Tulisan ini saya buat untuk buku Kumpulan Cerpen Elly Dharmawanti yang diterbitkan tahun 2025 oleh Pustaka Labrak, Lampung.
PEREMPUAN
DALAM PENGALAMAN LUKA DAN PENGALAMAN CINTA
Kata
untuk Mantra Penyembuh Luka
Oleh
Yuli Nugrahani
Perempuan
dipersiapkan menjalani luka sejak dia masih sangat remaja. Pengalaman luka dialaminya
saat bulan-bulan dadanya mulai tumbuh. Luka yang tak terlihat karena ada di
dalam rahimnya, tiap bulan mengucurkan darah secara rutin. Kadang luka itu harus
dilalui dengan tangis karena memang sakit. Sering juga disertai lonjakan emosi
yang bahkan tidak dimengertinya dengan baik hingga bertahun-tahun. Pengalaman
luka seperti itu harus dia sembunyikan dengan baik, mesti dianggap biasa oleh
semua orang bahkan oleh dirinya sendiri, karena itulah bagian dari kodratnya
sebagai perempuan.
Bagi sebagian
perempuan, mereka berhasil memaknainya rutinitas luka ini sebagai ‘persiapan’,
atau menjadi semacam latihan. Ada banyak peristiwa di kehidupan perempuan akan
berhadapan dengan luka yang lebih besar dari pada sekadar menstruasi. Saat
mereka sungguh-sungguh bisa menerima dirinya sebagai ‘perempuan’, mereka bisa sampai
pada ‘titik maklum’ yang ikhlas. Mungkin saja ada keluhan, tapi keluhan itu
menjadi rangkaian bunga di sujud doanya. Atau, mungkin saja ada amarah, tapi
amarah itu dibungkus rapat dalam alunan cinta setia tak tergoyahkan.
Kekayaan
luar biasa seperti ini tak mungkin bisa direbut dari perempuan. Karena anugerah
itulah, perempuan menjadi kuat jauh melampaui penampakannya. Yang keterlaluan,
ada juga yang menganggapnya sebagai manusia ‘yang tidak apa-apa dilukai’ karena
dia sudah terlatih untuk luka.
Perempuan
sering dianggap bisa menyembuhkan dirinya sendiri sehingga banyak orang yang
abai terhadapnya. Kadang-kadang, dia butuh ditanya: “Apakah kau sudah makan?
Apakah kau baik-baik saja hari ini?” Atau pertanyaan-pertanyaan lain.
Perempuan
sangat mudah bertanya karena dia peduli dan ingin dipedulikan secara sama. Pada
situasi tertentu pertanyaan-pertanyaan itu dianggap kecerewetan, sehingga
banyak pertanyaannya tak dijawab dengan baik. Pun, perempuan sangat ingin
ditanya, karena sebenarnya pertanyaan bisa menjadi sebentuk kepedulian. Tapi,
dalam beberapa kenyataan, banyak jawaban perempuan dibungkus dengan air mata,
sehingga si penanya kapok melakukannya, seolah pertanyaan itu yang melukai.
Elly
Dharmawanti menulis dalam Cerpen Sincia di Mata Mei tentang pengalaman pergulatan
dengan luka duka sejak masih menjadi perempuan kecil.
“Mei gadis kecilku
yang baik. Aku tau pasti itu. Ia tak ingin membuat semua orang
mengkhawatirkannya. Ia bahkan tidak ingin membuat keributan sekecil apa pun,
bahkan sekadar membantah kalimat yang aku ucapkan. Tidak pernah! Ia gadis yang
penurut, menyimpan duka di setiap tatap matanya. Aku tahu itu. Aku sadar itu.”
Duka
Mei bisa dipahami oleh ibunya. Sesama perempuan semestinya lebih memahami, apa
lagi dalam lingkaran hidup yang sama: ibu dan anak perempuannya, atau nenek
dengan cucu perempuannya, sahabat perempuan, dan sebagainya.
“Meski harimu
penuh darah dan air mata, tak boleh ada duka di hari Sincia.” Ini pesan
yang sering didongengkan oleh para sesepuh tua, turun-temurun. Karena itu
setiap Sincia tiba aku dan Mei selalu menyembunyikan air mata, meski aku selalu
tahu doa yang ia lapalkan setiap harinya, setiap tahunnya, “Tuhan tolong
kembalikan, papa.”
Dalam
Cerpen Perawan Tua, Perempuan, dan Laut, Elly menuliskan hal yang menandaskan
hal itu.
Bagi Siti, hanya emak
yang ia punya di dunia ini, hanya emak yang mengerti perasaannya, hanya emak
yang melindungi dan membelanya dari cemoohan orang-orang, termasuk kedua
saudara perempuannya.
Kekuatan
perempuan untuk menyembunyikan luka, membuat orang lain tak memahami luka itu. Ini
sangat merugikan. Namun saya, yang juga seorang perempuan, pun mempunyai
kecenderungan itu walau pikiran saya sesekali mengarahkan hal yang sebaliknya.
Cerpen Sepatu Kets Biru, saya yakin dituangkan atas pengalaman pribadi Elly
sebagai perempuan.
“Aku menatap gerimis
yang turun senja ini. Dari jendela kamar yang setengah terbuka, aku membiarkan
udara dingin menerpa kulitku. Aku membiarkan semuanya, lukaku, airmataku,
mimpi-mimpiku. Aku di sini, memilih di sini, menyembunyikan luka di sebuah
tempat yang tak terdapat dalam peta, berjuang melawan sakit dan benci yang
tidak ingin kutunjukkan pada siapa pun. Tidak padamu ataupun mereka yang turut
prihatin atas kisahku. Meski tak mudah, meski butuh waktu yang sampai entah,
aku tak akan menyerah, aku akan tetap berjuang untuk baik-baik saja dan tetap
berdoa semoga kamu bahagia dengan dia.”
Alasan
tidak mengungkapkan luka bisa ditelusuri lewat berbagai kemungkinan. Sebagai
seorang ibu, aktif dalam berbagai kegiatan, Elly, si penulis cerpen, pasti
punya banyak pengalaman perjumpaan dengan banyak perempuan yang membuatnya bisa
mengambil kesimpulan-kesimpulan umum. Mengungkapkan luka bisa menghadirkan
cemooh, label negatif, cacian, atau olokan. Kebanyakan orang menuduhkan aib pada
korban. Cerpen Ibu Aisah yang ditulis Elly bahkan diakhiri secara tragis. Bukan
peristiwa tragis yang langka, bahkan hal itu sering terjadi.
Lewat
hampir semua cerpen dalam buku ini, Elly menampilkan ragam bentuk reaksi terhadap
luka. Perempuan dituntut untuk menyembuhkan luka itu secara mandiri walau
sebenarnya ada banyak perempuan yang tak mampu melaluinya tanpa bantuan orang
lain. Diperparah lagi oleh tuntutan umum yang bahkan membuat perempuan menjadi merasa
bersalah jika tak bisa menyembuhkan luka. Cerpen Mantra Penyembuh Luka
melukiskan hal itu:
Berhari-hari setelah
itu, jangan pernah tanya hatiku. Aku bahkan lupa cara makan dan tidur, lupa
bagaimana harus menegakkan kepala dan tersenyum. Aku benar-benar hancur, meski
sudah ratusan kali kurapal mantra sakti itu dengan sepenuh hati, berharap
keajaiban masa kecilku hadir kembali, berharap tak ada sakit lagi...
berkutek berkunang
kejijek mak ngisang
peh.. peh...peh...
Dengan mata berlinang
kupegang dadaku yang sakit. Aahhh, Ibu maafkan aku, kali ini mantramu tak
mempan untuk hatiku.
Cerpen-cerpen
Elly mengisahkan kematian-kematian ragawi maupun nonragawi, juga
harapan-harapan. Kemampuan tiap perempuan berbeda, dan tak ada ukuran standar
yang bisa digunakan. Setidaknya, menghadapi luka dalam kecantikan dan sukacita
bisa menjadi pilihan. Cerpen Salui Pitu memberikan petunjuk terhdap dua kata
kunci tersebut.
“Kalau kamu mau
secantik putri raja, mandilah ke salui pitu sekarang juga,” ujar Among
Unah tertawa memamerkan giginya nyang nyaris ompong semua.
Kekhasan
yang tak mungkin disaingi dari Elly adalah balutan Lampung dalam semua
tulisan-tulisannya. Pembaca mesti menangkap serta mengapresiasinya sebagai
usaha, upaya, perjuangan, untuk menghidupi dan menghidupkan Lampung dalam
literasi abadi.
Lalu,
di manakah pengalaman cinta seorang perempuan? Keseluruhan cerpen Elly dalam
buku ini adalah kisah cinta. Saya yakin, dengan membacanya pembaca akan
menangkap relasi cinta perempuan dengan ibu, suami, anak, sahabat, kekasih, dan
sebagainya. Cinta itu muncul karena hasrat hati perempuan yang senantiasa ingin
menyembuhkan sekaligus terus berada dalam kesembuhan.
berkutek
berkunang
kejijek
mak ngisang
peh...
peh...peh...
***