Sunday, January 19, 2014

Masa Kecil

Waktu aku pulang kampung di pergantian tahun lalu, aku menyempatkan diri membongkar album, map, kerdus, rak dan segala macam tumpukan. Hasilnya : catatan-catatan dalam berbagai bentuk, gambar-gambar, dan yang paling membuatku lama terpekur adalah foto-foto.

Satu tahun.
Yang aku mau pasang di sini bukan yang membuatku terdiam lama-lama tapi yang membuatku teringat, sadar, yakin, bahwa aku pernah lahir dan kemudian bertahap hidup pelan-pelan dalam evolusi pasti hingga menjadi sekarang ini seperti ini. Kata-kata aku simpan dulu, tapi lihat tiga foto ini.

Pertama adalah foto saat umur kurang dari satu tahun, digendong Pakpuh Joko, kakaknya bapak, di dapurnya Mbah Kari di Brebek Nganjuk, juga bersama Mbah Kari. Seumur itu, aku blas gak tahu apakah aku punya kesadaran sebagai manusia.

Dua tahun.
Kedua adalah foto saat berumur kurang lebih dua tahun, digendong bapak di dekat pelaminan. Lamat-lamat aku masih bisa mengingat peristiwa ini. Saat itu aku ikut bapak ibu menghadiri undangan perkawinan, seperti biasa aku akan mendekat pada yang kelihatan 'blink-blink' gemerlap. Ibu melarangku pergi jauh-jauh dari sisinya, tapi aku menangis, lalu digendong bapak maju ke dekat pelaminan. Aku diam, dan bapak - kayaknya yang membuat dekorasi manten itu - minta tukang foto memotret kami.

Ketiga adalah foto saat aku berumur sekitar tiga tahun. Ibu akan berangkat ke sekolah dengan motornya. Aku mengambil topi dan sepatu, ingin ikut, tapi tidak boleh. Seseorang, mungkin Pakpuh No, memotret kami untuk menghiburku.

Tiga tahun.
Hmmm... beberapa peristiwa masa kecil lain aku juga masih ingat. Seperti saat ikut lomba baca puisi saat 'pura-pura' sekolah di nol kecil. Judul puisinya "Pahlawan". Hmmm, sebagian cerita itu aku ingat, karena memang aku mengingatnya dan masih bisa kurasakan perasaanku waktu itu saat mengenangnya. Sebagian lain juga karena ibu, bulik, dan kerabat beberapa kali mengulang cerita-cerita 'memalukan' yang pernah kulakukan dulu, di masa kecil. Hmmm... bisakah aku kembali? Masa itu aku sungguh aman di dalam cangkang telurku yang belum pecah. Di mana sekarang cangkang telur itu? Hmmm....

Saturday, January 18, 2014

Dalam Persembunyian

berlari tanpa alas kaki, perempuan
kesakitan, berterimakasih
pada hujan, menyembunyikannya
dalam derai rinai, menurunkan
panas suhu badan, memompakan
hidup buluh raga.

selamanya dia bersembunyi
dalam hutan hujan
sampai harga dirinya kembali
dan mengajaknya
menari.

Thursday, January 16, 2014

Suatu Sore

menjelang sore, sebelum matahari merapat kaki langit
aku membayangkan kita duduk berdua
dengan secangkir kopi di depan kita
memulai lagi perjumpaan-perjumpaan
merangkul dan minta maaf pada mereka
karena pernah kita tinggalkan di pinggir kota

kali ini kita akan memesrai kenangan
penuh rindu tapi tanpa cemburu
berbincang tentang anak-anak yang telah kita biarkan
tumbuh berpinak di segala puisi dan prosa
mereka, telah dipijahkan dari waktu yang singkat
namun bukan untuk mangkat

lalu kita akan saling tertawa
menarik kulit kita yang pernah bersenggama
di suatu musim yang kita sebut cinta
walau hanya untuk sementara
kini pun aku tetap bersikeras
itu memang cinta

Kerling Pagi

suatu saat ketika genangan hujan belum kering
aku duduk di tepi pagi, membenahi kantung-kantung bekal
sayang, aku tidak bisa membawamu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
di kerling pagi aku akan menyimpanmu
rapat tak untuk siapa juga
sesekali aku akan menengokmu
sayang, jangan merasa kesepian
kita punya matahari sama
yang pernah mekar dalam sebuah perjalanan
di atas senyumku, di atas senyummu
jadi tinggallah. jaga rumah kita.
sesekali aku akan menengokmu
memastikan bahwa kau aman, di kerling pagi
dalam rumah kita.

Wednesday, January 08, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (5) : Gunung Kelud

Cerita sebelumnya.

Keterangan tentang gunung Kelud.
Ini bagian akhir liburan yang mengasyikkan. Di hari terakhir sebelum meluncur kembali ke Lampung, kami 'mendaki' Gunung Kelud, di Kabupaten Kediri. Gunung ini gunung yang masih aktif dan kuingat meletus terakhir pada tahun 1990 saat aku masih SMA. Aku ingat saat letusan terjadi aku ada di kelas, langsung lari ke menara Gereja yang ada di samping sekolah untuk melihat ke arah Gunung Kelud. Semburan warna oranye dan merah bisa kulihat dengan puas dari menara itu sampai disuruh turun oleh petugas Gereja dan diusir pulang.

Ini kedua kalinya ke gunung ini. Dua tahun lalu aku pernah juga ke sana berdua dengan den Hendro dan sangat beruntung karena cuaca yang sangat sempurna. Kali ini cuaca mendung, sedikit gerimis sehingga foto-foto kurang cerah. Tapi tetap bagus, tetap indah.
Jarak Kelud dengan gunung lain.

Kenapa di paragraf awal kata mendaki itu aku beri tanda kutip? Karena ini berbeda dengan mendaki gunung-gunung lain. Pemda setempat sudah memfasilitasi para pengunjung dengan sangat rapi sehingga mereka menyediakan anak tangga (500 anak tangga!) untuk menuju atas puncak, dan 150 anak tangga untuk ke bawah ke anak Gunung Kelud yang masih bertumbuh.

Anak Gunung Kelud.
Tangga-tangga ini bikin kaki gempor, tapi tak rugi karena pemandangannya luar biasa. Selain itu pasti merasa nyaman sekali melewati tangga-tangga ini karena sesekali kita bisa berhenti untuk mengamati perbukitan, kabut yang bergerak turun, dan jangan lupa untuk memicingkan mata melihat kanan kiri. Banyak edelweis tumbuh di lereng-lereng Kelud. Cantik buanget.

Masuk terowongan.
Selain puncak dan anak Gunung Kelud, beberapa lokasi wajib dinikmati. Terowongan lahar yang gelap tapi romantis dingin, lokasi camping yang berdinding tebing, permandian air panas, flying fox yang menyuguhkan pemandangan indah, batu prasasti yang bisa untuk background foto, musim dan teater, warung-warung makan yang enak dan murah, serta jangan abaikan perjalanan menuju lokasi atau saat pulang. Kebun durian, nanas dan sebagainya ada di kanan dan kiri jalan berkelok.
Permandian air panas.

Bahkan di perjalanan pulang kami dapat bonus. Sebotol madu asli dari penangkaran lebah. Itu salah satu oleh-oleh kami dari Kediri. Oleh-oleh lain? Hmmm... tulisan-tulisan ini sudah cukup untuk oleh-oleh kan? Atau kurang? Jika ada yang mau tanya lebih lengkap komplet jelas, silakan tanya. Aku siap menjawabnya. *** (Selesai)

Tuesday, January 07, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (4) : Bendungan Selorejo

(Cerita sebelumnya)

Semilir di pinggir danau.
Tempat lain yang kami kunjungi adalah Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Dulu aku tak pernah tertarik mengunjungi tempat ini saking biasanya aku lewat di dekatnya. Kemarin pun ketika semua semangat untuk mampir aku tidak begitu semangat.

Tapi rupanya cukup menarik juga tempat ini. Yang pertama-tama bisa dinikmati adalah kulinernya! Beberapa macam makanan dari ikan air tawar bisa ditemukan di sini. Ikan dan udang kecil-kecil yang digoreng kriuk, lalapan, atau ikan yang agak besar ada nila atau mujair.
Urusan utama, belanja.

Yang paling enak? Mujair bakar. Hmmm... sedap nian. Ikannya kecil, tak sampai seukuran telapak tangan. Masih segar, dibakar cukup pas tidak terlalu gosong tapi juga tidak mentah, lalu disiram bumbu kacang dan kecap. Wuah, satu porsi bisa habis sendirian.

Harga tidak terlalu mahal. Satu porsi ikan mujair bakar itu terdiri dari dua ikan yang dibelah sehingga matangnya merata, dengan satu bakul kecil nasi plus lalapan dan sambel seharga 30 ribu rupiah. Atau pilih paket makan untuk 10 orang seharga 165 ribu rupiah, lengkap, kecuali minum. Teh, kopi dan minuman lain bisa dipesan terpisah.

Ikan dan udang goreng tepung yang kriuk.
Selanjutnya bisa shoping beberapa barang kecil macam baju, kaos, celana batik, gantungan kunci, tulisan-tulisan I love Malang, dan sebagainya. Juga makanan-makanan khas Malang dan sekitarnya.

Pemandangannya? Hmmm, bagus. Danau kecil, jembatan, bangku, batu, pohon, air, rumput, kabut,...macam setting sebuah puisi atau cerpen saja. Hehehe... *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (3) : Pantai Papuma

(Cerita sebelumnya)

Menjelang senja. So romantic.
Aku sangat beruntung bisa datang lagi ke pantai ini, dan kali ini bersama dengan salah satu yang merintis keberadaannya sebagai tempat wisata andalan di desa Lojejer, kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Nama pantai itu Papuma. "Asalnya dari kata pasir putih malikan. Pasirnya memang putih, dan di sebelah sana ada lempeng-lempeng batu yang akan malik (terbalik) kalau terkena ombak," jelas VJ. Suliham, salah seorang perintis pantai ini saat masih bekerja di Perhutani Wuluhan, dan kebetulan sekali bapak ini adalah mertuaku, hehehe...

Pantai ini terletak sekitar 45 km dari kota Jember ke arah selatan. Awalnya yang lebih populer adalah pantai Watu Ulo. Tempat ini mudah terjangkau. Tapi kemudian Perhutani melihat peluang pantai ini yang mempunyai potensi keindahan yang jauh lebih alami dan erotis. Memang, bukan waktu yang sedikit untuk mewujudkan Papuma sebagai tempat wisata yang mudah terjangkau dan lengkap fasilitasnya. Tapi sekarang kalau bertandang kesana, semua hal itu, keindahan dan kemudahan bisa didapatkan.

Untuk keindahannya, sudahlah, lihat foto-fotoku, atau browsing di banyak alamat internet. Sungguh tak tertandingi. Belum lagi keragaman flora dan fauna, bikin kerasan boo... Nah soal kemudahan, jalan ke tempat ini sudah bagus. Dulu ketika tahun 1996 aku ke sana tidak sebagus ini. Juga ada tempat penginapan yang murah meriah.
Tempat bermain, berfoto, bersantai, melamun, ...dll.

Pertama bisa memilih cottages punya perhutani yang disewakan dari harga 200 ribu rupiah hingga 750 ribu rupiah. Kalau ini terlalu mahal, bisa pilih menginap di tenda. Harganya lebih terjangkau. Klik sini untuk keterangan yang lebih lengkap.

Waktu kami liburan kemarin, kami memakai penginapan Jati 1, 2 dan 3. Tiga ruang / rumah karena memang rombongan besar. Harganya super karena pas libur yaitu 550 ribu rupiah per malam (hari biasa 400 ribu rupiah) dengan fasilitas kamar mandi, tivi, ac, kulkas, tempat tidur besar, teras yang cantik menghadap ke laut.

Makanan tidak perlu kuatir karena banyak warung makan di sepanjang pantai yang menyediakan ikan bakar, lalapan, mi, rawon dan sebagainya. Juga banyak penjual sovenir yang murah meriah. *** (Bersambung)

Liburan Akhir Tahun 2013 (2) : Pura Mandara Giri Semeru Agung

(Cerita sebelumnya.)

Gerbang utama difoto dari dalam.
Pura ini terletak persis di depan Puri Dewi Rengganis. Jadi tinggal menyeberang jalan, sampailah di situ. Maka, jika kita menginap di Puri Dewi Rengganis, tempat ini bisa setiap saat dikunjungi. Dan, sungguh, pura ini sangat indah dan besar. Rasanya setiap ke Senduro aku pasti ke pura ini. Kadang datang untuk sembahyang, menyepi, tapi juga kadang khusus untuk berfoto-foto. Segala sudutnya tempat ini indah.

Mulai dari depan, kita akan disambut gerbang utama yang megah. Lalu di bagian depannya ada pendopo dimana kita masih bebas masuk. Ornamen-ornamen membuat kita serasa di Bali.

Konon, Pura Mandara Giri  adalah pura tertua di Indonesia. Bukan soal pendiriannya karena baru dibangun pada tahun 1988 dan pada 1992 pura ini dianggap resmi berdiri. Walau begitu, kegiatan keagamaan memang sudah dimulai jauh sebelumnya. Ritual nuur tirta (permohonan air suci) sudah pernah dilakukan sejak tahun 1963 di Patirtaan Watu Kelosot oleh para pemeluk Hindu dari Bali maupun dari warga setempat.

Air dari lambung gunung Semeru bukanlah air biasa dan sembarangan. Ada konsep kuat melatarinya, dan ini sangat terkait dengan sumber-sumber susastra-agama yang ada. Antara lain disuratkan, ketika tanah Jawa masih menggang-menggung, belum stabil, Batara Guru menitahkan para Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India) ke Jawa. Maka, puncak Gunung Mahameru dipenggal, diterbangkan ke tanah Jawa. Jatuh di sisi barat, tanah Jawa berguncang. Bagian timur berjungkat, sedangkan bagian barat justru tenggelam.
Serasa di Bali.


Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun digotong lagi ke arah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu berjatuhan dan kemudian menjadi enam gunung kecil masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 m di atas permukaan laut), Gunung Wilis (2.169 m), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 m), Gunung Kawi (2.631 m), Gunung Arjuna (3.339 m), Gunung Kemukus (3.156 m).

Adapun puncak Mahameru itu kemudian menjadi Gunung Sumeru (3.876 m). Inilah puncak tertinggi Pegunungan Tengger sekarang dan gunung tertinggi yang membentuk poros dengan Gunung Bromo atau Gunung Brahma. Sejak itu tanah Jawa menjadi stabil, tak lagi goyang.



Puncak Semeru dari Senduro.
Di hulu tertinggi inilah manusia-manusia yang percaya mengambil sumber energi dari Hyang Widhi Wasa, untuk dialirkan ke banyak tempat. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menetapkan nama pura adalah Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa. Ke sanalah umat Hindu berdatangan. Tidak hanya pada hari raya dan ulang tahun pura (Juni - Juli merupakan waktu yang paling ramai dengan banyak ritual dan festival.), tapi juga pada hari-hari biasa. Bukan hanya dari Jawa dan Bali tapi dari berbagai tempat di Indonesia. *** (Bersambung)

Monday, January 06, 2014

Liburan Akhir Tahun 2013 (1) : Puri Dewi Rengganis

Liburan kali ini begitu heboh. Melibatkan keluarga besar Samiran dan Suliham. Aku kurang tertarik menuliskan tentang dua keluarga ini, jadi aku memilih menuliskan tempat-tempat mana saja yang telah kami kunjungi selama rentang liburan itu.

Puri Dewi Rengganis tampak depan.
Pertama adalah Puri Dewi Rengganis. Ini bukan tempat wisata, tapi ini tempat yang merangkul kami semua dalam dinginnya Semeru. Awalnya rumah di jalan raya Senduro, desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ini adalah rumah tinggal keluarga Suliham. Hanya untuk tempat tinggal yang bahkan tidak selalu ditinggali, karena Pak Suliham bekerja di Perhutani dengan tugas berpindah ke beberapa kota.

Setelah pensiun, rumah ini kembali dihuni tapi situasi sudah berbeda. Lokasinya yang persis berada di depan Pura Mandara Giri Semeru Agung, membuatnya sering diminta orang-orang yang datang dari jauh untuk transit sebentar, numpang istirahat, numpang mandi dan sebagainya. Maka Pak Suliham merombaknya dengan serius. Kamar mandi dibikin beberapa di bagian luar, dan kamar-kamar dibuat standar. Ada 15 kamar dilengkapi double bed, meja kecil dan kursi di tiap kamarnya.

Maka, jadilah Puri ini sebagai tempat singgah yang nyaman. Saat kami datang (rombongan dua mobil keluarga Pak Samiran), kami sudah booking jauh-jauh hari, supaya dapat kamar. Di hari libur, tak ada kata pokoknya walau anak sendiri bisa gak kebagian tempat. (Aku pernah datang pada bulan-bulan ramai hanya untuk semalam, akhirnya menggeser kamar bapak untuk tidur karena semua kamar penuh. Dan dalam semalam itu aku menjadi 'host seksi' yang hilir mudik karena permintaan bergelas-gelas kopi, teh atau air panas untuk mandi.) Apalagi dalam jumlah besar macam kami, booking kamar mesti dilakukan 6 bulan sebelumnya!

Nah, perlu diingat, Senduro adalah dataran tinggi yang super dingin. Jadi sediakan jaket atau apapun penangkal dingin jika datang ke tempat ini. Memang sih tiap kamar disediakan juga selimut, tapi pasti kurang hangat. Fasilitas lain? Aih, ini ya rumah biasa. Maka jangan berharap ini macam villa atau hotel. Bersih, rapi dan indah. Cukuplah itu. Makanan bisa pesan untuk jumlah berapapun dengan harga terjangkau sesuai menu yang diminta. Ini recomended banget deh. Makanan di sini enak buanget. Pakai sangat, sekali, amat, very...

Rutenya, dari terminal Wonorejo Lumajang naik bis jurusan Kencong/Ambulu turun di Klojen, sekitar 15 menit. Dari Klojen naik angkutan desa ke Senduro. Ini mesti sabar karena kalau naik angkutan desa ini akan nunggu penumpang penuh baru jalan dan lelet banget. Bilang saja ke sopir turun depan Pura atau langsung sebut Dewi Rengganis, persis di depan rumah. Ada plang nama terpasang.

Pemandangan dari teras samping. Halaman luas, parkir mudah.
Atau kontak Pak Suliham di nomor 0334-610650, nanti akan diatur penjemputan di Terminal Wonorejo. Soal pembayaran, pakai cash saja, dan bisa nego. Harga keluarga, karena siapapun yang bertandang ke puri ini akan dianggap sebagai keluarga. Terakhir-terakhir ini rata-rata biaya menginap Rp. 50.000,- semalam per kamar. Teh, kopi, air panas, penjemputan dan guide bisa ditambahkan saat akan check out. Lebih okey jika bawa oleh-oleh juga pas datang karena kan anda akan jadi keluarga di puri ini.

Nah, jadi kalau sedang ada agenda ke arah Semeru, Bromo, Pura Mandara Giri dan sekitarnya, atau cuma ingin melihat puncak Semeru dari kejauhan, datanglah, silakan datang ke Puri Dewi Rengganis. Anda akan diterima selayaknya keluarga.*** (Bersambung)

Wednesday, January 01, 2014

Gerimis dan Tekad Awal Tahun

Awal tahun 2013 silakan diklik untuk melihat niatku. Kalau sekarang aku punya waktu diam dan hening persis di tanggal pertama tahun 2014, bukan berarti aku lebih beruntung dari tahun lalu. Tahun ini diakhiri dengan gerimis yang tak henti-hentinya membayang di pelupuk mataku. Kerutannya jelas mengejang setiap kali aku membuka mata. Aku punya banyak alasan untuk tidak bisa menghentikannya, dan aku memang tidak bisa menghentikannya. Jadi, sementara waktu hingga awal tahun baru ini, aku biarkan gerimis-gerimis itu menjadi sahabatku. Merangkulnya dalam hati pedih, dan tidak kutolak.
Temans, mohon maaf atas situasi ini dan mohon maaf aku tidak bisa mengucapkan happy new year atau ucapan apapun yang sejenis untuk tahun baru ini. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengucapkannya kepada siapapun. Bagi yang sudah mengucapkannya untukku, lewat SMS, email atau langsung, mohon maaf aku tidak bisa membalas kegembiraan yang sama untuk kalian.
Apakah situasi ini begitu buruknya? Tidak. Jangan pernah kuatir akan hal itu. Aku tahu ini hanya sementara, dan rasanya memang aku membutuhkannya. Gerimis tidak sama dengan embun kan? Gerimis bisa membasuh banyak hal, meluruhkannya, dan semua akan terlihat berbeda nanti. Hanya butuh kesabaran saja mengikuti waktu. Jadi, temans, tidak usah mengkuatirkan aku.
Kalian masih ingin tanya hasil evaluasiku di akhir tahun lalu? Ini bagian yang sulit, tapi aku bisa bercerita beberapa point. Pertama, omong kosong soal memurnikan motivasi. Justru aku terpuruk dalam hasrat egois yang parah. Kedua, untuk pertama kalinya aku merasakan penyesalan-penyesalan atas tindakanku yang kusengaja. Aku tak pernah berada dalam perasaan seperti ini. Ketiga, aku menandai diriku sendiri dalam labirin yang menyesatkan walau terus terang memang aku nikmati. (Ehm, apa sih yang tak dinikmati oleh seorang Yuli?) Keempat, ada buku Hilang Silsilah yang memuat cerpenku. Urusan ini selalu membuatku antusias dibanding apapun juga. (Thanks Dewan Kesenian Lampung). Dan kelima, aku punya harapan yang besar terlebih aku mendapatkan teman luar biasa di akhir tahun ini (walau juga sekaligus aku telah kehilangan banyak hal di akhir tahun.) Temanku adalah Divakaruni.
Tapak liman tanpa batang yang hanya untuk diinjak.
Siapa Divakaruni? Dia lewat Queen of Dreams telah menguatkan aku untuk meneruskan hidup dalam misi khusus tahunan. Okey, aku setujui dia untuk menghilangkan misi yang sok suci. Misi-misiku di beberapa tahun terakhir akan aku simpan di kotak penyimpananku. Aku melangkah di tahun 2014 ini dengan hasrat baru untuk menghadapi banyak tantangan. Pesannya sangat jelas :"Jangan pernah turunkan targetmu, tapi tingkatkan kemampuanmu untuk mencapai target tertinggimu." (Thanks, batang tapak liman kesayanganku. Apapun situasinya, indah atau buruk, aku tak akan melepas cinta, pada dirimu yang sebentar dan kecil di antara seluruh keabadian semesta raya ini. Ini semangat yang mengalahkan segala yoga, meditasi ataupun segala peristiwa.)
Jadi aku menulis tentang misiku di tahun 2014 ini dalam bayangan gerimis (yang toh aku syukuri karena gerimis ini muncul karena cinta) yaitu : novel! Aku telah memulainya di hari yang dini ini. Dan lihat akhir tahun 2014 nanti, kalian, para kekasihku, akan memelukku kembali sebagai ucapan terimakasih karena kado yang kuberikan untuk kalian. Sebuah novel! Kali ini tak usah bertepuk tangan untukku. Lihat saja akhir tahun nanti. Dan selama hari-hari hingga akhir tahun nanti, aku tak peduli andai kau palingkan pandangan dariku. Lihat saja nanti.

Friday, December 20, 2013

Pamit

Hai, hai, jangan menangis dulu. Ini pamit tahunan seperti biasa. Menjelang libur akhir tahun aku akan mengambil waktu untuk pamit, menikmati tepukan tangan dari anda sekalian atau kalau bukan tepukan, aku akan tetap membungkuk takzim untuk anda sekalian.
Ini hari terakhir aku menulis di blog untuk tahun 2013 ini. Hari pertama aku menulis di tanggal 3 Januari lalu, aku menulis tentang misi pribadiku sepanjang tahun yaitu : memurnikan motivasi. Misi inilah yang akan aku bawa untuk aku renungkan sepanjang perjalanan akhir tahun hingga pergantian tahun nanti.
Jadi jangan sedih. Secepat mungkin, pada kesempatan pertama di awal tahun aku terakses internet, aku akan segera menulis untuk blog ini lagi. Mau tahu perjalananku akan sejauh apa? Aku pasang clue saja ya : Lampung - Jakarta - Kediri - Lumajang - Jember. Mungkin akan tambah beberapa kota lain yang berdekatan misal Surabaya - Malang - Jogjakarta - Bandung. Tapi itu hanya bonus saja. Kisahnya aku akan tulis nanti, seperti biasa.

Thursday, December 19, 2013

Kehilangan Pagi

Ini sudah dimulai dari kemarin, bahkan kemarin lagi, dan lagi. Saat siang lalu senja, boleh saja kuterima. Suaranya tersamar dengan seluruh hiruk pikuk jalanan dan juga teriakan anak-anakku. Tapi ketika jalanan mulai terlelap dan anak-anakku mulai masuk ke alam mimpi, suaranya yang  tak berhenti itu sungguh menjengkelkan. Aku sama sekali tak bisa memejamkan mata, terseret gelombangnya.

Awalnya aku mengira suara itu adalah alunan keluhan. Seperti sayup-sayup berdendang di sela-sela gerimis yang tak ada sela. Kadang-kadang aku malah bisa menganggapnya sebagai lagu ninabobo yang tak tahu waktu. Mengalun, mengayun, mengalir tiada henti, kadang dalam suara rendah, kadang bernada tinggi.

Namun suaranya sama sekali bukan lagu. Suatu saat berubah menjadi lengkingan, lalu raungan, dan di malam yang senyap, suara itu bukan lagi alunan, tapi menjadi sentakan, hentakan. Jadi aku memutuskan untuk mendatanginya, memastikan apa yang dia tangisi berhari-hari, tanpa henti di seluruh putaran waktu, di dalam rumahnya sendiri.

Saat aku datang, rumahnya terkunci. Bunga kemuning samping rumahnya sudah merontokkan seluruh kelopaknya, dan bibit-bibit mawar di halaman depan seperti tonggak-tonggak penuh duri-duri, tanpa daun tanpa bunga. Aku sudah hendak mengetuk pintunya, ketika perempuan itu, ternyata perempuanlah suara itu, sedang mengencangkan raungannya. Suaranya serak dan basah. Ah, hentikan sebentar, perempuan. Hentikan sebentar tangismu itu. Hatiku berbicara, tapi suaraku tak muncul, termangu di depan pintunya, ikut dalam tangisannya yang pilu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Aku sama sekali tak menduga dia akan membuka pintu, dan berdiri persis di depanku. Suaranya saat berbicara sama sekali bukan suara manusia, walau dia tetaplah perempuan. Mungkin sama sekali bukan suara, tapi semacam erangan dalam nada bariton, yang sangat dalam dan sangat basah.

Matanya adalah mata tercekung yang pernah kulihat. Begitu basah tapi tanpa kilat. Lampu jalanan membantuku melihat titik-titik air di seluruh wajahnya, juga lengannya, juga jemarinya. Matanya, ya, matanya, adalah sumur tergelap dengan aliran yang tak habis-habisnya. Lihat, bahkan saat kemarahan membungkus, pun sudut-sudut matanya mengalirkan kedukaan.

Aku hendak mengatakan kalau aku terganggu oleh suara tangisannya, tapi matanya tak mengijinkan aku bersuara. Tubuhku gemetar merasakan kehadirannya di depanku dengan rongga-rongga seluruh tubuhnya yang rapuh. Dia memandangku dengan tangisan. "Aku kehilangan seluruh pagi yang harusnya kumiliki! Kau pikir aku tak boleh menangisinya?"
Perempuan itu membalikkan badan. Pundaknya lapuk dalam lengkung, dan sepasang betisnya yang timpang menyeret tubuhnya kembali ke balik pintu. "Kau pun akan kekal dalam duka kalau kau kehilangan pagimu!" Telunjuknya menudingku sebelum dia membanting pintu, kembali terkunci.

Lalu sedu sedan itu kembali melagu. Sesekali ada lengkingan dan raungan. Oh, perempuan, betapa besar hatimu terkoyak. Kemana perginya pagimu? Aku basah kuyup di terasnya, dalam gerimis yang tiba-tiba menjadi hujan lebat.

Wednesday, December 18, 2013

Hanya Gerimis

Ini lebih berat dari yang kusangka, sahabat.
Aku tak mengira gerimis datang terus-menerus.

Kertasku basah, tintaku basah, bajuku basah,
dingin dan luntur. Rambutku basah, dadaku basah,
rotiku basah, pasi dan melumpur. Langkahku basah,
nyanyiku basah, hatiku basah, lesi dan hancur.

Ini terlalu berat dari seharusnya, sahabat.
Aku tak mengira gerimis bisa bertahan berjam-jam.

Sulit mengikuti langkah panjang kesatria
di jalanan licin tanpa pegangan. Mata buta
oleh gumpalan hasrat di pojok ruang.
Tak akan sempat, tak akan ada saat.

Ini terlalu berat. Tak ada pilihan. Hanya gerimis.
Terus menerus. Berjam-jam. Terlalu berat.

Tuesday, December 17, 2013

Conspiracy (12) Tamat

Kisah sebelumnya.

Sebisa mungkin aku menahan kantukku. Heart berayun-ayun dalam tubuhnya yang tambun. Tangannya kini tak lagi memijitku, tapi mengurai rambutku, memainkannya, sembari matanya terpejam.
"Heart, bisakah aku melupakan Dew? Apakah menurutmu aku bisa melakukannya?"
Prince of Heart yang biasa lentur berayun luwes gemulai, spontan tegak dalam gerak kaku. Tangannya ditarik dengan cepat dari rambutku sehingga aku terpekik karena beberapa rambutku tercabut olehnya. Tapi aku segera melupakannya dan tak peduli ketika Heart menunduk hormat beberapa kali untuk meminta maaf.
"Bisakah, Heart sayang?"
Heart memandangku tak percaya.
"Lady, apakah Lady akan menyerah?"
"Tidak."
Aku menggeleng-geleng sembari mencoba merangkul badannya yang mulai hangat. "Heart, kau tahu aku bukan orang yang mudah menyerah."
Sekarang dia yang menggeleng-geleng, dengan wajah yang sulit diduga antara gembira atau berduka.
"Kau tak akan berhasil, Lady. Dew telah merasuk seluruh tubuhmu, mana mungkin kau berniat melupakannya. Kau tak akan berhasil."
"Minimal, Heart, kalian akan kembali dalam harmoni. Aku capek melihat kalian selalu bertengkar. Brain semakin tua akhir-akhir ini, dan kau terus mengoloknya. Juga lihat Eyes yang sudah bengkak matanya, Noses yang tak henti-hentinya kena flu, Mouth yang semakin tajam suaranya, Ears yang semakin menjuntai dan Skins, ah Skins sungguh kasihan selalu menjadi tumbal, merana."
Heart terdiam. Pandangannya menjauh dari istana, menangkap dua pasang kutilang di pohon Gayam, dekat mata air taman.
"Memang, Lady. Kami pun capek."
"Sekarang bergegaslah, Heart. Panggil Brain segera, apapun yang dia lakukan, suruh berhenti dan kesini. Aku akan mengatakan supaya upaya pencarian Dew dihentikan. Kalau dia kembali, aku akan mendapatkan kegembiraanku yang utuh. Jika dia memang akan terus pergi, paling tidak kalian bala tentaraku, hidup damai dalam harmoni."
Heart beranjak dari sisiku, berjalan pergi. Air mataku menitik dalam rintik yang tak terukur. Aku memandang kepergian Heart dengan kedukaan dan kesepian. Tapi tak ada gerak yang kuperlukan.
Lamat-lamat dalam pendengaran semu, dan khayalan maya datang berwarna, aku merasakan langkah Dew di halaman luar, selangkah-selangkah menuju pintuku, terus...tanpa batas waktu, entah, ...kapan dia akan sampai. (Tamat)

Imajiner

Persamaan dari senja adalah kepastian yang
diturunkan dari rumus kompleks matematika.
Tak ada yang bisa mengembangkannya
tanpa mengacu sumbu gelombang pasang.
Lucunya saat dia berdiri seorang saja
antara jaman purba dan kekinian yang nisbi
kakinya membengkok dalam angka imajiner
hanya bisa dihitung oleh akar pangkat negatif
tanpa hasil yang memuaskan hati, terlebih
saat matahari tanpa senyum masuk dalam
selimut dingin, mengabaikan tangan melambai.

Kalah


Bagaimana kembali pada kemenangan
sedang aku tersuruk dalam tudingan
yang mengikat hatiku di kursi sudut
bahkan tak bisa menggerakkan sehelai rambut
secara merdeka?

Aku meletakkan bibir di dalam kenangan
yang masih akan kuulang andai
kesempatan menjadi lantai landai
bagi tubuh berselancar tanpa penghalang.

Saturday, December 07, 2013

LEKAT

Ini terlalu mudah, sayang.
(Aku mengatakan untuk menghiburmu,
juga untuk menghiburku.)
Tak perlu dicatat,
tak perlu dikerat.

"Aku mau semangkuk kaldu." Suaramu mirip rayu.
(Kau telah memintaku menggeser pintu,
menyodorkan mangkuk porselen Tiongkok berhias biru kobalt,
mangkuk kuat, dalam denting renyah yang separoh berisi kuah.)

Tunggu sebentar, sayang.
(Terpaksa kukatakan ketika tanganmu terlalu cekatan,
menarik grendel hingga menguakkan udara pejal
serba tergesa.)

Tunggu, pakai kasutmu!
Tak usah diikat,
tak usah dibebat.

"Aku mau tanpa cendawan." Kali ini suaramu tanpa tawa.
(Tanganmu di atas tanganku mencabut benih-benih jamur tiram putih,
serupa batang liat, dengan akar kenyal bertumpu petang,
yang selalu rawan.)

Air telah mendidihkan belulang, sayang.
Pilihannya adalah mendekat,
melangkah tanpa syarat.

"Aku mau..." Hanya bisikan yang nyaris tak terdengar.
(Tapi tak seorangpun akan menolaknya sebagai puisi atau prosa
sesaat, untuk tanpa ragu di sepanjang hayat.)

Sunday, December 01, 2013

Kasus

Pulang sekolah sore, dua cowokku berderap hingar bingar hingga depan pintu rumah, lalu tak ada suaranya. Aku diam juga sedang mengaduk ayam pada bumbu, sembari menunggu wajan panas. Aku tahu mereka mengendap-ngendap di belakangku.
"Bu, Bernard kena kasus di sekolah." Albert berbisik dekat kuping.
Weih. Aku taruh mangkok ayam. Bernardnya sendiri santai-santai saja membuka kulkas tanpa melihat padaku. "Kenapa, dik?"
"Hush, pelan, bu. Ini rahasia. Di kamar saja. Biar bapak gak dengar." Albert lagi yang bicara. Bernard asyik mencongkel freezer.
Wah, serius nih.
"Tapi ibu masukin ayam dulu ya. Sambil nggoreng."
"Iya, aku juga masih ngambil es." Bernard yang bersuara.
"Iya, aku juga mau pipis dulu." Albert ikut menambah.
Okey, lalu kami masuk kamar setelah aku mengedip pada bapaknya yang mau protes.
Lalu pintu ditutup. Albert rupanya sudah diangkat jadi juru bicara sehingga Bernard hanya mondar-mandir mencecap es balon, sedangkan Albert duduk di depanku, bicara.
"Tadi sore, habis aku les, aku ke kantin. Makan nasi goreng sisa, dikasih sama mbak kantin. Mereka kan selalu bagi-bagi nasi goreng yang gak kejual." Huft, sabar-sabar. Aku melihat tanpa komentar. Sabar.
"Lalu adik datang. Aku tawari nasi goreng gak mau. Padahal nasi gorengnya enak, pedes." Astaga, Albert, jadi kasusnya apa? Kok malah tentang nasi goreng lho.
"Dia cerita habis mecahin pot." Oh, itu. Aku melihat Bernard.
"Iya, Nard? Pot yang mana? Di lantai atas? Kena orang? Dimarah bu Yohana?"
"Ndak. Tenang saja sih, bu." Bernard menjawab masih dengan esnya.
Albert lagi yang menjelaskan,"Bu Yohana sudah tahu. Tapi Bernard gak dimarahin. Tapi waktu aku dulu jadi saksi saat temanku mecahin layar monitor, ibu dipanggil kan sama guru? Disuruh ngganti juga kan? Nah, dik, bisa jadi besok ibu dipanggil bu guru."
Oalah. Aku mulai tahu duduk soalnya. "Jadi pot mana, Nard?"
"Pot depan kantor. Bukan di lantai atas. Gak kena orang juga kok. Aku lari-lari pas istirahat, gak sengaja. Tapi bu Yohana melihat kok. Ndak marah."
"Okey, lihat besok ya. Kalau memang bu Yohana mau ketemu orang tua, kasih tahu ibu. Kalau memang harus diganti, ya diganti." Saat aku keluar kamar, mereka memastikan aku janji tidak mengatakannya pada bapak. "Ini rahasia, kasus rahasia." Okeylah. Hehehe...

Wednesday, November 20, 2013

Takut Tai Ayam

Yo, aku, di umur 3 tahunan.
Salah satu yang kuingat dari masa kecilku adalah aku takut pada tai ayam. Jika aku sedang berjalan, aku kira di usia 1 - 4 tahun, lalu tiba-tiba di depanku ada telek lencung, tai ayam, aku akan mendadak terpaku. Diam, lalu berteriak sekuat-kuatnya,"Ana teyek!!!" (Ada tai!!!) Lalu ibu, atau bulik atau mbah, atau mak, akan datang, membersihkannya, baru aku bisa bergerak. Biasanya siapa saja yang membersihkan tai ayam itu sambil ngoceh. "Mbok diloncati, opo lewat kono, belok sitik. Yo, yo,..." (Kan bisa diloncati, atau lewat sana, belok dikit kan bisa. Yo, Yo..." Yo adalah panggilan sayang untukku di masa aku masih kecil. (Sekarang hanya beberapa yang memanggilku demikian.) Kalau diinget-inget kok ya aneh lucu to, masak takut sama tai ayam. Hmmm, kenapa ya?

Tuesday, November 12, 2013

Lampost, 10 Nopember 2013

Kisah yang Rapi dari Pencerita yang Baik

Data buku
Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi
Kuntowijoyo
Kompas, Jakarta
I, September 2013
xviii + 150 hlm.


CERITA pendek ang termaktub dalam kumpulan cerpen ini merupakan cara komunikasi Kuntowijoyo yang mudah sekali menggelitik perasaan para pembacanya. Bahasa yang digunakan sangat lugas, mengalir dengan terus terang apa adanya. Sebelum sampai pada kedalamannya, orang yang membaca dengan mudah dapat terkecoh menyangka tulisan ini semacam kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, terlebih di beberapa tulisan, Kuntowijoyo, sang penulis, mengungkapkan jati dirinya.

Dalam cerpen Pistol Perdamaian, Kuntowijoyo memakai gaya bertutur dari sudut pandang orang pertama: saya. Di salah satu paragraf bagian terakhirnya tokoh saya ini diungkap sebagai seorang ahli sejarah, seperti si Kuntowijoyo sendiri yang memang seorang ahli sejarah, pengajar sejarah dan menelurkan banyak buku ilmu sejarah.

“Dalam rapat kelurahan, setelah soal KTP dan PBB selesai dibicarakan, Pak Lurah membuka kertas koran dan berkata tanpa interupsi. ‘Sebaiknya barang ini saya serahkan pada teman kita yang ahli sejarah.’ Dia memberikan bungkusan itu pada saya, sebuah pistol, masya Allah. Jadi, pistol yang saya buang ke kelurahan juga jatuhnya.” (hlm. 24)

Hal yang sama juga muncul di cerpen-cerpen lain seperti di cerpen paling akhir dalam buku ini, RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana. Di paragraf kedua halaman 140, ditulis identitas Kuntowijoyo sendiri, walau hanya sedikit. “Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya ketua RT berijazah S-3 dari universitas papan atas di Amerika.”

Tentu saja ungkapan-ungkapan itu tidak bisa dianggap sebagai fakta karena memang ke-15 tulisan itu dibuat sebagai cerpen, fiksi. Jadi semuanya memang karangan semata dan bukan kisah nyata, walau sang penulis memang merupakan ahli sejarah, doktor sejarah lulusan universitas terkenal di Amerika Serikat dan mengajar di universitas terkemuka di Indonesia.

Namun, ketika kita mulai mengulik sedikit kehidupannya melalui sumber-sumber di berbagai tempat mau tidak mau pembaca akan mengaitkan Kuntowijoyo dengan peran lain yang dimilikinya di dalam kampus, masyarakat khususnya Islam, dan negara. Pembaca tidak bisa lagi mendirikannya hanya semata cerpenis atau novelis. Di pengantar buku ini, Bakdi Soemanto menulis soal apakah Profesor Doktor Kuntowijoyo ini seorang sejarawan yang menulis fiksi, atau dia adalah penulis fiksi yang suka sejarah.

Dia memang seorang akademisi, pakar sejarah, sangat lazim Kuntowijoyo berpikir dan bertutur secara ilmiah. Dia telah membuktikan itu dengan menulis banyak sekali dan tulisan sejarah, misalnya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985) atau Pengantar Ilmu Sejarah (1995).

Buku ini berisi 15 judul cerpen yang pernah muncul di Kompas pada 1990—2000-an. Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi yang menjadi judul buku ini merupakan judul cerpen yang ke-14 dalam buku terpasang di halaman 125. Namun, bisa dikatakan judul ini membingkai seluruh tema cerpen yang ada dalam dalam buku ini. Dan baik juga jika judul ini menjadi ajakan atau anjuran bagi para calon politisi. Sederhananya, baca dulu buku ini sebelum menjadi calon politisi untuk kemudian menjadi politisi.

Bagaimana pembaca dapat menangkap pesan yang disampaikan Kuntowijoyo lewat cerpen-cerpennya? Inilah keunikan yang berikutnya. Judul pertama yang dipasang dalam buku ini, Laki-laki yang Kawin dengan Peri, menyodorkan paragraf pertama dengan sebuah pertanyaan setengah meledek, ”Mau jadi anggota DPR? Boleh, asal dengarkan cerita ini.” Paragraf pendek, dengan dua kalimat pendek.

Setelah itu, Kuntowijoyo sama sekali tidak menyinggung tokoh tentang anggota DPR atau calon anggota DPR, tetapi kisah tentang Kromo, seorang laki-laki berbau busuk, yang tinggal di sebuah desa, yang terusir dari kampungnya karena bau busuknya itu, lalu konon menikah dengan peri, dan saat mati berbau harum. Baru kemudian di bagian akhir kisah ini, Kuntowijoyo kembali menarik pembaca supaya merenung untuk menangkap pesannya dalam satu paragraf pendek, lagi. “Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun.”

Kuntowijoyo menawarkan kaca pembesar untuk melihat detail kemanusiaan dalam sekup yang sangat kecil, kadang dianggap remeh. Mudah disetujui bahwa seorang pemimpin harus menyiapkan syarat itu sebelum menjadi pemimpin. Mereka dituntut untuk jeli, peka terhadap situasi orang-orang biasa, sederhana, yang dianggap lemah dan seluruh dinamika yang melingkupinya. Mata dan hati Kuntowijoyo mampu menangkap hal-hal remeh temeh yang terjadi di keseharian, khususnya di lingkungannya sendiri, entah di Jawa atau saat dia tinggal di Amerika Serikat, untuk kemudian mengolahnya menjadi cerpen.

Kuntowijoyo memang salah satu penulis terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara.

Yuli Nugrahani, cerpenis.

Friday, November 08, 2013

Keinginan yang Tidak Merugikan Dunia

Hari ini aku menjemput Albert pulang sekolah. Dia sudah menunggu satu jam lebih karena seharusnya dia pulang jam 11.00 sedang aku jam 12.00 dari kantor di hari Jumat ini. Begitu bertemu di gerbang sekolah dia cerita kalau pisang goreng yang dia jual masih sisa separo. Hari ini dia memang jualan pisang goreng, seharga Rp. 500,- yang aku buatkan pagi-pagi, sesuai ajakan guru IPSnya, bu Atun. (Konon, Albert bercerita, pada pelajaran IPS, guru tercintanya ini mengajak murid-murid untuk membawa bekal makanan yang lebih, yang bisa dijual untuk teman-temannya. Hasil penjualan bisa untuk menambah tabungan. Aku sangat mendukung ide ini. Dan untuk jualan pertama, Albert membawa 14 biji pisang goreng. Kalau laku separo, berarti dapat Rp. 3.500,-. Hehehe...)
Nah, di jalan yang mendung, dia mengatakan ingin melihat hujan salju sekarang ini.
"Pasti asyik kalau ada hujan salju di Indonesia. Bukan hanya sesekali tapi sering. Seperti memang musimnya gitu, tidak hanya musim penghujan dan kemarau."
Aku mengingatkan kalau Indonesia itu ada di garis katulistiwa. Tidak ada salju, kecuali di tempat yang sangat tinggi.
"Namanya kan keinginan, bu. Jadi kan asyik bisa lihat salju."
"Tapi tanaman di Indonesia tidak akan tahan pada salju, Bet. Bisa mati semua. Juga hewan dan orang-orangnya."
"Hmmm, masak sih."
"Dan lagi kalau di Indonesia yang tropis ada hujan salju, gimana nanti yang negara-negara subtropis atau di dekat-dekat kutub sana. Tambah dingin dong."
"Tapi kan ini keinginan, bu. Boleh saja kan."
"Boleh sih, tapi itu akan mengubah dunia. Mungkin malah merusak dunia. Ganti keinginan saja deh, Bet."
"Yaaa, penginnya lihat salju kok."
"Diubah kan bisa. Pengin lihat salju di Jepang, atau mana gitu. Kan mungkin saja Mas Albert sekolah atau kerja di sana suatu ketika."
"Iya deh."
"Dan itu tidak merugikan siapa-siapa. Tidak merusak dunia dan semesta."
"Iya, deh, bu. Iya."
Hehehe, nadanya sudah agak jengkel. Hmmm, jangan merasa aku membatasi mimpimu. Aku hanya ingin kau melihat orang lain jika punya keinginan. Dan jangan merugikan mereka semua. Ya?

Sebentar Sempurna

Duduk santai, di tengah kehijauan, segar, indah, merasa gembira, itulah sempurna, sebentar sempurna.
Tapi aku juga tak bisa menghilangkan pagi ini. Saat pagi sibuk dengan gerakan, teriakan, bergegas, penuh marah, tidak sabar dan hasrat. Ini juga sebentar sempurna, ketidak sempurnaan sebentar yang sempurna.
Tapi aku juga tak bisa melupakan, kekacauan sekitarku di lalulintas berantakan, yang berhasil kulalui dengan sumpah serapah, pada asap, ketidaktaatan, penipuan, basa basi resmi, mobil polisi, dan inilah sempurna.
Sebentar yang sering, kekacauan yang sempurna,
di negeri ini.

Sunday, November 03, 2013

Benang Laba-laba

Rajutan yang kau buat begitu remeh menjuntai
hanya benang tipis terlempar dari mulut seri.
Mudah terayun angin atau gerakan ranting 
bahkan bisa dikoyak tanpa perkosa.

Kaki yang kurang ajar menjadikannya mainan,
tak disangka kekuatannya berjuta lipat ketika berbeban,
menempel semakin erat di setiap gerak badan.

Getaran mungkin sudah kau sangka,
lama kau intai dari balik daun palma,
matamu telah memilin dari kejauhan,
bibirmu telah meremas dalam semburan,

jika bergerak, benang laba-labamu semakin menjerat
jika bergerak, kau melangkah semakin dekat,
jika bergerak, ludahmu membuncah siap melumat.

Pemimpi ingin masuk ke mulut pemangsanya,
merasakan bukan gigitan tapi enzimnya yang pelan,
akan menghancurkan daging dan tulang,
hingga hanya ada kenangan.

Pemimpi memilih bergerak,
mengundang pemangsa berderak,
mendekat,
lekat.

Thursday, October 31, 2013

Melihat aku, lagi.


Klik sini untuk melihat tulisan di bulan Agustus lalu tentang aku sebagai embun. Semalam aku mendapat cahaya baru tentangnya. Okey, rumusan singkatnya seperti ini :

Bukan masalah, kalau embun memang harus terjun mengikuti kepastian gaya gravitasi. Dia tidak harus ketakutan. Itu bukan urusannya lagi, entah dia akan langsung diserap tanah, atau masih mampir di daun-daun kemuning, atau kelopak-kelopaknya. Yang jelas, dia punya waktu! Menggayut di ujung daun adalah sesaat yang berarti, karena embun bisa menangkap cahaya, membiaskan, memantulkan, atau sekedar menikmati suhu yang mengubahnya menjadi beku, atau uap. Itulah waktu yang menggembirakannya, sebelum dia lenyap melalui misteri.

Saturday, October 26, 2013

Selamat ulang tahun, Bernard.

Sepuluh tahun lalu, kekuatanmu yang merobek rahimku.
Aku masih selalu heran dan kagum pada keperkasaan bayi,
dirimu, Bernard.
Hingga sepuluh tahun berlalu, keherananku terus bertambah,
kekagumanku semakin meruah.
Bukan hanya tubuhmu yang merobek rahimku,
tapi seluruh jiwa-raga, yang kau lontarkan
dalam gerak, dalam kata, dalam rupa.

"Ini aku, ibu. Seseorang yang mau numpang,
numpang makan, numpang tidur, numpang hidup."
Itu persis katamu saat mengetuk pintu rumah,
rumah kita, sore hari saat kau pulang sekolah.
Aku saling pandang dengan bapakmu, hanya, terpana,
ingat?
Mana mungkin kutolak orang yang akan numpang,
apalagi itu adalah Bernard yang pernah ada dalam tubuhku,
masih terus akan ada dalam hatiku, jiwaku?
"Tentu saja boleh. Tapi tidak bisa selamanya. Mungkin,
kami akan sediakan tumpangan hanya sampai umurmu
yang ke 21. Atau lebih beberapa tahun. Tapi tidak
seumur hidupmu. Masuklah!"

Dia masuk rumah dengan baju seragam merah putih, sepatu hitam,
tas sekolahnya yang super berat, dan senyum nyengirnya,
yang memang nakal.
Apa adamu, Bernard, kau boleh menumpang,
boleh merepotkanku,
boleh menuntutku.

Aku mencintaimu, Bernard.
Selamat ulang tahun.


Thursday, October 24, 2013

Nego

Langkahku semata penari,
dalam rancak musik calung,
bahkan hujan panas kuabai,
terserap dalam tepuk riung.

Itulah rayu yang ditolak katup mimpi,
terbelit geliat bangun tidur,
merupa jari telanjang tanpa taji,
seketika membebaskan aku dari lumur.

Kalau pagi seberuntung ini,
selongsong peluru akan kosong,
tidak ada ledakan lagi nanti,
di tengah siang merongrong.

Jadi, kupastikan artimu bisa kutawar,
rendah atau tinggi menjulang,
tergantung matahari mana bersinar,
dan hujan siapa mengalang.

Bukan pada tubuhmu,
yang menyusup dadaku,
tapi tunas di kepalaku,
akan menahanmu.

Wednesday, October 23, 2013

Empty

Pagi yang kosong
mendorongku ke ruang tamu
menandai sebagai orang asing,

hanya sebagai orang asing
duduk dengan malu
tanpa baju.

Siang tak perlu penyambutan.
Bisakah tinggalkan aku sejenak,
rindu? Biar kuselesaikan waktu.

Tuesday, October 22, 2013

Crying

Malam, biasanya menjadi teman
kini menggumpal dalam selongsong
peluru Charlos Hathcock di ladang perburuan.

Aku yang mengincarnya dengan teropong
senjataku, namun aku yang dibunuhnya.

Malam telah berkhianat.
Carlos Hathcock

Sumber: http://www.unikgaul.com/2012/04/10-penembak-jitu-paling-terbaik-di.html
Konten ini memiliki hak cipta

Sunday, October 20, 2013

Be a Mom

Dalam berbagai kesempatan, aku sering bertemu perempuan-perempuan 'ibu' yang luar biasa. Ya, kesempatan ini sangat sering karena aku sendiri juga seorang ibu. Mengantar anak dalam satu kegiatan akan ketemu ibu-ibu, ke pesta kondangan ketemu dengan ibu-ibu, ke sekolah ya ketemu ibu-ibu, keluar rumah di halaman rumah, di pasar dan sebagainya.
Sebagian dari ibu-ibu bisa menjadi teman ngobrol yang sungguh asyik. Sebagian dari mereka itu yang terlihat di foto. Mereka itu biasa aku sapa dengan Mbak Neni (tengah) dan Bu Pur (kanan). Aku tidak terlalu sering bertemu dengan mereka, tapi kalau ada kesempatan bertemu pasti menjadi perjumpaan yang asyik. Dan yang penting, nyambung (Soal nyambung ini memang agak susah ditemukan dengan sembarang ibu-ibu. Aku selalu merasa punya dunia yang berbeda sehingga ada banyak minatku yang tidak bisa mereka pahami, sedang minat mereka tidak aku pahami.)
Dua ini termasuk yang bisa kupahami, karena mungkin aku punya kesabaran mendengarkan mereka dan kami saling menaruh respek satu sama lain. Keduanya punya kesamaan. Mereka perempuan-perempuan yang mandiri. Punya keinginan dan mereka usahakan hal itu. Tapi mereka juga orang-orang yang larut dalam perannya yang kuat bersama anak-anak mereka. Bagian yang inilah yang sering aku gali dari mereka. Kebetulan bu Pur punya 4 anak yang usianya sudah di atas usia anak-anakku. Aku belajar darinya tentang masalah-masalah yang muncul dalam perkembangan anak-anak. Tentang mbak Neni aku belajar tentang komitmennya dan kerja kerasnya.
Hmmm, menjadi ibu bukan perkara sulit, tapi juga bukan perkara yang mudah. Hingga Albert usia 12 tahun dan Bernard 9 tahun, aku masih harus sering belajar untuk menjadi ibu, khususnya menjadi ibu yang baik. Dekat  dengan ibu-ibu hebat macam mereka membuatku belajar lebih cepat. Matur nuwun nggih...

Friday, October 18, 2013

Choice

Tapi, aku tidak bisa menghentikan,
ketika salah satu kakiku
menapak, dan yang lain
menggantung.

Sunday, October 13, 2013

Teman Tengah Malam

Malam tak pernah bisa berlari
kaki-kakinya adalah udara basah
yang menghablur di ujung daun.

Darinya aku mengambil kunci
dari kantung-kantung rahasia
yang tergantung di hening langut.

Aku tak bisa merasakan sepi
apalagi setelah menyentuh sisi nampan
yang disodorkan oleh beda waktu.

Ini hanya sisi lain letak matahari
kita berada di waktu yang sama
sedikit beda karena kau di siangmu

dan aku di malamku.


Saturday, October 12, 2013

Non Est Personarum Acceptor Deus



Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup baru untuk Keuskupan Tanjungkarang sudah dipilih dan diangkat oleh Paus Fransiskus. Pengumuman disampaikan secara resmi oleh Tahta Suci Kepausan Vatikan pada Jumat, 19 Juli 2013 pukul 17.00 WIB (12.00 waktu Roma). Uskup baru ini menggantikan Mgr. Andreas Henrisoesanta yang sudah disetujui pengunduran dirinya oleh Vatikan pada 7 Juli 2012.
Uskup Keuskupan Tanjungkarang ditahbiskan oleh Mgr. Aloysius Sudarso, Uskup Keuskupan Agung Palembang di Kompleks Sekolah Xaverius dan Fransiskus, Pahoman, Bandarlampung pada Kamis, 10 Oktober 2013, dimulai pada pukul 09.00 sampai selesai. Ekaristi pentahbisan ini dihadiri Duta Besar Vatikan Antonio Guido Filipazzi, para uskup dari 36 keuskupan di Indonesia, para pejabat pemerintahan Lampung, para undangan serta sekitar 7000 umat dari 21 paroki yang ada di Keuskupan Tanjungkarang. Dalam pentahbisan ini, para uskup yang hadir menumpangkan tangan pada uskup terpilih Keuskupan Tanjungkarang dan menerimanya sebagai rekan.
Motto uskup adalah “Non Est Personarum Acceptor Deus (Allah tidak membedakan orang.)  Kis, 10 : 34. Motto ini menjadi ajakan bagi umat Keuskupan Tanjungkarang untuk menyadari kehadirannya di “Sai Bumi Ruwa Jurai” Lampung sebagai orang beriman Katolik dan sekaligus sebagai bagian dari seluruh masyarakat. “Siapa pun mereka dan dari mana pun asalnya dibimbing, dituntun dan diajak untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian. Inilah persaudaraan sejati dalam perziarahan menuju keselamatan berdasarkan iman akan Allah yang menghendaki semua orang selamat.”

Tuesday, October 08, 2013

Kopi (Pagi) yang Terlalu (Tidak) Manis

Rencananya, pagi akan mengundang kita berdua
duduk berhadapan di meja bundar angkasanya
dengan secangkir kopi di masing-masing sisi
sebelum berbincang tentang angin salah musim,
kemarin.

Sayang, pagi salah menimbang gula beda takar
yang disadari saat lidahnya mengecap kelakar
iseng tanpa praduga tapi lalu rusak jadi marah
tak ada lagi yang sisa selain tangisan tumpah,
batal.

Jadi, jangan harap ada perjumpaan sekarang
sampai pagi mampu membenahi seluruh ruang
jangan tanya angin hujan atau kesalahan cuaca
karena kita tak akan berjumpa tanpa undangan,
pagi.

Atau, mari santai dulu menunggu seseorang lain
membakar kemenyan dan merangkai sesaji
dapat kita runut asapnya sampai di hulu bara
di situ pasti ada perjumpaan di arang terbakar,
mesra.

Saturday, October 05, 2013

Haruki Murakami : Norwegian Wood

Judul : Norwegian Wood (Noruwei no Mori)
Penulis : Haruki Murakami
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh : Jonjon Johana
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : 2013
Isi : i + 423
Ukuran : 13,5 cm X 20 cm
ISBN : 978-979-91-0563-9


Setelah beberapa lama hanya tersuruk di rak, aku bisa menyelesaikan buku ini hanya dalam 3 hari di sela-sela kegiatan-kegiatanku. Karena sebelum buku ini aku membaca Wally Lamb yang I Know This Much is True, spontan perbandingan muncul di otakku.

Okey, persamaannya dulu ya. Pertama, sama-sama memakai sudut pandang orang pertama. Aku-nya Wally adalah Dominick, sedang aku-nya Haruki adalah Wanatabe. Kedua, sama-sama menyodorkan tokoh utama, orang terdekat, yang menderita suatu 'gangguan kejiwaan'. Pasangan Dominick adalah Thomas, kembarannya, yang masuk Rumah Sakit Jiwa Hatch, sedang pasangan Watanabe adalah Naoko, yang masuk ke tempat rehabilitasi Asrama Ami. Ketiga, sama-sama menyajikan relasi manusia yang sangat jujur, kadang membuatku sebal karena kelewat vulgar. Ketiga, mereka sama-sama detail.

Perbedaannya jelas juga. Pertama, buku Wally sangat tebal, si Haruki hanya separonya. Waktu membacanya pun aku butuh waktu lebih dari dua kali lipat ketika aku membaca Haruki ini. Kedua, settingnya dan warnyanya jelas beda. Satu di Amerika, satunya di Jepang, walau Haruki sepertinya sangat terpengaruh Amerika juga. Ketiga, aku merasakan 'sesuatu' yang sangat kuat saat membaca Wally. Bahkan di bagian akhirnya, ketika dia mulai melembut untuk sebuah happy ending, aku menangis sampai terguguk pagi-pagi sendirian di kantor. Dengan Haruki, aku tidak merasakan perasaan yang kuat. Entah mengapa, rasanya terlalu biasa. Bahkan aku nyaris putus asa hingga 2 per tiga halaman aku belum mendapat sesuatu yang cukup kuat. Apa pengaruh terjemahannya ya? Entah. Keempat, endingnya Wally sangat jelas, sedang si Haruki membiarkannya menggantung, menawarkan beragam imajinasi.

Norwegian Wood ini kisah tentang seorang remaja beranjak dewasa di tahun 60-an. Ini semacam kilas balik di saat usianya 37 tahun, yang mengingat kembali seorang gadis masa lalunya karena lagu Norwegian Wood dari Beatles yang mengalun dari pesawat yang sedang mendarat. Naoko adalah seorang gadis mantan pacar temannya yang sangat dekat dengan si penutur, Watanabe, dalam relasi yang mendalam, tapi tak bisa berkembang dalam relasi yang normal karena gangguan kejiwaan yang diderita Naoko, yang juga kemudian membuat gadis itu bunuh diri. Novel ini begitu jelas mengungkap kehidupan seks bebas di Jepang pada tahun itu di kalangan remaja dan dewasa. Jika berharap ada warna tradisional atau Asia semacam film atau buku lain dari Jepang yang pernah kulihat atau kubaca, jangan harap hal itu muncul dalam novel ini. Kisah ini begitu modern dan ... hmmm, begitu Barat. ***