Mendatangi Pulau Bintan, khususnya Tanjungpinang, 28 - 30 April 2018 mengingatkan kami bahwa pulau ini sangat indah. Nah, yang membuat penasaran adalah pantai-pantainya yang konon sebagian masih dilindungi oleh mangrove. Maka pagi pertama tanggal 29 April di pulau ini, aku dan mas Hen browsing cari lokasi hutan mangrove yang terdekat. Waktu kami mepet sebelum dijemput Yuan dan Bang Ulu untuk mengeksplore Tanjung Pinang lebih jauh.
Kami pun ketemu satu tempat yang dekat menurut maps, di Panglima Bulang. Ndak sampai 10 menit katanya. Jadi kami ikuti saja petunjuk google map. Hmmm, ya kami sampai juga di lokasi tapi tak sesuai dengan harapan. Cukup indah untuk foto, kami masuk ke perkampungan penduduk, dan lewat jembatan-jembatan untuk sampai ke air yang dikelilingi mangrove. Tapi kami belum puas.
Besoknya, 30 April kami ulang lagi pencarian. Ketemu Hutan Mangrove Sei Carang. Itu pun setelah muter-muter karena peta yang kami pakai rupanya tidak up date lagi. Tanya sana sini kok tak banyak yang tahu. Ini agak aneh karena kami melihat ulasan di google menonjolkan hutan mangrove Sei Carang ini sebagai unggulan wisata Pulau Bintan.
Beberapa saat kemudian kami sampai di lokasi secara tidak sengaja. Kami menemukan situs bekas kerajaan, hmmm tidak terlalu terurus tapi masih terasa keindahannya. Kami masuk dan menemukan jembatan-jembatan kayu yang menerobos hutan mangrove. Sayangnya kayu-kayu itu sudah lapuk dan mangrove menutupinya sehingga kami tidak berani masuk lebih dalam lagi. Hanya foto di sekitarnya dan kemudian melihat lokasi-lokasi yang aman.
Dalam perjalanan balik ke hotel kami melihat penambangan, bekas penambangan dan juga lahan-lahan yang tak jelas peruntukannya.
Sunday, April 29, 2018
Saturday, April 28, 2018
Perjalanan Tanjungpinang-Batam (1): Langsung Menyeberang ke Tanjungpinang
Sembari makan, sekitar pukul 14.00 aku kontak Yuanda Isha, perempuan yang menulis buku Seribu Satu Puisi, dimana ada coretan sketsaku, bahwa bentar lagi akan otw pelabuhan. "Siap, mbak. Nanti kami jemput di pelabuhan."
Kami menggunakan kapal cepat Oceana dari PT. Pernas Baruna Jaya, seharga 65 ribu rupiah. Kapal yang nyaman, dan cepat. Sekitar 45 menit kemudian aku sudah sampai di Pelabuhan Tanjungpinang. Suasana yang berbeda dengan Batam walau hanya berjarak 45 menit. Begitu keluar pelabuhan, dari jauh tampak 'sosok' Yuanda melambai-lambai. Astaga, kurus amat perempuan ini. Yah, ini pertama kali aku berjumpa dengan penulis ini, dan tidak menyangka sama sekali kalau dia sekurus itu.
Bang Ulu sudah menunggu di mobil siap menemani kami. "Kita mencari penginapan dulu, atau ngopi dulu. Kita santai saja." Ya, kami ikut saja rencana mereka. Mencari penginapan pada hari Sabtu di Tanjungpinang bukan hal yang mudah. Rata-rata full booked, sampai kemudian kami mendapatkan Kaputra Hotel, di tengah kota. Ngopi di pinggir pantai jangan terlewatkan. Plus bakwan goreng dengan udang segar di tengahnya. Dan rupanya, bang Ulu suami Yuanda ini sudah memikirkan akan meminjami kami motor Nmax mereka yang baru. Huhuhu... Jadilah. Saat magrip, mereka balik, aku dan mas Hen pun merancang perjalanan malam di Tanjungpinang. Yuan dan suaminya meyakinkan kami bahwa Tanjungpinang aman untuk dijelajahi.
Malam itu kami menikmati ikan bakar di Taman Tepi Laut, dekat dengan Gedung Gonggong, Taman Laman Boenda. Juga satenya yang josss.... Tempatnya tak jauh dari pelabuhan, dan menjadi tempat ngumpul orang Tanjungpinang. Apalagi pas Malam Minggu.
Kenyang, kami lanjut berputar-putar kota. Asli, berputar-putar, karena kami rupanya kembali lagi di jalan yang itu, lalu ke situ lagi... Hehehe... terpaksa buka GPS. Nah, lalu kami ke Jembatan Dompak, jembatan yang menghubungkan Tanjungpinang ke pusat pemerintahan Propinsi Kepulauan Riau. Tempat nongkrong juga. Banyak orang duduk-duduk di jembatan ini dan menikmati malam.
Hampir tengah malam, capek muter-muter kami balik ke Kaputra Hotel, membeli dulu mi goreng samping hotel, dan menikmati kamar kami yang nyaman setelah mandi bersih dan nyikat mi goreng yang rupanya sangat enakkkk.... wah.
Thursday, April 26, 2018
Novel Alexander GB: Kampung Tomo
Judul buku: Kampung Tomo
Penulis: Alexander GB
Desain cover dan tata letak: Devin Nodestyo
Cetakan pertama: Januari 2018
Penerbit: Lampung Literature
ISBN: 9786021419144
Aku mendapatkan buku ini pada minggu ketiga bulan Januari tahun ini. Ini menjadi buku terakhir yang kubaca setelah buku Yulizar Fadli dan Devin Nodestyo. Aku membawa buku bersampul biru ini pada masa cutiku bulan Maret lalu di Bali. Satu-satunya buku yang kubawa untuk berangkat liburan (saat pulang aku membawa 10-an buku tambahan yang kubeli atau yang kudapat sebagai hadiah).
Memulai membacanya saat aku sedang di bandara untuk menunggu penerbangan ke Jakarta maupun ke Bali. Tapi benar-benar kudapatkan 'rasa' saat aku membacanya di pesisir Karang Asem, tempat yang bertolak belakang dari setting Ulubelu yang digunakan oleh GB dalam buku ini.
"Sepertinya mereka tidak terlalu mengharapkan kehadiran saya di rumah ini. Saya teringat Mbah Putri yang selama saya di Ulubelu kerap mengunjungi saya. Istri Bapak meski sejauh ini menunjukkan sikap yang baik, khususnya jika ada paman dan bibi, tentu saya tidak keberatan ia tetap tinggal di rumah ini. Meski saya masih enggan untuk memanggilnya ibu."
Tersandung di paragraf terakhir halaman 79 itu aku mengulang pembacaan dari awal secara cepat. Aku pun mulai ngeh masuk dalam cerita GB. Seolah aku mengiringi si Tomo, tokoh 'saya' yang ada dalam cerita ini. Merasai si Tomo yang 'antara ada dan tiada' di kampung kelahirannya itu, lalu ikut menemani memikirkan hal-hal praktis sebagai solusi atas kematian bapaknya.
Walau bagian endingnya tak terlalu kusuka karena membuatku bingung, aku tidak terganggu GB memutuskan membuat ending semacam itu. Ending itu membuatku berpikir soal 'fana dan maya'. Nah, nah, kalian harus membayangkan aku membaca buku ini di sebuah perkampungan nun di Karang Asem sana sedang dalam persiapan Nyepi. Jadi cocok cucoklah. Mengapa soal fana dan maya yang menyentak? Hmmm.... susah menjelaskannya. Baca saja alenia terakhir ini (hal, 200):
"Ketika saya mendongak, kelelawar membentuk garis melengkung di langit Ulubelu. Saya mendengar ceracaunya. Saya mendengar banyak suara lain, saling tindih, sebagian suara itu terus menggumamkan nama saya. Sosok-sosok yang tadi menampakkan diri telah pergi, yang tersisa hanya gema suara-suara mereka dan kabut yang menyelimuti rerumputan. Lalu datang cahaya dari barat yang menyilaukan, lantas melemparkan tubuh saya ke suatu tempat - seperti jalanan yang diapit bangunan-bangunan tinggi dan menyebarkan bau belerang."
Huhuhu... orang Ulubelu ini. Thanks, ya, B. Kupikir buku ini bisa diteruskan menjadi buku kedua dan ketiga. Aku pasti suka hati membacanya. Ingat Ulubelu dengan tanahnya, masyarakatnya, masalah-masalahnya.... ah kau lebih tahulah soal itu, bahwa itu semua harus disuarakan. Selamat atas buku ini.
Residensi Menulis yang Gagal (7): Memang Gagal
18 Maret
Hari terakhir di Wawa Wewe kami mesti bangun pagi-pagi sekali. Kami sudah memesan taksi full
day, dijemput pukul 08.00. Sarapan yang tidak terlalu ternikmati. Pilihan roti
dan telur dan jus jeruk, lalu buru-buru ke mobil. Packing sudah kulakukan
dengan supercepat saat aku bangun pada 06.00 tadi.
Tujuan pertama ke Pasar Sokawati mencari keranjang. Selanjutnya ke Mall Denpasar untuk mencari bumbu-bumbu khas Indonesia dan makan siang. Lalu pkl 15 aku diantar ke
bandara. Untuk kembali ke Lampung. Cuaca yang buruk tapi lebih buruk pikiran-pikiranku.
Aku berpikir soal perjalananku ini. Di awal aku pikir ini waktu yang tepat untuk menuliskan : Pencarian Cinta. Huhuhu. Tapi ternyata perjalanan ini memang tepat supaya aku mengalami beberapa hal santai yang mengalir di sepanjang Karangasem. Soal penulisan memang gagal total. Tapi minimal aku menuliskan sesuatu di blog dari catatanku ini. Beberapa hal lain yang tak mampu kutuliskan tersimpan rapi dalam hatiku.
Residensi Menulis yang Gagal (6): Nyepi - Kematian
17 Maret
Pagi-pagi, terlalu pagi, aku bangun sekitar jam 2 dini hari. Melek beberapa saat,
tertidur lagi menjelang subuh, dan bangun sangat telat. Hari ini hari nyepi.
Kami tak boleh kemana-mana pada hari ini. Jadi aku juga tidak ingin ke
mana-mana. Usai membersihkan diri, aku membaca Cantik itu Luka. Sarapan jam
09.00 dengan roti bakar dan telur ceplok. Baca lagi. Tidur sebentar. Baca lagi.
Tidur lagi. Baca lagi… hahhaa… pukul 016.15 baru makan lagi pesan ke kantin.
Makan siang yang telat itu aku order: nasi dengan vegetables
curry, fried fish dan tofu, serta mi goreng dengan sayuran. Itulah makan siang
merangkap makan malam yang super lengkap. Ditambah dengan jus jeruk dan kopi.
Satu hal yang aku tak bisa lanjutkan sebagai perbincangan lisan: Yuli, siapkah kau pada kematian?
Aku terdiam. Bibirku bilang, aku tak mau membahas tentang hal ini. Lalu bibirku bercerita tentang kematian si anu, si ani, si ano... dan lain-lain. Bukan tentang kematianku. Aku tak mampu bicara tentang kematianku sendiri karena aku masih ketakutan, aku masih tak siap. Ada beberapa hal yang masih ingin kukerjakan dengan tubuh Yuli seperti ini. Aku harus mengejar waktu supaya semua mampu kubereskan sebagai Yuli. Aku bernafas panjang beberapa kali. Ingat gelenyar yang muncul pada tubuhku saat pesawatku turbulensi hebat dalam perjalanan Jakarta - Denpasar. Inget betapa aku mencengkeram pinggang Albert saat diboncengnya dengan kecepatan tinggi mengejar jam misa. Atau, betapa aku berdebar-debar saat hujan deras angin badai. Ohhh... aku berharap masih punya waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas Yuli.
Pikiran-pikiran tentang kematian ini kubawa ke tempat tidur, ke dalam kegelapan dan kesunyian Nyepi.
Tuesday, April 24, 2018
Residensi Menulis yang Gagal (5): Ogoh-ogoh yang Menyesatkan
16 Maret 2018
Aku bangun pagi dengan perasaan tenang. Juga suasana sangat
tenang. Ke wc, cuci muka, ganti baju, aku turun ke pantai. Semburat cahaya
matahari sudah tampak di timur. Oranye, kemerahan, kekuningan. Wah. Dan ombak,
nyaris tak ada ombak. Nyaris tak ada suara ombak berdebur. Sesekali saja ada
ombak yang pecah tapi secara umum, mereka sangat tenang. Suara burung di atas
pohon dekat kolam begitu meriah. Aku mulai menangkap hal-hal detail dalam
pandanganku. Bebatuan yang mengkilat kuning disepuh matahari. Ikan-ikan…
memanjat eh melonjat ke batu, lalu meloncat lagi ke air, kemudian meloncat
lagi. Menjauh saat aku dekati, tapi selalu ada yang meloncat, meloncat… selain
aku ada burung, berparuh panjang berkaki panjang mengikuti pergerakan
ikan-ikan. Sekali waktu kulihap, hap… burung itu mendapatkan satu ikan di
paruhnya. Aku sempat terperanjat. Apakah ikan-ikan itu meloncat ke bebatuan
sebagai sarapan burung? Tapi kalau tidak ada perilaku seperti itu, burung itu
makan apa?
Batu-batu segala warna ada di pantai ini. Aku terpesona
dengan bentuk-bentuk batunya, lonjong, bulat, kotak, panjang… halus, sempurna.
Mereka dibentuk dengan baik oleh pembentuknya. Air laut? Gesekan dengan batu
lain? Ahai. Air sangat tenang dan bening. Aku bisa melihat dengan jelas bebatuan
di bawah air. Sangat jernih. Sangat jelas.
Satu poin yang kudapat dalam jalan pagiku ini: aku tidak
boleh lagi mengijinkan amarahku menguasai diriku. Tapi aku tidak boleh lagi membiarkan rasa
marah datang dan menghajarku. Membuatku hanya dibungkus emosi.
Aku merenungkan hal ini sepanjang jalan. Menginjak bebatuan
yang goyang. Pasir hitam. Batuan yang besar dan padat. Melihat air jernih yang
memantulkan keindahan-keindahan. Ohh, aku ingin mengingatnya. Yuli, jangan
marah lagi. Jangan lagi membiarkan rasa marah menguasai.
Aku sarapan dengan roti bakar dan telur rebus plus jus lemon
tanpa gula. Aku selalu minta bonus madu yang kuminum setelah kuhabiskan
sarapanku. Satu telur rebus cepat masuk ke perutku, sedang yang satu lagi (kami
mendapat jatah dua telur) kubawa ke kamar, rencanaku untuk makan siang.
Partnerku mengatakan sudah memesan motor kalau aku mau bisa ikut
dia jalan. Niat awal adalah pergi salon untuk potong rambut, lalu berjalan
sekitar seraya. Tapi kemudian yang kami lakukan berdua adalah menyusuri
sepanjang pantai hingga ke Amlapura, lalu balik lewat jalan utama propinsi.
Hujan deras datang ketika kami sampai di sebuah tempat indah dekat sawah saat
kami usai menikmati popmi dan degan, sebelum Culik. Itu sudah sangat dekat,
tapi kami yang sudah basah kuyup malah nyasar sekitar 4 km. Mestinya kami belok
kanan setelah sampai Culik, tapi kami terus hingga bertemu pantai di sebelah
kanan. Itu jelas salah, karena harusnya pantai di sebelah kiri. Huhuhu. Kami
jalan terlalu ke barat.
Kami memastikan bertanya dua kali karena kami salah belok
juga setelah bertanya satu kali.
Culik adalah desa yang akan kami datangi sore nanti untuk
perayaan ogoh-ogoh. Waktu sangat mepet. Ketika sampai di penginapan, hujan
deras kembali. Kami mandi dang anti baju kering. Menunggu dengan membaca hingga
hujan berhenti, tepat pukul 15.30. kabarnya ogoh-ogoh akan dimulai dengan doa
pukul 4.00. ini yang bikin greget ketika kami mendapatkan informasi yang
berbeda-beda soal lokasi doa arah arakan ogoh-ogoh dan juga tempat pembakaran
ogoh-ogoh. Ada yang bilang lokasi doa di Amed, lalu berjalan ke Culik untuk dibakar di sana. Ada yang bilang dibakar di Amed. Ada yang lain bilang dari Culik di bawa ke Amed lalu ngumpul di Culik
lagi. Ahai.
Saat malam setelah kami selesai terlibat dalam doa di Culik,
diselingin makan bakso lalu melihat ogoh-ogoh, di perjalanan kembali ke tempat
nginap kami baru ngeh kalau acara serupa juga dikerjakan di Culik dan juga di Amed. Dua tempat. Dua acara yang sama. Huhuhu.
Kami tertawa menyadari hal itu. Sekaligus bertanya-tanya
kenapa orang-orang yang kami tanyai tidak clear memberikan info soal itu.
Hahaha… astaga.
Thursday, April 12, 2018
Residensi Menulis yang Gagal (4): Hari yang Santai
15 Maret 2018
Pagi di hari ini aku bangun dengan santai. Tanpa cuci muka langsung lari ke pantai. Njebur dulu ke laut, sebatas mata kaki
saja. Jalan sepanjang pantai ke kanan dan kekiri, menyentuh air, batu, matahari... ooo... surga, surga di Pulau Dewata.
Setelah puas aku duduk di kursi teras menuliskan sesuatu di
halaman ini. Menyelesaikan satu halaman, kuselang seling dengan membaca, minum. Sekitar jam 9 aku beranjak ke pantry. Makan pagi yang kupilih roti dan telur ceplok. Itu sangat cukup
plus jus lemon tanpa gula.
Partnerku bilang kalau dia sudah pesan motor untuk besok saat
upacara ogoh-ogoh di Desa Culik besok. Dan dia juga sudah pesan motor untuk ke Lempuyang
hari ini. Dia ingin jalan ke sana dan kalau aku berminat, dia menawariku untuk ikut.
Tanpa pikir panjang aku menolak tawaran it. Aku sama sekali tidak berminat untuk jalan. Jadi setelah
dia pergi, aku membaca saja, meneruskan Kampung Tomo, lalu berlanjut ke Cantik itu Luka dari Eka Kurniawan. Sekali membuka halaman pertama, aku tak bisa berhenti dari buku ini. Tak bisa lepas.
Makan siang, kami pesan makan siang di restoran hotel. Tempe kari.
Lezattt… tambah cap cay kuah. Ohya, makanan di Wawa Wewe ini dibuat secara
mendadak segera setelah kita pesan. Jadi sangat segar. Enak. Panas.
Obrolan sana sini pasti muncul tapi sepanjang siang sisanya kuhabiskan lagi dengan membaca Eka. Sore mencebur lagi ke pantai sebelum mandi. Hari hari yang
santai semacam ini harus benar-benar kunikmati. Sore acara membaca ini berseling dengan buah-buahan musiman dari Indonesia, duku, blimbing,
manggis sambil ngobrol terputus-putus.
Kalimat-kalimat terputus. Cerita yang menggantung.
Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal itu saat kejadian. Tapi seusai obrolah, aku sering menyesal dengan percakapan yang tak selesai macam itu. Ah, ada apa denganku?
Kecenderungan seperti ini kurasakan juga dengan orang-orang lain. Begitu
takutnyakah diriku untuk masuk lebih dalam? Terjun dalam kedalaman? Aku seperti
orang yang tidak bebas. Seperti orang yang terpenjara oleh pikiran sendiri,
hati sendiri… aku hanya tersenyum tanpa makna. Rasanya jadi kayak oon sekali. Sesekali aku bercerita
tentang suatu hal, tapi aku juga tak menuntaskannya sebagai cerita yang utuh.
Ketika ada obrolan tentang kematian, Nepal ... pikiranku malah pada: bagaimana supaya aku cepat pergi ke kasur, tidur, diem. Atau
melakukan sesuatu sendirian. Tak harus menanggapi hal-hal semacam itu. Merasa
itu bukan urusanku. Ladalah. Segitu egoisnya kah aku?
Suatu titik ketika aku tak lagi bisa menahan, memang itu benar-benar kulakukan. Aku
memutuskan percakapan, masuk kamar, membersihkan diri, naik ke kasur.
Membaca pesan-pesan di wa dan sms selintas-selintas tanpa minat untuk membalas, lalu melanjutkan bacaan dari Eka Kurniawan. Hanya beberapa saat, lalu mematikan lampu baca dan tidur.
Malam ini begitu tenang. Ombak nyaris tidak terdengar. Atau
telingaku sudah terbiasa?
Friday, April 06, 2018
Residensi Penulis yang Gagal (3): Memulai dengan Semangat
14 Maret 2018
Meja kerja untuk beberapa hari. Keren. |
Sebelum aku tidur di hari pertama di Amed, aku yakin pada tengah malam pasti terbangun. Dan itu memang
terjadi. Terbangun beberapa saat untuk kencing lalu tidur lagi dengan sukses sampai sekitar
jam 4.30. Hujan deras di luar. Bunyi ombak berdebur bercampur dengan hujan yang menghantam genteng. Aku membuka tirai kamar yang menghadap ke
pantai, mematikan semua lampu, gelap dan menikmati suara hujan bercampur ombak. Setengah
tidur, setengah melek.
Bangun dengan ogah pada pukul 7 karena kebelet. Kulanjutkan
dengan mandi sekalian mengingat malam kemarin tidak mandi. Mandi bersih, keramas, ganti
baju. Segar nian.
Buka laptop lagi dunk. Mendengarkan music Anji yang
romantic, dan mengetik lagi beberapa kalimat. Aku lihat di luar masih gerimis.
Sayang sekali. Kamar ini menghadap ke Utara. Timur di sebelah kanan. Kalau cuaca bagus pasti aku bisa
melihat matahari terbit di kanan sana. Tapi toh tak masalah. Aku tetap bisa
menikmati pagi.
Sarapan yang ditawarkan hotel pukul 7.30 – 10.00 dengan
pilihan menu. Aku pilih Pisang goreng. Jus lemon tanpa gula. Kopi pahit. Itu
sangat cukup untuk pagiku. Saat sarapan ada pesan masuk dari Kyai Faizi. Dia ini
seorang kyai dari Guluk-guluk Madura yang beberapa waktu mampir ke Lampung saat
dia akan ke Jamnas Bismania di Sari Ringgung. Dia memastikan bahwa aku tak
masalah dicantumkan nama dalam postingan dia. Mungkin dia kuatir aku akan
keberatan kalau namaku digunakan. Padahal aku tak ada masalah apa pun soal
itu. Jadi aku jawab: tak masalah kyai. Silakan saja. Sekaligus aku kabari kalau
fbku sedang tidak aktif selama beberapa hari ini karena sedang menyepi di Karangasem.
Bagian akhir dari melasti. |
Nah, kabar dari parnertku bahwa dia akan datang lebih awal 30 menit.
Pesawatnya sudah siap berangkat saat kontak aku. Jadi aku telpon Kadek, si sopir
untuk stand by lebih awal. Itu kabar yang baik karena kami akan punya waktu
lebih lama untuk jalan dengan Kadek ke suatu tempat di sekitar Karangasem.
Sip.
Sembari menunggu ah tidak, aku tak harus menunggu. Jadi aku
melakukan rencanaku untuk Bali. Menulis lagi, mengetik. Residensi menulis lho. Jadi ya harus menulis dong. Hehehe. Harian ini akan menjadi
calon tulisan panjang yang bisa dibuat menjadi satu buku. Tapi pekerjaanku
untuk menyelesaikan tulisan Krakatau sangat harus dikejar. Dengan demikian
poyek itu bisa selesai dalam beberapa hari. Tulisan Krakatau bisa kupilih
karena tulisan ini lebih santai dibanding dengan pr lain.
Makan siang kurencanakan aku keluar dari hotel, berjalan ke arah mini
mart Buana, jalan hanya beberapa menit sudah bertemu. Pas di pertigaan jalan
aku meliht ada warung yang menuliskan menu gado-gado di bagian depan. Kembali
dari mini mart aku masuk ke warung itu. Orang-orang di seberang jalan berteriak
kalau warung itu tutup. Katanya yang ngelola sedang pulang kampong. Oke deh.
Aku pun jalan terus, sampai ketemu warung lagi. Aku bertanya
makanan apa yang mereka sediakan. Seorang ibu muda yang sedang duduk merapikan
bunga-bunga mengatakan kalau mereka tak punya makanan. Aku bertanya lagi di mana
kalau ingin beli nasi campur khas Bali. Dia bilang agak jauh, terserah ke kanan
atau ke kiri arahnya bakal ada nasi campur di jual di pinggir jalan. Bukan agak
jauh, tapi jauh.
Jadi aku membatalkan keinginan makan di luar hotel. Aku
sudah membeli roti isi coklat, memakannya sambil jalan kembali ke hotel, dan
membayangkan ingin makan apa nanti.
Dua roti amblas di perut. Aku ambil buku, dan… tertidur.
Hehehe… bagus sekali hidup seperti ini. Bangun pukl 2 aku dengan ogah ke kantin
hotel. Serampangan memesan nasi putih, tahu dan tempe goreng, serta sambel.
Dengan enggan melihat sepiring nasi itu ketika disodorkan ke meja depan kamar.
Tapi begitu aku merasakan sambelnya, sambel bali yang tidak pedas, dengan cabe
dan bawang yang dipotong-potong, wihhh… enak. Jadilah semuanya habis tandas tak
tersisa. Nikmat juga.
Seorang ibu yang duduk di pondok dekat pantai menawarkan
jasa pijat. Kayaknya menarik juga, tapi tidak sekarang ya. Usai makan aku ambil novel GB, Kampung Tomo, dan
mulai membaca. Buku ini sudah ada di tanganku beberapa minggu, kukira sebulan
lebih, tapi aku belum sempat membacanya. Ini saat yang tepat untuk membaca,
tempat yang tepat dan waktu yang tepat.
Sopir yang menjemput partnerku dari bandara akan menemani
sebentar kalau kami ingin pergi. Rencana ke Pura Lempuyang kami batalkan karena
sudah sore, beralih ke perayaan melasti di pantai Amed. Sayangnya begitu sampai sana orang-orang yang
merayakan melasti sudah bubar. Toh kami dapat sisa-sisanya. Pawai sedikit,
music sedikit, bekas sesaji dll.
Makan malam dengan nasi campur bali seharga 10 ribu yang
kata kata partnerku terlalu banyak mengandung CO2 yang tercampur di dalamnya.
Huhuhu… dasar bule. Ndak doyan makanan enak. Hehehe...
Wednesday, April 04, 2018
Residensi Penulis yang Gagal (2): Benar-benar Pulau Dewata.
13 Maret 2018
Pesawatku akan terbang jam 07.25, Garuda dari Bandara Raden Intan, Bandarlampung
menuju Jakarta. Transit sekitar 1 jam lalu lanjut Denpasar pada 09.25. Aku akan
tiba di Bali pada 12.25 waktu setempat.
Pagi-pagi bangun pukul 04.30, yang kubayangkan adalah masak
bobor sawi putih, membuat dadar jagung dan menggoreng tahu. Tapi tak terlaksana. Huhuhu. Di ranselku sudah ada baju 5 stel, baju tipis dan pendek, tanpa celana panjang. Semua hanya celana pendek. Buku-buku yang kubawa sudah terselip, salah satunya Kampung Tomonya GB. Kamera kecil, HP dan dompet.
Pukul 6 baru bisa berangkat. Ini terlalu mepet tapi aku tidak terlal kuatir, aku sudah check in
online, hanya perlu drop bagasi lalu mendapatkan boarding pass untuk masuk
pesawat. Dan untungnya aku tak perlu menunggu terlalu lama di bandara. Sebelum berangkat Mas Hendro mengingatkan sandal jepit yang kupakai.
"Aku akan memakai ini sepanjang waktu."
Hmmm, Mas Hen sempat memandang tak percaya melihat kaki di atas sandal jepit warna biru yang sudah tipis dengan warna buluk. Tapi dia tidak koment lagi. Mungkin dia membayangkan aku satu-satunya penumpang Garuda yang katrok ndesit tak bisa dipandang. Huhuhu.
Pesawat hampir tepat waktu, hanya terlambat sekitar 3 – 4
menit. Cuaca tidak terlalu bagus tapi penerbangan yang bagus walau mengalami
guncangan beberapa kali karena mendung. Apalagi saat hampir sampai di
cengkareng. Awan cukup tebal dan gelap. Guncangan cukup kuat tapi mendarat
dengan mulus di soetta.
Perjalanan ke Denpasar lebih kuat lagi guncangane. Pilot
bilang: "Kita akan melewati cuaca yang sangat buruk. Silakan kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman." Huhuhu… segitunya ya dia
harus kasih pengumuman. Asem ki. Maka doa Bapa Kami dan Salam Maria berluncuran
dari hatiku. Tuhan, ke dalam tanganMu kuserahkan jiwaku. Lalu berderet niat
supaya menjadi orang yang lebih baik. Akan baik sama siapa saja. Akan ramah
pada siapa pun. Akan memperbaiki niat-niat jahat dll. Dll. Huhuhu…
Kami mendarat di Ngurah Rai dengan bantingan di aspal landasan
terbang. Kuat banget hoi. Kukira pilotnya terlalu buru-buru sehingga begitu
efeknya ke proses landing. Hehehe…
Begitu pesawat berhenti, aku membuka hp. Ini nyalahin
pengumuman mereka sih. Diumumkan dengan jelas: penumpang belum boleh
mengaktifkan hp sampai tiba di gedung kedatangan.
Begitu kubuka ada pesan dari partnerku selama residensi di Bali: "Penerbanganku
dibatalkan. Jadi malam ini masih tidur di Sumba. Telpon begitu mendarat ya."
Walah. Piye to.
Aku telpon sambil menunggu bagasi. Ya, apa boleh buat. Hari
pertama di Bali akan kulalui sendiri. Taksi kuperoleh dengan kesepakatan ongkos 600 ribu untuk menuju Vila Wawa Wewe II di Karangasem, Amed. Bali Timur. Sekitar 3 jam perjalanan dari bandara. Cukup jauh juga. Sembari berjalan ke tempat parkir bandara, aku sempatin beli nasi campur. Weh, hanya 6000 sebungkus. Plus air minum. Aku yakin pasti akan kelaparan di jalan walau di pesawat sudah dijamu oleh Garuda dengan nasi ayam.
Sampai di Wawa Wewe, hoaa… aku suka tempat ini.
Terpencil. Sepi. Terlalu mewah bagiku tapi aku janji akan menikmatinya. Aku
akan sangat menikmatinya.
Aku memulai menikmatinya dengan memesan mi rebus ayam
sayuran. Ini menu yang cocok untuk makan sore. Angin terasa dingin. Mungkin
akan hujan lebat nanti malam. Usai makan aku sempatin jalan ke pantai, hanya
dengan menuruni beberapa anak tangga aku sudah sampai ke pantai. Pantai milikku
sendiri karena tak ada orang lain di pantai itu. Duduk di sana tanpa matahari.
Yalah, ini sisi timur, menghadap ke timur, matahari sudah jauh di barat sana.
Di sisi lain pulau Dewata.
Malam ini aku tak punya keinginan untuk melakukan apa pun.
Aku telpon ke sopir memastikan partnerku dijemput oleh Kadek, sopir taksiku tadi, di bandara lalu kami
akan jalan ke suatu tempat tanggal 14 Maret itu sampai malam. Lalu aku telpon ke Bernard dir rumah untuk memastikan dia baik-baik saja. Juga mengabarkan kalau aku baik-baik saja.
Setelah itu mengetik sebentar beberapa hal. Sebelum akhirnya
tidur. Tidur yang sangat awal. Masih pukul 19.30. alias masih jam 6.30 kalau
aku di lampung. Wah. Sangat mewah rupanya liburan yang kudapatkan ini.
Residensi Penulis yang Gagal (1): Bali, I'm coming!
Aku menulis bagian-bagian ini selama perjalanan. Aku menyebutnya sebagai residensi penulis yang gagal karena niat awal ketika perjalanan ini dirancang, tujuan utamanya adalah untuk menulis di salah satu sudut Bali. Tapi ternyata aku tak menghasilkan tulisan selain carik-carik yang akan kuposting ini. Toh aku menikmatinya dan mesti tetep mempublikasikannya sebagai bentuk pertanggungjawabanku terhadap 'sang sponsor'ku sayang tersayang yang sudah memberikan seluruh fasilitas selama perjalanan Lampung - Bali pulang pergi serta seluruh akomodasi. Aku hanya sangu sekitar satu juta rupiah, yang masih sisa beberapa lembar rupiah di kantongku saat aku kembali ke rumah. So, thank you so much, my dear pine. Ini adalah catatan harianku yang sempat kutuliskan di antara hari-hari luar biasa itu:
12 Maret 2018
Aku memulainya hari ini. Hari terakhir di Lampung dalam
minggu ini sebelum aku menikmati atau tidak menikmati cutiku selama dua minggu
mendatang. Hari ini aku harus menyiapkan beberapa hal di meja kerjaku. Daftar
sudah kubuat untuk kulakukan hari ini di meja kantor, kukerjakan di sela-sela pekerjaan utamaku yang tentu saja harus kurapikan sebelum aku pergi. Pertama, memastikan aku
sudah check in online untuk penerbanganku besok. Aku lakukan sebentar dengan
beberapa gangguan pada sinyal wifi kantor yang tidak bagus.
Wawa Wewe II, Amed, Karangasem, Tujuan Residensi |
Garuda penerbangan pagi selesai dikonfirm untuk check in. Aku memilih tempat duduk dekat jendela, di bagian tengah agak ke belakang. Ini
akan memudahkanku untuk melihat luar jendela. Nomor yang sama untuk Lampung –
Jakarta dan Jakarta – Denpasar. Aku tidak perlu mencetak boarding pass karena
seperti pengalaman-pengalaman lalu nanti juga harus cetak lagi di bandara. Fix.
Baris pertama sudah kucoret. Done.
Baris kedua, confirm hotel. Wawa wewe II, Amed Karangasem.
Pak Gedhe yang menerima teleponku mengulang booking hotel: Dua kamar ocean view
siap untuk 5 malam. "Sampai jumpa besok." Sapanya ramah.
Aku membuka website sembari berbincang
lewat telepon dengan pak Gedhe. Lokasi di Bali Timur. Ada pantai privat.
Restoran buka 24 jam. Ini penting karena aku tidak ingin banyak bergerak selama
di Amed. Jika ada yang menarik, aku akan mengikuti acara-acara yang ada. Jika tidak, aku akan berdiam di
hotel untuk membaca, menulis atau jalan di sekitar situ. Pertimbangan untuk segala keputusan : aku suka atau tidak suka.
Untuk sekarang ini, minimal saat aku menuliskan
rencana-rencana ini, aku sedang hanya ingin tidur, tiduran. Tak usah bergerak
tak usah bersuara. Tentu saja sebuah outline novel akan kulengkapi sambil menikmati semua itu: Kisah mencari cinta. Huhuhu... Rencana yang tidak jelas sama sekali. Tapi aku memastikan buku-buku yang ingin kubawa, juga laptop yang siap untuk membantuku bekerja, serta kamera dan HP.
Confirm tiket sudah, hotel sudah, sekarang urusan sangu. Aku hanya membawa satu juta yang kuambil dari ATM, dan menyelipkannya hati-hati di dompetku. Selain itu ada beberapa receh yang aku tak sempat hitung ada di sana.
Subscribe to:
Posts (Atom)