Friday, April 06, 2018

Residensi Penulis yang Gagal (3): Memulai dengan Semangat


14 Maret 2018

Meja kerja untuk beberapa hari. Keren.
Sebelum aku tidur di hari pertama di Amed, aku yakin pada tengah malam pasti terbangun. Dan itu memang terjadi. Terbangun beberapa saat untuk kencing lalu tidur lagi dengan sukses sampai sekitar jam 4.30. Hujan deras di luar. Bunyi ombak berdebur bercampur dengan hujan yang menghantam genteng. Aku membuka tirai kamar yang menghadap ke pantai, mematikan semua lampu, gelap dan menikmati suara hujan bercampur ombak. Setengah tidur, setengah melek.

Bangun dengan ogah pada pukul 7 karena kebelet. Kulanjutkan dengan mandi sekalian mengingat malam kemarin tidak mandi. Mandi bersih, keramas, ganti baju. Segar nian.
Buka laptop lagi dunk. Mendengarkan music Anji yang romantic, dan mengetik lagi beberapa kalimat. Aku lihat di luar masih gerimis. Sayang sekali. Kamar ini menghadap ke Utara. Timur di sebelah kanan. Kalau cuaca bagus pasti aku bisa melihat matahari terbit di kanan sana. Tapi toh tak masalah. Aku tetap bisa menikmati pagi.

Sarapan yang ditawarkan hotel pukul 7.30 – 10.00 dengan pilihan menu. Aku pilih Pisang goreng. Jus lemon tanpa gula. Kopi pahit. Itu sangat cukup untuk pagiku. Saat sarapan ada pesan masuk dari Kyai Faizi. Dia ini seorang kyai dari Guluk-guluk Madura yang beberapa waktu mampir ke Lampung saat dia akan ke Jamnas Bismania di Sari Ringgung. Dia memastikan bahwa aku tak masalah dicantumkan nama dalam postingan dia. Mungkin dia kuatir aku akan keberatan kalau namaku digunakan. Padahal aku tak ada masalah apa pun soal itu. Jadi aku jawab: tak masalah kyai. Silakan saja. Sekaligus aku kabari kalau fbku sedang tidak aktif selama beberapa hari ini karena sedang menyepi di Karangasem.


Bagian akhir dari melasti.
Nah, kabar dari parnertku bahwa dia akan datang lebih awal 30 menit. Pesawatnya sudah siap berangkat saat kontak aku. Jadi aku telpon Kadek, si sopir untuk stand by lebih awal. Itu kabar yang baik karena kami akan punya waktu lebih lama untuk jalan dengan Kadek ke suatu tempat di sekitar Karangasem. Sip.

Sembari menunggu ah tidak, aku tak harus menunggu. Jadi aku melakukan rencanaku untuk Bali. Menulis lagi, mengetik. Residensi menulis lho. Jadi ya harus menulis dong. Hehehe. Harian ini akan menjadi calon tulisan panjang yang bisa dibuat menjadi satu buku. Tapi pekerjaanku untuk menyelesaikan tulisan Krakatau sangat harus dikejar. Dengan demikian poyek itu bisa selesai dalam beberapa hari. Tulisan Krakatau bisa kupilih karena tulisan ini lebih santai dibanding dengan pr lain. 

Makan siang kurencanakan aku keluar dari hotel, berjalan ke arah mini mart Buana, jalan hanya beberapa menit sudah bertemu. Pas di pertigaan jalan aku meliht ada warung yang menuliskan menu gado-gado di bagian depan. Kembali dari mini mart aku masuk ke warung itu. Orang-orang di seberang jalan berteriak kalau warung itu tutup. Katanya yang ngelola sedang pulang kampong. Oke deh.

Aku pun jalan terus, sampai ketemu warung lagi. Aku bertanya makanan apa yang mereka sediakan. Seorang ibu muda yang sedang duduk merapikan bunga-bunga mengatakan kalau mereka tak punya makanan. Aku bertanya lagi di mana kalau ingin beli nasi campur khas Bali. Dia bilang agak jauh, terserah ke kanan atau ke kiri arahnya bakal ada nasi campur di jual di pinggir jalan. Bukan agak jauh, tapi jauh.

Jadi aku membatalkan keinginan makan di luar hotel. Aku sudah membeli roti isi coklat, memakannya sambil jalan kembali ke hotel, dan membayangkan ingin makan apa nanti.
Dua roti amblas di perut. Aku ambil buku, dan… tertidur. Hehehe… bagus sekali hidup seperti ini. Bangun pukl 2 aku dengan ogah ke kantin hotel. Serampangan memesan nasi putih, tahu dan tempe goreng, serta sambel. Dengan enggan melihat sepiring nasi itu ketika disodorkan ke meja depan kamar. Tapi begitu aku merasakan sambelnya, sambel bali yang tidak pedas, dengan cabe dan bawang yang dipotong-potong, wihhh… enak. Jadilah semuanya habis tandas tak tersisa. Nikmat juga.

Seorang ibu yang duduk di pondok dekat pantai menawarkan jasa pijat. Kayaknya menarik juga, tapi tidak sekarang ya. Usai makan aku ambil novel GB, Kampung Tomo, dan mulai membaca. Buku ini sudah ada di tanganku beberapa minggu, kukira sebulan lebih, tapi aku belum sempat membacanya. Ini saat yang tepat untuk membaca, tempat yang tepat dan waktu yang tepat. 

Sopir yang menjemput partnerku dari bandara akan menemani sebentar kalau kami ingin pergi. Rencana ke Pura Lempuyang kami batalkan karena sudah sore, beralih ke perayaan melasti di pantai Amed. Sayangnya begitu sampai sana orang-orang yang merayakan melasti sudah bubar. Toh kami dapat sisa-sisanya. Pawai sedikit, music sedikit, bekas sesaji dll.

Makan malam dengan nasi campur bali seharga 10 ribu yang kata kata partnerku terlalu banyak mengandung CO2 yang tercampur di dalamnya. Huhuhu… dasar bule. Ndak doyan makanan enak. Hehehe...

No comments:

Post a Comment