Thursday, April 12, 2018

Residensi Menulis yang Gagal (4): Hari yang Santai


15 Maret 2018

Pagi di hari ini aku bangun dengan santai. Tanpa cuci muka langsung lari ke pantai. Njebur dulu ke laut, sebatas mata kaki saja. Jalan sepanjang pantai ke kanan dan kekiri, menyentuh air, batu, matahari... ooo... surga, surga di Pulau Dewata.

Setelah puas aku duduk di kursi teras menuliskan sesuatu di halaman ini. Menyelesaikan satu halaman, kuselang seling dengan membaca, minum. Sekitar jam 9 aku beranjak ke pantry. Makan pagi yang kupilih roti dan telur ceplok. Itu sangat cukup plus jus lemon tanpa gula.

Partnerku bilang kalau dia sudah pesan motor untuk besok saat upacara ogoh-ogoh di Desa Culik besok. Dan dia juga sudah pesan motor untuk ke Lempuyang hari ini. Dia ingin jalan ke sana dan kalau aku berminat, dia menawariku untuk ikut.

Tanpa pikir panjang aku menolak tawaran it. Aku sama sekali tidak berminat untuk jalan. Jadi setelah dia pergi, aku membaca saja, meneruskan Kampung Tomo, lalu berlanjut ke Cantik itu Luka dari Eka Kurniawan. Sekali membuka halaman pertama, aku tak bisa berhenti dari buku ini. Tak bisa lepas.

Makan siang, kami pesan makan siang di restoran hotel. Tempe kari. Lezattt… tambah cap cay kuah. Ohya, makanan di Wawa Wewe ini dibuat secara mendadak segera setelah kita pesan. Jadi sangat segar. Enak. Panas.

Obrolan sana sini pasti muncul tapi sepanjang siang sisanya kuhabiskan lagi dengan membaca Eka. Sore mencebur lagi ke pantai sebelum mandi. Hari hari yang santai semacam ini harus benar-benar kunikmati. Sore acara membaca ini berseling dengan buah-buahan musiman dari Indonesia, duku, blimbing, manggis sambil ngobrol terputus-putus. Kalimat-kalimat terputus. Cerita yang menggantung. 

Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal itu saat kejadian. Tapi seusai obrolah, aku sering menyesal dengan percakapan yang tak selesai macam itu. Ah, ada apa denganku? Kecenderungan seperti ini kurasakan juga dengan orang-orang lain. Begitu takutnyakah diriku untuk masuk lebih dalam? Terjun dalam kedalaman? Aku seperti orang yang tidak bebas. Seperti orang yang terpenjara oleh pikiran sendiri, hati sendiri… aku hanya tersenyum tanpa makna. Rasanya jadi kayak oon sekali. Sesekali aku bercerita tentang suatu hal, tapi aku juga tak menuntaskannya sebagai cerita yang utuh.

Ketika ada obrolan tentang kematian, Nepal ... pikiranku malah pada: bagaimana supaya aku cepat pergi ke kasur, tidur, diem. Atau melakukan sesuatu sendirian. Tak harus menanggapi hal-hal semacam itu. Merasa itu bukan urusanku. Ladalah. Segitu egoisnya kah aku?

Suatu titik ketika aku tak lagi bisa menahan, memang itu benar-benar kulakukan. Aku memutuskan percakapan, masuk kamar, membersihkan diri, naik ke kasur. Membaca pesan-pesan di wa dan sms selintas-selintas tanpa minat untuk membalas, lalu melanjutkan bacaan dari Eka Kurniawan. Hanya beberapa saat, lalu mematikan lampu baca dan tidur.
Malam ini begitu tenang. Ombak nyaris tidak terdengar. Atau telingaku sudah terbiasa?

Friday, April 06, 2018

Residensi Penulis yang Gagal (3): Memulai dengan Semangat


14 Maret 2018

Meja kerja untuk beberapa hari. Keren.
Sebelum aku tidur di hari pertama di Amed, aku yakin pada tengah malam pasti terbangun. Dan itu memang terjadi. Terbangun beberapa saat untuk kencing lalu tidur lagi dengan sukses sampai sekitar jam 4.30. Hujan deras di luar. Bunyi ombak berdebur bercampur dengan hujan yang menghantam genteng. Aku membuka tirai kamar yang menghadap ke pantai, mematikan semua lampu, gelap dan menikmati suara hujan bercampur ombak. Setengah tidur, setengah melek.

Bangun dengan ogah pada pukul 7 karena kebelet. Kulanjutkan dengan mandi sekalian mengingat malam kemarin tidak mandi. Mandi bersih, keramas, ganti baju. Segar nian.
Buka laptop lagi dunk. Mendengarkan music Anji yang romantic, dan mengetik lagi beberapa kalimat. Aku lihat di luar masih gerimis. Sayang sekali. Kamar ini menghadap ke Utara. Timur di sebelah kanan. Kalau cuaca bagus pasti aku bisa melihat matahari terbit di kanan sana. Tapi toh tak masalah. Aku tetap bisa menikmati pagi.

Sarapan yang ditawarkan hotel pukul 7.30 – 10.00 dengan pilihan menu. Aku pilih Pisang goreng. Jus lemon tanpa gula. Kopi pahit. Itu sangat cukup untuk pagiku. Saat sarapan ada pesan masuk dari Kyai Faizi. Dia ini seorang kyai dari Guluk-guluk Madura yang beberapa waktu mampir ke Lampung saat dia akan ke Jamnas Bismania di Sari Ringgung. Dia memastikan bahwa aku tak masalah dicantumkan nama dalam postingan dia. Mungkin dia kuatir aku akan keberatan kalau namaku digunakan. Padahal aku tak ada masalah apa pun soal itu. Jadi aku jawab: tak masalah kyai. Silakan saja. Sekaligus aku kabari kalau fbku sedang tidak aktif selama beberapa hari ini karena sedang menyepi di Karangasem.

Usai gitu Fendi telpon. (Ini kok orang-orang Madura kontak aku di hari yang sama ya. Hehehe) Dia ini biang rusuh kalau mau nyepi-nyepi seperti ini. Dia sering ndak paham situasi kalau sedang ada mau. Ndak bisa melihat situasi dan ndak peka. Hmmm… tuduhan yang sadis dan tak mendasar dariku. Hehehe. Secara dia ni orang yang baik dan sebenarnya sangat berperasaan. Secara aku juga malas menceritakan situasi-situasiku. Hehehe. 

Bagian akhir dari melasti.
Nah, kabar dari parnertku bahwa dia akan datang lebih awal 30 menit. Pesawatnya sudah siap berangkat saat kontak aku. Jadi aku telpon Kadek, si sopir untuk stand by lebih awal. Itu kabar yang baik karena kami akan punya waktu lebih lama untuk jalan dengan Kadek ke suatu tempat di sekitar Karangasem. Sip.

Sembari menunggu ah tidak, aku tak harus menunggu. Jadi aku melakukan rencanaku untuk Bali. Menulis lagi, mengetik. Residensi menulis lho. Jadi ya harus menulis dong. Hehehe. Harian ini akan menjadi calon tulisan panjang yang bisa dibuat menjadi satu buku. Tapi pekerjaanku untuk menyelesaikan tulisan Krakatau sangat harus dikejar. Dengan demikian poyek itu bisa selesai dalam beberapa hari. Tulisan Krakatau bisa kupilih karena tulisan ini lebih santai dibanding dengan pr lain. 

Makan siang kurencanakan aku keluar dari hotel, berjalan ke arah mini mart Buana, jalan hanya beberapa menit sudah bertemu. Pas di pertigaan jalan aku meliht ada warung yang menuliskan menu gado-gado di bagian depan. Kembali dari mini mart aku masuk ke warung itu. Orang-orang di seberang jalan berteriak kalau warung itu tutup. Katanya yang ngelola sedang pulang kampong. Oke deh.

Aku pun jalan terus, sampai ketemu warung lagi. Aku bertanya makanan apa yang mereka sediakan. Seorang ibu muda yang sedang duduk merapikan bunga-bunga mengatakan kalau mereka tak punya makanan. Aku bertanya lagi di mana kalau ingin beli nasi campur khas Bali. Dia bilang agak jauh, terserah ke kanan atau ke kiri arahnya bakal ada nasi campur di jual di pinggir jalan. Bukan agak jauh, tapi jauh.

Jadi aku membatalkan keinginan makan di luar hotel. Aku sudah membeli roti isi coklat, memakannya sambil jalan kembali ke hotel, dan membayangkan ingin makan apa nanti.
Dua roti amblas di perut. Aku ambil buku, dan… tertidur. Hehehe… bagus sekali hidup seperti ini. Bangun pukl 2 aku dengan ogah ke kantin hotel. Serampangan memesan nasi putih, tahu dan tempe goreng, serta sambel. Dengan enggan melihat sepiring nasi itu ketika disodorkan ke meja depan kamar. Tapi begitu aku merasakan sambelnya, sambel bali yang tidak pedas, dengan cabe dan bawang yang dipotong-potong, wihhh… enak. Jadilah semuanya habis tandas tak tersisa. Nikmat juga.

Seorang ibu yang duduk di pondok dekat pantai menawarkan jasa pijat. Kayaknya menarik juga, tapi tidak sekarang ya. Usai makan aku ambil novel GB, Kampung Tomo, dan mulai membaca. Buku ini sudah ada di tanganku beberapa minggu, kukira sebulan lebih, tapi aku belum sempat membacanya. Ini saat yang tepat untuk membaca, tempat yang tepat dan waktu yang tepat. 

Sopir yang menjemput partnerku dari bandara akan menemani sebentar kalau kami ingin pergi. Rencana ke Pura Lempuyang kami batalkan karena sudah sore, beralih ke perayaan melasti di pantai Amed. Sayangnya begitu sampai sana orang-orang yang merayakan melasti sudah bubar. Toh kami dapat sisa-sisanya. Pawai sedikit, music sedikit, bekas sesaji dll.

Makan malam dengan nasi campur bali seharga 10 ribu yang kata kata partnerku terlalu banyak mengandung CO2 yang tercampur di dalamnya. Huhuhu… dasar bule. Ndak doyan makanan enak. Hehehe...

Wednesday, April 04, 2018

Residensi Penulis yang Gagal (2): Benar-benar Pulau Dewata.


13 Maret 2018

Pesawatku akan terbang jam 07.25, Garuda dari Bandara Raden Intan, Bandarlampung menuju Jakarta. Transit sekitar 1 jam lalu lanjut Denpasar pada 09.25. Aku akan tiba di Bali pada 12.25 waktu setempat. 

Pagi-pagi bangun pukul 04.30, yang kubayangkan adalah masak bobor sawi putih, membuat dadar jagung dan menggoreng tahu. Tapi tak terlaksana. Huhuhu. Di ranselku sudah ada baju 5 stel, baju tipis dan pendek, tanpa celana panjang. Semua hanya celana pendek. Buku-buku yang kubawa sudah terselip, salah satunya Kampung Tomonya GB. Kamera kecil, HP dan dompet.

Pukul 6 baru bisa berangkat. Ini terlalu mepet tapi aku tidak terlal kuatir, aku sudah check in online, hanya perlu drop bagasi lalu mendapatkan boarding pass untuk masuk pesawat. Dan untungnya aku tak perlu menunggu terlalu lama di bandara. Sebelum berangkat Mas Hendro mengingatkan sandal jepit yang kupakai.

"Aku akan memakai ini sepanjang waktu."
Hmmm, Mas Hen sempat memandang tak percaya melihat kaki di atas sandal jepit warna biru yang sudah tipis dengan warna buluk. Tapi dia tidak koment lagi. Mungkin dia membayangkan aku satu-satunya penumpang Garuda yang katrok ndesit tak bisa dipandang. Huhuhu.

Pesawat hampir tepat waktu, hanya terlambat sekitar 3 – 4 menit. Cuaca tidak terlalu bagus tapi penerbangan yang bagus walau mengalami guncangan beberapa kali karena mendung. Apalagi saat hampir sampai di cengkareng. Awan cukup tebal dan gelap. Guncangan cukup kuat tapi mendarat dengan mulus di soetta.
Perjalanan ke Denpasar lebih kuat lagi guncangane. Pilot bilang: "Kita akan melewati cuaca yang sangat buruk. Silakan kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman." Huhuhu… segitunya ya dia harus kasih pengumuman. Asem ki. Maka doa Bapa Kami dan Salam Maria berluncuran dari hatiku. Tuhan, ke dalam tanganMu kuserahkan jiwaku. Lalu berderet niat supaya menjadi orang yang lebih baik. Akan baik sama siapa saja. Akan ramah pada siapa pun. Akan memperbaiki niat-niat jahat dll. Dll. Huhuhu…

Kami mendarat di Ngurah Rai dengan bantingan di aspal landasan terbang. Kuat banget hoi. Kukira pilotnya terlalu buru-buru sehingga begitu efeknya ke proses landing. Hehehe…
Begitu pesawat berhenti, aku membuka hp. Ini nyalahin pengumuman mereka sih. Diumumkan dengan jelas: penumpang belum boleh mengaktifkan hp sampai tiba di gedung kedatangan.

Begitu kubuka ada pesan dari partnerku selama residensi di Bali: "Penerbanganku dibatalkan. Jadi malam ini masih tidur di Sumba. Telpon begitu mendarat ya."
Walah. Piye to.

Aku telpon sambil menunggu bagasi. Ya, apa boleh buat. Hari pertama di Bali akan kulalui sendiri. Taksi kuperoleh dengan kesepakatan ongkos 600 ribu untuk menuju Vila Wawa Wewe II di Karangasem, Amed. Bali Timur. Sekitar 3 jam perjalanan dari bandara. Cukup jauh juga. Sembari berjalan ke tempat parkir bandara, aku sempatin beli nasi campur. Weh, hanya 6000 sebungkus. Plus air minum. Aku yakin pasti akan kelaparan di jalan walau di pesawat sudah dijamu oleh Garuda dengan nasi ayam.

Sampai di Wawa Wewe, hoaa… aku suka tempat ini. Terpencil. Sepi. Terlalu mewah bagiku tapi aku janji akan menikmatinya. Aku akan sangat menikmatinya.
Aku memulai menikmatinya dengan memesan mi rebus ayam sayuran. Ini menu yang cocok untuk makan sore. Angin terasa dingin. Mungkin akan hujan lebat nanti malam. Usai makan aku sempatin jalan ke pantai, hanya dengan menuruni beberapa anak tangga aku sudah sampai ke pantai. Pantai milikku sendiri karena tak ada orang lain di pantai itu. Duduk di sana tanpa matahari. Yalah, ini sisi timur, menghadap ke timur, matahari sudah jauh di barat sana. Di sisi lain pulau Dewata.
Malam ini aku tak punya keinginan untuk melakukan apa pun. Aku telpon ke sopir memastikan partnerku dijemput oleh Kadek, sopir taksiku tadi, di bandara lalu kami akan jalan ke suatu tempat tanggal 14 Maret itu sampai malam. Lalu aku telpon ke Bernard dir rumah untuk memastikan dia baik-baik saja. Juga mengabarkan kalau aku baik-baik saja.
Setelah itu mengetik sebentar beberapa hal. Sebelum akhirnya tidur. Tidur yang sangat awal. Masih pukul 19.30. alias masih jam 6.30 kalau aku di lampung. Wah. Sangat mewah rupanya liburan yang kudapatkan ini.

Residensi Penulis yang Gagal (1): Bali, I'm coming!

Aku menulis bagian-bagian ini selama perjalanan. Aku menyebutnya sebagai residensi penulis yang gagal karena niat awal ketika perjalanan ini dirancang, tujuan utamanya adalah untuk menulis di salah satu sudut Bali. Tapi ternyata aku tak menghasilkan tulisan selain carik-carik yang akan kuposting ini. Toh aku menikmatinya dan mesti tetep mempublikasikannya sebagai bentuk pertanggungjawabanku terhadap 'sang sponsor'ku sayang tersayang yang sudah memberikan seluruh fasilitas selama perjalanan Lampung - Bali pulang pergi serta seluruh akomodasi. Aku hanya sangu sekitar satu juta rupiah, yang masih sisa beberapa lembar rupiah di kantongku saat aku kembali ke rumah. So, thank you so much, my dear pine. Ini adalah catatan harianku yang sempat kutuliskan di antara hari-hari luar biasa itu:


12 Maret 2018

Aku memulainya hari ini. Hari terakhir di Lampung dalam minggu ini sebelum aku menikmati atau tidak menikmati cutiku selama dua minggu mendatang. Hari ini aku harus menyiapkan beberapa hal di meja kerjaku. Daftar sudah kubuat untuk kulakukan hari ini di meja kantor, kukerjakan di sela-sela pekerjaan utamaku yang tentu saja harus kurapikan sebelum aku pergi. Pertama, memastikan aku sudah check in online untuk penerbanganku besok. Aku lakukan sebentar dengan beberapa gangguan pada sinyal wifi kantor yang tidak bagus.

Wawa Wewe II, Amed, Karangasem, Tujuan Residensi
Garuda penerbangan pagi selesai dikonfirm untuk check in. Aku memilih tempat duduk dekat jendela, di bagian tengah agak ke belakang. Ini akan memudahkanku untuk melihat luar jendela. Nomor yang sama untuk Lampung – Jakarta dan Jakarta – Denpasar. Aku tidak perlu mencetak boarding pass karena seperti pengalaman-pengalaman lalu nanti juga harus cetak lagi di bandara. Fix. Baris pertama sudah kucoret. Done.

Baris kedua, confirm hotel. Wawa wewe II, Amed Karangasem. Pak Gedhe yang menerima teleponku mengulang booking hotel: Dua kamar ocean view siap untuk 5 malam. "Sampai jumpa besok." Sapanya ramah. 

Aku membuka website sembari berbincang lewat telepon dengan pak Gedhe. Lokasi di Bali Timur. Ada pantai privat. Restoran buka 24 jam. Ini penting karena aku tidak ingin banyak bergerak selama di Amed. Jika ada yang menarik, aku akan mengikuti acara-acara yang ada. Jika tidak, aku akan berdiam di hotel untuk membaca, menulis atau jalan di sekitar situ. Pertimbangan untuk segala keputusan : aku suka atau tidak suka.

Untuk sekarang ini, minimal saat aku menuliskan rencana-rencana ini, aku sedang hanya ingin tidur, tiduran. Tak usah bergerak tak usah bersuara. Tentu saja sebuah outline novel akan kulengkapi sambil menikmati semua itu: Kisah mencari cinta. Huhuhu... Rencana yang tidak jelas sama sekali. Tapi aku memastikan buku-buku yang ingin kubawa, juga laptop yang siap untuk membantuku bekerja, serta kamera dan HP.

Confirm tiket sudah, hotel sudah, sekarang urusan sangu. Aku hanya membawa satu juta yang kuambil dari ATM, dan menyelipkannya hati-hati di dompetku. Selain itu ada beberapa receh yang aku tak sempat hitung ada di sana.

Monday, March 12, 2018

Devin Nodestyo dengan JOHN THE BANDIT-nya

Judul buku: John the Bandit
Penulis: Devin Nodestyo
Desain cover dan tata letak: Devin Nodestyo
Penerbit: Lampung Literature
Cetakan pertama: Januari 2018
ISBN: 9786021419151

Ini buku kedua dalam tumpukan buku karya penggiat Kober. Buku yang ditulis oleh Devin, berjudul John the Bandit. Devin membuat desain sendiri untuk sampulnya. Pastilah dia sudah mempertimbangkan dengan matang desain yang dipilihnya ini. Judulnya serem: JOHN THE BANDIT. Ini mengingatkanku pada buku komik yang dulu pernah kubaca seperti Lucky Luke. Dan lihatlah, Devin memilih warna dasar pink! Weih. Ini Devin banget deh. Pink yang digoresnya dengan hitam dan coklat tua untuk huruf pada tulisan judulnya.

Warna pink buram untuk buku tentang bandit? Huhuhu... cocok. Apalagi ketika aku sampai pada halaman terakhir novel, halaman 143:

"Kau mau ke mana?" tanya Jean sambil menoleh ke arah John.
"Entahlah. Mungkin akan memulai kehidupan yang baru," jawab John setelah menaiki punggung Donkey.
"Di mana?"
"Di tempat yang paling aman."
Mereka telah di atas kuda.
"Jean, kau belum menjawab pertanyaanku tadi," kata John di atas kuda.
"Pertanyaan yang mana?"
"Apa isi doamu tadi? Kau menyinggungku dalam doamu?"
Jean diam sesaat. "Kejar aku, nanti akan kuberi tahu." katanya kemudian dia menepuk pinggul kudanya. Segera kudanya melaju kencang mendahului kuda John. Mereka saling berkejaran, berlari ke arah matahari jingga. ***

Nah, cocok kan? So sweet banget bagian akhir ini. Dan inilah bagian yang paling kusuka saat membaca novel Devin ini. Iyalah, secara aku ini kan cerpenis romantis, suka sekali membaca yang romantis. Kalau disodori kisah 'seram' petualangan bandit yang dar der dor, dipenuhi luka dan mayat, rasane yo piye gitu. Hehehe...

Tapi Devin berhasil mengulik rasa penasaranku saat memulai membaca novel ini. Selain pink buram dan hitam di sampul, dia meramu kisahnya dengan apik, dari satu langkah ke langkah berikutnya. Kadang mencekam, kadang membuat riang. Kukira Devin memang sudah lulus dari kelas menulis prosa yang digelutinya bertahun-tahun silam. Dan, ingat, Devin ini pelukis. Dia memindahkan kanvasnya pada lembaran-lembaran kertas novel ini. Dengan warna-warni kalimat 'lukisan' yang sah, indah.

Lihat saja paragraf awal novel ini:

Lelaki berkuda itu berhenti di depan gerbang kota Fort Worth. Ia bukan penduduk setempat, melainkan datang dari Arizona. Dari arah yang berlawanan, angin berhembus kencang menggandeng sekawanan awan hitam. Debu-debu berputar di udara lalu lenyap. Sesaat kemudian bulir-bulir hujan mulai turun. Sekumpulan semak belukar bergoyang menyambut kedatangan awan.

Devin melukis dalam novel ini hingga menjadi 'komik' berupa kalimat-kalimat yang mengalir, membentuk alur cerita. Aku berharap dia membuat seri kedua dari John the Bandit ini, dengan kisah yang lain. Dan karena harapan itu, aku jadi menemukan seharusnya Devin membuat judul tertentu di yang menyertai John the Bandit-nya ini.

Memang sih, di bagian akhir seperti yang kutuliskan tadi seolah-olah John sudah bertobat, tidak lagi menjadi bandit. Tapi, memangnya bandit itu benar-benar bisa dimatikan dalam John hanya karena doa nenek penjual bunga,"Semoga kalian diliputi oleh cinta kasihNya."

Aku mengenal banyak bandit, mereka bisa hidup dalam pertobatan sekaligus melipat gandakan jiwa banditnya. Huhuhu... Vin. Yuk ah, buat seri kedua dari si John.

Saturday, March 10, 2018

Puisi Sabtu 18: SANAT IKAN-IKAN karya Hasmidi


SANAT IKAN-IKAN


Suatu sore aku melihatmu sedang memeluk
Sampan pulang
Memanggul tawa anak-anak ikan
Serta memulangkan luka ke tempat senja

Kau juga memungut teduh meski terjaga sebelum subuh
Sebelum ikan pulang ke kampung-kampung
Tubuhmu yang laut itu tak pernah berpesan

Tentang pelancong yang meletakkan kelapa udang
Membuatkan parit besar di samping jalan
Menyusupkan sepasang mata
Tak menyentuh batu-karang

Suatu sore aku juga melihat ikan terpejam
Sehabis mandi air pandan
Lalu dikipasnya bara dan duka terdiam
Di sana mengalahkan angin

Sumenep, 2/3/2018 

---------------


Hasmidi, Alumni PP. Al- Ishlah dan STKIP PGRI Sumenep. Aktif di LKSB Pangestoh Net_Think Community Sumenep, Komunitas Kampoeng Jerami dan Komunitas Seni Nusantara. Bekerja di SMAN 1 BLUTO dan SDK Sang Timur.

Friday, March 09, 2018

Membaca PAYUNG DARA karya Yulizar Fadli Lubay


Judul buku    : Payung Dara
Penulis          : Yulizar Fadli Lubay
Desain cover : Rudiansyah Putra
Tata letak       : Devin Nodestyo
Isi                  : 120 halaman
Ukuran          : 14 X 20 cm
Penerbit         : Lampung Literature
Cetakan I       : Januari 2018
ISBN             : 9786021419168

Sekitar sebulan lalu, tiga buku dari tiga sekawan Kober sampai ke rumahku. Bertumpuk: Kampung Tomo dari Alexander GB, John the Bandit dari Devin Nodestyo dan Payung Dara dari Yulizar Fadli. Hmmm... hmmm... hmmm.... Aku membalik-balik ketiga buku itu. Gembira dan syukur mendominasi perasaanku. Aku lupa apakah aku sudah mengucapkan terimakasih pada mereka atau belum, tapi kemudian buku itu kusurukkan ke dalam ranselku, ketiga-tiganya dan mengikutiku ke mana aku pergi.

Payahnya, waktu membacaku sangat terbatas. Kesempatan membaca baru kuperoleh saat aku nginep beberapa hari di Kemiri, Jakarta beberapa saat yang lalu. Yang terjepit jemariku saat kukeluarkan dari ransel adalah novel dari Yulizar, Payung Dara. Aku tak menyangka butuh waktu yang sangat laammmaaaa untuk menyelesaikan buku ini. Sampai lusuh sampulnya baru bisa kuselesaikan tadi pagi.

Nah, apa yang disajikan oleh novel 120 halaman ini? Iswadi dan Inggit sudah memberikan pujian di bagian depan buku. "Memberi kita sebuah akhir yang tak terduga, yang terasa musykil;"Seekor kucing hitam berjalan lambat.". Sebuah akhir yang memaksa kita memutar ulang seluruh puzzle peristiwa." Demikian dikatakan Iswadi. Di bawahnya ada komentar Inggit,"Bagi yang ingin mengelak dari segala jenis kemonotonan, baik hidup yang monoton maupun kisah-kisah monoton yang dijejalkan televisi setiap harinya, buku ini perlu dibaca."

Aku ingin memberikan pujian juga, tapi tunggu dulu. Novel ini tak boleh dilewatkan hanya dengan pujian. Yulizar harus menerima juga 'kenyataan' yang dialami oleh pembacanya saat menikmati novel ini. Dan, Yulizar sangat tidak beruntung karena aku menerima novel ini di saat sedang mengalami vertigo akut, deadline beberapa kerjaan yang setengah mawut dan kondisi keuangan yang nyaris membuatku kalut. Nah, komentar apa coba yang bisa diharapkan dari pembaca yang seperti itu. Hehehe...

Pertama, memegang novel ini aku kembali ke cara bacaku di sekitar 30-an tahun lalu. Saat aku masih SD tapi curi-curi kesempatan membaca koleksi ibu mulai dari Freddy, Narrow, Christy, Sidney dan lain-lain. Cara bacaku saat itu mirip seperti memindai, membaca cepat tiap halaman, sekilas-sekilas, nah ketika terasa gelenyar muncul dalam satu kalimat, aku akan membaca deretan kalimat sebelum dan sesudahnya dengan lebih cermat, hingga sampai di halaman di mana gelenyar itu hilang lagi. Begitu seterusnya. Bagian mana yang memunculkan gelenyar? Yang secara manusiasi memang membuat gelenyar, seperti dalam novel Yulizar yang ini pada bagian Patria dengan dirinya-sendiri, atau saat Patria berduaan dengan Willy atau Maruli dengan menyebut bagian-bagian tubuh tertentu, atau saat dituliskan tentang jawaban-jawaban atas penasaranku dan sebagainya. Macam tuh.

Kedua, novel ini bisa dikatakan ringkas, menceritakan peristiwa yang terjadi hanya dalam waktu yang pendek. Namun Payung Dara mencakup kisah yang panjang dan bahkan belum selesai. Pembukaannya, sebuah cerita tentang rusa dengan tanduknya. Setahuku, rusa betina tidak bertanduk, tapi Yulizar mengisahkan rusa betina yang bertanduk, tanduk emas hadiah dari rusa jantan. Huhuhu... si jantan yang berkelimpahan tanduk menghadiahkan tanduknya pada betina supaya betina semakin cantik. Huhuhu... (memangnya si betina begitu butuhnya untuk cantik? ih.) Itu menjadi pengantar sebelum Payung Dara masuk ke bab 1 dimana sudah mulai dikenalkan ada dirinya-sendiri yang bisa keluar dan kembali masuk ke tubuh Patria. Pada bagian akhir novel, kisah ini kembali muncul dan membuat diriku-sendiri -nya Patria muncul sebagai musuh. "Menggigit telinga kiriku dan mencekik leherku hingga aku nyaris pingsan." Antara awal dan akhir itu, Payung Dara menyajikan kisah-kisah kecil, sehari-hari, yang biasa dialami oleh seorang Patria dan juga tokoh-tokoh yang lain.

Ketiga, Yulizar membuat deskripsi-deskripsi pada banyak detail dalam novel ini. Sebagian di antaranya terasa absurd. "Aku menunduk memandangi tulisan yang huruf-hurufnya mulai membelah diri." Bacalah sendiri, kalian akan banyak menemukan hal-hal yang absurd dalam novel ini. Hmmm... Kalau sedang kena vertigo, hal-hal yang absurd itu seperti berlipat ganda efeknya. Membuat kepala seperti diputar lalu dijatuhkan untuk kemudian dipungut lagi dengan jari-jari kaki.

Keempat, novel ini sepertinya digunakan oleh Yulizar untuk menuangkan segala hal tentang 'kesukaan-kesukaannya', hmmm mungkin juga kecenderungan-kecenderungannya, wawasan-wawasannya dan sebagainya. Hehehe... maka nama-nama bermunculan, imajinasi-imajinasi, buku-buku, perjalanan dan sebagainya. Jadi, walau novel ini ringkas namun juga penuh berjejalan dengan segala hal seperti itu.

Kelima, maafkanlah kalau aku memakai cara baca seperti yang sudah kukatakan pada poin pertama tadi. Sehingga aku yang sedang vertigo akut, kerjaan mawut dan keuangan yang bikin kalut, tidak bisa menuliskan lagi alur cerita novel ini. Kalian harus baca sendiri supaya tahu alurnya. Ndak usah tanya ke aku. Hehehe...

Nah, bagian terakhir aku mesti katakan untuk Yulizar entah dia baca atau ndak,"Proficiat." Novel pertama ini akan abadi karena sudah dicetak dan tersebar ke tangan-tangan pembaca. Aku menunggu novel berikutnya, dan ingin gembira lagi karenanya. Untuk siapa pun yang lain, aku setuju yang dikatakan Inggit,"Buku ini perlu dibaca." Tak peduli vertigomu sembuh atau kambuh, pekerjaanmu selesai atau bikin lunglai, dan keuanganmu kosong atau plong, bacalah buku ini. Nikmatilah.

Wednesday, March 07, 2018

Leluasa Melewati JENDELA TANPA KACA milik Meisya Zahida


Saya tidak mengenal perempuan penulis puisi-puisi dalam buku ini. Mungkin namanya pernah kulihat selintasan di Facebook atau dalam beberapa antologi puisi bersama. Jadi ketika Fendi Kachonk, seorang penyair dari Sumenep, menghubungi untuk melihat kemungkinan saya menulis sesuatu untuk buku ini, saya bilang : “Saya akan membaca dulu tulisan-tulisannya. Kirimkanlah naskahnya. Jika saya tertarik, saya akan menulis sesuatu.”

Fendi tidak berlama-lama mengirimkan naskah itu tapi saya baru bisa membaca keesokan harinya. Seperti kebiasaan saya membaca puisi, saya akan membaca cepat seluruh naskah. Ini semacam memindai dengan mata dan hati. Yang menjadi ukuran adalah getaran yang muncul atau sandungan yang hadir pada kata, frase atau kalimat. Bukan sebagai sebuah puisi yang utuh atau sebuah buku puisi yang seluruh.
Sandungan yang pertama muncul ada pada puisi pertama berjudul Usai. Puisi ini menjatuhkan saya pada bait yang terakhir pada anak kalimat :
“Sebab jendela sudah tak berkaca.”
Lalu saya menemukan kata jendela di beberapa puisinya. Tidak hanya satu atau dua, tapi lebih. Jendela adalah bagian detail yang kecil pada sebuah ruang, atau rumah atau gedung. Sesuatu yang sangat domestik, dekat, internal, namun penting. Bayangkan kalau sebuah ruang tidak berjendela, pasti akan pengap dan gelap.
Saya tidak biasa membuat kesimpulan-kesimpulan dari puisi atau buku puisi, maka saya akan membebaskan diri mengatakan bahwa Meisya telah menulis apa yang dekat dengan dirinya. Apa yang ada dalam ruang lingkup hidupnya. Siapa pun melakukan hal ini saat menuliskan puisi. Bahkan ketika Meisya memakai kata-kata yang luas seperti lautan lepas atau sejenis itu, sama dengan siapa pun, kata itu menunjukkan dirinya, bagian dari kekayaan dirinya.
Saya membatasi diri untuk tidak mengambil puisi yang lain. Jadi marilah mencermati puisi di mana saya mendapatkan sandungan pertama saat membaca buku ini. Lengkapnya seperti ini :

USAI

Bunga-bunga gugur dari kelopaknya
Saat senja menutup cahaya
Ia redam ribuan aroma
Pada retak tanah dan udara
Gelap mengekalkan pekat
Tabir-tabir tak tersingkap
Seperti bibirmu mengatup rapat
,
Kau garisi senyap dengan tanda tak bertempat
Aku kehilangan warna
Memipih hikayat dengan sumbu yang mulai tersumbat
Kunang-kunang memburu waktu
Wajah kita beku
,
Hingga akhir memutus takdir
Untuk ada tak lagi mungkin
Biarkan kita mengucap dusta
Sebab jendela sudah tak berkaca
Kita, hanya lubang kecil
Belajar sembunyi dari yang ganjil

Catatan, 19 Feb '16

         Saya akan membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang bebas lepas dari kalimat yang menjadi sandungan bagi saya itu.

Biarkan kita mengucap dusta
Sebab jendela sudah tak berkaca

        Kalimat ini memberikan jawaban atas pertanyaan : Mengapa kita mengucap dusta? Jendela-jendela sudah tak berkaca. Kita bayangkan kalau jendela tanpa kaca. Ambang jendela akan terbuka lebar saat daun-daun jendela dibuka. Angin akan keluar masuk dengan leluasa. Bukan hanya angin, bahkan daun-daun atau kelopak bunga akan terbawa masuk ke dalam kamar atau ruang. Bahkan burung atau kucing bisa leluasa menyusup ke dalam rumah karena tidak ada kaca. Demikian pula benda-benda dari dalam rumah bisa terlempar keluar tanpa merasakan benturan tanpa mendapatkan halangan.
        Lalu bagaimana jika jendela memiliki kaca? Jendela itu bisa tetap terang benderang andai kaca yang digunakan kaca bening tanpa film. Kaca menjadi penghalang bagi angin dan juga benda-benda untuk melewati jendela, tapi kita masih bisa menangkap cahaya dari luar atau dari dalam ruangan. Kaca menjadi filter, penyaring, yang terpasang pada jendela sehingga ada ‘yang tersaring untuk masuk atau keluar’.
     Jadi kenapa harus berdusta sebab jendela yang ada tanpa kaca? Karena tanpa filter/penyaring? Kenapa dusta bisa menjadi salah satu yang disarankan saat tak ada saringan bagi lajunya angin?
       Ini yang ditunjukkan oleh Meisya, juga dia tulis sebagai penutup puisi di awal buku ini :

Kita, hanya lubang kecil
                Belajar sembunyi dari yang ganjil
               
      Ini adalah pengakuan pada keterbatasan ‘kita’, keterbatasan manusia. Sangat beruntung jika jendela kita memiliki kaca sehingga kita dilindungi dari angin dari badai dari hujan. Tapi kadang kita tak beruntung memiliki ‘pelindung’ semacam itu. Maka kita harus melindungi diri. Maka kalau melihat kalimat terakhir ini, yang dimaksud Meisya sebagai mengucap dusta, itu bukan persis bermaksud seperti ‘berdusta’ atau ‘berbohong’.
          Saya menangkap hal itu seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang lain dengan ‘memakai topeng’. Saat ada malapetaka, senyum yang terpasang di bibir. “Orang lain tak perlu melihat apa masalahku. Kalian cukup melihat senyumku.” Semacam ini. Mengucap dusta itu sama dengan memasang pertahanan diri, membuat diri sadar hanya sebagai lubang kecil, yang selalu belajar dari pengalaman-pengalaman pahit atau manis, termasuk belajar sembunyi dari peristiwa-peristiwa ganjil yang tidak dipahami. Toh tidak harus semua orang tahu yang sedang kita alami kan?
        Saya masih membebaskan diri untuk mengungkap pertanyaan-pertanyaan. Peristiwa ganjil macam apa yang sudah dialami oleh Meisya sehingga dia menulis puisi ini? Malapetaka apa yang digulati oleh hatinya sehingga dia menemukan diri pada titik pembelajaran yang berharga ini? Saya hanya ingin meminta pembaca melihat bait pertama dan kedua dari puisi ini. Mungkin kita bisa mengembangkan ide-ide dari pilihan kalimat Meisya ini.
        Saya ingin kembali pada judul puisi ini. USAI. Tapi mengapa puisi USAI malah diletakkan pada bagian awal dari kumpulan puisi ini? Saya akan memberikan dugaan yang paling sederhana yang bisa saya tangkap. Karena USAI yang ingin dikatakan oleh Meisya bukan ‘usai’ yang berarti titik akhir. Usai yang ingin disampaikan dalam Jendela Tanpa Kaca ini adalah bagian dari satu tahapan yang sudah dilalui, yang sudah memberikan banyak pembelajaran pengalaman.
        Saya yakin, kalau Meisya menambah waktu untuk menekuni puisi-puisi selanjutnya setelah puisi-puisi dalam buku ini, dia akan mendapatkan harta karun dari kedalaman hatinya. Dari lingkungan domestiknya. Dia tak perlu mencari-cari di luar sana, karena laut pun bisa muncul di dalam hatinya.
         Lalu bagaimana mencari alternatif lain saat musim tak tertahan karena ekstrim terlalu dingin dan kuat anginnya sedangkan Jendela Tanpa Kaca membebaskan lubang jendela tetap terbuka? Meisya telah menemukan banyak cara seperti tertuang dalam puisi-puisinya dalam buku ini, seperti seruannya pada Tuhan, Cinta, Pesan Ibu, dan sebagainya.
         Beruntungnya Meisya, saya sedang tidak ingin cerewet untuk mengomentari tulisan-tulisannya, tata bahasa atau ejaannya. Biarlah kedalaman yang dimiliki oleh Meisya pun bebas keluar masuk melalui Jendela Tanpa Kaca, buku pertamanya ini. Dia sudah ‘mengucapkan kata dusta’, sebagai benteng bagi kesadarannya. Sebab untuk fase ini, dia sudah mengetahui yang dimilikinya, yaitu ‘jendela yang sudah tak berkaca’, Jendela Tanpa Kaca. Inilah modal berharga untuk meraup kekayaan semesta tanpa batas, tanpa penyaring.
          Meisya, selamat. Salam dari pulau di seberang sini. Saya senang bisa terlibat dalam bukumu ini. Sekali lagi: Selamat.

Yang Menarik dari Film BLACK PANTHER

Judul: BLACK PANTHER
Tanggal Rilis: 14 Februari 2018 (Indonesia)
Genre: Superhero, Action
Durasi: 134 menit
Rating Usia: 17 tahun ke atas
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Michael B. Jordan, Lupita Nyong’o, Danai Gurira, Martin Freeman, Daniel Kaluuya, Letitia Wright, Winston Duke, Angela Bassett, Forest Whitaker, Andy Serkis
Studio: Marvel Studios


Sebenarnya dari beberapa saat lalu pengin nonton Benyamin Biang Kerok, tapi tak ada seorang dewasa pun di rumah yang berminat. "Ibu mau nonton apanya di situ? Males amat." Kata Albert. Bernard yang rela hati mau nemani terpaksa kutolak,"Bernard ndak boleh nonton Benyamin karena itu film dengan tanga D. Kalau sama Bernard harus cari yang tandanya R. Dan lagi, Bernard masih ulangan mid."

Kemarin pas dijemput Albert dari kantor, kubilang,"Nonton yuk Bert. Black Panther deh." Albert langsung okey. Dia mah cemburu aja kalau ibunya nonton Reza Rahardian. Huhuhu... Jadilah kami ngebut ke MBK supaya terkejar jadwal yang tercepat, 15.55. Karena ndak sempat makan sebelumnya, aku ngacir ke restorasi bioskop, milih sesuatu yang bisa kutelan. Albert cemberut saja lihat yang kupesan. "Halah, bu. Milih makanan kayak gitu, mahal pula." Hihihi... no koment dah. Kutahu nanti dia juga yang bakal ngabisin tuh menu.

Nah, film ini keluaran Marvel. Selera Albert banget dah. Tapi toh beberapa kali obrolan kami berdua muncul saat ada hal-hal yang menarik dari film:

1. Black Panther menunjukkan satu tempat tersembunyi di dataran Afrika, sangat primitif karena masih memegang tradisi-tradisi dari suku-suku, namun juga sangat modern karena kota mereka dibangun dengan canggih. Nama kerajaan yang menyatukan suku-suku itu bernama Wakanda dengan penghuni orang-orang Afrika kulit hitam.

2. Black Panther menampilkan pemain mayoritas orang kulit hitam. Ini membuat film Black Panther menjadi luar biasa. Kulit putih ada dua tokoh saja atau hanya figuran saja yang muncul dari film ini.

3. Black Panther mencuatkan keunggulan-keunggulan dari sebuah kerajaan di Afrika lewat tokoh-tokoh perempuan. Jenderal mereka adalah Okoye, seorang perempuan yang kuat. Ada mata-mata bernama Nakia, seorang perempuan yang cantik dan pandai. Adik Raja T'Challa adalah Shuri, seorang perempuan yang genius yang mewujudkan teknologi tinggi di Wakanda dalam hal transportasi, pengobatan, perang dan sebagainya.

4. Black Panther menyajikan idealisme sportif dan fair lewat pertarungan satu lawan satu dalam penentuan raja. Semua orang tunduk pada sportifitas ini dan menghormatinya sebagai tradisi yang luhur manusia. 

5. Black Panther menunjukkan relasi-relasi manusia dalam kelompok kecil, keluarga, komunitas, sebuah kerajaan dan akhirnya juga secara universal dalam hubungan antar negara. Semuanya terkait satu sama lain dalam kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. 

Nah, bagian akhirnya cukup keren walau imajinatif banget. Raja Wakanda mengajak adiknya yang genius itu untuk melihat peluang kerjasama antar negara lewat kepentingan sosial dan teknologi. Dan pada adegan-adegan terakhir itu, anak-anak atau orang muda menjadi pintu masuk yang menarik bagi perubahan-perubahan, juga untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan.

Aku dan Albert menikmati film ini. Ndak nonton Reza juga tak apalah. Hehehe... Pas ketemu Ridho (ih, ngapain dia nongkrong di mall sore-sore gitu ya? Entar kukepoin ah. Sama cowok pula. Hayooo...), dia pasti menangkap antusias dari kami berdua. Memang sih akhirnya kami terjebak hujan dengan tangan memegang piring nasi goreng dan mi goreng di teras seberang Umitra, tapi toh tetep asyik juga ya, Bert. Hehehe...