Sunday, October 04, 2026

UPAYA KECIL MERAWAT BUMI DENGAN ECO ENZYME


    Sekelompok orang dari berbagai macam komunitas belajar membuat eco enzyme dari kulit buah dan sayuran sisa konsumsi di Asilo Hermelink, pada Jumat 25 September 2026. Kegiatan ini dipandu oleh C. Tresnaningsih Carlos dan Vinsensia Eni Romawi, penggiat eco enzyme yang aktif memproduksi maupun melakukan edukasi untuk kelestarian bumi di Lampung, diikuti oleh berbagai komunitas dan masyarakat umum.

Secara ringkas, Tres dan Eni memberikan petunjuk tentang cara membuat eco enzyme dan kegunaannya bagi kehidupan sehari-hari khususnya untuk keluarga. “Pembuatan eco enzyme ini memanfaatkan kulit buah dan sayur yang selama ini sering dianggap sebagai sampah dan dibuang begitu saja,” ujar Tres.

Dalam kegiatan kali ini, eco enzyme yang dibuat menggunakan minimal lima jenis kulit buah dengan harapan enzyme yang diproduksi menjadi lebih optimal. Beberapa tips diberikan oleh dua ibu ini, seperti menggunakan banyak kulit jeruk supaya eco enzyme yang dibuat menjadi lebih wangi segar. Kulit buah yang digunakan juga harus dicuci bersih untuk menghindari resiko kegagalan seperti bau busuk dan munculnya belatung.

“Kulit buah dicampur air bersih dan gula, bisa gula merah atau molasi, diletakkan pada wadah yang tertutup rapat, dihindarkan dari sinar matahari. Campuran ini akan difermentasi selama minimal tiga bulan,” jelas mereka.

Hasil panen eco enzyme ini nantinya dapat digunakan untuk berbagai kepentingan seperti untuk sabun mandi, cuci piring, obat luka, kumur, pembersih lantai, dan sebagainya. Ampasnya juga bisa digunakan untuk pembersih atau dikeringkan menjadi pewangi ruangan. Tentu saja semuanya ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia buatan.

Kegiatan ini digagas awal oleh Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) bersama Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Siti Andriani dari JPP dalam pembukaan acara menyatakan bahwa kegiatan ini awalnya didasari oleh keingintahuan untuk mengetahui proses pembuatan eco enzyme secara langsung.

“Di berbagai chanel youtube memang bisa mudah kita temukan cara pembuatan eco enzyme, tapi tentu akan berbeda jika kita mengalami langsung melihat dan membuat eco enzyme. Semoga ini menjadi pengalaman baik buat kita semua untuk ditularkan ke berbagai komunitas yang kita gulati maupun yang kita dampingi,” ujarnya. 

Yuli Nugrahani, ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang dan juga Ketua Forum PUSPA Provinsi Lampung menyatakan di bagian akhir kegiatan bahwa kegiatan serupa akan terus digelar di Asilo Hermelink sebagai sarana pembelajaran berbagai upaya merawat bumi. Saat pemanenan eco enzyme yang sudah dibuat nanti direncanakan akan mengundang seluruh peserta kembali dan juga kelompok lain untuk melanjutkan produksi turunan dari eco enzyme seperti yang dijelaskan oleh penggiat Komunitas Eco Enzyme Nusantara di Lampung. Di Asilo Hermelink juga sedang dirintis budidaya magot, penanaman sayur mayur secara sederhana, juga mengundang berbagai komunitas untuk menggunakan lahan di Gedungmeneng ini untuk kegiatan-kegiatan edukasi peduli sosial, lingkungan, dan pengembangan karakter.***


 


Saturday, October 03, 2026

MUNCAK SEMINUNG LAGI (2)

 Sejak beberapa hari sebelum berangkat ke Lumbok, tempat basecamp pendakian ke Gunung Seminung, aku sudah memvisikan bahwa dua hari pendakian kami itu tak akan ada hujan. Mungkin berjalan dalam sore tapi aku berharap tidak terlalu malam sudah sampai di puncak.

Sabtu, 26 Oktober, kami berangkat dari dapur Hajimena seuai adzan subuh berkumandang, usai cangkir kopi Mo Bagas lesap ke tenggorokannya. Masih sangat pagi, kami berempat segar, sukacita, dan niat menggali semangat bersama-sama dalam perjalanan. Doa masing-masing kami lakukan di dalam mobil begitu Mo Bagas menginjak pedal gas. Dia akan digantikan oleh Mang Ateng di Kotabumi. 

Mang Ateng yang kubayangkan tidak seperti yang real. Mang Ateng ini pensiunan driver di salah satu keluarga Maria. Mereka sudah kenal dekat dari dulu sejak Maria masih bayi. Umur Mang Ateng menurut pengakuannya sudah 74 tahun! Ini yang membuatku kaget. Untuk perjalanan ke Liwa dengan jalan berkelok, ndak bahaya tah. But, ndak perlu kuatir. Mang Ateng sudah biasa melalap lajur Kotabumi, Bukit Kemuning, Sekincau, Liwa, PP sejak jaman dulu. Memang dia sudah lama ndak melewati jalan ini, dan lama tidak menggunakan mobil matic, tapi perjalanan pagi ini sungguh lancar, sampai di perhentian pertama: Sekincau. Kami mampir cukup lama untuk kopi asli kebun suster-suster HK yang baik.

Karena itulah, kedatangan kami di Lumbok agak lewat dari yang kami rencanakan, walau tidak terlalu lama apalagi kami masih mampir ke RM. Sabah Brak, dekat jembatan Liwa.

Basecamp Lumbok sedang ramai. Kami sudah memperkirakan itu karena ini week end. Registrasi Rp 10 rb per orang, potensi sampah plastik dihitung, antri kamar mandi, dan packing ulang, kami start dari basecamp pada pukul 14.30.

Penghitungan potensi sampah plastik ini dulu tidak dilakukan di gunung Seminung. Sampah luar biasa di jalur maupun di puncak. Dengan penghitungan potensi sampah ini, Seminung menjadi lebih 'bermartabat'. Setiap sampah yang terlupa dan selip dalam hitungan saat pulang nanti, akan ada denda Rp 20 rb per buah. Lumayan kan.

Yang kami perhatikan dengan teliti sebelum start, selain barang-barang yang berpotensi sampah:

1. Logistik, yaitu air minum dan makanan kami pastikan mendekati tepat untuk perjalanan naik, muncak dan turun. Masing-masing orang membawa minimal 2 liter air minum. Aku membawa 4 botol air minum @650ml, plus 1 botol pocari sweat. Makan malam kami sudah membungkus dari RM. Sabah Brak, nasi, ikan goreng dan sambel. Masing-masing membawa roti, beberapa cemilan tambahan. Juga tas kecil Pak Hen dijejali buah-buahan (pisang, anggur, jeruk) untuk dimakan saat naik. Dalam ranselku masih ada mi instan 4 bungkus, telur mentah 4 bungkus, kopi teh gula dan sereal.

2. Benda-benda kebutuhan kami masing-masing aman dalam bungkus plastik anti basah. Tiap orang membawa jaket, ganti baju lengkap, jas hujan, sleeping bag, headlamp, matras dan topi. Dalam ransel Mo Bagas ada tenda u 4 orang, sedang di ransel Pak Hen ada flysheet, alat masak, dan... drone. Semuanya mesti dipacking aman jaga-jaga kalau hujan.

3. Obat-obatan cukup lengkap ada di dompet kecil pak Hen. Tapi setiap orang dari kami membawa obat-obatan pribadi. Aku agak kuatir karena saat turun dari mobil dan jalan ke basecamp aku ngerasain aku mulai mens. Duhhh. Memang gunung Seminung tak ada pantangan bagi perempuan mens untuk naik. Tapi ini artinya butuh perhatian ekstra ke tubuh. Aku harus lebih hati-hati, lebih jaga, pokoke ndak boleh drop. Dan yang pasti, aku pasti akan lebih lambat dalam gerak. Duh. 

Friday, October 02, 2026

Didoakan Panjang Lebar: "Amin, Lis. Amin."

Usai berdoa dekat peti jenazah Rm. Wolf sebelum pemakamannya, aku melanjutkan doa singkat dekat pintu. Aroma kuat dalam ruang di Katedral itu membuat mataku pedih. Jadi aku menyingkir keluar pelan-pelan, dan karena di luar banyak sekali orang-orang yang sedang melayat, mau tak mau aku mesti berjumpa dengan mereka semua. Di antaranya menahanku dengan cerita-cerita, sapaan, dan seterusnya.

Usai mendapatkan tempat longgar persis di seberang pintu, suara sengau Lis Kim Siong meneriakkan namaku. Andai aku melihatnya lebih dulu aku pasti akan menghindarinya. Aku sedang merasa bersalah padanya karena tidak mengangkat telpon dan video call berulang kali. Pasti dia nanti akan ngomelin aku sambil marah-marah.

Tapi ternyata yang terjadi kemudian adalah teriakan riang yang ditambah dengan ucapan terimakasih bertubi-tubi, bertanya tentang aku, tentang ibuku dan sebagainya. Oalah, Lis. Maafkan aku ya. Di tengah hiruk pikuk suaranya timbul tenggelam, apalagi dengan sengau bindeng seperti itu aku hanya bisa manggut-manggut kusambi dengan menyapa orang-orang lain yang menghampiriku.

Beberapa orang menarikku untuk bicara, dan aku lupa kemana si Lis pergi, sampai kemudian saat aku duduk di antara banyak orang di sisi lain, Lis kembali menghampiri, menarikku ke tempat yang sepi di ruang ganti yang agak gelap.

"Ngopo lho Lis."

"Aku mau mendoakanmu. Juga mendoakan ibumu."

Oh. Oke. Aku manut duduk di sampingnya. Dia memegang tanganku dengan erat seolah ndak mau aku melarikan diri (hehehe). Dia tanpa basa-basi membuka dengan tanda salib (aku tak bisa membuat serupa karena tanganku dipegang kuat). Lalu dia berdoa panjang lebar untukku, untuk ibuku, untuk anak-anakku, untuk suamiku. Demi kesehatanku, kebahagiaan, rejeki, dan lain-lain yang tak bisa kudengar dengan jelas. Aku hanya mengamininya sambil menimpali dalam hati:"Tuhan, kabulkanlah doa-doanya. Aku memang membutuhkan itu."

Lis masih menyebut nama-nama lain, yang sebagian tak kudengar dengan baik. Dia mengucapkan syukur, terimakasih, salah satunya karena sudah dapat banyak dari Tuhan lewat aku (eh, padahal aku selalu melarikan diri darinya). Doa panjang lebar itu dia tutup dengan tanda salib, masih dia ucapkan terimakasih karena selalu memberinya uang dan lain-lain.

Ya ampun, Lis. Yang kuberi itu tak sepadan dengan yang kuterima. Terimakasih yaaa... Aku mengucapkan terimakasih tulus benar-benar tulus dari hatiku. Terimakasih. Aku memeluknya ringan berharap dia selalu sehat dan gembira. 

Thursday, October 01, 2026

SELAMAT JALAN, ROMO WOLFRAM

Romo Wolfram Safari, lahir 20 Maret 1974 dan meninggal kemarin 29 September 2026 pada umur 52 tahun. Cara meninggal yang sangat tenang.

Selasa, 29 September 2026, malam usai rapat di Mekar Sai, aku mampir ke tempat Oom Wawan atas pesan Pak Hen untuk ikut pembahasan jadwal Selasih bagi kring kami. Di tengah perbincangan, sekitar jam 19 lewat, Rm. Piet telpon. Menyampaikan berita duka sedikit ragu. Aku pun tak terlalu yakin, tapi kemudian konfirmasi dari beberapa orang membuatku yakin, romo yang kukenal sedikit sisinya ini sungguh sudah pergi.

Aku menyebutnya kenal sedikit dari sisi hidupnya karena memang aku tidak akrab sampai tahu seluruh sejarah hidupnya, tapi, aku pernah mengalami beberapa peristiwa bersama Rm. Wolf.

1. Saat masih diakon atau romo muda, kami pernah tergabung niat banget ngobrol serius belajar dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja (ASG) bersama Rm. Baron, Rm. Jo, Sr. Mathea, dan teman-teman lain. Sok-sokan idealis, kami menggunakan wadah Seghom Suluh, semut merah, yang ingin peduli pada situasi-situasi sosial. Kami memulainya dengan belajar ASG, dengan sedikit orang yang berminat.

 2. Selang waktu kemudian, Rm. Wolfram diminta menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan. Aku terlibat dalam Komkep ini sejak dulu bareng Rm. Koto, juga romo setelahnya. Maka aku rela hati menyambungkan Rm. Wolfram pada orang-orang muda potensial yang bisa menjadi timnya, termasuk persiapan-persiapan ke Indonesia Youth Day, International Youth Day, juga kegiatan-kegiatan lain.

3. Saat jadi ketua komkep inilah, Rm. Wolfram juga ngurus Asilo sebagai Youth Center. Saat itu juga ada peristiwa yang kemudian membuat keluarga yang biasa merawat Asilo harus pergi dari sana. Aku marah muntap menganggap Rm. Wolfram tidak bijaksana. Ketika kuangkat ke Kuria dalam perbincangan dengan Rm. Hari, Vikjen waktu itu, aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aku sedih dan marah, menganggap keuskupan tak punya hati bagi keluarga tak berdaya. Untungnya aku sempat obrolin ini dengan Rm. Marino yang memintaku untuk melihatnya dengan lebih seimbang. Aku tetap dengan kekecewaanku tapi aku tidak lagi marah. Aku menyindir-nyindir Rm. Wolfram beberapa kali bahwa dia itu pengkianat ASG, dia menanggapinya dengan pasrah. 

4. Peristiwa Wiyata Garden membuatku yakin aku begitu sayang pada romo-romo projo Keuskupan Tanjungkarang. Aku minta ke Rm. Wolf untuk mempertimbangkan lagi banyak hal. Saat itu dia menjadi ekonom keuskupan. Posisinya menurutku sangat strategis untuk memberikan dampak. Aku menarik diri supaya  tidak terlalu 'open' (open boso Jowo yo), aku menulikan telinga, menutup bibir, dan berusaha: semua akan ada waktunya secara tepat, Yuli. Jadi walau aku menganggap ada banyak hal tidak pas, tidak tepat, tapi aku tidak ambil peduli yang kuat yang bisa membuatku marah kecewa sedih. Pokoknya, ayolah mengalir. 

5. Dalam beberapa tahun terakhir, aku berteman dengan baik, berelasi dalam sukacita, ngguya ngguyu yen ketemu, seringkali lupa kalau tidak ketemu. Aku paham ada banyak aliran yang tak mesti berjalan seideal yang seharusnya.

Kini Rm. Wolfram sudah dalam damai. Menjenguknya semalam dalam peti di katedral, wajahnya ayem tentrem seperti orang tidur dengan sedikit senyum di bibirnya, itu posisi meninggal yang menyenangkan. Tidak sakit, tidak merepotkan. Aku sudah selesai dengannya, dan yang utama dia sudah menyelesaikan perjuangannya yang sebagian besar tak kupahami. Aku hanya tahu bagian yang sangat sedikit darinya. 

Selamat jalan, Rm. Wolfram.  

Monday, September 28, 2026

MUNCAK GUNUNG SEMINUNG LAGI (1)

Sabtu-Minggu, 26 - 27 September 2026 lalu aku, Pak Hen, Mo Bagas dan Maria muncak ke Gunung Seminung Lampung Barat. Bagi aku dan Pak Hen, ini kali ke tiga. Mo Bagas ini jadi kali ke dua. Sedang Maria, baru pertama kali nanjak Seminung. Kisah-kisahnya nyusul. Berikut ini aku pasang dulu itinery awal rencana perjalanan untuk dua hari trip.

 GOES TO SEMINUNG

Sabtu, 26 September 2026
03.30 – 04.30    OTW dari Antasari - Pahoman - Hajimena    
04.30 – 07.30    Perjalanan tol Natar – Kotabumi
07.30 – 12.00    Kotabumi – Lumbok: Mampir sarapan RM. Cheche (Pondok Pinus) Sumberjaya, kalau sudah buka. Kalau belum buka lanjut mampir Sekincau atau Liwa untuk makan dan nasi bungkus    
12.00 – 13.00    Registrasi, persiapan, packing ulang    
13.00 – 17.00    Tracking: pos 1 – pos 2 – pos 3 – pos 4 - Puncak.    Cemilan di tiap pos
17.00 - …    Menikmati sunset di puncak, pasang tenda, makan, fun.    Makan malam nasbung 
        
Minggu, 27 September 2026
05.00 – 08.00    Sarapan, foto-foto-foto, bongkar tenda, packing Sarapan: nasi porang, telur goreng, abon, timun, plus energen
08.00 – 11.00    Mbrosotttt, Cemilan di tiap pos
11.00 – 12.00    Santuy di basecamp    
12.00 – 13.00    Paling telat jam 13.00 sudah otw dari basecamp    
13.00 – 15.00    Eksplore Danau Ranau sambil cari makanan enak    
15.00 …    Cuzzz… Bandarlampung, mampir ngopi di Sumberjaya samping masjid jamik Moga jam 22.00 semua sudah sampai rumah masing-masing (Hajimena – Pahoman – Antasari)

Beberapa rencana bergeser ngikuti situasi. Tapi seluruh situasi itu sungguh ternikmati. Detil kisahnya menyusul yaaa...

Wednesday, September 09, 2026

Me Time: Makan dan Santuy

 Keseimbangan bisa didapat sesekali menjauh dari keramaian. Untuk orang model aku, terlalu lama berada dalam keramaian bisa membuat pusing. Rasanya bising dan berisik. Sebagian dari banyak cara yang bisa dipilih untuk 'me time' adalah makan dan nglamun, santuy, ndak usah usah ngapa-ngapain.

 Duduk santai, sambil mikir macam-macam tanpa nargetin dapat solusi atas masalah-masalah. Atau jalan tak tentu arah juga bisa sih menjadi salah satu cara.

Cara lain yang paling manjur bagiku adalah makan. Mengunyah makanan bisa menjadi sarana untuk rilex, santuy. Bukan hanya santai secara tubuh tapi juga secara pikiran dan hati. Konon gerakan rahang berulang dapat membuat lebih fokus dan pikiran menjadi tenang. Gerakan mengunyah juga bisa menurunkan hormon stress. Kononnn...

Siang ini menu yang paling pas untuk gerakan mengunyah adalah pepes ikan patin, dadar jagung campur tahu dan lalapan. Pepes tak perlu repot. Dapoer Cantik depan rumah dengan senyum Henny yang cantik siap sedia sejak pagi. Nasi sudah ada. Dadar jagung tinggal membuat dalam waktu singkat. Nanti kupasang resepnya di bawah. Lalapan ambil dari sekitar rumah, ada pucuk daun kates yang sudah tidak produktif, rebus dengan sedikit garam dan minyak goreng. Lalapan lain daun sirih cina. Ini dah seger banget. 

 Dadar jagung:

Sisir satu jagung. Ulek 2 bawang putih, 3 bawang merah, garam dan lada secukupnya. Jagung yang sudah disisir ulek sekalian. Masukkan sedikit tahu untuk campuran, irisan cabe sesuai selera, bisa diskip juga. Tambah dengan satu sendok tepung maizena, dan satu telur. Kocok jadi satu, goreng sesendok-sesendok sampai matang. 

Dah, mari makan.