Saturday, October 03, 2026

MUNCAK SEMINUNG LAGI (2)

 Sejak beberapa hari sebelum berangkat ke Lumbok, tempat basecamp pendakian ke Gunung Seminung, aku sudah memvisikan bahwa dua hari pendakian kami itu tak akan ada hujan. Mungkin berjalan dalam sore tapi aku berharap tidak terlalu malam sudah sampai di puncak.

Sabtu, 26 Oktober, kami berangkat dari dapur Hajimena seuai adzan subuh berkumandang, usai cangkir kopi Mo Bagas lesap ke tenggorokannya. Masih sangat pagi, kami berempat segar, sukacita, dan niat menggali semangat bersama-sama dalam perjalanan. Doa masing-masing kami lakukan di dalam mobil begitu Mo Bagas menginjak pedal gas. Dia akan digantikan oleh Mang Ateng di Kotabumi. 

Mang Ateng yang kubayangkan tidak seperti yang real. Mang Ateng ini pensiunan driver di salah satu keluarga Maria. Mereka sudah kenal dekat dari dulu sejak Maria masih bayi. Umur Mang Ateng menurut pengakuannya sudah 74 tahun! Ini yang membuatku kaget. Untuk perjalanan ke Liwa dengan jalan berkelok, ndak bahaya tah. But, ndak perlu kuatir. Mang Ateng sudah biasa melalap lajur Kotabumi, Bukit Kemuning, Sekincau, Liwa, PP sejak jaman dulu. Memang dia sudah lama ndak melewati jalan ini, dan lama tidak menggunakan mobil matic, tapi perjalanan pagi ini sungguh lancar, sampai di perhentian pertama: Sekincau. Kami mampir cukup lama untuk kopi asli kebun suster-suster HK yang baik.

Karena itulah, kedatangan kami di Lumbok agak lewat dari yang kami rencanakan, walau tidak terlalu lama apalagi kami masih mampir ke RM. Sabah Brak, dekat jembatan Liwa.

Basecamp Lumbok sedang ramai. Kami sudah memperkirakan itu karena ini week end. Registrasi Rp 10 rb per orang, potensi sampah plastik dihitung, antri kamar mandi, dan packing ulang, kami start dari basecamp pada pukul 14.30.

Penghitungan potensi sampah plastik ini dulu tidak dilakukan di gunung Seminung. Sampah luar biasa di jalur maupun di puncak. Dengan penghitungan potensi sampah ini, Seminung menjadi lebih 'bermartabat'. Setiap sampah yang terlupa dan selip dalam hitungan saat pulang nanti, akan ada denda Rp 20 rb per buah. Lumayan kan.

Yang kami perhatikan dengan teliti sebelum start, selain barang-barang yang berpotensi sampah:

1. Logistik, yaitu air minum dan makanan kami pastikan mendekati tepat untuk perjalanan naik, muncak dan turun. Masing-masing orang membawa minimal 2 liter air minum. Aku membawa 4 botol air minum @650ml, plus 1 botol pocari sweat. Makan malam kami sudah membungkus dari RM. Sabah Brak, nasi, ikan goreng dan sambel. Masing-masing membawa roti, beberapa cemilan tambahan. Juga tas kecil Pak Hen dijejali buah-buahan (pisang, anggur, jeruk) untuk dimakan saat naik. Dalam ranselku masih ada mi instan 4 bungkus, telur mentah 4 bungkus, kopi teh gula dan sereal.

2. Benda-benda kebutuhan kami masing-masing aman dalam bungkus plastik anti basah. Tiap orang membawa jaket, ganti baju lengkap, jas hujan, sleeping bag, headlamp, matras dan topi. Dalam ransel Mo Bagas ada tenda u 4 orang, sedang di ransel Pak Hen ada flysheet, alat masak, dan... drone. Semuanya mesti dipacking aman jaga-jaga kalau hujan.

3. Obat-obatan cukup lengkap ada di dompet kecil pak Hen. Tapi setiap orang dari kami membawa obat-obatan pribadi. Aku agak kuatir karena saat turun dari mobil dan jalan ke basecamp aku ngerasain aku mulai mens. Duhhh. Memang gunung Seminung tak ada pantangan bagi perempuan mens untuk naik. Tapi ini artinya butuh perhatian ekstra ke tubuh. Aku harus lebih hati-hati, lebih jaga, pokoke ndak boleh drop. Dan yang pasti, aku pasti akan lebih lambat dalam gerak. Duh. 

No comments:

Post a Comment