Romo Wolfram Safari, lahir 20 Maret 1974 dan meninggal kemarin 29 September 2026 pada umur 52 tahun. Cara meninggal yang sangat tenang.
Selasa, 29 September 2026, malam usai rapat di Mekar Sai, aku mampir ke tempat Oom Wawan atas pesan Pak Hen untuk ikut pembahasan jadwal Selasih bagi kring kami. Di tengah perbincangan, sekitar jam 19 lewat, Rm. Piet telpon. Menyampaikan berita duka sedikit ragu. Aku pun tak terlalu yakin, tapi kemudian konfirmasi dari beberapa orang membuatku yakin, romo yang kukenal sedikit sisinya ini sungguh sudah pergi.
Aku menyebutnya kenal sedikit dari sisi hidupnya karena memang aku tidak akrab sampai tahu seluruh sejarah hidupnya, tapi, aku pernah mengalami beberapa peristiwa bersama Rm. Wolf.
1. Saat masih diakon atau romo muda, kami pernah tergabung niat banget ngobrol serius belajar dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja (ASG) bersama Rm. Baron, Rm. Jo, Sr. Mathea, dan teman-teman lain. Sok-sokan idealis, kami menggunakan wadah Seghom Suluh, semut merah, yang ingin peduli pada situasi-situasi sosial. Kami memulainya dengan belajar ASG, dengan sedikit orang yang berminat.
2. Selang waktu kemudian, Rm. Wolfram diminta menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan. Aku terlibat dalam Komkep ini sejak dulu bareng Rm. Koto, juga romo setelahnya. Maka aku rela hati menyambungkan Rm. Wolfram pada orang-orang muda potensial yang bisa menjadi timnya, termasuk persiapan-persiapan ke Indonesia Youth Day, International Youth Day, juga kegiatan-kegiatan lain.
3. Saat jadi ketua komkep inilah, Rm. Wolfram juga ngurus Asilo sebagai Youth Center. Saat itu juga ada peristiwa yang kemudian membuat keluarga yang biasa merawat Asilo harus pergi dari sana. Aku marah muntap menganggap Rm. Wolfram tidak bijaksana. Ketika kuangkat ke Kuria dalam perbincangan dengan Rm. Hari, Vikjen waktu itu, aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aku sedih dan marah, menganggap keuskupan tak punya hati bagi keluarga tak berdaya. Untungnya aku sempat obrolin ini dengan Rm. Marino yang memintaku untuk melihatnya dengan lebih seimbang. Aku tetap dengan kekecewaanku tapi aku tidak lagi marah. Aku menyindir-nyindir Rm. Wolfram beberapa kali bahwa dia itu pengkianat ASG, dia menanggapinya dengan pasrah.
4. Peristiwa Wiyata Garden membuatku yakin aku begitu sayang pada romo-romo projo Keuskupan Tanjungkarang. Aku minta ke Rm. Wolf untuk mempertimbangkan lagi banyak hal. Saat itu dia menjadi ekonom keuskupan. Posisinya menurutku sangat strategis untuk memberikan dampak. Aku menarik diri supaya tidak terlalu 'open' (open boso Jowo yo), aku menulikan telinga, menutup bibir, dan berusaha: semua akan ada waktunya secara tepat, Yuli. Jadi walau aku menganggap ada banyak hal tidak pas, tidak tepat, tapi aku tidak ambil peduli yang kuat yang bisa membuatku marah kecewa sedih. Pokoknya, ayolah mengalir.
5. Dalam beberapa tahun terakhir, aku berteman dengan baik, berelasi dalam sukacita, ngguya ngguyu yen ketemu, seringkali lupa kalau tidak ketemu. Aku paham ada banyak aliran yang tak mesti berjalan seideal yang seharusnya.
Kini Rm. Wolfram sudah dalam damai. Menjenguknya semalam dalam peti di katedral, wajahnya ayem tentrem seperti orang tidur dengan sedikit senyum di bibirnya, itu posisi meninggal yang menyenangkan. Tidak sakit, tidak merepotkan. Aku sudah selesai dengannya, dan yang utama dia sudah menyelesaikan perjuangannya yang sebagian besar tak kupahami. Aku hanya tahu bagian yang sangat sedikit darinya.
Selamat jalan, Rm. Wolfram.
No comments:
Post a Comment