Thursday, January 11, 2018

Efektif atau Bahagia?

Pengalaman kehujanan beberapa kali tetep saja aku lupa kalau jas hujanku sudah robek di bagian atas dan bawah (hehehe) sehingga berkali-kali mesti basah kuyup. Hari ini tadi aku niati sungguh-sungguh : Mampir Rang-rang untuk beli jas hujan yang bagus yang tidak mudah robek.

Ternyata aku berangkat kepagian. Rang-rang belum buka. Mikir sebentar di depan toko : Naik fly over atau lewat bawah? Hihihi. Pikiran ndak penting banget yak.

Karena belum dapat jas hujan di Rang-rang sedangkan hasrat untuk mendapatkan jas hujan sedang menggebu (huhuhu, lebay tak apa deh), aku mampir perempatan lampu merah Kedaton, belok ke toko pertama yang menggantung jas hujan.

Si ibu pemilik toko dengan ramah menyapa :

"Ya, butuh apa, mbak?"

Terbawa oleh senyum ibu yang manis dan sapaannya yang ramah, aku tersenyum lebar.

"Bu, aku mau jas hujan. Yang besar, yang bagus, yang bisa kupakai termasuk dengan ransel di punggungku. Pokoke ransel ini ndak boleh kehujanan karena isinya macam-macam. Ada laptop, dompet, buku. Semuanya ndak boleh basah."

Hihihi.

Ibu itu masuk toko membongkar raknya. Menunjukkan satu jas hujan warna ungu. Membukanya dan mencobakannya di badanku.

"Ini ukuran terbesar. Tak ada lagi." Dan jas itu tak muat. "Yang lain kosong." Oalah. Kalau gitu ya tidak usah saja. Aku melanjutkan basa-basi, tersenyum, mengucapkan terimakasih, dan pamit. Berhenti sebentar di depan toko sambil mikir : Lurus atau putar balik? Hihihi. Lagi-lagi pikiran yang ndak penting banget. Secara daerah situ tuh kanan kiri penuh berderet toko helm dan jas hujan.

Aku iseng menyeberang. Toko yang mirip dengan yang kudatangi pertama tadi. Helm dan jas hujan berjajar dipajang. Seorang pelayan, laki-laki muda seumur Albert, jauh lebih kurus, hitam, tanpa senyum tanpa kata mendekati.

"Aku butuh jas hujan yang besar yang bisa kupakai dengan ransel tetap di punggungku." Dia tetap diam, mengambil galah berpengait, menurunkan satu jas warna hitam, membuka kancingnya dan menyerahkan padaku. Aku mencobanya tanpa melepas ransel di punggungku, dan pas. Aku membukanya dan menyerahkan kembali pada cowok itu.

"Berapa harganya?"

"Seratus lima puluh ribu."

"Mahal ya. Bisa kurang?"

"Seratus empat puluh ribu."

"Ada ndak yang sebesar itu tapi harganya lebih murah?"

"Tidak ada."

"Kurangi lagi harganya."

"Kalau mau seratus tiga puluh ribu."

"Oke."

"Mau?"

"Ya."

Dia masuk ke toko mengambil jas yang masih baru dalam kemasan rapi. Aku bilang ingin mengeceknya dulu. Kubongkar, kukasih dia lagi sambil mengangguk. Memberikan uang Rp. 150.000,- dan dia membawa duit itu ke bosnya. Dia menyerahkan uang kembalian dan jas hujan. Masih setia tanpa senyum, tanpa ucapan terimakasih. Aku juga ndak mau senyum ndak ngucap terimakasih, membawa uang kembalian dan jas hujan baru, udah deh, ngacir. 

Baru-baru ketika sampai kantor aku terus berpikir dua toko yang kudatangi ini. Toko pertama menyambutku dengan senyuman, obrolan ramah, aku ndak mendapatkan jas hujan yang kuinginkan. Toko kedua bahkan tak ada senyuman atau ucapan basa-basi, aku mendapatkan jas hujan yang sesuai, mereka mendapatkan uang pembelian. Piye menilai peristiwa ini ya? 

Kalau dalam konteks umum, jelas toko kedua lebih efektif. Semua terjadi, lancar dan masing-masing diuntungkan. Tapi mengingat cowok kurus itu kok aku jadi ketularan tidak bahagia ya? Jadi pengin cemberut karena dia tak menyambut dengan senyuman. Tak ingin ngobrol karena dia tak bertanya apa pun. Tak ingin ngucapin terimakasih karena dia tak memberikan ucapan itu. Ealah.  

No comments:

Post a Comment