Tuesday, June 30, 2026

Rekoleksi Para Pemerhati Lapas KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang: CURAHKANLAH DI HADAPAN TUHAN

 

Semangat pelayanan kasih bagi warga binaan kembali dikobarkan oleh para relawan Pemerhati Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di bawah naungan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari perwakilan paroki, kongregasi, kelompok devosional, hingga perwakilan Kemenag Lampung Selatan berkumpul dalam kegiatan Misa Kudus dan rekoleksi yang berlangsung di Pendopo Asilo Hermelink, Gedung Meneng, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Mengusung tema "...Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan" (Ratapan 2:19), kegiatan ini menjadi wadah penyegaran spiritual bagi para relawan yang setiap harinya berkecimpung dalam pendampingan rohani di balik jeruji besi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD Antonius Suhendri bersama RD Christoforus Susanto. Dalam homilinya, Romo Suhendri menekankan cara menghadapi tantangan dalam pelayanan.
"Tidak semua solusi bisa diselesaikan dengan uang. Solusi bisa diselesaikan juga dengan iman. Menyelesaikan masalah tidak harus dengan emosi, tetapi bisa didapat dengan datang pada Tuhan Yesus dengan rendah hati," ujar Romo Suhendri di hadapan para peserta.

Senada dengan itu, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, Ch. Dwi Yuli Nugrahani, mengajak para peserta untuk terus mengembangkan diri, baik secara pribadi maupun kelompok. Ia menekankan pentingnya ketulusan dalam pelayanan agar semakin "kudus" dalam menjalankan tugas perutusan.
Yuli juga menyoroti masih adanya celah pelayanan yang perlu dijangkau, seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Masgar, Tegineneng, yang belum sempat tersentuh secara maksimal oleh karya pastoral keuskupan.

Sejarah Panjang dan Cakupan Pelayanan
Dalam kesempatan terpisah, Yuli menjelaskan bahwa pelayanan pemerhati Lapas merupakan agenda rutin KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Fokus utama adalah memberikan pendampingan rohani bagi warga binaan Kristen dan Katolik di Lapas yang telah menjalin kerja sama (MoU) dengan keuskupan.
"Saat ini, kami rutin melayani di empat Lapas di Bandar Lampung, satu di Lampung Selatan, dan satu di Metro. Pelayanan dilakukan melalui kunjungan rutin mingguan atau sesuai jadwal yang telah disepakati," jelas Yuli.
Karya ini bukanlah hal baru. Pelayanan ini telah dirintis sejak tahun 2000-an, bermula dari inisiatif  Sr. Mathea HK yang saat itu hanya melibatkan satu atau dua relawan. Kini, pelayanan tersebut telah berkembang pesat dengan melibatkan ratusan relawan dari berbagai komunitas.

Mewujudkan Ajakan Kasih Yesus
Menurut Yuli, pelayanan ini berakar pada semangat Injil Matius 25 tentang Penghakiman Terakhir, di mana Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai orang yang miskin dan tersingkir.
"Bidang ini tidak sedang menyetujui tindakan kriminal atau pelanggaran hukum. Ini adalah harapan bahwa setiap manusia selalu dipanggil untuk bertobat dan kembali pada hakikatnya yang bermartabat. Dalam jiwa manusia yang utuh, selalu ada kejahatan dan kebaikan yang bisa dikelola untuk menjadi kudus," tegasnya.

Tantangan dan Inspirasi
Yuli mengakui bahwa tantangan terbesar bukanlah pada teknis pelayanan, melainkan pada kemurnian motivasi. "Hadir bukan untuk unjuk diri, tetapi untuk belajar lebih rendah hati. Tantangan lain adalah ketika warga binaan yang sudah keluar, namun kembali masuk karena kejatuhan yang sama. Inilah yang harus menjadi perhatian bagi para relawan," ungkapnya.
Baginya, pelayanan di Lapas memiliki keunikan tersendiri dibandingkan bidang kesehatan atau pendidikan. "Pelayanan di Lapas berbeda, namun justru di situlah menjadi pengalaman yang asyik jika dihayati dalam sukacita iman," tambahnya.
Ketika ditanya mengenai motivasi terbesarnya, Yuli menunjuk sosok pendahulunya, Sr. Mathea HK. "Beliau adalah sosok yang rendah hati, sederhana, namun penuh cinta. Beliau tidak pernah dendam, bahkan kepada orang yang telah menipu atau memanfaatkannya. Suster Mathea HK inilah yang menjadi penyemangat konkret bagi saya," pungkas Yuli.

Yulius Urip Prasojo selaku Ketua Bidang Pelayanan Pemerhati Lapas Keuskupan Tanjungkarang, beserta seluruh tim kerja dalam bidang ini berkomitmen menggarap kegiatan rekoleksi ini tiap tahun. Tahun lalu, kelompok ini melakukan kegiatan serupa bersama Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo di daerah Batuputuk.  Sedangkan dua tahun lalu, rekoleksi bersama Vikjen Keuskupan Tanjungkarang, RD. A. Satu Manggo di Pantai Sebalang. Selalu dilibati oleh lebih dari 150 relawan dari berbagai kelompok yang rutin melayani Lapas. ***(Tjia)

Lapah Jiarah Lampung 4: Asilo - Sendang Banyu Urip, Kesederhanaan Pikir dan Nadir

Perjalanan, tepatnya jalan kaki, merupakan gerak yang paling sederhana yang bisa dilakukan oleh tubuh. Dalam Lapah Jiarah, gerak ini menjadi konkret sebagai sarana untuk 'sadar', untuk 'ingat' dan untuk 'semangat'. Aku menyebutnya demikian khususnya dalam perjalanan Lapah Jiarah ke 4 di Bulan Juni 2026, Sabtu, 27 Juni 2026 lalu.

Sadar, aku awali dengan lebih nyata saat Bu Pieri, sahabat hatiku ini, menyebut namaku untuk memimpin pemanasa sebelum Lapah Jiarah dimulai. Aku sudah sepakat untuk melakukannya maksimal 5 menit gerakan peregangan minimal melibatkan otot-otot kaki, pinggul, pinggang, tangan, bahu dan kepala. Saat melakukannya, rasa syukur membuncah dalam dada. Aku melakukannya sungguh-sungguh untuk 'mengumpulkan nyawa'. Bangun pagi sama sekali bukan hal yang menarik bagi pemalas sepertiku, apalagi dulu saat masih hidup sendiri. Sejak menikah, memiliki kewajiban-kewajiban bersama suami dan anak, aku dipaksa untuk rutin bangun pagi. Tapi tetaplah, jika ada pilihan aku akan memilih agak lama bermalas-malasan di kasur sebelum sungguh-sungguh bangun.

Pun Sabtu itu aku bangun dengan 'terpaksa'. Jam 4.30 sudah start berangkat dari rumah menuju Asilo, setengah merem walau tubuh sudah disiram air. Kesanggupan untuk memimpin pemanasan menjadi cara tepat untuk benar-benar bangun. Tak hanya bangun tapi sampai pada kesadaran, sadar bahwa aku, jiwaku, masih diberi rahmat tubuh yang luar biasa. Maka gerakan peregangan sederhana yang kupilih, selain ditujukan bagi para peserta yang ikut, menjadi caraku untuk 'sadar', bergerak dengan sadar, dan membangkitkan sukacita.

Point kedua tentang 'ingat', ini menyangkut kerutinan yang semacam ini yang pernah kulalui. Dalam 4 kali lapah jiarah, aku ikut pada tiga tripnya. Selalu ada saat seperti dejavu, sepertinya ini pernah kulakukan, atau seperti sudah biasa. Ingat pada Sang Pemberi hidup, Sang Pemberi Rahmat, Sang Sumber dan juga Sang Tujuan menjadi bagian yang menguatkan aku. Menjadi selalu ingat ini sangat menarik untuk didalami dalam Lapah Jiarah. Jika saat berdoa, banyak orang memilih tunduk diam, hening, maka Lapah Jiarah ini menjadi pilihan wujud doa juga. Terhubung pada Sang Pencipta lewat doa yang dinamis, lewat gerakan tubuh yang ritmis, sekitar 2 jam melipat jarak sekitar 8 - 9 km. Ini cara yang asyik bagiku untuk 'ingat'. 

Semangat menjadi point ketiga yang nyata. Bertemu dengan banyak orang pasti tak bisa dianggap hal yang biasa. Bertemu dengan banyak orang dalam perjalanan yang sama artinya kesempatan untuk memperoleh kekayaan pengalaman lahir maupun batin dalam perbincangan yang akrap. Bibir yang ditarik jadi senyum pun membuahkan sukacita dalam diri.

Tentu saja bukan hanya lewat perjumpaan orang seperjalanan. Selalu ada banyak orang lain yang berpapasan di jalan yang sama. Itu pun kekayaan yang bisa direguk.

Lalu bagaimana kesederhanaan semacam ini bisa dilewatkan? Hmmm... abaikan saja yang rumit-rumit. Pikiran yang sederhana akan membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah. Lapah Ziarah adalah jalan, adalah doa, adalah latihan. Termasuk latihan sampai titik nadir untuk menjadi rendah hati. 


 


Monday, June 29, 2026

Tentang Penulis Yuli Nugrahani

Yuli Nugrahani, lahir di Kediri 9 Juli 1974, dari Ibu Titik dan Bapak Sam. Menempuh pendidikan di SDN Grogol 3 Kediri, SMPK Don Bosco Gringging, SMAK Augustinus Kediri dan S1 di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Pernah menjadi wartawan di Malang Pos, editor Mingguan SuPel (Suplemen Pelajar) Malang Pos, dan pimred di Majalah Nuntius. Sekarang tinggal di Hajimena, Natar, Lampung Selatan bekerja untuk Keuskupan Tanjungkarang sebagai Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP).

Mulai menulis berbagai bentuk tulisan pada tahun 1992 di berbagai buletin, majalah, koran dan jurnal, seperti : Buletin Terlibat, Lembur, Majalah Hidup, Ucanews, Majalah Nuntius, Femina, koran Malang Post, Lampung Post, Fajar Sumatera, Teras Lampung, Suara Karya, Sinar Harapan, Jurnal Perburuhan, Bulettin ACPP Hongkong, Majalah Mantra, Buletin Insan, beberapa media online, blog pribadi dan sebagainya.

Menjadi editor dan penyusun buku : Eritis Mihi Testes (Tanjungkarang, 2002), Suster-suster Klaris Kapusines Sekincau (Tanjungkarang, 2003), Samudera Peziarahan (Tanjungkarang, 2010), Goro-goro, Kucing Gering Bagong Leong (Tanjungkarang, 2013), Antologi Puisi Hujan Kampoeng Jerami (Sumenep, 2014), terakhir sebagai editor Antologi Puisi Titik Temu Komunitas Kampoeng Jerami (Sumenep, 2014) yang ditulis oleh Acep Zamzam Noor dkk., Kumpulan Puisi dan Cerpen Akar Rumput (Sumenep 2016), Gurindam Jiwa dalam 29 Pasal (Batam, 2017), 25 Tahun Koperasi Mekar Sai (Lampung, 2017), Pandemi Pasti Berlalu (Lampung, 2021), SAMPIAN Antologi Puisi Dwibahasa Lampung-Indonesia (Lampung, 2022), Jalan Sastra Lampung: Kumpulan Esai (Lampung, 2022), dan sebagainya.

Tulisan reflektif masuk dalam buku : Mengais Makna di Tepi Kehidupan (Surabaya, 2005), Varia Geliat Hati, sebuah Refleksi Pemerhati Buruh Keuskupan Tanjungkarang (Tanjungkarang, 2008) dan Pastoral Lembaga Pemasyarakatan, Refleksi Para Pemerhati Narapidana (Tanjungkarang, 2013).

Puisi-puisi selain tersebar di beberapa media juga masuk dalam buku : Turonggo Yakso, Memperjuangkan sebuah Eksistensi (Trenggalek, 2014), Gemuruh Ingatan 8 Tahun Lumpur Lapindo (Sidoarjo, 2014), Hujan Kampoeng Jerami (Sumenep, 2014) dan Antologi Puisi Titik Temu (Sumenep, 2014). Buku puisi tunggal berjudul Pembatas Buku, diterbitkan oleh Indepth Publishing pada Mei 2014. Buku ini diluncurkan oleh Komunitas Berkat Yakin (Kober) dalam pembacaan puisi dan bedah buku dengan moderator Ari Pahala Hutabarat di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung (Unila), pada 23 Mei 2014, dalam rangkaian milad Kober. Buku kumpulan puisi berikutnya berjudul Sampai Aku Lupa, diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami tahun 2017.

Cerpen-cerpen selain tersebar di berbagai media juga masuk dalam buku : Antologi Cerpen ‘Kawin Massal’ (Dewan Kesenian Lampung, 2011), dan Antologi Puisi dan Cerpen Sastrawan Lampung ‘Hilang Silsilah’ (Dewan Kesenian Lampung, 2013). Buku kumpulan cerpen berjudul Daun-daun Hitam, diterbitkan oleh Indepth Publishing dan Caritas Tanjungkarang pada pertengahan 2014, berisi 12 cerpen dengan mengusung tema-tema sosial dan kebhinekaan. Salah Satu Cabang Cemara (Komunitas Kampoeng Jerami, 2016), yang pada tahun 2017 salah satu cerpennya dipentaskan oleh Sun Love Community di Dawiels Cafe dan Taman Budaya Lampung. Buku cerita rakyat Sultan Domas, Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati diterbitkan oleh Kantor Bahasa Propinsi Lampung tahun 2017.

Hingga sekarang, Yuli Nugrahani selain terlibat dalam banyak kegiatan social justice, juga aktif memberikan pelatihan penulisan dan juri di berbagai komunitas dan tempat khususnya jenis tulisan jurnalistik, reflektif, puisi dan prosa. Saat ini Yuli Nugrahani tercatat sebagai sekretaris Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung, Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, Ketua Forum Partisipasi Masyarakat dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Provinsi Lampung, Ketua Pengawas KSP Kopdit Mekar Sai dan menjadi pembina Jaringan Perempuan Padmarini.

Friday, June 26, 2026

Puisi Yuli Nugrahani: DUA PEREMPUAN TENTANG AKU

 Ketika kembali pada obrolan tentang mata kelinci.
Aku harus sabar mendengarkan Maria dan Martha
berdebat pertama-tama tentang letak.

 

"Mata kelinci ada di dekat jempol kakimu.
Kau bisa melihatnya saat duduk diam.
Pakailah jemarimu meraba untuk memastikan."

 

Sendok beradu dengan bibir panci.


"Di dapur, Maria.
Di sanalah sepasang mata kelinci.
Tercampur bawang dan kemiri."

 

Lalu mereka saling bersaing meneriakkan mata kelinci

yang pertama di dekat lututku

yang lainnya di celah bibirku.

 

Kaki kursi beradu dengan lantai.

 

Jika sudah jenuh,

diam-diam mereka mendekat pada piring yang sama.
Lagi-lagi aku harus sabar mendengar mereka bersilang lidah.
Kali ini tentang peri yang mereka ciptakan sendiri. 
Di dinding sinagoga. Di bumi.
Di harum bunga jasmin. Di langit.

 

Tapi aku tahu tangan mereka saling suap.
Sesekali, sekejab memandangku
dengan cinta yang sama.

21Okt 2017      

Wednesday, June 24, 2026

Fransiska Triwati: Makan Sesuai Musim: Rahasia Sehat dan Lestari

 

Selada

 

Kangkung

 

Caisim

Katuk

Gambar-gambar di atas hanyalah sebagian dari produk Wonder Farm, Lampung Selatan. Foundernya, Fransiska Triwati, setiap kali memosting informasi tentang produk pertanian organik ini di status WAnya. Salah satu tulisan yang terbit pada hari ini, Rabu 24 Juni 2026, ditulis oleh Fransiska Triwati, saya pasang dalam blog ini. Siapa tahu ada yang berminat untuk memesannya, atau ikut gabung dalam jejaringnya untuk peduli lingkungan dan ksehatan.

Ready sayur organik untuk pengiriman hari Ini yaa. 
Dm 08127908369
Terima kasih 🤍


Makan Sesuai Musim: Rahasia Sehat dan Lestari
 
Di tengah derasnya arus makanan instan dan impor yang tersedia sepanjang tahun, kita mungkin telah melupakan kearifan nenek moyang kita: makan sesuai musim. Ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi sebuah filosofi yang erat kaitannya dengan kesehatan tubuh, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan.

 Setiap tanaman memiliki ritme alami yang diatur oleh iklim, curah hujan, sinar matahari, dan kesuburan tanah. Ketika sayur dan buah dibiarkan tumbuh dan matang pada waktunya, ia menyerap dan menyimpan zat gizi, vitamin, mineral, serta energi secara sempurna. Inilah kearifan tersirat dalam penciptaan: apa yang tumbuh sesuai irama alam akan memberikan manfaat terbaik bagi makhluk yang mengonsumsinya.
 
Sebaliknya, sayur dan buah yang dipaksa cepat matang atau dipanen di luar musimnya tidak akan mencapai kualitas yang sama, kandungan gizinya berkurang, rasanya kurang sempurna, dan membutuhkan campur tangan zat buatan yang justru merusak keseimbangan alam.
 
Makan sesuai musim berarti menghormati aturan penciptaan, menjaga kesehatan tubuh, sekaligus melestarikan cara bertani yang selaras dengan lingkungan.

 “Karena Tuhan menciptakan alam ini baik adanya untuk dipelihara dan dinikmati pada waktunya. Apa yang tumbuh mengikuti irama musim, itulah yang paling sempurna bagi tubuh dan bumi.”


 

Tuesday, June 23, 2026

Resep Peyek ala Yuli Nugrahani

 

Membuat dan memakan peyek itu salah satu hobiku. Kalau sedang ndak selera makan, kebayang makan nasi dan peyek diremuk itu saja sudah meningkatkan sedikit selera makan. Jika sedang galau, pusing dengan banyak urusan, yang kuinginkan salah satunya adalah berada di dapur, memasak yang tak perlu mikir. Peyek inilah yang paling menyenangkan. Butuh waktu lama untuk membuatnya, butuh waktu singkat untuk memakannya. Uhuiii...

Cara membuat resep peyek ala Yuli Nugrahani ini sangat mudah dan anti gagal. Kalau mau mencoba, ikuti saja apa adanya, ndak usah improve dulu.

Pertama, siapkan 125 gram kacang tanah, potong/iris jadi dua. Jangan dibelah ya, tapi iris pakai pisau, satu per satu. 

Kedua, siapkan tiga lembar daun jeruk purut, cuci, buang tulangnya, iris tipis.

Ketiga, uleg bumbunya. Tiga atau empat butir bawang putih, satu sendok teh munjung ketumbar bubuk, dua ruas jari kunyit yang sudah dikupas, dua atau tiga butir kemiri, satu teh peres garam halus atau sesuai selera (cek nanti pas adonan jadi), dua sendok makan rebon yang sudah direndam sekitar 15 menit. Uleg halus, masukkan irisan daun jeruk di bagian akhir, uleg sebentar.

Keempat, timbang 150 gram tepung beras, 50 gram tepung tapioka. Campur dengan bumbu uleg, masukkan air sekitar 1 gelas (200 ml). Air dimasukkan sedikit demi sedikit. Masukkan dalam adonan, satu telor ayam yang sudah dikocok lepas, saring, sehingga bagian yang kental putih tidak ikut masuk. Aduk rata dengan seluruh adonan.

Kelima, masukkan irisan kacang tanah. Cek kekentalannya di tepi baskom tempat mengadon.  Tebal tipisnya peyek yang dimaui akan tampak di situ. Jika terasa terlalu tebal, tambah air. Atau bisa dicoba dulu di wajan. Gorengan pertama sebagai uji coba.

Menggoreng peyek harus dengan minyak yang banyak sehingga seluruh bagian peyek yang sedang digoreng dapat terendam minyak. Panasnya juga harus diatur sedang saja ya, jangan terlalu panas, jangan terlalu dingin. Nah, karena menggoreng peyek akan butuh waktu yang lama, lakukan saja dengan santai, sambil wiridan, doa-doa, nyanyi-nyanyi dst. Ohya, pastikan wajan yang dipakai sudah bersih ya. Wajan yang kotor akan membuat peyek lengket saat digoreng. Juga tak perlu dibalik saat digoreng. Goyang-goyang dikit saja sampai warna coklat muda keemasan. 

Nah, selamat mencoba. 

Monday, June 22, 2026

ASILO HERMELINK (1): Ruang Publik untuk Masyarakat Bandarlampung


Tempat ini menjadi bahan tulisan yang tak ada habisnya. Jika sudah memulai menuliskannya, pasti akan ada tulisan lain yang bakal menyusun. Untuk awal, saya hendak mengenalkan dulu tempat macam apa Asilo Hermelink, dan mengapa ini patut disiarkan khususnya bagi masyarakat Lampung maupun orang yang kebetulan berkunjung di Bandarlampung.

Asilo Hermelink terletak di Jalan ZA Pagar Alam, Gedungmeneng, terletak di seberang Fitrinofane dan di samping persis Kompleks Pasca Sarjana Universitas Bandarlampung. Kalau melewati bagian depannya, orang yang belum pernah masuk ke dalamnya tak akan membayangkan bahwa tempat ini luas dan memiliki banyak fasilitas publik. Yang kelihatan menyolok adalah pohon-pohon, yang setahun belakangan sudah banyak berkurang karena sudah ditata ulang. Dulu lebih tampak seperti hutan, kalau sekarang sudah lebih 'manusiawi', tidak menakutkan untuk dimasuki.

Fasilitas publik pertama yang akan dilihat saat masuk adalah pendopo di bagian depan. Pendopo ini dapat memuat 50 - 150 orang, tergandung mau menggunakan kursi, duduk di lantai bertikar, atau berdiri, bisa lebih banyak lagi yang bisa gabung jika ditambah dengan tenda di sekitarnya. Pendopo ini bisa digunakan berbagai kelompok dengan syarat mencatatkan jadwalnya ke kontak person Asilo seperti tercatat di website resminya atau di google map.

Tidak terlalu jauh, pendopo ini dilengkapi dengan beberapa kamar mandi/toilet yang terletak di bagian lebih dalam. Air dan lampu bisa diakses untuk penggunaannya. 

Yang tidak mau ikut atau menyelenggarakan kegiatan di pendopo, fasilitas berikutnya adalah jalur jogging yang mengitari Asilo, persis di samping pagar pembatas. Jika mengikuti full rute jogging, jaraknya sekitar 700 m. Ada sedikit tanjakan/turunan di sisi kanan dan kiri jalur, sehingga untuk latihan tubuh, jogging track ini cukup lengkap.

Di sisi dalam, mungkin orang-orang heran lihat kotak-kotak semen, sekitar 50 pondasi. Ini merupakan alas tenda bagi yang mengingikan camping di tempat ini. Saat ini Asilo juga sudah memiliki puluhan tenda dengan kapasitas ukuran 3 - 10 orang per tenda. Alas semen ini untuk memastikan si pengguna akan cukup nyaman jika menginap di tenda khususnya saat hujan. Tenda yang ada juga dilengkapi dengan matras dan lampu tenda. Memang tidak sebanyak yang seringkali dibutuhkan, tapi untuk kelompok kecil, fasilitas ini sudah sangat lumayan.

Turun ke bawah, kita akan menemukan pondok kayu yang teduh. Pondok ini memiliki ruang cukup menampung belasan orang yang ingin ngobrol santai. Ada dapur dengan fasilitas yang cukup lengkap jika ingin memasak. Bahan-bahan makanan juga seringkali ada di sana, selaras dengan nama pondok: Lamban Semah Atei, rumah murah hati. Bagi orang yang berkelimpahan, bisa meletakkan apa pun di pondok ini, entah beras, singkong, kopi, gula, kue dan sebagainya. Bagi yang ingin menggunakannya, semua saja dipersilakan tanpa diskriminasi. 

Di dekat pondok bawah ini ada bangunan yang sedang proses dibangun, yang direncanakan menjadi kamar mandi dan gudang. Selain itu, di sekitar area juga ada pondok-pondok kecil jika ingin menyepi atau berteduh di tempat ini. Ohya, ada pendopo kecil untuk 15 - 20 orang di sisi bawah ini. Juga ada kolam ikan dengan isi bermacam-macam ikan.

Pepohonan tidak sebanyak dulu, tapi masih sangat teduh dengan varietas beraneka. Lapangan rumput juga siap dimanfaatkan untuk kegiatan luar ruangan, atau olah raga. Paling depan adalah rumah sekretariat bersama.  

Ohya, tempat ini tidak dimaksudkan sebagai tempat bisnis yang menarik biaya. Syarat untuk menggunakan adalah ikut menjadi dan merawat tempat ini, lain-lain gratis. Tentu saja jika mempunyai dana atau bahan yang bisa didonasikan, Asilo akan menerimanya karena tempat ini sedang proses pengembangan. Tapi kalau sampai ada yang mengutip biaya sedikit saja secara paksa, hal itu tidak dibenarkan. (bersambung)

Cah Kangkung ala Yuli Nugrahani

Cah kangkung ala Yuli Nugrahani

Mumpung panenan kangkung berlimpah dari teras atas, aneka masakan kangkung pun jadi trend dapur Hajimena. Dibikin pecel, gado-gado, lalap, sayur bobor, sayur asem, tumis dan seterusnya. Kemarin sore menu kangkung pun diulang. Kali ini cah kangkung menjadi pilihan. Praktis, cepat dan pasti enak.

Cara mengolahnya sederhana, yukkk para juru masak pemula bisa mengikutinya.

Kangkung seikat (ukurannya sebanyak lingkar jempol dan telunjuk yang ditautkan, sepadat mungkin), potong sesuai selera, agak panjang aja.

Bumbu iris terdiri dari tiga bawang putih, geprek dan iris halus. Setengah bawang bombai iris memanjang. Cabai merah dan rawit sesuai selera, iris. Siapin juga saos tiram, saus sambel, kecap, minyak dan garam.

Tumis bombai dan cabe sampai layu, masukkan bawang putih, tumis sampai harum. Masukkan kangkung dan seluruh bumbu lain sesuai selera. Aduk sampai semua kangkung tercampur merata. Biarkan sebentar saja, jangan sampai terlalu lama biar kangkung tetap renyah. Udahhh... mateng dah. Lauknya telur ceplok atau telur dadar. Semalam aku tambahin ikan sarden sisa naik gunung terakhir, kutumis sebentar dengan bumbu bawang merah bawang putih. 

Kangkung hasil panen sendiri

 
Menu lengkap untuk makan sore.

Wednesday, June 17, 2026

Gunung Betung: Berjuang Menerima Pacet dan Hujan sebagai Teman

 Sabtu, 13 Juni 2026 menjadi kesempatan bagus untuk naik gunung. Langit cerah, teman-teman muda yang ceria, semangat berkobar. Tapi siapa yang bisa menebak cuaca dan peristiwa-peristiwa yang dimunculkan oleh gunung? Kali ini Gunung Betung menjadi ruang paling memungkinkan untuk didaki, aku menikmati pendakian bersama dengan denmas Hendro, Albert, Dira dan Aldi. Jumlah 5 bukan jumlah yang tetap seperti cuaca cerah bukan jaminan berlangsung sepanjang hari.

Pintu rimba Gunung Betung


 Di basecamp, persiapan-persiapan seperti biasa membutuhkan waktu beberapa lama. Membayar tiket, parkir, memastikan barang-barang bawaan dicek, dihitung potensi sampah yang dibawa, juga meninggalkan barang-barang yang tidak perlu seperti baju ganti kering. Mulai dengan foto hingar bingar di start jalur pendakian, kami berjalan dengan semangat, sekitar pukul 09.00.

Dari antara kami berlima, Dira yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Kami ledekin bahwa perjalanan ini bertujuan mengawal dia. Untuk pendakian ini dia sudah menyiapkan diri dengan jalan sekitar rumah, tapi rupanya tanjakan awal dari basecamp ke camp ground membuatnya shock berat. Setiap kali dia berhenti, baru beberapa langkah dia bilang capek.  Bahkan sempat bilang,"Bu, aku ntar sampai camp ground aja ya." Aku tidak menggeleng dan tidak mengangguk. Hehehe... Lihat saja nanti. Toh akhirnya kami sampai di camp ground, aman, senyum-senyum, dan istirahat cukup lama.

Aku bilang sedikit mendesak ke Dira,"Kita naik, nanti setiap pos kita lihat akan terus naik atau kita berhenti." Dan Dira setuju usul itu. Aku pribadi sih ndak mau dia putus asa di pendakian pertama ini. Harus sampai puncak. 

Itulah yang kami lakukan, terus berjalan, pelan, timik-timik, yang sebenarnya sesuai dengan ritme jalanku juga. Aku tak bisa jalan lebih cepat saat nanjak, juga tak bisa jalan cepat kalau terlalu curam. Hehehe... Setelah pos satu, tak ada keluhan apa pun dari Dira. Malah dia melaju ke paling depan, mendului aku yang udah ngap. Setelah pos dua jalur lebih parah lagi, dan hujannnn.... Huaaa... Tantangan pun bertambah. Syukurnya, Dira kayaknya suka air ya, jadi dia terus kita taruh paling depan, dan aku jauh lebih lambat ada di belakang ditemani pak Hendro. Dia sempat kram tapi setelah itu aman sampai puncak.

Setelah pos dua, rombongan kami beriringan dengan tiga gadis yang mempunyai ritme timik-timik juga. Dua diantara tiga gadis ini juga merupakan pendakian pertama mereka. Akhirnya sampai turun pun rombongan kami terus beriringan.

Selain hujan yang menyebabkan jalur licin, hujan juga membuat pacet-pacet berpesta pora. Terlebih mereka merasakan panas darah para pejalan di jalur-jalur rumah mereka. Huaaa... teriakan-teriakan kecil karena melihat makluk ini menempel di kaki, tangan, leher pun terdengar. Semprotan handsanitizer sangat membantu. Tahan geli sedikit, jangan ditarik, lalu pacet-pacet itu akan lepas sendiri.

Pacet melimpah di puncak Betung. Pas pula perut sudah lapar sekitar jam 12.45, kami sampai puncak Betung. Makan siang sambil mata waspada melihat sekitar jangan sampai pacet-pacet menempel, walau itu tidak mungkin. Mereka punya cara lebih cerdik untuk sampai ke kulit manusia dan menghisap darah. Hampir satu jam kami puas menikmati puncak, dengan makan dan foto-foto, kami pun turun. 

Sekitar pukul 13.45, kami turun dengan mesti sangat super hati-hati karena jalanan licin, masih juga sesekali hujan gerimis. Tubuh basah kuyup, kotor karena lumpur, beberapa kali terpeleset jadi hal biasa. Dengan kondisi hujan jalan naik maupun turun sama saja beratnya bagiku. Sesekali kudu ngesot, jalan ndak lagi hanya pakai kaki, tapi pakai pantat, juga tangan. Uhui banget pokoknya.

Begitu sampai camp ground, rasanya legaaa banget. Kami nunggu rombongan yang tertinggal dengan nyemil setelah memeras kaos kaki, mengurangi basah sedikit. Sampai kembali di basecamp sudah pukul 05.00 sore. Ndak sabar berganti baju kering, melepas sepatu ganti sandal jepit, dan menikmati minuman hangat.

Apa komentar Dira? "Seruuu..."

Jadi ke gunung mana lagi minggu depan? Senyum ja dianyaaa....