Friday, July 03, 2026

Buku Kumpulan Cerpen Elly Dharmawanti: MANTRA PENYEMBUH LUKA

 MANTRA PENYEMBUH LUKA Kumpulan Cerpen Elly Dharmawanti Dua alternatif cover Pilih yang mana? #bukucerpen #mantrapenyembuhluka #ellydharmawanti #pustakalabrak

Tulisan ini saya buat untuk buku Kumpulan Cerpen Elly Dharmawanti yang diterbitkan tahun 2025 oleh Pustaka Labrak, Lampung.

 

PEREMPUAN DALAM PENGALAMAN LUKA DAN PENGALAMAN CINTA

Kata untuk Mantra Penyembuh Luka

Oleh Yuli Nugrahani

 

Perempuan dipersiapkan menjalani luka sejak dia masih sangat remaja. Pengalaman luka dialaminya saat bulan-bulan dadanya mulai tumbuh. Luka yang tak terlihat karena ada di dalam rahimnya, tiap bulan mengucurkan darah secara rutin. Kadang luka itu harus dilalui dengan tangis karena memang sakit. Sering juga disertai lonjakan emosi yang bahkan tidak dimengertinya dengan baik hingga bertahun-tahun. Pengalaman luka seperti itu harus dia sembunyikan dengan baik, mesti dianggap biasa oleh semua orang bahkan oleh dirinya sendiri, karena itulah bagian dari kodratnya sebagai perempuan.

Bagi sebagian perempuan, mereka berhasil memaknainya rutinitas luka ini sebagai ‘persiapan’, atau menjadi semacam latihan. Ada banyak peristiwa di kehidupan perempuan akan berhadapan dengan luka yang lebih besar dari pada sekadar menstruasi. Saat mereka sungguh-sungguh bisa menerima dirinya sebagai ‘perempuan’, mereka bisa sampai pada ‘titik maklum’ yang ikhlas. Mungkin saja ada keluhan, tapi keluhan itu menjadi rangkaian bunga di sujud doanya. Atau, mungkin saja ada amarah, tapi amarah itu dibungkus rapat dalam alunan cinta setia tak tergoyahkan.

Kekayaan luar biasa seperti ini tak mungkin bisa direbut dari perempuan. Karena anugerah itulah, perempuan menjadi kuat jauh melampaui penampakannya. Yang keterlaluan, ada juga yang menganggapnya sebagai manusia ‘yang tidak apa-apa dilukai’ karena dia sudah terlatih untuk luka.

Perempuan sering dianggap bisa menyembuhkan dirinya sendiri sehingga banyak orang yang abai terhadapnya. Kadang-kadang, dia butuh ditanya: “Apakah kau sudah makan? Apakah kau baik-baik saja hari ini?” Atau pertanyaan-pertanyaan lain.

Perempuan sangat mudah bertanya karena dia peduli dan ingin dipedulikan secara sama. Pada situasi tertentu pertanyaan-pertanyaan itu dianggap kecerewetan, sehingga banyak pertanyaannya tak dijawab dengan baik. Pun, perempuan sangat ingin ditanya, karena sebenarnya pertanyaan bisa menjadi sebentuk kepedulian. Tapi, dalam beberapa kenyataan, banyak jawaban perempuan dibungkus dengan air mata, sehingga si penanya kapok melakukannya, seolah pertanyaan itu yang melukai.

Elly Dharmawanti menulis dalam Cerpen Sincia di Mata Mei tentang pengalaman pergulatan dengan luka duka sejak masih menjadi perempuan kecil.

“Mei gadis kecilku yang baik. Aku tau pasti itu. Ia tak ingin membuat semua orang mengkhawatirkannya. Ia bahkan tidak ingin membuat keributan sekecil apa pun, bahkan sekadar membantah kalimat yang aku ucapkan. Tidak pernah! Ia gadis yang penurut, menyimpan duka di setiap tatap matanya. Aku tahu itu. Aku sadar itu.”

 

Duka Mei bisa dipahami oleh ibunya. Sesama perempuan semestinya lebih memahami, apa lagi dalam lingkaran hidup yang sama: ibu dan anak perempuannya, atau nenek dengan cucu perempuannya, sahabat perempuan, dan sebagainya.

“Meski harimu penuh darah dan air mata, tak boleh ada duka di hari Sincia.” Ini pesan yang sering didongengkan oleh para sesepuh tua, turun-temurun. Karena itu setiap Sincia tiba aku dan Mei selalu menyembunyikan air mata, meski aku selalu tahu doa yang ia lapalkan setiap harinya, setiap tahunnya, “Tuhan tolong kembalikan, papa.”

 

Dalam Cerpen Perawan Tua, Perempuan, dan Laut, Elly menuliskan hal yang menandaskan hal itu.

Bagi Siti, hanya emak yang ia punya di dunia ini, hanya emak yang mengerti perasaannya, hanya emak yang melindungi dan membelanya dari cemoohan orang-orang, termasuk kedua saudara perempuannya.

 

Kekuatan perempuan untuk menyembunyikan luka, membuat orang lain tak memahami luka itu. Ini sangat merugikan. Namun saya, yang juga seorang perempuan, pun mempunyai kecenderungan itu walau pikiran saya sesekali mengarahkan hal yang sebaliknya. Cerpen Sepatu Kets Biru, saya yakin dituangkan atas pengalaman pribadi Elly sebagai perempuan.

“Aku menatap gerimis yang turun senja ini. Dari jendela kamar yang setengah terbuka, aku membiarkan udara dingin menerpa kulitku. Aku membiarkan semuanya, lukaku, airmataku, mimpi-mimpiku. Aku di sini, memilih di sini, menyembunyikan luka di sebuah tempat yang tak terdapat dalam peta, berjuang melawan sakit dan benci yang tidak ingin kutunjukkan pada siapa pun. Tidak padamu ataupun mereka yang turut prihatin atas kisahku. Meski tak mudah, meski butuh waktu yang sampai entah, aku tak akan menyerah, aku akan tetap berjuang untuk baik-baik saja dan tetap berdoa semoga kamu bahagia dengan dia.”

 

Alasan tidak mengungkapkan luka bisa ditelusuri lewat berbagai kemungkinan. Sebagai seorang ibu, aktif dalam berbagai kegiatan, Elly, si penulis cerpen, pasti punya banyak pengalaman perjumpaan dengan banyak perempuan yang membuatnya bisa mengambil kesimpulan-kesimpulan umum. Mengungkapkan luka bisa menghadirkan cemooh, label negatif, cacian, atau olokan. Kebanyakan orang menuduhkan aib pada korban. Cerpen Ibu Aisah yang ditulis Elly bahkan diakhiri secara tragis. Bukan peristiwa tragis yang langka, bahkan hal itu sering terjadi.

Lewat hampir semua cerpen dalam buku ini, Elly menampilkan ragam bentuk reaksi terhadap luka. Perempuan dituntut untuk menyembuhkan luka itu secara mandiri walau sebenarnya ada banyak perempuan yang tak mampu melaluinya tanpa bantuan orang lain. Diperparah lagi oleh tuntutan umum yang bahkan membuat perempuan menjadi merasa bersalah jika tak bisa menyembuhkan luka. Cerpen Mantra Penyembuh Luka melukiskan hal itu:

Berhari-hari setelah itu, jangan pernah tanya hatiku. Aku bahkan lupa cara makan dan tidur, lupa bagaimana harus menegakkan kepala dan tersenyum. Aku benar-benar hancur, meski sudah ratusan kali kurapal mantra sakti itu dengan sepenuh hati, berharap keajaiban masa kecilku hadir kembali, berharap tak ada sakit lagi...

berkutek berkunang

kejijek mak ngisang

peh.. peh...peh...

Dengan mata berlinang kupegang dadaku yang sakit. Aahhh, Ibu maafkan aku, kali ini mantramu tak mempan untuk hatiku.

 

Cerpen-cerpen Elly mengisahkan kematian-kematian ragawi maupun nonragawi, juga harapan-harapan. Kemampuan tiap perempuan berbeda, dan tak ada ukuran standar yang bisa digunakan. Setidaknya, menghadapi luka dalam kecantikan dan sukacita bisa menjadi pilihan. Cerpen Salui Pitu memberikan petunjuk terhdap dua kata kunci tersebut.

“Kalau kamu mau secantik putri raja, mandilah ke salui pitu sekarang juga,” ujar Among Unah tertawa memamerkan giginya nyang nyaris ompong semua.

 

Kekhasan yang tak mungkin disaingi dari Elly adalah balutan Lampung dalam semua tulisan-tulisannya. Pembaca mesti menangkap serta mengapresiasinya sebagai usaha, upaya, perjuangan, untuk menghidupi dan menghidupkan Lampung dalam literasi abadi.

Lalu, di manakah pengalaman cinta seorang perempuan? Keseluruhan cerpen Elly dalam buku ini adalah kisah cinta. Saya yakin, dengan membacanya pembaca akan menangkap relasi cinta perempuan dengan ibu, suami, anak, sahabat, kekasih, dan sebagainya. Cinta itu muncul karena hasrat hati perempuan yang senantiasa ingin menyembuhkan sekaligus terus berada dalam kesembuhan.

berkutek berkunang

kejijek mak ngisang

peh... peh...peh...

  

***

Thursday, July 02, 2026

KESETARAAN GENDER: MENGHORMATI MARTABAT MANUSIA DALAM KELUARGA

 

Kesempatan yang menarik masih melengkapi hari Sabtu, 27 Juni 2026. Setelah pagi sejak subuh keluar rumah dengan Lapah Jiarah sekitar 8 km, lalu bergeser untuk menemani Rekoleksi Pemerhati Lapas, sore sampai malam bersama Komisi Keluarga Keuskupan Tanjungkarang dengan satu sesi yang masih perlu digarap di tingkat keluarga, masyarakat, gereja maupun negara.

Kongres Keluarga Keuskupan Tanjungkarang yang pertama digeber sejak Jumatt 26 Juni dan akan berakhir pada Minggu 28 Juni 2026. Setelah beberapa sesi masukan dari narasumber, saya diminta untuk mengisi sesi yang akan menunjukkan perspektif gender dan perempuan khususnya dalam kehidupan di Lampung.

Saya memilih judul yang umum Kesetaraan Gender: Menghormati Martabat Manusia dalam Keluarga. Ini menjadi kesempatan bagi saya untuk mengajak sekitar 150 peserta yang hadir di Hotel Arinas untuk melihat konsep dasar gender. Pemahaman ini penting supaya perspektif gender ini sungguh dipahami dan dilatih praktiknya di tengah keluarga dan masyarakat.

Model diskusi dan sharing menjadi sarana yang tepat. Jam sore sangat rawan karena peserta sudah melalui banyak sesi yang padat dan capek. Dalam dua jam sesi yang saya ampu, ada dua diskusi yang saya pandu. Tidak sampai pada sebuah rencana konkret, tapi paling tidak, peserta memahami bahwa kesetaraan gender merupakan bentuk tindakan kasih karena didasari dengan penghormatan martabat manusia. Orang yang menyatakan cinta pastilah tak akan rela orang yang dicintai menjadi korban. Dan dalam skala kecil atau besar, tiap peserta pasti pernah mengalami praktik baik tentang kesetaraan. Inilah bekal untuk dikembangkan ke masa mendatang pada posisi manapun.  


 

Tuesday, June 30, 2026

Rekoleksi Para Pemerhati Lapas KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang: CURAHKANLAH DI HADAPAN TUHAN

 

Semangat pelayanan kasih bagi warga binaan kembali dikobarkan oleh para relawan Pemerhati Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di bawah naungan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari perwakilan paroki, kongregasi, kelompok devosional, hingga perwakilan Kemenag Lampung Selatan berkumpul dalam kegiatan Misa Kudus dan rekoleksi yang berlangsung di Pendopo Asilo Hermelink, Gedung Meneng, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Mengusung tema "...Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan" (Ratapan 2:19), kegiatan ini menjadi wadah penyegaran spiritual bagi para relawan yang setiap harinya berkecimpung dalam pendampingan rohani di balik jeruji besi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD Antonius Suhendri bersama RD Christoforus Susanto. Dalam homilinya, Romo Suhendri menekankan cara menghadapi tantangan dalam pelayanan.
"Tidak semua solusi bisa diselesaikan dengan uang. Solusi bisa diselesaikan juga dengan iman. Menyelesaikan masalah tidak harus dengan emosi, tetapi bisa didapat dengan datang pada Tuhan Yesus dengan rendah hati," ujar Romo Suhendri di hadapan para peserta.

Senada dengan itu, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, Ch. Dwi Yuli Nugrahani, mengajak para peserta untuk terus mengembangkan diri, baik secara pribadi maupun kelompok. Ia menekankan pentingnya ketulusan dalam pelayanan agar semakin "kudus" dalam menjalankan tugas perutusan.
Yuli juga menyoroti masih adanya celah pelayanan yang perlu dijangkau, seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Masgar, Tegineneng, yang belum sempat tersentuh secara maksimal oleh karya pastoral keuskupan.

Sejarah Panjang dan Cakupan Pelayanan
Dalam kesempatan terpisah, Yuli menjelaskan bahwa pelayanan pemerhati Lapas merupakan agenda rutin KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Fokus utama adalah memberikan pendampingan rohani bagi warga binaan Kristen dan Katolik di Lapas yang telah menjalin kerja sama (MoU) dengan keuskupan.
"Saat ini, kami rutin melayani di empat Lapas di Bandar Lampung, satu di Lampung Selatan, dan satu di Metro. Pelayanan dilakukan melalui kunjungan rutin mingguan atau sesuai jadwal yang telah disepakati," jelas Yuli.
Karya ini bukanlah hal baru. Pelayanan ini telah dirintis sejak tahun 2000-an, bermula dari inisiatif  Sr. Mathea HK yang saat itu hanya melibatkan satu atau dua relawan. Kini, pelayanan tersebut telah berkembang pesat dengan melibatkan ratusan relawan dari berbagai komunitas.

Mewujudkan Ajakan Kasih Yesus
Menurut Yuli, pelayanan ini berakar pada semangat Injil Matius 25 tentang Penghakiman Terakhir, di mana Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai orang yang miskin dan tersingkir.
"Bidang ini tidak sedang menyetujui tindakan kriminal atau pelanggaran hukum. Ini adalah harapan bahwa setiap manusia selalu dipanggil untuk bertobat dan kembali pada hakikatnya yang bermartabat. Dalam jiwa manusia yang utuh, selalu ada kejahatan dan kebaikan yang bisa dikelola untuk menjadi kudus," tegasnya.

Tantangan dan Inspirasi
Yuli mengakui bahwa tantangan terbesar bukanlah pada teknis pelayanan, melainkan pada kemurnian motivasi. "Hadir bukan untuk unjuk diri, tetapi untuk belajar lebih rendah hati. Tantangan lain adalah ketika warga binaan yang sudah keluar, namun kembali masuk karena kejatuhan yang sama. Inilah yang harus menjadi perhatian bagi para relawan," ungkapnya.
Baginya, pelayanan di Lapas memiliki keunikan tersendiri dibandingkan bidang kesehatan atau pendidikan. "Pelayanan di Lapas berbeda, namun justru di situlah menjadi pengalaman yang asyik jika dihayati dalam sukacita iman," tambahnya.
Ketika ditanya mengenai motivasi terbesarnya, Yuli menunjuk sosok pendahulunya, Sr. Mathea HK. "Beliau adalah sosok yang rendah hati, sederhana, namun penuh cinta. Beliau tidak pernah dendam, bahkan kepada orang yang telah menipu atau memanfaatkannya. Suster Mathea HK inilah yang menjadi penyemangat konkret bagi saya," pungkas Yuli.

Yulius Urip Prasojo selaku Ketua Bidang Pelayanan Pemerhati Lapas Keuskupan Tanjungkarang, beserta seluruh tim kerja dalam bidang ini berkomitmen menggarap kegiatan rekoleksi ini tiap tahun. Tahun lalu, kelompok ini melakukan kegiatan serupa bersama Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo di daerah Batuputuk.  Sedangkan dua tahun lalu, rekoleksi bersama Vikjen Keuskupan Tanjungkarang, RD. A. Satu Manggo di Pantai Sebalang. Selalu dilibati oleh lebih dari 150 relawan dari berbagai kelompok yang rutin melayani Lapas. ***(Tjia)

Lapah Jiarah Lampung 4: Asilo - Sendang Banyu Urip, Kesederhanaan Pikir dan Nadir

Perjalanan, tepatnya jalan kaki, merupakan gerak yang paling sederhana yang bisa dilakukan oleh tubuh. Dalam Lapah Jiarah, gerak ini menjadi konkret sebagai sarana untuk 'sadar', untuk 'ingat' dan untuk 'semangat'. Aku menyebutnya demikian khususnya dalam perjalanan Lapah Jiarah ke 4 di Bulan Juni 2026, Sabtu, 27 Juni 2026 lalu.

Sadar, aku awali dengan lebih nyata saat Bu Pieri, sahabat hatiku ini, menyebut namaku untuk memimpin pemanasa sebelum Lapah Jiarah dimulai. Aku sudah sepakat untuk melakukannya maksimal 5 menit gerakan peregangan minimal melibatkan otot-otot kaki, pinggul, pinggang, tangan, bahu dan kepala. Saat melakukannya, rasa syukur membuncah dalam dada. Aku melakukannya sungguh-sungguh untuk 'mengumpulkan nyawa'. Bangun pagi sama sekali bukan hal yang menarik bagi pemalas sepertiku, apalagi dulu saat masih hidup sendiri. Sejak menikah, memiliki kewajiban-kewajiban bersama suami dan anak, aku dipaksa untuk rutin bangun pagi. Tapi tetaplah, jika ada pilihan aku akan memilih agak lama bermalas-malasan di kasur sebelum sungguh-sungguh bangun.

Pun Sabtu itu aku bangun dengan 'terpaksa'. Jam 4.30 sudah start berangkat dari rumah menuju Asilo, setengah merem walau tubuh sudah disiram air. Kesanggupan untuk memimpin pemanasan menjadi cara tepat untuk benar-benar bangun. Tak hanya bangun tapi sampai pada kesadaran, sadar bahwa aku, jiwaku, masih diberi rahmat tubuh yang luar biasa. Maka gerakan peregangan sederhana yang kupilih, selain ditujukan bagi para peserta yang ikut, menjadi caraku untuk 'sadar', bergerak dengan sadar, dan membangkitkan sukacita.

Point kedua tentang 'ingat', ini menyangkut kerutinan yang semacam ini yang pernah kulalui. Dalam 4 kali lapah jiarah, aku ikut pada tiga tripnya. Selalu ada saat seperti dejavu, sepertinya ini pernah kulakukan, atau seperti sudah biasa. Ingat pada Sang Pemberi hidup, Sang Pemberi Rahmat, Sang Sumber dan juga Sang Tujuan menjadi bagian yang menguatkan aku. Menjadi selalu ingat ini sangat menarik untuk didalami dalam Lapah Jiarah. Jika saat berdoa, banyak orang memilih tunduk diam, hening, maka Lapah Jiarah ini menjadi pilihan wujud doa juga. Terhubung pada Sang Pencipta lewat doa yang dinamis, lewat gerakan tubuh yang ritmis, sekitar 2 jam melipat jarak sekitar 8 - 9 km. Ini cara yang asyik bagiku untuk 'ingat'. 

Semangat menjadi point ketiga yang nyata. Bertemu dengan banyak orang pasti tak bisa dianggap hal yang biasa. Bertemu dengan banyak orang dalam perjalanan yang sama artinya kesempatan untuk memperoleh kekayaan pengalaman lahir maupun batin dalam perbincangan yang akrap. Bibir yang ditarik jadi senyum pun membuahkan sukacita dalam diri.

Tentu saja bukan hanya lewat perjumpaan orang seperjalanan. Selalu ada banyak orang lain yang berpapasan di jalan yang sama. Itu pun kekayaan yang bisa direguk.

Lalu bagaimana kesederhanaan semacam ini bisa dilewatkan? Hmmm... abaikan saja yang rumit-rumit. Pikiran yang sederhana akan membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah. Lapah Ziarah adalah jalan, adalah doa, adalah latihan. Termasuk latihan sampai titik nadir untuk menjadi rendah hati. 


 


Monday, June 29, 2026

Tentang Penulis Yuli Nugrahani

Yuli Nugrahani, lahir di Kediri 9 Juli 1974, dari Ibu Titik dan Bapak Sam. Menempuh pendidikan di SDN Grogol 3 Kediri, SMPK Don Bosco Gringging, SMAK Augustinus Kediri dan S1 di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Pernah menjadi wartawan di Malang Pos, editor Mingguan SuPel (Suplemen Pelajar) Malang Pos, dan pimred di Majalah Nuntius. Sekarang tinggal di Hajimena, Natar, Lampung Selatan bekerja untuk Keuskupan Tanjungkarang sebagai Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP).

Mulai menulis berbagai bentuk tulisan pada tahun 1992 di berbagai buletin, majalah, koran dan jurnal, seperti : Buletin Terlibat, Lembur, Majalah Hidup, Ucanews, Majalah Nuntius, Femina, koran Malang Post, Lampung Post, Fajar Sumatera, Teras Lampung, Suara Karya, Sinar Harapan, Jurnal Perburuhan, Bulettin ACPP Hongkong, Majalah Mantra, Buletin Insan, beberapa media online, blog pribadi dan sebagainya.

Menjadi editor dan penyusun buku : Eritis Mihi Testes (Tanjungkarang, 2002), Suster-suster Klaris Kapusines Sekincau (Tanjungkarang, 2003), Samudera Peziarahan (Tanjungkarang, 2010), Goro-goro, Kucing Gering Bagong Leong (Tanjungkarang, 2013), Antologi Puisi Hujan Kampoeng Jerami (Sumenep, 2014), terakhir sebagai editor Antologi Puisi Titik Temu Komunitas Kampoeng Jerami (Sumenep, 2014) yang ditulis oleh Acep Zamzam Noor dkk., Kumpulan Puisi dan Cerpen Akar Rumput (Sumenep 2016), Gurindam Jiwa dalam 29 Pasal (Batam, 2017), 25 Tahun Koperasi Mekar Sai (Lampung, 2017), Pandemi Pasti Berlalu (Lampung, 2021), SAMPIAN Antologi Puisi Dwibahasa Lampung-Indonesia (Lampung, 2022), Jalan Sastra Lampung: Kumpulan Esai (Lampung, 2022), dan sebagainya.

Tulisan reflektif masuk dalam buku : Mengais Makna di Tepi Kehidupan (Surabaya, 2005), Varia Geliat Hati, sebuah Refleksi Pemerhati Buruh Keuskupan Tanjungkarang (Tanjungkarang, 2008) dan Pastoral Lembaga Pemasyarakatan, Refleksi Para Pemerhati Narapidana (Tanjungkarang, 2013).

Puisi-puisi selain tersebar di beberapa media juga masuk dalam buku : Turonggo Yakso, Memperjuangkan sebuah Eksistensi (Trenggalek, 2014), Gemuruh Ingatan 8 Tahun Lumpur Lapindo (Sidoarjo, 2014), Hujan Kampoeng Jerami (Sumenep, 2014) dan Antologi Puisi Titik Temu (Sumenep, 2014). Buku puisi tunggal berjudul Pembatas Buku, diterbitkan oleh Indepth Publishing pada Mei 2014. Buku ini diluncurkan oleh Komunitas Berkat Yakin (Kober) dalam pembacaan puisi dan bedah buku dengan moderator Ari Pahala Hutabarat di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung (Unila), pada 23 Mei 2014, dalam rangkaian milad Kober. Buku kumpulan puisi berikutnya berjudul Sampai Aku Lupa, diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami tahun 2017.

Cerpen-cerpen selain tersebar di berbagai media juga masuk dalam buku : Antologi Cerpen ‘Kawin Massal’ (Dewan Kesenian Lampung, 2011), dan Antologi Puisi dan Cerpen Sastrawan Lampung ‘Hilang Silsilah’ (Dewan Kesenian Lampung, 2013). Buku kumpulan cerpen berjudul Daun-daun Hitam, diterbitkan oleh Indepth Publishing dan Caritas Tanjungkarang pada pertengahan 2014, berisi 12 cerpen dengan mengusung tema-tema sosial dan kebhinekaan. Salah Satu Cabang Cemara (Komunitas Kampoeng Jerami, 2016), yang pada tahun 2017 salah satu cerpennya dipentaskan oleh Sun Love Community di Dawiels Cafe dan Taman Budaya Lampung. Buku cerita rakyat Sultan Domas, Pemimpin yang Sakti dan Baik Hati diterbitkan oleh Kantor Bahasa Propinsi Lampung tahun 2017.

Hingga sekarang, Yuli Nugrahani selain terlibat dalam banyak kegiatan social justice, juga aktif memberikan pelatihan penulisan dan juri di berbagai komunitas dan tempat khususnya jenis tulisan jurnalistik, reflektif, puisi dan prosa. Saat ini Yuli Nugrahani tercatat sebagai sekretaris Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung, Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, Ketua Forum Partisipasi Masyarakat dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Provinsi Lampung, Ketua Pengawas KSP Kopdit Mekar Sai dan menjadi pembina Jaringan Perempuan Padmarini.

Friday, June 26, 2026

Puisi Yuli Nugrahani: DUA PEREMPUAN TENTANG AKU

 Ketika kembali pada obrolan tentang mata kelinci.
Aku harus sabar mendengarkan Maria dan Martha
berdebat pertama-tama tentang letak.

 

"Mata kelinci ada di dekat jempol kakimu.
Kau bisa melihatnya saat duduk diam.
Pakailah jemarimu meraba untuk memastikan."

 

Sendok beradu dengan bibir panci.


"Di dapur, Maria.
Di sanalah sepasang mata kelinci.
Tercampur bawang dan kemiri."

 

Lalu mereka saling bersaing meneriakkan mata kelinci

yang pertama di dekat lututku

yang lainnya di celah bibirku.

 

Kaki kursi beradu dengan lantai.

 

Jika sudah jenuh,

diam-diam mereka mendekat pada piring yang sama.
Lagi-lagi aku harus sabar mendengar mereka bersilang lidah.
Kali ini tentang peri yang mereka ciptakan sendiri. 
Di dinding sinagoga. Di bumi.
Di harum bunga jasmin. Di langit.

 

Tapi aku tahu tangan mereka saling suap.
Sesekali, sekejab memandangku
dengan cinta yang sama.

21Okt 2017      

Wednesday, June 24, 2026

Fransiska Triwati: Makan Sesuai Musim: Rahasia Sehat dan Lestari

 

Selada

 

Kangkung

 

Caisim

Katuk

Gambar-gambar di atas hanyalah sebagian dari produk Wonder Farm, Lampung Selatan. Foundernya, Fransiska Triwati, setiap kali memosting informasi tentang produk pertanian organik ini di status WAnya. Salah satu tulisan yang terbit pada hari ini, Rabu 24 Juni 2026, ditulis oleh Fransiska Triwati, saya pasang dalam blog ini. Siapa tahu ada yang berminat untuk memesannya, atau ikut gabung dalam jejaringnya untuk peduli lingkungan dan ksehatan.

Ready sayur organik untuk pengiriman hari Ini yaa. 
Dm 08127908369
Terima kasih 🤍


Makan Sesuai Musim: Rahasia Sehat dan Lestari
 
Di tengah derasnya arus makanan instan dan impor yang tersedia sepanjang tahun, kita mungkin telah melupakan kearifan nenek moyang kita: makan sesuai musim. Ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi sebuah filosofi yang erat kaitannya dengan kesehatan tubuh, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan.

 Setiap tanaman memiliki ritme alami yang diatur oleh iklim, curah hujan, sinar matahari, dan kesuburan tanah. Ketika sayur dan buah dibiarkan tumbuh dan matang pada waktunya, ia menyerap dan menyimpan zat gizi, vitamin, mineral, serta energi secara sempurna. Inilah kearifan tersirat dalam penciptaan: apa yang tumbuh sesuai irama alam akan memberikan manfaat terbaik bagi makhluk yang mengonsumsinya.
 
Sebaliknya, sayur dan buah yang dipaksa cepat matang atau dipanen di luar musimnya tidak akan mencapai kualitas yang sama, kandungan gizinya berkurang, rasanya kurang sempurna, dan membutuhkan campur tangan zat buatan yang justru merusak keseimbangan alam.
 
Makan sesuai musim berarti menghormati aturan penciptaan, menjaga kesehatan tubuh, sekaligus melestarikan cara bertani yang selaras dengan lingkungan.

 “Karena Tuhan menciptakan alam ini baik adanya untuk dipelihara dan dinikmati pada waktunya. Apa yang tumbuh mengikuti irama musim, itulah yang paling sempurna bagi tubuh dan bumi.”


 

Tuesday, June 23, 2026

Resep Peyek ala Yuli Nugrahani

 

Membuat dan memakan peyek itu salah satu hobiku. Kalau sedang ndak selera makan, kebayang makan nasi dan peyek diremuk itu saja sudah meningkatkan sedikit selera makan. Jika sedang galau, pusing dengan banyak urusan, yang kuinginkan salah satunya adalah berada di dapur, memasak yang tak perlu mikir. Peyek inilah yang paling menyenangkan. Butuh waktu lama untuk membuatnya, butuh waktu singkat untuk memakannya. Uhuiii...

Cara membuat resep peyek ala Yuli Nugrahani ini sangat mudah dan anti gagal. Kalau mau mencoba, ikuti saja apa adanya, ndak usah improve dulu.

Pertama, siapkan 125 gram kacang tanah, potong/iris jadi dua. Jangan dibelah ya, tapi iris pakai pisau, satu per satu. 

Kedua, siapkan tiga lembar daun jeruk purut, cuci, buang tulangnya, iris tipis.

Ketiga, uleg bumbunya. Tiga atau empat butir bawang putih, satu sendok teh munjung ketumbar bubuk, dua ruas jari kunyit yang sudah dikupas, dua atau tiga butir kemiri, satu teh peres garam halus atau sesuai selera (cek nanti pas adonan jadi), dua sendok makan rebon yang sudah direndam sekitar 15 menit. Uleg halus, masukkan irisan daun jeruk di bagian akhir, uleg sebentar.

Keempat, timbang 150 gram tepung beras, 50 gram tepung tapioka. Campur dengan bumbu uleg, masukkan air sekitar 1 gelas (200 ml). Air dimasukkan sedikit demi sedikit. Masukkan dalam adonan, satu telor ayam yang sudah dikocok lepas, saring, sehingga bagian yang kental putih tidak ikut masuk. Aduk rata dengan seluruh adonan.

Kelima, masukkan irisan kacang tanah. Cek kekentalannya di tepi baskom tempat mengadon.  Tebal tipisnya peyek yang dimaui akan tampak di situ. Jika terasa terlalu tebal, tambah air. Atau bisa dicoba dulu di wajan. Gorengan pertama sebagai uji coba.

Menggoreng peyek harus dengan minyak yang banyak sehingga seluruh bagian peyek yang sedang digoreng dapat terendam minyak. Panasnya juga harus diatur sedang saja ya, jangan terlalu panas, jangan terlalu dingin. Nah, karena menggoreng peyek akan butuh waktu yang lama, lakukan saja dengan santai, sambil wiridan, doa-doa, nyanyi-nyanyi dst. Ohya, pastikan wajan yang dipakai sudah bersih ya. Wajan yang kotor akan membuat peyek lengket saat digoreng. Juga tak perlu dibalik saat digoreng. Goyang-goyang dikit saja sampai warna coklat muda keemasan. 

Nah, selamat mencoba.