 |
| Dari Google Search |
Tulisan ini saya buat sekitar 10 tahun lalu untuk Buletin Insan berdasarkan inspirasi dari Wawak, alias Ibu Suratmi. Meninggalnya Wawak pada 17 Agustus lalu membuatku ingat tulisan ini dan aku post ulang sebagai salah satu cara untuk mengingatnya.
RIP. Suratmi binti Ali Santono
Suratmi
adalah seorang ibu berumur kurang lebih 60 tahun, tinggal di Hajimena Natar,
Lampung Selatan. Dia mempunyai 8 orang anak yang semuanya sudah lulus SMA atau
SMK, bahkan bungsunya sudah lulus dari Politeknik Lampung beberapa tahun lalu dan
saat ini sudah bekerja mapan di sebuat perusahaan media massa.
Apakah
dia patut dikisahkan? Apakah dia seorang sukses yang kaya dengan hidup
berlimpah harta? Tidak. Mungkin malah bagi kebanyakan orang menilai dia hidup
dalam kekurangan. Tapi, ini pun kurang tepat. Bahwa dia hidup cukup, dengan
pemikiran-pemikiran pengelolaan keuangan yang baik walaupun sederhana, itu
betul. Perlu ditambahkan lagi, bahwa dia adalah anggota Mekar Sai yang tertib
sejak beberapa tahun lalu.
Hidup
Suratmi tidak mudah. Dia lepas dari orang tuanya saat usianya masih sangat
dini. Dia bertanggungjawab atas keputusannya itu dengan melakukan banyak upaya.
Dia harus menghidupi keluarga bersama
suaminya, dengan membantu orang membuat kue, mencuci dan setrika baju,
berjualan, atau bahkan juga membersihkan bawang di pasar. Sampai sekarang dia
masih melakukan beberapa pekerjaan itu di usianya yang tidak muda lagi. Walau
dia tidak lagi sekeras dahulu bekerja untuk orang lain, dia masih menggunakan
tenaganya secara optimal.
“Aku
ini kalau tidak bekerja malah sakit.” Katanya suatu kali. Maka dia masih
bekerja pada dua keluarga untuk membantu pekerjaan rumah. Gaji dari dua
keluarga inilah yang dia kelola untuk biaya rutin bulanan rumah tangga dan
dimasukkan ke Mekar Sai, kecuali biaya makan dan keseharian.
Dari mana
biaya makan dan kesehariannya mengingat suaminya yang lebih tua sudah tidak
lagi bekerja sedangkan dia masih harus menanggung suami, sebagian dari anaknya
yang belum mandiri dan juga cucu? Dia memakai modal dari pinjaman Mekar Sai
beberapa tahun yang lalu untuk membuka warung nasi uduk di depan rumah yang dia
buka setiap pagi sampai sekitar jam pukul 08.00.
Dia
masih membantu membersihkan mesjid, membantu orang-orang yang membutuhkannya
sesekali, namun akhir-akhir ini dia sering menolak pekerjaan-pekerjaan yang
berat atau sering karena tenaganya sudah tidak kuat lagi.
“Aku
numpang makan dari warung nasi uduk. Beras, minyak, bumbu bisa kuambil dari
bahan warung. Laba penjualan aku pakai untuk membeli lauk, sayur dan juga untuk
ditabung. Jadi saat bulan puasa datang, aku tidak kuatir walau tidak
berjualan.” Jelasnya dengan mantap.
Apa
yang dilakukan oleh Suratmi adalah contoh kecil dalam pengelolaan keuangan
rumah tangga yang tertata walaupun nilainya kecil. Suratmi mempunyai tabungan
di koperasi, jika membutuhkan uang dia akan pinjam, dia punya minimal dua
sumber penghasilan yang rutin dari dua keluarga dan satu penghasilan lagi dari
berjualan nasi uduk.
“Aku
tidak perlu kuatir soal rejeki. Pasti ada jalannya. Dulu mimpi saya semua anak
saya harus sekolah. Alhamdulillah anak-anak bisa lulus minimal SMA.” Demikian
pernah dikatakannya.
Ya,
semua orang bisa sepakat dengan pandangannya itu. Tapi bagi Suratmi, pandangan
itu bukan sekedar iman tapi juga usaha-usaha yang tidak kunjung henti di
sepanjang harinya. Kalau kita datang ke rumahnya, kita akan melihat pola
pengelolaan yang begitu sederhana tapi rapi.
Ada
tumpukan beras di pojok dapurnya. Ada sekotak minyak goreng. Ada beberapa
kantung plastik yang berisi telur, cabai dan sebagainya. “Lebih murah kalau
beli banyak. Jadi aku beli sekaligus banyak. Nah, yang penting setiap hari
harus kusisihkan uang pembeliannya. Ini setelah jualan, aku akan memisahkan :
ini uang beras, ini uang minyak, ini untuk gula, dan sebagainya. Sisa dari
itulah yang akan dipakai untuk kebutuhan lain setelah aku ambil beberapa rupiah
untuk aku masukin kotak tabungan.” Jelasnya.
Selain
itu, dia akan menyisihkan sebagian dari konsumsi hariannya sebagai tabungan.
Misal dia akan mengambil satu canting beras setiap hari, dua tiga sendok minyak
goreng, dan sejumput gula untuk dipisahkan dalam wadah berbeda. Jika wadah itu
sudah penuh, dia akan menukarnya dengan bahan yang baru untuk disimpan dengan
jumlah yang sama. Tabungan bahan inilah yang akan digunakannya saat dia tak
bisa berjualan.
Tidak
semua orang bisa setertib Suratmi sering heran dengan caranya menata keuangan. Namun
dengan cara itu dia tidak terusik oleh berbagai macam kebutuhan yang terus
bertambah setiap waktunya.
“Bisa ‘ayem’, tidak kuatir kekurangan. Uang
yang rutin dari gaji orang bisa langsung aku sisihkan untuk masuk Mekar Sai
sebelum dipakai untuk keperluan lain jika memang diperlukan,” Katanya dengan
percaya diri.
Dia
jarang mengeluh walau mesti mengeluarkan biaya sosial saat mengunjungi orang
sakit, melayat orang meninggal, ada undangan pesta dan sebagainya. Dia sudah
menyisihkan sebagian uang dari hasil jualan untuk keperluan ini. Dia bilang dia
masih bisa terlibat secara pantas dalam pergaulan kemasyarakatan. Walau dia
sering bilang hanya sebagai tukang cuci, tapi dia membuktikan bahwa martabatnya
sangat luhur dan tinggi. Bahkan ketika anaknya masuk kuliah, dia membuktikan
kepada banyak orang bahwa dia mampu melakukannya walau suaminya sudah tidak
mampu lagi bekerja.
Dari
Suratmi ini kita bisa melihat model yang sangat sederhana tentang pengelolaan
keuangan maupun pentingnya melakukan diversifikasi sumber penghasilan. Soal
pengelolaan keuangan, Suratmi ketat melakukannya. Bahkan menyisihkan uang di
awal untuk ditabung. Dia bukan mengelola nilai uang juta atau milyar, tapi dia
mengelola uang untuk hidup. Dia mengembangkan hidupnya secara sederhana dengan
ketertibannya itu.
Tentang
keanekaragaman/diversifikasi sumber penghasilan, Suratmi bisa menjadi
contohnya. Keluarga-keluarga sebaiknya mulai berpikiran soal pekerjaan lain
selain sumber penghasilan yang sekarang ini dipunyai. Misalnya seorang guru,
bisa melakukan diversifikasi penghasilan dengan membuka warung kelontong di
rumahnya. Seorang buruh bisa melakukan pekerjaan tambahan dengan berjualan online. Seseorang polisi yang hobi
berkebun bisa mengerjakan kebunnya tanpa meninggalkan pekerjaan utamanya. Juga
bisa ditambah beternak, menulis untuk media, membuat rajutan, dan sebagainya.
Banyak
cara bisa dipilih untuk menambah keragaman sumber penghasilan keluarga,
sehingga resiko-resiko dapat diminimalkan. Misalnya jika buruh diPHK dia masih
tetap punya penghasilan. Guru yang pensiun masih punya hasil dari kebun, dan
sebagainya.
Suratmi,
anggota Mekar Sai sudah membuktikan dia mampu melakukannya dengan memanfaatkan
sungguh-sungguh kehadirannya sebagai anggota Mekar Sai. Suratmi mungkin dikenal
sebagai tukang cuci atau penjual nasi uduk, tapi dia mampu menyekolahkan semua
anaknya, punya rumah tembok milik sendiri yang mapan bahkan masih menampung
anaknya yang belum mandiri, dan juga merawat cucu. Walau dia tak berlebihan,
tidak punya mobil, dan lain-lain benda mewah, dia nyaman dengan hidupnya, atau
menurut istilahnya ‘ayem’.
Koperasi
Mekar Sai dapat dioptimalkan untuk menjadi pendukung ide ini bagi kesejahteraan
anggotanya. Anggota yang lain pun pasti mampu juga dalam level yang berbeda
atau bahkan lebih tinggi, apalagi jika mendapatkan inspirasi dan pendampingan
dari koperasi. Kesejahteraan bukan soal angka yang besar, tapi bagaimana
anggota bisa memiliki rasa seperti Suratmi, yaitu ayem. ***(Yuli Nugrahani)