Akhir Agustus 2024, tahun lalu, kami Pendaki Timik-timik goes to Mount Rajabasa. Konon jalur pendakian Rajabasa ini termasuk jalur yang ramai, diminati karena tak terlalu tinggi dan untuk ukuran Lampung, jalur menanjaknya tak terlalu ekstrem.
Kami berdua saja berangkat lewat basecamp Sumurkumbang. Berdasarkan beberapa rekomendasi, kami meminta bantuan orang basecamp untuk memandu kami sampai ke pos 1. Jalur awal di perkampungan ini rawan persimpangan yang menyesatkan, jadi pemandu yang paham sangat disarankan untuk yang belum pernah mendaki.
Kami berangkat setelah makan siang dan pemandu sholat Zuhur. Sudah terlalu sore menurutku tapi tak ada pilihan. Sekitar jam 14 kami berangkat dan setelah mencapai pos 1 si pemandu akan balik dan kami akan lanjut muncak berdua. Kami tak terlalu kuatir karena konon itu tadi, ini jalur yang ramai. Mestinya pasti ada orang atau rombongan lain yang akan muncak juga apalagi ini weekend.
Sepanjang jalur kampung hingga pos 1 kami ketemu dengan sekeluarga yang baru turun dari pos 1. Ibu bapak dan anak balitanya ketemu di sekitar kebon kopi.
Sampai pos 1 sekitar pukul 15.30, kami rehat di sana. Sekitar 30 menit istirahat, pemandu pamit turun dan kami melanjutkan naik. Sampai pos 2 kami berhenti sebentar untuk ngopi. Di sinilah pengalaman agak-agak itu muncul. Awalnya saat kami mulai megang cangkir kami masing-masing kok ada suara srek-srek seperti daun kering yang diinjak. Tapi suara itu konstan, seperti pada jarak yang tetap. Kami saling bercakap mengatakan mungkin ada rombongan yang turun atau naik atau ada pemburu. Tapi kok sampai lama tetap suara seperti itu. Dan ternyataaaa.... saat kami melihat atas, di atas dahan-dahan pohon ada beberapa monyet ekor panjang sedang memperhatikan kami berdua. Wihhh.... segera kami bereskan kopi tersisa, merapikan ransel dan langsung cabut. Males aja membayangkan kami dikeroyok mereka dan dipalak logistik kami. Hihihi...
Jalan timik-timik, kami hanya berhenti sebentar di pos-pos selanjutnya. Saat sampai pos 4, langit sudah mulai remang. Kami tetap lanjut sampai lewat magrip kami sampai pada satu pelataran dengan batu besar. Tak ada penanda pos. Kontak beberapa teman ingin memastikan apakah itu pos 5 atau puncak, tapi tak ada jawaban. Kami memutuskan untuk ngecamp di situ karena sudah gelap dan hawanya seperti akan hujan. Pasang tenda dengan cepat, dan makan dengan nyaman di dalam tenda menu yang sudah kami beli di Kalianda, nasi, rendang dan sambel terong balado. Nikmat.
Saat makan ini pak Hendro bilang kalau dengar suara orang bercakap2. Aku tak mendengarkan. Langsung jeng jeng... kuatirku pak Hendro halusinasi karena capek atau entah. Hehehe... Kami sepakat akan tidur lebih awal karena usai makan, benar saja, hujan turun. Suasana jadi lebih horor. Kami heran aja kok tak ada orang lain atau rombongan lain yang kami jumpai. Sampai tempat camp ini tak ada seorang pun yang ketemu.
Malam yang sunyi tambah hujan, memberikan suara-suara gak biasa. Pura-pura tidur lebih baik bagi kami. Bunyi kresek-kresek di luar sepanjang malam itu menandakan ada tikus-tikus yang mendekat ingin cari makan. Moga2 bukan babi hutan. Dan jangan tikus itu masuk tenda.
Tidur kami malam itu diwarnai dengan suasana seperti itu.
Pagi sekitar pukul 04 keesokan harinya, barulah kami mendengar ada suara manusia lain. Satu rombongan berhenti di lokasi yang sama. Akhirnyaaa.... ada teman juga.