Tuesday, April 26, 2011

Puisi Paskah

Aku membaca ini di harisatiman.blogspot.com. Aku ingin ikut menyebarkannya. Terimakasih Ulil. Kau memberiku inspirasi hening pada paskah tahun ini. Salam dari Lampung.

Puisi Paskah

Oleh :
Ulil Absar Abdala


Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.

Ia yang maha lemah,
deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi,
setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.

Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu,
mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.

Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!

Wednesday, April 20, 2011

Ulat Bulu

Jangankan melihat ulat bulu, membayangkan, memikirkan, atau bahkan membicarakan atau menuliskannya seperti ini sudah membuat bagian-bagian tertentu tubuhku gatal dan merinding. Mengapa fenomena aneh ini muncul di berbagai tempat di Indonesia justru tentang ulat bulu? Agak sulit memikirkannya lama-lama karena aku terus bergidik. Tapi point-point penyebab merebaknya ulat bulu:
1. Hujan berkepanjangan. Kupu-kupu biasanya muncul saat musim kemarau tiba.
2. Tidak ada mata rantai pemakannya. Burung, kadal dll semakin habis.
3. Ketidak seimbangan siklus semesta. Ini mengerikan, karena berarti bukan hanya tentang ulat bulu tapi juga tentang hal-hal lain.

Sekarang jadi mikir egois, takut pada ulat bulu atau mau berpikir lebih luas tentang sosial dan ciptaan keseluruhan? Ini pasti ada kaitan dengan pola hidup manusia kini. Yukk, koreksi diri sendiri. Mulai dari cara makan (manusia tuh rupanya makan segala hal, sedang makluk lain sangat terbatas menunya. udah terbatas makanannya, dimakan pula sama manusia) Lalu juga cara bersikap terhadap tanaman dan hewan. Kita mulai dari kita masing-masing. Sementara aku masih egois banget karena aku sangat takut pada ulat, apa lagi ulat bulu. (Ulat beras yang kecil itu saja bisa membuatku semaput. Aduh!)

Tuesday, April 12, 2011

Tanda Tanya

Nonton Tanda Tanya seperti menonton potret Indonesia masa kini dalam keberagaman agama, etnis, cara pandang, sekaligus potensi konflik di dalamnya. Film garapan Hanung Bramantyo ini dimulai dengan setting di sebuah area dekat Pasar Baru yang di kompleks ini ada masjid, gereja dan klenteng. Ditonjolkan etnis Jawa dan China, dalam tiga agama yaitu Islam, Katolik dan Konghuchu. Tokoh-tokoh di dalamnya digambarkan sedemikian rupa sehingga aku dapat menangkap mereka seperti orang-orang yang pernah aku kenal, aku temui atau aku lihat.

Misalnya Menuk, seorang soleha Muslim yang taat beragama namun bekerja di restoran Kanton yang menyediakan juga masakan babi. Dia loyal terhadap majikannya, Tan Kat Sun, sepenuh hati seperti orang-orang Jawa yang mengabdi, kadang naif namun teguh pendirian.

Soleh, suami Menuk, adalah seorang pencemburu. Dia ingin berpegang pada agamanya, namun dia dikendalikan oleh hatinya. Dia masuk sebagai Banser NU, dan mati karena bom yang ditemukannya di dalam gereja saat malam Natal.

Hen adalah anak Tan Kat Sun, yang tak bisa memiliki Menuk. Dia jadi sinis pada semua orang dan ngawur dalam egoisnya. Namun perjalanan hidupnya, kematian bapaknya, dan dorongan dari ibunya untuk memilih, membuat dia masuk Islam.

Tan, seorang penganut Konghuchu, pemilik restoran Kanton, sekuat tenaga ingin toleran pada karyawannya yang banyak muslim, dan juga masyarakat sekitarnya. Namun siapa yang bisa percaya pada China yang menyediakan babi di restorannya walau dia bilang wajan untuk memasak babi dan ayam dipisahkan, juga piring dan sendok, dan sebagainya? Adakah yang percaya walau dia membaca juga buku-buku tentang Islam supaya paham terhadap masyarakat di sekitarnya?

Rika, seorang janda satu anak bernama Abi bercerai karena tidak mau dimadu. Juga pindah agama Katolik karena ingin menemukan Allahnya yang Al-rahman, Al-rahim, Al-mukmin. (Aku tidak menemukan kata-kata pastinya, hanya berdasarkan ingatan.) Allah yang maha baik, maha kasih, maha merangkul...

Surya, ingin jadi artis. Selalu dapat peran piguran jadi penjahat. Sampai kemudian dapat peran utama, menjadi Yesus untuk pementasan Jumat Agung. Ustadnya menyakinkan dia bahwa Islamnya tidak akan berubah karena peran tubuhnya yang seperti itu. Dia semakin tekun belajar Islam dan semakin toleran setelah banyak peristiwa itu.

Ada tokoh-tokoh lain di situ, seperti Ustad dan Pastur. Mereka ditampilkan sebagai tokoh-tokoh sejuk. Ada juga tokoh-tokoh 'provokator' pertikaian seperti Doni, anak-anak muda tanpa nama, juga tukang gosip seperti Ibu Novi. Namun hingga bagian akhirnya aku hanya kepikir satu judul untuk film yang digarap penuh tanda tanya ini. UNHOPELESS. Itulah kata-kata yang kupilih untuk menggambarkan potret dalam film ini.