Friday, January 22, 2016

Tiba-tiba Ingat Si Palinten

Nah, memang lama tak memikirkannya. Tiba-tiba pagi ini aku ingat si Palinten. Gadis malang ini sungguh-sungguh ngenes nasibnya. Ah, agak susah juga dibilang gadis. Tapi juga repot kalau dikatakan bukan gadis. Dia gadis karena dia memang seorang yang bebas. Dia bukan gadis karena memang dia tak perawan lagi. Tubuhnya sudah menerima banyak perlakuan yang sepantasnya dia terima dengan kegembiraan pada awal mulanya tapi kemudian menjadi kesedihan-kesedihan yang beruntun.

Oalah, bagaimana nasibmu sekarang, Nduk? Terakhir aku mendengar kau melakukan perjalanan panjang untuk mengawali asal muasal kegembiraan dan kesedihanmu itu. Menurut banyak versi, ya itulah caramu, perempuan (ini sebutan yang sepadan untuk Palinten) yang berani menghadapi situasi yang paling rumit yang sudah membelit hati.

Maka perjalanan panjang itu kauusahakan sekuat tenaga, kau rekayasa supaya seluruh titiknya mengembalikanmu pada kegembiraan awal. Kau telusuri jalan yang sama setahun silam, kau hilangkan perlakuan-perlakuan, perkataan-perkataan, dan segala hal yang sebenarnya sudah menyumbat hatimu. Bahkan kau kembali meletakkan tubuh terlentang untuk dimasuki laki-laki yang sama untuk kembali merasakan hasrat yang dulu pernah berkobar. Kau merasakan kesakitan ketika hal itu tidak sejalan dengan hatinya, tapi kau lirih berkata,"Tidak sakit."

Oh, Palinten genduk ayu. Aku mendengar kau pulang dengan kaki pincang. Darah mengucur dari tubuhmu dan air mata yang sudah merembes dari awal menjadi banjir bandang tak terbendung. Aku tak bisa memaklumi seluruh tindakanmu tapi jadilah bahagia ketika sudah memutuskan hal sulit itu. Terlebih kupingmu yang peka itu selalu tak terima menerima makian, menerima kenyataan bahwa hal paling berharga yang sudah kau berikan itu hanyalah dihargai sebagai pelacur.

Nduk, sekarang dimana kau meletakkan kepalamu? Di antara remah jagung bakar yang mulai dipatuk anak-anak ayam pagi ini? Di antara ampas kopi sisa semalam? Palinten, bahagialah, nak. Jagalah hatimu. Kau sudah memutuskan, jadi berjalanlah pada kebenaranmu. Suami dan anak-anak akan disediakan bagimu, di dalam rumahmu.

No comments:

Post a Comment