Mungkin tidak seheboh pikiranku, tapi aku membayangkan menjadi manusia lanjut usia atawa lansia, itu bukan perkara mudah. Kata orang, lansia itu kembali menjadi seperti bayi. Rambut tipis atau malah tak punya rambut. Gigi dah rontok. Jalan susah harus dibantu. Makanan mesti dipilih. Gerakan tak lagi gesit. Pendengaran udah berantakan. Ngomong pun tak lagi bisa runtut. Bahkan kemudian kesadaran menurun, kadang jadi pikun.
Padahal semua orang tanpa kecuali, yang berharap berumur panjang, mereka pasti akan menjadi lansia. Ada banyak standar kapan seseorang dikatakan sebagai lansia. Menurut WHO, lanjut usia dibagi sebagai berikut: usia pertengahan (middle age) 45 - 59 tahun, lanjut usia (elderly) 60 - 74 tahun, lanjut usia tua 75 - 89 tahun dan sangat tua (very old) 90 tahun ke atas. Indonesia kayaknya mengadopsi ini juga, umur 60 tahun ke atas masuk dalam kriteria lansia.
Sejak mengikuti Lampung Hash beberapa tahun yang lalu, ukuranku jauh bergeser. Dulu ketika melihat orang berumur 50 - 60 tahun, aku menganggap mereka sebagai orang-orang tua yang sudah harus dibantu, hanya butuh didengarkan, jarang dilibatkan untuk garapan besar, kecuali satu dua orang saja yang memang luar biasa karena jabatannya, pengaruhnya atau duitnya.
Saat ketemu dengan member Lampung Hash, aku sering kecelik. Kukira mereka masih seumuran aku (aihdah), mereka kuat jalan jauh, lari, nanjak. Omongannya masih kencang dari ujung ke ujung. Ternyata sebagian besar dari member hash yang lincah-lincah itu kebanyakan sudah berusia di atas 60 tahun, bahkan banyak yang di atas 80 tahun. Mereka kuat secara fisik, masih punya keinginan impian, nyetir sendiri dalam jarak jauh, dan seterusnya.
Mencermati lanjut, ternyata mereka punya gaya hidup sehat (walau tidak 100%), minimalnya mereka suka olah raga dan berkomunitas dengan kegiatan-kegiatan yang terus bergulir. Setelah ikut walk Lampung Hash, ada yang lanjut nge gym, lalu kegiatan sosial di beberapa komunitas, donor darah dan seterusnya. Soal makanan, aku melihat beberapa gelintir merupakan vegetarian, namun aku juga lihat beberapa gelintir lain merupakan perokok aktif.
Tubuh mereka mayoritas cukup seimbang, ya karena suka jalan dan lari dan renang. Kalau pun ada yang berbadan besar, rata-rata masih cukup seimbang proporsional.
Dalam usia midle age kayak aku ini, aku berpikir rasanya tak terlalu siap menjadi tua. Orang ngomong wajar kalau saat sudah lansia tubuh dan pikiran mengalami kemerosotan. Tapi saat mengalaminya sendiri kok rasanya mengerikan ya. Biasanya jalan jauh dan cepat dengan mudah kulakukan tanpa hambatan. Ini masih bisa jalan jauh dan cepat, tapi di beberapa rute kalau tak hati-hati, jari-jari kaki kanan jadi lebih sering kram.
Atau, biasanya aku mudah saja bicara ini itu tema yang memang biasa kugulati. Tapi nanti pada waktu-waktu tertentu, jika tak dibantu tulisan, pikiran bisa blank, kosong, lupa. Bahkan soal lupa ini juga menyangkut nama-nama, nomor, tempat, waktu dan seterusnya. Dulu aku bahkan ingat nomor induk mahasiswa anak-anakku. Sekarang aku tak mampu mengingatnya.
Pendengaran juga mulai jadi masalah. Perbincangan dengan suami sering tersendat karena aku merasa mendengar satu hal tapi ternyata menurut suami, dia menyampaikan hal yang lain. Atau aku tanya sesuatu, dia bisa tanpa ekspresi. Rupanya suaraku tak nyampai di telinganya. Nah gawat kan. Ini bisa berpotensi perang kalau dua belah pihak calon lansia ini tak menyadarinya.
Soal uban aku tak ada masalah. Malah aku bangga dengan rambutku yang kelabu memutih. Ini keren banget. Tak pernah berminat mengecatnya sekarang ini. Entah nanti.
Maka, saudari saudara, menjadi lansia itu pun butuh persiapan, butuh belajar juga pelan-pelan.




