Wednesday, October 03, 2018

Yang Ini Pernak-pernik Roma, Mulai dari Pedagang Asongan, Kemacetan Dll.

Ada penjual asongan juga...

Kotor di beberapa sudut kota.

Taman dalam rumah SCJ.

Yehaaiiii...

Alat bantu terjemahan. Untung ada si alat ini.


Masih kebagian bunga-bunga seksi

Agak tak suka dengan toiletnya. Tak ada air untuk cebok.

Seabgian dari kebun sayur di Rumah SCJ yang dikelola Rm. Sugino.

Nih taksi yang mahal tuh. Huh.

Vatikan waktu malam.

Lalulintas Roma. Macet di beberapa tempat.

Italia dalam 4 Hari (7): Balik ke Indonesia Kangen Nasi Padang

Ergife Palace Hotel, Rome
Pagi-pagi tanggal 21 September 2018 jam 03.40 aku sudah bangun. Membereskan lagi dua koper yang akan kubawa (koper beranak koper. Hehehe). Mandi dengan ogah. Sebelum keluar kamar hotel sekitar pukul 04.30 aku memastikan lagi isi ransel yang akan aku tenteng: dokumen, botol minum, alat mandi, kamera, dan HP.

Di lobby hotel ada beberapa orang yang duduk. Pegawai yang seorang ganteng itu menyapaku nyaris tanpa senyum. Mungkin dia belum tidur semalaman. Dia menunjukkan ada bis ke bandara jam 5 kalau aku mau. Nah, itu yang apik. Ndak perlu naksi lagi. Hehehe... Beruntung lagi hotel menyediakan sarapan dalam kantong-kantong untuk dibawa: roti, crackers, jus jeruk, air mineral, wafer dan olesan butter plus selai. Sip.

Yang bikin senewen adalah ternyata si bis itu tak datang juga hingga pukul 05.00. Lalu tak datang juga hingga 06.00. Aku sudah sekali menanyakan itu ke staf yang capai itu dia hanya menjawab kalau dia sudah mencoba menelpon sopir bis tapi tak ada jawaban: "Silakan menunggu saja, Madam." Huhuhu... pesawatku jam 08.20, sayangkuuu.
Menu makan hotel. Tuh, bikin kangen nasi padang kan...

Penampakan pasta. Suka sih, tapi ya gitu deh...

Baru saja aku hendak mengambil keputusan untuk minta taksi pada pukul 06.05 saat bis itu datang terseok-seok masuk ke halaman hotel. Kami berebut masuk. Dan tersisa hanya beberapa kursi di bagian belakang. Rupanya bis itu masih akan menjemput orang-orang lain lagi ke hotel lain. Ya elah. Penuh sesak si bis itu ketika benar-benar melaju ke Fiumicino. Sebagian berdiri, sebagian duduk di bawah. Keluhan dari penumpang tak ada efeknya. Ya iyalah. Mau apa lagi. Bagiku juga yang penting segera sampe bandara.

Seenak-enaknya makanan di pesawat tetep saja tak enak.
Sangat mepet sampai di bandara segera cari konter Qatar. Ih, sepi rupanya. Begitu juga saat di imigrasi dan ruang tunggu. Sepi. Dan ternyata sepi juga dalam pesawat besar Boeing 777-300 itu. Aku sudah minta kursi dekat jendela dan ternyata deretanku tak ada penumpang lain. Jadi aku bisa tidur nyaman sepanjang 5 jam Roma-Doha. Tidur berbaring! Hehehe... Nikmat.

Doha - Soetta pun cukup longgar. Walau tidak bisa berbaring tapi bisa tidur pulas dan makan enak serta beberapa kali ke lavatory. Hidup yang enak itu ya itulah ukurannya: tidur, makan, tersalurkan kebutuhan biologis ke toilet. Hehehe...

Waktu yang cukup longgar di Soetta kunikmati dengan pergi ke Restoran Sate Senayan untuk seporsi sate ayam yang mahal itu dengan sepiring nasi dan segelas besar teh tawar anget. Begitu nikmat sampe ndak ngeh kalau di sampingku ada anak orang yang ngetop di tanah air. Sapa hayooo.... hehehe.... Nasi sate ayam ini perlu banget bagi perutku untuk menetralkan Italian Style selama 4 hari lalu yang penuh dengan pasta, roti, keju, dll yang... ya enak sih enak tapi tentu saja nasi lebih enak bagi perutku. Hehehe...

Masih nunggu beberapa saat sebelum Garuda membawaku kembali ke Lampung siang itu. Mas Hen sudah menanti di Bandara Raden Inten 2 siap mentraktirku nasi padang sepuasnya di Puti Minang. Kangennnnn banget sama nasi padang hoiiii....

Italia dalam 4 Hari (6): Salah satu Puncaknya adalah Bertemu Paus Fransiskus

Hari keempat di Italia, Kamis 20 September 2018, harus kucatat secara khusus. Konferensi hari ketiga kami semua peserta diundang ke Vatikan untuk audiensi dengan Paus Fransiskus. Aku selalu berdebar-debar dengan rencana audiensi, tapi aku tak seantusias tahun lalu begitu ingin menyentuh Paus Fransiskus. Sudahlah, pasrah saja. Tahun lalu pun bisa melihat dari kejauhan juga sudah menjadi berkat besar bagiku. Kali ini pun aku berjalan dengan berdebar-debar masuk Hall Sint Clement di bagian dalam tanpa harapan yang muluk. Melewati pemeriksaan pun biasa saja. Menanti dengan manis di kursi agak belakang. Orang besar ini selalu favoritku walau aku tak bisa menyentuhnya.

But, yang terjadi, Paus datang, memberikan sambutannya ke Kardinal Turkson tanpa dia baca, lalu kami maju. Satu per satu diberi kesempatan untuk salaman dengannya! Huaahhh... tiada kata yang mampu kukatakan dah. Aku menanti giliranku maju dengan tidak sabar.

Begitu di depannya, aku segera meraih tangannya yang langsung menggenggam erat. Matanya yang teduh memandangku. Hmmm... membuatku sangat malu. Dia sangat ramah mendengarku:

"Aku Yuli dari Indonesia. Kau tahu negaraku itu memiliki banyak masalah. Please, berdoalah untuk Indonesia." Dia mempererat genggamannya. Tak berkata apa-apa. Mungkin tak mendengar aku ngomong apa. Tapi aku tak peduli. Aku mengatupkan tanganku mengakhiri salaman itu dengan mengucapkan terimakasih terimakasih terimakasih banyak.

Girang banget usai salaman dengan Paus Fransiskus.
Usai itu aku menuju Kardinal Turkson untuk bilang sekali lagi terimakasih sudah memberiku kesempatan moment indah ini. Kardinal mah pengertian banget: "Sama-sama terimakasih. Terimakasih sudah datang memenuhi undangan. Foto kau bisa cetak nanti usai acara kalau mau mendapatkannya." Dia pasti lihat wajahku yang gembira banget sehingga menduga ini pasti urusannya dengan foto bersama Paus. Hehehe....

Sayang aku tak bisa mencetak foto spesial itu karena saat sore kembali ke Vatikan, studio foto sudah tutup. Petugas di sekitar situ bilang kalau sepanjang September studio foto tutup sebelum jam 16.00.

Ya, tak masalah. Suatu ketika pasti ada kesempatan untuk kembali ke Vatikan mencetak foto-foto itu.

Malam itu, begitu kembali ke hotel, lupa kalau Indonesia sudah masuk jam tengah malam atau dini hari aku menyiarkan anugerah yang kudapatkan itu pada ibu dan Mas Hendro. Mereka kok ya masih melek (atau terpaksa melek karena bunyi HP) menanggapi kabarku itu dengan riang gembira ikut antusias yang mengalir dariku.

Italia dalam 4 Hari (5): Hari Kedua Konferensi Membuat Rekomendasi


Hari ketiga di Italia atau hari kedua konferensi, selain beberapa narasumber inspiratif, peserta juga mencermati pesan hsil diskusi kelompok dan pleno yang akan menjadi rekomendasi dari kegiatan ini. Aku pasang saja lengkap ya. Ini terjemahan yang mungkin tak terlalu tepan (ihiks) tapi moga mendekati dokumen aslinya yang diedarkan dalam bahasa Inggris, Italia, Perancis dan Spanyol.



PESAN DARI KONFERENSI
“XENOPHOBIA, RASISME, DAN NASIONALME KERAKYATAN DALAM KONTEKS MIGRASI GLOBAL ”
Kerjasama Dicastery for Promoting Integral Human Development ( Vatikan)
Dengan Badan Gereja-Gereja Dunia (Jenewa)
Dalam Kolaborasi Dengan Pontifical for Promoting Christian Unity (Vatikan)
ROMA, 18 - 20 SEPTEMBER 2018

Kami mengakui iman kami kepada Tuhan Yesus Kristus, dan kami percaya bahwa kemanusiaan diciptakan dan dicintai oleh Tuhan dan bahwa manusia adalah setara dalam martabat dan berhak atas hak asasi manusia yang sama.

1. Dalam konteks global yang ditandai dengan migrasi di dalam dan di antara negara-negara, kami peserta dalam Konferensi "Xenophobia, Rasisme, dan Nasionalisme Kerakyatan dalam Konteks Migrasi Global" berkumpul di Roma dari 18-20 September 2018. Sadar akan peningkatan xenofobia dan reaksi rasis terhadap pengungsi dan migran, kami berusaha untuk mendeskripsikan, menganalisis, memahami, dan mengatasi pengecualian, marjinalisasi, stigmatisasi dan kriminalisasi migran dan pengungsi, dan pembenaran untuk sikap dan wacana yang sekarang ada di beberapa bagian dunia yang berbeda, bahkan di dalam gereja-gereja.

2. Sebagai orang Kristen dari denominasi dan wilayah yang berbeda - bersama dengan perwakilan antar-agama, masyarakat sipil dan mitra antar-pemerintah - dasar umum untuk refleksi kami adalah keyakinan bahwa semua manusia setara dalam martabat dan hak dan sama-sama dihormati dan dilindungi, dan sebagai konsekuensinya kita dipanggil oleh Tuhan untuk melawan kejahatan, bertindak adil, dan mengejar perdamaian untuk mengubah dunia. Sementara kita mencari dan mempromosikan dialog untuk penyelesaian perbedaan pada setiap masalah yang diangkat dalam pesan ini, keyakinan dasar ini bersifat tetap dan permanen.

3. (A) Migrasi - pergerakan orang - adalah kisah yang melekat pada kondisi manusia. Itu termasuk seluruh sejarah kemanusiaan — masa lalu, sekarang dan masa depan — dan seluruh narasi alkitabiah. Kita semua adalah migran dan pendatang, dan kita semua merupakan anggota satu keluarga manusia.
(b) Penggerak pemindahan paksa dan migrasi baru-baru ini telah memasukkan konflik brutal yang belum terselesaikan dan konsekuensi terpuruk dalam krisis ekonomi global dan kebijakan penghematan, serta akar penyebab lainnya seperti kemiskinan ekstrim, ketidakamanan pangan, kurangnya kesempatan, dan ketidakamanan. Dampak yang semakin besar dari perubahan iklim kemungkinan akan menambah signifikan penggerak perpindahan.
(c) Sementara mengakui hak pengungsi untuk kembali ke negara asalnya dan hidup di sana dengan martabat dan keamanan, kami menegaskan dan menegakkan lembaga suaka bagi mereka yang melarikan diri dari konflik bersenjata, penganiayaan atau bencana alam. Kami juga meminta penghormatan atas hak semua orang yang sedang bepergian, terlepas dari status mereka.
(d) Meskipun migrasi secara umum memberikan kontribusi positif untuk kedua negara tujuan dan negara asal, kami mengakui bahwa tantangan signifikan masih terkait dengan migrasi, terutama di bidang perlindungan hak-hak migran tidak berdokumen.

4. Menggunakan wawasan multidisiplin, pengalaman hidup, dan kesaksian dari tradisi agama yang berbeda untuk lebih memahami penyebab dan efek dari pidato kebencian terhadap migran dan pengungsi, dan ketegangan antar negara dan antara komunitas sosial, budaya, atau agama dalam konteks migrasi global, kami telah berusaha untuk memahami apa yang dipertaruhkan dalam perjumpaan dengan manusia lain yang rentan oleh pengalaman perang atau kemiskinan, dan mencari suaka, perlindungan dan martabat.

5. (a) Perjalanan seseorang menjadi rentan oleh kekerasan atau kekuatiran ekonomi adalah memang merupakan inti dari refleksi kita. Xenophobia, yang terutama berarti "takut akan orang asing," diekspresikan oleh sikap yang ekslusif dan membatasi yang lain dalam kesulitan mereka dan dengan bentuk dan struktur dari perbedaan dan penolakan, bahkan meluas ke penolakan bantuan dalam keadaan darurat dan untuk bertahan hidup. Oleh karena itu perlu mengatasi ketakutan yang lain dan untuk menantang ekslusif dan marginalisasi para migran dan pengungsi. Ketakutan ini dapat mengungkapkan hubungan pribadi atau kolektif yang kompleks dengan masa lalu, masa kini atau masa depan, dan mengekspresikan kecemasan kehilangan identitas, keamanan, harta benda, dan kekuatan seseorang dalam menghadapi tantangan kehidupan dan masa depan.
(B) Perlu juga untuk mengakui rasa takut yang dialami oleh seseorang yang terpaksa melarikan diri dari rumah dan negara mereka karena kerentanan yang disebabkan oleh konflik bersenjata, kebijakan nasional dan regional yang merusak, penganiayaan, bencana alam atau kemiskinan.

6. (A) Ras adalah konstruksi asosial dimana menjadi klaim untuk menjelaskan dan membenarkan pemisahan antara kelompok manusia dengan memajukan kriteria fisik, sosial, budaya dan agama. Rasisme adalah dampak sistemik dan sistematis dari tindakan yang dilakukan terhadap kelompok orang berdasarkan warna kulit mereka. Ini memisahkan orang dari satu sama lain atas nama gagasan yang salah tentang kemurnian dan keunggulan komunitas tertentu. Ini adalah sebuah pendirian ideologis yang diekspresikan melalui marginalisasi, diskriminasi dan pengecualian terhadap orang-orang tertentu, minoritas, kelompok etnis atau komunitas.
(b) Definisi diskriminasi rasial dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (pasal 1.1) menyoroti “perbedaan, pengecualian, pembatasan atau preferensi berdasarkan ras, warna kulit, keturunan, atau asal kebangsaan atau etnis yang memiliki tujuan atau efek membatalkan atau merusak pengakuan, kesenangan atau latihan, pada pijakan yang setara hak asasi manusia dan kebebasan mendasar ”.
(c) Rasisme menciptakan dan memelihara kerentanan anggota-anggota kelompok tertentu, menyangkal hak-hak mereka dan keberadaan mereka, dan berusaha membenarkan penindasan mereka. Dalam pengertian ini rasisme adalah dosa, baik dalam ekspresi pribadi maupun sistemiknya, secara radikal tidak sesuai dengan iman Kristen. Ia sering hadir di negara-negara tempat para migran datang dan ke mana mereka pergi. Orang-orang beriman harus mengutuk rasisme karena menyangkal martabat manusia dan saling memiliki satu keluarga manusia, dan merusak citra Allah di setiap manusia.

7. (a) Nasionalisme kerakyatan adalah strategi politik yang berusaha mengandalkan dan mempromosikan ketakutan individu dan kelompok untuk menegaskan perlunya kekuatan politik otoriter untuk melindungi kepentingan kelompok sosial atau etnis dominan yang didirikan di wilayah tertentu. Atas nama "perlindungan" inilah para pemimpin populis membenarkan penolakan untuk memberikan perlindungan, untuk menerima dan mengintegrasikan individu atau kelompok dari negara lain atau konteks budaya atau agama yang berbeda.
(B) Namun, menolak untuk menerima dan membantu mereka yang membutuhkan bertentangan dengan teladan dan panggilan Yesus Kristus. Mengklaim untuk melindungi nilai-nilai atau komunitas Kristen dengan menutup mereka yang mencari perlindungan yang aman dari kekerasan dan penderitaan tidak dapat diterima, merusak kesaksian Kristen di dunia, dan memunculkan batas-batas nasional sebagai berhala.
(C) Kami menyerukan kepada semua orang Kristen dan semua orang yang mendukung hak asasi manusia yang fundamental untuk menolak prakarsa populis seperti itu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Injil. Hal ini harus menjadi pertimbangan kehidupan politik dan wacana publik, dan menginformasikan pilihan mendasar terutama pada saat pemilihan.
(D) Kami juga menyerukan semua platform media untuk menahan diri dari penyebaran ide dan inisiatif yang memecah belah dan tidak manusiawi, dan berkomitmen untuk melibatkan media untuk promosi positif messages.

8. (a) Dalam refleksi dan dialog ini, kami mengamati pentingnya narasi dan ingatan, pada tingkat pribadi, komunitas dan institusional. Falsafah tulisan suci yang menyatukan kita dalam konferensi ini memberi tahu kita bahwa pengalaman migrasi adalah tema konstan dalam tradisi Abraham. Narasi alkitabiah adalah salah satu orang yang sedang bergerak. Dan mereka menemukan, dalam perjalanan mereka, bahwa Allah menemani mereka. Tugas keramah-tamahan, umum bagi semua putra dan putri Abraham, timbul dalam penerimaan "orang asing" oleh Sarah dan Abraham (Kejadian 18, 1 - 16), dalam pengajaran para nabi, dan oleh Yesus sendiri yang mengidentifikasi dengan orang asing (Matius 25: 35-40) dan memanggil semua orang percaya untuk menyambut orang asing itu sebagai tindakan cinta yang diilhami oleh iman.
(b) Kami mengakui bahwa kekhawatiran banyak individu dan komunitas yang merasa terancam oleh para migran - baik untuk keamanan, alasan identitas ekonomi atau budaya - harus diakui dan diperiksa. Kami berharap dalam dialog yang tulus dengan semua orang yang memiliki kekhawatiran seperti itu. Tetapi berdasarkan prinsip-prinsip iman Kristen kita dan teladan Yesus Kristus, kita berusaha untuk mengangkat narasi cinta dan harapan, melawan narasi populis kebencian dan ketakutan.

9. Gereja-gereja dan semua orang Kristen memiliki misi untuk menyatakan bahwa setiap manusia layak dihormati dan dilindungi. Gereja-gereja juga disebut tolive, setiap hari, menyambut orang asing tetapi juga perlindungan dan dorongan bersama untuk semua - masing-masing dalam keragaman asal-usul dan sejarah mereka - untuk berpartisipasi sesuai dengan bakat mereka sendiri dalam pembangunan sebuah masyarakat yang mencari kesejahteraan damai dalam kesetaraan dan menolak semua diskriminasi. Gereja-gereja secara konstan dipanggil untuk menjadi tempat di mana kita mengalami dan belajar menghargai keberagaman dan di mana kita bersukacita dalam perjumpaan dan pengayaan timbal balik. Ini khususnya penting dalam konteks asuhan pastoral, pemberitaan dan inisiatif solidaritas, di dalam gereja-gereja, dan dengan perhatian khusus terhadap inisiatif untuk dan dengan anak muda.

10. Kami dipanggil untuk menemani dan memegang akuntabilitas yang memiliki kekuatan dan berpartisipasi langsung dalam keputusan yang mempengaruhi masa depan komunitas manusia, di tingkat nasional dan internasional. Nasihat yang dapat diberikan semua orang percaya dapat diilhami oleh "aturan emas", yang umum bagi berbagai tradisi, yang menurutnya harus "dilakukan kepada orang lain apa yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda" (Matius 7:12). "Peraturan emas" ini tercermin dalam hak asasi manusia yang fundamental, yang merupakan kondisi yang harus dicapai bagi orang lain sama baiknya Seperti untuk diri kita sendiri, dan menyerukan konstruksi kohesi sosial. Hanya pendekatan inklusif yang mempertimbangkan semua dimensi manusia dan panggilan untuk partisipasi masing-masing dan setiap orang dalam masyarakat dapat secara efektif memerangi diskriminasi dan pengecualian.

11. Kami mendorong upaya lebih lanjut oleh PBB dan negara-negara anggotanya untuk “menghapus semua bentuk diskriminasi, mengutuk dan melawan ekspresi, tindakan dan manifestasi rasisme, diskriminasi rasial, kekerasan, xenofobia dan intoleransi terkait terhadap semua migran” dalam konteks Global Ringkas untuk Migrasi yang Aman, Teratur dan Reguler (Tujuan 17), dan untuk “memerangi semua bentuk diskriminasi dan mempromosikan koeksistensi damai antara pengungsi dan masyarakat tuan rumah” dalam konteks Global Compact on Refugees (para 84), yang secara eksplisit mengakui “ kekuatan dan dampak positif dari masyarakat sipil, organisasi berbasis agama, dan media ”(ibid) - keduanya akan diadopsi secara resmi pada akhir tahun. Kedua Global Compact ini, yang telah disusun dengan partisipasi aktif gereja, masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, dan pemerintah, menyediakan kerangka kerja kebijakan global berbasis HAM yang berguna, yang harus digunakan oleh semua pemangku kepentingan dalam memerangi xenophobia dan rasisme terhadap migran dan pengungsi.

12. Gereja adalah aktor penting dalam masyarakat sipil dan kehidupan politik, dan kami mendesak mereka untuk berpartisipasi, bekerja sama dengan mitra antar agama dan mitra lainnya, dalam urusan politik, ekonomi dan sosial, dalam merawat planet "rumah kita bersama", dan dalam merawat mereka yang menderita, dengan membangun jaringan perlindungan sosial, melalui advokasi dan dengan mengajukan prinsip-prinsip hukum dan etika (seperti 20 poin tindakan Takhta Suci untuk Global Compact). Kerja sama yang baik antara komunitas agama, aktor masyarakat sipil, akademisi, aktor ekonomi dan politik sangat penting dalam perjuangan melawan xenophobia dan rasisme.

13. (a) Kami peserta dalam Konferensi "Xenophobia, Rasisme, dan Nasionalisme Populisme dalam Konteks Migrasi Global" menarik bagi semua orang percaya yang menegaskan, dalam tradisi mereka sendiri, martabat pribadi manusia dan solidaritas di antara orang-orang, sehingga semua contoh pelanggaran hak asasi manusia, xenofobia dan rasisme, ditentang dengan keras oleh pendidikan (termasuk pendidikan hak asasi manusia), proses demokrasi, dialog antar agama, hukum dan cinta.
(b) Kami berkomitmen untuk bekerja bersama untuk transformasi struktur dan sistem yang tidak adil yang melanggengkan dirinya di atas dasar stabilitas dan keamanan, dan yang menciptakan budaya dan kondisi yang mendiskriminasikan orang lain dan menolak martabat yang sama dan hak semua orang.
(c) Kami mengajak gereja-gereja untuk melatih kepemimpinan dalam meningkatkan kesadaran kritis di antara orang-orang Kristen tentang keterlibatan beberapa teologi dalam xenophobia dan rasisme, untuk pelepasan radikal dari teologi-teologi semacam itu, dan bagi gereja untuk sepenuhnya menganggap perannya sebagai penjaga hati dalam konteks ini.
(d) Kami menyatakan solidaritas kami pada gereja-gereja yang menderita di bawah penganiayaan atau pendudukan.
(e) Gereja-gereja menjadi tempat kenangan, harapan, dan cinta. Dalam nama Yesus, yang membagikan pengalaman migran dan pengungsi dan menawarkan Firman pengharapan bagi yang dikecualikan dan penderitaan, kami bahkan berkomitmen lebih kuat untuk mempromosikan budaya perjumpaan dan dialog, mengenali Tuhan di wajah para migran. Karena yang lebih kuat dari jalan kematian adalah jalan hidup dan cinta.

Roma, 19 September 2018



Italia dalam 4 Hari (4): Hari Kedua Langsung Pada Intinya

Konferensi ini diikuti oleh sekitar 200 orang dari berbagai negara. Tema: Xenophobia, Rasisme, dan Nasionalisme Kerakyatan dalam Konteks Migrasi Global. Aku baru ngeh beberapa hal misalnya bahwa peserta tidak hanya dari kalangan Katolik tapi juga dari Protestan, utusan dari Muslim, Hindu dan Budha. Juga baru ngeh kalau aku diundang oleh Dicastery for Promoting Integral Human Development Vatikan tapi bukan hanya discastery ini yang bikin acara. Duh, aku kok ndak teliti baca undangannya ya.

Apapun, justru itu membuat acara ini semakin asyik. Bertemu dengan beberapa orang yang dikenal membuat aku cukup nyaman. Yang terlihat pertama adalah Rm. Bonnie dari Pakistan, bertemu di lobby hotel bersama dengan rekan senegaranya. Lalu bertemu Rm. Niphot dari Thailand. Wahhh, aku sudah teriak dari jauh demi melihat wajah teduh romo senior dari Chiang Mai ini. Lalu ada Rm. Charles dari India, so familier. Juga ada Sr. Philo dari Jepang, Mgr. Bernard tentu saja, dan lain-lain.

Sebagian besar tentu saja kenalan baru. Salah seorang yang langsung mengena di hatiku adalah Sigrid dari Norwegia yang duduk di sebelahku di hari pertama konferensi. Tertawanya langsung menawan hatiku. Perempuan periang ini membuatku sangat sangat nyaman duduk di ruang konferensi itu. Asal dengar dia tertawa saja, hatiku ikut melonjak-lonjak berkobar-kobar. Hehehe...

Hari pertama isinya adalah paparan narasumber, buanyak narsum yang diundang, berbagai perspektif diketengahkan. Waktu untuk tanya jawab sangat singkat. Mulai agak mbulet kalau sudah ketemu narsum dengan bahasa selain Inggris. Dibantu penterjemah lewat headset tapi tahu sendiri kannnn, aku nih katrok dalam hal bahasa. Sekali fokus buyar, buyar semua dah.

Kardinal Turkson, Pendeta Olav dan Mgr. Brian menjadi yang pertama-tama membuka acara. Secara mereka itulah yang punya gawe. Lalu bergantian narsum dari pandangan politik, teologi, sosio budaya, juga dari perspektif agama-agama dan sebagainya.

Hari itu ada juga kerja kelompok per grup. Masuk di grup Asia aku baru ngeh (lagi) kalau peserta dari Asia sangat sedikit. Hanya sekitar 12 orang, itu pun sebagian dari antaranya memang tinggal di Roma. Dari Asia Tenggara hanya ada Indonesia, Thailand dan Philifina. Selebihnya ada Jepang, Pakistan, India, ...sudah.

Rm. Bonnie termasuk kunci untuk nama-nama orang dari Asia ini bilang kalau dia juga merekomendasikan seseorang dari Korea Selatan tapi entah mengapa tidak hadir. Hmmm... okelah.

Italia dalam 4 Hari (3): Hari Pertama Anti Jetlag

Aku menulis tentang ini di facebook:

Saat hadir di suatu tempat untuk acara yang singkat, seringkali aku tak punya waktu untuk istirahat lama memulihkan capai tubuh. Tak ada waktu untuk jetlag. Ini tips yang kupakai supaya tidak jetlag saat berpergian ke tempat yang berbeda waktu dengan asal kita.
1. Begitu naik pesawat, segera ubah jam sesuai waktu kota/negara tujuan.
2. Ikuti waktu setempat seperti orang lokal beraktifitas.
Seperti kualami kemarin, aku sampai di Ergife Palace Hotel Roma pukul 16.00 pm. Waktu di Indonesia pada jam itu sudah 21.00 pm, menjelang tidur. Dan rasanya aku juga ngantuk banget. Untungnya ada beberapa teman baik hati yang mau menemani jalan-jalan sekitar rumah SCJ, melihat Kota Roma dari ketinggian, lalu jalan ke Vatikan menikmati pemandangan malam, dan diakhiri makan di restoran China.
Selesai makan sekitar pukul 22.00 itu berarti dini hari menjelang subuh waktu Indonesia Barat jalan sendiri lebih dari 1 km tanpa ngobrol membuatku super ngantuk. Duh. Kaki melangkah tapi mata nyaris merem.
Sesampai hotel aku mandi dan tidur pulas. Pagi tadi, segar banget masuk ke konferensi. Udah ikut jam setempat. Tidak ingat jam Indonesia lagi. Aman. Adaptasi cepat.

Trik itu penting sekali bagiku, terlebih dalam perjalanan 4 hari yang singkat ini. Hampir dua jam aku tertahan di Bandara Fiumicino karena imigrasi mereka yang 'kekurangan tenaga' sedangkan pada waktu bersamaan ada banyak pesawat yang mendarat. Begitu padat, panas dan lama pelayanannya. Antrian yang mengular tak lagi mengular tapi berdesak-desakan. Oalah...

Tarif taksi yang super mahal.
Saat nunggu bagasi aku bertemu dengan kelompok-kelompok orang Indonesia untuk ziarah atau untuk kompetisi apa gitu, pokoknya mereka dalam kelompok. Aku yang sendirian agak-agak memelas, tapi aku kan sudah niat menikmati perjalanan ini. 
Jadi gaya yakin saja saat keluar bandara, mengiyakan tawaran taksi yang bodohnya aku tak tanya dulu soal jenis taksi dan tarifnya. Langsung naik saja. Aku sesali kecerobohan ini begitu sampai hotel dan sudah menyiapkan selembar 50 euro, si sopir minta 120 euro. Yang benar saja! Aku teriak protes. Si sopir lalu keluarkan list harga mereka, dan kemudian menurunkan tarif: 80 euro. Aku masih protes dan wajah ganteng sopir pun jadi seperti kriminal di mataku. Oke, oke, kubayar juga 80 euro. Huh. Itu sama dengan 1 juta rupiah lebih, untuk sekitar 30 menit perjalanan Fiumicino - Hotel Ergife. Ilang dah kesan ramah yang tadi dia tampilkan sepanjang jalan. Sebel.

Nah, di hotel semua ok. Ini hotel bintang 4 yang mewah. Aku hanya sebentar membereskan barang-barang di kamar lalu keluar. Jangan sampai jetlag. SCJ satu-satunya tujuan. Di sana sebentar, lalu ke Vatikan menikmati keindahan malam dan kembali ke hotel sekitar 22.30. Harus mandi karena badan sudah lengket. Musim panas belum berlalu, dan angin musim gugur sudah mulai berhembus. Aku tidur tanpa mimpi di hari pertama. 

Tuesday, October 02, 2018

Italia dalam 4 Hari (2): Perjalanan yang Nikmat

Iyalah, gimana ndak nikmat. Hanya tinggal memakai tubuh yang bernafas, berjalan, menyediakan seluruh pancaindera dan bergembira. Hanya itulah yang kukerjakan selama 16 - 22 September 2018 itu.

Acara akan dimulai pada 18 September pagi hari, jadi tanggal 16 September malam, Garuda membawaku ke Jakarta. Aku punya waktu sekitar 4 jam di Jakarta, untuk pindah terminal dari terminal 3 ke terminal 2, makan malam, check in, urusan imigrasi dan sebagainya.

Pertamakalinya aku menggunakan skytrain Bandara Soekarno-Hatta dari terminal 3 ke terminal 2. Sangat cepat, jauh lebih cepat daripada menggunakan shutle bus dan sama-sama gratis. Cukup nyaman dan serba mudah. Tinggal cari elevator atau lift, naik, hanya beberapa menit sampai di terminal 2. Nah pas turun di terminal ini memang agak repot jalan agak jauh karena masih ada perbaikan fasilitas.

Waktu check ini ternyata sudah mulai dengan antrian mengular di konter Qatar menuju Doha. Aku langsung masuk antrian tanpa sempat ke kamar kecil. Lalu dengan sabar menunggu giliran. Penumpang cukup banyak sehingga aku membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 45 menit untuk antri check ini. Begitu selesai check in aman dah. Tinggal 1 ransel tenteng yang menemaniku.

Langsung ke imigrasi, hanya antre sekitar 7 orang di depanku, dan segera aku melesat ke toilet, pipis dan merapikan diri. Sekitar jam 22.00 malam, masih ada waktu sangat cukup sebelum keberangkatan Qatar Airways ke Doha. Bontotku kukeluarkan di ruang tunggu: nasi, kering tempe dan ceplok telur. Nikmattt...

Pukul 23.15 aku mulai masuk gate, menjelang boarding. Menunggu beberapa saat di ruang tunggu dalam aku melihat beberapa model penumpang yang akan bersamaku dalam pesawat yang sama. Sepertiga dari orang yang menunggu di ruang itu orang Indonesia, pelancong dan pekerja. Urusan turis dan urusan kerja. Di luar itu ada grup tak jelas, dan sepertinya aku termasuk dalam grup ini. Ndak jelas mau melancong atau mau kerja. Kalau mau melancong kok tak punya daftar itenery wisata, kalau kerja kok tak ada target akan dapat duit. Huhuhu...

Qatar Airways selalu nyaman. Seingatku tahun lalu aku akan mendapatkan beberapa sovenir yang mungkin kubutuhkan selama di pesawat: kaos kaki, penutup kuping, penutup mata, sikat gigi dan odol. Semuanya masuk dalam satu dompet cantik. Selain itu masih ada selimut, headset juga makanan-minuman yang akan diedarkan beberapa kali. Pukul 00.20 pesawat tinggal landas, aku sudah setengah merem hingga saat makan diedarkan sekitar 1,5 jam kemudian.

Doha airport yang megah dan bersih menyergapku setelah 8 jam perjalanan dari Jakarta. Setelah beberapa kali memakai toilet sempit dalam pesawat, toilet Doha adalah kemewahan. Aku bisa puas membilas pantat dengan air hangat. Hehehe...

Terbang selanjutnya dari Doha ke Roma membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Tak ada sovenir seperti yang sebelumnya. Tapi makan lebih bisa kuterima sebagai sarapan yang pas. Dan saat mendarat di Fiumicino, Roma, pukul 13.25, aku dalam kondisi sangat segar, sehat.

Italia dalam 4 Hari (1): Persiapan yang Singkat

Sungguh tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan lagi pergi ke Roma dalam waktu yang tak terlalu lama. Tahun lalu bulan April, saat musim semi aku ke Roma dan beberapa kota lain di Eropa. Tahun ini kesempatan kudapatkan pada pergantian musim panas dan gugur, 18 - 20 September 2018. Menerima surat undangan dari Kardinal Turkson aku rasanya tak percaya, tapi pengalaman tahun lalu yang juga menerima undangan mendadak, kali aku lebih tenang. Aku mempercayai perjalananku akan menarik, dan setelah mengabarkan pada Mas Hendro pada kesempatan pertama, aku membalas undangan itu dengan menyetujui untuk datang. Acaranya adalah konferensi dunia dengan tema,"Xenophobia, Racism and Populis Nationalism in The Context of Global Migration" diadakan di Ergife Palace Hotel, Roma.

Undangan itu dikirim by email pada akhir Juli dan kemudian undangan resmi kuterima pada awal Agustus, baru hasil scaner. Surat asli dikirimkan ke Kedutaan Vatikan di Jakarta yang kemudian dikirimkan ke aku dan ke Kedutaan Italia tempat aku mengurus visa schengen. Semua berjalan dengan baik, lancar dan cepat. Aku benar-benar hanya mengalir. Menyetujui dengan senang hati, mengikuti tahapan persiapan yang seharusnya seperti meminta tiket ke agen Vatikan untuk mendapatkan tiket perjalanan yang kumaui : Lampung-Jakarta-Roma pulang pergi.

Panitia penyelenggara, sekretariat Dicastery for Promoting Integral Human Development membantuku dengan sangat baik. Tiket yang sesuai dengan Garuda dan Qatar, seperti tahun lalu, dengan jam yang tepat yang seperti kuinginkan. Juga membantuku dengan beberapa petunjuk tentang acara dan hal-hal yang kuperlukan.

Tiket, visa, beres setibaku di Lampung usai perjalanan ke Surabaya untuk pernas FPBN dan Sumenep untuk KKJ, pada 17 Agustus 2018, artinya aku siap untuk berangkat. Tapiii.... tak ada euro atau dollar atau bahkan rupiah di tabungan maupun dompetku. Huft. Aku memikirkannya dengan serius tapi tidak mendapatkannya hingga titik akhir mau berangkat, sehingga bantuan dari beberapa teman pun kuminta dengan sedikit malu. Huft. Aku tak bisa menyebutkan semua nama, tapi secara langsung maupun tidak langsung aku mendapatkan sangu dan dukungan dari teman-teman baikku. Terimakasih banyak teman. Kaulah supporterku. Terimakasih banyak.

Hmmm... sebenarnya kalau dipikir aku tidak benar-benar butuh euro untuk pergi. Aku toh sudah ditanggung oleh panitia, aku tak perlu kuatir. Uang 300 euro dan 40 USD, ditambah dengan 300an ribu rupiah, kuanggap hanya sebagai pegangan saja. Itulah uang yang kubawa saat aku duduk manis di Bandara Raden Intan, 16 Agustus 2018, satu koper dan satu ransel yang penuh dengan krupuk, roti, buku dan baju, dalam bagasi, serta satu ransel kecil kutenteng berisi dokumen, buku, botol kosong, HP dan kamera.

Siap berangkat dan siap menghadapi apa pun. Eropa, aku datang lagi!

Wednesday, September 12, 2018

Ke Batam Lagi : Stop Human Trafficking

Ini agenda yang sudah digagas dari tahun lalu. Baru bisa tercapai tahun ini, itu pun setelah perbincangan yang alot, juga debat tempat: Lampung atau Batam, kapan, siapa, dan seterusnya. Akhirnya tercapai deal: 10 - 12 September 2018, Batam.

Aku membantu prosesnya dengan sepenuh hati, dan aku menikmati perjalanan ke sekian kalinya ke Batam. Pertemuan dan pelatihannya sih biasa saja, tapi ada satu yang paling menarik, mengunjungi komunitas basis di daerah Pintu Air, dekat dengan bandara Hang Hadim, masuk ke dalam kebun milik Dinas Kehutanan.

Dari jalan tak kan menyangka bahwa di jalan yang lurus rapi itu ada rumah-rumah yang dihuni oleh penduduk penggarap lahan. Intan yang mengantar kami memarkir mobilnya di pinggir jalan, dan kami mesti jalan kaki masuk lokasi sekitar 300 meter, jalan becek bekas hujan, dan gelap.

Penerangan di rumah-rumah ada, menggunakan genset mini yang dimiliki oleh rumah per rumah. Tempat yang sederhana tapi penuh kegembiraan. Gembira bukan karena situasi mereka yang sederhana, tidakkk, tapi mendapatkan insight baru tentang Batam:

1. Ini Batam lho, tempat bisa menemukan uang karungan. Hohohooo.... jangan percaya.

2. Ini Batam lho, tempat segala gemerlap malam bisa ditemui. Hohohoooo.... jangan percaya.

3. Ini Batam lho, tempat semua tersedia ada untuk tersambung pada dunia. Hohohoooo.... jangan percaya.

Aku pulang ke hotel dengan bekal ubi rebus dari mereka, ditambah sambal matah dan daun singkong rebus. Ohhh...

Wednesday, September 05, 2018

Nicolaus Heru Andrianto: Seni Merayakan Hidup


Judul Buku: Seni Merayakan Hidup
Penulis: Fr. Nicolaus Heru Andrianto
Penerbit: Pohon Cahaya, Yogyakarta
Isi: 196 hlm
Ukuran: 13X19 cm
Cetakan I: Juli 2018
ISBN: 978-602-5474-87-3


Ada banyak cara untuk mendapatkan buku gratis. Karena sesekali aku bukan ibu peri tapi preman perempuan, maka aku bisa saja teriak pada seseorang di pintu: "Frater Nico, kau harus berikan bukumu sebagai jatah preman untukku." Sedikit melotot dan mengguncang tangannya, ehemmm.... keesokan harinya sebuah buku pun terlempar di mejaku. Pun buku masih disertai tulisan manis: Salam dan doaku. Hehehe...

Nah, mengapa buku ini kuminati? Aku akan menjawab terus terang sebagai berikut:

1. Aku kenal sang penulis sejak dahulu kala, istilah kata saat masih ingusan. Nicolaus Heru Andrianto bukan orang baru bagiku karena aku mengenalnya saat dia masih berseragam putih biru sebuah SMP di Sidomulyo, Lampung Selatan. Kukira tahun 2005 atau 2006 saat aku masih mengelola Majalah Nuntius. Si Nico remaja itu sering mengirimkan tulisannya untuk Nuntius, juga mengikuti pelatihan nulis atau event dimana aku mudah sekali mengenalinya. Seorang serius yang mengembangkan minat nulisnya dengan sungguh-sungguh.

3. Buku pertama yang dia tulis dua tahun lalu berjudul Memeluk Fajar Perjalanan Hidup Kaum Berjubah dan buku kedua yang diterbitkan tahun ini juga Menulis Feature bagi Aktivis Komsos tak sempat aku tandai. Buku ketiganya ini menarik hatiku dengan judul dan sampul yang meriah: Seni Merayakan Hidup.

4. Lihatlah kata pengantar yang ditulis oleh PC. Siswantoko: "Dinamika hidup bukan hanya rangkaian peristiwa yang tanpa makna tetapi rentetan berbagai pengalaman yang dapat membawa kita untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang utuh. Pengalaman bertemu Tuhan dalam doa dan ibadah, interaksi dengan teman dan tetangga yang berbeda agama, suku, bahasa dan status sosial serta relasi yang harmonis dengan alam sekitar merupakan pengalaman hidup yang sarat akan nilai."

5. Kalimat Rm. Koko itu bisa menjadi gambaran dari buku ini. Apa lebihnya bertemu Tuhan dalam doa dan ibadah? Apa unggulnya berelasi dengan semua orang beda agama, suku, bahasa dan sebagainya? Apa menariknya bersentuhan harmonis dengan alam? Semua orang bisa melakukannya. Namun, Fr. Nico menunjukkan kelebihannya. Dia menulis hal-hal sedeharna dalam hidup sehari-harinya secara sederhana pula sehingga bisa dinikmati oleh siapa pun yang membacanya. Kukira, dia tak hanya mendapatkan satu keuntungan dalam proses menulisnya, tapi banyak. Dia merefleksikan pengalamannya dan dia memaknai hidupnya.

6. Membaca buku ini seperti membaca ungkapan syukur Fr. Nico atas hidupnya. Dan karena ini bentuknya buku, yang tersebar dan dibaca oleh banyak orang, ungkapan syukur itu juga menjadi ajakan bagi semua orang untuk melakukan hal serupa: Mari mensyukuri hidup. Mari merayakan hidup. Karena itulah seni merayakan hidup syarat dengan kegembiraan, bukan hanya karena peristiwa gembira tapi karena segala peristiwa pun selalu punya makna.

7. Hmmm.... ya, pada bagian akhir aku mesti bilang ini: Terimakasih banyak, Fr. Nico. Buku ini pun akan menjadi tepukan di pipiku, untuk mengingat hidup ini sebagai anugrah yang patut dirayakan sepanjang waktu. Tentu, aku mesti bilang juga: Sesekali dalam seumur hidupku, aku adalah preman yang menagih buku di depan pintu. Berikan buku yang berikut padaku!

Saturday, August 25, 2018

Krakatau

Kaki yang menapak, adalah salah
keindahan yang terengah memakna.

Mestinya aku terus menemanimu, Prof.
Aku tahu tangisan tanpa isak di wajahmu.

Aku memilih diam menyusuri pasir hangat
juga Krakatau yang terus berteriak: Enyah!

Tak bisa lagi kugandeng tanganmu, Prof.
Aku tak lagi tertawa dalam perjalanan pulang.


Monday, August 20, 2018

Tentang Puisiku Sendiri: Langit Asta Tinggi


MELIHAT SUMENEP DARI LANGIT ASTA TINGGI
(Catatan Proses Penulisan Puisi Langit Asta Tinggi)

Yuli Nugrahani*
Sumenep, 13 – 14 Agustus 2018


LANGIT ASTA TINGGI

Asta Tinggi diratapi candra
menusuk daun-daun aren mendesakkan ingatan
pada teras perjumpaan
pada saat tubuhmu tubuhku lekat.
Walau raut hilang dalam malam
namun suara melantunkan irama berpagar tanya.

"Pasirkah hati Pancali, atau batu?"

Tanganku adalah tanganmu menadah
kata tergelincir seperti hujan
seperti ujung-ujung awan
terguncang-guncang
perbedaan.

"Yudistirakah suami Pancali, atau Pandawa?"

Bibirku meregangkan cengkerama
bibirmu menangkapnya sepenuh daya.
Menyudahi perdebatan di pangkal cemara
melumuri prasasti-prasasti dengan kata.
Pasir adalah batu, batu adalah pasir.
Yudistira adalah Pandawa, Pandawa adalah Yudistira.

"Pancali pongah di gelung rambut Krishna.”

Itu adalah haknya, katamu.
Kami memandang,
Kembali pada langit Asta Tinggi,
tanpa penilaian
diam dilipat senyuman.

Mei 2015


Latar Belakang
Puisi di atas ditulis dengan ingatan pada suatu malam saat saya mendapatkan kesempatan penuh kegembiraan bisa ‘nongkrong’ bareng dengan orang-orang muda Sumenep di salah satu teras Asta Tinggi pada tahun 2014. Tempat kami duduk itu cukup tinggi. Juga cukup sepi, walau ada beberapa kali rombongan datang untuk ziarah, tapi tak sebanyak di tempat lain di kawasan Asta Tinggi.
Suasana yang tenang menentramkan padahal saya sedang bersama orang-orang yang baru pertama kali saya jumpai, sekelompok orang muda dalam Komunitas Kampoeng Jerami. Bulan sedang terang walau saya lupa apakah saat itu purnama atau tidak. Duduk saja di teras itu memandang ke atas, di mana bulan sendirian bermain di antara ranting-ranting, atau memandang ke bawah di mana ada kemerlap-kemerlip lampu-lampu tak terhitung dari area perkampungan, membawa keasyikan sendiri. Tentu saja, karena saya bersama dengan ‘segerombolan’ penyuka puisi, malam itu kami lewatkan dengan membaca puisi dari Hujan Kampoeng Jerami secara bergantian. Buku itu akan kami luncurkan keesokan harinya di suatu tempat di Sumenep.
Obrolan ringan, duduk santai, tiduran bebas di lantai teras, dan beberapa aktifitas yang bagi orang lain tidak tampak penting, menjadi bagian menarik. Lebih menarik lagi karena dilakukan di salah satu teras Asta Tinggi, makam para raja Sumenep beberapa generasi.

Asta Tinggi menurut Wikipedia
Asta Tinggi adalah kawasan pemakaman khusus para Pembesar/Raja/Kerabat Raja yang teletak di kawasan dataran tinggi bukit Kebon Agung Sumenep. Dalam Bahasa Madura, Asta Tinggi disebut juga sebagai Asta Rajâ yang bermakna makam para Pangradjâ (pembesar kerajaan) yang merupakan asta/makam para raja, anak keturunan beserta kerabat-kerabatnya yang dibangun sekitar tahun 1750 M. Kawasan pemakaman ini direncanakan awalnya oleh Panembahan Somala dan dilanjutkan pelaksanaanya oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II
Asta Tinggi memiliki 7 kawasan, yaitu:
1. Kawasan Asta Induk, terdiri dari :
·         Kubah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I,
·         Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro ( Bendoro Saod ),
·         Kubah Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III ( Pangeran Akhmad atau Pangeran Djimat ), yang kubahnya tersebut berasal dari Pendopo Kraton Pangeran Lor/Wetan,
·         Pangeran Pulang Djiwo yang kubahnya tersebut juga berasal dari Kraton Pangeran Lor/Wetan,
·         Pemakaman Istri-istri serta selir Raja-Raja Sumenep,
2. Kawasan Makam Ki Sawunggaling Konon diceritakan bahwa K. Saonggaling adalah pembela Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) pada saat terjadinya upaya kudeta/perebutan kekuasaan oleh Patih Purwonegoro),
3. Kawasan Makam Patih Mangun,
4. Kawasan Makam Kanjeng Kai/Raden Adipati Suroadimenggolo Bupati Semarang (mertua Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I),
5. Kawasan makam Raden Adipati Pringgoloyo / Moh. Saleh, di mana dia tersebut pada masa hidupnya menjabat sebagai Patih pada Pemerintahan Panembahan Somala dan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I,
6. Kawasan Makam Raden Tjakra Sudibyo, Patih Pensiun Sumenep,
7. Kawasan Makam Raden Wongsokoesomo.

Arsitektur Makam dalam kompleks ini sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan yang berkembang pada masa Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari penataan kompleks makam dan beberapa batu nisan yang cenderung berkembang pada masa awal Islam berkembang di tanah Jawa dan Madura. Selain itu pengaruh-pengaruh dari kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro, makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan makam Pangeran Pulang Djiwo.
Selain itu pengaruh Arsitektur Eropa mendominasi bangunan kubah makam Sultan Abdurrhaman Pakunataningrat I dan Makam Patih Mangun yang ada di luar Asta induk. Dalam kawasan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, Seluruh bangunannya dipengaruhi gaya arsitektur klasik, kolom-kolom ionik masih dipakai dibeberapa tempat termasuk juga pada Kubah Makamnya.
Kawasan ini sangat indah. Suatu upaya pengeboman kawasan Asta Tinggi pernah dilakukan oleh tentara penjajah (disebutkan dalam buku Perjalanan dari Soengenep ka Batawi, karya Raden Sastro Soebrata terbitan Balai Pustaka tahun 1920). Hal itu terjadi karena tentara Inggris mengira bahwa bangunan tersebut adalah istana kerajaan (karena indahnya), pusat kekuasaan Sumenep. Namun, upaya pengeboman tersebut tidak sampai menghancurkan Asta Tinggi karena jatuh di luar kawasan, sehingga tempat ini tetap indah dan terjaga sampai sekarang.

Asta Tinggi sebagai Tempat Memandang
            Saya beruntung mengalami peristiwa indah di kawasan ‘pekuburan’ indah itu. Secara fisik, ketika saya ada di sana, saya sungguh-sungguh mendapat tempat untuk memandang keindahan ke atas maupun ke bawah. Bulan yang terang (saya mengabadikannya dalam foto) sangat nyata, seolah sangat dekat. Juga lampu-lampu dari rumah-rumah di perkampungan (kota?) yang mewujud sebagai lampu hias.
            Secara fisik, Asta Tinggi sebagai tempat memandang keindahan baru saya alami sekali itu, belum terulang lagi walau setelah itu saya pernah berkunjung ke Sumenep. Dan tentu saja yang bisa saya pandang waktu sangatlah terbatas karena kami nyaris tidak pindah tempat. Hanya satu sisi, dan juga hanya satu waktu (beberapa jam pada malam hari).
Namun secara nonfisik, Asta Tinggi menjadi tempat saya memandang banyak hal indah yang kemudian hadir dalam pengalaman pikir dan rasa saya. Puisi di atas hanyalah salah satu catatan yang mengekalkan ingatan tersebut. Asta Tinggi sebagai makam adalah arah dari hidup semua makluk. Asta Tinggi sebagai keindahan adalah proses hidup itu sendiri, mulai dari awal hingga akhir.
Dalam puisi Langit Asta Tinggi, saya meletakkan makam dan keindahan sebagai setting tempat dan waktu untuk puisi itu.
“Asta Tinggi diratapi candra”
Kawasan pemakaman itu pada saat malam (candra=bulan, hanya terlihat pada malam hari.). Setting itu harus dibuat untuk mengawali karena tempat dan waktulah yang membungkus seluruh ‘percakapan’ pada puisi tersebut. Asta Tinggi menjadi penting karena perpaduan dua hal itu: makam dan keindahan. Satu kata yang bisa dimaknai dengan mengerikan namun tak terelakkan, sedang kata lain bisa dimaknai dengan segala hal menggembirakan yang juga tak terelakkan, spontan setuju saat berada di Asta Tinggi.
            Puisi tersebut saya pisahkan menjadi dua bagian yang saling bertautan. Bagian pertama adalah bait-bait yang terdiri dari beberapa baris, saya tandai dengan huruf tegak biasa. Bagian kedua adalah bait-bait yang terdiri dari satu baris, dengan tanda huruf italic, dalam tanda kutip sebagai kalimat langsung.
            Bagian pertama itulah yang meletakkan ‘saya’ pada Asta Tinggi terus-menerus. Saya tidak melupakan keberadaan Asta Tinggi sebagai makam walau saya tak menyebutnya demikian dalam puisi ini. Saya menyebut Asta Tinggi sebagai ‘teras perjumpaan’. Ini adalah perjumpaan dari dua (atau lebih) sosok yang berbeda namun tidak berbeda. Perjumpaan yang berisi diskusi, dengan ‘berpagar tanya’.
            Ini saya gunakan untuk mengatakan munculnya banyak perdebatan tak berujung di Indonesia yang sebenarnya sama cara pikirnya, ketika dikatakan oleh orang yang berbeda menjadi pertengkaran yang tajam.

Asta Tinggi diratapi candra
menusuk daun-daun aren mendesakkan ingatan
pada teras perjumpaan
pada saat tubuhmu tubuhku lekat.
Walau raut hilang dalam malam
namun suara melantunkan irama berpagar tanya.

"Pasirkah hati Pancali, atau batu?"

            Pasir dan batu, asalnya sama dari bumi, komponen pembentuknya mirip. Yang menjadi pembeda adalah ukurannya. Pasir lebih kecil, bisa kasat mata ketika jumlahnya banyak. Pada volume yang lebih besar, batu menjadi wujudnya.

Tanganku adalah tanganmu menadah
kata tergelincir seperti hujan
seperti ujung-ujung awan
terguncang-guncang
perbedaan.

"Yudistirakah suami Pancali, atau Pandawa?"

            Bait berikutnya ini membuat debat itu semakin nyata. Yudistira adalah suami Pancali (Drupadi). Versi ini yang dikembangkan di tempat kita. Namun di India sana, Pandawa kelima-limanya adalah suami Drupadi. Bagaimana kita bisa memperdebatkan ‘versi’?

Bibirku meregangkan cengkerama
bibirmu menangkapnya sepenuh daya.
Menyudahi perdebatan di pangkal cemara
melumuri prasasti-prasasti dengan kata.
Pasir adalah batu, batu adalah pasir.
Yudistira adalah Pandawa, Pandawa adalah Yudistira.

"Pancali pongah di gelung rambut Krishna.”

            Di situlah kemudian kesadaran dan kepasrahan muncul. Tak ada masalah entah pasir atau batu, juga Yudistira atau Pandawa, atau juga kalau diletakkan dalam konteks lain, tak masalah jika menjadi kecil atau besar, sedikit atau banyak, dengan nama apa pun. Dulu saya menyebutnya sebagai titik maklum. Dengan begitu semua ada di tempat yang tepat bahkan ketika kita melihat seseorang memiliki kesombongan karena keberuntungan hidupnya. Pancali/Drupadi boleh sombong/pongah karena memang dia terikat dalam gelung helaian rambut Krishna, Sang Mahadewa.

Itu adalah haknya, katamu.
Kami memandang,
Kembali pada langit Asta Tinggi,
tanpa penilaian
diam dilipat senyuman.

            Dengan kesadaran dan kepasrahan seperti itulah, Asta Tinggi sebagai makam dan keindahan akan abadi dalam berbagai perjalanan. Menjadi tempat kembali ketika hal-hal detil menjadi diskusi atau debat. Dan ketika sampai pada ‘titik maklum’ di mana tak ada benar salah, jahat baik, hitam putih dan sebagainya, diam bukan menjadi kerisauan, tapi seperti rasa yang saya alami saat di Asta Tinggi, tenang yang menentramkan, yang nyaman, yang begitu sederhana sehingga mudah dilipat dalam/sebagai/oleh senyuman.

Unsur-unsur dalam Puisi Ini

1.      Tema dan Pokok pikiran
Tema puisi ini adalah perbedaan pendapat. Lalu saya mengambil pokok pikiran tentang dua (atau lebih orang) yang bercakap di Asta Tinggi, berdebat tentang sesuatu yang jauh (namun dekat) yaitu ‘manusia Pancali”.

2.      Rasa
Inilah bagian dari yang tak bisa lepas dari penyair. Dia mempunyai rasa yang muncul dari hati tentang tema yang sudah dipikirkan (atau dialami, atau dirasakan, atau diperbincangkan, atau dibaca dsb). Gembira, sedih, marah, bingung, galau, murung, kecewa dan sebagainya. Ada banyak ragam rasa. Dalam puisi di atas ini, rasa utama saya adalah tanda tanya lalu menjadi ‘pasrah’. Terhadap perbedaan, terhadap cara pandangnya, juga keterlanjutannya.

3.      Nada
Rasa itulah yang kemudian menentukan nada dari puisi itu. Jika dia gembira, maka optimis yang muncul. Jika sedih, dia akan menunjukkan alasan-alasan kesedihan. Jika dia marah, nada proteslah yang akan muncul. Dan sebagainya. Ketika pasrah menjadi rasa utama, nada yang muncul adalah ‘datar’, biasa, tenang.

4.      Tujuan/pesan
Yang terakhir, adalah pikiran bahwa puisi ini telah dan akan dibaca oleh seseorang. Mungkin juga pembacanya adalah saya sendiri pada waktu dan tempat yang berbeda. Di situlah akan muncul tujuan atau pesan dari puisi itu. Bisa ditangkap berbeda-beda, tapi penulis selalu mengharapkan pesan itu tersampaikan pada pembacanya. Saya ingin: setiap pembaca puisi ini meneliti lagi point yang dipertentangkan olehnya ketika berdebat dengan orang lain atau dirinya sendiri. Jangan-jangan sebenarnya hanya beda ukuran, beda versi, padahal hakikatnya sama. Kemudian menerima seluruh proses itu dalam senyuman.

Penutup
Mengambil setting Asta Tinggi untuk puisi ini bukanlah sebagai gaya-gayaan, pamer bahwa: Ini nih saya orang Lampung pernah ke Sumenep. Tidak. Asta Tinggi adalah makam yang indah (yang pernah dikira sebagai Istana sehingga berisiko jadi sasaran bom!). Bukan hanya keindahan bangunannya yang menarik orang-orang untuk datang berziarah. Tapi ‘isi’ dari makam ini. Tentulah isi yang dimaksud bukan soal tulang belulang dari jenazah yang pernah dimakamkan di sini, tapi dari sinilah sejarah Sumenep juga Roh Semangat Sumenep menjadi lengkap ketika dipaparkan dari generasi ke generasi.
Ke dua, saya akan terus mengingat Sumenep karena saya pernah ke Asta Tinggi pada kesempatan pertama saya datang ke kota ini. Mungkin saya masih nol soal pengetahuan tentang Sumenep, sosial budaya, seni, ekonomi dan sebagainya. Tapi melalui Asta Tinggi saya mengenal harga diri Sumenep yang tegak dengan segala dinamika hidupnya, menyimpan perkembangan-perkembangan kekayaan budaya yang tak mungkin dihentikan. Hal-hal seperti ini sudah dibuktikan oleh komunitas-komunitas seni dan budaya yang berkembang di Sumenep.
Hal-hal lain akan saya tambahkan nanti, tentu segala hal akan memuai nanti seturut pemahaman yang bisa saya dapatkan. Terimakasih.

* Cerpenis dan penyair dari Lampung
    Bukunya yang pernah terbit antara lain: Kumpulan Puisi Pembatas Buku, Kumpulan Cerpen Daun-daun Hitam, Kumpulan Puisi Sampai Aku Lupa, Kumpulan Cerpen Salah Satu Cabang Cemara, Cerita Rakyat Sultan Domas Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati.