Saturday, May 16, 2026

PESTA BABI DI DAPUR HAJIMENA


 Akhir-akhir judul film Pesta Babi sering banget muncul di beranda medsosku. Pas libur Kamis lalu, kebetulan banget aku dapat link film ini dan bersama sekumpulan teman usai makan siang kami menontonnya sambil lalu. Nonton tidak terlalu fokus, tapi cukup serius dan beberapa komentar muncul spontan sepanjang pemutaran film.

1. Realita masyarakat Papua terpotret dalam film ini. Bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka berelasi dalam sosial, ekonomi dan budaya dapat kita lihat.

2. Film ini menampakkan ancaman bagi hidup masyarakat yang berasal dari luar Papua. Mereka tidak dipahami dengan baik sehingga kekuatiran mereka terus berkembang, mungkin juga akan menjadi ketakutan atau kemarahan.

3. Masalah yang ada sangat kompleks. Aku tak tahu bagaimana masalah-masalah kompleks di Papua dapat diurai. Banyak pertanyaan muncul dalam pikiranku misalnya apakah mereka siap untuk mandiri dengan seluruh situasi kerusakan saat ini? Apakah mungkin pemerintah Indonesia mampu mengenali pintu masuk paling bijak untuk membangun Papua tanpa menjadikan mereka sebagai korban? Apakah Gereja bisa menjadi sahabat bagi masyarakat Papua alih-alih hanya bersuara idealis tanpa tindakan nyata yang berdampak signifikan?

4.  Film ini digarap dengan menampakkan keindahan manusia dan alam Papua yang cantik indah. Harusnya mereka menjadi abadi dengan seluruh kecantikannya.

5. Film ini menjadi ajakan buat kita semua untuk peduli pada Papua ah... sebenarnya ajakan untuk mulai kembali pada kepedulian pada sesama, siapa pun tanpa kecuali, dengan penghormatan yang semestinya pada martabat manusia tanpa melepaskannya dengan apa yang melekat pada dirinya secara personal, komunal maupun sosial. Papua dan juga semua manusia, harus dianggap ada seperti adanya yang tentu juga punya kekayaan yang harus didukung untuk berkembang bagi mereka sendiri. Ini adalah ajakan untuk bergerak, tidak hanya peduli secara basa-basi karena punya kepentingan tapi bergerak bersama Papua untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua manusia tanpa diskriminasi.

Friday, May 15, 2026

KI GADHING PAWUKIR SENO SAPUTRO, Dalang Muda Tempat Aku Melabuhkan Hati

 Ki Gadhing Pawukir merupakan anak laki-laki Ki Seno Nugroho, dalang legendaris pujaan hatiku yang sudah meninggal tahun 2020 lalu. Aku ingat saat mendengar kabar kematiannya, aku tak bisa menahan air mataku sepanjang malam. Gendhing Ladrang Gajah Seno yang mengiringi keberangkatan Ki Dalang waktu itu menjadi salah satu gendhing sakral di hatiku. Untuk beberapa waktu setelah kematian Ki Seno, aku ndak bisa menonton wayang. Padahal sebelumnya hampir setiap malam aku nonton wayang lewat youtube chanel Ki Seno Nugroho atau chanel lain yang memutarnya.

Beberapa bulan terakhir ini, aku kembali ke wayang dan mulai menikmati pementasan yang dilakukan oleh Ki Gadhing Pawukir, putra Ki Seno. Mulai melihat kembali di awal-awal pementasannya, dan mulai melihat ini anak asyik banget. Untuk orang muda semacam dia, kutambahkan apresiasi, salut sebesar yang ada di dalam hatiku. Jika dulu aku jatuh cinta pada bapaknya, kini pun pada Ki Gadhing aku melabuhkan hatiku.

 Gadhing masih sangat muda mungkin sekitar 20an tahun, entah menjelang atau lebih sedikit. Pokoknya masih sangat muda. Nanti kukoreksi kalau sudah menemukan datanya.

Penampilannya sudah semakin percaya diri. Dan yang membuatku anteng diam menontonnya, ada karakter suaranya yang sangat mirip dengan bapaknya. Gayanya sudah semakin santai. 

Misal yang terakhir kutonton di chanel Dalang Seno dua hari lalu dengan judul Sekar Pudak Tunjung Biru, streaming sampai aku menuliskan ini ditonton oleh 104 ribu viewers. Gadhing tampak menikmati pementasannya, terlihat dalam obrolan yang muncul di limbukan dan goro-goro. Gadhing juga menampakkan kegalauannya, kerendahan hatinya dengan menceritakan bagaimana proses kreatifnya bersama para senior yang dulu juga menemani bapaknya, bahkan sebagian sudah ikut terlibat bersama kakeknya Ki Suparman.

Beberapa hal yang kusukai dalam pementasan ini, adalah sebagai berikut:

1. Ki Gadhing sudah menampilkan karakter suara yang bahkan tak kutemukan pada beberapa dalang yang pernah kutonton. Ukurannya saat aku merem, aku bisa menandai bahwa tokoh yang sedang bersuara adalah tokoh yang berbeda. Gadhing mampu melakukannya.

2. Ki Gadhing menggunakan bahasa sederhana yang dulu juga digunakan oleh Ki Seno sehingga penonton atau pendengar mudah mengenali kisah-kisah yang ditampilkan.

3. Ki Gadhing mulai menggunakan rubrik atau babak untuk menampilkan guyonan. Ini perlu sekali untuk penonton masa kini yang tak punya kesabaran berjam-jam untuk menikmati wayang. Bisa monoton kalau tak diselingi guyonan.

4. Ki Gadhing masih melibatkan para senior, orang-orang bapaknya dengan penuh hormat. Dia akan menjadi dalang ampuh, dan sedang berproses untuk mencapainya. Love.

Wednesday, May 13, 2026

MLAMPAH ZIARAH LAMPUNG, Berjalan dan Ibadah

 Ide ini muncul di Lampung saat bertemu dengan Dokter Pieri dan Dokter Dono di Asilo saat joging pada suatu ketika di akhir bulan Februari 2026. Bu Pieri cerita kalau beliau baru saja mengikuti mlampah ziarah di Jawa, dan berpikir untuk membuat serupa di Lampung.

"Kita buat ya mbak."

Gasss... Pak Hendro yang juga di tempat sama, menanggapinya dengan antusias, langsung ngobrol dengan Pak Ambar yang juga pernah ikut kegiatan serupa di Jawa. Mereka berdua bersama dengan Pak Parman langsung merancang melakukan survey untuk melihat alternatif jalan. 


 Mlampah ziarah Lampung pertama mengambil rute Asilo - Gua Maria Gereja Way Kandis, diikuti oleh 22 orang. Jarak tempuh sekitar 8 km, semula dirancang untuk melewati jalan alternatif, pesawahan dan jalan kampung. Namun rencana itu batal, tak jadi lewat jalan yang sudah disurvey karena sehari sebelum hari H, hujan deras melanda Bandarlampung dan menyisakan banjir di beberapa lokasi termasuk lokasi yang akan dilewati. 

 

Mlampah ziarah Lampung kedua mengambil rute Asilo - atas bukit Panti Wreda Giri Nugraha, Sukadana Ham. Jarak tak sampai 8 km, tapi diwarnai tanjakan, turunan serta hawa segar perbukitan. Pemandangan bagus menjadi bonus pada mlampah ziarah 11 April 2026 ini. Diikuti 18 orang, semuanya menikmati dalam sukacita.


 Mlampah ziarah Lampung ketiga mengambil rute Asilo - Kapel Rumah Sakit Santa Anna pada 9 Mei 2026, sekitar 10 km. Diikuti 38 orang, perjalanan melewati jalan utama Bandarlampung. Sampai akhir peziarahan disambut para dokter dan suster rumah sakit.

Mlampah ziarah Lampung dilakukan setiap bulan sekali pada hari Sabtu yang dipilih. Peserta sudah mendaftar terlebih dahulu lewat kontak person, akan berkumpul pada jam 04.45. Kegiatan dimulai dengan pengantar singkat terkait rute yang akan dilalui dan beberapa catatan sesuai hasil survey. Pemanasan dilakukan sekitar 5 menit supaya tubuh siap untuk jalan. Pukul 05.00 diharapkan mlampah ziarah sudah start. Jika peserta sedikit, semua peserta berjalan dalam satu rombongan dengan leader di depan dan sweeper di belakang. Jika peserta banyak, akan dibagi dalam kelompok-kelompok untuk memastikan tidak ada peserta yang tercecer. 

Sementara waktu di masa perintisan, supporting sistem keselamatan dan keamanan dilakukan secara bersama dengan kesadaran seluruh peserta. Sebuah mobil disiapkan untuk menyertai jika dibutuhkan oleh peserta dalam kondisi darurat, tapi seluruh peserta harus bersiap sendiri untuk kebutuhan pribadi seperti minum, snack atau obat pribadi.

Di akhir peziarahan, seluruh rombongan akan berdoa rosario secara terpimpin sebelum pulang kembali ke Asilo atau rumah masing-masing dengan fasilitas sendiri. 


 

Sunday, May 10, 2026

Ghost in the Cell: Teror Hantu Kalimantan untuk Menghukum Koruptor!


Menonton film ini sungguh tak biasa. Aku memejamkan mata sekitar 30an% tayangannya! Ampunnn... Ini gabungan antara film action, horror, dan comedy tercampur secara bengis.

Okey, mulainya dari mengapa akhirnya aku menonton film yang tidak biasa ini. Mulanya adalah keisengan ibu dan anak. Niat awal mau belanja, tempat yang dipilih MBK, dan akhirnya nyelipnya:"Nonton sekalian yukk."

Dari antara beberapa film yang sedang tayang, film yang mencuat adalah Ghost in the Cell.  Awalnya aku ragu-ragu, tapi setelah 'rapat' dengan anak lanang akan membersamai nonton, film inilah yang bisa diterima. Keterangan film: comedy, horor. Tapiii... begitu nonton, ternyata... luar biasa.

Beberapa obrolan usai nonton, kami mengomentari beberapa hal:

1. Ini film serius banget. Serius horornya, serius comedynya, serius pula actionnya. Saat tayang bagian2 sadis, aku benar-benar ndak bisa menontonnya. Terlalu seram. Ngeri. Padahal ada beberapa pembunuhan yang tragis sadis ditampilkan dengan sangat ngeri dan sangat serius. Mayat-mayat ditampilkan dalam 'instalasi seni' menyeramkan. Bagian horornya sangat terasa, takut walau hantu yang diceritakan hanya wajah dari aktor yang akan mati dengan bentuk sederhana, eh tidak sederhana, tapi wajah dengan lubang-lubang. Lucunya juga lucu yang serius, setengah satir setengah sarkas, menjadi kritik sosial yang kuat.

2. Ternyata Aming itu aktor yang harus diperhitungkan. Itu komentar anak lanang. Dan senyatanya kami berdua belum pernah melihat dia bermain dalam suatu film atau drama atau lainnya. Aming juga aktor-aktor lain yang tampil, begitu berbeda. Aku sampai ragu setiap kali menandai itu siapa yang sedang main karena mereka benar-benar tampil bukan dirinya tapi semata tentang yang diperankan.

3. Aku suka apa yang dikisahkan dalam film ini dijadikan hukuman bagi terpidana korupsi. Biar mereka mendapatkan hukuman setimpal dari alam, dari arwah, dari entitas apa pun yang bisa memberikan hukuman sesuai perbuatan mereka dan menjadi contoh untuk tidak diulang orang lain yang berniat korupsi. Dikisahkan satu tokoh kunci dalam penjara ini menjadi sasaran 'arwah dari Kalimantan' karena dia sudah melakukan tindakan tidak adil, korupsi, merusak alam Kalimantan, bahkan saat dipenjara pun dia masih berkuasa dengan uang hasil korupsinya itu untuk enak-enakan di dalam sel. Padahal sel bagi napi lain begitu tidak manusiawinya. 

4. Kami ndak merasa rugi nonton film ini, walau sebagiannya aku tak mampu melihatnya. Keren.

 Film  Ghost in the Cell (2026) garapan sutradara Joko Anwar menampilkan aktor antara lain Abimana Aryasatya (Anggoro), Aming Sugandhi (Tokek), Tora Sudiro (Anton), Rio Dewanto, Lukman Sardi, Morgan Oey, Endy Arfian (Dimas), dan Kiki Narendra. Film ini juga dibintangi oleh Bront Palarae, Almanzo Konoralma, dan Marissa Anita.

Thursday, April 23, 2026

DIET GULA, MINYAK DAN KALIUM

 

Sayur bening oyong, pepes ikan, telur rebus. Ini menu sebelum diketahui kalium tinggi.

Menu sarapan. 


Susunan menu ini aku tuliskan untuk kepentingan ibuku yang baru saja dipasang ring di jantungnya. Ibu mempunyai komplikasi gula darah dan kalium yang tinggi. Ini ditulis berdasarkan rekomendasi ahli gizi RS SA Malang untuk digunakan oleh katering yang akan membantu ibu. Foto-foto di atas tidak mewakili tulisan ya. Itu menu yang pernah kumasak saat bisa menemani ibu.

Jadwal makan: 
1.    Makan pagi 6.30 (Nasi 7 sdm, protein 1 potong, sayur (min 2 jenis bahan 1 mangkok), minyak setengah sdm)
2.    Cemilan buah 9.30
3.    Makan siang 12.30 (nasi 10 sdm, protein 1 potong, sayur 1 mangkok, minyak 1 sdm)
4.    Cemilan buah 15.30
5.    Makan malam 18.30 (Makan pagi 6.30 (Nasi 7 sdm, protein 1 potong, sayur (min 2 jenis bahan 1 mangkok), minyak 1 sdm)
6.    Paling malam cemilan buah sebelum jam 21.30

Sama sekali tidak boleh:
1.    Segala jenis gula dan makanan yang ditambahi gula
2.    Makanan dan bumbu instan
3.    Pembatasan tepung/karbo, minyak, garam, rasa pedas, dst
4.    Sayur: kol, bayam, Nangka muda, bit, buncis, daun singkong, daun papaya
5.    Protein: kepiting, jeroan, kerrang, babi, kulit, dst
6.    Buah: sirsak, nanas, anggur, Nangka, pisang ambon/kepok, tomat merah

Usulan menu: buah beli sendiri, nasi masak sendiri

1.    Rabu, 8 April 2026
Makan pagi: tumis bihun oyong wortel, ayam suwir, telur ayam kampung rebus
Makan siang: bobor labu tauge (tanpa santan), pepes ikan (laut atau sungai segar), tumis tempe
Makan malam: sop sayur dan bakso daging, perkedel tahu dan jamur

2.    Kamis, 9 April 2026
Makan pagi: semur tahu dan daging sapi, tumis kangkong tauge
Makan siang: bening katuk dan wortel, ayam dan tahu bumbu kuning
Makan malam: ikan bakar (mas/nila), lalapan (selada, timun, sambel, rebusan sesuatu dst)

3.    Jumat, 10 April 2026
Makan pagi: tumis tahu, tauge dan kucai, ayam ungkep, telur rebus
Makan siang (di kantin rumah sakit) – cari ayam/ikan bakar, pepes/botok sesuatu (tanpa santan/kelapa), gado2 tanpa bumbu, dst. Bawa bekal labu kukus 
Makan malam: rawon labu dan daging sapi, tauge, tempe goreng (Teflon minim minyak)

4.    Sabtu, 11 April 2026
Makan pagi: sayur rebung dan kecipir, ayam bumbu merah
Makan siang: ikan gurami steam, sayur asem (labu, wortel, kacang kapri, kangkung, tauge kedele dst)


Thursday, March 26, 2026

GUNUNG PESAWARAN: NANJAAKKKK....

 Masih libur lebaran, sudah puas dengan ketupat opor rendang dan nastar, waktunya cari lokasi untuk olah raga olah jiwa. Gunung Pesawaran menjadi pilihan. Puncak Gunung Pesawaran ini merupakan salah satu puncak Gunung Betung, bisa diakses melalui Desa Sinar Harapan, Kedondong, Pesawaran.

Minggu, 22 Maret 2026, hari kedua lebaran, usai sarapan coto Makasar di rumah keluarga Om Kemal, kami mulai packing dan prepare untuk pendakian. Selain aku dan kangmas Hendro, ikut joint juga Arya, seorang muda yang sudah pernah ngobrol tentang mendaki bareng. 

Siang begitu sampai basecamp kami urusan dengan ijin, pembayaran dan menghitung logistik. Artinya menghitung sampah. Wah, ini pengalaman pertama naik gunung di Lampung ada urusan menghitung-hitung plastik bakal sampah yang kami bawa. Hitungan akhir dicatat, dan mereka mengingatkan: "Kami akan hitung lagi saat turun. Jika ada yang hilang, per item akan didenda Rp 10.000." Wuih, sesuatu yang penuh pengharapan. Setiap kali kami naik gunung, kami selalu dikecewakan dengan sampah yang terserak sepanjang rute maupun di puncak.

Harapan gunung yang bersih pun tercapai. Dibandingkan dengan semua gunung yang pernah kami daki, Puncak Pesawaran sangat bersih. Kami jadi lebih hati-hati memastikan sampah plastik tersimpan dengan aman di dalam ransel.

Yang di luar ekspektasi, aku mengira gunung setinggi 1662 mdpl ini akan menawarkan perjalanan yang santai. Ternyataaa... terjal saudara-saudari. Sejak pos 1 kami sudah ditawarkan dengan nanjak parah dibantu tali-tali untuk naik. Maka, 4 jam perjalanan sangat wajar walau kami sudah dibantu dengan ojek dari basecamp sampai pos bayangan sebelum camping ground.

Pilihan untuk tidak bakal nenda di camping ground sangatlah tepat. Tempatnya terlalu terbuka, sangat panas. Ransel berat pun setia ada di punggung demi nenda di puncak. Pilihan tepat, selalu tepat. Setelah tidur pules, bangun tidur di puncak akan memberikan bonus pemandangan keren entah saat cerah maupun saat berkabut.


Puncak Gunung Pesawaran 1662 mpdl

 
Salah satu sisi di puncak untuk ngecamp.

  
 
Camping ground yang super panas

Ambil nafas di camping ground

Semalam di puncak

Spot foto favorit di puncak

 

Umek dulu sebelum pose
Salah satu tempat rehat

Ngopi di pos 2



Tuesday, February 10, 2026

Puisi Yuli Nugrahani:

 FAJAR

Keheningan menemani setetes embun yang bergelanyut di ujung daun pepaya.
Penantian singkat menjelang fajar usai hujan semalaman.
Setelah itu, dia akan jatuh terserap ke tanah, atau menguap lesap oleh cuaca.
Tapi dari sedikit yang sempat melihat, pastilah tahu, 
setetes embun adalah kerjap cahaya, adalah lintas sunya.
Tanpa suara, pun adalah nada. 

 

SENJA 

Senja beradu sepasang mata tupai
mengerjap di simpang jalan.
Sunyiku jadi sunya
Hadirku menjelma hampa.

Tembakan di sudut pendengaran
sebutir sukma mengeriput ketakutan.
Aku tak mau membencimu
merengkuhmu bagai duri di dada
Namamu  serupa sengal nafas
Tak bisa kulepas
Tak juga jadi hias

Tuesday, December 09, 2025

Ki Dalang Muryanto: Wahyu Purba Sejati

 Lama sekali aku tidak nonton wayang secara langsung. Setelah kecanduan Ki Dalang Seno hampir di semua lakonnya setiap malam, sejak Ki Seno meninggal aku jarang sekali menonton wayang apalagi nonton wayang secara langsung. Kesempatan di Way Kandis Senin 8 Desember 2025 membuatku nonton Ki Dalang Muryanto secara penuh membawakan lakon Wahyu Purba Sejati.

Kesempatan yang menarik. Awalnya aku hanya ingin melihat bagian awal saja lalu pulang, mengingat sejak sore aku sudah menguap terus. Buttt... begitu dengar gending-gending dan juga suara suluk Ki Dalang, aku mancep di kursi. Tidak hanya sampai babak tertentu tapi sungguh-sungguh menontonnya sampai tancep kayon, sampai selesai seluruh lakon pukul empat lebih menjelang subuh.

Lakon Wahyu Purba Sejati diawali dengan kunjungan Prabu Baladewa, Raja Mandura ke Istana Kresna di Kerajaan Dwarawati. Obrolan di antara mereka yang hadir termasuk 'staf' kerajaan masing-masing. Mengemuka tentang impian Baladewa dan Kresna tentang wahyu purba sejati yang terdiri dari empat wahyu, dengan petunjuk lokasi tempat mereka bisa menemui wahyu itu, yaitu Pasarean Gondomadono (atau Gondowandono, aku tak terlalu dengar.). Wahyu Purba Sejati terdiri dari Wahyu Cahyaningrat, Wahyu Wimbaningrat, Wahyu Raksakaningrat dan Wahyu Wasesaningrat.

Paseban ini juga hangat dengan ajaran Kresna tentang paugeran hidup benar yang tak boleh jatuh pada tahu saja, tapi harus dilakukan, harus diamalkan. Dilampahi. Ini menyangkut dasar hidup secara vertikal antara manusia dengan Penciptanya, juga secara horisontal antara manusia dengan manusia. 

Di saat seperti itu, hadirlah utusan Gondoyatmo, titisan Rahwana yang meminta Wara Sembadra yang dianggap sebagai Banowati titisan Sinta. Utusan itu minta Sembadra untuk ikut bersama mereka. Tentu saja semua orang yang hadir marah terhadap utusan itu sehingga mereka terlibat dalam peperangan besar.

Dalam situasi kisruh itu, Permadi ya Arjuna didorong untuk menemukan petunjuk tentang Wahyu Purba Sejati. Arjuno menemukan Pasarean Gondomadono, di sana ada batu pangelmuan. Arjuno diijinkan oleh juru kunci pemakaman itu (seorang brahmana kera) untuk bertapa di situ.

Kresna, Baladewa dan Sembadra menyusul Arjuno tapi hanya menemukan batu pengelmuan itu. Permadi sedang dalam pertapaannya yang khusuk sehingga tidak kelihatan. Mereka bertiga melihat batu itu, memastikan mereka ingin mereguk sang wahyu. Ketika Baladewa mencoba duduk di sana, dia terlempar. Kresna yang juga merupakan titisan dewa tidak mau duduk di sana karena sebenarnya dia juga dewa sang Maha Tahu Segala. Sembadra langsung duduk di batu itu, dan dia merasakan kenyamanan. Saat itulah Sang Wahyu Wimbaningrat merasuk pada dirinya, dan menjadikannya sebagai ratu sumber para raja yang nantinya akan menguasai dunia. Dialah perempuan terberkati, untuk menurunkan para raja bijaksana di kemudian hari.

Seusai Permadi menyelesaikan tapanya, dia mendapatkan wahyu Cahyaningrat yang akan membuatnya menjadi penurun sejarah para raja. Klop dengan Sembodro. Sedangkan Kresna, dia berada dalam porsinya mendapatkan wahyu raksakaningrat yang menempatkan dirinya sebagai patih, seorang yang menjadi konsultan utama raja.

Baladewa menerima panggilan sebagai perengkuh wahyu wasesaningrat, wahyu wadat yang membuatnya jauh dari nafsu termasuk nafsu seks. Dia hidup selibat dan menghayatinya untuk kesejahteraan semua manusia.

Musuh masih ada. Gondoyatmo ya Sang Rahwana mencoba mengulang kisah penculikan. Namun Permadi dibantu dengan Anoman berhasil mengalahkan Gondoyatmo. Kematian Gondoyatmo membuat PR hidup Anoman selesai. Dia pun hidup dalam keheningan pertapaan, menunggu PR kehidupan selanjutnya yang mungkin akan datang. 

Gitu guys. Ini kuceritakan ulang berdasarkan penangkapanku yaaa. Beberapa bagian seperti menjadi potongan-potongan yang agak susah kupahami. Sepertinya Ki Dalang mengejar waktu untuk terpenuhinya lakon. Mulai telat dan ditambah banyaknya minat orang yang request lagu, perkiraanku membuat Ki Dalang memotong beberapa detil kisah.

Tapi Dalang tetap berhak menentukan kisahnya. Dan aku tetap menemukan benang merah dari kisah ini. Kerennn.
 

Sunday, December 07, 2025

SURAT CINTA UNTUK PITHAGIRAS YANG LUPA DITULIS

Buku ini menjadi buku yang paling lama menghuni ranselku di tahun ini. Setelah mendapatkannya dari Udo, dia ni ngikut ke Jakarta beberapa kali, ke Palembang dua kali, ke Kediri, Lumajang, Bandung, ... hadehhh... Kubawa kemana-mana tanpa kemajuan membaca yang berarti. Usai mendapatkannya, aku membaca cepat pada bab satu dan dua, lalu terbengkalai selama beberapa bulan. Pengantar yang ditulis Udo tak cukup membuatku bertahan membacanya. 
Banyak alasan yang kubuat sehingga tak membacanya entah kemudian terseret ke buku lain, aktifitas lain, pikiran lain, dst... lamaaa.... buku ini tak terpegang, hanya tersuruk saja di lapisan dalam ransel berdampingan dengan laptop. Laptop keluar masuk ransel, buku ini tetap bertapa di dalamnya. Kalau pun tercabut keluar, lalu tersuruk lagi di dalamnya. 
Aku melanjutkan membaca lagi dikit-dikit usai obrolan dengan Udo untuk urusan DKL, dan dua hari terakhir ini aku menyelesaikan membacanya secara cepat dan intens. Kesempatan yang hadir menjadi rahmat karena sungguh aku sedang tak mau mengerjakan hal-hal lain (padahal ada banyak PR deadline pekerjaan. Huft). Buku inilah tempat aku melampiaskan diri. Pelarian yang aku sungguh syukuri.
Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis bagiku malah menjadi surat cinta yang lupa dibaca. Ampun. Udooo, setelah membacanya, serius aku katakan novel ini bukan buku yang boleh diabaikan. Sudah ditulis dengan begitu 'wajar' mestinya dibaca dengan 'wajar' juga. Tapi memang aku sedang terpuruk dengan gerak yang terus berpindah secara raga maupun jiwa. Maafff yaaa...
Sooo, buku ini menjadi loncatan kenangan yang tepat sekali diberikan padaku menjelang akhir tahun  saat diriku dipenuhi dengan pikiran-pikiran reflektif. Novel yang ditulis Udo Z Karzi ini membawaku pada masa lalu secara mudah karena yang terjadi jadi kisah di dalamnya sangat mirip dengan situasi dan gerakan yang kulibati tahun 90an saat jadi mahasiswa di Brawijaya Malang.
Novel ini menuliskan sosok-sosok yang mudah kukenali kemiripannya. Atau, malah sosok di dalam novel ini merupakan diriku sendiri yang setiap kali beralih peran secara dinamis. Kadang aku bisa merasakan diri sebagai Kenut, kadang aku bisa mengakui bahwa akulah Pitha, atau Vita, atau juga Tamong, bahkan aku sebagai Emak Bapak yang kecewa. 
Setting situasi Unila, Lampung, Bandarlampung maupun Negarabatin, Gunung Pesagi, sangat dekat juga dengan perjalananku yang hidup di provinsi ini selama seperempat abad terakhir. Sekaligus menjalin kisah dan gambaran yang mirip dengan hidupku sebagai mahasiswa di Unibraw, maupun perempuan yang hidup di Jawa Timur, Malang maupun Kediri, Lumajang, Gunung Semeru, Kelud atau Panderman.
Nostalgia yang cocok untuk akhir tahun 2025 yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa sangat dinamis osial politik maupun alam murka menyemburkan bencana. Kemarahan yang dulu pernah kurasakan saat sok idealis dalam diskusi-diskusi gerakan mahasiswa, muncul lagi menjadi kemarahan dan kekecewaan yang ...'kok ya situasi ini masih sama dengan dulu'. Spontan juga mengobarkan semangat kepedulian dan solidaritas "Mari bersatu. Lawan!"
Hmmm... mungkin kobaran yang sekarang ini muncul karena Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis juga masih sama seperti kobaran sok idealis seorang mahasiswi masa lalu. Sekarang mewujud jadi percikan sok idealis seorang ibu yang lebih realistis karena sering terpuruk dalam akrobat finansial mental spiritual. Pun tetap ada 'idealisme'nya. Yakin.
Aku senang novel Udo menuliskan hal-hal yang mengobarkan 'sok' idealisme ini dalam bungkus romantisme. Dengan demikian rasa 'wajar' itu jadi lebih kuat, dan memang seperti itulah hidup manusia. Serba wajar walau pernah mengalami grafik naik turun menurut ukuran-ukuran tertentu. Tetap manusiawi.  

Monday, August 04, 2025

GANG CERIA GOES TO PALEMBANG: "Traveling and Healing

Stasiun Tanjungkarang
 Ide iseng bisa muncul dari moment yang tidak diduga. Usai melayat, makan bareng lalu beberapa ibu nyeletuk tentang kemungkin pergi ke Palembang naik kereta. Keesokan harinya, perjumpaan lanjut langsung mengentalkan ide itu, cek jadwal, cek ketersediaan tiket kereta, dan akhirnya disepakati: "Pergi ke Palembang pada 1 - 3 Agustus 2025 untuk travelling and healing."

Itulah yang muncul sekitar dua-tiga minggu yang lalu. Gercep cari tiket kereta pada hari yang sama, masih belum memikirkan hal-hal lain yang mungkin muncul, pokoke dapat tiket kereta api Tanjungkarang - Palembang PP pada tanggal yang dimaksud. Hari itu juga tiket untuk 10 orang didapatkan, dengan nasib tempat duduk terpencar tapi masih pada gerbong yang sama. Sedangkan untuk kepulangan, tempat duduk lumayan berdekatan.

Persiapan-persiapan dibuat serba cepat, dan inilah yang terjadi:

 

 Hari 1, Jumat 1 Agustus 2025

Stasiun Kertapati

Berangkat pukul 07.00 dari perumahan Polri Hajimena menggunakan 4 mobil yang tersedia. Ya, tentu saja berangkatnya dari perumahan Polri karena Gang Ceria yang dimaksud pada judul adalah gang paling depan di Blok C Perumahan Polri Hajimena. Sepuluh peserta adalah para ibu dari gang ini. Orang-orang yang sudah biasa berelasi bertetangga dalam hidup keseharian.

Kereta Api Rajabasa berangkat pukul 08.30, jadi cukup aman untuk mendapatkan posisi longgar untuk bagasi dan masih cukup santai juga jika ingin foto-foto di awal perjalanan. Target utama dalam perjalanan ini memang foto sebanyak-banyaknya di tiap perhentian.

Sampai di Palembang, Stasiun Kertapati, pukul 17.30, rombongan dijemput oleh keluarga Een dan mbak Maya. Dua mobil siap mengantar ke perhentian 1 yaitu di Masjid Agung untuk sholat Magrip. Lanjut ke Martabak Har Simpang Sekip untuk makan malam. Usai makan wajib menyempatkan diri untuk foto sebelum istirahat di rumah keluarga Een sekitar Jakabaring.

Hari 2, Sabtu 2 Agustus 2025

Taman Kota Kambang Iwak

Sesuai janji, semua siap untuk otw pukul 08.00. Tujuan pertama pagi ini adalah Kambang Iwak, untuk sarapan di Warkop Putra Agam dengan pilihan menu ketupek (lontong) gulai paku, atau picak atau bubur atau mie dan sebagainya. Kambang Iwak merupakan taman di tengah kota Palembang dengan kolam atau danau kecil yang seputarannya biasa digunakan oleh masyarakat untuk joging atau olahraga dan kuliner.

Dari sana, tujuan berikutnya adalah jalan ke Monumen Ampera dan Museum Mahmud Badaruddin II. Inget yaa, tujuan foto-foto kudu dibuat dengan apik dalam segala situasi. Cuaca panas membara malah membuat kami semangat untuk jalan, berpose dan foto. 

Sentra oleh-oleh di Pasar 26 Ilir, menjadi tujuan berikutnya: Pempek Lala. Nyemil pempek wajib yaaa, lalu mborong macam-macam krupuk kemplang dan pempek. Dibonusi makan siang bagi sebagian yang sudah kelaparan yaitu di RM Mbok Yah samping kantor Walikota. Dari sana barulah ke arah Pusri untuk menyeberang ke Pulau Kemaro menggunakan perahu. 


Perjalanan kembali ke pusat kota, mendung tiba-tiba menggantung di langit. Mesti mencari tempat berteduh dan yang dipilih Palembang Square. Untuk sholat, ngadem eh ngiyup dan shoping bagi yang minat. Sore masih akan berlanjut ke kompleks Benteng Kuto Besak berfoto dengan Tugu Ikan Belida dan jembatan Ampera. Makan malam kembali ke tujuan siang yaitu ke Mbok Yah samping kantor walikota.

Malam kembali dengan puas ke rumah Een untuk istirahat.

Hari 3, Minggu 3 Agustus 2025

Hari terakhir urusannya hanya kembali ke Lampung. Een yang baik hati sudah menyiapkan nasi ayam telur untuk makan siang dan gorengan untuk sarapan. Pukul 06.30 dijemput mbak Maya, mampir sebentar beli jajan pasar.  Siap kembali ke Lampung dengan kereta api Rajabasa dari stasiun Kertapati pukul 08.30. Sampai Lampung pukul 18.15.

Perjalanan yang asyik siap untuk diulang lagi. 

Bagian terakhir merupakan catatan pengeluaran kami:

1. Tiket kereta api PP @Rp 32.000 = Rp 64.000

2. Tiket museum, perahu, transport lokal Palembang, air mineral, makan untuk sopir, dll = Rp 230.000

Setiap orang mengeluarkan Rp 294.000 tidak termasuk makanan dan oleh-oleh yang dibeli masing-masing. 

Gerbang Masjid Agung Palembang

 
Monumen Ampera

Museum Mahmud Badaruddin II

Museum Mahmud Badaruddin II bagian dalam

Pulau Kemaro

Benteng Kuto Besak

Togetherness full of happiness


Monday, July 21, 2025

OBROLAN NGALOR NGIDUL DALAM HASH

Seputaran Batuputuk 20 Juli 2025.
 Lampung Hash House Harriers (LHHH) sudah kuikuti sejak masa pandemi lalu. Sekitar 6 tahunan, masih tergolong baru untuk komunitas yang sudah mulai bergerak di awal tahun 2000an. Yang utama dalam komunitas ini adalah olahraga alam bebas, di luar ruangan, dengan jalan atau lari. Hiking. Ada seratus lebih orang yang jadi membernya. Juga ada yang sering ikut tapi ndak mau jadi member. Suka-suka saja.

Suka-suka juga pada pilihan rutenya. Walau tim hare, yang kebagian membuat rute dengan menabur guntingan kertas, sudah membuat rute kisaran 6 - 12 km setiap minggunya, peserta tidak terpatok pada rute itu. Mereka bisa mengambil jalan pintas kapan pun, kesasar-kesasar secara sadar. Merek juga bisa setiap patuh hormat pada rute yang ada, seringkali diselingi keluhan atau makian karena tanjakan curam, keluar masuk sungai, dan seterusnya. Ada juga yang sama sekali tak mau mengikuti rute, ya jalan suka-suka saja di sekitar meet point, foto-foto, dan makan-makan. Tak ada larangan untuk ini. 

Perjumpaan dalam perjalanan yang suka-suka ini ternyata menciptakan ruang obrolan yang luar biasa. Bagiku, ruang obrolan ini tak hanya menjadi pengikat persaudaraan persahabatan, tapi menjadi ruang pembelajaran, menjadi kelas sekolah kehidupan yang lengkap.

Misal satu kali aku berjalan bersama seorang senior, seorang pengusaha, seorang bapak, lain waktu aku beririgan dengan para muda yang heboh dengan semangatnya pada medsos. Berikutnya lagi aku bisa saja berjalan bersama para ibu yang sedikit-sedikit bertanya kurang berapa km lagi.

Obrolan muncul dalam perjalanan beriringan itu. Ngalor ngidul lengkap dengan bermacam kisah. Bahkan kadang terkaget-kaget karena ada kisah-kisah yang seperti tak mungkin tapi toh terjadi juga.

Nah, apa saja obrolan yang sering muncul? Banyakkk... Ngrasani orang lain, perselingkuhan, dan sebagainya selalu menarik. Hehehe... Obrolan tentang usaha, lalu tersambung menjadi mitra kerja juga sangat mungkin. Ngobrolin diri sendiri, curhat tentang suami anak juga mungkin. Obrolan tentang spiritualitas juga sering lho. Komunitas ini diisi oleh beragam orang dari ragam agama, suku maupun jenis pekerjaan. Bahkan seringkali obrolan menjadi mendalam tentang perkawinan, kematian, hakikat kehidupan dan sebagainya. Obrolan itu menjadi bumbu dalam perjalanan seiring melewati rute yang sama.

Luar biasanya, obrolan ini ya benar-benar jadi bumbu saja khususnya bagiku.. Ndak mempengaruhi apa pun. Bahkan tidak menjadi bahan penilaian terhadap seseorang. Itu seperti kisah yang mengalir lalu ilang begitu perjalanan sampai finish kembali di meet point. Usai itu ya sudah. Tak ada hal apa pun yang mengganjal atau mengganggu.

Itulah salah satu asyiknya berada dalam komunitas ini. 

Sunday, June 29, 2025

Tips Umur Panjang 3: Robby Tulus, Antusias, Seimbang, Berpikir Positif

 

Tips 1 dan 2 bisa dilihat pada tulisan ini dan ini secara bebas. Sebenarnya aku sudah membuat satu bagian yang mengikat keduanya pada tulisan ini untuk memicu permenungan penting tidaknya umur panjang. Tapi aku juga tak mau menolak perjumpaan-perjumpaan asyik bersama orang-orang keren yang berumur panjang.

Kesempatan baru-baru ini kudapatkan dalam obrolan pendek bersama Robby Tulus, salah satu bapak dan guruku dalam pelajaran perkoperasian.  Ini merupakan obrolanku pertama secara langsung, pun baru kemarin ini di sela-sela Break Out Seminar dalam rangkaian Lokakarya Nasional (Loknas) dan Rapat Anggota Tahunan (Ratnas) Inkopdit di Grand Mercure, Bandarlampung, 26 - 27 Juni 2025.

Mendengarkan ceramah atau materi yang disampaikan beliau sudah kudapatkan beberapa kali. Mendengar namanya disebut sebagai referensi oleh orang-orang lain dalam konteks belajar koperasi sudah terlalu sering. Membaca beberapa tulisannya juga pernah. Nah, karena kemarin saat Loknas aku dapat tugas menjadi notulis, ada jarak yang lebih pendek kudapatkan. Di sela kegiatan, aku pura-pura minta foto selfie bersama beliau, tapi satu pertanyaan sudah kusiapkan:"Apa resepnya hingga pada umur 85 tahun Pak Robby masih begitu segar, lincah dan runtut?"

Pada kesempatan di Lampung ini, Robby Tulus mengisi banyak sesi dalam Loknas. Panitia begitu kurang ajarnya menempatkan beliau sebagai narasumber, moderator maupun penerjemah dalam banyak sesi. Astaggaaa. Awalnya aku berpikir kok ya kebangeten mereka ini. Itu butuh waktu, tenaga, posisi duduk lama, konsentrasi dan seterusnya dalam waktu yang panjang, lama. Kenapa tidak cari penerjemah lain, misalnya. 

Tapi kekuatiranku sama sekali tak beralasan. Robby Tulus tetap pada vitalitasnya yang prima bukan hanya saat di panggung, tapi juga pada jam rehat. Beliau masih melayani orang yang minta foto, minta diskusi lanjut tentang ini itu yang belum terpuaskan saat sesi, juga masih melayani wawancara wartawan.

"Ah, tidak selalu baik-baik saja. Saya pernah sakit beberapa kali," ungkapnya jujur. Yeahhh, itu sangat wajar. Aku pun begitu, bahkan di usia yang harusnya sangat produktif. Lalu apa yang istimewa? Robby masih melakukan perjalanan sendiri ke mana-mana. Tinggal di Kanada tapi sering ke Indonesia, ke banyak negara, banyak kota.

"Antusias. Kita harus antusias." Hmmm... aku berpikir tentang yang sudah kupikirkan dan kutuangkan dalam tulisan-tulisan lalu. Antusias merupakan istilah yang tepat untuk merangkum tentang 'punya keinginan dan gairah mewujudkannya'. Antusias menjadi satu  kunci yang terus diproses oleh Robby. Secara kasat mata pun kita dapat melihat antusiasnya saat bercerita tentang sesuatu yang disukai.

"Kedua adalah moderate, moderasi." Sedang saja, seimbang, tidak berlebihan, tidak kurang. Robby masih menjalankan hobinya, beberapa jenis olah raga, jalan, makan, relasi sosial, dan seterusnya. "Kecuali saat di Indonesia. Saya bisa makan berlebihan saat di Indonesia." Katanya sambil tertawa. Iyalah, siapa yang bisa mengabaikan menu-menu Indonesia yang aneka rupa, full rempah full rasa. "Tapi nanti saya  akan jalan dan kembali ke ritme biasa di Kanada. Jadi aman."

"Ketiga adalah positive thinking." Nahhhh... ini nih. Kalau aku menerjemahkan pada ukuran imanku, kata ini seperti gabungan antara iman, pengharapan dan kasih. Tak usah kuatir orang ngomong apa, terserah mau njelekin atau mau membenci. Tak usah kuatir esok hari aku bersama siapa di mana. Kesulitan hari ini selesai pada hari ini. Besok ada nikmat yang lain. 

Aku mengangguk-angguk mendengarkan beberapa kisahnya, termasuk satu kisah lucu yang dia alami dalam proses berhenti merokok yang membuatku ngakak tak terbendung. Hmmm... aku ceritakan bagian ini nanti di judul yang berbeda. Tawa Robby pada kisah lucu yang memalukan pada dirinya sendiri merupakan bentuk penerimaan diri yang luar biasa. Aku masih belum bisa banyak bercerita tentang kisah-kisah memalukan yang pernah kualami. Kalau bisa ditutup rapet pet pet... jangan kebuka lagi. Ini, Robby bisa mengajak orang lain tertawa bersamanya atas peristiwa memalukan yang menimpanya. Robby sudah selesai dengan dirinya sendiri dan sampai pada kemerdekaannya. Pelajaran luar biasa. 

Wednesday, June 25, 2025

GOWOK

 Kata gowok itu terlalu kasar kayaknya di telinga orang yang lemah lembut seperti aku. Hehehe. Aku bertanya pada 10 orang: "Menurutmu film Gowok itu film romantis, sejarah, horor, komedi atau kriminal?" Tujuh orang diantaranya mengatakan itu film horor. Selebihnya ragu-ragu tapi akhirnya menyebut bahwa itu film kriminal atau komedi.

 Jadwal dan Harga Tiket Film Gowok Kamasutra Jawa di Bioskop Surabaya

Dalam ingatanku, kata gowok kukenal pertama kali dalam novel Ahmad Tohari: Ronggeng Dukuh Paruk. Kesan utamaku terhadap kata ini adalah romantisme. Atau sesuatu yang membawa pada khayalan tentang berhubungan seksual secara indah. Gowok dalam Ronggeng Dukuh Paruk juga dituangkan secara komedi, lucu, dalam pembacaanku.

Nah, lalu bagaimana dengan Film Gowok Javanese Kamasutra yang disutradarai Hanung Bramantyo tayang di bioskop tahun 2025 ini? Aku tidak puas dengan film ini. Hmmm...

1. Judul yang ditampilkan itu berlebihan Gowok Javanese Kamasutra. Menurutku Gowok tak bisa disebut sebagai Javanese Kamasutra. Gowok pernah dilakukan pada suatu masa oleh kelompok tertentu saja di Jawa Tengah. Dalam tradisi Jawa secara umum, Gowok bertentangan dengan nilai-nilai kejawen. 

2. Film ini membuyarkan kesan pertamaku terhadap kata gowok yang kudapat dari Ronggeng Dukuh Paruk. Lewat novel itu, aku merasakan romantisme komedi karena memang tokoh yang ditampilkan dalam novel membawaku tersenyum sedikit miris. Dalam film ini, aku melihatnya sebagai tragis. Terlalu banyak kekerasan kesadisan ditampilin.

3. Harusnya ada pesan indah yang bisa disampaikan lewat film ini tapi tidak muncul. Kayaknya aku tidak pas menonton film model gini. Capek. Padahal ada banyak nilai yang sangat mungkin bisa disajikan apalagi kalau ini mau disandingkan dengan Kamasutra.

Tentang pemain, hmmm, awalnya aku kira Reza Rahardian yang akan jadi tokoh utamanya. Si Reza ini yang menjadi alasan utamaku nonton film ini. Ternyata Reza tampil sangat sedikit di bagian akhir film, tapi justru membuatku lega. Dia tampak tua memang cocok untuk dipasang sebagai tokoh utama di bagian akhir. Porsi yang tepat untuk dia. 

Sunday, June 22, 2025

BATAS DAN BEBAS PADA TORSO AYU PERMATA SARI

Pentas TORSO kunikmati dari awal sampai akhir dengan beberapa pikiran dan perasaan yang berubah-ubah. Saat memasuki gedung pentas Dewan Kesenian Lampung (DKL), Sabtu 21 Juni 2025, tanpa tahu apa yang sedang dipersiapkan untuk dipentaskan, ekspektasi memenuhi kepalaku. Tentu ekspektasi itu adalah gambaran ideal sebuah pementasan tari oleh Ayu. Aku mengenali beberapa tarian Ayu dan spontan gambaran semacam itulah yang menancap, disertai: "Tarian Ayu yang terakhir kulihat sudah beberapa tahun lalu, pasti ada yang meningkat kali ini." Mungkin saja ini sambungan dari X yang pernah kutulis di sini dan di sini pada November 2020.

Lingkaran putih di panggung sebelah kiri, statis dengan sosok Ayu yang samar-samar terlihat berbaju merah. Di sisi kanan, torso berbalut putih bergerak, meliuk dan bergetar. Lingkaran diam lebih menarik perhatian karena aku penasaran, apa yang bisa dimunculkan dari sana. Sedang gambar torso bergerak menayangkan citra yang sangat biasa, lenggok tubuh bagian dada, pinggang, perut, pinggul dan pantat.

 Gerak Ayu dalam lingkaran mengalir secara wajar serupa pengenalan pada gerakku sendiri, yang terus berkembang, bertumbuh seturut pertambahan umur, pertambahan pengalaman, pertambahan perjumpaan. Saat masih bayi aku bisa meringkuk atau kemudian berbaring menggerakkan kaki tangan hanya di tempat aku diletakkan, saat ini aku yang sudah sudah 50 tahun lebih mampu berpindah tempat bergerak lebih jauh. Dari bayi sampai saat ini, ada proses bertahap yang kulalui.

Tahapan gerak itulah yang muncul di babak awal. Dari gerak sederhana monoton, gerak menjadi semakin rumit, tapi sebagian gerak itu tampak canggung eh apa ya kata yang tepat, hmmm tampak pada wajah murung, kaku, mungkin karena tertahan oleh ketidaksukaan, oleh dorongan supaya tetap dalam kepantasan, keraguan, kesedihan, kemarahan terpendam, juga tertahan oleh lingkaran batas yang dipasang entah oleh siapa. Mungkin oleh orang lain, banyak orang, atau oleh tak siapa pun, alias Ayu sendiri.

Keberanian untuk melintas atau menerjang, ah tidak, bahkan menghancurkan batas lingkaran mengawali babak selanjutnya dalam perkembangan gerakan tubuh. Gerakan ini mewakili banyak kisah perempuan yang berjuang untuk mendapatkan haknya, bahkan perjuangan untuk mendapatkan perlindungan. Yap. Lingkaran batas ternyata bukan tempat aman bagi perempuan. Lingkaran batas bisa merupa ancaman, pengekangan, pelabelan dan penghentian langkah perempuan. 

Mungkin aku berlebihan, tapi simbol itu yang tampak dalam tendangan dan ayunan kaki Ayu. Semerta ekspresi wajah menjadi lebih kaya. Ada senyum, ada tawa, ada tangis, ada tekat bulat. Lingkaran yang terbongkar membuat gerak tubuh menjadi lebih bebas. Cercaan pasti muncul karena runtuhnya batas selalu menyisakan bekas. Gerak tak lagi rapi. Tubuh yang biasanya tegak dipaksa untuk tetap elegan dalam tatapan mata banyak orang, menjadi kotor penuh debu, sanggul terlepas, baju pembungkus tak lagi penting dipertentangkan. Tapi:"Tanpa batas lingkaran, panggung kukuasai." Dan Ayu bergerak bebas menguasai panggungnya.

Perempuan seperti semua manusia yang lain akan terus dalam proses pencarian selama nafas masih terhembus dalam tubuhnya. Pencarian itu akan membawanya menghadapi banyak hal. Ayu dalam Torso dihadapkan pada kultur perempuan Lampung yang mesti tegak menjunjung sigernya yang berat serta menjaga penghias tubuh bahkan hingga ujung-ujung jari. Khalayak memakainya sebagai ukuran keindahan/kecantikan perempuan. 

Gerak bebas tanpa batas pasti melemparkan siger itu dari kepala dan akan merontokkan seluruh perhiasan-perhiasan yang dilekatkan pada tubuhnya oleh siapa entah, mungkin orang lain, banyak orang, atau oleh tak siapa pun, alias Ayu sendiri. Masih cantikkah dia tanpa penghias tubuh itu? Hinaan apa yang dilontarkan padanya ketika seluruh hiasan itu lepas? Haruskah kecantikan dari tembaga dan gemerincing buatan itu terus disematkan pada perempuan? Bukankah dia sejatinya diciptakan cantik dengan mahkota martabat dan hiasan ketulusan hasil pengolahan pengalaman hidupnya?

Kata kunci yang tak kutemukan pralambangnya dalam Torso atau mungkin kulewatkan karena ketidakpekaanku adalah kata negosiasi. Negosiasi muncul dalam perbincangan usai pentas, dimunculkan oleh Ayu, Rio, Gelar, Nia dan Nabila, tim utama pementasan ini. Negosiasi bisa muncul saat ada banyak pihak berada dalam satu perjumpaan perbincangan, diwakili oleh 5 orang yang berbeda ini dalam proses penggarapan karya. Sedang dalam pentas, Ayu sendirian di atas panggung dalam wadag dan bayangan. Atau, mungkin aku bisa memilah Ayu menjadi beberapa pihak yang sedang melakukan negosiasi lewat eh dalam tubuhnya. Perjumpaan perbincangan itu harus diperkuat oleh organ-organ tubuh supaya negosiasi itu benar-benar tergambar, sehingga tak dijelaskan pun kata kunci itu bisa ditangkap.

Musik yang dirancang oleh Rio tak bisa kupilah bagian per bagian. Di sana ada perpaduan gambus dan suara dari benda-benda yang ada di dalam rumah. Juga ada suara kereta api, printer, suara bising entah. Mungkinkah pada beberapa bagian suara 'domestik' dari rumah masyarakat Lampung disajikan di sini secara jernih walau tak harus menampilkan alat musik tradisional? Jika berhasil, pasti bisa membantu penonton penuh daya khayal seperti aku untuk memuaikan pikiran. Mungkin juga bisa membantu Ayu menggerakkan tubuhnya yang sejati serupa ciptaan penuh talenta, menggali dasar, sekaligus membentangkan batas lingkaran semakin tanpa batas.

Visual yang dibuat Gelar membantuku. Bayangan yang bergerak di sana menjadi bandingan yang mengikuti sepanjang pementasan. Saat Rebeka dari Kelola mengungkapkan saat pentas di Kotabumi visual itu ditembakkan pada batang pohon kelapa, aku langsung membayangkan itu bakal menguatkan perbandingan antara wadag dan bayangan. Mungkinkah memindahkan batang-batang pohon Kotabumi itu ke atas panggung? Atau mungkin perlukah dipasang lembaran-lembaran layar yang bertindak sebagai pohon?

Usai pertunjukan, aku merenung-renung soal gerak tubuh Ayu yang 'biasa'. Kenapa tidak memilih gerakan yang 'luar biasa'? Hmmm... memang sih, sekali pun lingkaran pembatas perempuan sudah hancur, pun dia tetap ada dalam batas tubuhnya. Sebebas apa pun dia ingin bergerak, tubuhnya yang terbatas tetaplah membatasi jiwa. Kehendak bebas sang jiwa, tetaplah dia dalam ikatan tubuh yang terbatas. 

 

 


Tuesday, June 10, 2025

UMUR PANJANG PENTINGKAH?

 Setiap kali ulang tahun, ucapan yang familier adalah: "Selamat ulang tahun, semoga panjang umur." Benarkah panjang umur adalah pilihan yang terbaik? Begitu pentingkah umur panjang itu? 

Bertemu Bu Lian yang masih begitu lincah pada usia 90, aku spontan bercita-cita ingin seperti beliau. Tapi tentu saja seluruh hidupnya berbeda denganku. Gaya dan pola hidup pasti beda blas. Misal, beliau protes ketika mencium aroma asap rokok di gedung DKL. Beliau tak bisa kena asap rokok. Bisa menjadi sesak. Sedangkan aku, aku masih bisa menerima asap rokok walau aku tidak sedang merokok. Juga ketika sedang tidak fit, aku malah bisa merokok kretek rempah. Membuatku eh mungkin menyugestiku menjadi lebih segar. Tidak menjadi sesak.

Namun aku juga pernah bertemu banyak orang pada usia muda yang sungguh membuat prihatin karena terbelit masalah pada tubuhnya. Bukan hanya karena penyakit bawaan, tapi penyakit yang muncul karena gaya atau pola hidupnya. Bagaimana bisa mengalami hidup panjang dalam deraan sakit yang tak mungkin disembuhkan?

Gie, Soe Hok Gie pernah menulis: “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Dia mati muda di Gunung Semeru pada puncak produktifitasnya. Dia pasti bahagia karena memang itulah yang dipikirkannya sejak mula.

Aku pernah tahu seorang nenek yang sudah berumur lebih dari 80 tahun, tak mampu lagi beraktifitas bertahun-tahun, hidup mengandalkan bantuan orang lain. Masih hidup, tapi tak mampu lagi bahkan untuk memilih akan yang akan dimakan atau diminum, tak bisa lagi bicara dengan baik atau tepat, tak bisa lagi mendengar suara-suara... 

Jadi, piye? Pentingkah panjang umur? Andai hidup ini sarana untuk mendapatkan pengalaman ragawi untuk jiwa yang sudah diciptakan, kupikir rentang waktu hidup tak lagi penting. Lebih penting bagaimana memilih menggunakan pengalaman hidup ini sebaik-baiknya.


Sunday, June 08, 2025

Tips Umur Panjang 2: SIBUK

 Dalam postingan beberapa minggu yang lalu klik sini aku menulis sebuah judul "Takut Mati?", tapi di dalamnya ada tips pertama untuk umur panjang. Tips berikutnya aku dapatkan dengan segera saat kesempatan emas bertemu perempuan luar biasa, Lian Gouw, seorang novelis yang lama tinggal di Amerika. Salah satu hal luar biasa dari perempuan ini adalah umurnya 90 tahun, dengan vitalitas yang sangat luar biasa. Sehat, lincah, penuh semangat. Cara bicara yang sangat rutin. Lembut tapi sangat jelas. Bisa menangkap suara dengan sangat baik. Tubuh yang tegak, cantik. Melakukan perjalanan sangat jauh dari Amerika ke banyak kota di Indonesia sendirian, dan melewati beberapa post perhentian, masih ceriaaa broooo...

Pertemuan terjadi di kantor Ketua Dewan Kesenian Lampung (DKL), di kompleks PKOR Way Halim, Bandarlampung. Beliau baru saja mengunjungi Musium Lampung, Perpusda Lampung, dan usai perbincangan masih akan lanjut melakukan siniar tentang buku, penulisan dan sebagainya.

Salah satu yang semua orang ingin tahu adalah bagaimana beliau masih segitu sehat lincah di umur 90 tahun? Aku yang baru lewat dikit dari 50 tahun serasa malu ati. Gimana tidak? Aku masih segini aja udah mengeluh ini itu, sakit pingganglah, capeklah, sakit tumit lah, dst.

Beliau menjawab singkat atas pertanyaan itu:"Sibuk." 

Bu Lian tidak memberikan jawaban rinci lebih lanjut. Namun kami kemudian membahasnya tanpa panduan. Aku memikirkannya lanjut sebagai bagian dari yang pernah kupikirkan sebelumnya, bahwa kata sibuk itu bisa diartikan melakukan banyak hal, termasuk bicara, berpikir, melakukan perjalanan, terlibat dalam kegiatan-kegiatan. 

Sibuk bisa saja memasukkan di dalamnya melakukan kegiatan-kegiatan yang disukai, yang sesuai passion, dan ini bermakna hati pasti gembira, berkobar-kobar penuh semangat. Melakukan sesuatu lalu ada ide lain terkait dengan hal itu, terus begitu, terus, terus dan terus. Aku jadi ingat bang Isbedy, yang sekarang ini sudah usia lanjut juga pernah mengatakan hal serupa dengan istilah sedikit berbeda: "Aku tak mau jadi pernah, Yul." Artinya juga terus, terus, terus,... Melakukan sesuai yang disukai dan dimaui untuk dilakukan.

Sibuk bisa juga memasukkan di dalamnya kegiatan yang menunjang harmoninya. Misalnya terus bekerja, berolahraga, makan, berdoa, bertemu banyak orang  dan seterusnya. Tentu saja semuanya dilakukan secara seimbang sesuai kebutuhan tubuh.

Nah, sibuk juga harus memasukkan kegiatan yang menjadi wujud pertanggungjawaban kewajiban-kewajiban. Misalnya aku seorang istri, ya aku menjalankan kewajiban-kewajiban itu, suka tidak suka. Sebagai ibu, sebagai nenek, sebagai tetangga, sebagai warganegara dan sebagainya.

Dalam pikiranku, sibuk menjadi tanda bahwa masih ada urusan yang harus dikerjakan sebagai manusia yang bertubuh. Masih ada banyak hal yang harus dilakukan untuk memenuhi banyak hal. Artinya ya jika tak ada lagi yang perlu dilakukan tak perlu diurus maka sudah selesailah kehidupan manusia itu. Cukup sudah waktu hidupnya. Hmmm...