyebutnya juga sebagai prosa. Pertama-tama, lihat caranya menuliskannya. Dhoni tidak membuat bait-bait sajak. Dia menuliskannya dalam satu alenia panjang terdiri dari 12 kalimat. Sebagian di antaranya kalimat lengkap, memiliki subyek, predikat, obyek dan keterangan. Sebagian yang lain dia abaikan subyeknya, atau predikatnya.

Pun aku bisa melihat setting waktu dan tempat. Juga sebuah alur yang memberikan gambaran sebuah kisah. Judulnya sih Jawa banget: Nyekar. Berasal dari kata sekar. Menabur sekar di makam. Artinya mengirim doa untuk orang yang sudah meninggal. Dan Dhoni menyebut dua orang yang dikunjunginya: Mbah Kakung R. Soetanto dan Mbah Putri DRA. Koemini Ismari. Dua orang dekatnya itu dikenangnya dalam Nyekar-nya.

Mengapa puisi ini langsung nanjap di hatiku saat aku membacanya di Bandara Juanda? Karena beberapa saat setelah rapatku di Malang, aku sempat mampir di Kediri, rumah bapak ibuku. Memang aku tidak ada waktu untuk nyekar ke makam mbah kakung dan putriku, tapi setiap datang ke rumah Kediri, wajah ibu dan seluruh rumah spontan membawaku pada mbah kakung dan putriku. Terlebih secara khusus saat aku ada di ruang makan, aku mengamati beberapa jenak foto keluarga: Mbah Kung dan Putri, lima anaknya termasuk ibuku saat masih berusia sekitar 7 tahun (sayang aku ndak motret foto jadul itu). Aku pun jadi merasa sangat rindu kembali pada Kediri, pada Kung dan Uti, juga seluruh kenangan bersama mereka saat aku masih kecil. Dan kurang ajarnya, jika rindu macam gitu, hidungku ini selalu jadi tombak cucukan. Jadi kecium-cium makanan-makanan masa lalu. Botok luntas yang pedes dimakan pakai peyek teri. Sambel pecel yang disiramkan pada nasi dan sayuran, dimakan saat masih nasi hangat dengan lauk kerupuk. Rujak cingur yang kenal warna hitam. Duhhh.... kurang ajar sungguh buku ini.

Iya sih, ingatan yang muncul akibat Nyekar ini memang bukan hening seperti Dhoni menuliskan penutupnya: Selamat petang, solo. aku kekal mencintamu. Disertai doa dan air mata. Puisi ini memunculkan 'aroma' kerinduanku yang memang didominasi hidung lalu berangsur ke lidah. Makanan-makanan yang pernah kukecap bersama Kung dan Uti-ku. Dan kalau sudah dua indera ini berkolaborasi, duhhh...

Siang ini aku mengulang-ulang lagi puisi 12 kalimat ini. Lalu secara cepat aku memindai lembar-lembar Sihir Lelaki Gunung. Dhoni memang sedang menuliskan dirinya! Lihat puisi-puisi dalam buku ini. Dia memisahkannya menjadi bagian-bagian: Sakala Baka, Isana dan Mataram, Kenangan yang Tersembunyi, dan Tentang Hidup. Lampung dan Jawa dia padukan dalam buku ini. Dua jalur leluhurnya itu dia lukiskan dalam kalimat-kalimat. Tentang Sakala Baka: "Tempat kebaikan dan kejahatan berseteru selama ribuan tahun." Tentang Isana dan Mataram: "Jalan keris dan berkubang darang adalah istiadat mereka!" Tentang Kenangan yang Tersembunyi: "Tak semua insan sanggup menyimpan dengan tenang setiap penggal kenangan." Dan Tentang Hidup... Ahaiii... Dhoni mengambilnya dari Gie: "Nasib terbaik adalaht idak pernah dilahirkan."

Dhoni tidak mampu menggambarkan seluruhnya tentang leluhur dan hidupnya, tapi tulisan-tulisan yang dia sebut sebagai puisi dalam buku ini menjadi upayanya untuk menghormati kehidupan, generasi sebelum dirinya, leluhurnya, peziarahannya dan juga cintanya pada 'manusia', yang diawali dengan cintanya pada 'diri sendiri'. Maka tepat sekali kalau di halaman awal buku ini dia menulis: untuk saya, sakala baka dan surakarta hadiningrat.

Aku senang mendapat buku ini, Dhon. Aku akan meneruskan membaca puisi-puisi yang lain dalam buku ini. Dan tentu saja, nunggu buku yang lain darimu. Selamat ya.

Thursday, April 26, 2018

Novel Alexander GB: Kampung Tomo


Judul buku: Kampung Tomo
Penulis: Alexander GB
Desain cover dan tata letak: Devin Nodestyo
Cetakan pertama: Januari 2018
Penerbit: Lampung Literature
ISBN: 9786021419144

Aku mendapatkan buku ini pada minggu ketiga bulan Januari tahun ini. Ini menjadi buku terakhir yang kubaca setelah buku Yulizar Fadli dan Devin Nodestyo. Aku membawa buku bersampul biru ini pada masa cutiku bulan Maret lalu di Bali. Satu-satunya buku yang kubawa untuk berangkat liburan (saat pulang aku membawa 10-an buku tambahan yang kubeli atau yang kudapat sebagai hadiah).

Memulai membacanya saat aku sedang di bandara untuk menunggu penerbangan ke Jakarta maupun ke Bali. Tapi benar-benar kudapatkan 'rasa' saat aku membacanya di pesisir Karang Asem, tempat yang bertolak belakang dari setting Ulubelu yang digunakan oleh GB dalam buku ini.

"Sepertinya mereka tidak terlalu mengharapkan kehadiran saya di rumah ini. Saya teringat Mbah Putri yang selama saya di Ulubelu kerap mengunjungi saya. Istri Bapak meski sejauh ini menunjukkan sikap yang baik, khususnya jika ada paman dan bibi, tentu saya tidak keberatan ia tetap tinggal di rumah ini. Meski saya masih enggan untuk memanggilnya ibu."

Tersandung di paragraf terakhir halaman 79 itu aku mengulang pembacaan dari awal secara cepat. Aku pun mulai ngeh masuk dalam cerita GB. Seolah aku mengiringi si Tomo, tokoh 'saya' yang ada dalam cerita ini. Merasai si Tomo yang 'antara ada dan tiada' di kampung kelahirannya itu, lalu ikut menemani memikirkan hal-hal praktis sebagai solusi atas kematian bapaknya.

Walau bagian endingnya tak terlalu kusuka karena membuatku bingung, aku tidak terganggu GB memutuskan membuat ending semacam itu. Ending itu membuatku berpikir soal 'fana dan maya'. Nah, nah, kalian harus membayangkan aku membaca buku ini di sebuah perkampungan nun di Karang Asem sana sedang dalam persiapan Nyepi. Jadi cocok cucoklah. Mengapa soal fana dan maya yang menyentak? Hmmm.... susah menjelaskannya. Baca saja alenia terakhir ini (hal, 200):

"Ketika saya mendongak, kelelawar membentuk garis melengkung di langit Ulubelu. Saya mendengar ceracaunya. Saya mendengar banyak suara lain, saling tindih, sebagian suara itu terus menggumamkan nama saya. Sosok-sosok yang tadi menampakkan diri telah pergi, yang tersisa hanya gema suara-suara mereka dan kabut yang menyelimuti rerumputan. Lalu datang cahaya dari barat yang menyilaukan, lantas melemparkan tubuh saya ke suatu tempat - seperti jalanan yang diapit bangunan-bangunan tinggi dan menyebarkan bau belerang."

Huhuhu... orang Ulubelu ini. Thanks, ya, B. Kupikir buku ini bisa diteruskan menjadi buku kedua dan ketiga. Aku pasti suka hati membacanya. Ingat Ulubelu dengan tanahnya, masyarakatnya, masalah-masalahnya.... ah kau lebih tahulah soal itu, bahwa itu semua harus disuarakan. Selamat atas buku ini.

Residensi Menulis yang Gagal (7): Memang Gagal


18 Maret

Hari terakhir di Wawa Wewe kami mesti bangun pagi-pagi sekali. Kami sudah memesan taksi full day, dijemput pukul 08.00. Sarapan yang tidak terlalu ternikmati. Pilihan roti dan telur dan jus jeruk, lalu buru-buru ke mobil. Packing sudah kulakukan dengan supercepat saat aku bangun pada 06.00 tadi.

Tujuan pertama ke Pasar Sokawati mencari keranjang. Selanjutnya ke Mall Denpasar untuk mencari bumbu-bumbu khas Indonesia dan makan siang. Lalu pkl 15 aku diantar ke bandara. Untuk kembali ke Lampung. Cuaca yang buruk tapi lebih buruk pikiran-pikiranku.

Aku berpikir soal perjalananku ini. Di awal aku pikir ini waktu yang tepat untuk menuliskan : Pencarian Cinta. Huhuhu. Tapi ternyata perjalanan ini memang tepat supaya aku mengalami beberapa hal santai yang mengalir di sepanjang Karangasem. Soal penulisan memang gagal total. Tapi minimal aku menuliskan sesuatu di blog dari catatanku ini. Beberapa hal lain yang tak mampu kutuliskan tersimpan rapi dalam hatiku.

Residensi Menulis yang Gagal (6): Nyepi - Kematian

17 Maret

Pagi-pagi, terlalu pagi, aku bangun sekitar jam 2 dini hari. Melek beberapa saat, tertidur lagi menjelang subuh, dan bangun sangat telat. Hari ini hari nyepi. Kami tak boleh kemana-mana pada hari ini. Jadi aku juga tidak ingin ke mana-mana. Usai membersihkan diri, aku membaca Cantik itu Luka. Sarapan jam 09.00 dengan roti bakar dan telur ceplok. Baca lagi. Tidur sebentar. Baca lagi. Tidur lagi. Baca lagi… hahhaa… pukul 016.15 baru makan lagi pesan ke kantin. Makan siang yang telat itu aku order: nasi dengan vegetables curry, fried fish dan tofu, serta mi goreng dengan sayuran. Itulah makan siang merangkap makan malam yang super lengkap. Ditambah dengan jus jeruk dan kopi.

Nyepi: pati geni, pati karya, pati lelungan dan pati lelaguan.. kami menikmati dengan cara masing-masing di hotel. Sampai malam kami berbincang tentang banyak hal. Ini malam terakhir, dengan debur ombak dan bintang-bintang. Aku menikmati ini.

Satu hal yang aku tak bisa lanjutkan sebagai perbincangan lisan: Yuli, siapkah kau pada kematian?

Aku terdiam. Bibirku bilang, aku tak mau membahas tentang hal ini. Lalu bibirku bercerita tentang kematian si anu, si ani, si ano... dan lain-lain. Bukan tentang kematianku. Aku tak mampu bicara tentang kematianku sendiri karena aku masih ketakutan, aku masih tak siap. Ada beberapa hal yang masih ingin kukerjakan dengan tubuh Yuli seperti ini. Aku harus mengejar waktu supaya semua mampu kubereskan sebagai Yuli. Aku bernafas panjang beberapa kali. Ingat gelenyar yang muncul pada tubuhku saat pesawatku turbulensi hebat dalam perjalanan Jakarta - Denpasar. Inget betapa aku mencengkeram pinggang Albert saat diboncengnya dengan kecepatan tinggi mengejar jam misa. Atau, betapa aku berdebar-debar saat hujan deras angin badai. Ohhh... aku berharap masih punya waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas Yuli. 

Pikiran-pikiran tentang kematian ini kubawa ke tempat tidur, ke dalam kegelapan dan kesunyian Nyepi.

Tuesday, April 24, 2018

Residensi Menulis yang Gagal (5): Ogoh-ogoh yang Menyesatkan

16 Maret 2018

Aku bangun pagi dengan perasaan tenang. Juga suasana sangat tenang. Ke wc, cuci muka, ganti baju, aku turun ke pantai. Semburat cahaya matahari sudah tampak di timur. Oranye, kemerahan, kekuningan. Wah. Dan ombak, nyaris tak ada ombak. Nyaris tak ada suara ombak berdebur. Sesekali saja ada ombak yang pecah tapi secara umum, mereka sangat tenang. Suara burung di atas pohon dekat kolam begitu meriah. Aku mulai menangkap hal-hal detail dalam pandanganku. Bebatuan yang mengkilat kuning disepuh matahari. Ikan-ikan… memanjat eh melonjat ke batu, lalu meloncat lagi ke air, kemudian meloncat lagi. Menjauh saat aku dekati, tapi selalu ada yang meloncat, meloncat… selain aku ada burung, berparuh panjang berkaki panjang mengikuti pergerakan ikan-ikan. Sekali waktu kulihap, hap… burung itu mendapatkan satu ikan di paruhnya. Aku sempat terperanjat. Apakah ikan-ikan itu meloncat ke bebatuan sebagai sarapan burung? Tapi kalau tidak ada perilaku seperti itu, burung itu makan apa?

Batu-batu segala warna ada di pantai ini. Aku terpesona dengan bentuk-bentuk batunya, lonjong, bulat, kotak, panjang… halus, sempurna. Mereka dibentuk dengan baik oleh pembentuknya. Air laut? Gesekan dengan batu lain? Ahai. Air sangat tenang dan bening. Aku bisa melihat dengan jelas bebatuan di bawah air. Sangat jernih. Sangat jelas.

Satu poin yang kudapat dalam jalan pagiku ini: aku tidak boleh lagi mengijinkan amarahku menguasai diriku. Tapi aku tidak boleh lagi membiarkan rasa marah datang dan menghajarku. Membuatku hanya dibungkus emosi.

Aku merenungkan hal ini sepanjang jalan. Menginjak bebatuan yang goyang. Pasir hitam. Batuan yang besar dan padat. Melihat air jernih yang memantulkan keindahan-keindahan. Ohh, aku ingin mengingatnya. Yuli, jangan marah lagi. Jangan lagi membiarkan rasa marah menguasai.

Aku sarapan dengan roti bakar dan telur rebus plus jus lemon tanpa gula. Aku selalu minta bonus madu yang kuminum setelah kuhabiskan sarapanku. Satu telur rebus cepat masuk ke perutku, sedang yang satu lagi (kami mendapat jatah dua telur) kubawa ke kamar, rencanaku untuk makan siang.
Partnerku mengatakan sudah memesan motor kalau aku mau bisa ikut dia jalan. Niat awal adalah pergi salon untuk potong rambut, lalu berjalan sekitar seraya. Tapi kemudian yang kami lakukan berdua adalah menyusuri sepanjang pantai hingga ke Amlapura, lalu balik lewat jalan utama propinsi. 

Hujan deras datang ketika kami sampai di sebuah tempat indah dekat sawah saat kami usai menikmati popmi dan degan, sebelum Culik. Itu sudah sangat dekat, tapi kami yang sudah basah kuyup malah nyasar sekitar 4 km. Mestinya kami belok kanan setelah sampai Culik, tapi kami terus hingga bertemu pantai di sebelah kanan. Itu jelas salah, karena harusnya pantai di sebelah kiri. Huhuhu. Kami jalan terlalu ke barat.

Kami memastikan bertanya dua kali karena kami salah belok juga setelah bertanya satu kali.
Culik adalah desa yang akan kami datangi sore nanti untuk perayaan ogoh-ogoh. Waktu sangat mepet. Ketika sampai di penginapan, hujan deras kembali. Kami mandi dang anti baju kering. Menunggu dengan membaca hingga hujan berhenti, tepat pukul 15.30. kabarnya ogoh-ogoh akan dimulai dengan doa pukul 4.00. ini yang bikin greget ketika kami mendapatkan informasi yang berbeda-beda soal lokasi doa arah arakan ogoh-ogoh dan juga tempat pembakaran ogoh-ogoh.  Ada yang bilang lokasi doa di Amed, lalu berjalan ke Culik untuk dibakar di sana. Ada yang bilang dibakar di Amed. Ada yang lain bilang dari Culik di bawa ke Amed lalu ngumpul di Culik lagi. Ahai. 

Saat malam setelah kami selesai terlibat dalam doa di Culik, diselingin makan bakso lalu melihat ogoh-ogoh, di perjalanan kembali ke tempat nginap kami baru ngeh kalau acara serupa juga dikerjakan di Culik dan juga di Amed. Dua tempat. Dua acara yang sama. Huhuhu.

Kami tertawa menyadari hal itu. Sekaligus bertanya-tanya kenapa orang-orang yang kami tanyai tidak clear memberikan info soal itu. Hahaha… astaga.