Jadi selepas makan siang, kami pergi ke kota bersama anak-anak dengan niat mencari selang dan keran air. Mencari di beberapa toko, barang yang dimaksud tidak ditemukan. Keran air akhirnya dapat di Mojoroto. Mau pulang kok masih terang benderang.
"Bablas ke Selomangleng yuk."


Untuk masuk ke kompleks ini ada tiket yang harus dibayar, plus parkir kendaraan. Aku cari-cari sobekan tiket itu entah nyelip di mana. Tapi aku ingat harganya sangat murah walau lupa persisnya.
Setelah parkir, kami ngikuti saja jalan utama, ada patung Dewi Kilisuci ukuran besar di bagian depan. Di persimpangan ada museum. Ambil jalan ke kiri untuk menuju gua. Banyak penjual jajanan di jalan situ dan rupanya itu yang pertama-tama menarik perhatian Albert dan Bernard. Dasar, jauh2 sampai Selomangleng malah beli bakso tusuk. Jadinya malah nenteng plastik bakso sambil jalan ke gua.

Tapi tentu saja seperti judulnya, bagiku yang paling menarik ya ngunjungi guanya. Yang tampak olehku gua yang ada adalah gua buatan dengan beberapa lorong yang tak berani kumasukin. Hanya sampai pelatarannya saja. Ada patung dan dengan dupa yang masih menyala. Mungkin ada orang yang baru 'semedi' di situ. Lembabnya gua tetap saja terasa apalagi kalau meraba bebatuan kukuhnya.
Dinas Pariwisata Kediri setahuku sering mengadakan event di lokasi gua di kaki Gunung Klotok ini sejak dulu. Pentas seni digelar di depan gua. Lokasinya memang tinggi kayak panggung sedang penonton pun ada di sekitarnya bisa duduk nyaman karena luas dan teduh oleh pepohonan. Saat kami ke sana sih tak ada pementasan apa-apa, tapi bisa cek lewat internet soal pentas-pentas itu.