Friday, October 02, 2026

Didoakan Panjang Lebar: "Amin, Lis. Amin."

Usai berdoa dekat peti jenazah Rm. Wolf sebelum pemakamannya, aku melanjutkan doa singkat dekat pintu. Aroma kuat dalam ruang di Katedral itu membuat mataku pedih. Jadi aku menyingkir keluar pelan-pelan, dan karena di luar banyak sekali orang-orang yang sedang melayat, mau tak mau aku mesti berjumpa dengan mereka semua. Di antaranya menahanku dengan cerita-cerita, sapaan, dan seterusnya.

Usai mendapatkan tempat longgar persis di seberang pintu, suara sengau Lis Kim Siong meneriakkan namaku. Andai aku melihatnya lebih dulu aku pasti akan menghindarinya. Aku sedang merasa bersalah padanya karena tidak mengangkat telpon dan video call berulang kali. Pasti dia nanti akan ngomelin aku sambil marah-marah.

Tapi ternyata yang terjadi kemudian adalah teriakan riang yang ditambah dengan ucapan terimakasih bertubi-tubi, bertanya tentang aku, tentang ibuku dan sebagainya. Oalah, Lis. Maafkan aku ya. Di tengah hiruk pikuk suaranya timbul tenggelam, apalagi dengan sengau bindeng seperti itu aku hanya bisa manggut-manggut kusambi dengan menyapa orang-orang lain yang menghampiriku.

Beberapa orang menarikku untuk bicara, dan aku lupa kemana si Lis pergi, sampai kemudian saat aku duduk di antara banyak orang di sisi lain, Lis kembali menghampiri, menarikku ke tempat yang sepi di ruang ganti yang agak gelap.

"Ngopo lho Lis."

"Aku mau mendoakanmu. Juga mendoakan ibumu."

Oh. Oke. Aku manut duduk di sampingnya. Dia memegang tanganku dengan erat seolah ndak mau aku melarikan diri (hehehe). Dia tanpa basa-basi membuka dengan tanda salib (aku tak bisa membuat serupa karena tanganku dipegang kuat). Lalu dia berdoa panjang lebar untukku, untuk ibuku, untuk anak-anakku, untuk suamiku. Demi kesehatanku, kebahagiaan, rejeki, dan lain-lain yang tak bisa kudengar dengan jelas. Aku hanya mengamininya sambil menimpali dalam hati:"Tuhan, kabulkanlah doa-doanya. Aku memang membutuhkan itu."

Lis masih menyebut nama-nama lain, yang sebagian tak kudengar dengan baik. Dia mengucapkan syukur, terimakasih, salah satunya karena sudah dapat banyak dari Tuhan lewat aku (eh, padahal aku selalu melarikan diri darinya). Doa panjang lebar itu dia tutup dengan tanda salib, masih dia ucapkan terimakasih karena selalu memberinya uang dan lain-lain.

Ya ampun, Lis. Yang kuberi itu tak sepadan dengan yang kuterima. Terimakasih yaaa... Aku mengucapkan terimakasih tulus benar-benar tulus dari hatiku. Terimakasih. Aku memeluknya ringan berharap dia selalu sehat dan gembira. 

Thursday, October 01, 2026

SELAMAT JALAN, ROMO WOLFRAM

Romo Wolfram Safari, lahir 20 Maret 1974 dan meninggal kemarin 29 September 2026 pada umur 52 tahun. Cara meninggal yang sangat tenang.

Selasa, 29 September 2026, malam usai rapat di Mekar Sai, aku mampir ke tempat Oom Wawan atas pesan Pak Hen untuk ikut pembahasan jadwal Selasih bagi kring kami. Di tengah perbincangan, sekitar jam 19 lewat, Rm. Piet telpon. Menyampaikan berita duka sedikit ragu. Aku pun tak terlalu yakin, tapi kemudian konfirmasi dari beberapa orang membuatku yakin, romo yang kukenal sedikit sisinya ini sungguh sudah pergi.

Aku menyebutnya kenal sedikit dari sisi hidupnya karena memang aku tidak akrab sampai tahu seluruh sejarah hidupnya, tapi, aku pernah mengalami beberapa peristiwa bersama Rm. Wolf.

1. Saat masih diakon atau romo muda, kami pernah tergabung niat banget ngobrol serius belajar dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja (ASG) bersama Rm. Baron, Rm. Jo, Sr. Mathea, dan teman-teman lain. Sok-sokan idealis, kami menggunakan wadah Seghom Suluh, semut merah, yang ingin peduli pada situasi-situasi sosial. Kami memulainya dengan belajar ASG, dengan sedikit orang yang berminat.

 2. Selang waktu kemudian, Rm. Wolfram diminta menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan. Aku terlibat dalam Komkep ini sejak dulu bareng Rm. Koto, juga romo setelahnya. Maka aku rela hati menyambungkan Rm. Wolfram pada orang-orang muda potensial yang bisa menjadi timnya, termasuk persiapan-persiapan ke Indonesia Youth Day, International Youth Day, juga kegiatan-kegiatan lain.

3. Saat jadi ketua komkep inilah, Rm. Wolfram juga ngurus Asilo sebagai Youth Center. Saat itu juga ada peristiwa yang kemudian membuat keluarga yang biasa merawat Asilo harus pergi dari sana. Aku marah muntap menganggap Rm. Wolfram tidak bijaksana. Ketika kuangkat ke Kuria dalam perbincangan dengan Rm. Hari, Vikjen waktu itu, aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aku sedih dan marah, menganggap keuskupan tak punya hati bagi keluarga tak berdaya. Untungnya aku sempat obrolin ini dengan Rm. Marino yang memintaku untuk melihatnya dengan lebih seimbang. Aku tetap dengan kekecewaanku tapi aku tidak lagi marah. Aku menyindir-nyindir Rm. Wolfram beberapa kali bahwa dia itu pengkianat ASG, dia menanggapinya dengan pasrah. 

4. Peristiwa Wiyata Garden membuatku yakin aku begitu sayang pada romo-romo projo Keuskupan Tanjungkarang. Aku minta ke Rm. Wolf untuk mempertimbangkan lagi banyak hal. Saat itu dia menjadi ekonom keuskupan. Posisinya menurutku sangat strategis untuk memberikan dampak. Aku menarik diri supaya  tidak terlalu 'open' (open boso Jowo yo), aku menulikan telinga, menutup bibir, dan berusaha: semua akan ada waktunya secara tepat, Yuli. Jadi walau aku menganggap ada banyak hal tidak pas, tidak tepat, tapi aku tidak ambil peduli yang kuat yang bisa membuatku marah kecewa sedih. Pokoknya, ayolah mengalir. 

5. Dalam beberapa tahun terakhir, aku berteman dengan baik, berelasi dalam sukacita, ngguya ngguyu yen ketemu, seringkali lupa kalau tidak ketemu. Aku paham ada banyak aliran yang tak mesti berjalan seideal yang seharusnya.

Kini Rm. Wolfram sudah dalam damai. Menjenguknya semalam dalam peti di katedral, wajahnya ayem tentrem seperti orang tidur dengan sedikit senyum di bibirnya, itu posisi meninggal yang menyenangkan. Tidak sakit, tidak merepotkan. Aku sudah selesai dengannya, dan yang utama dia sudah menyelesaikan perjuangannya yang sebagian besar tak kupahami. Aku hanya tahu bagian yang sangat sedikit darinya. 

Selamat jalan, Rm. Wolfram.  

Monday, September 28, 2026

MUNCAK GUNUNG SEMINUNG LAGI (1)

Sabtu-Minggu, 26 - 27 September 2026 lalu aku, Pak Hen, Mo Bagas dan Maria muncak ke Gunung Seminung Lampung Barat. Bagi aku dan Pak Hen, ini kali ke tiga. Mo Bagas ini jadi kali ke dua. Sedang Maria, baru pertama kali nanjak Seminung. Kisah-kisahnya nyusul. Berikut ini aku pasang dulu itinery awal rencana perjalanan untuk dua hari trip.

 GOES TO SEMINUNG

Sabtu, 26 September 2026
03.30 – 04.30    OTW dari Antasari - Pahoman - Hajimena    
04.30 – 07.30    Perjalanan tol Natar – Kotabumi
07.30 – 12.00    Kotabumi – Lumbok: Mampir sarapan RM. Cheche (Pondok Pinus) Sumberjaya, kalau sudah buka. Kalau belum buka lanjut mampir Sekincau atau Liwa untuk makan dan nasi bungkus    
12.00 – 13.00    Registrasi, persiapan, packing ulang    
13.00 – 17.00    Tracking: pos 1 – pos 2 – pos 3 – pos 4 - Puncak.    Cemilan di tiap pos
17.00 - …    Menikmati sunset di puncak, pasang tenda, makan, fun.    Makan malam nasbung 
        
Minggu, 27 September 2026
05.00 – 08.00    Sarapan, foto-foto-foto, bongkar tenda, packing Sarapan: nasi porang, telur goreng, abon, timun, plus energen
08.00 – 11.00    Mbrosotttt, Cemilan di tiap pos
11.00 – 12.00    Santuy di basecamp    
12.00 – 13.00    Paling telat jam 13.00 sudah otw dari basecamp    
13.00 – 15.00    Eksplore Danau Ranau sambil cari makanan enak    
15.00 …    Cuzzz… Bandarlampung, mampir ngopi di Sumberjaya samping masjid jamik Moga jam 22.00 semua sudah sampai rumah masing-masing (Hajimena – Pahoman – Antasari)

Beberapa rencana bergeser ngikuti situasi. Tapi seluruh situasi itu sungguh ternikmati. Detil kisahnya menyusul yaaa...

Wednesday, September 09, 2026

Me Time: Makan dan Santuy

 Keseimbangan bisa didapat sesekali menjauh dari keramaian. Untuk orang model aku, terlalu lama berada dalam keramaian bisa membuat pusing. Rasanya bising dan berisik. Sebagian dari banyak cara yang bisa dipilih untuk 'me time' adalah makan dan nglamun, santuy, ndak usah usah ngapa-ngapain.

 Duduk santai, sambil mikir macam-macam tanpa nargetin dapat solusi atas masalah-masalah. Atau jalan tak tentu arah juga bisa sih menjadi salah satu cara.

Cara lain yang paling manjur bagiku adalah makan. Mengunyah makanan bisa menjadi sarana untuk rilex, santuy. Bukan hanya santai secara tubuh tapi juga secara pikiran dan hati. Konon gerakan rahang berulang dapat membuat lebih fokus dan pikiran menjadi tenang. Gerakan mengunyah juga bisa menurunkan hormon stress. Kononnn...

Siang ini menu yang paling pas untuk gerakan mengunyah adalah pepes ikan patin, dadar jagung campur tahu dan lalapan. Pepes tak perlu repot. Dapoer Cantik depan rumah dengan senyum Henny yang cantik siap sedia sejak pagi. Nasi sudah ada. Dadar jagung tinggal membuat dalam waktu singkat. Nanti kupasang resepnya di bawah. Lalapan ambil dari sekitar rumah, ada pucuk daun kates yang sudah tidak produktif, rebus dengan sedikit garam dan minyak goreng. Lalapan lain daun sirih cina. Ini dah seger banget. 

 Dadar jagung:

Sisir satu jagung. Ulek 2 bawang putih, 3 bawang merah, garam dan lada secukupnya. Jagung yang sudah disisir ulek sekalian. Masukkan sedikit tahu untuk campuran, irisan cabe sesuai selera, bisa diskip juga. Tambah dengan satu sendok tepung maizena, dan satu telur. Kocok jadi satu, goreng sesendok-sesendok sampai matang. 

Dah, mari makan. 

Tuesday, September 08, 2026

Pengukuhan Forum Puspa Kabupaten Tanggamus: SINERGI UNTUK STOP KEKERASAN

Pemerintah Kabupaten Tanggamus mengukuhkan forum partisipasi publik untuk kesejahteraan perempuan dan anak (PUSPA) Kabupaten Tanggamus periode 2026-2028, sekaligus sosialisasi penguatan kelembagaan Forum PUSPA oleh Dinas PPPA dan Forum PUSPA Provinsi Lampung. Bertempat di Aula Gedung Serumpun Padi Gisting. Selasa, 01/09/2026.

Pengukuhan berlangsung di Aula Gedung Serumpun Padi, Kecamatan Gisting, Selasa (1/9/2026), berdasarkan Keputusan Bupati Tanggamus Nomor B.327/33/08/2026. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto.

Sejumlah pejabat dan tokoh organisasi turut hadir, di antaranya Ketua Forum PUSPA Lampung Yuli Nugrahani, Kepala Bidang Data dan Partisipasi Masyarakat PPPA, PP dan KB Provinsi Lampung Desmaliya Suhaely, Ketua Forum PUSPA Tanggamus Yeni Verawati, Asisten III Jon Novri, Kepala Badan Kesbangpol Beni Irawan, serta Kepala Dinas PPPA, PP dan KB Kabupaten Tanggamus Luberto Fabiola.

Dalam sosialisasi untuk menguatkan kapasitas Forum Puspa Kab. Tanggamus, Yuli Nugrahani Ketua Puspa Provinsi Lampung memaparkan tiga hal keprihatinan yang menjadi latar belakang berdirinya Forum Puspa di tingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

"Latar belakang berdirinya Puspa sebagai mitra utama Dinas PPPA adalah tingginya angka kekerasan, tindak pidana perdagangan orang dan juga kesenjangan ekonomi. Ketiganya saling berkait dan memunculkan korban paling banyak pada kalangan perempuan dan anak," tegas Yuli.

Sinergi pemerintah dan masyarakat harus dibangun untuk menghentikan tiga isu utama itu. Turunan masalahnya pasti sangatlah banyak dan dapat dilihat sesuai kondisi wilayah masing-masing. 




Thursday, September 03, 2026

Cemilan Murah (Ndak Sehat Kalo Sering-sering): ONCOM GORENG

Ada cemilan yang ndak terlalu kusuka tapi kalo sudah pengin aku bisa makan habis banyak. Dalam setahun mungkin hanya beberapa kali tak lebih dari jumlah jari tangan kiri saja. Yaitu: Oncom goreng. 

Hari ini saat belanja aku lihat 'springbed' tergantung di satu sisi mang sayur. Springbed sebesar itu kutanya harganya: "Berapa harganya ini mang?"

"Hanya tiga ribu bu." Mang sayur udah langsung saja menyodorkan oncom oranye itu ke tanganku. 

Spontan yang terbayang adalah oncom goreng. Tak usah pake bumbu, potong oncom tidak terlalu besar dan tidak terlalu tebal. Beri geretan dikit biar lebih renyah. Bumbuin saja dengan air garam, tak usah pake bumbu-bumbu lain, juga tak usah pake tepung.

Goreng dengan minyak agak banyak, sampai matang. Tiriskan dengan baik. Iris cabe setan tipis-tipis, tabur di atas oncom yang sudah ditiriskan. Biar lebih sehat dikit, dan menjadi lebih segar, aku tambahin dengan satu genggam daun sirih cina.

Dahhh.... nyampleng tenan. (Tapi jangan sering-sering. Aku lihat kandungan gizi oncom goreng pada 100 gram beratnya, kalori 365 kkal, lemak bisa sampai 10 gram terrgantung minyak penggorengnya, karbohidratnya sekitar 12 gram, protein bisa sampai 5 gram. Sedangkan sirih cina mengandung kalori sangat rendah dengan banyak nutrisi baik mulai dari mineral (kalsium, kalium, magnesium, fosfor dan zat besi), vitamin (vitamin C, E dan beta karoten), antioksidan (senyawa polifenol, tanin dan flavonoid) dan fito kimia lain (alkaloid, saponin, minyak atsiri dan kalsium oksalat)).