Monday, November 30, 2020

Ayu Permata Sari (1): X dan Diriku

Tidak ada tubuh hidup yang tinggal dalam diam. Gerak yang paling kecil dan sederhana pun sudah menandai hidup, yaitu nafas. Tidak semua orang mengingatnya, dan tidak semua orang berkesempatan membicarakannya. Aku beruntung mendapatkan kesempatan diingatkan terus-terusan tentang hal ini lewat berbagai peristiwa, dan kali ini lebih diingatkan lagi lewat pementasan X, karya Ayu Permata Sari, Sabtu, 28 Nopember 2020 di Teater Satu.

Aku mau mengawalinya dengan memberi pengantar bagaimana aku dipersiapkan untuk nonton X ini secara intensif lewat dua event yang terjadi sebelumnya. Andai kata aku tidak melewati dua event ini, mungkin aku akan menangkap X dengan cara yang berbeda. Secara keseluruhan, minggu lalu itu menjadi minggu yang menarik bagiku.

Event pertama yang menyiapkanku adalah pementasan Pilgrim dari Komunitas Berkat Yakin (Kober) dalam Festival Teater Sumatera. Kober, Kamis 26 Nopember 2020 yang kuikuti lewat chanel Instagram Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat. Kali ketiga aku nonton Pilgrim dan selalu saja ada catatan-catatan yang otomatis kubuat tentangnya. Dalam pentas kali ini aku melihat Pilgrim sebagai bagian yang penting untuk melihat sebuah gambaran holistik tentang kehidupan. Ada jalan yang sangat panjang yang sedang kulalui dan cuplikannya adalah hidupku saat ini di sini dalam rentang satu detik saja dalam tubuh yang saat ini bernama Yuli. Dengan cuplikan yang pendek ini aku menyadari kesempurnaan sekaligus keterbatasan yang melingkupiku yaitu tubuh dan waktu. Tubuhku sempurna sebagai Yuli, namun semerta juga terbatas. Waktuku juga sempurna pada cuplikan detik ini namun juga sangat terbatas. Rentang seluruh cuplikan dulu dan nanti menjadi blue print yang bisa kubentang atau kulipat kapanpun, tapi yang terpenting adalah saat ini dan di sini.

Ini diperkuat oleh event kedua yang kulibati, yaitu diskusi virtual bersama Bu Elly Luthan dalam gawe Komite Tari Dewan Kesenian Lampung pada Jumat 27 Nopember 2020. Bu Elly dengan sederhana mengangkat nafas sebagai gerak paling sederhana yang sering dilupakan. Nafas pun menjadi bagian dari gerak tari, tapi tak sering disadari. Bu Elly seperti menghasutku untuk mengingat latihan nafas, latihan menyadari, dari ini bukan soal pentas tari, tapi tari sebagai bagian dari pengembangan pribadi yang semata-mata manusia ciptaan. Tidak galau di tengah kegaduhan. Tidak gaduh di tengah kegalauan. Sadar nafas bisa membantu untuk tenang, membantu untuk bersyukur, membantu untuk sadar.

Lalu dua event virtual itu dilengkapi dengan satu event yang menuntutku untuk bergerak mendatanginya di rumah Teater Satu. Desi mengundangku sejak seminggu sebelumnya dan aku mesti bergerak untuk sampai di Teater Satu jika memang ingin menggapainya. Jika dua event sebelumnya aku mampu mencapainya hanya dengan klik di hp, Sabtu 28 Nopember 2020 harus kualami dengan berjalan sekitar 3 km untuk mampu mencicip sebuah contoh dari pergulatan tubuh Ayu Permata Sari, X. Seluruh tubuhku harus hadir berpindah tempat, bukan hanya lewat satu klik di hp.

Menonton pentas ini membutuhkan kesabaran. Yes, proses mana yang tidak membutuhkan kesabaran. Jadi hanya menambah kesabaran selama beberapa jam aku bisa menikmati pementasan ini. Bukan soal menunggu pentas, tapi kesabaran ini kubutuhkan saat menikmati pentas. Ayu dalam X bukan sedang pentas untuk menghiburku, namun ia sedang menunjukkan satu contoh kecil tentang praktik konkret dari apa yang sudah kudapatkan dalam Pilgrim maupun dari Bu Elly dua hari berturut-turut sebelumnya.

Adalah keberanian. Ayu tak kan mampu menyampaikan pesan dalam pentasnya itu kalau dia tidak berani. Dia menyodorkan hal yang sangat biasa dan dekat dengan hidup kita eh aku dalam keseharian. Tak ada gerak luar biasa akrobatik yang mengundang decak kagum. Setiap potongan geraknya adalah gerakku sehari-hari. Dan dari pertengahan pentasnya, yang mendominasi adalah gerak nafas. Tak ada hingar bingar musik diperlukan dalam gerak nafas karena nafas itu sendirilah yang paling penting. Dan keberanian yang berikutnya adalah keberaniannya menampilkan diri apa adanya. Aku menyebutnya telanjang, tapi bukan keseluruhan. Yaah, siapa yang bisa benar-benar telanjang jika otak masih menjadi pagar? Orang lain masih menjadi penyebab gegar? Dan tubuh masih belum 100 persen sadar?

Aku membuat beberapa catatan pendek begitu keluar dari ruang pentas. Hehehe... ini pentas yang tak biasa. Pentas X bukan di atas panggung, tapi dalam sebuah ruang. Gerak tarinya pertama-tama untuk diri sendiri. Aku yakin Ayu sudah mendapatkan banyak dari pergulatannya dengan X, karena dari 48 menit yang kulahap itu pun aku mendapatkan sangat banyak. Dan gerak tari Ayu memang untuk pentas karena ada banyak pesan yang tersampaikan lewat gerak tarinya. Ajakan yang paling utama: Yuk kenali tubuhmu yuk sadari tubuhmu.

Tapi tubuh kan ndak semata tubuh. Karena kalau semata tubuh, dia bukan disebut tubuh melainkan mayat, jasad, jenasah. Tubuh itu masih tubuh karena ada nafas, yang menjadi sarana rasa syukur jiwa yang diberi kesempatan untuk menggunakannya. Ayolah, tidak mungkin meninggalkan nafas tergeletak begitu saja. Memang waktunya kembali ke nafas, menyadarinya dan mensyukurinya.

Salah satu catatanku menyebut X sebagai gerak alami perempuan. Seluruhnya. Tanpa Ayu membuka bajunya pun aku tetap bisa mengatakan bahwa X adalah perempuan. Kromosom perempuan, mengalir dalam gerak perempuan, dalam seluruh detik yang dilaluinya.

Aku sempat mempertanyakan mengapa Ayu memilih kostum dengan bentuk dan warna seperti yang digunakannya dalam X. Rok lebar dengan warna kulit cream dan bagian dalam berkilat (aku melihatnya di kesempatan pertama melihatnya saat masuk ruang pentas dan aku memilih duduk di jarak yang paling dekat dengannya yang sedang bersiap), dengan rok lebar jenis kain yang jatuh. Kubilang untuk ruang privat X harusnya ditarikan tanpa kostum, tapi telanjang. (Nah kalimat ini akan kubahas nanti.) Sedang untuk ruang publik mungkin aku akan memilih warna yang sama dengan warna wajah Ayu saat dia sampai pada klimaks X yaitu merah. Tapi ini kan pertanyaan usil. Aku paham darah yang semburat di wajah itu tak bisa direkayasa, tak mungkin juga dicapai pada detik pertama gerakan yang serupa gesekan ringan di telapak tangan walau saat lahir pun manusia bersamaan dengan darah. Jadi merah itu hanya alternatif usil yang bisa dipakai nanti saat Ayu sudah berumur 80 tahun saat menarikan X di sebuah pentas ruang semesta, bukan di ruang tertutup yang sempit. Dan saat itu Ayu tak perlu lagi menjahit kainnya menjadi gaun, cukup selembar kain yang bisa dia belit atau dia lepas dengan cepat sesuai versi X yang muncul saat itu. 

Mungkinkah aku menonton pentas ini dengan Ayu berumur 80 tahun mengenakan kain warna merah? Aku akan melanjutkannya di tulisan selanjutnya, aku tak mau lupa apa yang sudah kupikirkan tentang X. (Bersambung)

Tuesday, November 24, 2020

Jawaban Yuli Nugrahani (11): Mengapa aku tidak menggunakan kulkas?

 Dalam tiga tahun terakhir ini rumah kami tidak lagi mengunakan kulkas atau lemari es. Mengapa aku mempertahankan kondisi tanpa kulkas ini?

1. Awalnya, karena rumah kami akan direhap, kulkas kami titipkan ke tetangga. Kami pindah ke rumah kosong di belakang rumah kami, tanpa menggunakan kulkas itu. Setelah rumah beres, kulkas tua itu tidak berfungsi dengan baik, maka kami tidak menggunakannya. Mas Hendro niat mau memperbaiki itu, tapi saat ada tukang rongsok mengambil beberapa barang yang tidak lagi kami gunakan, spontan kusuruh dia untuk membawanya sekalian. Dibayar Rp. 70.000,- Hehehe. (Mas Hen ngamuk ketika tahu. Maafff)

2. Dengan pengalaman beberapa bulan tanpa kulkas itu, aku melanjutkan kebiasaan itu untuk seterusnya. Ternyata aman saja tuh sampai sekarang. Beberapa efek baiknya:

- Tubuh jadi aman, sehat, karena makanan yang kami santap adalah makanan segar yang tidak masuk kulkas.

- Tidak ada stok bahan pangan yang terbuang karena belanja secukupnya untuk hari tertentu. Kalau pun stok banyak itu adalah bahan yang awet seperti telur, kentang, wortel, labu dan sebagainya.

- Tidak lagi banyak makanan olahan siap saji seperti sosis, naget atau makanan beku lainnya. Kalaupun beli atau makan ya secukupnya untuk makan sekali itu langsung habis.

- Irit energi listrik dong, karena tak ada kabel tercolok terus-terusan seperti kalau mengoperasikan kulkas.

- Tidak lagi minum air dingin terlalu sering. Ya sesekali beli es juga, secara kami semua suka es degan, es buah dan segala hal yang dingin seperti. Tapi tidak ada lagi es menginap di kulkas jadi beli secukupnya untuk konsumsi saja.

- Tidak ada godaan untuk belanja banyak numpuk dan membuat kerajinan kompos yang super bau. Hehehe. Jadi irit duit juga dong ya.

3. Nah, tentu saja ada efek sampingan yang merepotkan, walau tak banyak:

- Tak punya stok makanan berlimpah yang bisa sewaktu-waktu ada pas dibutuhkan. Apalagi kalau aku sedang ada banyak kegiatan di luar rumah, ya sedikit repot. Sedikit saja.

- Hmmm... apalagi ya. Kayaknya biasa saja tak ada kulkas.

4. Penyimpanan alami itu adalah: pekarangan, dimana aku bisa panen sawi, kangkung, buncis, timun dan sebagainya hasil dari pekarangan sempit. Diambil saat dibutuhkan saja. Yang tak diambil jadi benih untuk generasi selanjutnya.


Wednesday, November 11, 2020

Puspa Lampung: Bandarlampung Inklusi Untuk Semua Orang Tanpa Kecuali



 Pada Selasa 10 Nopember 2020, bersamaan dengan Hari Pahlawan, aku mendapatkan kesempatan menarik untuk hadir bersama puluhan lembaga masyarakat di salah satu ruang Pemkot Bandarlampung dalam rangka mendorong pembentukan Forum Komunikasi Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PUSPA) Kota Bandarlampung.

Aku hadir mewakili Forkom PUSPA Provinsi Lampung. Bu Ari Darmastuti, ketua, berhalangan hadir sehingga aku sebagai wakil ketua II mewakili beliau sebagai utusan Puspa Provinsi untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman atau praktik-praktik baik yang sudah kami lakukan dalam Forum Puspa Provinsi Lampung dalam menjalankan mandat.

Dalam waktu yang sangat terbatas aku menyampaikan beberapa hal:

1. Sejarah Puspa

2. Visi Misi

3. Lembaga-lembaga yang sudah tergabung dalam Puspa Provinsi

4. Kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan dan dirancang untuk dilakukan

5. Dan terakhir, aku menyampaikan semangat yang mestinya ada dalam gerakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Kutekankan pada bagian akhir ini bahwa manusia itu laki-laki dan perempuan, dua-duanya, bukan salah satu saja, dan tak ada kelas 2 manusia. Semua, laki-laki dan perempuan dengan segala hal yang melingkupinya memiliki martabat dan hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia.

Kutandaskan bahwa semua orang entah laki-laki atau perempuan adalah sempurna dengan kebutuhan masing-masing yang khas. Ya, setiap manusia memiliki kebutuhan khusus, maka seluruh kebutuhan itu harus masuk dalam program pembangunan masyarakat atau negara.

"Kalau saya punya hak untuk bicara disini, maka siapa pun juga punya hak yang sama. Tapi bagaimana teman-teman yang punya kebutuhan khusus bisa sampai di lantai 3 jika tak disediakan fasilitias yang bisa memenuhi kebutuhan mereka karena mereka menggunakan kursi roda.?

Aku mau bilang bilang bahwa gedung di pemkot Bandarlampung ini terlalu ekslusif, tak bisa dijangkau oleh kelompok berkebutuhan khusus. Dan itu hanyalah satu contoh karena kita masih bisa melihat di seluruh kota bahwa kota ini tak ramah dengan semua orang berkebutuhan khusus. Jalur kuning di trotoar hanya icak-icak, sehingga orang yang tak mampu melihat bisa tiba-tiba menabrak tiang listrik atau masuk got. Jembatan penyeberangan berlubang-lubang sehingga perempuan pakai rok pasti tak nyaman melaluinya. Dan sebagainya.

Aku tidak marah dengan situasi ini, tapi ini sangat serius harus dipikirkan oleh para pengambil kebijakan karena merekalah yang bertanggungjawab atas terbentuknya Bandarlampung inklusi, untuk semua manusia tanpa diskriminasi, tanpa kecuali.

Monday, November 09, 2020

LHHH (7): Sebalang Sehat Berbagi Buku

Ketua LHHH menyerahkan buku-buku untuk
taman baca Beddu

Kegiatan Lampung Hash House Harriers (LHHH) bukan hanya kegiatan olahraga lintas alam dengan maksud sehat, rekreasi dan persahabatan. Dalam banyak aktifitasnya, LHHH juga membangun kepedulian sosial. Salah satu contoh yang dilakukan saat hash Minggu 8 Nopember 2020 di daerah Sebalang, Lampung Selatan.

Untuk menuju lokasi parkir sebelum start jalan, kita masuk ke daerah pesisir Lampung Selatan setelah Tarahan. Aku langsung semangat melihat laut. Agak ruwet jalan masuknya tapi akhirnya kami sampai di lokasi, di sebuah kampung yang kalau melihat rumah-rumah penduduknya lumayan bagus.

"Ibu melihat rumah-rumahnya bagus, tapi ada keprihatinan paling besar di sini. Pendidikan sangat minim." Ujar Beddu, salah satu pemuda setempat yang mengelola rumah baca di daerah itu. Beddu merasa bersyukur karena dia mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Bandarlampung. Dia ingin mengangkat martabat anak-anak di daerahnya dengan mengelola taman baca dan menemani anak-anak belajar di taman baca tersebut.

LHHH sudah menyiapkan buku-buku bacaan dan pelajaran dari stok yang dimiliki masing-masing. Buku-buku itu diserahkan kepada Beddu sebelum acara jalan dan lari berlangsung. Semua peserta mengunjungi taman baca Beddu yang terletak di depan rumahnya. Taman baca itu sederhana, terdiri sebuah pendopo beratapp dengan dinding setengah tertutup.

"Du, kau mesti tutup taman baca itu biar buku-buku tidak rusak oleh angin, panas dan hujan." Kataku pada Beddu usai hash sambil makan di bawah pohon.

Beddu setuju dengan usulku karena dia pun sudah memikirkannya. Hanya saja dia tak punya biaya cukup untuk memperbaiki taman baca itu. "Untuk sementara sih mungkin akan saya tutup dengan terpal bekas banner."

Aku langsung neriakin beberapa orang yang ada di sekitar situ siapa yang membaca banner bekas dan bisa direlakan untuk taman baca Beddu. Beberapa orang yang memilikinya langsung menurunkan banner-banner bekas dan diserahkan ke Beddu.

Aku menjanjikan ke Beddu untuk datang pada kesempatan lain. Tidak untuk jalan hash tapi untuk mengajar anak-anak di taman bacanya. "Aku mau latih siapa yang mau menulis puisi dan cerita." Beddu menanggapinya dengan antusias. Sip.


Friday, November 06, 2020

Isolasi Mandiri Karena Rapid Test Reaktif?

Hari ini hari ke-11 aku menjalani isolasi mandiri di rumah. Gara-garanya: Rapid Test Reaktif. Hohohoooo... Sebenar-benarnya aku memahami beberapa hal terkait hal ini:

1. Bahwa hasil rapid test reaktif belum menunjukkan apakah positif atau negatif Covid. Tingkat akurasinya rendah. Apalagi aku tak menunjukkan gejala apa pun. Aku merasa sehat walafiat tak ada keluhan apa pun di tubuhku.

2. Kalau rapid test hasilnya reaktif, maka harus diikuti dengan tes swab PCR untuk memastikan apakah terpapar Covid atau tidak.

3. Entah terpapar atau tidak, kalau rapid test reaktif maka harus isolasi mandiri 10 - 14 hari.

Sebegitu pun aku panik juga menerima kabar hasil test reaktif itu. Maka beberapa hal kulakukan dengan setengah shock:

1. Langsung cari info untuk menjadwalkan rapid test bagi semua warga rumah. Tak ada protes pokoke secepat mungkin para cowok di rumah langsung rapid test keesokan harinya. Semuanya non reaktif, puji Tuhan, nyicil lega. 

2.Pun demikian langsung memisahkan diri mengambil jarak dari semua warga rumah. Kamar mandi terpisah, alat dan tempat makan terpisah, selalu pakai masker walau di dalam rumah.

3. Meminta suami dengan paksa untuk membeli beberapa alat penopang, yaitu: termometer (cek suhu setiap hari, hasilnya normal 35 - 36 derajat celcius.), multivitamin, susu, buah, roti dan makanan-makanan enak.

4. Cari info tentang tes swab. Payahnya, tes ini baru bisa dilakukan seminggu setelah rapid test. Ampun. 

Apa yang dilakukan setelah swab dijadwalkan? Aku langsung browsing tentang prosedur swab. Ngeri mbayangin hidung dan mulut dicolok benda asing. Tips supaya hal itu tidak menyakitkan: tengadah sehingga petugas mudah menjangkau bagian dalam hidung dan mulut, menutup mata, dan menahan nafas saat hal itu dilakukan. Paling hanya  maksimal 5 detik kok dalam setiap korek hidung dan mulut.

Kata orang-orang prosesnya sakit. Ahhh, tidak. Hanya tidak nyaman, geli dan kayak pengin muntah. Usai itu udah, diam sebentar untuk netralin diri. Jangan lupa kalau pas swab bawa saputangan atau tisu karena pasti mata langsung berair apalagi pas dicolok hidungnya. Ya kayak kalau kecolok aroma cabai atau bawang itu kan kita juga langsung nangis to.

Swab kulakukan di RSU Abdul Muluk, sebanyak 2 kali. Kali pertama negatif, lalu diulang swab kedua untuk meyakinkan, dan hasilnya negatif juga. Oleh suster yang menjadi tempat konsultasiku, aku masih diminta untuk melanjutkan isolasi mandiri sampai 14 hari, tapi semua terasa lebih enteng. Kayak keluar dari penjara, legaaa... Dan wanti-wanti utama: Tetap melakukan protokol kesehatan Covid walau sudah dinyatakan negatif. Nah, gitu.


Obrolan Virtual Komite Sastra DKL: MAJU TERUS SASTRA LAMPUNG

 Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang besar bagi masyarakat dunia, tak terkecuali Lampung dengan seluruh elemennya. Dalam sastra, dampak tersebut muncul dalam proses karya, juga dalam tema karya mau pun dalam kehidupan para sastrawan. Dampak tersebut telah disiasati secara positif oleh banyak pihak sehingga dapat bertahan, bahkan berjuang secara kreatif.

Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) memandang saling berbagi ide di tengah situasi tersebut, akan menjadi inspirasi untuk terus memajukan mengembangkan sastra Lampung, entah sastra berbahasa Indonesia atau sastra bahasa Lampung. “Segala hal baik yang telah dan bisa dilakukan bagi sastra Lampung itulah yang akan diperbincangkan dalam obrolan virtual yang digelar oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) dengan tema Maju Terus Sastra Lampung,” ujar Ketua Komite Sastra DKL Udo Z Karzi.

Udo mengatakan, webinar ini akan menghadirkan narasumber Rilda. A. Oe. Taneko, sastrawan Lampung yang bermukim di Inggris, dilakukan melaluiZoom Meeting (Meeting ID: 784 148 4445 dengan passcode: 123456789) pada Sabtu,7Nopember 2020, pukul 15.00 – 17.00 WIB, dan disiarkan secara langsung di chanelYoutube DKL, Mejeng Jejamo. Menurut rencana kegiatan ini akan dihadiri oleh Ketua DKL dan jajarannya, penggiat sastra Lampung di dalam dan luar Lampung, peminat sastra Lampung dan masyarakat umum dengan moderator Yuli Nugrahani, Sekretaris Komite Sastra DKL.

Menurut Udo, kegiatan Komite Sastra DKL yang pertama digelar dalam periode ini diharapkan dapat membangun semangat sastrawan Lampung walau tengah atau telah menghadapi dampak pandemi Covid-19.

“Kami ingin menghimpun saran dan masukan positif bagi pengembangan sastra Indonesia, baik sastra berbahasa Indonesia maupun sastra berbahasa Lampung. Maju terus dalam situasi apa pun.” Tandas Udo. Dengan demikian ada hal-hal yang baik yang bisa ditindaklanjuti untuk melecut kontribusi Lampung bagi kemajuan sastra Indonesia.

Obrolan virtual ini merupakan kegiatan kedua dalam rangkaian acara DKL menjelang akhir tahun 2020 yang diselenggarakan oleh seluruh komite dengan tema besar Kesenian Lampung Pascapandemi. Kegiatan pertama sudah dilakukan oleh Komite Tradisi DKL dengan tema Urgensi Peran Pemuda terhadap Seni dan Budaya, menghadirkan narasumber budayawan Lampung, Seem R. Canggu, SE.MM. Selasa, 3 Nopember 2020.

 CP. Yuli Nugrahani (Sekretaris Komite Sastra DKL)

Telp.08127925222/yulinugrahani@yahoo.com

Thursday, November 05, 2020

LHHH (6): Campang Raya untuk Olah Raga

Hash kali ini ke daerah  perbukitan Campang Raya, Minggu 18 Oktober 2020. Bayanganku tentang daerah Campang adalah kering, gersang, tak ada yang menarik, penambangan pasir dan batu. Kayaknya kok tak ada indah-indahnya tempat ini. Hehehe... tapi jangan salah. Setelah kami sampai di tempat parkir, salah satu villa penggiat LHHH, pandangan itu sudah langsung berubah. Area yang luas ditanami dengan aneka pohon buah, dan tampak hijau.

Perjalanan dimulai setelah foto bersama secepat kilat. Protokol kesehatan mesti tetep diterapkan. Jangan sampai berdekatan terlalu lama, tapi foto bersama itu berguna untuk para sponsor yang mendukung kegiatan ini dan juga untuk catatan ingatan tentang kegiatan rutin ini. Usai itu langsung ... on... on...


Aku dan Mas Hen jalan dengan cepat mengikuti jejak eh tidak ding, mengikuti orang yang sudah berjalan duluan. Sesekali diselingi dengan lari kecil. Namun tak lama, energiku sungguh beda dengan master-master hash seperti ko Heri dkk, jadi segera saja aku tertinggal.

Di satu persimpangan, setelah tanjakan pertama yang cukup membuat tubuh memeras keringat, aku ambil rute pintas.

"Nanti akan ketemu di tempat yang sama, kalau terus tanjakan terjal tapi pemandangan indah dari atas. Kalau lewat ke kiri sini lebih landai." Jelas Pak Taslim.

Mas Hen memutuskan mengikuti jalur nanjak, aku ikut Pak Taslim jalan yang landai. Jalan dengan santai sambil menikmati udara Campang yang rupanya ada juga yang segitu segar dan indahnya. Di ujung jalan, ada persimpangan lain.

"Kalau mau langsung balik ke base awal, bisa lurus sini. Sudah dekat. Kalau mau mengikuti jalur lewat ke kiri."


Aku lihat ke kiri rute itu menaiki bukit kedua. Aku pilih situ tapi menunggu Mas Hen dulu dan memastikan kami bersama lagi.

Jalan nanjak dan sampai di puncak yang ada rumah pondok dengan pohon kelapa yang siap dipanen degannya. Hehehe... Entah ide siapa yang pertama, pokoknya aku menikmat satu degan yang segar sebelum melanjutkan langkah.

Kukira kami akan melalui jalan yang turun dan landai saja setelah itu. Dan memang demikian, tapi banyak sekali yang terlalu curam sehingga di beberapa tempat aku mesti ngesot karena nggak percaya diri kalau jalan biasa. Untung saja Mas Hen cukup sabar menemani jadi aku terus menikmati hingga finis.


Di bagian akhir selalu menarik, mendengarkan cerita dari para senior, belajar banyak hal, sambil menikmati santapan ringan atau berat yang disediakan. Keringat yang mengucur menjadi bagian dari olah raga yang menarik ini, tapi pengalaman yang mengalir dari perbincangan adalah hal yang paling mengasyikkan.