Saturday, January 20, 2018

Puisi Sabtu (11) HANYUTKAN SURATKU karya Muhammad Ramzi Azzahra

HANYUTKAN SURATKU

 Aku ingin hanyutkan suratku pada empat sungai
yang mengalir dari sisi kubah dan kelak akan engkau jala
kemudian kau simpan seperti ikan hias di akuarium

Berenang dalam mimpi panjangmu
yang tak terukur jari-jari waktu menunjuk ke segala arah,
menikam ketiadaan saat kau bangun
pagi tak seindah itu

Lebih dari lukisan batik sayap kupu-kupu
yang hinggap meminum sisa air wudhu' di alismu
meliuk menjadi peta menuju kerajaan agra
dan kita berjumpa di pinggir telaga.

13/01/18

------------


Muhammad Ramzi Azzahra, atau biasa dipanggil Ramsi, lahir di Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura pada 10 Januari 1992. Seniman muda ini berkegiatan di Komunitas Kampoeng Jerami, Tanian Kesenian Bluto (TKB), Rumah Proses, Masyarakat Santri Pesisiran. Menggeluti musik bersama La Ngetnik (Musik Etnik Kontemporer), Saripati (Band), Al-Karomah putra (Drum Band), dan membuat banyak karya musikalisasi puisi. 

Thursday, January 18, 2018

Jika Kalian Menemui Masalah Apa Pun, Pulanglah.

Anak-anakku sayang, suatu saat nanti akan tiba waktunya kalian pergi dari rumah. Kalian sudah mendapatkan latihan sejauh ini dengan sesekali pergi dari rumah. Meninggalkan bapak ibumu untuk bergaul dengan teman-teman, untuk mendapatkan guru-guru baru setiap kali, untuk mengunjungi tempat-tempat baru, dan berbagai keperluan. Mungkin dari sekian banyak teman, guru dan tempat yang kalian jumpai tidak pernah bapak ibumu datangi. Tapi itu bukan masalah, pergilah.

Anak-anakku sayang, suatu saat nanti akan tiba waktunya kalian pergi dari rumah. Kalian akan punya rumah lain yang menjadi tujuanmu untuk pulang. Kalian akan meninggalkan rumah ini walau bapak dan ibu yakin kalian tidak akan melupakan rumah ini. Kalian akan memiliki hidup sendiri dalam semesta yang luas, yang mungkin tak terbayangkan sekarang ini oleh kalian, juga olah kami. Tapi itu bukan masalah, pergilah.

Anak-anakku syang, itu bukan masalah. Pergilah. Tapi jika bapak dan ibumu ini masih ada, jika kalian menemui masalah apa pun, rumah ini selalu menjadi rumah kalian. Pulanglah. Pulanglah ke rumah ini, bukan tempat lain.

Tuesday, January 16, 2018

Dosakah jika Merokok?

Kalau pertanyaannya adalah dosakah jika aku merokok? Hmmm... susah juga menjawabnya. Bisa banyak versi. Lha iyalah, wong Tuhan Sang Penentu pun tak pernah mengatakan hal itu kok. Hehehe... Tapi ketika Komunitas Generasi Tanpa Rokok (GETAR) Lampung mendeklarasikan diri pada hari Minggu lalu, 14 Januari 2018, spontan aku mengapresiasi dengan sungguh-sungguh.

Komunitas ini berasal dari unsur mahasiswa, penulis, musisi dan karyawan. Terbentuknya komunitas ini berawal dari keprihatinan gempuran industri rokok meracuni generasi tanpa ampun yang dikemas iklan kreatif, olahraga, dunia pendidikan.

Ketua GETAR Lampung, Ismen Sembilan yang juga inisiator komunitas ini mengatakan bahwa mereka terbentuk bukan untuk memerangi para perokok.

"Merokok adalah pilihan setiap orang, tetapi yang terpenting dalam pergerakan kami menyelamatkan anak muda dari pengaruh rokok," kata Ismen. Data yang terhimpun bahwa pecandu rokok sebagian besar menyasar pada usia muda bahkan anak-anak dan perempuan yang menjadi target pasar.

Dalam diskusi tersebut, salah satu pembicara Eni Muslihah, seorang jurnalis yang peduli pengendalian tembakau mengatakan isu rokok dianggap sebagian besar media bukan isu menarik untuk diangkat. Menurutnya, jurnalis selaku ujung tombak pembentuk opini masyarakat juga belum semuanya memiliki pemahaman yang seragam tentang pentingnya pengendalian tembakau di Lampung.

"Lampung sudah punya Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok yang disahkan per Juli 2017 lalu, tapi belum terdengar sosialisasi penerapan perda tersebut," katanya.  Menurutnya masih jarang jurnalis mengangkat dampak isu rokok yang lebih mendalam lagi.

"Masyarakat yang beli rokok, masyarakat yang bayar pajak, masyarakat cukai rokok bahkan masyarakat sendiri yang menanggung dampak akibat rokok tersebut," tuturnya.

Nah, ya. Kukira ini pekerjaan rumah yang sangat besar bagi gerakan ini maupun bagi masyarakat. Dalam keluarga besarku saja banyak perokok aktif super-super yang sepertinya tidak mungkin dihentikan. Orang-orang yang kukasihi, para sahabat juga sudah melekat pada rokok sedari dulu. Aku juga pernah mengincip dikit-dikit. Mungkin anak-anakku nanti juga akan mengincip rokok. Tapi baik juga tulisan ini kupublish untuk mengingatkan bahwa menghentikan rokok bukan soal dosa atau tidak (hihihi, memangnya yang mempermasalahkan itu sapa?), atau soal bisa beli atau tidak, atau soal bisa mikir atau tidak. Tapi, jika memang memilih untuk merokok, pertimbangkan dengan matang segala aspek yang mungkin muncu dari merokok. 

Coba igat beberapa hal kecil ini :

1. Asap rokok bisa menyelinap ke paru-paru anakmu yang kau sayangi. 

2. Rokok bisa merampas hak istrimu untuk membeli tambahan lauk bergizi. 

3. Rokok bisa menjadi racun bagi tubuh perokok.

4. Dan lain-lain....

Saturday, January 13, 2018

Puisi Sabtu (10) : PELAUT DAN KABUT karya Rifqi Arifansyah

Pelaut dan Kabut
Sejenuh apa pun laut menghitung, ikan-ikan tak pernah terjaring angka sebisu dermaga ditinggal pergi, perahu berlayar hanya untuk kembali. sejak hujan memilih pulang gerimis tak kunjung datang menjenguk; kemarau, mulai bosan adalah daun-daun bersedia gugur. kau tak pernah salah menghitung hari: burung selalu tepat menerka gelap berarak serupa ribuan gemintang selepas pesta; senja sepenuhnya jingga sesaat aku memindah samudera ke dalam gelas, surut pun juga larut dan malam meminjamkan bulan pada kening-kening karang. 2017


---------

Rifqi Arifansyah adalah penggiat seni yang lahir di Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Menetap di Bluto saat ini aktif di Sanggar Permata, Forum Belajar Sastra (FBS), Taneyan Kesenian Bluto (TKB) dan Rumah Proses dalam naungan Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ). Minatnya dalam kepenulisan dikembangkan dalam komunitas-komunitas tersebut dan membagikannya lewat media sosial.

Thursday, January 11, 2018

Efektif atau Bahagia?

Pengalaman kehujanan beberapa kali tetep saja aku lupa kalau jas hujanku sudah robek di bagian atas dan bawah (hehehe) sehingga berkali-kali mesti basah kuyup. Hari ini tadi aku niati sungguh-sungguh : Mampir Rang-rang untuk beli jas hujan yang bagus yang tidak mudah robek.

Ternyata aku berangkat kepagian. Rang-rang belum buka. Mikir sebentar di depan toko : Naik fly over atau lewat bawah? Hihihi. Pikiran ndak penting banget yak.

Karena belum dapat jas hujan di Rang-rang sedangkan hasrat untuk mendapatkan jas hujan sedang menggebu (huhuhu, lebay tak apa deh), aku mampir perempatan lampu merah Kedaton, belok ke toko pertama yang menggantung jas hujan.

Si ibu pemilik toko dengan ramah menyapa :

"Ya, butuh apa, mbak?"

Terbawa oleh senyum ibu yang manis dan sapaannya yang ramah, aku tersenyum lebar.

"Bu, aku mau jas hujan. Yang besar, yang bagus, yang bisa kupakai termasuk dengan ransel di punggungku. Pokoke ransel ini ndak boleh kehujanan karena isinya macam-macam. Ada laptop, dompet, buku. Semuanya ndak boleh basah."

Hihihi.

Ibu itu masuk toko membongkar raknya. Menunjukkan satu jas hujan warna ungu. Membukanya dan mencobakannya di badanku.

"Ini ukuran terbesar. Tak ada lagi." Dan jas itu tak muat. "Yang lain kosong." Oalah. Kalau gitu ya tidak usah saja. Aku melanjutkan basa-basi, tersenyum, mengucapkan terimakasih, dan pamit. Berhenti sebentar di depan toko sambil mikir : Lurus atau putar balik? Hihihi. Lagi-lagi pikiran yang ndak penting banget. Secara daerah situ tuh kanan kiri penuh berderet toko helm dan jas hujan.

Aku iseng menyeberang. Toko yang mirip dengan yang kudatangi pertama tadi. Helm dan jas hujan berjajar dipajang. Seorang pelayan, laki-laki muda seumur Albert, jauh lebih kurus, hitam, tanpa senyum tanpa kata mendekati.

"Aku butuh jas hujan yang besar yang bisa kupakai dengan ransel tetap di punggungku." Dia tetap diam, mengambil galah berpengait, menurunkan satu jas warna hitam, membuka kancingnya dan menyerahkan padaku. Aku mencobanya tanpa melepas ransel di punggungku, dan pas. Aku membukanya dan menyerahkan kembali pada cowok itu.

"Berapa harganya?"

"Seratus lima puluh ribu."

"Mahal ya. Bisa kurang?"

"Seratus empat puluh ribu."

"Ada ndak yang sebesar itu tapi harganya lebih murah?"

"Tidak ada."

"Kurangi lagi harganya."

"Kalau mau seratus tiga puluh ribu."

"Oke."

"Mau?"

"Ya."

Dia masuk ke toko mengambil jas yang masih baru dalam kemasan rapi. Aku bilang ingin mengeceknya dulu. Kubongkar, kukasih dia lagi sambil mengangguk. Memberikan uang Rp. 150.000,- dan dia membawa duit itu ke bosnya. Dia menyerahkan uang kembalian dan jas hujan. Masih setia tanpa senyum, tanpa ucapan terimakasih. Aku juga ndak mau senyum ndak ngucap terimakasih, membawa uang kembalian dan jas hujan baru, udah deh, ngacir. 

Baru-baru ketika sampai kantor aku terus berpikir dua toko yang kudatangi ini. Toko pertama menyambutku dengan senyuman, obrolan ramah, aku ndak mendapatkan jas hujan yang kuinginkan. Toko kedua bahkan tak ada senyuman atau ucapan basa-basi, aku mendapatkan jas hujan yang sesuai, mereka mendapatkan uang pembelian. Piye menilai peristiwa ini ya? 

Kalau dalam konteks umum, jelas toko kedua lebih efektif. Semua terjadi, lancar dan masing-masing diuntungkan. Tapi mengingat cowok kurus itu kok aku jadi ketularan tidak bahagia ya? Jadi pengin cemberut karena dia tak menyambut dengan senyuman. Tak ingin ngobrol karena dia tak bertanya apa pun. Tak ingin ngucapin terimakasih karena dia tak memberikan ucapan itu. Ealah.  

Wednesday, January 10, 2018

Tiba-tiba Kangen Anji

Tiba-tiba saja kangen Anji. Haiyahh. Ini gara-gara pas balik dari Jawa Timur usai tahun baru semobil dengan Pak Metri yang ngefans berat sama lagu-lagu Anji dan sepanjang jalan lagu-lagu die ini yang dipasang.

Aku kemudian juga jadi ngeh kalau lagu-lagu tertentu yang sering kudengar dari pengamen di samping kantor tuh lagunya Anji. Kukira itu lagu ciptaan mereka sendiri. Hihihi.

Deretan lagu seperti Bidadari Tak Bersayap, Dia, Jerawat Rindu, Merindukanmu, Kekasih Terhebat, Berhenti di Kamu, dan lain-lain. Kok aku segitu katroknya ya. Huh. 

Lihat ini satu syair lagunya :

BIDADARI TAK BERSAYAP


Bidadari tak bersayap datang padakuDikirim Tuhan dalam wujud wajah kamuDikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sungguh tenang ku rasa saat bersamamuSederhana namun indah kau mencintaikuSederhana namun indah kau mencintaiku
Sampai habis umurku, sampai habis usiaMaukah dirimu jadi teman hidupkuKaulah satu di hati, kau yang teristimewaMaukah dirimu hidup denganku
Diam-diam aku memandangi wajahnyaTuhan ku sayang sekali wanita iniTuhan ku sayang sekali wanita ini
Sampai habis nyawaku, sampai habis usiaMaukah dirimu jadi teman hidupkuKaulah satu di hati, kau yang teristimewaMaukah dirimu hidup denganku
Katakan yes, I do, jadi teman hidupkuDududududu dududududu dududu
Sampai habis nyawaku, sampai habis usiaMaukah dirimu jadi teman hidupkuKaulah satu di hati, kau yang teristimewaMaukah dirimu hidup denganku
Katakan yes, I doJadi teman hidupkuKatakan yes, I doHiduplah dengankuJadi teman hidupku


Huaaa.... bikin termehek-mehek deh. Dan, aku pernah mengira lagu ini adalah ciptaan pengamen samping kantor. Kurang ajar banget aku ini.
Anji punya nama lengkap Erdian Aji Prihartanto, lebih populer dengan nama Anji atau Manji atau Enji. Dia lahir di Jakarta, 5 Oktober 1979. Pada tahum 2004 Anji sempat mengikuti ajang pencarian bakat Indonesian Idol, namun sayang tidak lolos mengikuti audisi. Dia lalu menjadi vokalis Drive. 
Pada Mei 2011, Anji resmi meninggalkan Drive yang telah membesarkan namanya. Hal ini disebabkan karena kejadian konflik antara Anji dengan manajemen bandnya. Setelah keluar dari Drive, Anji memulai solonya.
Soal lain-lain aku ndak mau nulis ah. Biar saja dia dengan hidupnya. Yang penting suara asyikkk berat. Utangku lunas ya, Ji. 

Tuesday, January 09, 2018

Ahok dan Vero Bercerai?

Vero dan Ahok. 
Ini adalah cuplikan dari berita di Kompas.com kemarin, 8 Januari 2018. 

Pengacara yang mewakili mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Josefina Agatha Syukur, dari Law Firm Fifi Lety Indra & Partners membenarkan Ahok melayangkan surat gugatan cerai terhadap istrinya, Veronica Tan. Surat gugatan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Jumat (5/1/2018).
Ahok menunjuk Law Firm Fifi Lety Indra & Partners sebagai kuasa hukumnya dalam kasus itu.
"Benar bahwa Pak Ahok telah melayangkan gugatan cerai terhadap Ibu Veronica. Itu benar adanya. Nomor perkaranya 10/Pdt.G/2018 tanggal 5 Januari 2018," kata Josefina kepada Kompas.com, Senin (8/1/2018) pagi ini.

Bukan hanya kompas.com yang menayangkan berita itu, tapi buanyak media online menuliskannya. Mulai dari hanya foto hasil scan surat gugatan, keraguan-keraguan, lalu konfirmasi-konfirmasi, kekecewaan atau ada juga yang bergirang. Bagi yang cinta mati sama Ahok mau pun yang sebaliknya, sama-sama berkomentar, berbagai komentar. 

Pembelaan-pembelaan bermunculan. Mencari-cari celah untuk mengatakan bahwa berita itu hoax semata. Bukti-bukti juga diajukan, kejanggalan-kejanggalan dicermati. Sebagian yang lain sudah bergerak cepat mencoba mencari-cari hal-hal yang berkaitan, misalnya hukum perceraian bagi pasangan penganut Kristen Protestan, alasan-alasan yang memungkinkan perceraian mereka, bahkan juga muncul rumor soal orang ketiga atau perceraian yang terpaksa dilakukan karena ada guna-guna, atau Ahok mau masuk Islam. Hohoho.

Bayangkan, seorang panutan yang disanjung dan diikuti oleh banyak orang tiba-tiba melakukan hal yang tak disangka, tentu saja hal itu membuat shock, sedih, kecewa. Bisa jadi banyak orang nanti akan berbalik melawan, memusuhi dan menghujat. Ahok dan Vero yang dari dulu sudah punya banyak musuh, kini akan semakin dimusuhi dan dibenci. Jumlah orang yang menghujatnya akan semakin banyak. 

Dalam berita-berita dikatakan kalau Ahoklah yang menggugat cerai. Dia yang tahu alasan tindakannya. Termasuk, tentulah dia tahu konsekwensi dari tindakannya itu. Dia akan kemana setelah semua hingar bingar ini? Misalnya benar-benar bercerai, kemana mereka akan berada? Ahok, tetapkah dia di minatnya selama ini dalam percaturan politik Indonesia? Kekalahannya kemarin karena isu agama sudah membuatnya terpuruk, namun citra pribadinya masih cemerlang. Jika perceraian itu benar, masihkah citra itu bisa dipertahankan? Dengan cara apa dia akan mempertahankan? Atau memang 'citra' itu tidak penting bagi Ahok? Atau dia akan benar-benar pergi, hilang dari peran-perannya yang baik selama ini bagi masyarakat lalu menjadi Ahok yang lain di rumah yang lain, mungkin bersama istri barunya? Ahai. 

Lalu bagaimana dengan Vero dan anak-anak mereka? Apakah sekarang ini mereka masih di Jakarta? Di Indonesia? Atau mereka sedang pergi di suatu tempat sehingga tak seorang pun bisa menghubungi untuk konfirmasi? Terancamkah hidup mereka karena Ahok dan pilihan sikap Ahok? Ataukah mereka terancam oleh hal-hal lain yang tak kelihatan? Oalah.

Aku sebagai penonton ndak ikut-ikut dah. Tapi tak urung aku deg-degan menunggu akhir dari babak ini. Mereka para pemain bergerak dan menentukan setiap adegan. Apa yang akan terjadi nanti? Ahok dan Vero bercerai?