Ide ini muncul di Lampung saat bertemu dengan Dokter Pieri dan Dokter Dono di Asilo saat joging pada suatu ketika di akhir bulan Februari 2026. Bu Pieri cerita kalau beliau baru saja mengikuti mlampah ziarah di Jawa, dan berpikir untuk membuat serupa di Lampung.
"Kita buat ya mbak."
Gasss... Pak Hendro yang juga di tempat sama, menanggapinya dengan antusias, langsung ngobrol dengan Pak Ambar yang juga pernah ikut kegiatan serupa di Jawa. Mereka berdua bersama dengan Pak Parman langsung merancang melakukan survey untuk melihat alternatif jalan.
Mlampah ziarah Lampung pertama mengambil rute Asilo - Gua Maria Gereja Way Kandis, diikuti oleh 22 orang. Jarak tempuh sekitar 8 km, semula dirancang untuk melewati jalan alternatif, pesawahan dan jalan kampung. Namun rencana itu batal, tak jadi lewat jalan yang sudah disurvey karena sehari sebelum hari H, hujan deras melanda Bandarlampung dan menyisakan banjir di beberapa lokasi termasuk lokasi yang akan dilewati.
Mlampah ziarah Lampung kedua mengambil rute Asilo - atas bukit Panti Wreda Giri Nugraha, Sukadana Ham. Jarak tak sampai 8 km, tapi diwarnai tanjakan, turunan serta hawa segar perbukitan. Pemandangan bagus menjadi bonus pada mlampah ziarah 11 April 2026 ini. Diikuti 18 orang, semuanya menikmati dalam sukacita.
Mlampah ziarah Lampung ketiga mengambil rute Asilo - Kapel Rumah Sakit Santa Anna pada 9 Mei 2026, sekitar 10 km. Diikuti 38 orang, perjalanan melewati jalan utama Bandarlampung. Sampai akhir peziarahan disambut para dokter dan suster rumah sakit.
Mlampah ziarah Lampung dilakukan setiap bulan sekali pada hari Sabtu yang dipilih. Peserta sudah mendaftar terlebih dahulu lewat kontak person, akan berkumpul pada jam 04.45. Kegiatan dimulai dengan pengantar singkat terkait rute yang akan dilalui dan beberapa catatan sesuai hasil survey. Pemanasan dilakukan sekitar 5 menit supaya tubuh siap untuk jalan. Pukul 05.00 diharapkan mlampah ziarah sudah start. Jika peserta sedikit, semua peserta berjalan dalam satu rombongan dengan leader di depan dan sweeper di belakang. Jika peserta banyak, akan dibagi dalam kelompok-kelompok untuk memastikan tidak ada peserta yang tercecer.
Sementara waktu di masa perintisan, supporting sistem keselamatan dan keamanan dilakukan secara bersama dengan kesadaran seluruh peserta. Sebuah mobil disiapkan untuk menyertai jika dibutuhkan oleh peserta dalam kondisi darurat, tapi seluruh peserta harus bersiap sendiri untuk kebutuhan pribadi seperti minum, snack atau obat pribadi.
Di akhir peziarahan, seluruh rombongan akan berdoa rosario secara terpimpin sebelum pulang kembali ke Asilo atau rumah masing-masing dengan fasilitas sendiri.


.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)




