Thursday, April 12, 2018

Residensi Menulis yang Gagal (4): Hari yang Santai


15 Maret 2018

Pagi di hari ini aku bangun dengan santai. Tanpa cuci muka langsung lari ke pantai. Njebur dulu ke laut, sebatas mata kaki saja. Jalan sepanjang pantai ke kanan dan kekiri, menyentuh air, batu, matahari... ooo... surga, surga di Pulau Dewata.

Setelah puas aku duduk di kursi teras menuliskan sesuatu di halaman ini. Menyelesaikan satu halaman, kuselang seling dengan membaca, minum. Sekitar jam 9 aku beranjak ke pantry. Makan pagi yang kupilih roti dan telur ceplok. Itu sangat cukup plus jus lemon tanpa gula.

Partnerku bilang kalau dia sudah pesan motor untuk besok saat upacara ogoh-ogoh di Desa Culik besok. Dan dia juga sudah pesan motor untuk ke Lempuyang hari ini. Dia ingin jalan ke sana dan kalau aku berminat, dia menawariku untuk ikut.

Tanpa pikir panjang aku menolak tawaran it. Aku sama sekali tidak berminat untuk jalan. Jadi setelah dia pergi, aku membaca saja, meneruskan Kampung Tomo, lalu berlanjut ke Cantik itu Luka dari Eka Kurniawan. Sekali membuka halaman pertama, aku tak bisa berhenti dari buku ini. Tak bisa lepas.

Makan siang, kami pesan makan siang di restoran hotel. Tempe kari. Lezattt… tambah cap cay kuah. Ohya, makanan di Wawa Wewe ini dibuat secara mendadak segera setelah kita pesan. Jadi sangat segar. Enak. Panas.

Obrolan sana sini pasti muncul tapi sepanjang siang sisanya kuhabiskan lagi dengan membaca Eka. Sore mencebur lagi ke pantai sebelum mandi. Hari hari yang santai semacam ini harus benar-benar kunikmati. Sore acara membaca ini berseling dengan buah-buahan musiman dari Indonesia, duku, blimbing, manggis sambil ngobrol terputus-putus. Kalimat-kalimat terputus. Cerita yang menggantung. 

Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal itu saat kejadian. Tapi seusai obrolah, aku sering menyesal dengan percakapan yang tak selesai macam itu. Ah, ada apa denganku? Kecenderungan seperti ini kurasakan juga dengan orang-orang lain. Begitu takutnyakah diriku untuk masuk lebih dalam? Terjun dalam kedalaman? Aku seperti orang yang tidak bebas. Seperti orang yang terpenjara oleh pikiran sendiri, hati sendiri… aku hanya tersenyum tanpa makna. Rasanya jadi kayak oon sekali. Sesekali aku bercerita tentang suatu hal, tapi aku juga tak menuntaskannya sebagai cerita yang utuh.

Ketika ada obrolan tentang kematian, Nepal ... pikiranku malah pada: bagaimana supaya aku cepat pergi ke kasur, tidur, diem. Atau melakukan sesuatu sendirian. Tak harus menanggapi hal-hal semacam itu. Merasa itu bukan urusanku. Ladalah. Segitu egoisnya kah aku?

Suatu titik ketika aku tak lagi bisa menahan, memang itu benar-benar kulakukan. Aku memutuskan percakapan, masuk kamar, membersihkan diri, naik ke kasur. Membaca pesan-pesan di wa dan sms selintas-selintas tanpa minat untuk membalas, lalu melanjutkan bacaan dari Eka Kurniawan. Hanya beberapa saat, lalu mematikan lampu baca dan tidur.
Malam ini begitu tenang. Ombak nyaris tidak terdengar. Atau telingaku sudah terbiasa?

No comments:

Post a Comment