Tuesday, May 23, 2017

Sebuah Pengakuan untuk Salah Satu Cabang Cemara

Sembari menunggu Hera Sani memiliki blog atau web sendiri, tulisannya ini kupasang di sini. Silakan menganggapnya sebagai kelengkapan dari catatanku sebelumnya (Klik sini). Aku tidak mengeditnya, persis seperti yang ditulis Heralah yang ada di ini. Check it out  :

SEBUAH PENGAKUAN;
Untuk SALAH SATU CABANG CEMARA (SSCC)
Cerpen YULI Yuli Nugrahani
(harusnya saya tulis ini di blog juga)



1. Aku dan Awal Jatuh Cinta Pada SSCC
Terlepas dari segala teori sastra, apapun itu, sementara ini akan saya kesampingkan; karena selain seorang otodidak (dan cenderung ngawur) saya juga seorang yang agak susah untuk duduk diam mempelajari teori secara sistematis, runtut, urut, atau apalah yang disebut baku secara akademis ataupun yang disebut “Benar”, “Berdasar” atau apalah-apalah itu yang disebut “Pakem Sastra”. Saya buta. Karena saya juga bukan seorang yang tumbuh dari lingkungan akademis, kuliah saya tidak pernah selesai, walau pernah menclok di universitas lalu galau-malau tidak karuan. Saya lebih senang bekerja karena memang tuntutan takdir, saya bukan anak dari orang tua yang mampu. 
Baiklah. Suatu hari saya pernah mengatakan pada Mbak Yuli, (begitu saya biasa memanggilnya);
“SSCC akan saya bacakan, mbak”
Dan celakanya ketika saya terlanjur mengatakannya, saya malah belum baca cerpennya! Karena saya begitu optimis dengan judul buku kumpulan cerpen itu. Pastilah ada sesuatu pada judul itu. Tidak mungkin tidak. Kalau tidak, kenapa dijadikan judul buku itu? Toh, bisa saja “Mencari Kubur Ahmad”, “Daun Sirih, “Pisah” atau yang lainlah diantara 16 cerpen lain di dalam buku itu, yang penting bukan “SALAH SATU CABANG CEMARA”. Mana mungkin seorang penulis seperti YULI NUGRAHANI sembrono memilih judul atau mentang-mentang judul itu lebih puitis dari pada judul-judul yang lain. (Saya bayangkan kalau “Semangkuk Mie” yang jadi judul, bagaimana covernya, ya? Akankah Kiki Rahmatika tidak sedang menari di cover itu, melainkan sedang makan mie?)
Sangking percayanya saya dengan isi buku “DAUN-DAUN HITAM” buku sebelumnya yang ditulis oleh YULI NUGRAHANI yang berisi potret-potret sosial (Saya sangat suka dengan tema-tema sosial) dan beberapa cerpen yang saya baca terlebih dahulu di buku SSCC, saya berani mengatakan “SSCC!” Ya, SSCC.
Awalnya SSCC saya bayangkan seperti “DAUN-DAUN HITAM”. Daun hitam yang entah kenapa disimpan oleh Si Bapak. ini juga mungkin Cabang Cemara yang digergaji atau berkaitan dengan penebangan hutan (Bukankah Yuli Nugrahani ini juga seorang pecinta alam dan tergabung dengan banyak komunitas yang berkaitan dengan itu).
Dengan ekspresi biasa dan setelah mandi sore, baju santai, di akhir Desember 2016, saya baca buku itu, tepat dan khusus pada “SALAH SATU CABANG CEMARA”.
….
Oh, setelah saya baca, harum wangi sabun mandi di tubuh saya mendadak jadi berbau aneh. “Kecut… kecut piye … ngono”. Waduh ….
Akhirnya saya termenung. Bingung. Mau diapakan. Tak ada pilihan. Saya terus baca berulang dan saya punya tanggung jawab setelah saya katakan “SSCC akan saya bacakan.” Kalaupun tidak mungkin, saya harus cari cerpen lain yang memungkinkan untuk dibacakan di atas panggung. Saya baca lagi berulang-ulang ke 16 cerpen yang lain. Kafe, Daun Sirih … Nah! Sip! Ya, Daun Sirih. Ini dia… ada Lampung-Lampungnya-lah. Saya baca juga cerpen itu berulang.
….
“Tapi kok belum dapet sesuatu”. Tidak mau menyerah, terus saya baca yang lain, “Yang Tersimpan”, ya pokoknya 16 cerpen yang lainlah. (Sambil menginsafi kalau sebetulnya sayalah yang sembrono).
Setelah 2 hari kebingungan saya berfikir ulang… entah kenapa kok SSCC-lah yang melintas-lintas di kepala Saya. Hati saya bilang sesuatu tentang keyakinan saya terhadap penulisnya. “Tidak mungkin tidak ada sesuatu disana, di cerpen itu. SSCC”, batin saya.
Hmh… kalau begitu, saya dramatisasi saja cerpen ini. Bagaimana caranya cerpen ini bisa berjalan bersama-sama dengan tema yang sudah saya tetapkan. Mengalah dulu dengan keinginan ideal demi bisa dinikmatinya cerpen ini oleh siapa saja. Dan target saya, minimal yang menikmati pembacaan cerpen ini bisa menginsyafi dan terkenang negerinya, Indonesia. Terlepas “apanya” yang dikenang tentang Indonesia, yah minimal “eling-lah”. Dan (mungkin) selama ini lagu wajib nasional sudah jarang didengar khalayak yang tidak lagi duduk di bangku sekolah.
Jadi bisa saya simpulkan, pada pembacaan cerpen 20 April 2017 di Dawiels Kafe kemarin, saya benar-benar berusaha tidak bergelut terlalu dalam ke dalam SSCC, karena akan panjang urusannya. Dan saya tipikal orang yang tidak mau berhenti berfikir, dan kalau sudah berfikir, pikiran saya bisa beranak pinak seperti molekul liar yang seenaknya berterbangan kesana kemari.
Saya harus mengalah, saya simpulkan sederhana saja. Berjalan di permukaan cerpen dan mencoba mencocokkan penafsiran saya yang “sebatas kulit” kepada penulisnya. Itupun karena saya sudah menemukan keraguan, “Apakah hanya seperti itu saja SSCC?” seperti satu kalimat ditambah satu frase dibelakangnya;

“Aku, perempuan yang cinta pada cemara-cemara tropis setengah basah setengah kering, dibelaha bumi sana. Perempuan-perempuan.”
…. dan kesannya ya memang seperti itu. 
 Awalnya saya akui saya tidak menemukan apa-apa selain yang tersurat itu dan tersirat itu; cerita tentang seorang lesbian yang masih ragu-ragu dengan keputusannya memilih orientasi sex dan memilih pulang atau tidak ke negerinya, Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri melarang bahkan mengecam LGBT. Hukum sosial di mata masyarakat Indonesia pun hal-hal yang berbau seperti itu dianggap suatu hal yang lebih buruk dari sekedar zina, tetapi juga menjijikkan, itu dianggap penyakit.
Tetapi saya tetap tidak mau terjebak di situ, pada tafsir itu, walau saya telah tanyakan langsung pada penulisnya. Dan Yuli Nugrahani memang mengatakan demikian.
Saya terus berpikir, Saya tetap tidak mau menyerah. Harus ada garis merah. Saya selami lagi cerpen itu walau megap-megap dan timbul tenggelam (hanya) di permukaan saja. Tapi, saya mulai penasaran.
Akhirnya, saya pakai garis besar Indonesia dan perempuan. Oke, saya terima tentang Indonesia yang tidak menerima LGBT. Diantara 6 agama yang ada di Indonesia juga tidak menyetujui penyimpangan. Walau Konghucu, Budhis, Hindu meyakini reinkarnasi atau tumimbal lahir, karmapala, tetapi tetap menganjurkan “pengobatan”. Dalam Budhis melarang Kamasumichachara “perilaku sex yang salah” dan kesemua (agama itu) mengajurkan “jalan pertaubatan”. Sebab itulah, si tokoh SSCC ini, pergi ke suatu tempat yang jauh, negeri bersalju.

Ratusan perputaran bulan, melewati musim bersalju yang te¬lah berulang kali, memberikan bonus pengalaman-pengalaman dan perjumpaan-perjumpaan. Bahkan aku sengaja menelan beberapa kristal beku supaya bara dalam hatiku yang tinggal setitik, cukup di situ saja. Aku harap semua itu telah membekukan semua luka yang tidak aku perlukan lagi. Jangan sampai memercik kembali menjadi api ung¬gun yang besar. 
Aku ingin seluruhnya menjadi beku. Semua itu aku perlukan sebelum aku menginjak kembali kota-kota tropis yang sudah menung¬guku di belahan katulistiwa sana. Aku ingin jadi orang baru saat berada di sana nanti. Kembali menjadi bayi yang putih bersih seperti pada de¬tik pertama usai dilahirkan.

Celakanya, walau toh setelah bertahun-tahun pergi menghindar, mengendapkan, menahan diri dan menutup hati dari perempuan, tetapi tetap saja tidak bisa menghindarkan perasaannya. Sementara, Sang Tokoh mau tidak mau entah dengan atau untuk kepentingan apa dia harus kembali ke Indonesia. Tentunya Si Tokoh harus bersiap-siap dengan kemungkinan-kemungkinan terhadap diri dan hatinya. Oke, pada kesimpulan itu saya terima.
Tetapi pikiran saya tidak bisa diam, saya penasaran terhadap sesuatu yang sudah saya kenal dan terlanjur saya pikirkan. “Tresno jalaran eneng terus neng moto”. SSCC tiap hari ketemu, dibacam, dan dipikirkan… kok saya jadi ingin lebih dekat, ingin lebih tahu.
Saya baca lagi. Berulang. Berhenti di setiap kalimat, paragraf… bahkan detail kata. Dan berhentilah saya pada kata “Perempuan”. 
… Kebetulan saya pernah bersinggungan dengan perempuan-perempuan yang juga hidup dan bekerja di luar negeri. Saya memang sempat nyaris berangkat menjadi TKW beberapa waktu lalu. Dan saya ditolak oleh PJTKI tempat dimana para TKW dikarantina dan diberi pendidikan sebelum diberangkatkan. Akhirnya dapatlah saya bahan observasi yang seru dan menarik selama 3 hari di PJTKI itu.
Para TKW ini, banyak bekerja di Hongkong dan Taiwan. Kedua negara itu juga bersalju. Syarat konflik yang menarik juga dari sisi psikologis para TKW yang ingin berangkat mengadu nasib ini. Tetapi tidak semuanya buruk, justru saya banyak melihat kehebatan-kehebatan mereka yang luar biasa yang saya sendiri pastilah tidak akan sanggup menjalaninya. Saya bersumpah, sebetulnya mereka perempuan-perempuan hebat. Namun, ketika saya merenung lebih dalam saya berfikir kalau mereka juga sebenarnya “perempuan yang sakit”. Sakit fisik dan tersiksa secara batin. Fisik yang harus bekerja setiap hari, tertekan batin karena pastilah mereka sangat merindu dengan kampung halaman, tetapi tidak berdaya untuk pulang sebelum masa kontrak habis dan jika pun harus pulang, mereka harus memikirkan apa yang bisa mereka kerjakan setelah pulang. Bukan hal baru juga ketika kita mendengar kalau pekerjaan perempuan-perempuan di Hongkong ataupun di Taiwan itu sangatlah berat. Banyak yang bilang tergantung nasib. Kelapangan hati mereka meyakini hal itu. Kalau nasib baik, mereka akan dapat bos yang baik dan perlakuan yang baik pula. Terlepas paham atau tidaknya mereka masalah peraturan dan undang-undang untuk para TKW yang sesungguhnya. Dan karena ketidak pahaman itu, banyak cerita menyedihkan tentang mereka. 
… tetapi jika bicara Hongkong dan Taiwan, ya … yang terbayang adalah bahasa mandarin. Mereka etnis China. Dan jika dihadapkan dengan masalah tanah air … di Indonesia pun ada etnis China dan disebut warga negara keturunan Tionghoa. Singkat kata, bicara Hongkong, Taiwan, China, Tionghoa peranakan, terbesitlah beberapa konflik di kepala saya.
Oke mbak Yuli, terlepas dari semua penjelasan dan pengakuanmu, tapi aku tidak mau menyerah. Terlebih setelah melewati pementasan awal yang masih sekedar lipstik itu dan saya sengaja bermain di permukaan dengan konsep “fun”, mengajak semuanya menikmati SSCC dengan bungkus bergaya agak nasionalisme yang (mungkin) bisa diterima siapa saja atau juga terkesan pop atau apa, itu memang sangat sengaja saya lakukan sebagai ajang untuk bertemu siapa saja. Momen itu saya anggap sebagai “menghimpun bagian dari semesta yang sangat berarti bagi saya, dan juga SUN LOVE COMMUNITY”.
Namun, celakanya hari ini, saya harus jujur dan harus berani mengatakan kalau saya sudah jatuh cinta dengan SSCC. Dan gawatnya, ketika saya sudah jatuh cinta, mungkin saya akan total tegak di sana. Saya harus bertanggung jawab terhadap cinta saya tersebut, karena ketika Tuhan sudah memberikan “anugerah cinta” itu maka saya akan berdosa jika menyia-nyiakannya… (hmh), apalagi kalau tidak sampai menjadi sesuatu. Dan bukan hanya keyakinan “tidak boleh menyia-nyiakan itu” yang saya jaga, tetapi saya yakin dengan YULI NUGRAHANI pastilah dia punya sesuatu di SSCC. Tidak mungkin tidak. Akankah sesuatu itu benar-benar dibuat dan ditaruh begitu saja tanpa makna? Seperti pengakuannya di blognya yang sama;

"Namun, aku harus mengakui, cerpen SSCC bukanlah cerpen yang 'kusayangi' dibandingkan beberapa judul lain yang ada di sana. Aku suka cerpen Kafe, atau Mencari Kubur Ahmad, yang kemudian wujud sayangku itu kuteruskan dengan menggubah Kafe dan Mencari Kubur Ahmad sebagai bentuk naskah pementasan. (Yang butuh naskah monggo kontak aku.)
Aku hanya menyerap SSCC, mengukirkannya sebagai judul buku, lalu sudah. Dia kubiarkan teronggok begitu saja. Di satu sisi aku tak percaya diri mengungkapkan kehendakku atas cerpen itu, di sisi lain, aku merasa SSCC sudah cukup sebagai sebuah gagasan. Aku tak punya tugas apapun lagi atas cerpen itu. Dia mesti tahu diri, toh tak aku buang tapi aku sematkan dalam buku yang kubanggakan. Cukup."
Hmh… baiklah. Seperti kehadiran seorang anak, terlepas tiri atau kandungkah sang anak, pastilah orang tua punya harapan, setidaknya makna dari nama yang sudah kita labelkan kepada anak tersebut.
Dan di momen-momen berikutnya, mau tidak mau juga SSCC akan melekat pada tubuhku, perjalananku dan sun love. Untuk itu, aku tidak mau menyerah. Ngeyelku adalah resikoku walau pasti Si Penulis Hebat itu akan bilang; “Itu urusanmu, terserah dirimu”, selalu itu yang diucapkan Mbak Yuli ketika saya bicara tentang apapun (mungkin dia lelah).
“Kali ini akan saya buktikan “kengeyelanku” padamu mbak, akan kugali lagi“. 
Entah kenapa saya seperti makin jatuh cinta dan SSCC sudah tidak saya pedulikan lagi kalau yang menulis cerpen itu adalah YULI NUGRAHANI. 
“Okelah dia ibunya, tetapi dia akan menemukan realita kalau kelak anaknya berhak “jalan” dengan siapa saja dan dicintai siapa saja.”
… huff…
Saya kembali meditasi. Kini yang terlintas kuat adalah tepat pada judulnya;
SSCC. CEMARA.
Dulu saat saya pertama kali membaca SSCC, entah kenapa kata-kata “CEMARA” seperti luput dari perhatian saya. Tapi kali ini “CEMARA” benar-benar hadir di mata saya. Tentang bentuknya, daunnya… Ya, anatomi Cemara.


2. Menafsir SSCC; Cinta yang Belum Tuntas, Pencarian yang Belum Usai…
Pada cerpen “Salah Satu Cabang Cemara”, disebutkan 16 kali kata “Cemara” (kalau tidak salah hitung saja) dengan berbagai frase. Cemara basah, cabang cemara, kuping cemara, bibir-bibir cemara, reruntuhan cemara, cemara-cemara tropis setengah basah setengah kering, dan (ajaibnya) “salah satu cabang cemara” disebutkan di kata cemara yang ke 7, tepat di paragraf 24 (atau 25). 
Cemara disebut 16 kali yang bisa jadi itulah cabang-cabang cemara yang lain yang mengisi hiruk pikuknya kehidupan ini. Tafsir ini persis sama dengan pengakuan Yuli Nugrahani di Blognya Friday, May 12, 2017 “Salah Satu Cabang Cemara oleh Sun Love Community”

Judul yang terakhir kupakai ini kupilih setelah seluruh buku selesai kuedit. Dan kemudian kupilih sebagai judul buku karena frase ini dapat menggambarkan seluruh buku yang berisi cerpen aneka rupa tema, yang kesemuanya berangkat dari ide-ide personal yang kujumpai.
… 16 sampel tema kehidupan selain “salah satu cabang cemara” yang lain seperti yang dimaksud di dalam buku SSCc ini. Dan “salah satu cabang cemara” disebutkan di kata “cemara” yang ke 7, bisa jadi inilah penciptaan Tuhan yang agung, bisa jadi berupa 7 lapis langit dan bumi. “Salah satu cabang cemara” juga masuk di paragraf 24 atau 25. Kenapa 24 atau 25 seperti ada salah ketik disitu. Paragraf atau bukan, kenapa tidak menjorok ke dalam diawal kalimat. Saya tidak berani menyebutkan ini Nabi ke 24 atau ke 25, namun 2 nabi itulah yang membawa ajaran samawi tersebsar di muka bumi ini.
Oh, seajaib itukah engkau Mbak Yuli? boleh bertanyakah aku, itu kebetulan yang kau buat lewat imajinasimu yang mengalir begitu saja refleks dari jemarimu saat kau mengetik di tuts-tuts laptopmu? Atau sengaja kau hitung, kau rumuskan sambil menaklukkan imajinasimu, pikiranmu yang mengembara, sebelum kau tuang di kertas-kertas itu? Kau yang bilang SSCC tidak penting atau kau coba sembunyi dari hasil pemikiranmu sendiri yang telah kau endapkan hingga telah menjadi air bening, mineral murni yang tersaring lewat proses alami “Pengendapan kesadaran melalui jalurnya; serat-serat halus serupa akar pohon, serupa jaringan otot, serupa jaringan saraf, (atau …. apalah entah istilahnya aku tidak paham) yang disitulah sesungguhnya tempat disimpannya energi, tidak terlihat, namun itulah sejatinya”.
“Itu bukan kuping, Sayang. Lihat lagi dengan seksama. Aku kira lengkung itu lebih mirip bibir. Lihat ada gurat-gurat lembut panjang yang bisa berkerut atau merekah sesuai geraknya. Tapi kau betul. Dia sangat romantik. Dari bibirnya itu selalu dilantunkan desis tembang ro¬mantis. Kau mendengarnya juga?”
“Itu telinga. Lihat lubang yang melingkar-lingkar itu. Lihat dari bawah batangnya. Kau akan lihat rumitnya seperti apa. Tidak bisa dipungkiri itu adalah telinga. Muara, tujuan segala suara. Kalau kamu berdendang pasti akan segera mengalir masuk di sela-selanya. Setelah itu melingkar melesak ke dalam.”

Lalu apakah jalur itu? Gurat-gurat lembut itu yang justru menjadi inti dari batangnya benarkah yang saya tafsir ini sebagai Muara, tujuan segala suara itu. Setelah saya gali cerpen itu… ya apalagi kalau bukan Illahi dan apapun penciptaan-Nya yang mencerminkan Dia. Apapun itu.
Atau aku yang terlalu dalam menafsir seperti orang yang mencintai sesuatu maka aku akan mengharapkan yang terbaik ? atau yang baik-baik saja yang aku harapkan ?
Baiklah saya lanjutkan lagi meditasi, kembali saya tembak sana, tembak sini. Bidikan itu benar-benar saya arahkan pada sosok YULI NUGRAHANI.
Saya kenal dia sebagai perempuan yang bekerja di Kantor Keuskupan, berkeluarga, punyai suami dan 2 orang anak laki-laki. Dia ibu rumah tangga yang baik, walau moving kesana kemari, itu semua karena tugasnya dan dia juga seorang sastrawan produktif.
Dan saya berhenti di ruang kerjanya. Inikah? Apakah ini Cemara itu? Apakah Cabang Cemara atau bentuk segitiga Pohon Cemara itu adalah lambang dari Trinitas?
Saya benar-benar terpaku pada imaji pohon cemara, semua daunnya berbentuk jarum, dahannya sejajar, pucuk daunnya selalu menghadap ke atas. Uniknya pucuk-pucuk cemara itu seperti anggun dan agung tegak tidak ada yang berusaha mengalahkan satu sama lain. Kalau ditarik garis, bentuknya segitiga sama kaki, terlepas dari apapun tafsir tentang Anatomi Cemara. selain sering dihias dan digunakan sebagai Pohon Natal, Cemara juga tumbuhan yang mampu bertahan dimusim panas dan dimusim salju sekalipun.
Di sini, saya menemukan sesuatu yang “bertahan hidup” pada sosok Cemara. Sedang tema dalam cerpen ini adalah Cinta. Apakah ini yang dimaksud cinta yang bertahan dalam keadaan apapun untuk menjunjung komitmennya, kalau begitu, kira-kira “cinta” yang seperti apakah ?
Cinta yang seperti pohon cemara, tegak ke atas. Cinta yang bertahan dalam keadaan apapun untuk menjunjung komitmennya tegak kepada Tuhannya.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Kubuka mataku. Selesailah meditasiku hari ini.
Tetapi cerpen ini seperti belum selesai. Mbak Yuli tidak bisa begitu saja berdalih “Silahkan ambil kesimpulan, saya serahkan kepada pembaca”. Saya berharap tidak akan ada kata-kata itu lagi.
Dan jikapun SSCC ini belum selesai seperti pengakuanmu, mbak, mungkin inilah penyelesaian yang akan saya bawa ke atas panggung dengan penafsiran saya sembari mendengarkan tuturan-tuturanmu yang serupa bisikan lembut seperti yang terjadi di 19 Maret di UKMBS Unila. Aku merinding mendengar penjelasanmu tentang SSCC. Dan aku sekarang tau kalau sesungguhnya SSCC itu adalah cintamu, cinta kita semua yang belum tuntas, pencarian yang belum usai dalam mengkaji dan memahami maunya semesta.
SSCC itu pencarian saya dan juga pencarian setiap pembaca yang tanggap. Bukan hanya pembaca SSCC, tetapi setiap yang membaca pucuk-pucuk cemara yang tumbuh subur dari setiap cabangnya. Dia bertahan dengan keyakinan akan cinta-Nya.
Bantu aku menyelesaikan pencarian dan perjalanan di cerpen ajaibmu itu, mbak… dan aku akan dengan sabar ikut meneliti di setiap cabang-cabangnya, helai demi helai daunnya yang terkesan seperti jarum. Aku yakin, pucuknya yang tegak ke atas tidak akan pernah bersaing gaduh berlomba menjangkau langit. Aku yakin, daun jarumnya tidak akan melukai kulit di jemariku dan sesiapa saja yang ingin merabanya.
Aku akan bertengger di cabangnya dengan mantap semantap ketika kita yakin telah jatuh cinta dan mencintai. Apapun selagi masih didunia ini, tidak lah akan kekal adanya. Mau perempuan cinta dengan bunga, perempuan cinta dengan emas, perempuan cinta pada perempuan, perempuan cinta mati dengan lelakipun, itu tidak akan kekal seperti layaknya cemara yang bertahan terhadap musim.
Untuk hari ini, saya memang selesai meditasi, bangkit setelah menarik kesimpulan yang akan kita lihat bersama dalam bentuk pementasan dramatik cerpen SALAH SATU CABANG CEMARA, The Branch of Love tanggal 25 Mei 2017 di GTT TAMAN BUDAYA LAMPUNG. Tetapi ini belum final, pencarian saya belum usai…

No comments:

Post a Comment