Tuesday, November 27, 2018

Advent 2018 (1): Memulai Perjalanan Ke Dalam

Tahun 2018 memberiku banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan ke berbagai kota, berjumpa dengan banyak orang yang sama atau berbeda, juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan. Dalam empat minggu ke depan ini, aku akan melakukan perjalanan tidak ke berbagai kota, walau mungkin juga secara fisik hal itu juga kulakukan. Tapi yang utama, empat minggu dalam masa advent ini aku akan mencatat perjalanan-perjalanan jiwaku, hatiku dan pikiranku. Bisa jadi yang muncul adalah kesimpulan-kesimpulan, harapan, kesedihan, penemuan-penemuan, tapi mungkin juga aku mencatat lintasan-lintasan pikiran yang sudah kumiliki dalam umur hampir 45 tahun ini. Semoga aku bisa menuliskannya secara serius sehingga bisa diikuti oleh banyak orang. Untuk semenara, aku tidak akan membatasi berapa bagian yang bisa kusodorkan, tapi inilah bagian pertama untuk advent 2018.

Awal tahun 2018 aku lalui di Jawa Timur. Libur panjang untuk Natal dan Tahun Baru sangat menguntungkan, sehingga aku sekeluarga bisa memperingati 40 hari Bapak Soeliham dalam rangkaian libur panjang itu. Perencanaan kerja kulakukan pada bulan pertama ini dengan semangat, yang telat. Harusnya kulakukan pada akhir tahun 2017 tapi mundur beberapa minggu. Aku ingat pada awal tahun ini bahwa aku memiliki beberapa intuisi yang membuatku yakin bahwa tahun 2018 adalah tahun yang hebat.

Mungkin ini berkaitan dengan kepercayaanku pada tahun Anjing tanah. Shioku akan bersinar secara misterius dalam tahun anjing, aku yakin banget karena aku dekat dengan 'anjing'. Keramahan dan kesetiaan 'anjing' padaku membuatku nyaman. Aku tahu bahwa aku akan menghadapi banyak tantangan besar di tahun ini, tapi semerta aku juga merasa nyaman, aman, tidak merasakan kekuatiran yang berlebihan. Beberapa tanda yang tak terlalu baik adalah keuangan. Soal ini tak perlulah melihat pada ramalan-ramalan, tapi aku melihat tanda-tandanya dalam diriku sendiri.

Awal baik penuh optimis seperti itulah yang menjadi modalku awal tahun 2018. Aku percaya diri, siap menghadapi segala hal tantangan maupun kegembiraan. Yang menjadi tantangan utama di awal tahun 2018 adalah kesehatan. Aku kena vertigo yang cukup awet dari akhir tahun 2017, dan baru berangsur-angsur hilang pada April 2018. Vertigo ini cukup menggangguku.

Aku adalah jiwa spiritual yang beruntung mengalami kehidupan sebagai manusia. Kalimat ini menggaung kuat dalam diriku. Aku belum mampu memahaminya sepenuh yang seharusnya, dan dalam perjalanan fisikku yang cukup dinamis di tahun 2018, satu kata berulang-ulang muncul menjadi tantangan dan kekuatan: Kesaksian. Aku mesti bersaksi tentang 'sesuatu', tapi aku tak harus merumuskan apa pun. Aku hanya harus bergerak, bekerja dan bersuara.

Dari mana jiwaku ini? Aku menggunakan istilah yang tidak biasa. 'Bapak Ibu' sumber jiwaku adalah Langit. Dia memercikkan cahaya dalam rencana yang luarbiasa sehingga jiwaku merdeka, menggunakan sebuah tubuh yang 'kami' pilih. Aku tak yakin 'kami' ini bagaimana dibahasakan. Kalau merunut sejak aku lahir sebagai manusia, aku tidak termasuk dalam 'kami'. Tapi saat aku masih dalam rencana langit, tentu saja aku termasuk dalam bagian 'kami' sehingga aku juga ikut dalam proses memilih tubuh yang tepat untuk aku gunakan. Setelah lahir, aku terlepas dari 'kami' sehingga aku hanya bisa menerima tubuh yang sudah diberikan itu secara apa adanya. Aku menjadi Yuli, dalam keluarga Samiran. Ini adalah rahmat yang kuterima sejak aku bertumbuh dalam rahim dan kemudian dilahirkan.

Menggulati tubuh ini bukan soal yang mudah. Ini akan kutulis dalam bagian kedua nanti ya.

No comments:

Post a Comment