Sekelompok orang dari berbagai macam komunitas belajar membuat eco enzyme dari kulit buah dan sayuran sisa konsumsi di Asilo Hermelink, pada Jumat 25 September 2026. Kegiatan ini dipandu oleh C. Tresnaningsih Carlos dan Vinsensia Eni Romawi, penggiat eco enzyme yang aktif memproduksi maupun melakukan edukasi untuk kelestarian bumi di Lampung, diikuti oleh berbagai komunitas dan masyarakat umum.
Secara ringkas, Tres dan Eni memberikan petunjuk tentang cara membuat eco enzyme dan kegunaannya bagi kehidupan sehari-hari khususnya untuk keluarga. “Pembuatan eco enzyme ini memanfaatkan kulit buah dan sayur yang selama ini sering dianggap sebagai sampah dan dibuang begitu saja,” ujar Tres.
Dalam kegiatan kali ini, eco enzyme yang dibuat menggunakan minimal lima jenis kulit buah dengan harapan enzyme yang diproduksi menjadi lebih optimal. Beberapa tips diberikan oleh dua ibu ini, seperti menggunakan banyak kulit jeruk supaya eco enzyme yang dibuat menjadi lebih wangi segar. Kulit buah yang digunakan juga harus dicuci bersih untuk menghindari resiko kegagalan seperti bau busuk dan munculnya belatung.
“Kulit buah dicampur air bersih dan gula, bisa gula merah atau molasi, diletakkan pada wadah yang tertutup rapat, dihindarkan dari sinar matahari. Campuran ini akan difermentasi selama minimal tiga bulan,” jelas mereka.
Hasil panen eco enzyme ini nantinya dapat digunakan untuk berbagai kepentingan seperti untuk sabun mandi, cuci piring, obat luka, kumur, pembersih lantai, dan sebagainya. Ampasnya juga bisa digunakan untuk pembersih atau dikeringkan menjadi pewangi ruangan. Tentu saja semuanya ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia buatan.
Kegiatan ini digagas awal oleh Jaringan Perempuan Padmarini (JPP) bersama Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang. Siti Andriani dari JPP dalam pembukaan acara menyatakan bahwa kegiatan ini awalnya didasari oleh keingintahuan untuk mengetahui proses pembuatan eco enzyme secara langsung.
“Di berbagai chanel youtube memang bisa mudah kita temukan cara pembuatan eco enzyme, tapi tentu akan berbeda jika kita mengalami langsung melihat dan membuat eco enzyme. Semoga ini menjadi pengalaman baik buat kita semua untuk ditularkan ke berbagai komunitas yang kita gulati maupun yang kita dampingi,” ujarnya.
Yuli Nugrahani, ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang dan juga Ketua Forum PUSPA Provinsi Lampung menyatakan di bagian akhir kegiatan bahwa kegiatan serupa akan terus digelar di Asilo Hermelink sebagai sarana pembelajaran berbagai upaya merawat bumi. Saat pemanenan eco enzyme yang sudah dibuat nanti direncanakan akan mengundang seluruh peserta kembali dan juga kelompok lain untuk melanjutkan produksi turunan dari eco enzyme seperti yang dijelaskan oleh penggiat Komunitas Eco Enzyme Nusantara di Lampung. Di Asilo Hermelink juga sedang dirintis budidaya magot, penanaman sayur mayur secara sederhana, juga mengundang berbagai komunitas untuk menggunakan lahan di Gedungmeneng ini untuk kegiatan-kegiatan edukasi peduli sosial, lingkungan, dan pengembangan karakter.***



.jpeg)
No comments:
Post a Comment