Tuesday, June 05, 2018

Perjalanan Tanjungpinang-Batam (1): Langsung Menyeberang ke Tanjungpinang

Tanggal 28 April 2018, hari Sabtu, aku dan Mas Hen berangkat pakai Garuda dari Radin Inten II menuju Hang Nadim. Berangkat dengan beberapa hal yang ndak pasti, tapi aku dan Mas Hen gembira saja membayangkan perjalanan ini. Misalnya, siapa nanti yang akan njemput di Batu Besar, Batam? Hmmm... pertanyaan itu terjawab ketika kami sampai di Bandara. Sebuah keluarga yang baik hati akan menjemput kami di Bandara Hang Nadim lalu mengantarkan kami ke Pelabuhan Telaga Punggur untuk menyeberang ke Tanjungpinang. Kenyataannya, kami dapat bonus! Traktiran makan siang oleh keluarga baik hati itu. Wah.

Sembari makan, sekitar pukul 14.00 aku kontak Yuanda Isha, perempuan yang menulis buku Seribu Satu Puisi, dimana ada coretan sketsaku, bahwa bentar lagi akan otw pelabuhan. "Siap, mbak. Nanti kami jemput di pelabuhan."

Kami menggunakan kapal cepat Oceana dari PT. Pernas Baruna Jaya, seharga 65 ribu rupiah. Kapal yang nyaman, dan cepat. Sekitar 45 menit kemudian aku sudah sampai di Pelabuhan Tanjungpinang. Suasana yang berbeda dengan Batam walau hanya berjarak 45 menit. Begitu keluar pelabuhan, dari jauh tampak 'sosok' Yuanda melambai-lambai. Astaga, kurus amat perempuan ini. Yah, ini pertama kali aku berjumpa dengan penulis ini, dan tidak menyangka sama sekali kalau dia sekurus itu.

Bang Ulu sudah menunggu di mobil siap menemani kami. "Kita mencari penginapan dulu, atau ngopi dulu. Kita santai saja." Ya, kami ikut saja rencana mereka. Mencari penginapan pada hari Sabtu di Tanjungpinang bukan hal yang mudah. Rata-rata full booked, sampai kemudian kami mendapatkan Kaputra Hotel, di tengah kota. Ngopi di pinggir pantai jangan terlewatkan. Plus bakwan goreng dengan udang segar di tengahnya. Dan rupanya, bang Ulu suami Yuanda ini sudah memikirkan akan meminjami kami motor Nmax mereka yang baru. Huhuhu... Jadilah. Saat magrip, mereka balik, aku dan mas Hen pun merancang perjalanan malam di Tanjungpinang. Yuan dan suaminya meyakinkan kami bahwa Tanjungpinang aman untuk dijelajahi.

Malam itu kami menikmati ikan bakar di Taman Tepi Laut, dekat dengan Gedung Gonggong, Taman Laman Boenda. Juga satenya yang josss.... Tempatnya tak jauh dari pelabuhan, dan menjadi tempat ngumpul orang Tanjungpinang. Apalagi pas Malam Minggu.

Kenyang, kami lanjut berputar-putar kota. Asli, berputar-putar, karena kami rupanya kembali lagi di jalan yang itu, lalu ke situ lagi... Hehehe... terpaksa buka GPS. Nah, lalu kami ke Jembatan Dompak, jembatan yang menghubungkan Tanjungpinang ke pusat pemerintahan Propinsi Kepulauan Riau. Tempat nongkrong juga. Banyak orang duduk-duduk di jembatan ini dan menikmati malam.

Hampir tengah malam, capek muter-muter kami balik ke Kaputra Hotel, membeli dulu mi goreng samping hotel, dan menikmati kamar kami yang nyaman setelah mandi bersih dan nyikat mi goreng yang rupanya sangat enakkkk.... wah.

Monday, May 28, 2018

Muhammad Harya Ramdhoni: Nyekar lewat Sihir Lelaki Gunung

Judul buku: Sihir Lelaki Gunung; sebuah kumpulan sajak
Penulis: Muhammad Harya Ramdhoni
Desain Cover: Sunlie Thomas Alexander
Foto Cover: Eka Fendiaspara
Tata Letak: Ladang Art Studio
Penerbit: Ladang Publishing, Yogyakarta
Cetakan pertama: 2018
Isi: xii+118 halaman
Ukuran: 13X19 cm
ISBN: 978-602-1158-23-4




Buku ini aku terima dari penulisnya beberapa bulan yang lalu. Maafkanlah, buku ini sampai lecek kubawa ke mana-mana. Dan tragisnya tak juga kubaca satu puisi pun yang ada dalam buku ini. Lihat sampulnya yang sampai tergores-gores, karena kubawa ke Tanjungpinang, Batam, Padang, lalu terakhir kemarin Malang dan Surabaya. Duhai, saat menunggu pesawat yang membawaku ke Lampung itulah kubuka secara acak buku ini sampai pada halaman 51:

NYEKAR
: Mbah Kung R. Soetanto
Mbah Putri DRA. Koemini Ismari

sepenggal waktu membawa diri menuju tempat bermula. sebuah kota di bengawan dan kisah dua makam tak terukir dari batu pualam berwarna jingga. di sana terbaring jasad kakeknda dan nenekda. setia menimang diri dalam hening, dalam cinta tulus tak terbayar. "aku menjengukmu mbah kakung, mbah putri," kata lelaki muda dengan suasana hati gembira namun takzim. disimpan baik-baik tangisnya, mengingat kasih sayang dan kemanjaan kala balita. namun air matanya akhirnya titik. saat sadar jasad keduanya telah lama tergelar di dalam tanah. tiga puluh tahun bukan sebentar. sementara lelaki muda hanya punya segenggam doa. di sore hari seiring ia bergumam lirih,"selamat petang, solo. aku kekal mencintamu."

Solo, Jawa Tengah & Bangi, Malaysia, 4 & 17 Januari 2014

Aku masih mengulang-ulang puisi ini sampai siang ini saat aku menuliskannya di blog ini. Puisi, hmmm... sebenarnya aku tergelitik ketika menyebut tulisan ini sebagai puisi. Ini kayak bukan puisi. Sepertinya aku bisa menyebutnya juga sebagai prosa. Pertama-tama, lihat caranya menuliskannya. Dhoni tidak membuat bait-bait sajak. Dia menuliskannya dalam satu alenia panjang terdiri dari 12 kalimat. Sebagian di antaranya kalimat lengkap, memiliki subyek, predikat, obyek dan keterangan. Sebagian yang lain dia abaikan subyeknya, atau predikatnya.

Pun aku bisa melihat setting waktu dan tempat. Juga sebuah alur yang memberikan gambaran sebuah kisah. Judulnya sih Jawa banget: Nyekar. Berasal dari kata sekar. Menabur sekar di makam. Artinya mengirim doa untuk orang yang sudah meninggal. Dan Dhoni menyebut dua orang yang dikunjunginya: Mbah Kakung R. Soetanto dan Mbah Putri DRA. Koemini Ismari. Dua orang dekatnya itu dikenangnya dalam Nyekar-nya.

Mengapa puisi ini langsung nanjap di hatiku saat aku membacanya di Bandara Juanda? Karena beberapa saat setelah rapatku di Malang, aku sempat mampir di Kediri, rumah bapak ibuku. Memang aku tidak ada waktu untuk nyekar ke makam mbah kakung dan putriku, tapi setiap datang ke rumah Kediri, wajah ibu dan seluruh rumah spontan membawaku pada mbah kakung dan putriku. Terlebih secara khusus saat aku ada di ruang makan, aku mengamati beberapa jenak foto keluarga: Mbah Kung dan Putri, lima anaknya termasuk ibuku saat masih berusia sekitar 7 tahun (sayang aku ndak motret foto jadul itu). Aku pun jadi merasa sangat rindu kembali pada Kediri, pada Kung dan Uti, juga seluruh kenangan bersama mereka saat aku masih kecil. Dan kurang ajarnya, jika rindu macam gitu, hidungku ini selalu jadi tombak cucukan. Jadi kecium-cium makanan-makanan masa lalu. Botok luntas yang pedes dimakan pakai peyek teri. Sambel pecel yang disiramkan pada nasi dan sayuran, dimakan saat masih nasi hangat dengan lauk kerupuk. Rujak cingur yang kenal warna hitam. Duhhh.... kurang ajar sungguh buku ini.

Iya sih, ingatan yang muncul akibat Nyekar ini memang bukan hening seperti Dhoni menuliskan penutupnya: Selamat petang, solo. aku kekal mencintamu. Disertai doa dan air mata. Puisi ini memunculkan 'aroma' kerinduanku yang memang didominasi hidung lalu berangsur ke lidah. Makanan-makanan yang pernah kukecap bersama Kung dan Uti-ku. Dan kalau sudah dua indera ini berkolaborasi, duhhh...

Siang ini aku mengulang-ulang lagi puisi 12 kalimat ini. Lalu secara cepat aku memindai lembar-lembar Sihir Lelaki Gunung. Dhoni memang sedang menuliskan dirinya! Lihat puisi-puisi dalam buku ini. Dia memisahkannya menjadi bagian-bagian: Sakala Baka, Isana dan Mataram, Kenangan yang Tersembunyi, dan Tentang Hidup. Lampung dan Jawa dia padukan dalam buku ini. Dua jalur leluhurnya itu dia lukiskan dalam kalimat-kalimat. Tentang Sakala Baka: "Tempat kebaikan dan kejahatan berseteru selama ribuan tahun." Tentang Isana dan Mataram: "Jalan keris dan berkubang darang adalah istiadat mereka!" Tentang Kenangan yang Tersembunyi: "Tak semua insan sanggup menyimpan dengan tenang setiap penggal kenangan." Dan Tentang Hidup... Ahaiii... Dhoni mengambilnya dari Gie: "Nasib terbaik adalaht idak pernah dilahirkan."

Dhoni tidak mampu menggambarkan seluruhnya tentang leluhur dan hidupnya, tapi tulisan-tulisan yang dia sebut sebagai puisi dalam buku ini menjadi upayanya untuk menghormati kehidupan, generasi sebelum dirinya, leluhurnya, peziarahannya dan juga cintanya pada 'manusia', yang diawali dengan cintanya pada 'diri sendiri'. Maka tepat sekali kalau di halaman awal buku ini dia menulis: untuk saya, sakala baka dan surakarta hadiningrat.

Aku senang mendapat buku ini, Dhon. Aku akan meneruskan membaca puisi-puisi yang lain dalam buku ini. Dan tentu saja, nunggu buku yang lain darimu. Selamat ya.

Thursday, April 26, 2018

Novel Alexander GB: Kampung Tomo


Judul buku: Kampung Tomo
Penulis: Alexander GB
Desain cover dan tata letak: Devin Nodestyo
Cetakan pertama: Januari 2018
Penerbit: Lampung Literature
ISBN: 9786021419144

Aku mendapatkan buku ini pada minggu ketiga bulan Januari tahun ini. Ini menjadi buku terakhir yang kubaca setelah buku Yulizar Fadli dan Devin Nodestyo. Aku membawa buku bersampul biru ini pada masa cutiku bulan Maret lalu di Bali. Satu-satunya buku yang kubawa untuk berangkat liburan (saat pulang aku membawa 10-an buku tambahan yang kubeli atau yang kudapat sebagai hadiah).

Memulai membacanya saat aku sedang di bandara untuk menunggu penerbangan ke Jakarta maupun ke Bali. Tapi benar-benar kudapatkan 'rasa' saat aku membacanya di pesisir Karang Asem, tempat yang bertolak belakang dari setting Ulubelu yang digunakan oleh GB dalam buku ini.

"Sepertinya mereka tidak terlalu mengharapkan kehadiran saya di rumah ini. Saya teringat Mbah Putri yang selama saya di Ulubelu kerap mengunjungi saya. Istri Bapak meski sejauh ini menunjukkan sikap yang baik, khususnya jika ada paman dan bibi, tentu saya tidak keberatan ia tetap tinggal di rumah ini. Meski saya masih enggan untuk memanggilnya ibu."

Tersandung di paragraf terakhir halaman 79 itu aku mengulang pembacaan dari awal secara cepat. Aku pun mulai ngeh masuk dalam cerita GB. Seolah aku mengiringi si Tomo, tokoh 'saya' yang ada dalam cerita ini. Merasai si Tomo yang 'antara ada dan tiada' di kampung kelahirannya itu, lalu ikut menemani memikirkan hal-hal praktis sebagai solusi atas kematian bapaknya.

Walau bagian endingnya tak terlalu kusuka karena membuatku bingung, aku tidak terganggu GB memutuskan membuat ending semacam itu. Ending itu membuatku berpikir soal 'fana dan maya'. Nah, nah, kalian harus membayangkan aku membaca buku ini di sebuah perkampungan nun di Karang Asem sana sedang dalam persiapan Nyepi. Jadi cocok cucoklah. Mengapa soal fana dan maya yang menyentak? Hmmm.... susah menjelaskannya. Baca saja alenia terakhir ini (hal, 200):

"Ketika saya mendongak, kelelawar membentuk garis melengkung di langit Ulubelu. Saya mendengar ceracaunya. Saya mendengar banyak suara lain, saling tindih, sebagian suara itu terus menggumamkan nama saya. Sosok-sosok yang tadi menampakkan diri telah pergi, yang tersisa hanya gema suara-suara mereka dan kabut yang menyelimuti rerumputan. Lalu datang cahaya dari barat yang menyilaukan, lantas melemparkan tubuh saya ke suatu tempat - seperti jalanan yang diapit bangunan-bangunan tinggi dan menyebarkan bau belerang."

Huhuhu... orang Ulubelu ini. Thanks, ya, B. Kupikir buku ini bisa diteruskan menjadi buku kedua dan ketiga. Aku pasti suka hati membacanya. Ingat Ulubelu dengan tanahnya, masyarakatnya, masalah-masalahnya.... ah kau lebih tahulah soal itu, bahwa itu semua harus disuarakan. Selamat atas buku ini.

Residensi Menulis yang Gagal (7): Memang Gagal


18 Maret

Hari terakhir di Wawa Wewe kami mesti bangun pagi-pagi sekali. Kami sudah memesan taksi full day, dijemput pukul 08.00. Sarapan yang tidak terlalu ternikmati. Pilihan roti dan telur dan jus jeruk, lalu buru-buru ke mobil. Packing sudah kulakukan dengan supercepat saat aku bangun pada 06.00 tadi.

Tujuan pertama ke Pasar Sokawati mencari keranjang. Selanjutnya ke Mall Denpasar untuk mencari bumbu-bumbu khas Indonesia dan makan siang. Lalu pkl 15 aku diantar ke bandara. Untuk kembali ke Lampung. Cuaca yang buruk tapi lebih buruk pikiran-pikiranku.

Aku berpikir soal perjalananku ini. Di awal aku pikir ini waktu yang tepat untuk menuliskan : Pencarian Cinta. Huhuhu. Tapi ternyata perjalanan ini memang tepat supaya aku mengalami beberapa hal santai yang mengalir di sepanjang Karangasem. Soal penulisan memang gagal total. Tapi minimal aku menuliskan sesuatu di blog dari catatanku ini. Beberapa hal lain yang tak mampu kutuliskan tersimpan rapi dalam hatiku.

Residensi Menulis yang Gagal (6): Nyepi - Kematian

17 Maret

Pagi-pagi, terlalu pagi, aku bangun sekitar jam 2 dini hari. Melek beberapa saat, tertidur lagi menjelang subuh, dan bangun sangat telat. Hari ini hari nyepi. Kami tak boleh kemana-mana pada hari ini. Jadi aku juga tidak ingin ke mana-mana. Usai membersihkan diri, aku membaca Cantik itu Luka. Sarapan jam 09.00 dengan roti bakar dan telur ceplok. Baca lagi. Tidur sebentar. Baca lagi. Tidur lagi. Baca lagi… hahhaa… pukul 016.15 baru makan lagi pesan ke kantin. Makan siang yang telat itu aku order: nasi dengan vegetables curry, fried fish dan tofu, serta mi goreng dengan sayuran. Itulah makan siang merangkap makan malam yang super lengkap. Ditambah dengan jus jeruk dan kopi.

Nyepi: pati geni, pati karya, pati lelungan dan pati lelaguan.. kami menikmati dengan cara masing-masing di hotel. Sampai malam kami berbincang tentang banyak hal. Ini malam terakhir, dengan debur ombak dan bintang-bintang. Aku menikmati ini.

Satu hal yang aku tak bisa lanjutkan sebagai perbincangan lisan: Yuli, siapkah kau pada kematian?

Aku terdiam. Bibirku bilang, aku tak mau membahas tentang hal ini. Lalu bibirku bercerita tentang kematian si anu, si ani, si ano... dan lain-lain. Bukan tentang kematianku. Aku tak mampu bicara tentang kematianku sendiri karena aku masih ketakutan, aku masih tak siap. Ada beberapa hal yang masih ingin kukerjakan dengan tubuh Yuli seperti ini. Aku harus mengejar waktu supaya semua mampu kubereskan sebagai Yuli. Aku bernafas panjang beberapa kali. Ingat gelenyar yang muncul pada tubuhku saat pesawatku turbulensi hebat dalam perjalanan Jakarta - Denpasar. Inget betapa aku mencengkeram pinggang Albert saat diboncengnya dengan kecepatan tinggi mengejar jam misa. Atau, betapa aku berdebar-debar saat hujan deras angin badai. Ohhh... aku berharap masih punya waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas Yuli. 

Pikiran-pikiran tentang kematian ini kubawa ke tempat tidur, ke dalam kegelapan dan kesunyian Nyepi.

Tuesday, April 24, 2018

Residensi Menulis yang Gagal (5): Ogoh-ogoh yang Menyesatkan

16 Maret 2018

Aku bangun pagi dengan perasaan tenang. Juga suasana sangat tenang. Ke wc, cuci muka, ganti baju, aku turun ke pantai. Semburat cahaya matahari sudah tampak di timur. Oranye, kemerahan, kekuningan. Wah. Dan ombak, nyaris tak ada ombak. Nyaris tak ada suara ombak berdebur. Sesekali saja ada ombak yang pecah tapi secara umum, mereka sangat tenang. Suara burung di atas pohon dekat kolam begitu meriah. Aku mulai menangkap hal-hal detail dalam pandanganku. Bebatuan yang mengkilat kuning disepuh matahari. Ikan-ikan… memanjat eh melonjat ke batu, lalu meloncat lagi ke air, kemudian meloncat lagi. Menjauh saat aku dekati, tapi selalu ada yang meloncat, meloncat… selain aku ada burung, berparuh panjang berkaki panjang mengikuti pergerakan ikan-ikan. Sekali waktu kulihap, hap… burung itu mendapatkan satu ikan di paruhnya. Aku sempat terperanjat. Apakah ikan-ikan itu meloncat ke bebatuan sebagai sarapan burung? Tapi kalau tidak ada perilaku seperti itu, burung itu makan apa?

Batu-batu segala warna ada di pantai ini. Aku terpesona dengan bentuk-bentuk batunya, lonjong, bulat, kotak, panjang… halus, sempurna. Mereka dibentuk dengan baik oleh pembentuknya. Air laut? Gesekan dengan batu lain? Ahai. Air sangat tenang dan bening. Aku bisa melihat dengan jelas bebatuan di bawah air. Sangat jernih. Sangat jelas.

Satu poin yang kudapat dalam jalan pagiku ini: aku tidak boleh lagi mengijinkan amarahku menguasai diriku. Tapi aku tidak boleh lagi membiarkan rasa marah datang dan menghajarku. Membuatku hanya dibungkus emosi.

Aku merenungkan hal ini sepanjang jalan. Menginjak bebatuan yang goyang. Pasir hitam. Batuan yang besar dan padat. Melihat air jernih yang memantulkan keindahan-keindahan. Ohh, aku ingin mengingatnya. Yuli, jangan marah lagi. Jangan lagi membiarkan rasa marah menguasai.

Aku sarapan dengan roti bakar dan telur rebus plus jus lemon tanpa gula. Aku selalu minta bonus madu yang kuminum setelah kuhabiskan sarapanku. Satu telur rebus cepat masuk ke perutku, sedang yang satu lagi (kami mendapat jatah dua telur) kubawa ke kamar, rencanaku untuk makan siang.
Partnerku mengatakan sudah memesan motor kalau aku mau bisa ikut dia jalan. Niat awal adalah pergi salon untuk potong rambut, lalu berjalan sekitar seraya. Tapi kemudian yang kami lakukan berdua adalah menyusuri sepanjang pantai hingga ke Amlapura, lalu balik lewat jalan utama propinsi. 

Hujan deras datang ketika kami sampai di sebuah tempat indah dekat sawah saat kami usai menikmati popmi dan degan, sebelum Culik. Itu sudah sangat dekat, tapi kami yang sudah basah kuyup malah nyasar sekitar 4 km. Mestinya kami belok kanan setelah sampai Culik, tapi kami terus hingga bertemu pantai di sebelah kanan. Itu jelas salah, karena harusnya pantai di sebelah kiri. Huhuhu. Kami jalan terlalu ke barat.

Kami memastikan bertanya dua kali karena kami salah belok juga setelah bertanya satu kali.
Culik adalah desa yang akan kami datangi sore nanti untuk perayaan ogoh-ogoh. Waktu sangat mepet. Ketika sampai di penginapan, hujan deras kembali. Kami mandi dang anti baju kering. Menunggu dengan membaca hingga hujan berhenti, tepat pukul 15.30. kabarnya ogoh-ogoh akan dimulai dengan doa pukul 4.00. ini yang bikin greget ketika kami mendapatkan informasi yang berbeda-beda soal lokasi doa arah arakan ogoh-ogoh dan juga tempat pembakaran ogoh-ogoh.  Ada yang bilang lokasi doa di Amed, lalu berjalan ke Culik untuk dibakar di sana. Ada yang bilang dibakar di Amed. Ada yang lain bilang dari Culik di bawa ke Amed lalu ngumpul di Culik lagi. Ahai. 

Saat malam setelah kami selesai terlibat dalam doa di Culik, diselingin makan bakso lalu melihat ogoh-ogoh, di perjalanan kembali ke tempat nginap kami baru ngeh kalau acara serupa juga dikerjakan di Culik dan juga di Amed. Dua tempat. Dua acara yang sama. Huhuhu.

Kami tertawa menyadari hal itu. Sekaligus bertanya-tanya kenapa orang-orang yang kami tanyai tidak clear memberikan info soal itu. Hahaha… astaga.

Thursday, April 12, 2018

Residensi Menulis yang Gagal (4): Hari yang Santai


15 Maret 2018

Pagi di hari ini aku bangun dengan santai. Tanpa cuci muka langsung lari ke pantai. Njebur dulu ke laut, sebatas mata kaki saja. Jalan sepanjang pantai ke kanan dan kekiri, menyentuh air, batu, matahari... ooo... surga, surga di Pulau Dewata.

Setelah puas aku duduk di kursi teras menuliskan sesuatu di halaman ini. Menyelesaikan satu halaman, kuselang seling dengan membaca, minum. Sekitar jam 9 aku beranjak ke pantry. Makan pagi yang kupilih roti dan telur ceplok. Itu sangat cukup plus jus lemon tanpa gula.

Partnerku bilang kalau dia sudah pesan motor untuk besok saat upacara ogoh-ogoh di Desa Culik besok. Dan dia juga sudah pesan motor untuk ke Lempuyang hari ini. Dia ingin jalan ke sana dan kalau aku berminat, dia menawariku untuk ikut.

Tanpa pikir panjang aku menolak tawaran it. Aku sama sekali tidak berminat untuk jalan. Jadi setelah dia pergi, aku membaca saja, meneruskan Kampung Tomo, lalu berlanjut ke Cantik itu Luka dari Eka Kurniawan. Sekali membuka halaman pertama, aku tak bisa berhenti dari buku ini. Tak bisa lepas.

Makan siang, kami pesan makan siang di restoran hotel. Tempe kari. Lezattt… tambah cap cay kuah. Ohya, makanan di Wawa Wewe ini dibuat secara mendadak segera setelah kita pesan. Jadi sangat segar. Enak. Panas.

Obrolan sana sini pasti muncul tapi sepanjang siang sisanya kuhabiskan lagi dengan membaca Eka. Sore mencebur lagi ke pantai sebelum mandi. Hari hari yang santai semacam ini harus benar-benar kunikmati. Sore acara membaca ini berseling dengan buah-buahan musiman dari Indonesia, duku, blimbing, manggis sambil ngobrol terputus-putus. Kalimat-kalimat terputus. Cerita yang menggantung. 

Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal itu saat kejadian. Tapi seusai obrolah, aku sering menyesal dengan percakapan yang tak selesai macam itu. Ah, ada apa denganku? Kecenderungan seperti ini kurasakan juga dengan orang-orang lain. Begitu takutnyakah diriku untuk masuk lebih dalam? Terjun dalam kedalaman? Aku seperti orang yang tidak bebas. Seperti orang yang terpenjara oleh pikiran sendiri, hati sendiri… aku hanya tersenyum tanpa makna. Rasanya jadi kayak oon sekali. Sesekali aku bercerita tentang suatu hal, tapi aku juga tak menuntaskannya sebagai cerita yang utuh.

Ketika ada obrolan tentang kematian, Nepal ... pikiranku malah pada: bagaimana supaya aku cepat pergi ke kasur, tidur, diem. Atau melakukan sesuatu sendirian. Tak harus menanggapi hal-hal semacam itu. Merasa itu bukan urusanku. Ladalah. Segitu egoisnya kah aku?

Suatu titik ketika aku tak lagi bisa menahan, memang itu benar-benar kulakukan. Aku memutuskan percakapan, masuk kamar, membersihkan diri, naik ke kasur. Membaca pesan-pesan di wa dan sms selintas-selintas tanpa minat untuk membalas, lalu melanjutkan bacaan dari Eka Kurniawan. Hanya beberapa saat, lalu mematikan lampu baca dan tidur.
Malam ini begitu tenang. Ombak nyaris tidak terdengar. Atau telingaku sudah terbiasa?

Friday, April 06, 2018

Residensi Penulis yang Gagal (3): Memulai dengan Semangat


14 Maret 2018

Meja kerja untuk beberapa hari. Keren.
Sebelum aku tidur di hari pertama di Amed, aku yakin pada tengah malam pasti terbangun. Dan itu memang terjadi. Terbangun beberapa saat untuk kencing lalu tidur lagi dengan sukses sampai sekitar jam 4.30. Hujan deras di luar. Bunyi ombak berdebur bercampur dengan hujan yang menghantam genteng. Aku membuka tirai kamar yang menghadap ke pantai, mematikan semua lampu, gelap dan menikmati suara hujan bercampur ombak. Setengah tidur, setengah melek.

Bangun dengan ogah pada pukul 7 karena kebelet. Kulanjutkan dengan mandi sekalian mengingat malam kemarin tidak mandi. Mandi bersih, keramas, ganti baju. Segar nian.
Buka laptop lagi dunk. Mendengarkan music Anji yang romantic, dan mengetik lagi beberapa kalimat. Aku lihat di luar masih gerimis. Sayang sekali. Kamar ini menghadap ke Utara. Timur di sebelah kanan. Kalau cuaca bagus pasti aku bisa melihat matahari terbit di kanan sana. Tapi toh tak masalah. Aku tetap bisa menikmati pagi.

Sarapan yang ditawarkan hotel pukul 7.30 – 10.00 dengan pilihan menu. Aku pilih Pisang goreng. Jus lemon tanpa gula. Kopi pahit. Itu sangat cukup untuk pagiku. Saat sarapan ada pesan masuk dari Kyai Faizi. Dia ini seorang kyai dari Guluk-guluk Madura yang beberapa waktu mampir ke Lampung saat dia akan ke Jamnas Bismania di Sari Ringgung. Dia memastikan bahwa aku tak masalah dicantumkan nama dalam postingan dia. Mungkin dia kuatir aku akan keberatan kalau namaku digunakan. Padahal aku tak ada masalah apa pun soal itu. Jadi aku jawab: tak masalah kyai. Silakan saja. Sekaligus aku kabari kalau fbku sedang tidak aktif selama beberapa hari ini karena sedang menyepi di Karangasem.


Bagian akhir dari melasti.
Nah, kabar dari parnertku bahwa dia akan datang lebih awal 30 menit. Pesawatnya sudah siap berangkat saat kontak aku. Jadi aku telpon Kadek, si sopir untuk stand by lebih awal. Itu kabar yang baik karena kami akan punya waktu lebih lama untuk jalan dengan Kadek ke suatu tempat di sekitar Karangasem. Sip.

Sembari menunggu ah tidak, aku tak harus menunggu. Jadi aku melakukan rencanaku untuk Bali. Menulis lagi, mengetik. Residensi menulis lho. Jadi ya harus menulis dong. Hehehe. Harian ini akan menjadi calon tulisan panjang yang bisa dibuat menjadi satu buku. Tapi pekerjaanku untuk menyelesaikan tulisan Krakatau sangat harus dikejar. Dengan demikian poyek itu bisa selesai dalam beberapa hari. Tulisan Krakatau bisa kupilih karena tulisan ini lebih santai dibanding dengan pr lain. 

Makan siang kurencanakan aku keluar dari hotel, berjalan ke arah mini mart Buana, jalan hanya beberapa menit sudah bertemu. Pas di pertigaan jalan aku meliht ada warung yang menuliskan menu gado-gado di bagian depan. Kembali dari mini mart aku masuk ke warung itu. Orang-orang di seberang jalan berteriak kalau warung itu tutup. Katanya yang ngelola sedang pulang kampong. Oke deh.

Aku pun jalan terus, sampai ketemu warung lagi. Aku bertanya makanan apa yang mereka sediakan. Seorang ibu muda yang sedang duduk merapikan bunga-bunga mengatakan kalau mereka tak punya makanan. Aku bertanya lagi di mana kalau ingin beli nasi campur khas Bali. Dia bilang agak jauh, terserah ke kanan atau ke kiri arahnya bakal ada nasi campur di jual di pinggir jalan. Bukan agak jauh, tapi jauh.

Jadi aku membatalkan keinginan makan di luar hotel. Aku sudah membeli roti isi coklat, memakannya sambil jalan kembali ke hotel, dan membayangkan ingin makan apa nanti.
Dua roti amblas di perut. Aku ambil buku, dan… tertidur. Hehehe… bagus sekali hidup seperti ini. Bangun pukl 2 aku dengan ogah ke kantin hotel. Serampangan memesan nasi putih, tahu dan tempe goreng, serta sambel. Dengan enggan melihat sepiring nasi itu ketika disodorkan ke meja depan kamar. Tapi begitu aku merasakan sambelnya, sambel bali yang tidak pedas, dengan cabe dan bawang yang dipotong-potong, wihhh… enak. Jadilah semuanya habis tandas tak tersisa. Nikmat juga.

Seorang ibu yang duduk di pondok dekat pantai menawarkan jasa pijat. Kayaknya menarik juga, tapi tidak sekarang ya. Usai makan aku ambil novel GB, Kampung Tomo, dan mulai membaca. Buku ini sudah ada di tanganku beberapa minggu, kukira sebulan lebih, tapi aku belum sempat membacanya. Ini saat yang tepat untuk membaca, tempat yang tepat dan waktu yang tepat. 

Sopir yang menjemput partnerku dari bandara akan menemani sebentar kalau kami ingin pergi. Rencana ke Pura Lempuyang kami batalkan karena sudah sore, beralih ke perayaan melasti di pantai Amed. Sayangnya begitu sampai sana orang-orang yang merayakan melasti sudah bubar. Toh kami dapat sisa-sisanya. Pawai sedikit, music sedikit, bekas sesaji dll.

Makan malam dengan nasi campur bali seharga 10 ribu yang kata kata partnerku terlalu banyak mengandung CO2 yang tercampur di dalamnya. Huhuhu… dasar bule. Ndak doyan makanan enak. Hehehe...

Wednesday, April 04, 2018

Residensi Penulis yang Gagal (2): Benar-benar Pulau Dewata.


13 Maret 2018

Pesawatku akan terbang jam 07.25, Garuda dari Bandara Raden Intan, Bandarlampung menuju Jakarta. Transit sekitar 1 jam lalu lanjut Denpasar pada 09.25. Aku akan tiba di Bali pada 12.25 waktu setempat. 

Pagi-pagi bangun pukul 04.30, yang kubayangkan adalah masak bobor sawi putih, membuat dadar jagung dan menggoreng tahu. Tapi tak terlaksana. Huhuhu. Di ranselku sudah ada baju 5 stel, baju tipis dan pendek, tanpa celana panjang. Semua hanya celana pendek. Buku-buku yang kubawa sudah terselip, salah satunya Kampung Tomonya GB. Kamera kecil, HP dan dompet.

Pukul 6 baru bisa berangkat. Ini terlalu mepet tapi aku tidak terlal kuatir, aku sudah check in online, hanya perlu drop bagasi lalu mendapatkan boarding pass untuk masuk pesawat. Dan untungnya aku tak perlu menunggu terlalu lama di bandara. Sebelum berangkat Mas Hendro mengingatkan sandal jepit yang kupakai.

"Aku akan memakai ini sepanjang waktu."
Hmmm, Mas Hen sempat memandang tak percaya melihat kaki di atas sandal jepit warna biru yang sudah tipis dengan warna buluk. Tapi dia tidak koment lagi. Mungkin dia membayangkan aku satu-satunya penumpang Garuda yang katrok ndesit tak bisa dipandang. Huhuhu.

Pesawat hampir tepat waktu, hanya terlambat sekitar 3 – 4 menit. Cuaca tidak terlalu bagus tapi penerbangan yang bagus walau mengalami guncangan beberapa kali karena mendung. Apalagi saat hampir sampai di cengkareng. Awan cukup tebal dan gelap. Guncangan cukup kuat tapi mendarat dengan mulus di soetta.
Perjalanan ke Denpasar lebih kuat lagi guncangane. Pilot bilang: "Kita akan melewati cuaca yang sangat buruk. Silakan kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman." Huhuhu… segitunya ya dia harus kasih pengumuman. Asem ki. Maka doa Bapa Kami dan Salam Maria berluncuran dari hatiku. Tuhan, ke dalam tanganMu kuserahkan jiwaku. Lalu berderet niat supaya menjadi orang yang lebih baik. Akan baik sama siapa saja. Akan ramah pada siapa pun. Akan memperbaiki niat-niat jahat dll. Dll. Huhuhu…

Kami mendarat di Ngurah Rai dengan bantingan di aspal landasan terbang. Kuat banget hoi. Kukira pilotnya terlalu buru-buru sehingga begitu efeknya ke proses landing. Hehehe…
Begitu pesawat berhenti, aku membuka hp. Ini nyalahin pengumuman mereka sih. Diumumkan dengan jelas: penumpang belum boleh mengaktifkan hp sampai tiba di gedung kedatangan.

Begitu kubuka ada pesan dari partnerku selama residensi di Bali: "Penerbanganku dibatalkan. Jadi malam ini masih tidur di Sumba. Telpon begitu mendarat ya."
Walah. Piye to.

Aku telpon sambil menunggu bagasi. Ya, apa boleh buat. Hari pertama di Bali akan kulalui sendiri. Taksi kuperoleh dengan kesepakatan ongkos 600 ribu untuk menuju Vila Wawa Wewe II di Karangasem, Amed. Bali Timur. Sekitar 3 jam perjalanan dari bandara. Cukup jauh juga. Sembari berjalan ke tempat parkir bandara, aku sempatin beli nasi campur. Weh, hanya 6000 sebungkus. Plus air minum. Aku yakin pasti akan kelaparan di jalan walau di pesawat sudah dijamu oleh Garuda dengan nasi ayam.

Sampai di Wawa Wewe, hoaa… aku suka tempat ini. Terpencil. Sepi. Terlalu mewah bagiku tapi aku janji akan menikmatinya. Aku akan sangat menikmatinya.
Aku memulai menikmatinya dengan memesan mi rebus ayam sayuran. Ini menu yang cocok untuk makan sore. Angin terasa dingin. Mungkin akan hujan lebat nanti malam. Usai makan aku sempatin jalan ke pantai, hanya dengan menuruni beberapa anak tangga aku sudah sampai ke pantai. Pantai milikku sendiri karena tak ada orang lain di pantai itu. Duduk di sana tanpa matahari. Yalah, ini sisi timur, menghadap ke timur, matahari sudah jauh di barat sana. Di sisi lain pulau Dewata.
Malam ini aku tak punya keinginan untuk melakukan apa pun. Aku telpon ke sopir memastikan partnerku dijemput oleh Kadek, sopir taksiku tadi, di bandara lalu kami akan jalan ke suatu tempat tanggal 14 Maret itu sampai malam. Lalu aku telpon ke Bernard dir rumah untuk memastikan dia baik-baik saja. Juga mengabarkan kalau aku baik-baik saja.
Setelah itu mengetik sebentar beberapa hal. Sebelum akhirnya tidur. Tidur yang sangat awal. Masih pukul 19.30. alias masih jam 6.30 kalau aku di lampung. Wah. Sangat mewah rupanya liburan yang kudapatkan ini.

Residensi Penulis yang Gagal (1): Bali, I'm coming!

Aku menulis bagian-bagian ini selama perjalanan. Aku menyebutnya sebagai residensi penulis yang gagal karena niat awal ketika perjalanan ini dirancang, tujuan utamanya adalah untuk menulis di salah satu sudut Bali. Tapi ternyata aku tak menghasilkan tulisan selain carik-carik yang akan kuposting ini. Toh aku menikmatinya dan mesti tetep mempublikasikannya sebagai bentuk pertanggungjawabanku terhadap 'sang sponsor'ku sayang tersayang yang sudah memberikan seluruh fasilitas selama perjalanan Lampung - Bali pulang pergi serta seluruh akomodasi. Aku hanya sangu sekitar satu juta rupiah, yang masih sisa beberapa lembar rupiah di kantongku saat aku kembali ke rumah. So, thank you so much, my dear pine. Ini adalah catatan harianku yang sempat kutuliskan di antara hari-hari luar biasa itu:


12 Maret 2018

Aku memulainya hari ini. Hari terakhir di Lampung dalam minggu ini sebelum aku menikmati atau tidak menikmati cutiku selama dua minggu mendatang. Hari ini aku harus menyiapkan beberapa hal di meja kerjaku. Daftar sudah kubuat untuk kulakukan hari ini di meja kantor, kukerjakan di sela-sela pekerjaan utamaku yang tentu saja harus kurapikan sebelum aku pergi. Pertama, memastikan aku sudah check in online untuk penerbanganku besok. Aku lakukan sebentar dengan beberapa gangguan pada sinyal wifi kantor yang tidak bagus.

Wawa Wewe II, Amed, Karangasem, Tujuan Residensi
Garuda penerbangan pagi selesai dikonfirm untuk check in. Aku memilih tempat duduk dekat jendela, di bagian tengah agak ke belakang. Ini akan memudahkanku untuk melihat luar jendela. Nomor yang sama untuk Lampung – Jakarta dan Jakarta – Denpasar. Aku tidak perlu mencetak boarding pass karena seperti pengalaman-pengalaman lalu nanti juga harus cetak lagi di bandara. Fix. Baris pertama sudah kucoret. Done.

Baris kedua, confirm hotel. Wawa wewe II, Amed Karangasem. Pak Gedhe yang menerima teleponku mengulang booking hotel: Dua kamar ocean view siap untuk 5 malam. "Sampai jumpa besok." Sapanya ramah. 

Aku membuka website sembari berbincang lewat telepon dengan pak Gedhe. Lokasi di Bali Timur. Ada pantai privat. Restoran buka 24 jam. Ini penting karena aku tidak ingin banyak bergerak selama di Amed. Jika ada yang menarik, aku akan mengikuti acara-acara yang ada. Jika tidak, aku akan berdiam di hotel untuk membaca, menulis atau jalan di sekitar situ. Pertimbangan untuk segala keputusan : aku suka atau tidak suka.

Untuk sekarang ini, minimal saat aku menuliskan rencana-rencana ini, aku sedang hanya ingin tidur, tiduran. Tak usah bergerak tak usah bersuara. Tentu saja sebuah outline novel akan kulengkapi sambil menikmati semua itu: Kisah mencari cinta. Huhuhu... Rencana yang tidak jelas sama sekali. Tapi aku memastikan buku-buku yang ingin kubawa, juga laptop yang siap untuk membantuku bekerja, serta kamera dan HP.

Confirm tiket sudah, hotel sudah, sekarang urusan sangu. Aku hanya membawa satu juta yang kuambil dari ATM, dan menyelipkannya hati-hati di dompetku. Selain itu ada beberapa receh yang aku tak sempat hitung ada di sana.