Thursday, April 23, 2026

DIET GULA, MINYAK DAN KALIUM

 

Sayur bening oyong, pepes ikan, telur rebus. Ini menu sebelum diketahui kalium tinggi.

Menu sarapan. 


Susunan menu ini aku tuliskan untuk kepentingan ibuku yang baru saja dipasang ring di jantungnya. Ibu mempunyai komplikasi gula darah dan kalium yang tinggi. Ini ditulis berdasarkan rekomendasi ahli gizi RS SA Malang untuk digunakan oleh katering yang akan membantu ibu. Foto-foto di atas tidak mewakili tulisan ya. Itu menu yang pernah kumasak saat bisa menemani ibu.

Jadwal makan: 
1.    Makan pagi 6.30 (Nasi 7 sdm, protein 1 potong, sayur (min 2 jenis bahan 1 mangkok), minyak setengah sdm)
2.    Cemilan buah 9.30
3.    Makan siang 12.30 (nasi 10 sdm, protein 1 potong, sayur 1 mangkok, minyak 1 sdm)
4.    Cemilan buah 15.30
5.    Makan malam 18.30 (Makan pagi 6.30 (Nasi 7 sdm, protein 1 potong, sayur (min 2 jenis bahan 1 mangkok), minyak 1 sdm)
6.    Paling malam cemilan buah sebelum jam 21.30

Sama sekali tidak boleh:
1.    Segala jenis gula dan makanan yang ditambahi gula
2.    Makanan dan bumbu instan
3.    Pembatasan tepung/karbo, minyak, garam, rasa pedas, dst
4.    Sayur: kol, bayam, Nangka muda, bit, buncis, daun singkong, daun papaya
5.    Protein: kepiting, jeroan, kerrang, babi, kulit, dst
6.    Buah: sirsak, nanas, anggur, Nangka, pisang ambon/kepok, tomat merah

Usulan menu: buah beli sendiri, nasi masak sendiri

1.    Rabu, 8 April 2026
Makan pagi: tumis bihun oyong wortel, ayam suwir, telur ayam kampung rebus
Makan siang: bobor labu tauge (tanpa santan), pepes ikan (laut atau sungai segar), tumis tempe
Makan malam: sop sayur dan bakso daging, perkedel tahu dan jamur

2.    Kamis, 9 April 2026
Makan pagi: semur tahu dan daging sapi, tumis kangkong tauge
Makan siang: bening katuk dan wortel, ayam dan tahu bumbu kuning
Makan malam: ikan bakar (mas/nila), lalapan (selada, timun, sambel, rebusan sesuatu dst)

3.    Jumat, 10 April 2026
Makan pagi: tumis tahu, tauge dan kucai, ayam ungkep, telur rebus
Makan siang (di kantin rumah sakit) – cari ayam/ikan bakar, pepes/botok sesuatu (tanpa santan/kelapa), gado2 tanpa bumbu, dst. Bawa bekal labu kukus 
Makan malam: rawon labu dan daging sapi, tauge, tempe goreng (Teflon minim minyak)

4.    Sabtu, 11 April 2026
Makan pagi: sayur rebung dan kecipir, ayam bumbu merah
Makan siang: ikan gurami steam, sayur asem (labu, wortel, kacang kapri, kangkung, tauge kedele dst)


Thursday, March 26, 2026

GUNUNG PESAWARAN: NANJAAKKKK....

 Masih libur lebaran, sudah puas dengan ketupat opor rendang dan nastar, waktunya cari lokasi untuk olah raga olah jiwa. Gunung Pesawaran menjadi pilihan. Puncak Gunung Pesawaran ini merupakan salah satu puncak Gunung Betung, bisa diakses melalui Desa Sinar Harapan, Kedondong, Pesawaran.

Minggu, 22 Maret 2026, hari kedua lebaran, usai sarapan coto Makasar di rumah keluarga Om Kemal, kami mulai packing dan prepare untuk pendakian. Selain aku dan kangmas Hendro, ikut joint juga Arya, seorang muda yang sudah pernah ngobrol tentang mendaki bareng. 

Puncak Gunung Pesawaran 1662 mpdl

 
Salah satu sisi di puncak untuk ngecamp.

  
 
Camping ground yang super panas

Ambil nafas di camping ground

Semalam di puncak

Spot foto favorit di puncak

 

Umek dulu sebelum pose
Salah satu tempat rehat

Ngopi di pos 2

Tulisan menyusul...


Tuesday, February 10, 2026

Puisi Yuli Nugrahani:

 FAJAR

Keheningan menemani setetes embun yang bergelanyut di ujung daun pepaya.
Penantian singkat menjelang fajar usai hujan semalaman.
Setelah itu, dia akan jatuh terserap ke tanah, atau menguap lesap oleh cuaca.
Tapi dari sedikit yang sempat melihat, pastilah tahu, 
setetes embun adalah kerjap cahaya, adalah lintas sunya.
Tanpa suara, pun adalah nada. 

 

SENJA 

Senja beradu sepasang mata tupai
mengerjap di simpang jalan.
Sunyiku jadi sunya
Hadirku menjelma hampa.

Tembakan di sudut pendengaran
sebutir sukma mengeriput ketakutan.
Aku tak mau membencimu
merengkuhmu bagai duri di dada
Namamu  serupa sengal nafas
Tak bisa kulepas
Tak juga jadi hias

Tuesday, December 09, 2025

Ki Dalang Muryanto: Wahyu Purba Sejati

 Lama sekali aku tidak nonton wayang secara langsung. Setelah kecanduan Ki Dalang Seno hampir di semua lakonnya setiap malam, sejak Ki Seno meninggal aku jarang sekali menonton wayang apalagi nonton wayang secara langsung. Kesempatan di Way Kandis Senin 8 Desember 2025 membuatku nonton Ki Dalang Muryanto secara penuh membawakan lakon Wahyu Purba Sejati.

Kesempatan yang menarik. Awalnya aku hanya ingin melihat bagian awal saja lalu pulang, mengingat sejak sore aku sudah menguap terus. Buttt... begitu dengar gending-gending dan juga suara suluk Ki Dalang, aku mancep di kursi. Tidak hanya sampai babak tertentu tapi sungguh-sungguh menontonnya sampai tancep kayon, sampai selesai seluruh lakon pukul empat lebih menjelang subuh.

Lakon Wahyu Purba Sejati diawali dengan kunjungan Prabu Baladewa, Raja Mandura ke Istana Kresna di Kerajaan Dwarawati. Obrolan di antara mereka yang hadir termasuk 'staf' kerajaan masing-masing. Mengemuka tentang impian Baladewa dan Kresna tentang wahyu purba sejati yang terdiri dari empat wahyu, dengan petunjuk lokasi tempat mereka bisa menemui wahyu itu, yaitu Pasarean Gondomadono (atau Gondowandono, aku tak terlalu dengar.). Wahyu Purba Sejati terdiri dari Wahyu Cahyaningrat, Wahyu Wimbaningrat, Wahyu Raksakaningrat dan Wahyu Wasesaningrat.

Paseban ini juga hangat dengan ajaran Kresna tentang paugeran hidup benar yang tak boleh jatuh pada tahu saja, tapi harus dilakukan, harus diamalkan. Dilampahi. Ini menyangkut dasar hidup secara vertikal antara manusia dengan Penciptanya, juga secara horisontal antara manusia dengan manusia. 

Di saat seperti itu, hadirlah utusan Gondoyatmo, titisan Rahwana yang meminta Wara Sembadra yang dianggap sebagai Banowati titisan Sinta. Utusan itu minta Sembadra untuk ikut bersama mereka. Tentu saja semua orang yang hadir marah terhadap utusan itu sehingga mereka terlibat dalam peperangan besar.

Dalam situasi kisruh itu, Permadi ya Arjuna didorong untuk menemukan petunjuk tentang Wahyu Purba Sejati. Arjuno menemukan Pasarean Gondomadono, di sana ada batu pangelmuan. Arjuno diijinkan oleh juru kunci pemakaman itu (seorang brahmana kera) untuk bertapa di situ.

Kresna, Baladewa dan Sembadra menyusul Arjuno tapi hanya menemukan batu pengelmuan itu. Permadi sedang dalam pertapaannya yang khusuk sehingga tidak kelihatan. Mereka bertiga melihat batu itu, memastikan mereka ingin mereguk sang wahyu. Ketika Baladewa mencoba duduk di sana, dia terlempar. Kresna yang juga merupakan titisan dewa tidak mau duduk di sana karena sebenarnya dia juga dewa sang Maha Tahu Segala. Sembadra langsung duduk di batu itu, dan dia merasakan kenyamanan. Saat itulah Sang Wahyu Wimbaningrat merasuk pada dirinya, dan menjadikannya sebagai ratu sumber para raja yang nantinya akan menguasai dunia. Dialah perempuan terberkati, untuk menurunkan para raja bijaksana di kemudian hari.

Seusai Permadi menyelesaikan tapanya, dia mendapatkan wahyu Cahyaningrat yang akan membuatnya menjadi penurun sejarah para raja. Klop dengan Sembodro. Sedangkan Kresna, dia berada dalam porsinya mendapatkan wahyu raksakaningrat yang menempatkan dirinya sebagai patih, seorang yang menjadi konsultan utama raja.

Baladewa menerima panggilan sebagai perengkuh wahyu wasesaningrat, wahyu wadat yang membuatnya jauh dari nafsu termasuk nafsu seks. Dia hidup selibat dan menghayatinya untuk kesejahteraan semua manusia.

Musuh masih ada. Gondoyatmo ya Sang Rahwana mencoba mengulang kisah penculikan. Namun Permadi dibantu dengan Anoman berhasil mengalahkan Gondoyatmo. Kematian Gondoyatmo membuat PR hidup Anoman selesai. Dia pun hidup dalam keheningan pertapaan, menunggu PR kehidupan selanjutnya yang mungkin akan datang. 

Gitu guys. Ini kuceritakan ulang berdasarkan penangkapanku yaaa. Beberapa bagian seperti menjadi potongan-potongan yang agak susah kupahami. Sepertinya Ki Dalang mengejar waktu untuk terpenuhinya lakon. Mulai telat dan ditambah banyaknya minat orang yang request lagu, perkiraanku membuat Ki Dalang memotong beberapa detil kisah.

Tapi Dalang tetap berhak menentukan kisahnya. Dan aku tetap menemukan benang merah dari kisah ini. Kerennn.
 

Sunday, December 07, 2025

SURAT CINTA UNTUK PITHAGIRAS YANG LUPA DITULIS

Buku ini menjadi buku yang paling lama menghuni ranselku di tahun ini. Setelah mendapatkannya dari Udo, dia ni ngikut ke Jakarta beberapa kali, ke Palembang dua kali, ke Kediri, Lumajang, Bandung, ... hadehhh... Kubawa kemana-mana tanpa kemajuan membaca yang berarti. Usai mendapatkannya, aku membaca cepat pada bab satu dan dua, lalu terbengkalai selama beberapa bulan. Pengantar yang ditulis Udo tak cukup membuatku bertahan membacanya. 
Banyak alasan yang kubuat sehingga tak membacanya entah kemudian terseret ke buku lain, aktifitas lain, pikiran lain, dst... lamaaa.... buku ini tak terpegang, hanya tersuruk saja di lapisan dalam ransel berdampingan dengan laptop. Laptop keluar masuk ransel, buku ini tetap bertapa di dalamnya. Kalau pun tercabut keluar, lalu tersuruk lagi di dalamnya. 
Aku melanjutkan membaca lagi dikit-dikit usai obrolan dengan Udo untuk urusan DKL, dan dua hari terakhir ini aku menyelesaikan membacanya secara cepat dan intens. Kesempatan yang hadir menjadi rahmat karena sungguh aku sedang tak mau mengerjakan hal-hal lain (padahal ada banyak PR deadline pekerjaan. Huft). Buku inilah tempat aku melampiaskan diri. Pelarian yang aku sungguh syukuri.
Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis bagiku malah menjadi surat cinta yang lupa dibaca. Ampun. Udooo, setelah membacanya, serius aku katakan novel ini bukan buku yang boleh diabaikan. Sudah ditulis dengan begitu 'wajar' mestinya dibaca dengan 'wajar' juga. Tapi memang aku sedang terpuruk dengan gerak yang terus berpindah secara raga maupun jiwa. Maafff yaaa...
Sooo, buku ini menjadi loncatan kenangan yang tepat sekali diberikan padaku menjelang akhir tahun  saat diriku dipenuhi dengan pikiran-pikiran reflektif. Novel yang ditulis Udo Z Karzi ini membawaku pada masa lalu secara mudah karena yang terjadi jadi kisah di dalamnya sangat mirip dengan situasi dan gerakan yang kulibati tahun 90an saat jadi mahasiswa di Brawijaya Malang.
Novel ini menuliskan sosok-sosok yang mudah kukenali kemiripannya. Atau, malah sosok di dalam novel ini merupakan diriku sendiri yang setiap kali beralih peran secara dinamis. Kadang aku bisa merasakan diri sebagai Kenut, kadang aku bisa mengakui bahwa akulah Pitha, atau Vita, atau juga Tamong, bahkan aku sebagai Emak Bapak yang kecewa. 
Setting situasi Unila, Lampung, Bandarlampung maupun Negarabatin, Gunung Pesagi, sangat dekat juga dengan perjalananku yang hidup di provinsi ini selama seperempat abad terakhir. Sekaligus menjalin kisah dan gambaran yang mirip dengan hidupku sebagai mahasiswa di Unibraw, maupun perempuan yang hidup di Jawa Timur, Malang maupun Kediri, Lumajang, Gunung Semeru, Kelud atau Panderman.
Nostalgia yang cocok untuk akhir tahun 2025 yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa sangat dinamis osial politik maupun alam murka menyemburkan bencana. Kemarahan yang dulu pernah kurasakan saat sok idealis dalam diskusi-diskusi gerakan mahasiswa, muncul lagi menjadi kemarahan dan kekecewaan yang ...'kok ya situasi ini masih sama dengan dulu'. Spontan juga mengobarkan semangat kepedulian dan solidaritas "Mari bersatu. Lawan!"
Hmmm... mungkin kobaran yang sekarang ini muncul karena Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis juga masih sama seperti kobaran sok idealis seorang mahasiswi masa lalu. Sekarang mewujud jadi percikan sok idealis seorang ibu yang lebih realistis karena sering terpuruk dalam akrobat finansial mental spiritual. Pun tetap ada 'idealisme'nya. Yakin.
Aku senang novel Udo menuliskan hal-hal yang mengobarkan 'sok' idealisme ini dalam bungkus romantisme. Dengan demikian rasa 'wajar' itu jadi lebih kuat, dan memang seperti itulah hidup manusia. Serba wajar walau pernah mengalami grafik naik turun menurut ukuran-ukuran tertentu. Tetap manusiawi.  

Monday, August 04, 2025

GANG CERIA GOES TO PALEMBANG: "Traveling and Healing

Stasiun Tanjungkarang
 Ide iseng bisa muncul dari moment yang tidak diduga. Usai melayat, makan bareng lalu beberapa ibu nyeletuk tentang kemungkin pergi ke Palembang naik kereta. Keesokan harinya, perjumpaan lanjut langsung mengentalkan ide itu, cek jadwal, cek ketersediaan tiket kereta, dan akhirnya disepakati: "Pergi ke Palembang pada 1 - 3 Agustus 2025 untuk travelling and healing."

Itulah yang muncul sekitar dua-tiga minggu yang lalu. Gercep cari tiket kereta pada hari yang sama, masih belum memikirkan hal-hal lain yang mungkin muncul, pokoke dapat tiket kereta api Tanjungkarang - Palembang PP pada tanggal yang dimaksud. Hari itu juga tiket untuk 10 orang didapatkan, dengan nasib tempat duduk terpencar tapi masih pada gerbong yang sama. Sedangkan untuk kepulangan, tempat duduk lumayan berdekatan.

Persiapan-persiapan dibuat serba cepat, dan inilah yang terjadi:

 

 Hari 1, Jumat 1 Agustus 2025

Stasiun Kertapati

Berangkat pukul 07.00 dari perumahan Polri Hajimena menggunakan 4 mobil yang tersedia. Ya, tentu saja berangkatnya dari perumahan Polri karena Gang Ceria yang dimaksud pada judul adalah gang paling depan di Blok C Perumahan Polri Hajimena. Sepuluh peserta adalah para ibu dari gang ini. Orang-orang yang sudah biasa berelasi bertetangga dalam hidup keseharian.

Kereta Api Rajabasa berangkat pukul 08.30, jadi cukup aman untuk mendapatkan posisi longgar untuk bagasi dan masih cukup santai juga jika ingin foto-foto di awal perjalanan. Target utama dalam perjalanan ini memang foto sebanyak-banyaknya di tiap perhentian.

Sampai di Palembang, Stasiun Kertapati, pukul 17.30, rombongan dijemput oleh keluarga Een dan mbak Maya. Dua mobil siap mengantar ke perhentian 1 yaitu di Masjid Agung untuk sholat Magrip. Lanjut ke Martabak Har Simpang Sekip untuk makan malam. Usai makan wajib menyempatkan diri untuk foto sebelum istirahat di rumah keluarga Een sekitar Jakabaring.

Hari 2, Sabtu 2 Agustus 2025

Taman Kota Kambang Iwak

Sesuai janji, semua siap untuk otw pukul 08.00. Tujuan pertama pagi ini adalah Kambang Iwak, untuk sarapan di Warkop Putra Agam dengan pilihan menu ketupek (lontong) gulai paku, atau picak atau bubur atau mie dan sebagainya. Kambang Iwak merupakan taman di tengah kota Palembang dengan kolam atau danau kecil yang seputarannya biasa digunakan oleh masyarakat untuk joging atau olahraga dan kuliner.

Dari sana, tujuan berikutnya adalah jalan ke Monumen Ampera dan Museum Mahmud Badaruddin II. Inget yaa, tujuan foto-foto kudu dibuat dengan apik dalam segala situasi. Cuaca panas membara malah membuat kami semangat untuk jalan, berpose dan foto. 

Sentra oleh-oleh di Pasar 26 Ilir, menjadi tujuan berikutnya: Pempek Lala. Nyemil pempek wajib yaaa, lalu mborong macam-macam krupuk kemplang dan pempek. Dibonusi makan siang bagi sebagian yang sudah kelaparan yaitu di RM Mbok Yah samping kantor Walikota. Dari sana barulah ke arah Pusri untuk menyeberang ke Pulau Kemaro menggunakan perahu. 


Perjalanan kembali ke pusat kota, mendung tiba-tiba menggantung di langit. Mesti mencari tempat berteduh dan yang dipilih Palembang Square. Untuk sholat, ngadem eh ngiyup dan shoping bagi yang minat. Sore masih akan berlanjut ke kompleks Benteng Kuto Besak berfoto dengan Tugu Ikan Belida dan jembatan Ampera. Makan malam kembali ke tujuan siang yaitu ke Mbok Yah samping kantor walikota.

Malam kembali dengan puas ke rumah Een untuk istirahat.

Hari 3, Minggu 3 Agustus 2025

Hari terakhir urusannya hanya kembali ke Lampung. Een yang baik hati sudah menyiapkan nasi ayam telur untuk makan siang dan gorengan untuk sarapan. Pukul 06.30 dijemput mbak Maya, mampir sebentar beli jajan pasar.  Siap kembali ke Lampung dengan kereta api Rajabasa dari stasiun Kertapati pukul 08.30. Sampai Lampung pukul 18.15.

Perjalanan yang asyik siap untuk diulang lagi. 

Bagian terakhir merupakan catatan pengeluaran kami:

1. Tiket kereta api PP @Rp 32.000 = Rp 64.000

2. Tiket museum, perahu, transport lokal Palembang, air mineral, makan untuk sopir, dll = Rp 230.000

Setiap orang mengeluarkan Rp 294.000 tidak termasuk makanan dan oleh-oleh yang dibeli masing-masing. 

Gerbang Masjid Agung Palembang

 
Monumen Ampera

Museum Mahmud Badaruddin II

Museum Mahmud Badaruddin II bagian dalam

Pulau Kemaro

Benteng Kuto Besak

Togetherness full of happiness


Monday, July 21, 2025

OBROLAN NGALOR NGIDUL DALAM HASH

Seputaran Batuputuk 20 Juli 2025.
 Lampung Hash House Harriers (LHHH) sudah kuikuti sejak masa pandemi lalu. Sekitar 6 tahunan, masih tergolong baru untuk komunitas yang sudah mulai bergerak di awal tahun 2000an. Yang utama dalam komunitas ini adalah olahraga alam bebas, di luar ruangan, dengan jalan atau lari. Hiking. Ada seratus lebih orang yang jadi membernya. Juga ada yang sering ikut tapi ndak mau jadi member. Suka-suka saja.

Suka-suka juga pada pilihan rutenya. Walau tim hare, yang kebagian membuat rute dengan menabur guntingan kertas, sudah membuat rute kisaran 6 - 12 km setiap minggunya, peserta tidak terpatok pada rute itu. Mereka bisa mengambil jalan pintas kapan pun, kesasar-kesasar secara sadar. Merek juga bisa setiap patuh hormat pada rute yang ada, seringkali diselingi keluhan atau makian karena tanjakan curam, keluar masuk sungai, dan seterusnya. Ada juga yang sama sekali tak mau mengikuti rute, ya jalan suka-suka saja di sekitar meet point, foto-foto, dan makan-makan. Tak ada larangan untuk ini. 

Perjumpaan dalam perjalanan yang suka-suka ini ternyata menciptakan ruang obrolan yang luar biasa. Bagiku, ruang obrolan ini tak hanya menjadi pengikat persaudaraan persahabatan, tapi menjadi ruang pembelajaran, menjadi kelas sekolah kehidupan yang lengkap.

Misal satu kali aku berjalan bersama seorang senior, seorang pengusaha, seorang bapak, lain waktu aku beririgan dengan para muda yang heboh dengan semangatnya pada medsos. Berikutnya lagi aku bisa saja berjalan bersama para ibu yang sedikit-sedikit bertanya kurang berapa km lagi.

Obrolan muncul dalam perjalanan beriringan itu. Ngalor ngidul lengkap dengan bermacam kisah. Bahkan kadang terkaget-kaget karena ada kisah-kisah yang seperti tak mungkin tapi toh terjadi juga.

Nah, apa saja obrolan yang sering muncul? Banyakkk... Ngrasani orang lain, perselingkuhan, dan sebagainya selalu menarik. Hehehe... Obrolan tentang usaha, lalu tersambung menjadi mitra kerja juga sangat mungkin. Ngobrolin diri sendiri, curhat tentang suami anak juga mungkin. Obrolan tentang spiritualitas juga sering lho. Komunitas ini diisi oleh beragam orang dari ragam agama, suku maupun jenis pekerjaan. Bahkan seringkali obrolan menjadi mendalam tentang perkawinan, kematian, hakikat kehidupan dan sebagainya. Obrolan itu menjadi bumbu dalam perjalanan seiring melewati rute yang sama.

Luar biasanya, obrolan ini ya benar-benar jadi bumbu saja khususnya bagiku.. Ndak mempengaruhi apa pun. Bahkan tidak menjadi bahan penilaian terhadap seseorang. Itu seperti kisah yang mengalir lalu ilang begitu perjalanan sampai finish kembali di meet point. Usai itu ya sudah. Tak ada hal apa pun yang mengganjal atau mengganggu.

Itulah salah satu asyiknya berada dalam komunitas ini.